Kabupaten Klaten

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Klaten)
Lompat ke: navigasi, cari
"Klaten" beralih ke halaman ini. Untuk ibukota kabupaten, lihat Klaten (kota).
Kabupaten Klaten
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦑ꧀ꦭꦛꦺꦤ꧀
Locator Kabupaten Klaten.gif
Peta lokasi Kabupaten Klaten
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦑ꧀ꦭꦛꦺꦤ꧀
Koordinat: 7°32’19” LS - 7°48’33” LS 110°26’14” BT - 110°47’51” BT
Provinsi Jawa Tengah
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal Peresmian -
Ibu kota Kota Klaten
Pemerintahan
 - Bupati Hj. Sri Hartini, S.E.
 - DAU Rp. 1.237.967.327.000.-(2016)[1]
Luas 655.56 [2]
Populasi
 - Total 1.144.040 jiwa (2014)[3]
 - Kepadatan 1717
Demografi
 - Kode area telepon 0272
Pembagian administratif
 - Kecamatan 26 [2]
 - Kelurahan 10 [2]
 - Desa 391 [2]
Simbol khas daerah
 - Flora resmi Kemuning
 - Fauna resmi Nila merah
 - Situs web http://www.klatenkab.go.id/
Logo wisata "KLATEN"
Benteng Fort Engelenburg di Klaten (tahun 1929) yang sekarang menjadi Masjid Raya dan Alun-alun

Kabupaten Klaten (Bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦑ꧀ꦭꦛꦺꦤ꧀, Latin: Klathèn) adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan berada di Kota Klaten.

Geografis dan Letak Geografi[sunting | sunting sumber]

Secara geografis Kabupaten Klaten terletak di antara 110°30'-110°45' Bujur Timur dan 7°30'-7°45' Lintang Selatan.

Luas wilayah kabupaten Klaten mencapai 655,56 km2. Di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo. Di sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta). Di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) serta Kabupaten Magelang dan di sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Boyolali.[4]

Wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi tiga dataran yakni Sebelah Utara Dataran Lereng Gunung Merapi, Sebelah Timur Membujur Dataran Rendah, Sebelah Selatan Dataran Gunung Kapur.

Menurut topografi kabupaten Klaten terletak di antara gunung Merapi dan pegunungan Seribu dengan ketinggian antara 75-160 meter di atas permukaan laut yang terbagi menjadi wilayah lereng Gunung Merapi di bagian utara areal miring, wilayah datar dan wilayah berbukit di bagian selatan.

Jarak Kota Klaten dengan Kota Lain se Karesidenan Surakarta :

  • Kota Klaten ke Kota Boyolali : 38 Km,
  • Kota Klatenke Wonogiri : 67 Km,
  • Kota Klaten ke Kota Solo : 36 Km,
  • Kota Klaten ke Karanganyar : 49 Km,
  • Kota Klaten ke Kota Sukoharjo : 47 Km,
  • Kota Klaten ke Sragen : 63 Km.

Keadaan iklim Kabupaten Klaten termasuk iklim tropis dengan musim hujan dan kemarau silih berganti sepanjang tahun, temperatur udara rata-rata 28°-30° Celsius dengan kecepatan angin rata-rata sekitar 153 mm setiap bulannya dengan curah hujan tertinggi bulan Januari (350mm) dan curah hujan terrendah bulan Juli (8mm).

Keadaan Wilayah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 (tiga) dataran :

  1. Dataran Lereng Gunung Merapi membentang di sebelah utara meliputi sebagian kecil sebelah utara wilayah Kecamatan Kemalang, Karangnongko, Jatinom dan Tulung.
  2. Dataran Rendah membujur di tengah meliputi seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, kecuali sebagian kecil wilayah merupakan dataran lereng Gunung Merapi dan Gunung Kapur.
  3. Dataran Gunung Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi sebagian kecil sebelah selatan Kecamatan Bayat dan Cawas.

Melihat keadaan alamnya yang sebagian besar adalah dataran rendah dan didukung dengan banyaknya sumber air maka daerah Kabupaten Klaten merupakan daerah pertanian yang potensial disamping penghasil kapur, batu kali dan pasir yang berasal dari Gunung Merapi.

