Ras manusia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Ras (dari bahasa Prancis race, yang sendirinya dari bahasa Latin radix, "akar") adalah suatu sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengkategorikan manusia dalam populasi atau kelompok besar dan berbeda melalui ciri fenotipe, asal usul geografis, tampang jasmani dan kesukuan yang terwarisi. Di awal abad ke-20 istilah ini sering digunakan dalam arti biologis untuk menunjuk populasi manusia yang beraneka ragam dari segi genetik dengan anggota yang memiliki fenotipe (tampang luar) yang sama.[1] Arti "ras" ini masih digunakan dalam antropologi forensik (dalam menganalisa sisa tulang), penelitian biomedis dan kedokteran berdasarkan asal-usul.[2]

Di samping itu, di Amerika Serikat misalnya, penegak hukum menggunakan istilah "ras" dalam menentukan profil tersangka dan penggambaran kembali tampang sisa yang belum diidentifikasi.

Selain itu, karena di banyak masyarakat, pengelompokan berdasarkan "ras" mengikuti pola pelapisan sosial, bagi ilmuwan sosial yang meneliti kesenjangan sosial, "ras" dapat menjadi variabel yang berarti. Sebagai faktor sosiologis, kategori "ras" dapat secara terbatas mencerminkan penjelasan yang subyektif, mengenai jati diri dan lembaga sosial.[3][4]

Oleh karena itu, paradigma "ras" yang digunakan dalam berbagai disiplin menekan dengan cara yang beraneka pada sifat biologis atau pada segi konstruk sosial.

Walau para biologis kadang-kadang menggunakan paham "ras" untuk membuat pembedaan antara kumpulan ciri-ciri yang rancu, ilmuwan lain mengajukan wawasan bahwa paham "ras" sering digunakan[5] secara naif[6] atau terlalu sederhana. "Ras" tidak memiliki arti taksonomis untuk manusia : semua manusia adalah anggota dari subspesies hominid yang sama yaitu Homo sapiens sapiens.[7][8] Paham sosial dan pengelompokan ras berubah dengan waktu, termasuk taksonomi awam [9] yang menentukan tipe orang yang bersifat esensialisme berdasarkan ciri-ciri yang terlihat. Para ilmuwan menganggap esensialisme biologis sudah ketinggalan zaman,[10] dan pada umumnya tidak mendukung penjelasan berdasarkan ras untuk pembedaan kelompok, baik dari segi ciri-ciri jasamni maupun kelakuan.[6][11]

Saat orang menentukan dan menggunakan satu paham tertentu untuk "ras", mereka menciptakan suatu kenyataan sosial di mana diterapkan suatu kategorisasi sosial tertentu.[12] Oleh sebab itu "ras" dipandang sebagai konstruk sosial.[13] Konstruk tersebut berkembang dalam berbagai konteks hukum, ekonomi dan sosio-politik, dan boleh jadi lebih merupakan akibat daripada sebab dari kenyataan sosial.[14] Walau banyak ilmuwan berpandangan bahwa "ras" adalah suatu konstruk sosial, kebanyakan pakar setuju bahwa "ras" memiliki dampak material yang nyata dalam diskriminasi perhunian, proses hukum, praktek politik, pendidikan dll. Teori Omi dan Winant mengenai pembentukan ras mengatakan bahwa "ras adalah suatu konsep yang mengartika dan melambangkan pertentangan dan kepentingan sosial melalui pengacuan pada tipe jasmani manusia yang berbeda.”[15] Arti dan maksud dari istilah "ras" dihasilkan dan digunakan oleh lembaga sosial melalui pandangan bersifat kebudayaan. Sejak Omi dan Winant, para akademisi telah menyusun dan meninjau kembali maksud "ras" sebagai konstruksi sosial dengan meneliti cara gambaran, paham dan asumsio mengenai "ras" dirumuskan dalam kehidupan sehari-hari. Angela Davis,[16] Ruth Gilmore,[17] dan Imani Perry[18] telah menelusuri hubungan antara paham "ras" dari segi sejarah dan sosial production dalam bahasa hukum dan pidana, dan dampaknya atas kebijakan terhadap orang Hitam di Amerika, dan jumlah mereka dalam penjara yang sudah tidak proporsional lagi.

