Romawi Kuno

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bangsa Romawi)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Romawi Kuno
Roma
753 SM–476 M


Senātus Populus que Rōmānus

Wilayah peradaban bangsa Romawi:
Ibu kota Roma, dan beberapa kota lain menjelang keruntuhannya, teristimewa Konstantinopel dan Ravenna.
Bahasa Latin
Bentuk pemerintahan Kerajaan (753–509 SM)
Republik (509–27 SM)
Kekaisaran (27 SM–476 M)
Era sejarah Sejarah kuno
 -  Berdirinya Roma 753 SM
 -  Penggulingan Tarquinus Si Tinggi Hati 509 SM
 -  Octavianus dipermaklumkan menjadi Augustus 27 SM
 -  Runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat 476 M
Warning: Value not specified for "continent"
Romawi Kuno
Roman SPQR banner.svg

Artikel ini adalah bagian dari seri:
Politik dan pemerintahan
Romawi Kuno


Periode

Kerajaan Romawi
753 SM509 SM
Republik Romawi
508 SM27 SM
Kekaisaran Romawi
27 SM seterusnya
Principatus
Dominatus
Tetrarki

Konstitusi Romawi

Konstitusi Kerajaan Romawi
Konstitusi Republik Romawi
Konstitusi Kekaisaran Romawi
Konstitusi Kekaisaran Romawi terakhir
Sejarah konstitusi Romawi
Senat
Majelis legislatif
Hakim eksekutif

Hakim
Hakim luar biasa
Gelar dan Penghormatan
Kaisar
Hukum dan preseden

Negara lain · Atlas
 Portal politik

Dalam historiografi, Romawi Kuno adalah peradaban bangsa Romawi mulai dari berdirinya kota Roma di Italia pada abad ke-8 sebelum tarikh Masehi sampai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 tarikh Masehi, yakni kurun waktu yang mencakup zaman Kerajaan Romawi (753 – 509 SM), zaman Republik Romawi (509 – 27 SM), dan zaman Kekaisaran Romawi sampai dengan tumbangnya Romawi Barat (27 SM – 476 M).[1] Cikal bakal peradaban ini adalah sebuah permukiman suku bangsa Italik di Jazirah Italia, yang didirikan pada tahun 753 SM dan berkembang menjadi kota Roma, kota yang namanya menjadi cikal bakal dari nama kekaisaran yang menjadikannya ibu kota, sekaligus cikal bakal dari nama peradaban yang dikembangkan dan disebarluaskan oleh kekaisaran itu. Kekaisaran Romawi tumbuh menjadi salah satu kekaisaran terbesar di Dunia Kuno, kendati pusat pemerintahannya tetap berkedudukan di kota Roma, dengan populasi seramai kira-kira 50 sampai 90 juta jiwa (sekitar 20% dari keseluruhan populasi dunia kala itu),[2] dan wilayah seluas 5 juta persegi pada tahun 117 M.[3]

Selama berabad-abad, negara yang didirikan bangsa Romawi bervolusi dari sebuah negara monarki elektif menjadi negara republik kuno yang demokratis, dan selanjutnya menjadi imperium kediktatoran militer semielektif yang kian lama kian autokratis. Melalui perang penaklukan serta asimilasi budaya dan bahasa, Kekaisaran Romawi pada masa jayanya menguasai kawasan pesisir utara Afrika, Mesir, kawasan selatan Eropa, sebagian besar kawasan barat Eropa, Jazirah Balkan, Jazirah Krimea, dan sebagian besar kawasan Timur Tengah, termasuk Syam serta sejumlah daerah di Mesopotamia dan Jazirah Arab. Romawi Kuno kerap disandingkan dengan Yunani Kuno dalam kelompok peradaban Abad Kuno. Budaya serta masyarakat kedua peradaban ini sangat mirip satu sama lain, dan dikenal dengan sebutan Dunia Yunani-Romawi.