Ketinggian daerah :

  • Sekitar 3,72% terletak diantara ketinggian 0 - 100 meter di atas permukaan laut.
  • Terbanyak 83,52% terletak diantara ketinggian 100 - 500 meter diatas permukaan laut.
  • Sisanya 12,76% terletak diantara ketinggian 500 - 2500 meter diatas permukaan laut.

Klasifikasi Tanah di Kabupaten Klaten.
Jenis tanah terdiri dari 5 (lima) macam :

  1. Litosol : Bahan induk dari skis kristalin dan batu tulis terdapat di daerah kecamatan Bayat.
  2. Regosol Kelabu : Bahan induk abu dan pasir vulkanik termedier terdapat di Kecamatan Cawas, Trucuk, Klaten Tengah, Kalikotes, Kebonarum, Klaten Selatan, Karangnongko, Ngawen, Klaten Utara, Ceper, Pedan, Karangdowo, Juwiring, Wonosari, Delanggu, Polanharjo, Karanganom, Tulung dan Jatinom.
  3. Grumusol Kelabu Tua : Bahan induk berupa abu dan pasir vulkan interme-dier terdapat di daerah Kecamatan Bayat, Cawas sebelah selatan.
  4. Kompleks Regosol Kelabu dan Kelabu Tua : Bahan induk berupa batuk apurnapal terdapat di daerah Kecamatan Klaten Tengah dan Kalikotes sebelah selatan.
  5. Regosol Coklat Kekelabuan : Bahan induk berupa abu dan pasir vulkan intermedier terdapat di daerah Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Prambanan, Jogonalan, Gantiwarno dan Wedi.

Arti Lambang[sunting | sunting sumber]

  • Mahkota Kerajaan: Melambangkan kebesaran/keagungan cita-cita.
  • Orang Yang Bersemedi dengan Rambut Terurai, Kaki Berbentuk Pita Bertuliskan KLATEN: Orang dengan tekat yang teguh dan suci menuju cita-cita Kab Klaten.
  • Perisai Warna Kuning Emas dengan Bingkai Segi Lima Warna Putih: Menggambarkan perlindungan rakyat menuju jaman keemasan “Toto Tentrem Kerto Raharjo” dengan prinsip kebajikan, kejujuran, keadilan dan kebenaran.
  • Padi dan Kapas: Mencerminkan sandang dan pangan dari hasil pertanian dan perkebunan padi warna kuning emas jumlah 28 kapas warna putih jumlah 10
  • Tulisan Menyerupai Huruf Jawa: “Tumengo Toto Anggotro Raharjo “ artinya 0591 (1950) Hari jadi Pemerintah Kab Klaten (ditanah jawa) 28-10-1950
  • Gunungan Warna Biru Muda: Gunungan berarti pembukaan, sedangkan Warna biru muda berarti warna cerah, tenang dan tenteram, yaitu tanda pembukaan berdirinya Pemerintah Kab Klaten dan membuka keadaan baru yang tenang dan tenteram.
  • Rantai Warna Kuning Melingkar Dibatang Pada dan Kapas: Menggambarkan persatuan dan kegotong royongan rakyat.
  • Bambu Runcing dan Api: Merupakan simbul perjuangan yang berkobar dan menyala menuju cita-cita yang suci dan mulia.
  • Tugu Warna Putih: Diartikan sebagai peringatan dari perjuangan yang suci
  • Pohon Beringin Beserta Akarnya Berwarna Hijau: Simbol pengayoman dan perlindungan rakyat menuju keadaan sosial ekonomi yang merata, adil dan makmur.
  • Warna Hitam Pada Dasar Lambang: Hitam berarti kuat, tegas, kekal. Maksudnya lambang ini bersifat kuat, tegas dan kekal, baik isi maupun tujuannya.

Pembagian Administrasi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas 391 desa dan 10 kelurahan. Ibukota kabupaten ini berada di Kota Klaten, yang terdiri atas tiga kecamatan yaitu Klaten Utara, Klaten Tengah, dan Klaten Selatan. Kota Klaten dulunya merupakan kota administratif, namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota Administratif Klaten kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Klaten.