Faktor sosio dan ekonomi, in combination with early but enduring views of race, berakibatkan penderitaan yang sangat besar di dalam kelompok yang terlantar.[19] Diskriminasi rasial sering bertepatan dengan pola pikir yang rasis , di mana para individu dan ideologi satu kelompok melihat anggota dari kelompok lain sebagai suatu "ras" tertentu yang lebih rendah secara moral.[20] Alhasil, kelompok yang tidak banyak berkuasa sering terasing atau tertindas, sedangkan individu dan lembaga yang dominan dituduh bersikap rasis.[21] Rasism berakibatkan banyak contoh tragedi, termasuk perbudakan dan genosid.[22] Scholars continue to debate the degrees to which racial categories are biologically warranted and socially constructed, as well as the extent to which the realities of race must be acknowledged in order for society to comprehend and address racism adequately.[23]

Paham modern pertama tentang "ras"[sunting | sunting sumber]

Tiga "ras" besar menurut buku Meyers Konversationslexikon dari Jerman tahun 1885-90. Subtipe "ras Mongoloid" ditandai dengan warna kuning dan jingga, "ras Kaukasoid" dalam warna keabu-abuan dan "ras Negroid" dalam warna coklat. Orang Dravida dan Singhala diwarnai hijau zaitun dan klasifikasi mereka dinyatakan sebagai kurang menentu. "Ras Mongoloid" adalah yang terluas penyebarannya, termasuk kedua Amerika, Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara dan keseluruhan Arktik yang dihuni manusia.

Boleh jadi kelompok manusia dari dulu selalu menentukan diri sendiri sebagai berbeda dari kelompok lain. Namun, perbedaan tersebut belum tentu selalu dipandang sebagai sesuatu yang alami, tak terubahkan dan menyeluruh. Pandang seperti ini merupakan ciri-ciri khas paham "ras" yang digunakan di masa kini.[24]

Pada awalnya, kata "ras" dipakai untuk menunjuk suatu bangsa atau kelompok etnis. Marco Polo misalnya, dalam bukunya yang ditulis di abad ke-13, menguraikan "ras Persia".[25] Paham "ras" masa kini baru muncul di abad ke-17.[26]

Paham Eropa tentang "ras", sejalan dengan sejumlah paham yang sekarang dikaitkan dengan istilah tersebut, muncul pada saat revolusi ilmiah, di mana penelitian alam dimulai dan diutamakan, dan masa imperialisme dan kolonialisme Eropa yang menciptakan hubungan politik antara orang Eropa dan bangsa yang memiliki tradisi kebudayaan dan politik yang berbeda.[24][27] Dengan bertemunya orang Europa dengan bangsa dari berbagai bagian dunia, mereka membahas perbedaan jasmani, sosial dan kebudayaan di antara berbagai kelompok manusia. Munculnya perniagaan budak di Atlantik, yang secara berangsur menggantikan perniagaan budak yang lebih lama di seluruh dunia, makin mendorong untuk mengkategorikan kelompok manusia demi membenarkan ditundukkannya budak asal Afrika.[28] Dengan mengacu kepada sumber Klasik mereka dan hubungan antar bangsa Eropa sendiri — misalnya, permusuhan bebuyutan antara Inggris dan Prancis sangat berpengaruh atas pemikiran Eropa awal mengenai perbedaan antar bangsa[29] — orang Eropa mulai mengotakkan mereka sendiri dan bangsa lain dalam kelompok berdasarkan tampang jasmani, dan melekatkan pada individu dalam kelompok tersebut, perilaku dan kemampuan yang dianggap mengakar dalam-dalam. Berkembanlah sejumlah kepercayaan yang mengaitkan perbedaan jasmani antar kelompok yang terwarisi, dengan sifat intellektual, perilaku dan moral yang juga dikira terwarisi.[30] Paham serupa ditemukan pada kebudayaan lain,[31] misalnya di Tiongkok, di mana suatu konsep yang diterjemahkan dengan istilah "ras" dikaitkan dengan yang dipercayai adalah keturunan bersama dari Kaisar Kuning, dan digunakan untuk menegaskan kesatuan para kelompok etnis di Tiongkok China. Pertikaian penuh kekerasan antar kelompok etnis sempat terjadi di sepanjang sejarah dan di seluruh dunia.[32]