Peradaban Romawi Kuno telah berkontribusi terhadap bahasa, agama, masyarakat, teknologi, hukum, politik, pemerintahan, peperangan, kesenian, kesusastraan, arsitektur, dan teknik Zaman Modern. Roma memprofesionalisasi serta mengembangkan kekuatan militernya, dan menciptakan sistem pemerintahan res publica, yang menginspirasi pembentukan negara-negara republik pada Zaman Modern[4][5][6] semisal Amerika Serikat dan Prancis. Peradaban Romawi Kuno sudah mampu melakukan rekayasa yang mengagumkan di bidang teknologi dan arsitektur, misalnya membangun jaringan akueduk dan jalan raya, serta membangun monumen-monumen, istana-istana, dan fasilitas-fasilitas umum berukuran raksasa.

Perang Punik melawan Kartago adalah serangkaian perang yang mengantar Roma menjadi salah satu kekuatan dunia. Dalam perang beruntun ini, Roma berhasil merebut pulau-pulau yang strategis, yakni Korsika, Sardinia, dan Sisilia, berhasil merebut Hispania (Spanyol dan Portugal sekarang ini), serta berhasil meluluhlantakkan kota Kartago pada tahun 146 SM. Segala keberhasilan ini menciptakan supremasi Roma di kawasan Laut Tengah. Pada penghujung zaman Republik (27 SM), Roma telah berhasil menundukkan negeri-negeri di sekeliling Laut Tengah bahkan lebih jauh lagi. Wilayah kekuasaannya membentang dari Samudra Atlantik sampai ke Jazirah Arab, dan dari muara Sungai Rhein sampai ke Afrika Utara. Kekaisaran Romawi bermula seiring tamatnya riwayat Republik dan berakhirnya masa kediktatoran militer Augustus Caesar. Perang 721 tahun antara Roma lawan Persia bermula pada tahun 92 SM dengan meletusnya Perang Roma-Partia, dan kelak menjadi konflik terlama sepanjang sejarah umat manusia, serta berdampak besar terhadap masa depan kedua belah pihak.

Pada masa pemerintahan Traianus, luas wilayah Kekaisaran Romawi mencapai puncaknya, membentang dari seantero kawasan Laut Tengah sampai ke pantai Laut Utara di sebelah utara, dan pantai Laut Tengah serta pantai Laut Kaspia di sebelah timur. Adab dan adat Republik mulai memudar pada zaman kekaisaran, manakala perang saudara menjadi peristiwa lumrah yang mengawali kemunculan kaisar baru.[7][8][9] Negara-negara pecahan Kekaisaran Romawi, semisal Kekaisaran Palmira, sempat menyekat wilayah kekaisaran selama masa krisis pada abad ke-3.

Akibat digerogoti kekacauan di dalam negeri dan serangan suku-suku bangsa asing yang hijrah ke wilayahnya, bagian barat Kekaisaran Romawi akhirnya terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan orang barbar yang merdeka pada abad ke-5. Peristiwa keterpecahan ini digunakan para sejarawan sebagai tonggak sejarah yang memisahkan kurun waktu Kuno dalam sejarah sejagat dari kurun waktu "Kegelapan" pra-Abad Pertengahan di Eropa. Bagian timur Kekaisaran Romawi bertahan menyintasi abad ke-5, dan tetap hadir sebagai salah satu kekuatan dunia sepanjang "Abad Kegelapan" dan Abad Pertengahan sampai akhirnya tumbang pada tahun 1453. Kendati warga negara Kekaisaran Romawi tidak membeda-bedakan bagian barat dari bagian timur, para sejarawan Zaman Modern lazimnya menggunakan istilah "Kekaisaran Romawi Timur" sebagai sebutan bagi Kekaisaran Romawi yang tersisa pada Abad Pertengahan, guna membedakannya dari Kekaisaran Romawi yang seutuhnya pada Abad Kuno.[10]

Mitos asal usul[sunting | sunting sumber]

