Mandailing Godang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Suku Batak Mandailing)
Lompat ke: navigasi, cari
Suku Mandailing
COLLECTIE TROPENMUSEUM Bruidspaar uit Pakantan Tapanuli Noord-Sumatra TMnr 10002962.jpg
Foto pasangan Mandailing dari daerah Pakantan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Jumlah populasi

1.700.000 jiwa (Sensus 2010)[1]

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Sumatera Utara 1.035.000
Sumatra Barat 214.000
Riau 210.000
Jakarta 80.000
Malaysia 30.000[2]
Bahasa
Mandailing
Minangkabau
Melayu
Agama
Islam (98 %)
Kristen (2%)
Kelompok etnik terdekat
Suku Minangkabau
Suku Melayu
Suku Alas
Suku Gayo
Suku Karo
Suku Batak

Suku Batak Mandailing adalah salah satu sub suku bangsa Batak yang mendiami Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Batubara di Provinsi Sumatera Utara beserta Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat di Provinsi Sumatera Barat, dan Kabupaten Rokan Hulu di Provinsi Riau. Mandailing merupakan kelompok masyarakat yang berbeda dengan suku, Hal ini terlihat dari perbedaan sistem sosial, asal usul, dan kepercayaan.

Pada masyarakat Minangkabau, Mandailing atau Mandahiliang menjadi salah satu nama suku yang ada pada masyarakat tersebut.

Asal Muasal Nama[sunting | sunting sumber]

Mandailing atau Mandahiling diperkirakan berasal dari kata Mandala dan Holing, yang berarti sebuah wilayah Kerajaan Kalinga. Kerajaan Kalingga adalah kerajaan Nusantara yang berdiri sebelum Kerajaan Sriwijaya, dengan raja terakhir Sri Paduka Maharaja Indrawarman yang mendirikan Kesultanan Dharmasraya setelah di-Islamkan oleh utusan Khalifah Utsman bin Affan pada abad ke-7 M. Sri Paduka Maharaja Indrawarman adalah putra dari Ratu Shima. Sri Paduka Maharaja Indrawarman kemudian dibunuh oleh Syailendra, pendiri Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 itu juga. Pada abad ke-10, Kerajaan Chola dari wilayah Tamil, India Selatan, dengan rajanya Rajendra telah menyerang Kerajaan Sriwijaya dan menduduki wilayah Mandailing, yang kemudian dikenal dengan nama Ang Chola (baca: Angkola). Ang adalah gelar kehormatan untuk Rajendra. Kerajaan India tersebut diperkirakan telah membentuk koloni mereka, yang terbentang dari Portibi hingga Pidoli.[3] Dalam Bahasa Minangkabau, Mandailing diartikan sebagai mande hilang yang bermaksud "ibu yang hilang". Oleh karenanya ada pula anggapan yang mengatakan bahwa masyarakat Mandailing berasal dari Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau.

Mandailing Bukan Batak[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan ilmu budaya dan sejarah, para sej orang-orang Mandailing kerap menolak untuk disebut sebagai orang Batak. Begitu pula menolak disatukan dalam kesatuan etnis Batak dalam administrasi pemerintahan Belanda pada awal abad 20 lalu. Hal ini sempat berlanjut dalam sebuah kasus konflik tanah pekuburan di kota Medan antara perantau keturunan Mandailing dan perantau keturunan Batak Muslim (Angkola dan Toba) yang dikenal sebagai Riwajat Tanah Wakaf Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan pada tahun 1925, yang berlanjut ke pengadilan. Hingga akhirnya, berdasarkan hasil keputusan Pengadilan Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia, Mandahiling diakui sebagai etnis terpisah dari Batak yang beragama Kristen. Namun untuk pekuburan tersebut membolehkan Batak Islam lainnya untuk dimakamkan.Lance Castles, Tapanuli, 1915-1940, Kehidupan Politik Suatu Kerisidenan di Sumatera Menurut versi orang Mandailing, etnis Batak (Toba) adalah lebih muda dari etnis Mandailing

