Efek Jokowi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Efek Jokowi (bahasa Inggris: Jokowi Effect) adalah istilah yang diciptakan media untuk mendeskripsikan pengaruh kepopuleran mantan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terhadap perpolitikan dan perekonomian Indonesia. Dalam bidang politik, pendeklarasian Joko Widodo sebagai calon presiden dalam pemilihan umum presiden Indonesia 2014 diyakini dapat mendongkrak suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hingga 30%.[1] Sementara itu, di pasar modal, efek Jokowi dikatakan dapat meningkatkan gairah penanam modal karena dia dinilai mempunyai rekam jejak yang bersih, pro-rakyat, dan tegas.[2]

Setelah Jokowi memperoleh mandat dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon presiden pada tanggal 14 Maret 2014,[3] indeks Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 152,47 poin menjadi 4.878,64,[4] sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat menguat hingga angka 11.386.[5] PDIP juga mencoba menggunakan Jokowi dalam kampanyenya untuk mencapai target suaranya sebesar 25%.[6] Namun, hasil hitung cepat menunjukkan bahwa suara PDIP gagal mencapai 20%, sehingga para analis politik mulai meragukan efek Jokowi.[7] Walaupun begitu, dalam bidang ekonomi, suara PDIP yang dianggap mengecewakan membuat IHSG turun 3,2 persen menjadi 4.765,73, yang merupakan penurunan terbesar semenjak 27 Agustus 2013.[8] Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat melemah dari 11.309 menjadi 11.342.[8]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Popularitas Jokowi melejit berkat kampanye "Jakarta Baru"nya.

Joko Widodo pertama kali dikenal oleh masyarakat luas setelah ia mulai menjabat sebagai Wali Kota Surakarta (Solo). Dengan gaya kepemimpinan yang dianggap pro-rakyat dan berani menghadapi pejabat regional yang kuat, ia berhasil mengubah kota Solo dari kota yang dipenuhi kejahatan menjadi pusat seni dan budaya regional.[9] Berkat rebranding yang dilakukannya, kota Solo berubah menjadi kota pariwisata, budaya, dan batik, dengan motto The Spirit of Java.[10] Ia juga dikenal karena berhasil merelokasi pedagang kaki lima melalui pendekatan yang "memanusiakan manusia" karena tidak memaksa menggusur pedagang dan mengedepankan dialog dan makan siang bersama agar pedagang mau bernegosiasi langsung.[11] Selain itu, di bawah kepemimpinannya, berbagai infrastruktur kota diadakan, seperti bus Batik Solo Trans[12] dan bus tingkat Werkudara.[13] Berbagai kawasan seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro diremajakan, sementara Solo menjadi tuan rumah berbagai festival internasional.[14] Berkat pencapaiannya ini, pada tahun 2010 ia terpilih lagi dengan persentase suara sebesar 90,09%.[15]

Rekam jejak inilah yang membuat Jokowi diminta untuk menjadi calon Gubernur DKI Jakarta dalam pilkada Jakarta 2012.[16] Walaupun Megawati Soekarnoputri awalnya sempat ragu, PDIP dan Gerindra akhirnya mencalonkan Jokowi sebagai calon gubernur bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon wakil gubernur.[17] Pasangan ini awalnya tidak diunggulkan dan Lingkaran Survei Indonesia memprediksikan bahwa Fauzi Bowo akan memenangkan pilkada dalam satu atau dua putaran.[18] Namun, secara mengejutkan Jokowi berhasil memimpin pilkada putaran pertama dengan jumlah suara sebesar 42,60%.[19] Walaupun sempat diterpa isu SARA,[20] pada putaran kedua Jokowi berhasil memenangkan pilkada Jakarta dengan persentase suara sebesar 53,8%,[21] dan pada tanggal 15 Oktober 2012 Jokowi secara resmi dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta.[22]