Menurut mitos asal usul Roma, kota ini didirikan pada tanggal 21 April 753 SM, di tepi Sungai Tiber, kawasan tengah Jazirah Italia, oleh dua bersaudara kembar Romulus dan Remus, cucu-cucu Numitor, raja orang Latini Alba Longa, keturunan pahlawan besar Troya, Aeneas (bahasa Yunani: Αἰνείας, Aineías).[11] Rhea Silvia, anak perempuan Raja Numitor, adalah ibu kandung si kembar.[12][13] Konon Rhea Silvia berbadan dua setelah digagahi Mars, dewa perang bangsa Romawi, sehingga si kembar Romulus dan Remus pun dianggap sebagai manusia-manusia setengah dewa.

Menurut legenda, kota Roma didirikan pada tahun 753 SM oleh Romulus dan Remus, dua bersaudara kembar yang dibesarkan oleh seekor serigala betina

Raja Numitor dimakzulkan saudara kandungnya, Amulius. Karena khawatir suatu ketika nanti Romulus dan Remus akan merebut kembali singgasana, Amulius menyuruh orang menenggelamkan kedua bayi kembar itu.[13] Seekor serigala betina (atau seorang istri gembala menurut sejumlah riwayat lain) menyelamatkan dan membesarkan mereka. Sesudah beranjak dewasa, si kembar merebut dan menyerahkan kembali singgasana Alba Longa kepada Numitor.[14][13]

Si kembar selanjutnya mendirikan kota mereka sendiri. Malangnya Remus tewas dibunuh Romulus dalam pertengkaran mengenai letak kerajaan yang akan mereka dirikan. Menurut beberapa sumber, keduanya mempertengkarkan soal siapa yang akan menjadi raja, atau siapa yang namanya akan dijadikan nama kota.[15] Nama Romuluslah yang akhirnya menjadi nama kota binaan si kembar.[13] Guna menarik kaum pendatang, Roma menawarkan suaka bagi kaum papa, orang-orang buangan, dan orang-orang yang keberadaannya tidak diharapkan. Kebijakan ini menimbulkan masalah, karena jumlah warga laki-laki terus meningkat, sementara warga perempuan menjadi langka. Romulus melawat kota demi kota dan suku demi suku di sekitar kota Roma dalam rangka mencarikan istri bagi warganya, tetapi Roma sudah telanjur disesaki orang-orang yang tidak disukai sehingga usaha Romulus menemui jalan buntu. Menurut legenda, orang Latini akhirnya mengundang orang Sabini menghadiri perayaan meriah yang mereka selenggarakan, lalu melarikan anak-anak gadis mereka, sehingga orang Latini dan orang Sabini akhirnya berbaur.[16]

Menurut legenda lain yang dicatat oleh sejarawan Yunani, Dionisios dari Halikarnasos, Aeneas memimpin serombongan pengungsi Troya berlayar mencari tempat untuk mendirikan kota Troya yang baru, setelah kota Troya diluluhlantakkan orang-orang Yunani dalam Perang Troya. Setelah mengarungi laut yang bergelora, mereka akhirnya mendarat di tepi Sungai Tiber. Tak seberapa lama menjejaki daratan, para penumpang lelaki sudah ingin kembali berlayar, bertolak belakang dengan keinginan para penumpang perempuan. Roma, salah seorang penumpang perempuan, mengajak perempuan-perempuan lain bersama-sama membakar kapal guna membatalkan pelayaran. Para penumpang lelaki mula-mula memarahi Roma, tetapi akhirnya sadar bahwa tempat persinggahan mereka sesungguhnya layak dijadikan tempat bermukim yang baru. Permukiman yang mereka dirikan di tepi Sungai Tiber diberi nama Roma, sama seperti nama perempuan yang telah membakar kapal mereka.[17]

