Diskriminasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari SARA)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Diskriminasi adalah sikap membedakan secara sengaja terhadap golongan-golongan yang berhubungan dengan kepentingan tertentu. Pembedaan tersebut biasanya didasarkan pada agama, etnis, suku, dan ras. Diskriminasi cenderung dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas.[1] Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.

Pengertian[sunting | sunting sumber]

Istilah diskriminasi telah dikenal dalam bahasa Inggris pada awal abad ke-17. Istilah ini berasal dari bahasa Latin discriminat,[2] berakar dari kata dis (berarti memilah atau memisah) dan crimen (berarti diputusi berdasarkan suatu pertimbangan baik-buruk). Sebelum Perang Saudara Amerika pada abad ke-18, istilah "diskriminasi" hanya digunakan digunakan dalam arti biasa "untuk membedakan".[3] Setelah Perang Saudara Amerika, istilah "diskriminasi" berkembang sebagai kosakata bahasa Inggris untuk menjelaskan sikap prasangka negatif.[4]

Diskriminasi berkaitan dengan prasangka karena seorang yang mempunyai prasangka (seperti yang bersifat rasial) biasanya bertindak diskriminatif.[5] Tindakan diskriminasi dapat berkembang menjadi sumber penindasan.[6]

Di Indonesia, mengacu pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM), pengertian diskriminasi adalah: setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan HAM dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan sosial lainnya.[7]

Dimensi Antarkelompok[sunting | sunting sumber]

Munculnya diskriminasi dalam masyarakat tidak dapat dipisahkan dari dimensi hubungan antarkelompok. Menurut sosiolog Amerika Serikat, Robert Bierstedt, kelompok sosial dibagi dalam empat tipe, yakni: statistical group, societal group, social group, dan associational group. Lebih lanjut lagi, menurut Graham C. Kinloch, keriteria pertama kelompok-kelompok sosial ini dapat dikategorikan menurut ciri-ciri fisiologi, antara lain, misalkan jenis kelamin, usia, dan ras. Kemudian kriteria kedua, kelompok sosial dapat diklasifikasikan menurut budaya, misalkan kelompok etnis. Kriteria ketiga adalah kelas ekonomi, yakni mereka yang tidak memiliki kekuasaan ekonomi dan mereka yang memiliki. Kemudian kriteria yang keempat adalah perilaku, seperti penyimpangan dan sebagainya.[8]

Mayoritas dan Minoritas[sunting | sunting sumber]

Aksi demonstrasi kelompok sayap kanan di Rzeszów, Polandia yang bersikap diskriminatif terhadap kelompok minoritas LGBT.

Dalam kajian terkait dikriminasi, pembagian antara kelompok mayoritas dan minoritas menjadi salah satu penyebabnya. Masih menurut Kinloch, ia melihat bahwa hubungan mayoritas dan minoritas ini memiliki dimensi utama yang mempengaruhinya, yakni dimensi sejarah, dimensi demografi, dimensi sikap, dimensi institusi, dimensi gerakan sosial, dan dimensi tipe utama hubungan antarkelompok.[9]

Berikut ini adalah penjelasan beberapa dimensi yang dimaksud oleh Kinloch:

  • Dimensi sejarah, hal ini terkait dengan pada masalah tumbuh dan berkembangnya hubungan antarkelompok. Bagaimana cara mereka berinteraksi pertama kali dalam sejarah, contohnya adalah sejarah hubungan antara kelompok kulit putih dan kulit hitam yang terkait dengan masalah kolonialisme, imperialisme, perbudakan, dan dominasi.[9]
  • Dimensi sikap, dimensi ini umumnya terkait dengan pengamatan terhadap sikap satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Misalkan bagaimana salah satu kelompok memberikan prasangka, stigma, dan stereotip terhadap kelompok lainnya. Prasangka-prasangka ini kemudian yang pada akhirnya memunculkan sikap diskriminatif.[9]
  • Dimensi gerakan sosial, biasanya berhubungan dengan gerakan-gerakan perlawanan. Perlawanan biasanya muncul dari kelompok-kelompok yang merasa tertindas oleh kelompok lainnya yang dirasakan lebih dominan. Dimensi ini muncul sebagai faktor akibat dari dimensi-dimensi lainnya.[9]

Jenis diskriminasi[sunting | sunting sumber]

Rasisme[sunting | sunting sumber]

Sebuah marka yang memberikan kekhususan bagi warga kulit putih di Afrika Selatan saat politik apartheid masih diterapkan adalah contoh diskriminasi ras.

