Ras Melayu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Peta Fisiognomi Baru, cetakan Fowler & Wells Company, terbit tahun 1889, menampilkan lima ras manusia menurut Johann Friedrich Blumenbach. Kawasan yang didiami "ras Melayu" dibatasi garis titik-titik dan kurang lebih sama dengan wilayah rumpun suku bangsa Austronesia

Pencetus konsep ras Melayu adalah Johann Friedrich Blumenbach (1752–1840), seorang dokter sekaligus antropolog asal Jerman. Blumenbach menggolongkan ras Melayu ke dalam rumpun bangsa berkulit sawo matang.[1][2] Melayu adalah istilah luwes yang dipakai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 untuk menyifatkan rumpun suku-bangsa Austronesia.[3][4]

Teori lima ras yang dikemukakan Blumenbach sudah disanggah banyak antropolog, mengingat tingginya keruwetan klasifikasi ras. Konsep "ras Melayu" berbeda dari suku-bangsa Melayu yang terkonsentrasi di Semenanjung Malaka, Sumatra, dan Kalimantan.

Etimologi

Nama Melayu atau Malayu ditemukan dalam sejumlah catatan Cina, dan menyebut satu kerajaan yang mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 untuk pertama kali, berita tentang keberadaan kerajaan ini didapat dari buku T'ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p'u pada tahun 961 masa Dinasti Tang.[5] Selanjutnya masih dari catatan Cina, berita tentang adanya Kerajaan Melayu antara lain diketahui dari dua buah buku karya Pendeta I-tsing atau I Ching (義淨; pinyin Yì Jìng) (634-713),[6] di saat dalam pelayarannya dari Cina ke India tahun 671, kisah pelayaran I-tsing ini diceritakannya sendiri, dengan terjemahan sebagai berikut:

Sehubungan dengan itu, perkataan "Melayu" dapat berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Malaya yang bermaksud bukit ataupun "tanah tinggi".[7] Dari sumber lain, perkataan bhumi malayu juga telah dipahatkan pada Prasasti Padang Roco yang bertarikh 1286 di Dharmasraya, dan kemudian pada tahun 1347, Adityawarman mengeluarkan sendiri piagam yang dipahatkan pada arca Amoghapasa, yang menyatakan bahwa dia mendirikan suatu kerajaan di Malayapura.[8] Dan kemudian dari catatan Kerajaan Majapahit, Nagarakretagama bertarikh 1365 M, disebutkan "negeri-negeri Melayu yang menjadi takhlukan Majapahit".[9]

Sejarah

Hubungan kebahasaan antara Madagaskar, Polinesia, dan Asia Tenggara sudah diketahui para penulis Eropa sejak zaman kolonial, khususnya kemiripan bahasa Malagasi, bahasa Melayu, dan bahasa Polinesia dalam penyebutan nama bilangan.[10] Karya tulis ilmiah pertama tentang hubungan kebahasaan tersebut terbit pada tahun 1708, hasil penelitian Adriaan Reland, Orientalis Belanda yang menginsafi keberadaan satu "bahasa bersama" dari Madagaskar sampai Polinesia Barat, kendati Cornelis de Houtman, penjelajah abad ke-16 asal Belanda, sudah menyadari keterkaitan bahasa antara Madagaskar dan Nusantara sebelum diteliti Reland pada tahun 1603.[11]

Gambar lima bentuk tengkorak yang mewakili "lima ras" menurut teori Johann Friedrich Blumenbach di dalam risalah De Generis Humani Varietate Nativa, terbit tahun 1795, gambar tengkorak orang Tahiti berlabel "O-taheitae" mewakili kelompok yang ia sebut "ras Melayu"

Pengaruh kolonial

Pandangan mengenai Bangsa Melayu, dikemukakan oleh Thomas Stamford Raffles yang karyanya hingga sekarang memiliki pengaruh signifikan di antara para penutur bahasa Inggris. Raffles mungkin orang paling penting yang mempromosikan ide mengenai Bangsa Melayu, yang tidak terbatas hanya pada kelompok etnis Melayu saja. Menurutnya Bangsa Melayu juga merangkul sebagian besar rakyat di kepulauan Asia Tenggara. Raffles membentuk visi Melayu sebagai "bangsa", sejalan dengan pandangan gerakan Romantik Inggris pada waktu itu. Setelah ekspedisinya ke pedalaman Minangkabau, tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, ia menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur. Dalam tulisannya kemudian ia mengkategorikan Melayu dari sebuah etnis menjadi bangsa.[12]