Klasifikasi pasca-klasik yang pertama manusia dalam "ras" diketahui adalah Nouvelle division de la terre par les différents espèces ou races qui l'habitent ("Pembagian baru Bumi oleh spesies atau ras yang menghuninya") oleh François Bernier dari Prancis, yang diterbitkan tahun 1684.[33] Di abad ke-18, perbedaan antara kelompok manusia menjadi bahan penyelidikan ilmiah. Namun klasifikasi ilmiah mengenai variasi fenotipe sering disertai gagasan rasis mengenai kemampuan yang dianggap melekat pada berbagai kelompok, yang selalu memberi ciri-ciri yang paling bagus kepada orang Eropa atau orang Kulit putih, dan memperingkatkan "ras" lain dalam suatu kontinuum ciri-ciri yang secara berangsur menjadi kurang bagus. Klasifikasi Carolus Linnaeus, pencipta taksonomi zoologis, tahun 1755 membagi ras manusia Homo Sapiens dalam varietas "Europaeus", "Asiaticus", "Americanus" dan "Afer", yang masing-masing dikaitkan dengan watak yang berbeda : "sanguine", "melancolis", "choleric" dan "bilious".[34] Homo Sapiens Europeaus dikatakan aktif, cerdas dan petualang, sedangkan Homo Sapiens Afer dikatakan licik, pemalas dan sembrono.[35]

Dalam bukunya berjudul The Natural Varieties of Mankind, Johann Friedrich Blumenbach yang diterbitkan tahun 1775 mengajukan lima kelompok besar : "ras Kaukasoid", "ras Mongoloid", "ras Etiopia" (yang kemudian dinamakan "ras Negroid"), "ras Indian" dan "ras Melayu", namun dia tidak mengusulkan peringkatan apa pun antara para ras.[35] Blumenbach also noted the graded transition in appearances from one group to adjacent groups and suggested that "one variety of mankind does so sensibly pass into the other, that you cannot mark out the limits between them".[36]

Dari abad ke-17 sampai 19, pelemburan kepercayaan orang awam mengenai perbedan antar kelompok, dengan penjelasan ilmiah mengenai perbedaan ini, menghasilkan apa yang oleh salah satu pakar disebut "ideologi tentang ras".[27] Menurut ideologi ini, ras adalah mendasar, alami, lestari dan terpisah. It was further argued that some groups may be the result of mixture between formerly distinct populations, but that careful study could distinguish the ancestral races that had combined to produce admixed groups.[32] Subsequent influential classifications by Georges Buffon, Petrus Camper and Christoph Meiners all classified "Negros" as inferior to Europeans.[35] Di Amerika Serikat, teori ras Thomas Jefferson berpengaruh. Dia melihat orang Afrika lebih rendah dari pada orang Kulit putih, khususnya dari segi kecerdasan, dan memiliki nafsu seks yang kelebihan, tapi menganggap orang Indian setara dengan orang Kulit putih.[37]

Di dua dasawarsa terakhir abad ke-18poligenisme, yaitu kepercayaan bahwa "ras" yang berbeda telah berkembang secara terpisah di setiap benua dan tidak memiliki moyang yang sama,[38] diajukan di Inggris oleh sejarawan Edward Long dan anatomis Charles White, di Jerman oleh etnograf Christoph Meiners dan Georg Forster, di Prancis oleh Julien Virey dan di Amerika Serikat oleh Samuel Morton, Josiah Nott dan Louis Agassiz. Poligenisme popular dan paling menyebar di abad ke-19, dan memuncak dengan didirikannya Anthropological Society of London selama American civil war, bertentangan denga Ethnological Society of London yang anti-perbudakan.[39]

Perdebatan kini[sunting | sunting sumber]

Model evolusi manusia[sunting | sunting sumber]

