Gibran Rakabuming

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gibran Rakabuming
175px
LahirGibran Rakabuming Raka
1 Oktober 1987 (umur 33)
Bendera Indonesia Solo, Jawa Tengah
Warga negara Indonesia
PekerjaanPengusaha, politikus
Suami/istriSelvi Ananda (m. 2015)
AnakJan Ethes Srinarendra (l. 2016)
La Lembah Manah (l. 2019)
Orang tuaJoko Widodo (ayah)
Iriana (ibu)
Gibran Rakabuming Raka, Selvi Ananda, dan La Lembah Manah

Gibran Rakabuming Raka (lahir di Solo, 1 Oktober 1987; umur 33 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia. Sejak Desember 2010, ia membuka usaha katering yang diberi nama Chilli Pari.[1] Ia juga merupakan pendiri perusahaan kuliner martabak yang disebut Markobar.[2]

Ia adalah putra sulung dari Joko Widodo. Sejak kecil Gibran menetap di Solo, tetapi saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dirinya pindah ke Singapura untuk melanjutkan sekolah setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2002 di Orchid Park Secondary School, Singapura. Selanjutnya pada tahun 2007 Gibran lulus dari Management Development Institute of Singapore (MDIS) dan melanjutkan studinya ke program Insearch di University of Technology Sydney (UTS Insearch), Sydney, Australia hingga lulus pada tahun 2010. Ia menjabat sebagai ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI) Kota Solo.[3]

Pada 11 Juni 2015, Gibran menikahi mantan putri Solo yang bernama Selvi Ananda.[4] Pada 10 Maret 2016, Selvi melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Jan Ethes Srinarendra.[5] Pada 15 November 2019, Gibran dan Selvi dikaruniai anak perempuan bernama La Lembah Manah.[6]

Pada 9 Juni 2018, Gibran mendirikan sebuah aplikasi pencari pekerja lepas dan paruh waktu yang bernama Kerjaholic[7] bersama Leonard Hidayat, Josh Ching, Michael, Daniel Hidayat. Kerjaholic[8] adalah sebuah aplikasi yang bisa menghubungkan para pencari kerja dengan pihak-pihak yang sedang mencari pekerja lepas dan paruh waktu.

Dalam Pilkada 2020, Gibran mendaftarkan diri sebagai bakal calon walikota Solo dari PDI-P untuk Pemilihan Walikota Solo periode 2020-2025 yang kemudian mendapat kritik dari pengamat tentang tuduhan praktik dinasti politik dalam keluarga Joko Widodo yang masih menjabat Presiden.[9] Gibran sendiri pernah menolak keberadaan dinasti politik di Indonesia.[10] Selain itu, terdapat peraturan pemilu yang menghambat pencalonan Gibran sebagai kepala daerah.[11]

Referensi[sunting | sunting sumber]