Beberapa kekuatan Jokowi dalam kampanye "Jakarta Baru"nya adalah pendekatan langsung kepada rakyat,[23] branding yang kuat dengan mengenakan baju kotak-kotak,[24] dan pemanfaatan YouTube dan media sosial secara maksimal.[25] Selain itu, setelah terpilih, Jokowi dikenal karena sering melakukan "blusukan" atau mendatangi langsung masyarakat untuk menjelaskan programnya sekaligus memperoleh masukan dari mereka.[26] Akibatnya, popularitasnya melejit dan ia segera menjadi tokoh nasional.[27] Pada saat yang sama, menurut pakar ilmu politik Marcus Mietzner dari Universitas Nasional Australia, ia telah menjadi "fenomena budaya pop" seperti Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2003 karena rakyat menginginkan pemimpin yang merakyat dan dapat menyelesaikan masalah.[27]

Akibat popularitasnya ini, Jokowi pun digadang-gadang sebagai calon presiden untuk pemilihan umum presiden Indonesia tahun 2014.[28] Ia juga merajai survei-survei calon presiden yang memperkirakan bahwa pada Maret 2014, elektabilitasnya kurang lebih sebesar 40%, empat kali lebih tinggi dari saingan terberatnya Prabowo Subianto.[28] Hal inilah yang mendorong Megawati untuk memberikan mandat kepada Jokowi agar maju sebagai calon presiden.[3] Selain itu, PDIP memiliki target suara sebesar 25% dalam pemilihan umum legislatif Indonesia 2014,[29] sehingga pencalonan Jokowi diharapkan dapat membantu mendongkrak suara partai.[6]

Efek politik[sunting | sunting sumber]

Walaupun popularitas Jokowi diyakini dapat mendongkrak suara PDIP, hasil hitung cepat pemilu legislatif 2014 menunjukkan bahwa jumlah suara yang diraih PDIP berkisar pada angka 19%.

PDIP beberapa kali menunjuk Jokowi sebagai juru kampanye berbagai pilkada dengan maksud untuk memanfaatkan popularitas Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas para calon dari PDIP.[30] Pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 16 dan 17 Februari 2013, Jokowi mengajukan cuti untuk menjadi juru kampanye Rieke Diah Pitaloka dalam pemilihan umum Gubernur Jawa Barat 2013;[31] namun, Rieke dikalahkan oleh Ahmad Heryawan dengan perbedaan suara sebesar empat persen.[32] Setelah itu, ia ditunjuk sebagai juru kampanye Effendi Muara Sakti Simbolon dalam pemilu Gubernur Sumatra Utara 2013.[30] Akan tetapi, Jokowi membatalkan rencana kedatangannya ke Sumatra Utara pada tanggal 23 Februari 2013 karena sakit,[33] sementara Effendi Simbolon sendiri dikalahkan oleh Gatot Pujo Nugroho.[30] Jokowi juga diminta untuk menjadi juru kampanye pasangan AAG Ngurah Puspayoga dan Dewa Nyoman Sukrawa dalam pemilihan umum Gubernur Bali 2013, walaupun lagi-lagi keberadaan Jokowi tidak berhasil memenangkan pasangan dari PDIP tersebut.[30] Jokowi kemudian menjadi juru kampanye Ganjar Pranowo dalam pemilihan umum Gubernur Jawa Tengah 2013, dan kali ini kandidat yang dikampanyekan oleh Jokowi berhasil memperoleh kemenangan.[30]

Popularitas dan tren elektabilitas Jokowi juga dikatakan dapat mengubah peta politik nasional dalam pemilihan umum tahun 2014.[34] Jokowi diyakini dapat meningkatkan suara PDIP dalam pemilu legislatif tahun 2014.[34] Bahkan, menurut beberapa lembaga survei seperti Charta Politika, bila PDIP mendeklarasikan Jokowi sebagai calon presiden sebelum pemilu legislatif, suara PDIP dapat menembus 30%.[35] Sementara itu, bagi para kompetitor PDIP, cara yang rasional untuk memenangkan pemilu adalah dengan mendorong PDIP untuk mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden.[34] Selain itu, menurut Djayadi Hanan dari Saiful Mujani Research & Consulting, jumlah pemilih yang belum menentukan turun dari 17% pada bulan Februari menjadi 6,8% pada tanggal 26-29 Maret.[36] Maka dari itu, pencalonan Jokowi sebagai calon presiden pada 14 Maret 2014 dianggap telah mengubah peta politik Indonesia 180 derajat dan memperkuat posisi PDIP dalam pemilihan umum legislatif dan presiden.[37]