Dalam suatu artikel pada tahun 1995, Leonard Lieberman dan Fatimah Jackson menyatakan bahwa dukungan baru mana pun untuk suatu paham biologis tentang "ras" kemungkinan besar akan datang dari penelitian tentang evolusi manusia. Menurut mereka, pertanyaannya adalah mengenai akibat model evolusi manusia yang ada sekarang atas paham "ras" yang berdasarkan biologi.[40]

Saat ini semua manusia diklasifikasi sebagai anggota dari spesies Homo sapiens dan subspesies Homo sapiens sapiens. Namun manusia bukan spesies homininae pertama. Spesies pertama dari genus Homo adalah Homo habilis, yang diperkirakan muncul di Afrika Timur paling sedikit 2 juta tahun lalu. Anggota dari spesies ini menghuni berbagai bagian Afrika dalam waktu yang agak singkat. Homo erectus diteorikan berkembang lebih dari 1,8 juta tahun silam, dan sekitar 1,5 juta tahun silam bersebar di Eropa dan Asia. Hampir semua antropolog fisik setuju bahwa Homo sapiens berkembang dari Homo erectus Afrika ((sensu lato) atauHomo ergaster).[41][42] Kebanyakan antropolog berpikir bahwa Homo sapiens berkembang di Afrika Timur, dan kemudian bermigrasi keluar dari Afrika, menggantikan populasi H. erectus di Eropa dan Asia (model "asal-usul manusia modern dari Afrika). Recent Human evolutionary genetics ( Jobling, Hurles and Tyler-Smith, 2004) support this “Out of Africa” model, however the recent sequencing of the Neanderthal and Denisovan genomes shows some admixture [43]. These results also show that 40.000 years ago there co-existed at least three major sub-species that may be considered as“races” (or not, see discussion below): Denisovans, Neanderthals and Cro-magnons. Today, there's only one human species with no sub-species.

Lieberman and Jackson Berpendapat that while advocates of both the Multiregional Model and the Out of Africa Model use the word race and make racial assumptions, none define the term.[40] They conclude that students of human evolution would be better off avoiding the word race, and instead describe genetic differences in terms of populations and clinal gradations.[40]

Ringkasan berbagai definisi biologis untuk "ras"[sunting | sunting sumber]

Biological definitions of race (Long & Kittles 2003)
Concept Reference Definition
Esentialis Hooton (1926) "A great division of mankind, characterized as a group by the sharing of a certain combination of features, which have been derived from their common descent, and constitute a vague physical background, usually more or less obscured by individual variations, and realized best in a composite picture."
Taksonomis Mayr (1969) "A subspecies is an aggregate of phenotypically similar populations of a species, inhabiting a geographic subdivision of the range of a species, and differing taxonomically from other populations of the species."
Populasi Dobzhansky (1970) "Races are genetically distinct Mendelian populations. They are neither individuals nor particular genotypes, they consist of individuals who differ genetically among themselves."
Lineage Templeton (1998) "A subspecies (race) is a distinct evolutionary lineage within a species. This definition requires that a subspecies be genetically differentiated due to barriers to genetic exchange that have persisted for long periods of time; that is, the subspecies must have historical continuity in addition to current genetic differentiation." ("Suatu subspesies (ras) adalah suatu garis evolusi yang berbeda dalam suatu spesies. Definisi ini menentukan bahwa suatu subspesies berbeda secara genetis karena kendala dalam pertukaran genetis yang sudah bertahan selama jangka waktu yang panjang. Artinya, subspesies tersebut harus memiliki kesinambungan sejarah di samping pembedaan genetis masa kini")
Population genetic correlation structure Edwards (2003) "most of the information that distinguishes populations is hidden in the correlation structure of the data and not simply in the variation of the individual factors." ("Kebanyakan informasi yang membedakan populasi tersembunyi dalam struktur korelasi data, bukan hanya dalam variasi faktor individu")

"Ras" sebagai konstruksi sosial[sunting | sunting sumber]

Para antropolog dan ilmuwan evolusi lain sudah beralih dari istialh "ras" ke istilah "populasi" untuk membahas perbedaan genetika. Para sejarawan, antropolog kebudayaan dan ilmuwan sosial memahamkan kembali istilah "ras" sebagai kategori kebudayaan atau konstruksi sosial, suatu cara tertentu orang bicara tentang mereka sendiri dan tentang orang lain.