Daftar kecamatan di Kabupaten Klaten beserta data lainnya Tahun 2014

Nama kecamatan Jumlah penduduk Luas wilayah (km2) Jumlah kelurahan Jumlah desa
Prambanan 48.521 Jiwa 24,3 km2  16
Gantiwarno 34.339 Jiwa 25,64 km2  16
Wedi 47.226 Jiwa 24,38 km2  19
Bayat 53.065 Jiwa 39,43 km2  18
Cawas 50.424 Jiwa 34,47 km2  20
Trucuk 70.346 Jiwa 33,81 km2  18
Kalikotes 33.296 Jiwa 12,98 km2  7
Kebonarum 17.845 Jiwa 09,67 km2  7
Jogonalan 54.059 Jiwa 26,70 km2 18
Manisrenggo 39.342 Jiwa 26,96 km2  16
Karangnongko 32.508 Jiwa 26,74 km2  14
Ngawen 40.453 Jiwa 16,97 km2  13
Ceper 58.634 Jiwa 24,45 km2  18
Pedan 42.657 Jiwa 19,17 km2  14
Karangdowo 38.563 Jiwa 29,23 km2  19
Juwiring 53.708 Jiwa 29,79 km2  19
Wonosari 58.214 Jiwa 31,14 km2  18
Delanggu 39.474 Jiwa 18,78 km2  16
Polanharjo 36.480 Jiwa 23,84 km2 18
Karanganom 40.784 Jiwa 24,06 km2  19
Tulung 45.499 Jiwa 32,00 km2  18
Jatinom 53.819 Jiwa 35,53 km2  1 17
Kemalang 35.446 Jiwa 51,66 km2  13
Klaten Selatan 42.413 Jiwa 14,43 km2  1 11
Klaten Tengah 39.981 Jiwa 08,92 km2  6 3
Klaten Utara 46.147 Jiwa 10,38 km2  2 6

Wacana Pemekaran Kota Klaten[sunting | sunting sumber]

Mengingat Kota Klaten adalah sebuah bentukan kota baru sebagai kota administratif pada tahun 1986 dengan ciri yang menunjukkan wilayah perkotaan, maka muncul wacana untuk membentuk Kota Klaten sebagai suatu pemerintahan kota sendiri. Bentukan kota administratif yang lain sebagian besar telah menjadi daerah otonom mandiri, sedang sebagian kecil yang belum kini bergiat untuk menyusul menjadi sebuah kota otonom, termasuk Kota Klaten.

Adapun jika wacana pemekaran wilayah kota dan kabupaten direalisasikan, maka wilayah Klaten akan menjadi dua.

  • Kota Klaten akan membentuk daerah otonom mandiri dengan 3 kecamatan:
  1. Klaten Utara,
  2. Klaten Tengah,
  3. Klaten Selatan.
  • Ibukota kabupaten dipindah ke Delanggu dengan wilayah kabupaten sebagaimana wilayah Kabupaten Klaten saat ini dikurangi wilayah Kota Klaten.

Masing-masing wilayah dapat mengembangkan wilayahnya, mengingat di kedua wilayah tersebut memiliki pemasukan pendapatan masing-masing yang selama ini digabungkan menjadi APBD Kabupaten Klaten. Pendapatan daerah Kota Klaten terletak pada aktivitas perdagangan serta pajak-pajak pasar, kios pertokoan, dan perusahaan yang cukup untuk anggaran sebuah pemerintahan kota. Sementara pendapatan Kabupaten Klaten banyak dari sektor pertanian, perdagangan, dan pariwisata, yang berarti dapat menyokong anggaran wilayah kabupaten.