Pujangga Romawi, Vergilius, meriwayatkan kembali legenda ini dalam syair wiracarita gubahannya, Aeneis. Dikisahkan bahwa Aeneas, si pangeran Troya, telah ditakdirkan dewata menjadi pendiri Troya baru. Para penumpang perempuan juga dikisahkan menolak untuk kembali berlayar, tetapi tidak berlanjut dengan pembangunan permukiman di tepi Sungai Tiber. Sesudah berlabuh di Italia, Aeneas, yang hendak memperistri Lavinia, harus berperang melawan Turnus, yang sudah lebih dahulu mengincar Lavinia. Menurut syair wiracarita ini, raja-raja Alba Longa termasuk nasab Aeneas, dengan demikian Romulus, pendiri kota Roma, adalah salah seorang keturunannya.

Kekaisaran Romawi TimurKekaisaran Romawi BaratKekaisaran RomawiRepublik RomawiKerajaan Romawi

Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Penari dan musisi, lukisan Etruski pada dinding Makam Macan Tutul di Tarquinia, Italia

Kota Roma tumbuh dari permukiman-permukiman di sekitar dangkalan Sungai Tiber, salah satu titik persimpangan lalu lintas dan perniagaan.[14] Berdasarkan bukti-bukti arkeologi, desa Roma mungkin didirikan pada abad ke-8 SM, kendati mungkin pula sudah didirikan seawal-awalnya pada abad ke-10 SM, oleh para warga suku Latini di Italia, di puncak Bukit Palatinus.[18][19]

Bangsa Etruski, yang sudah lebih dahulu mendiami daerah Etruria di sebelah utara, agaknya telah menancapkan kekuasaan politik di kawasan itu pada penghujung abad ke-7 SM, dan menjadi semacam golongan elit kaum ningrat serta penguasa monarki. Kekuasaan bangsa Etruski agaknya pudar pada penghujung abad ke-6 SM, dan pada waktu inilah suku-suku Latini dan Sabini terdahulu menghidupkan kembali pemerintahan mereka dengan menciptakan sebuah republik dengan lebih banyak batasan bagi pemimpin dalam menjalankan kekuasaan.[20]

Tradisi bangsa Romawi dan bukti arkeologi mengarah pada sebuah lingkungan di Forum Romanum sebagai tempat raja memerintah sekaligus sebagai pusat keagamaan yang mula-mula. Numa Pompilius, Raja Roma yang kedua, pengganti Romulus, mengawali kegiatan pembangunan kota Roma dengan mendirikan istananya, Regia, dan lingkungan para perawan Vesta.

Republik[sunting | sunting sumber]

Patung dada Lucius Iunius Brutus di Museum Capitolini, patung perunggu Romawi, abad ke-4 sampai penghujung abad ke-3 SM

Menurut tradisi dan pujangga-pujangga terkemudian semisal Livius, Republik Romawi bermula sekitar tahun 509 SM,[21] manakala Raja Roma ke-7, Tarquinus Si Tinggi Hati, digulingkan oleh Lucius Iunius Brutus, dan suatu sistem pemerintahan baru dibentuk sebagai pengganti sistem monarki, dengan majelis magistratus (pejabat eksekutif sekaligus yudikatif) sebagai para penyelenggara pemerintahan, yang dipilih tiap-tiap tahun untuk mengepalai berbagai bidang urusan ketatanegaraan.[22] Undang-undang dasar negara Republik Romawi mengatur pemisahan dan perimbangan kewenangan. Para magistratus terpenting adalah dua orang consul, yang bersama-sama menjalankan kewenangan eksekutif semisal imperium, yakni kewenangan memerintah bala tentara.[23] Para consul harus bekerja sama dengan senatus. Mula-mula senatus adalah dewan penasihat yang beranggotakan orang-orang dari kalangan ningrat, yakni kaum patricius, tetapi kewenangan maupun jumlah anggotanya lama-kelamaan semakin besar.[24]

