Muawiyah bin Abu Sufyan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Muawiyah I)
Lompat ke: navigasi, cari
Muawiyah I
Masa kekuasaan 661680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah dan juru tulis Nabi Muhammad.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Muawiyah masuk Islam pada 7 H. Kalangan Syi'ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, berbai'at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkukuh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy'ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan ulung. Muawiyah adalah sahabat yang kontroversial dan tindakannya sering disalahartikan.

Asal-Usul Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Nama Lengkap[sunting | sunting sumber]

Nama lengkap Muawiyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab[1] Ia berasal dari bani (klan) Umawiyah.

Kunyah[sunting | sunting sumber]

Muawiyah memiliki kunyah (nama panggilan atau julukan). Kunyah nya adalah Abu Abdurrahman dan Al-Quraisyi al-Umawi Al-Makki.[1]

Ciri Fisik Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Muawiyah adalah laki-laki yang berperawakan tinggi, berkulit putih, tampan, dan penuh wibawa[1].

Umar bin Khattab juga berkata bahwa Muawiyah suka makan makanan yang lezat[2] dan bergaya seperti raja[3]. Umar berkata begitu bukan bermaksud menjelekkan Muawiyah tapi hanya menginformasikan ciri khas Muawiyah. Bisa dimengerti mengapa Muawiyah melakukan hal itu karena ia memang berasal dari kabilah terpandang di masyarakat.

Sifat Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Muawiyah adalah orang yang menyukai kebersihan[4]

Keluarga Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Orangtua Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Ayahnya Muawiyah adalah Abu Sufyan bin Harb, seorang pembenci Nabi Muhammad saw dan akhirnya masuk islam dengan terpaksa di ikuti juga dengan istri nya Hindun binti Utbah .Sedangkan ibunya adalah Hindun binti Utbah, seorang pemakan jantung Paman nabi Muhammad karena saking benci nya dengan islam dan Nabi Muhammad saw.

Harapan Orangtuanya[sunting | sunting sumber]

Saat kecil, Abu Sufyan pernah melihat Muawiyah yang sedang merangkak, lalu berkata, "anakku ini berkepala besar, dia pantas memimpin kaumnya". Hindun menjawab, "hanya memimpin kaumnya saja? Seharusnya ia memimpin bangsa Arab seluruhnya"[5]

Saudara-Saudara Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Muawiyah memiliki beberapa saudara. Mereka adalah sebagai berikut:

  1. Yazid bin Abu Sufyan
  2. Utbah bin Abu Sufyan
  3. Anbasah bin Abu Sufyan
  4. Ummu Habibah binti Abu Sufyan
  5. Ummul Hakam binti Abu Sufyan
  6. Azzah binti Abu Sufyan
  7. Umaimah binti Abu Sufyan[6]

Istri-Istri Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Muawiyah memiliki beberapa orang istri. Ada yang diceraikannya dan ada pula yang meninggal[7]. Berikut adalah nama-nama mereka:

  1. Maisun binti Bahdal al-Kalbiyah. Muawiyah menceraikannya karena Maisun tidak betah tinggal di istana Muawiyah yang besar dan lebih mencintai desanya.
  2. Fakhitah binti Qarazhah bin Abd Amr bin Naufal bin Abdi Manaf.
  3. Kanud binti Qarazhah. Kanud adalah saudara Fakhitah. Muawiyah menikahinya setelah Fakhitah wafat. Dia lah yang bersama Muawiyah saat pembebasan Cyprus.
  4. Na'ilah binti Imarah al-Kalbiyah. Muawiyah mentalaknya karena sebuah persoalan.