Wacana pemekaran wilayah Kota Klaten menjadi sebuah pemerintahan kota sendiri terlepas dari kabupaten induknya sudah mulai bermunculan walau belum begitu menjamur, mengingat bekas kotif lain seperti Jember dan Purwokerto juga bergerak menuju terbentuknya daerah otonom baru. Sayangnya, pembangunan di Kota Klaten sejak era reformasi tidak begitu tampak. Perlu adanya pembangunan bersifat perkotaan untuk dapat mewujudkan Kota Klaten sebagai kota yang mandiri, serta dapat lebih menyejahterakan masyarakat di kedua belah wilayah tersebut.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Klaten tersebar diberbagai catatan arsip-arsip kuno dan kolonial, arsip-arsip kuno dan manuskrip Jawa. Catatan itu seperti tertulis dalam Serat Perjanjian Dalem Nata, Serat Ebuk Anyar, Serat Siti Dusun, Sekar Nawala Pradata, Serat Angger Gunung, Serat Angger Sedasa dan Serat Angger Gladag. Dalam bundel arsip Karesidenan Surakarta menjadikan rujukan sejarah Klaten seperti tercantum dalam Soerakarta Brieven van Buiten Posten, Brieven van den Soesoehoenan 1784-1810, Daghregister van den Resi dentie Soerakarta 1819, Reporten 1787-1816, Rijksblad Soerakarta dan Staatblad van Nederlandsche Indie. Babad Giyanti, Babad Bedhahipun Karaton Negari Ing Ngayogyakarta, Babad Tanah Jawi dan Babad Sindula menjadi sumber lain untuk menelusuri sejarah Klaten. Sejarah Klaten juga dapat ditelusuri dari keberadaan Candi-candi Hindu, Budha maupun barang-barang kuno. Asal muasal desa-desa kuno tempo dulu menunjukan keterangan terpercaya. Desa-desa seperti Pulowatu, Gumulan, Wedihati, Mirah-mirah maupun Upit. Peninggalan atau petilasan Ngupit bahkan secara jelas menyebutkan pertanda tanggal yang dimaknai 8 November 66 Maeshi oleh Raden Rakai Kayuwangi.

Daerah Kabupaten Klaten pada mulanya adalah bekas daerah swapraja Surakarta. Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Kabupaten, Mantri Pembantu, Mantri Distrik, Penghulu, Carik Kabupaten angka 1 dan 2, Lurah Langsik, dan Langsir. Susunan penguasa Distrik terdiri dari Pamong Distrik (1 orang), Mantri Distrik (5), Carik Kepanawon angka 1 dan 2 (2 orang), Carik Kemanten (5 orang), Kajineman (15 orang).
Pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1749, terjadi perubahan susunan penguasa di Kabupaten dan di Distrik. Untuk Jawa dan Madura, semua provinsi dibagi atas kabupaten-kabupaten, kabupaten terbagi atas distrik-distrik, dan setiap distrik dikepalai oleh seorang wedono. Pada tahun 1847 bentuk Kabupaten diubah menjadi Kabupaten Pulisi. Maksud dan tujuan pembentukan Kabupaten Pulisi adalah di samping Kabupaten itu menjalankan fungsi pemerintahan, ditugaskan pula agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan dengan ditentukan batas-batas kekuasa wilayahnya.

Berdasarkan Nawala Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senopati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin Panata Gama VII, Senin Legi 23 Jumadilakhir Tahun Dal 1775 atau 5 Juni 1847 dalam bab 13 disebutkan :

“……………… KratonDalam Surakarta Adiningrat Nganakake Kabupaten cacah enem.……………….”
“……………… Kabupaten cacah enem iku Nagara Surakarta, Kartosuro, Klaten, Boyolali, Ampel, lan Sragen.……………….”
“……………… Para Tumenggung kewajiban rumeksa amrih tata tentreme bawahe dhewe-dhewe serta padha ke bawah marang Raden Adipati.……………….”


Asal mula nama[sunting | sunting sumber]

Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten.

  1. mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.
  2. menyebutkan Klaten berasal dari kata Melati. Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata Klati, sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.

Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Abdi dalem Kraton Mataram ini ditugaskan oleh raja untuk menyerahkan bunga Melati dan buah Joho untuk menghitamkan gigi para putri kraton (Serat Narpawada, 1919:1921).