Namun, hasil hitung cepat menunjukkan bahwa jumlah suara yang diraih PDIP tidak mencapai 20%, yang berada jauh di bawah angka yang dibutuhkan agar PDIP dapat mengajukan calon presidennya sendiri.[38] Akibatnya, para pakar politik mulai meragukan pengaruh efek Jokowi terhadap pemilihan legislatif. Terdapat beberapa hipotesis yang diajukan untuk menjelaskan hal tersebut, seperti perpecahan di internal PDIP karena masih ada yang menginginkan Megawati Soekarnoputri maju sebagai calon presiden,[39] gaya kampanye PDIP yang kurang memaksimalkan efek Jokowi dan masih didominasi oleh ketokohan Megawati dan Puan Maharani,[40] lemahnya strategi kampanye PDIP,[7] dan pemilih yang membedakan antara pemilihan legislatif dan pemilihan presiden[41] atau memilih berdasarkan kampanye akar rumput daripada identifikasi partai dengan kandidat presiden yang diinginkan.[7] Namun, menurut Yunarto Wijaya dari Charta Politika, elektabilitas PDIP sudah meningkat berkat Jokowi, walaupun tidak maksimal karena PDIP menurutnya gagal dalam mengoptimalkan efek Jokowi.[42]

Efek ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pencalonan Jokowi sebagai presiden telah memberikan sentimen positif kepada penanam modal.

Pada awal tanggal 14 Maret 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke angka 4.693,81 karena sentimen negatif dari bursa saham regional akibat melemahnya data ekonomi Republik Rakyat Tiongkok dan memanasnya kembali krisis Ukraina 2014.[4] Namun, setelah Jokowi dideklarasikan sebagai calon presiden dari PDIP pada hari yang sama, pasar modal bereaksi secara positif dan IHSG melesat 152,47 poin menjadi 4.878,64, atau naik 3,23%.[4] Selain itu, penanam modal asing masuk kembali dengan aksi beli bersih sekitar Rp 1,9 triliun,[4] sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat menguat hingga 11.386.[5] Terdapat beberapa faktor yang membuat pasar menanggapi Jokowi dengan positif.[43] Pertama-tama, ia dikenal sebagai orang yang bersahabat dengan pasar dan kepemimpinannya di Solo dan Jakarta dianggap profesional, konsisten, dan pro-rakyat.[43] Kemudian, ia diyakini akan memenangkan pemilihan presiden, sehingga memberikan kepastian bagi penanam modal.[43] Selain itu, Jokowi dianggap lebih berkomitmen dalam memperbaiki infrastruktur Indonesia, yang merupakan salah satu hal yang melemahkan iklim investasi Indonesia.[43] Selama menjadi gubernur, Jokowi telah melancarkan beberapa proyek infrastruktur yang penting tetapi telah mangkrak bertahun-tahun, seperti Angkutan Cepat Massal Jakarta.[43] Faktor lain yang membuat pencalonan Jokowi ditanggapi dengan positif adalah rekam jejak Jokowi yang bersih dari korupsi.[43] Namun, menurut Kepala Riset Danareksa Purbaya Yudi Sadewa, efek ini hanya sesaat saja karena rupiah sebelumnya sudah menguat dan Jokowi hanya menambah sentimen positif pasar.[44]

