Stasiun Pulau Aie

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Stasiun Pulau Air)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Stasiun Pulau Aie
Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg
PapanNamaStasiun PLA.png
  • Singkatan: PLA
  • Nomor: 7001
Ujicoba Stasiun Pulau Aie.jpg
Stasiun Pulau Aie setelah selesai direnovasi tepat saat ujicoba jalur.
Nama lainStasiun Puluaer, Pulau Air
AlamatJalan Pulau Aia
Pasa Gadang, Padang Selatan, Padang
Sumatra Barat
Ketinggian+2 m
Letakkm 2+574 lintas PadangPulau Aie[1]
OperatorDivisi Regional II Sumatra Barat
Konstruksi
Jumlah jalur2
Jumlah peronSatu peron sisi yang cukup tinggi
Fasilitas
  • Parkir
  • Akses difabel
  • Layanan pelanggan
  • Sepeda
  • Area merokok
  • Toilet
  • Boarding pass
  • Musala
  • Pos kesehatan
  • Ruang ibu menyusui
Informasi lain
Kelas stasiunI[2]
Tipe persinyalanElektrik tipe Sinyal Interlocking Len-02 (TBD)
Sejarah
Dibuka1 Juli 1891
DitutupSekitar dekade 1980-an
Dibuka kembaliTBA
Nama sebelumnyaStation Poeloe-Ajer
Layanan
Minangkabau Ekspres
SARS-CoV-2 illustration (10).jpgPeringatan COVID-19: Tidak semua kereta api yang disebutkan di sini dijalankan pada masa-masa normal baru. Calon penumpang dimohon memeriksa daftar kereta api yang dijalankan di KAI Access atau kanal eksternal lain sebelum keberangkatan. Calon penumpang diharapkan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku saat menggunakan kereta api. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Pandemi COVID-19 di Indonesia#Perkeretaapian.

Stasiun Pulau Aie (PLA)—juga dieja dengan nama bahasa Melayu Pulau Air dan nama lama Puluaer—merupakan stasiun kereta api nonaktif kelas I yang terletak di Pasa Gadang, Padang Selatan, Padang. Stasiun ini merupakan stasiun pertama yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda di Kota Padang, Sumatra Barat. Stasiun ini merupakan stasiun ujung sebelum menuju Pelabuhan Muaro yang percabangannya dari Stasiun Padang. Stasiun yang terletak pada ketinggian +2 meter ini termasuk dalam Wilayah Aset Divre II Sumatra Barat serta merupakan bagian dari pengaktifan kembali jalur-jalur kereta api di Sumatra Barat.[3]

Sejak tahun 2007, Pemerintah Kota Padang resmi menetapkan stasiun ini sebagai cagar budaya berdasarkan inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya No. 69/BCB-TB/A/01/2007.[4] Ke arah barat daya stasiun ini sebenarnya masih memiliki kelanjutan jalur menuju Pelabuhan Muaro, tetapi jalur itu tidak ikut direaktivasi. Setelah direaktivasi, stasiun ini akan menjadi terminus kereta api bandara.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Setelah dirintisnya jalan rel kereta api yang menghubungkan Kota Semarang dan Solo oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), pembangunan rel kereta api dilanjutkan kembali ke luar Pulau Jawa, terutama daerah yang mengandung kekayaan alam seperti Sumatra Barat, Sumatra Selatan, dan Aceh. Keberadaan kereta api di Sumatra barat tidak terlepas dari ditemukannya pertambangan batu bara di Sawahlunto pada tahun 1868 oleh seorang insinyur pertambangan bernama Willem Hendrik de Greve.

Pembangunan jalan kereta api dilakukan oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust (SSS), dimulai dari Teluk Bayur ke Sawahlunto. Pada bulan Juli 1891, telah diselesaikan pembangunan jalan kereta api dari Pulo Aie ke Padang Panjang sepanjang 71 km. Pada November 1891, jalan kereta api tersebut mencapai Bukittinggi dengan panjang 90 km.

Jalur kereta api tersebut diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1892 di Kota Padang, bersamaan dengan pembukaan Pelabuhan Teluk Bayur (Emmaheaven), dan pembukaan hubungan kereta api dari Padang hingga Muaro Kalaban.[5]

Reaktivasi[sunting | sunting sumber]

Reaktivasi jalur ini mulai digaungkan pada Desember 2013. Pada saat itu, PT KAI Divre II Sumatra Barat mulai melakukan pendataan dan penertiban terhadap rumah-rumah warga di pinggir jalur rel serta lapak Pasar Tarandam yang menempati bekas jalur kereta api. Proyek ini semula bertujuan agar kereta api dapat menjangkau Kota Tua Padang serta Pelabuhan Muaro.[6]

Dalam perkembangannya, jalur ini juga harus ditingkatkan dengan mengganti rel serta bantalannya mengingat usia prasarana yang sudah sangat tua dan dianggap tidak layak operasi. Untuk memenuhi kebutuhan pedagang dan konsumen di Pasar Tarandam, jalur ini juga direncanakan akan memiliki satu halte.[7][8] Selain itu, stasiun ini akan memiliki 2 jalur serta tanpa persinyalan karena hanya satu kereta api melintasi jalur ini dan rencananya menggunakan persinyalan elektrik yang mana ini pertama kali diterapkan di Divre II Sumbar, nantinya seluruh stasiun sepanjang jalur Pulau Aie-BIM direncanakan ditingkatkan persinyalannya menjadi elektrik.[9] Jalur menuju Pulau Aie sudah diujicoba pada 7 Maret 2020. Meski rencananya diresmikan pada 16 Maret 2020, rencana ini ditunda karena pandemi koronavirus. Total Rp40 miliar rupiah telah digelontorkan untuk reaktivasi jalur pendek yang hanya memiliki panjang 2,6 km ini.[10]

Layanan kereta api[sunting | sunting sumber]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  3. ^ "Live Facebook-Jalur KA dari Stasiun Padang ke Stasiun Pulau Air Potensial Kembangkan Pariwisata". Tribun Padang. Diakses tanggal 2019-08-23. 
  4. ^ BPCB Sumatera Barat (2018). "Cagar Budaya Tak Bergerak Sumatera Barat" (PDF). Diakses tanggal 2019-08-24. 
  5. ^ Yusman Karim, Yusman. Keberadaan Stasiun Kereta Api Pulo Aie Kota Padang (1971-1990) (Thesis). 
  6. ^ Sudarsih, A. (2014). "Reaktivasi Jalur Padang-Puluaer". Majalah KA. 90: 28–29. 
  7. ^ "Reaktivasi Jalur Kereta Api dari Stasiun Padang ke Stasiun Pulau Air Segera Dimulai". Tribun Padang. Diakses tanggal 2019-08-24. 
  8. ^ Awe (2019-08-07). "Kereta Beroperasi di Simpang-Pulau Air Padang Tahun 2020". Berita Trans (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-08-24. 
  9. ^ "Reaktivasi Jalur Kereta Padang-Pulau Air Tunggu Pengujian". KOMPAS. 17 Januari 2020. 
  10. ^ "Jalur KA Pulau Air Resmi Beroperasi 16 Maret, Ada Tiket Gratis Bagi Warga". Posmetro Padang (dalam bahasa Inggris). 2020-03-02. Diakses tanggal 2020-03-02. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Stasiun sebelumnya DJKA Kemenhub Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Terminus Pulau Aie–Padangpanjang Tarandam

Koordinat: 0°57′39″S 100°21′58″E / 0.960701°S 100.366013°E / -0.960701; 100.366013