Makam Kyai dan Nyai Melati

Guna memenuhi kebutuhan bunga Melati untuk raja, Kyai dan Nyai Mlati menanami sawah milik Raden Ayu Mangunkusuma, istri Raden Tumenggung Mangunkusuma yang saat itu menjabat sebagai Bupati Pulisi Klaten, yang kemudian dipindah tugaskan istana menjadi Wakil Patih Pringgalaya di Surakarta. Tidak ditemukan sumber sejarah tentang akhir riwayat Kyai dan Nyai Melati. Silsilah Kyai dan Nyai Melati juga tidak diketahui. Bahkan penduduk Klaten tidak ada yang mengakui sebagai keturunan dua sosok penting ini.Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.

Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.

Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok. Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya.

Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom tahun 1950.

Hari jadi[sunting | sunting sumber]

Berdirinya Benteng atau loji Klaten di masa pemerintahan Sunan Paku Buwana IV mempunyai arti penting dalam sejarah Klaten. Pendirian benteng tersebut peletakan batu pertamanya dimulai pada hari sabtu Kliwon, 12 rabiulakir, Langkir, Alit 1731 atau sengkala RUPA MANTRI SWARANING JALAK atau dimaknai sebagai tanggal 28 Juli 1804. Sumber sejarah ini dapat ditemukan dalam Babad Bedhaning Ngayogyakarata dan Geger Sepehi. Catatan sejarah ini oleh pemerintah Kabupaten Klaten melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007 sebagai Hari Jadi Kabupaten Klaten yang diperingati setiap tahun.

Perubahan luas daerah[sunting | sunting sumber]

Luas daerah Kabupaten Klaten mengalami beberapa kali perubahan. Klaten pada mulanya adalah tanpa kecamatan Jatinom dan Polanharjo. Kedua kecamatan semula merupakan wilayah kabupaten Boyolali, dan baru digabungkan tanggal 11 Oktober 1895.

Kelurahan[sunting | sunting sumber]

Rumah orang Belanda di Klaten (tahun 1904)

Semenjak terbentuknya onderdistrik, daerah onderdistrik terdiri dari beberapa dukuh. Sebagian dukuh-dukuh itu merupakan daerah kekuasaan seorang Demang. Gaji seorang Demang berupa tanah pituas.

Luas tanah pituas antara Demang yang satu dan yang lainnya berbeda-beda, sesuai dengan besar kecilnya jasa yang diberikan kepada Kasunanan. Penerima terkecil dinamakan Bekel, kemudian Demang, Ronggo, dan terbesar disebut Ngabei.

Pada tahun 1914 dibentuk kelurahan, yang merupakan penggabungan dari beberapa dukuh. Tanah pituas yang semula untuk gaji Bekel, Demang, Ronggo, dan Ngabei, diberikan pada kelurahan sebagai milik desa yang kemudian menjadi lungguh pamong desa. Struktur organisasi Kelurahan terdiri dari Lurah, Kamituwa, Carik, Kebayan, Modin, dan Ulu-ulu.

Tahun 1957 dilakukan pemblengketan atau penggabungan beberapa kelurahan, atas ketentuan kasunanan bahwa setiap Kelurahan paling sedikit harus berpenduduk 1300 orang. Peristiwa itu dikenal sebagai masa kompleks.

Sebelumnya, di Klaten telah dilakukan penggabungan karena alasan lain. Masa kompleks di Klaten telah terjadi sejak tahun 1917. di beberapa onderdistrik, penggabungan Kelurahan dilakukan karena beberapa Kelurahan tidak mempunyai tanah untuk kas desa maupun untuk lungguh pada pegawainya. [5]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Stasiun kereta api Klaten (tahun 1903-1910)

Berikut beberapa pariwisata yang terdapat di Kabupaten Klaten

Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

  • Rowo Jombor
  • Deles
  • wisata air cokro
  • wisata air janti
  • Menara Air Klaten
  • Wisata Air Ponggok
  • Wisata Air Water Gong Polanharjo
  • Kolam Renang Pluneng, Kebonarum
  • Umbul Gedaren, Jatinom
  • Umbul Jolotundo, Jatinom
  • Umbul Manten

Wisata sejarah[sunting | sunting sumber]

Di Jatinom, upacara tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu diadakan setiap bulan Sapar. Di Palar, Trucuk, Klaten bersemayam pujangga dari Kraton Solo bernama Ronggo Warsito. Keindahan alam dapat dinikmati di daerah Deles, sebuah tempat sejuk di lereng Gunung Merapi. Rowo Jombor tempat favorit untuk melihat waduk. Terdapat juga Museum Gula, di Gondang Winangun yang terletak sepanjang jalan Klaten - Yogyakarta.