Setelah hasil hitung cepat menunjukkan bahwa suara PDIP berkisar pada persentase 19%, pasar merasa kecewa, sehingga IHSG turun 3,2 persen menjadi 4.765,73, yang merupakan penurunan terbesar semenjak 27 Agustus 2013.[8] Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat juga melemah dari 11.309 menjadi 11.342.[8] Menurut Direktur PT Indopremier Securities Moleonoto The, hal ini disebabkan karena pasar berharap PDIP mendapatkan suara 20%.[45] Ia juga menambahkan bahwa IHSG seharusnya dapat bergerak positif karena bursa saham Asia dan global juga bergerak positif, seperti indeks Dow Jones yang menguat 1,11% menjadi 16.437,18.[45] Sementara itu, menurut analis PT Recapital Securities Agustini Hamid, hasil hitung cepat pemilu legislatif tersebut menunjukkan bahwa tidak ada partai yang dominan, sehingga menghasilkan ketidakpastian yang membuat para pelaku pasar melakukan aksi ambil untung.[45] Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa malah berpendapat bahwa pasar modal panik karena PDIP memenangkan pemilihan umum.[46]

Pemilihan Presiden 2019[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dany Sutrisno, Elvan (14 Maret 2014). "Charta Politika: Deklarasi Jokowi Sebelum Pileg, PDIP Bisa Tembus 30%". Detik. Diakses tanggal 15 Maret 2014. 
  2. ^ Tri Wibowo, Arinto (14 Maret 2014). "Jokowi Capres, Indeks Saham Melesat". VivaNews. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  3. ^ a b "Governor of Jakarta Receives His Party's Nod for President". The New York Times. 14 Maret 2014. 
  4. ^ a b c d Melani, Agustina (14 Maret 2014). "Efek Jokowi Beri Tenaga ke Rupiah dan Bursa Saham". Liputan6. Diakses tanggal 15 Maret 2014. 
  5. ^ a b RH, Priyambodo (14 Maret 2014). "Rupiah gains on Jokowi factor". Antara. Diakses tanggal 15 Maret 2014. 
  6. ^ a b "The chosen one stumbles". The Economist. 12 April 2014. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  7. ^ a b c A Spinall, Edward (10 April 2014). "Why was the Jokowi effect limited?". New Mandala. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  8. ^ a b c d Nangoy, Francezka, dan Gokkon, Basten (10 April 2014). "Indonesian Stock Index Falls Most in 7 Months as Legislative Vote Results Disappoint". New Mandala. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  9. ^ Kanupriya, Kapoor (7 April 2014). "Indonesia's presidential favorite lacks only one thing - a policy platform". New Mandala. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  10. ^ Majeed, Rushda. "Defusing a Volatile City, Igniting Reforms: Joko Widodo and Surakarta, Indonesia" (PDF). Princeton. Diakses tanggal 6 April 2014. 
  11. ^ "Strategi Komunikasi Pemerintah Kota Solo dalam Pemindahan Pedagang Kaki Lima" (PDF). Undip. Diakses tanggal 19 Maret 2014. 
  12. ^ Solo and Yogyakarta Point Way With ‘Smart’ Public Transportation, diakses di The Jakarta Post
  13. ^ Bus tingkat Werkudara jadi ikon Kota Solo, diakses dari situs Merdeka Online
  14. ^ Surakarta, on its way to being a MICE City, diakses di situs The Jakarta Post
  15. ^ Amarullah, Amril (4 Mei 2010). "PDIP Menang Telak di Pilkada Solo". VIVA.co.id. Diakses tanggal 6 April 2014. 
  16. ^ "JK Ternyata yang Minta Jokowi ke Jakarta". Gatra. 6 Agustus 2012. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  17. ^ Sari Aziza, Kurnia (17 September 2012). "Basuki Bangga Dicalonkan Oleh PDIP dan Gerindra". Kompas. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  18. ^ Kuwado, Fabian Januarius (1 Juli 2012). "LSI: Satu atau Dua Putaran, Foke-Nara Menang". Kompas. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  19. ^ Afifah, Riana (19 Juli 2012). "Jokowi-Ahok Pemenang Pilkada Putaran Pertama". Kompas. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  20. ^ Ruslan, Hery (1 Agustus 2012). "Kampanye SARA Merebak, Ini Sikap Tim Kampanye Jokowi-Basuki". Republika. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  21. ^ Widhi K, Nograhany (26 September 2012). "Rekapitulasi KPU DKI: Jokowi Raih 53,8% Suara, Foke 46,1%". Detik. