Diskriminasi usia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Diskriminasi usia atau ageisme adalah bentuk stereotipe dan diskriminasi terhadap individu atau kelompok karena umur mereka. Diskriminasi usia merupakan satu set keyakinan, sikap, norma, dan nilai-nilai yang digunakan untuk membenarkan prasangka dan tindakan diskriminasi.[1][2][3] Istilah ini diperkenalkan pada tahun 1969 oleh ahli gerontologi AS Robert N. Butler untuk menggambarkan diskriminasi terhadap warga senior.[4] Butler mendefinisikan ageisme sebagai kombinasi dari tiga elemen yang saling berhubungan yaitu sikap prasangka terhadap warga senior, umur tua, dan proses penuaan; praktik diskriminasi; serta praktik dan kebijakan institusional yang melanggengkan stereotipe terhadap warga senior.[5] Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan prasangka dan diskriminasi terhadap remaja dan anak-anak, termasuk mengabaikan ide mereka karena mereka terlalu muda, atau mengasumsikan bahwa mereka harus berprilaku dengan cara tertentu karena umur mereka.[6]

Terdapat beberapa bentuk turunan ageisme. Adultisme merupakan predisposisi terhadap orang dewasa, yang dianggap bias terhadap anak-anak, pemuda, atau orang muda lain yang dianggap bukan orang dewasa.[7] Jeunisme merupakan diskriminasi terhadap orang tua, dan lebih mementingkan orang muda.[8] Adultcentricism adalah "egosentrisme orang dewasa yang berlebihan."[8] Adultokrasi adalah konvensi sosial yang mendefinisikan "kedewasaan" dan "ketidakdewasaan", dan menempatkan orang dewasa dalam posisi yang lebih dominan dari orang muda, baik secara teoretis maupun praktik.[9] Gerontokrasi merupakan bentuk aturan oligarkial dimana suatu kesatuan dipimpin oleh orang yang lebih tua daripada penduduk dewasa lain. Kronosentrisme adalah kepercayaan bahwa suatu keadaan kemanusiaan lebih unggul daripada masa lampau atau masa depan.

Ageism juga dapat menyebabkan perkembangan rasa takut terhadap kelompok usia tertentu, khususnya: Pedofobia, takut bayi dan anak; Efebifobia[10], takut pada pemuda, kadang-kadang juga disebut sebagai ketakutan irasional terhadap remaja atau prasangka terhadap remaja;[11] dan Gerontophobia, takut orang tua.[12]

Ageism memiliki pengaruh yang signifikan pada lansia. Stereotip dan infantilization orang tua dengan bahasa merendahkan diri memengaruhi orang-orang yang lebih tua itu-esteem dan perilaku. Setelah berulang kali mendengar stereotip bahwa orang tua tidak berguna, orang tua mungkin mulai merasa seperti tergantung, anggota non-kontribusi masyarakat. Mereka mungkin mulai menganggap diri mereka dalam hal diri mencari-kaca - yaitu, dalam cara yang sama bahwa orang lain dalam masyarakat melihat mereka. Studi juga menunjukkan bahwa secara khusus ketika orang tua mendengar stereotip ini tentang ketidakmampuan mereka seharusnya dan kesia-siaan, mereka melakukan tindakan buruk pada kompetensi dan memori. Stereotip ini kemudian menjadi nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya. Orang tua juga dapat terlibat dalam diri-stereotip, atau mengambil usia stereotip budaya mereka yang mereka telah terkena selama hidup dan mengarahkan mereka ke dalam terhadap diri mereka sendiri. Kemudian perilaku ini memperkuat stereotip ini dan pengobatan orang tua.

Efek diskriminasi usia[sunting | sunting sumber]

Diskriminasi usia memiliki pengaruh yang signifikan pada lansia. Stereotip dan infantilisasi melalui penggunaan gaya bahasa tertentu berpengaruh pada kepercayaan diri dan perilaku lansia. Setelah berulang kali mendengar stereotip bahwa lansia tidak memiliki daya upaya, lansia akan merasa dirinya memang warga masyarakat yang dependen dan tidak dapat memberikan kontribusi apa-apa. Studi juga menunjukkan bahwa secara khusus ketika orang tua mendengar stereotip tentang ketidakmampuan dan ketidakberdayaan, mereka akan salah menilai kemampuan diri sendiri dan mengurangi kinerja memori. Stereotip ini kemudian menjadi nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy).

Banyak lansia yang berusaha mengatasi stereotip ini dan hidup seperti yang mereka inginkan, tapi mungkin sulit untuk menghindari prasangka yang telah mendarah daging, terutama jika seseorang telah melihat orang lain mengekspresikan pandangan ageis sebelum ia tua.

Efek diskriminasi umur ini juga berlaku terhadap anak-anak dan remaja.

Pengukuran diskriminasi usia[sunting | sunting sumber]

Diskriminasi usia sangat sulit diukur. Hanya ada sedikit penelitian yang dilakukan mengenai diskriminasi usia. Banyak penelitian yang berusaha mengukur konsep diskriminasi usia yang mendapat pemeriksaan akibat beberapa faktor, seperti bias keinginan sosial, sehingga data menjadi tertutup.[13]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nelson, T. (Ed.) (2002). Ageism: Stereotyping and Prejudice against Older People. MIT Press. ISBN 978-0-262-64057-2. 
  2. ^ Shepard, Jon (2003u). Sociology and You. Ohio: Glencoe McGraw-Hill. hlm. A–22. ISBN 0078285763. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-03-08. Diakses tanggal 2010-05-02. 
  3. ^ Quadagno, J. (2008). The field of social gerontology. In E. Barrosse (Ed.), Aging & the life course: An introduction to social gerontology (hal. 2-23). New York: McGraw-Hill.
  4. ^ Kramarae, C. and Spender, D. (2000) Routledge International Encyclopedia of Women: Global Women's Issues and Knowledge. Routledge. hal. 29.
  5. ^ Wilkinson J and Ferraro K, Thirty Years of Ageism Research. In Nelson T (ed). Ageism: Stereotyping and Prejudice Against Older Persons. Massachusetts Institute of Technology, 2002
  6. ^ "Young and Oppressed" - youthrights.org
  7. ^ Lauter And Howe (1971) Conspiracy of the Young. Meridian Press.
  8. ^ a b De Martelaer, K., De Knop, P., Theeboom, M., and Van Heddegem, L. (2000) "The UN Convention as a Basis for Elaborating Rights of Children In Sport," Journal of Leisurability. 27(2), hal. 3-10.
  9. ^ (n.d.) Youth Liberation Diarsipkan 2007-02-13 di Wayback Machine. Z magazine.
  10. ^ Fletcher, A. (2006) Washington Youth Voice Handbook. CommonAction.
  11. ^ "Stop Discrimination"'s Glossary (European Union)
  12. ^ Branch, L., Harris, D. & Palmore, E.B. (2005) Encyclopedia of Ageism. Haworth Press. ISBN 0-7890-1890-X
  13. ^ Levy, B. R. (2001). Eradication of ageism requires addressing the enemy within. The Gerontologist, 41(5), 578-579.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]