Di Kecamatan Tulung sebelah timur terdapat serangkaian tempat bermunculannya mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun, dan dijadikan objek wisata. Wisata yang bisa dinikmati di sana adalah wisata memancing dan pemandian air segar. Banyak tempat pemandian yang bisa dikunjungi baik yang berbayar maupun tidak berbayar, seperti Umbul Nilo (gratis), Umbul Penganten (gratis), Umbul Ponggok (berbayar), Umbul Cokro (berbayar) dan umbul lainnya. Namun kalau untuk wisata memancing semua harus berbayar karena dikelola oleh usaha warga. Letak pemancingan yang terkenal adalah di desa Janti. Sambil memancing pengunjung dapat juga menikmati masakan ikan nila, lele, atau mas goreng berbumbu sambel khas dengan harga sangat terjangkau. Tiap hari libur perkampungan ini sering mengalami kemacetan karena membludaknya pengunjung dari kota Solo, Semarang dan Yogya.

Di Kecamatan Bayat, Klaten, tepatnya di kelurahan Paseban, Bayat, Klaten terdapat Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang memiliki desain arsitektur gerbang gapura Majapahit. Sunan Tembayat ini dahulu dikenal sebelum menjadi Sunan, dia adalah Bupati Semarang yang kemudian berkelana dalam hal keagamaan. Makam ini menjadi salah satu tempat wisata ziarah Para Wali. Pengunjung dapat memarkir kendaraan di areal parkir serta halaman Kelurahan yang cukup luas. Setelah mendaki sekitar 250 anak tangga, akan ditemui pelataran dan Masjid. Pemandangan dari pelataran akan tampak sangat indah di pagi hari.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Produk Klaten yang berpotensi, yaitu:

  • Sentra Industri Konveksi - Wedi
  • Karung Goni - Delanggu
  • Gerabah - Krakitan, Bayat
  • Lurik - Desa Mlese, Ds Tlingsing, Cawas
  • Kerajinan Wayang - Omah Wayang Klaten (danguran Klaten Selatan)
  • Payung Kertas - Juwiring

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Stasiun[sunting | sunting sumber]

  1. Stasiun Klaten
  2. Stasiun Delanggu
  3. Stasiun Prambanan
  4. Stasiun Ceper
  5. Stasiun Srowot

Terminal[sunting | sunting sumber]

  1. Terminal Bus Buntalan Klaten
  2. Terminal Bus Delanggu Klaten
  3. Terminal Bus Penggung Klaten
  4. Terminal Bus Cawas Klaten
  5. Terminal Bus Teloyo Klaten
  6. Terminal Bus Tulung Klaten
  7. Terminal Bus Bendogantungan Klaten

Kuliner khas Klaten[sunting | sunting sumber]

  • Ayam Bakar Khas Klaten
  • Ayam Panggang Khas Klaten
  • Kepelan asli Pedan (Cemilan)
  • Sop Ayam Pecok asli Klaten
  • Nasi Tumpang Lethok
  • Soto Bebek dan Bebek Bacem
  • Swike Kodok
  • Bakmi Miroso
  • Angkringan/HIK
  • Keripik Cakar, Belut, dan Paru (Cemilan)

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Rumah Sakit[sunting | sunting sumber]

Daftar Rumah Sakit di Klaten

Puskesmas[sunting | sunting sumber]