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  22. ^ Susilo, Nina (7 Oktober 2012). "Pelantikan Jokowi-Basuki 15 Oktober". Kompas. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  23. ^ Revianur, Aditya (24 September 2012). "Cara Kampanye Jokowi Patut Ditiru di Pemilu 2014". Kompas. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  24. ^ Rejeki, Sri (21 Maret 2012). "Mengapa Jokowi-Ahok Pilih Kemeja Kotak-kotak?". Kompas. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  25. ^ Setiaji, Danang (3 Oktober 2012). "Foke-Nara Akui Kekuatan Sosial Media Jokowi-Ahok". Kompas. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  26. ^ Cochrane, Joe (25 September 2013). "In Indonesia, a Governor at Home on the Streets". The New York Times. Diakses tanggal 15 Maret 2014. 
  27. ^ a b Schonhardt, Sara (21 Mei 2013). "The Meteoric Rise Of Joko Widodo". The Global Journal. Diakses tanggal 15 Maret 2014. 
  28. ^ a b "Indonesia's presidential election: Yes he can". The Economist. 14 Maret 2014. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  29. ^ Sahid, Rahmat. "PDIP Target Usung Capres-Cawapres - Matangkan Strategi Raih 25% Suara Nasional". Koran Sindo. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  30. ^ a b c d e Firdaus, Randy Ferdi (27 Mei 2013). "Akhirnya, kampanye Jokowi di Pilkada berujung kemenangan". Merdeka. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  31. ^ Putri, Tri Artining (16 Februari 2013). "Bantu Kampanye Rieke, Jokowi Cuti 2 Hari". Tempo. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  32. ^ Gandapurnama, Baban (3 Maret 2013). "Aher-Deddy Resmi Gubernur & Wagub Jabar Periode 2013-2018". Tempo. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  33. ^ Simatupang, Sahat (23 Februari 2013). "Sakit, Alasan Jokowi Batal Kampanye di Medan". Tempo. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  34. ^ a b c "Survei "Kompas", Megawati dan Jokowi Penentu Peta Politik 2014". Kompas. 9 Januari 2014. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  35. ^ Dany Sutrisno, Elvan (14 Maret 2014). "Charta Politika: Deklarasi Jokowi Sebelum Pileg, PDIP Bisa Tembus 30%". Detik. Diakses tanggal 15 Maret 2014. 
  36. ^ "Jokowi's declaration decreases swing voters: Survey". The Jakarta Post. 4 April 2014. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  37. ^ Zikry, Fadhly (15 Maret 2014). "Jokowi Capres, Peta Politik Berubah 180 Derajat". Inilah.com. Diakses tanggal 11 April 2014. 
  38. ^ Saragih, Bagus BT (9 April 2014). "'Jokowi effect' falls flat: Analyst". The Jakarta Post. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  39. ^ Ihsanuddin (11 April 2014). "Pengamat: Efek Jokowi Terhambat Perpecahan di Internal PDI-P". Kompas. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  40. ^ "PDI-P Kurang Maksimalkan Efek Jokowi". Suara Pembaruan. 10 April 2014. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  41. ^ Ferdinan (9 April 2014). "Efek Jokowi 'Melempem', PDIP: Banyak Pemilih Bedakan Pileg dan Pilpres". Detik. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  42. ^ Harahap, Riza (10 April 2014). "Pengamat: efek Jokowi belum dioptimalkan PDI-P". Antara. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  43. ^ a b c d e f "Jokowi Candidate for Indonesian Presidency; Markets React Positively". Indonesia-Investments. 14 Maret 2014. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  44. ^ Fajar Pratama, Adiatmaputra (19 Maret 2014). "Efek Jokowi Jadi Capres untuk Ekonomi Hanya Sesaat". Tribun News. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  45. ^ a b c "Suara PDIP Meleset Bikin Ketidakpastian Pasar Saham". Tribun News. 10 April 2014. Diakses tanggal 12 April 2014. 
  46. ^ "Hatta Rajasa: PDIP Menang, Pasar Modal Panik". Tribun News. 11 April 2014. Diakses tanggal 12 April 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]