Adat Istiadat[sunting | sunting sumber]

Adat istiadat suku Mandailing diatur dalam Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga), yang selalu dibacakan dalam upacara-upacara adat. Orang Mandailing mengenal tulisan yang dinamakan Aksara Tulak-Tulak, yang merupakan varian dari aksara Proto-Sumatera, yang berasal dari huruf Pallawa, bentuknya tak berbeda dengan Aksara Minangkabau, Aksara Rencong dari Aceh, Aksara Sunda Kuna, dan Aksara Nusantara lainnya. Meskipun Suku Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak dan dipergunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha (pustaka). Namun amat sulit menemukan catatan sejarah mengenai Mandailing sebelum abad ke-19. Umumnya pustaka-pustaka ini berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan-ramalan tentang waktu yang baik dan buruk, serta ramalan mimpi.

Kekerabatan[sunting | sunting sumber]

Suku Mandailing sendiri mengenal paham kekerabatan patrilineal dimana marga diturunkan sepenuhnya dari garis ayah. Dalam sistem patrilineal ini orang Mandailing mengenal marga-marga. Di Mandailing hanya dikenal belasan marga saja, antara lain Lubis, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, dan Hutasuhut. Namun sebagian dari marga-marga tersebut terdapat pula dalam masyarakat Batak lainnya (Toba, Angkola, Pesisir, dsb). Bila orang Batak mengenal pelarangan kawin semarga, maka orang Mandailing pun mengenal pelarangan kawin semarga. Hanya saja setelah memeluk Islam di akhir abad XIX, larangan ini tidak begitu kental dipraktekkan oleh masyarakat Mandailing. Hal inilah yang menyebabkan marga orang Batak bertambah banyak, karena setiap ada kawin semarga, maka dahulu mereka membuat marga percabangan yang baru. Di lain pihak orang-orang dari etnis Mandailing apabila terjadi perkawinan semarga, maka mereka hanya berkewajiban melakukan upacara korban, berupa ayam, kambing atau kerbau, tergantung status sosial mereka di masyarakat, namun aturan adat itu sekarang tidak lagi dipenuhi, karena nilai-nilai status sosial masyarakat Mandailing sudah berubah, terutama di perantauan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Bacaan Lebih Lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Loebis, Abdoellah (1926). Riwajat Mandailing, dipetik dari Mangaraja Ihoetan, Riwajat Tanah Wakaf Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan. Medan. 
  • Sumatera Utara, Jawatan Penerangan (1953). Republik Indonesia Provinsi Sumatera Utara. Kementrian Penerangan. 
  • Tapanuli Selatan, Berita Keluarga (1958). Tampakna Do Rantosna, Rim Ni Tahi Do Na Gogo. Keluarga Tapanuli Selatan. 
  • Parlindungan, Mangaraja Onggang (1967). Pongki Na Ngolngolan gelar Tuanku Rao. Tanjung Pengharapan. 
  • Harahap, Basyral Hamidy (1993). Horja, Adat Istiadat Dalihan Na Tolu. PT Grafiti Bandung. 
  • Loebis, A.B. (1998). Adat Perkawinan Mandailing. Keluarga Tapanuli Selatan. 
  • Drakard, Jane (2003). Sejarah Raja-raja Barus. Dua Naskah dari Barus. Gramedia Pustaka Utama. 
  • Harahap, Basyral Hamidy (2007). Greget Tuanku Rao. Komunikasi Bambu. 
  • Mangkuto, H.A. Dt. Rajo (2010). Kesulthanan Minangkabau Pagaruyuang Darul Quorar (Dalam Sejarah dan Tambo Adatnya). Taushia, Jakarta. 

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. ISBN 9812302123. 
  2. ^ viva.co.id Didata Malaysia, Tor-tor Tetap Milik Tapanuli
  3. ^ Edi Nasution, Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, Areca Books, 2007

Pranala luar[sunting | sunting sumber]