Para magistratus lain adalah tribunus, quaestor, aedilis, praetor, dan censor.[25] Keanggotaan majelis magistratus mula-mula hanya terbuka bagi kaum patricius, tetapi di kemudian hari terbuka pula bagi kaum plebs, yakni kalangan rakyat jelata.[26] Sidang-sidang pemungutan suara di negara Republik Romawi adalah comitia centuriata (sidang seratus warga), yang melakukan pemungutan suara untuk mengambil keputusan terkait pemakluman perang, kesepakatan damai, dan pemilihan orang-orang yang akan menduduki jabatan-jabatan terpenting, serta comitia tributa (sidang warga suku), yang melakukan pemungutan suara untuk memilih orang-orang yang akan menduduki jabatan-jabatan yang tidak begitu penting.[27]

Italia (menurut tapal batas saat ini) pada tahun 400 SM

Pada abad ke-4 SM, Roma diserang orang Galia, yang kala itu telah memperluas wilayah kekuasaannya ke Jazirah Italia melintasi Lembah Po dan menerobos masuk ke Etruria. Pada tanggal 16 Juli 390 SM, bala tentara Galia di bawah pimpinan seorang kepala suku bernama Brennus menggempur orang Romawi di tepi Sungai Allia, hanya sepuluh mil ke utara dari kota Roma. Brennus berhasil mengalahkan orang Romawi, dan orang Galia pun langsung bergerak menuju Roma. Sebagian besar warga Roma telah mengungsi, tetapi sejumlah warga berkubu di Bukit Capitolinus, dan bertekad melawan musuh sampai titik darah yang penghabisan. Orang Galia menjarah dan membumihanguskan kota Roma, lalu mengepung Bukit Capitolinus. Aksi pengepungan berlangsung selama tujuh bulan sampai orang Galia bersedia berdamai dengan orang Romawi dengan imbalan 1000 pon (450 kg) emas.[28] Menurut legenda terkemudian, petugas Romawi yang mengawasi kegiatan penimbangan emas mendapati orang Galia menggunakan dacin yang sudah diakali. Orang Romawi pun segera menghunus senjata dan mengalahkan orang Galia. Panglima mereka, Marcus Furius Camillus, memuji kegigihan orang Romawi dengan kalimat "Roma membeli kemerdekaannya dengan besi, bukan dengan emas."[29]

Bangsa-bangsa lain di Jazirah Italia, termasuk orang Etruski, satu demi satu ditundukkan oleh orang Romawi.[30] Ancaman terakhir terhadap hegemoni Romawi di Jazirah Italia muncul tatkala Tarentum, salah satu koloni orang Yunani yang cukup besar, mendatangkan Piros dari Epiros (bahasa Latin: Pyrrhus Epirotes; bahasa Yunani: Πύρρος της Ηπείρου, Piros tis Ipeirou) pada tahun 281 SM untuk melawan orang Romawi, tetapi berakhir dengan kegagalan.[31][30] Orang Romawi memantapkan keberhasilan aksi-aksi penaklukan mereka dengan mendirikan koloni-koloni Romawi di tempat-tempat strategis, sehingga menciptakan rentang kendali yang kukuh mencengkeram daerah-daerah taklukan mereka di Jazirah Italia.[30]

Perang Punik[sunting | sunting sumber]

Pergeseran wilayah kekuasaan Romawi dan Kartago selama Perang Punik
  Wilayah Kartago
  Wilayah Romawi
Salah satu aksi pengepungan bangsa Romawi yang paling masyhur adalah aksi pengepungan Numantia, kubu pertahanan orang Keltiberia di tengah kawasan utara wilayah Spanyol sekarang ini, oleh Scipio Aemilianus pada tahun 133 SM[32]
Patung dada Scipio Africanus Tua di Museum Arkeologi Nasional Napoli (Nomor Inventaris 5634),
diperkirakan berasal dari pertengahan abad pertama SM[33]
Ditemukan dalam penggalian di Vila Papirus, situs arkeologi Herculaneum, oleh Karl Jakob Weber, 1750–65[34]