Di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, klasifikasi "ras Melayu" diperkenalkan pada awal abad ke dua puluh ke dalam undang-undang anti-perkawinan antar suku bangsa di sejumlah negara bagian barat AS. Undang-undang anti-perkawinan antar suku bangsa adalah hukum negara yang melarang perkawinan antara kulit putih dengan Afro-Amerika, dan di beberapa negara juga dengan non-kulit putih. Setelah masuknya imigran Filipina di beberapa negara bagian barat, undang-undang yang ada diubah dan melarang perkawinan antara kulit putih dengan Filipina, yang diklasifikasikan sebagai anggota dari Bangsa Melayu. Sejumlah negara bagian selatan berkomitmen untuk mengikuti segregasi rasial. Dimana sembilan negara (Arizona, California, Georgia, Maryland, Nevada, South Dakota, Utah, Virginia, dan Wyoming) secara jelas melarang perkawinan antara kulit putih dan Asia.[13]

Banyak undang-undang anti-perkawinan antara suku bangsa secara bertahap dicabut setelah Perang Dunia Kedua, dimulai dengan California pada tahun 1948. Pada tahun 1967, semua larangan terhadap perkawinan antar-ras yang tersisa dinilai tidak konstitusional oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat dan karena itu kemudian dicabut.

Di Filipina

Di Filipina, banyak orang menganggap istilah "Melayu" untuk merujuk kepada penduduk pribumi negara, serta penduduk negara tetangga seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Namun H. Otley Beyer, antropolog Amerika, mengusulkan bahwa Filipina sebenarnya adalah Melayu yang bermigrasi dari Malaysia dan Indonesia. Ide ini pada gilirannya disebarkan oleh sejarawan Filipina dan masih diajarkan di banyak sekolah. Namun, konsensus umum di kalangan ahli antropologi kontemporer, arkeolog, dan ahli bahasa mengusulkan hal sebaliknya, yaitu bahwa selama periode prasejarah, nenek moyang bangsa Austronesia yang berasal dari Taiwan, bermigrasi ke Malaysia dan Indonesia melalui Filipina.

Di Indonesia

Di Indonesia, istilah "Melayu" lebih diasosiasikan ke suku Melayu daripada ras Melayu. Hal ini dikarenakan Indonesia telah memiliki suku bangsa pribumi lain yang telah memiliki serta membangun kebudayaan dan identitas mereka yang dipercaya bahwa mereka mempunyai tradisi dan bahasa yang sangat berbeda dengan orang-orang Melayu pesisir. Terutama orang Minang dan Orang Lampung yang tidak merasa sebagai Melayu. Melayu tidak lebih dari salah satu banyak sukubangsa di Indonesia yang mempunyai kedudukan yang sama dengan Jawa (termasuk sub-etnis mereka seperti Osing & Tengger), Cirebon, Sunda (termasuk sub-etnis mereka seperti Baduy & Banten), Makassar, Minangkabau, suku-suku Batak, Bugis, suku-suku Dayak, Aceh, Bali, Toraja, dll. Istilah yang lebih diterima untuk menyebut komunitas ini adalah Austronesia, dan juga prespektif dari negara Indonesia, sebagai Pribumi. .

Istilah ras Melayu pertama kali dipakai oleh ilmuwan asing pada masa penjajahan. Pada masa Hindia Belanda, pribumi digolongkan sebagai inlanders atau pribumi untuk membedakan penduduk asli Indonesia dari penduduk Eropa dan pendatang dari Asia (Tiongkok, Arab, dan India). Konsep ras Melayu digunakan di Malaysia dan juga Filipina, serta digunakan di sebagian Indonesia di pesisir timur Sumatra dan pesisir barat Kalimantan, pada umumnya disebut sebagai puak Melayu atau rumpun Melayu. Namun, pemikiran dan kedudukan 'kemelayuan' juga berbeda-beda di Indonesia, dari mencakup wilayah besar orang Austronesia untuk membatasi hanya dalam wilayah Jambi di mana nama Melayu pertama kali tercatat.