Banyak ilmuwan sosial sudah menggantikan istilah "ras" dengan kata "kelompok etnik" untuk menunjuk kelompok yang mengidentifikasi diri sendiri berdasarkan kepercayan mereka mengenai kebudayaan, asal usul dan sejarah bersama. Selain masalah empiris dan konseptual yang dibawa paham "ras," setelah Perang Dunia Kedua, para ilmuwan di bidang evolusi dan sosial sangat menyadari betapa kepercayaan mengenai "ras" diperalat untuk membenarkan dissriminasi, apartheid, perbudakan dan genosid. Pertanyaan ini bertambah ramai pada tahun 1960-an dengan gerakan hak sipil di Amerika Serikat dan munculnya banyak gerakan anti-kolonial di seluruh dunia. Para ilmuwan akhirnya mulai berpikir bahwa "ras" adalah suatu konstruksi sosial, suatu paham yang orang percaya adalah suatu kenyataan obyectif tapi sebetulnya mendapat kepercayaan karena fungsi sosialnya.[44]

Tahun 2000, Craig Venter dan Francis Collins dari National Institute of Health (lembaga kesehatan nasional) fi Amerika Serikat mengumumkan bersama suatu pemetaan dari genom manusia. Setelah meneliti data dari pemetaan genom tersebut, Venter melihat bahwa walau besaran variasi genetik dalam spesies manusia adalah sekitar 1–3% (yaitu lebih dari 1% yang diperkirakan semula), tipe variasi tersebut tidak mendukung paham "ras" dalam arti genetik. Venter mengatakan bahwa "Ras adalah suatu konsep sosial. Buka konsep ilmiah. Tidak ada garis yang jelas (yang akan muncul), seandainya kita membandingkan semua genom bersekuensi dari semua orang di atas planet ini." "Bila kita coba menerapkan ilmu untuk mencoba menyusun perbedaan sosial tersebut, runtuh semuanya."[45]

Stephan Palmié menegaskan bahwa "ras" "bukan suatu benda tapi suatu hubungan sosial";[46] atau, dengan kataKatya Gibel Mevorach, "suatu metonim," "suatu karangan manusia yang kriteria pembedaannya tidak universal dan tidak tetap, tapi selalu digunakan untuk mengatur perbedaan."[47] Dengan demikian, penggunaan kata "ras" sendiri perlu dianalisa. Lebih dari itu, Palmié dan Mevorach mengatakan bahwa biologi tidak akan dapat menjelaskan mengapa atau bagaimana orang menggunakan paham "ras". Yang akan menjelaskannyua adalah sejarah dan tatanan sosial.