Pada abad ke-3 SM, Roma mendapat lawan baru yang tangguh, yakni Kartago, negara kota bangsa Fenisia yang kaya lagi makmur dan berhasrat menguasai seluruh kawasan sekitar Laut Tengah. Roma dan Kartago pernah bersekutu pada zaman Piros dari Epiros, musuh bersama mereka, tetapi hegemoni Roma di daratan Italia dan kejayaan bahari Kartago melambungkan masing-masing kota menjadi dua kekuatan utama di sebelah barat kawasan Laut Tengah, dan benturan kepentingan kedua kota atas kawasan Laut Tengah tak ayal berujung sengketa.

Perang Punik I meletus pada tahun 264 SM, manakala kota Messana meminta bantuan Kartago untuk menuntaskan pertikaian dengan Hieron II dari Sirakusa (bahasa Latin: Hiero Syracusanus; bahasa Yunani: Ἱέρων των Συρακουσών, Hieron ton Sirakouson). Setelah orang Kartago turun tangan, Messana meminta Roma mengusir mereka. Roma melibatkan diri dalam perang ini karena Sirakusa dan Messana terlampau dekat dengan kota-kota Yunani di kawasan selatan Italia yang baru saja takluk, dan Kartago kini mampu menyerang masuk ke dalam wilayah kekuaasaan Romawi. Selain itu, Roma juga juga berharap dapat memasukkan Sisilia ke dalam wilayah kekuasaannya.[35]

Sekalipun orang Romawi sudah piawai bertempur di daratan, perlu pertempuran laut untuk mengalahkan seteru barunya. Kartago adalah sebuah negara bahari, sementara negara Republik Romawi tidak memiliki cukup kapal maupun pengalaman tempur di laut, sehingga mustahil dapat memenangkan perang tanpa lebih dahulu bersusah payah dalam waktu yang lama. Kendati demikian, Roma berhasil mengalahkan dan memaksa Kartago untuk berdamai sesudah 20 tahun lebih saling memerangi. Salah satu penyebab meletusnya Perang Punik II[36] adalah syarat membayar ganti rugi perang yang terpaksa disetujui Kartago demi tercapainya kesepakatan damai seusai Perang Punik I.[37]

Perang Punik II termasyhur karena kehebatan panglima-panglima perangnya, yakni Hannibal Barca (bahasa Punik: 𐤇𐤍𐤁𐤏𐤋 𐤁𐤓𐤒, Hanibaʿal Baraq) dan Hasdrubal Barca (bahasa Punik: 𐤏𐤆𐤓‬‬𐤁‬𐤏𐤋 𐤁𐤓𐤒, ʿAzrubaʿal Baraq) di kubu Kartago, serta Marcus Claudius Marcellus, Quintus Fabius Maximus Verrucosus, dan Publius Cornelius Scipio di kubu Roma. Semasa berlangsungnya Perang Punik II, Roma juga terlibat dalam Perang Makedonia I. Perang Punik II bermula dengan invasi nekat atas Hispania oleh Hannibal Barca, Senapati Kartago yang pernah memimpin aksi-aksi militer Kartago di Sisilia pada Perang Punik I. Hannibal, putra Hamilcar Barca (bahasa Punik: 𐤇𐤌𐤋𐤒𐤓𐤕 𐤁𐤓𐤒, Hamilqart Baraq), bergerak cepat melintasi Hispania menuju Pegunungan Alpen Italia, sehingga menggentarkan sekutu-sekutu Roma di Italia. Cara terbaik menggagalkan usaha Hannibal untuk membuat orang-orang Italia mengkhianati Roma adalah memperlambat laju pergerakan bala tentara Kartago dengan serangan-serangan gerilya guna memangkas kekuatan tempur mereka sedikit demi sedikit. Muslihat ini diusulkan oleh Quintus Fabius Maximus sehingga akhirnya terkenal dengan sebutan Muslihat Fabius, dan Quintus Fabius Maximus sendiri kelak dijuluki Cunctator (Si Penghambat). Akibat muslihat ini, Hannibal tidak dapat menggerakkan cukup banyak kota di Italia untuk melawan Roma maupun untuk menambah kekuatan tempurnya yang sudah menyusut akibat aksi-aksi gerilya Romawi, sehingga jumlah prajurit dan alat tempurnya tidak cukup memadai untuk dikerahkan mengepung Roma.