Saat ini, identitas bersama yang mengikat orang Melayu adalah kesamaan bahasa (dengan varian dialek yang ada di antara mereka), Islam dan budaya mereka.[14]

Di Malaysia

Di Malaysia, sensus awal kolonial mengelompokan beberapa etnis seperti "Melayu, Boyan, Aceh, Bugis, Manilamen dan Siam". Sensus 1891 hanya mengelompokan etnis ke dalam tiga "ras", di mana pengelompokan tersebut masih digunakan oleh Malaysia hingga saat ini, yaitu: Cina, 'Tamil dan pribumi lain India', dan 'Melayu dan pribumi lainnya di Nusantara'. Hal ini berdasarkan pandangan Eropa pada saat itu bahwa ras adalah kategori ilmiah biologis. Untuk sensus tahun 1901, pemerintah menyarankan agar kata "ras" diganti dengan "kebangsaan".[12]

Setelah beberapa periode, identitas individu dibentuk berdasarkan konsep Bangsa Melayu (ras Melayu). Pada generasi muda, konsep ini dilihat sebagai sarana persatuan dan solidaritas terhadap kekuasaan kolonial dan para imigran non-Melayu. Bangsa Malaysia, kemudian dibentuk dari Bangsa Melayu yang memiliki posisi sentral dan menentukan di dalam negeri.[12]


Lihat pula

Referensi

  1. ^ University of Pennsylvania
  2. ^ "Johann Frederich Blumenbach". Diakses tanggal 18 February 2018. 
  3. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama douglas2008ch2
  4. ^ Rand McNally’s World Atlas International Edition Chicago:1944 Rand McNally Peta: "Races of Mankind" Halaman 278–279—Pada peta ini, kelompok tersebut dinamakan ras Malaya yang ditampilkan mendiami salah satu area pada peta (terdiri atas gugusan pulau yang pada masa itu disebut Hindia Timur Belanda, Filipina, Madagaskar, dan Kepulauan Pasifik, beserta Semenajung Malaka) identik dan sama luasnya dengan kawasan tempat tinggal masyarakat yang kini disebut rumpun suku bangsa Austronesia.
  5. ^ Muljana, Slamet, (2006), Sriwijaya, Yogyakarta: LKIS, ISBN 979-8451-62-7.
  6. ^ Junjiro Takakusu, 1896, A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671-695, by I-tsing, Oxford, London.
  7. ^ Harun Aminurrrashid, 1966. Kajian Sejarah Perkembangan Bahasa Melayu, Singapura: Pustaka Melayu, hlm. 4-5
  8. ^ Muljana, Slamet, (2005), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKIS, ISBN 979-98451-16-3.
  9. ^ Brandes, J.L.A., (1902), Nāgarakrětāgama; Lofdicht van Prapanjtja op koning Radjasanagara, Hajam Wuruk, van Madjapahit, naar het eenige daarvan bekende handschrift, aangetroffen in de puri te Tjakranagara op Lombok.
  10. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Crowley
  11. ^ Blust, Robert A. (2013). The Austronesian languages. Asia-Pacific Linguistics. Australian National University. hdl:1885/10191. ISBN 9781922185075. 
  12. ^ a b c Reid, Anthony (2001). "Understanding Melayu (Malay) as a Source of Diverse Modern Identities". Journal of Southeast Asian Studies. 32 (3): 295–313. doi:10.1017/S0022463401000157. 
  13. ^ Pascoe, Peggy, "Miscegenation Law, Court Cases, and Ideologies of "Race" in Twentieth Century America, The Journal of American History, Vol. 83, June 1996, p. 49
  14. ^ "http://melayuonline.com/eng/about/dig/2 Melayu Online: Theoretical Framework". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-10-21. Diakses tanggal 2014-01-09.  Hapus pranala luar di parameter |title= (bantuan)

Pranala luar