Rasisme adalah suatu aspek pembeda secara rasial pada suatu budaya yang diterima oleh banyak orang dan mendorong kompetisi, perbedaan kekeuasaan dan perlakuan yang tidak semestinya terhadap anggota kelompok lain. Perbedaan perlakuan ini dapat dimanifestasikan secara individual maupun melalui struktur sosial dan institusi resmi. Perbedaan perlakukan melalui institusi adalah perbedaan dalam hukum, sistem pendidikan, lapangan kerja, kebijaksanaan imigrasi, agama dan lainnya.[10]

Seksisme[sunting | sunting sumber]

Salah satu konsep dasar dari paham ini adalah adanya kepercayaan bahwa kekuatan fisik dan kecerdasan dimiliki oleh laki-laki, sementara kekuatan emosional dimiliki oleh perempuan. Atas dasar paham seksisme ini, terkadang muncul sikap-sikap diskriminatif berdasarkan jenis kelamin, terutama terhadap perempuan. Contohnya bisa seperti laki-laki lebih diutamakan dalam mendapatkan jabatan publik, pendidikan, dan akses ekonomi, sementera perempuan dinomorduakan.[11][12]

Ageisme[sunting | sunting sumber]

Ini adalah pandangan yang menekankan pada aspek usia seseorang mempengaruhi bagaimana ia bersikap. Umumnya mereka yang mempercayai paham ini berpendapat, mereka yang berusia lebih tua, jauh lebih berpengalaman dan lebih bijak dalam menjalani hidup, sementara yang lebih muda cenderung ceroboh dan kurang dapat diandalkan. Namun paham ini tidak hanya bersikap diskriminatif pada orang yang muda saja, terkadang juga paham ini menimbulkan diskriminatif terhadap orang-orang lanjut usia (lansia) yang dianggap sudah tidak mampu bekerja dan sebagainya.[11]

Tokenism[sunting | sunting sumber]

Diskriminasi ini sering terjadi dibidang ekonomi, dimana orang dipekerjakan atau tidak dipekerjakan berdasarkan pada pertimbangan ras. Tokenism secara sederhana dapat didifinisikan sebagai pemberian sedikit perlakuan positif kepada kelompok tertentu sebagai alasan untuk menolak pemberian positif yang lebih besar. Jadi perlakuan positif yang minimal digunakan sebagai alasan pembenar untuk melakukan diskriminasi pada bidang lain yang lebih besar pengaruhnya.[10]

Reverse discrimination[sunting | sunting sumber]

Reverse discrimination berarti kecenderungan untuk menilai dan memperlakukan seseorang dari kelompok tertentu (biasanya kelompok yang menjadi target prasangka) dengan lebih baik dibanding perlakuan terhadap kelompok lainnya. Pada awalnya perlakuan tersebut mungkin menguntungkan kelompok target. Jadi seseorang melakukan reverse discrimination dengan cara memberikan kenaikan pangkat, gaji dan keuntungan lainnya. Untuk jangka pendek hal itu menguntungkan tetapi pada pekerjaan dan situasi tertentu pada jangka panjang hal tersebut akan merugikan.[10]

Kasta[sunting | sunting sumber]

Menurut Human Rights Watch, diskriminasi kasta memengaruhi 250 juta di seluruh dunia.[13] Diskriminasi berdasarkan kasta terutama lazim di beberapa bagian Asia, (India, Sri Lanka, Bangladesh, Tiongkok, Pakistan, Nepal, Jepang), Afrika, dan lainnya.[14] Hingga tahun 2011, ada sekitar 200 juta orang berkasta Dalit atau Kasta yang Sudah Ditentukan di India.[15]

Disabilitas[sunting | sunting sumber]

Diskriminasi kecacatan (disabilsm) adalah diskriminasi dan serangkaian prasangka (disadari atau tidak disadari) yang merendahkan dan membatasi potensi dari penyandang disabilitas.[16] Selain itu, diskriminasi kecacatan memberikan atau memandang rendah kepada orang-orang yang memiliki disabilitas atau kecacatan dalam emosional, fisik, ataupun psikiatris.