Baca juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "ancient Rome | Facts, Maps, & History". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-05. 
  2. ^ Ada beragam perkiraan jumlah populasi Kekaisaran Romawi.
    • Scheidel (2006, hlm. 2) memperkirakan ada 60 juta jiwa.
    • Goldsmith (1984, hlm. 263) memperkirakan ada 55 juta jiwa.
    • Beloch (1886, hlm. 507) memperkirakan ada 54 juta jiwa.
    • Maddison (2006, hlmn. 51, 120) memperkirakan ada 48 juta jiwa.
    • Populasi Kekaisaran Romawi dalam situs web unrv.com memperkirakan ada 65 juta jiwa (memuat pula angka-angka perkiraan lain antara 55 dan 120 juta jiwa).
    • McLynn, Frank (2011). Marcus Aurelius: Warrior, Philosopher, Emperor (dalam bahasa Inggris). Random House. hlm. 3. ISBN 9781446449332. Angka perkiraan populasi Kekaisaran Romawi pada masa pemerintahan Marcus Aurelius yang agaknya paling mendekati kebenaran adalah antara tujuh puluh dan delapan puluh juta jiwa. 
    • McEvedy dan Jones (1978).
    • Angka-angka pukul rata dari beragam sumber yang terdaftar dalam Perkiraan Populasi Dunia Sepanjang Sejarah yang disusun oleh Biro Sensus Amerika SerikatArchived 13 October 2013 di Wayback Machine.
    • Kremer, Michael (1993). "Population Growth and Technological Change: One Million B.C. to 1990" dalam The Quarterly Journal of Economics 108(3): 681–716.
  3. ^ * Taagepera, Rein (1979). "Size and Duration of Empires: Growth-Decline Curves, 600 B.C. to 600 A.D.". Social Science History. 3 (3/4): 115–138. doi:10.2307/1170959. JSTOR 1170959. 
  4. ^ Furet, François; Ozouf, Mona, ed. (1989). A Critical Dictionary of the French Revolution. Harvard University Press. hlm. 793. ISBN 978-0674177284. 
  5. ^ Luckham, Robin; White, Gordon (1996). Democratization in the South: The Jagged Wave. Manchester University Press. hlm. 11. ISBN 978-0719049422. 
  6. ^ Sellers, Mortimer N. (1994). American Republicanism: Roman Ideology in the United States Constitution. NYU Press. hlm. 90. ISBN 978-0814780053. 
  7. ^ Ferrero, Guglielmo (1909). The Greatness and Decline of Rome, Jilid 2. Diterjemahkan oleh Zimmern, Sir Alfred Eckhard; Chaytor, Henry John. G.P. Putnam's Sons. hlm. 215. 
  8. ^ Hadfield, Andrew Hadfield (2005). Shakespeare and Republicanism. Cambridge University Press. hlm. 68. ISBN 978-0521816076. 
  9. ^ Gray, Christopher B (1999). The Philosophy of Law: An Encyclopedia, Jilid 1. Taylor & Francis. hlm. 741. ISBN 978-0815313441. 
  10. ^ "Byzantine Empire". Ancient History Encyclopedia. Diakses tanggal 2017-09-05. 
  11. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 3. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  12. ^ Cavazzi, F. "The Founding of Rome". Illustrated History of the Roman Empire. Diakses tanggal 8 Maret 2007. 
  13. ^ a b c d Livius, Titus (1998). The Rise of Rome, Buku 1–5. Diterjemahkan oleh Luce, T.J. Oxford: Oxford World's Classics. hlm. 8–11. ISBN 978-0-19-282296-3. 