Imani Perry, a professor in the Center for African American Studies at Princeton University, has made significant contributions to how we define race in America today. Perry’s work focuses on how race is experienced. Perry tells us that race, “is produced by social arrangements and political decision making.” [48] Perry explains race more in stating, “race is something that happens, rather than something that is. It is dynamic, but it holds no objective truth.”[49]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ See:
  2. ^ See:
  3. ^ King 2007: For example, "the association of blacks with poverty and welfare ... is due, not to race per se, but to the link that race has with poverty and its associated disadvantages"–p.75.
  4. ^ Schaefer 2008: "In many parts of Latin America, racial groupings are based less on the biological physical features and more on an intersection between physical features and social features such as economic class, dress, education, and context. Thus, a more fluid treatment allows for the construction of race as an achieved status rather than an ascribed status as is the case in the United States"
  5. ^ Graves 2001
  6. ^ a b Lee et al. 2008: "We caution against making the naive leap to a genetic explanation for group differences in complex traits, especially for human behavioral traits such as IQ scores"
  7. ^ Keita et al. 2004
  8. ^ AAPA 1996 "Pure races, in the sense of genetically homogeneous populations, do not exist in the human species today, nor is there any evidence that they have ever existed in the past."-p.714
  9. ^ See:
  10. ^ Sober 2000
  11. ^ AAA 1998: For example, "Evidence from the analysis of genetics (e.g., DNA) indicates that most physical variation, about 94%, lies within so-called racial groups. Conventional geographic 'racial' groupings differ from one another only in about 6% of their genes. This means that there is greater variation within 'racial' groups than between them."
  12. ^ Lee 1997
  13. ^ See:
  14. ^ See:
  15. ^ Omi, Michael dan Howard Winant, Racial Formation in the United States: From the 1960s to the 1990s, New York, Routledge, 1994, halaman 55
  16. ^ Davis, Angela. Are Prisons Obsolete? Toronto: Publishers Group Canada, 2003.
  17. ^ Gilmore, Ruth, Golden Gulag: Prisons, Surplus, Crisis, and Opposition in Globalizing California, Berkeley: University of California Press, 2007
  18. ^ Perry, Imani, More Beautiful, More Terrible: The Embrace and Transcendence of Racial Inequality in the United States
  19. ^ See:
  20. ^ Lee 1997 citing Morgan 1975 and Appiah 1992
  21. ^ See: *Sivanandan 2000 *Muffoletto 2003 *McNeilly et al. 1996: psychiatric instrument called the "Perceived Racism Scale" "provides a measure of the frequency of exposure to many manifestations of racism ... including individual and institutional"; also assesses motional and behavioral coping responses to racism. *Miles 2000
  22. ^ Owens & King 1999
  23. ^ See:
    • Brace 2000
    • Gill 2000
    • Lee 1997: "The very naturalness of 'reality' is itself the effect of a particular set of discursive constructions. In this way, discourse does not simply reflect reality, but actually participates in its construction"
  24. ^ a b Marks 2008, hlm. 28
  25. ^ Polo 2007
  26. ^ Smedley 2007
  27. ^ a b Smedley 1999
  28. ^ Meltzer 1993
  29. ^ Takaki 1993
  30. ^ Banton 1977
  31. ^ For examples see:
  32. ^ a b Race, Ethnicity, and Genetics Working Group (October 2005). "The use of racial, ethnic, and ancestral categories in human genetics research". American Journal of Human Genetics 77 (4): 519–32. doi:10.1086/491747. PMC 1275602. PMID 16175499. 
  33. ^ Todorov 1993
  34. ^ Brace 2005, hlm. 27
  35. ^ a b c Graves 2001, hlm. 39
  36. ^ Marks 1995
  37. ^ Graves 2001, hlm. 42–43
  38. ^ Stocking 1968, hlm. 38–40
  39. ^ Desmond & Moore 2009, hlm. 332–341
  40. ^ a b c Lieberman & Jackson 1995
  41. ^ Camilo J. Cela-Conde and Francisco J. Ayala, Human Evolution Trails from the Past, 2007 Oxford University Press, halaman 195
  42. ^ Lewin, Roger, Human Evolution an illustrated introduction, terbitan ke-5, 2005, halaman 159, Blackwell
  43. ^ Reich D, Patterson N, Kircher M, et al. (October 2011). "Denisova admixture and the first modern human dispersals into Southeast Asia and Oceania". Am. J. Hum. Genet. 89 (4): 516–28. doi:10.1016/j.ajhg.2011.09.005. PMID 21944045.  Unknown parameter |month= ignored (help)
  44. ^ Gordon 1964[halaman dibutuhkan]
  45. ^ "New Ideas, New Fuels: Craig Venter at the Oxonian". FORA.tv. 2008-11-03. Diakses 2009-04-18. 
  46. ^ Palmié, Stephan (May 2007). "Genomics, divination, 'racecraft'". American Ethnologist 34 (2): 205–22. doi:10.1525/ae.2007.34.2.205. 
  47. ^ Mevorach, Katya Gibel (2007). "Race, racism, and academic complicity". American Ethnologist 34 (2): 238–241. doi:10.1525/ae.2007.34.2.238. 
  48. ^ Imani Perry, More Beautiful and More Terrible: The Embrace and Transcendence of Racial Inequality in the United States (New York, NY: New York University Press, 2011), 23.
  49. ^ Imani Perry, More Beautiful and More Terrible: The Embrace and Transcendence of Racial Inequality in the United States (New York, NY: New York University Press, 2011), 24.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]