Pecandu narkoba[sunting | sunting sumber]

Diskriminasi penggunaan narkoba adalah perlakuan tidak setara yang dialami orang karena narkoba yang mereka gunakan.[17] Orang yang menggunakan atau pernah menggunakan obat-obatan terlarang mungkin menghadapi diskriminasi dalam pekerjaan, kesejahteraan, perumahan, hak asuh anak, dan perjalanan,  selain hukuman penjara, perampasan aset, dan di beberapa kasus kerja paksa, penyiksaan, dan eksekusi.[18]

Wilayah[sunting | sunting sumber]

Diskriminasi wilayah atau geografis adalah bentuk diskriminasi yang didasarkan pada wilayah tempat tinggal seseorang atau wilayah kelahiran seseorang. Ini berbeda dengan diskriminasi nasional karena tidak didasarkan pada batas negara atau negara tempat tinggal korban, melainkan berdasarkan prasangka terhadap wilayah tertentu dari satu atau lebih negara. Contohnya termasuk diskriminasi terhadap orang Tionghoa yang lahir di wilayah pedesaan yang jauh dari kota yang berada di Tiongkok, dan diskriminasi terhadap orang Amerika yang berasal dari wilayah selatan atau utara Amerika Serikat. Hal tersebut seringkali disertai dengan diskriminasi yang didasarkan pada aksen, dialek, atau perbedaan budaya.

Undang-undang[sunting | sunting sumber]

Australia[sunting | sunting sumber]

  • Undang-Undang Diskriminasi Rasial 1975
  • Undang-Undang Diskriminasi Seks 1984
  • Undang-Undang Diskriminasi Cacat 1992
  • Undang-Undang Diskriminasi Usia 2004

Kanada[sunting | sunting sumber]

  • Human Rights Code (Ontario) 1962
  • Undang-Undang Hak Asasi Manusia Kanada 1977 [19]

Hongkong[sunting | sunting sumber]

  • Ordonansi Diskriminasi Seks (1996)

Israel[sunting | sunting sumber]

  • Larangan Diskriminasi dalam produk, layanan dan masuk ke tempat hiburan dan tempat umum hukum, 2000
  • Hukum Ketenagakerjaan (kesempatan yang sama), 1988

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Cahya Dicky Pratama. "Diskriminasi: Pengertian dan Penyebabnya". Diakses tanggal 4 November 2020. 
  2. ^ "Definition of discrimination; Origin". Oxford Dictionaries. Oxford University. Diakses tanggal 21 November 2020. 
  3. ^ Rabe, Johan (2001). Equality, Affirmative Action and Justice (dalam bahasa Inggris). BoD – Books on Demand. hlm. 41. ISBN 978-3-8311-2832-7. 
  4. ^ JA, Denny (2014-03-01). Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi. Inspirasi.Co. hlm. 6. ISBN 978-979-98078-3-0. 
  5. ^ Laporan hukum & HAM LBH Jakarta. Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. 2006. hlm. 25. 
  6. ^ Liliweri, Alo (2018-09-01). Prasangka, Konflik, dan Komunikasi Antarbudaya. Prenada Media. hlm. 80. ISBN 978-602-422-609-1. 
  7. ^ UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA. Diakses pada 21 November 2020.
  8. ^ Sunarto 2004, hlm. 141 : "... dalam banyak kasus pengelompokan berdasarkan persamaan agama pun dapat dimasukkan...".
  9. ^ a b c d Sunarto 2004, hlm. 142.
  10. ^ a b c Joko Kuncoro (2007). "Prasangka dan Diskriminasi". Jurnal Psikologi Proyeksi. 2 (2): 12–13. 
  11. ^ a b Sunarto 2004, hlm. 146.
  12. ^ Lenhart, Sharyn Ann (2004-03-20). Clinical Aspects of Sexual Harassment and Gender Discrimination: Psychological Consequences and Treatment Interventions (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 6. ISBN 978-1-135-94131-4. 
  13. ^ "Global Caste Discrimination". Human Rights Watch. Diakses tanggal 21 November 2020. 
  14. ^ "Caste – The Facts". Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Agustus 2010. 
  15. ^ "India: Official Dalit population exceeds 200 million". International Dalit Solidarity Network. 29 Mei 2013. Diakses tanggal 21 November 2020. 
  16. ^ "What Is Ableism?". Diakses tanggal 2020-11-27. 
  17. ^ Ahern, Jennifer; Stuber, Jennifer; Galea, Sandro (2007-05-11). "Stigma, discrimination and the health of illicit drug users". Drug and Alcohol Dependence (dalam bahasa Inggris). 88 (2): 188–196. doi:10.1016/j.drugalcdep.2006.10.014. ISSN 0376-8716. 
  18. ^ Szalavitz, Maia (2012-08-03). "Human Rights Watch: Hundreds of Thousands Still Tortured in Name of Drug Treatment". Time (dalam bahasa Inggris). ISSN 0040-781X. Diakses tanggal 2020-11-27. 
  19. ^ "Canadian Human Rights Act". web.archive.org. 2018-04-16. Diakses tanggal 2020-11-27. 

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]