  14. ^ a b Durant, Will; Durant, Ariel (1944). The Story of Civilization – Volume III: Caesar and Christ. Simon and Schuster, Inc. hlm. 12–14. ISBN 978-1567310238. 
  15. ^ Roggen, Hesse, Haastrup, Omnibus I, H. Aschehoug & Co 1996
  16. ^ Myths and Legends- Rome, the Wolf, and Mars. Diakses 8 Maret 2007.
  17. ^ Mellor, Ronald and McGee Marni, The Ancient Roman World hlm. 15 (Dikutip 15 Maret 2009)
  18. ^ Matyszak, Philip (2003). Chronicle of the Roman Republic. London: Thames & Hudson. hlm. 19. ISBN 978-0-500-05121-4. 
  19. ^ Duiker, William; Spielvogel, Jackson (2001). World History (edisi ke-3). Wadsworth. hlm. 129. ISBN 978-0-534-57168-9. 
  20. ^ Ancient Rome and the Roman Empire oleh Michael Kerrigan. Dorling Kindersley, London: 2001. ISBN 0-7894-8153-7. hlm. 12.
  21. ^ Langley, Andrew dan Souza, de Philip, "The Roman Times", Candle Wick Press, Massachusetts
  22. ^ Matyszak, Philip (2003). Chronicle of the Roman Republic. London: Thames & Hudson. hlm. 43–44. ISBN 978-0-500-05121-4. 
  23. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 41–42. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  24. ^ Hooker, Richard (6 Juni 1999). "Rome: The Roman Republic". Washington State University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 Mei 2011. Diakses tanggal 24 Maret 2007. 
  25. ^ Magistratus oleh George Long, M.A. pada hlmn. 723–724 A Dictionary of Greek and Roman Antiquities karya William Smith, D.C.L., LL.D. Diterbitkan oleh John Murray, London, 1875. Situs web, 8 Desember 2006. Diakses 24 Maret 2007.
  26. ^ Livius, Titus (1998). "Buku II". The Rise of Rome, Buku 1–5. Diterjemahkan oleh Luce, T.J. Oxford: Oxford World's Classics. ISBN 978-0-19-282296-3. 
  27. ^ Adkins, Lesley; Adkins, Roy (1998). Handbook to Life in Ancient Rome. Oxford: Oxford University Press. hlm. 39. ISBN 978-0-19-512332-6. 
  28. ^ secara harfiah, "libra" Romawi, cikal bakal dari satuan berat pon.
  29. ^ [1] Plutarch, Parallel Lives, Life of Camillus, XXIX, 2.
  30. ^ a b c Haywood, Richard (1971). The Ancient World. United States: David McKay Company, Inc. hlm. 350–358. 
  31. ^ Pyrrhus of Epirus (2) dan Pyrrhus of Epirus (3) oleh Jona Lendering. Livius.org. Diakses 21 Maret 2007.
  32. ^ Bennett, Matthew; Dawson, Doyne; Field, Ron; Hawthornwaite, Philip; Loades, Mike (2016). The History of Warfare: The Ultimate Visual Guide to the History of Warfare from the Ancient World to the American Civil War. hlm. 61. 
  33. ^ AncientRome.ru. "Basis data seni rupa Zaman Kuno." Diakses 25 Agustus 2016.
  34. ^ AncientRome.ru. "Publius Cornelius Scipio Africanus." Diakses 25 Agustus 2016.
  35. ^ [2] Cassius Dio, Roman History, XI, XLIII.
  36. ^ New historical atlas and general history By Robert Henlopen Labberton. hlm. 35.
  37. ^ Hugh Chisholm (1911). The Encyclopædia Britannica: A Dictionary of Arts, Sciences, Literature and General Information. Encyclopædia Britannica Company. hlm. 652–. Diakses tanggal 31 May 2012. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]