Daftar Puskesmas di Klaten

Puskesmas Alamat Jenis (Tipe)
Puskesmas Prambanan Jl. Raya Jogja-Solo KM 19 Kemudo, Prambanan, Klaten Perawatan
Puskesmas Kebondalem Lor Jl. Prambanan No. 45 , Kec. Prambanan. Non Perawatan
Puskesmas Gantiwarno Jabung km 1, Kec. Gantiwarno Perawatan
Puskesmas Wedi Kebonduren, Gadungan, Wedi Non Perawatan
Puskesmas Bayat Jl. Raya Bayat-Cawas, Beluk, Beluk Perawatan
Puskesmas Cawas I Jalan Tembus Barepan, Barepan, Cawas Perawatan
Puskesmas Cawas II Jl. Raya Cawas - Karangdowo Km.4 Japanan Cawas Non Perawatan
Puskesmas Trucuk I Jl. Kradenan, Trucuk Perawatan
Puskesmas Trucuk II Jl.Wanglu, Telukan, Wanglu Non Perawatan
Puskesmas Kalikotes Tambaksari, Gemblegan, Kalikotes Non Perawatan
Puskesmas Kebonarum Jl. Nila Pluneng Kebonarum Non Perawatan
Puskesmas Jogonalan I Jl. Klaten-Jogja Km 6,5 Perawatan
Puskesmas Jogonalan II Dompyongan, Jogonalan Non Perawatan
Puskesmas Manisrenggo Kranggan Kebonalas Manisrenggo Perawatan
Puskesmas Karangnongko Jl. Raya Karangnongko No.1 Non Perawatan
Puskesmas Ngawen Jl. Raya Klaten - Jatinom Km. 4 Ngawen Non Perawatan
Puskesmas Ceper Jl. Raya Besole Ceper Non Perawatan
Puskesmas Jambukulon Jl.Penggung - Jatinom No.2, Jambukulon, Ceper Non Perawatan
Puskesmas Pedan Jobodan, Tambakboyo, Pedan Perawatan
Puskesmas Karangdowo Sentono, Karangdowo Perawatan
Puskesmas Juwiring Jl. Tanjung-Juwiring, Tanjung, Juwiring Perawatan
Puskesmas Wonosari I Jl. Pakis-Daleman Km.3 Bentangan Wonosari Perawatan
Puskesmas Wonosari II Kingkang, Wonosari Non Perawatan
Puskesmas Delanggu Jl. Raya 181 Delanggu Perawatan
Puskesmas Polanharjo Jl. Karanglo Polanharjo Non Perawatan
Puskesmas Karanganom Jl. Penggung - Jatinom Km.4 Non Perawatan
Puskesmas Majegan Jln Raya Jatinom Boyolali Perawatan
Puskesmas Tulung Cokro Tulung Km 6 Non Perawatan
Puskesmas Jatinom Jl. Raya Jatinom Perawatan
Puskesmas Kayumas Ds Kayumas,Kec Jatinom Non Perawatan
Puskesmas Kemalang Jl.Deles,Keputran,Kemalang Perawatan
Puskesmas Klaten Selatan Danguran, Klaten Selatan Non Perawatan
Puskesmas Klaten Tengah Jl. Bali No. 6 Non Perawatan
Puskesmas Klaten Utara Jl. Perintis Kemerdekaan Non Perawatan
Data Puskesmas di Kabupaten Klaten
Sumber: Asgar.or.id [6]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan formal TK / RA SD / MI SMP / MTs SMA / MA SMK Perguruan Tinggi Lainnya
Negeri 1 720 81 19 12 1 0
Swasta 999 138 61 19 46 7 12
Total 1000 858 142 38 58 8 12
Data sekolah di Kabupaten Klaten
Sumber: Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) Wilayah Kabupaten Klaten 2016[7]

Nomor penting dan darurat Kabupaten Klaten[sunting | sunting sumber]

  • Pemda Klaten 321046
  • Pemadam Kebakaran 324113
  • SAR Klaten 324115
  • Stasiun Kereta Api Klaten 321130
  • RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro 326060
  • Rumah Sakit Islam 322790
  • PMI Klaten 321306
  • PLN Klaten 322029
  • Polres Klaten 321234
  • Satlantas 326055
  • Kantor Pariwisata Klaten 322405
  • Polsek Jatinom 337317
  • Polsek Ketandan 324987
  • Polsek Kebonarum 326810
  • Polsek Wedi 327237
  • Polsek Jogonalan 321411
  • Polsek Prambanan (0274) 496905
  • Polsek Karanganom 337107
  • Polsek Polanharjo 553030
  • Polsek Wonosari 3120601
  • Polsek Delanggu 551110
  • Polsek Juwiring 552772
  • Polsek Ceper 554582
  • Polsek Pedan 897311
  • Polsek Karangdowo (0271) 7083600
  • Polsek Cawas 898100
  • Polsek Bayat 310125
  • Polsek Jogonalan 321411

Kode Area[sunting | sunting sumber]

Secara resmi Daerah Kabupaten Klaten mempunyai satu kode area , yaitu 0272. Namun dalam perkembangan selanjutnya banyak daerah di Klaten yang dipengaruhi kode area lain seperti Kabupaten Boyolali (0276), Kota Surakarta (0271), dan Kota Yogyakarta (0274). Kejadian seperti ini biasa terjadi di daerah Klaten perbatasan, seperti di Prambanan dan Wonosari.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

DPRD Kabupaten Klaten 2014-2019[sunting | sunting sumber]

DPRD Klaten
2014-2019
Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 17
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 8
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 5
Lambang PKS PKS 5
Lambang PAN PAN 5
Lambang PKB PKB 3
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 2
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 2
Lambang PPP PPP 2
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 1
Total 50
Sumber: Situs web Pemkab Klaten[8]

Seperti dalam UU No. 10 Tahun 2008 Pasal 26 ayat 2g disebutkan bahwa kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) jiwa memperoleh alokasi 50 (lima puluh) kursi, sehingga kabupaten Klaten yang berpenduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) jiwa mempunyai 50 wakil yang duduk di DPRD Kabupaten. Sedangkan untuk penentuan jumlah pimpinan dan pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD menggunakan UU No. 27 Tahun 2009 Pasal 354 Ayat 1a: 1 (satu) orang ketua dan 3 (tiga) orang wakil ketua untuk DPRD kabupaten/kota yang beranggotakan 45 (empat puluh lima) sampai dengan 50 (lima puluh) orang; dan ayat 2 Pimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD kabupaten/kota. Oleh sebab itu, di Kabupaten Klaten Partai PDI.P berhak mendapat kursi Ketua DPRD karena memperoleh kursi terbanyak, dan untuk tiga partai dibawah PDI.P yang memperoleh kursi terbanyak yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, dan Partai PKS berhak mendapat kursi Wakil Ketua DPRD. Menurut SK Gubernur Jawa Tengah No. 170/86/2014 berikut nama- nama pimpinan DPRD Klaten yang mengangkat sumpah pada 18 Agustus 2014 :

  • Ketua DPRD Klaten : Agus Riyanto, S.H. (081229793320 / (0272) 321560)
  • Wakil Ketua DPRD 1 : Yoga Hardaya, S.H.,M.H. (08156716575 / 0272 321610)
  • Wakil Ketua DPRD 2 : H. Hariyanto, S.Pd. (08121539555 / 0272 555571)
  • Wakil Ketua DPRD 3 : H. Sudibyo, S.E. (Gumulan RT01/01, Klaten Tengah)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "DAU 2016" (PDF). 2016. Diakses tanggal 2016-10-25. 
  2. ^ a b c d Luas Wilayah, Desa / Kalurahan, Pedukuhan, Blok Sensus Menurut Kecamatan Di Kabupaten Klaten Tahun 2014
  3. ^ "Jumlah Penduduk Kabupaten Klaten Tahun 2009-2014". BPS Klaten. Diakses tanggal 2016-10-25. 
  4. ^ "Geografis dan Letak Geografi". BPS Klaten. Diakses tanggal 22 November 2016. 
  5. ^ Selintas Hasil Pembangunan Kabupaten Klaten, h. 11-15
  6. ^ Data Puskesmas di Wilayah Kabupaten Klaten
  7. ^ Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) Wilayah Kabupaten Klaten
  8. ^ Pemkab Klaten

Pranala luar[sunting | sunting sumber]