Anak-anak Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Muawiyah juga memiliki beberapa anak[7]. Ini adalah nama-namanya yang tercatat:

  1. Yazid bin Muawiyah. Ia lahir dari Maisun binti Bahdal. Saat Muawiyah menceraikan Maisun dan kembali ke desanya, Yazid mengikuti ibunya. Jadi, masa kecilnya dihabiskan di desa ibunya, menghirup udara segar dan bahasa Arab fasih.
  2. Abdurrahman bin Muawiyah. Ibunya adalah Fakhitah. Abdurrahman meninggal sewaktu masih kecil.
  3. Abdullah bin Muawiyah. Abdullah adalah anak dari Fakhitah. Ia anak yang terbelakang mental dan sangat lemah.
  4. Ramlah binti Muawiyah. Setelah dewasa, Ramlah dinikahi oleh Amr bin Utsman bin Affan
  5. Hindun binti Muawiyah. Hindun ini kemudian dinikahi oleh Abdullah bin Amir
  6. Aisyah binti Muawiyah
  7. Atikah binti Muawiyah
  8. Shafiyyah binti Muawiyah

Masuk Islamnya Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Pendapat yang terkenal mengatakan bahwa Muawiyah masuk Islam pada masa Penaklukkan Makkah. Namun, Muawiyah sendiri mengatakan bahwa, "aku masuk Islam dalam peristiwa Umrah Qadha tahun 7 H, tetapi aku menyembunyikannya dari bapakku". Hal itu dapat dimengerti karena situasi saat itu masih mencekam. Selain itu posisi Muawiyah cukup sulit, mengingat Abu Sufyan pada waktu itu masih kafir, bahkan Abu Sufyan adalah pemimpin Quraisy dalam melawan Nabi Muhammad. Muawiyah juga ikut perang Hunain dan Nabi Muhammad memberinya seratus unta dan 40 uqiyah emas dari harta rampasan perang Hunain.[8]

Hadist Nabi tentang Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Baca juga: Hadist palsu tentang Muawiyah

"Ya Allah jadikanlah dia sebagai  orang yang bisa memberikan petunjuk dan seorang yang diberi petunjuk (Mahdi) dan berikanlah hidayah (kepada manusia) melaluinya.” [9]

Hadist di atas adalah hadist shahih yang diriwayatkan oleh banyak ahli hadist dan membicarakan tentang kebaikan Muawiyah[10]

Muawiyah di Zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq[sunting | sunting sumber]

Zaman Abu Bakar adalah zaman kritis di mana benih kemurtadan mulai merebak. Abu Bakar bertindak tegas dengan memerangi mereka. Muawiyah ikut salah satu pertempuran itu, yakni Perang Yamamah, perang melawan Musailamah si nabi palsu[11]. Setelah pemberontakan internal selesai, kaum Muslimin mengalihkan pandangan mereka ke luar, yakni pembebasan negeri di sekitar mereka dari pemimpin zalim. Abu Bakar mengirim pasukan ke banyak tempat, salah satunya adalah Syam. Dalam kontingen pasukan Syam, ada salah satu pasukan yang dikomandani oleh Muawiyah.[12]

Muawiyah di Zaman Umar bin Khattab[sunting | sunting sumber]

Membuka Qaisariyah (Caesarea)[sunting | sunting sumber]

Qaisariyah (sekarang קֵיסָרְיָה Caesarea, Israel) adalah kota dekat Tel Aviv. Pada zaman Umar, Muawiyah ditugaskan untuk membebaskan kota ini. Namun, ternyata Qaisariyah memilliki benteng pertahanan dan pasukan yang sangat kuat. Setelah Qaisariyah dikepung dalam waktu cukup lama, Muawiyah pun berhasil menerobos kota tersebut. Dikatakan prajurit Qaisariyah yang tewas mencapai 100.000 orang[13]

Membuka Pesisir Syam[sunting | sunting sumber]

Mendengar keberhasilan saudaranya, Yazid bin Abu Sufyan yang juga seorang Gubernur Damaskus, meminta Muawiyah untuk ikut membebaskan pesisir Syam. Setelah bertarung melawan orang-orang Romawi, Muawiyah dan prajuritnya berhasil menang.[14]

Menjadi Gubernur Yordania[sunting | sunting sumber]

Setelah Muawiyah membuktikan kekuatannya atas dua peristiwa sebelumnya, Umar mengangkatnya sebagai Gubernur Yordania pada 17 H.[15]

Menjadi Penguasa Damaskus, Ba'labak, dan Balqa[sunting | sunting sumber]

Saudara Muawiyah, Yazid bin Abu Sufyan, meninggal karena wabah Tha'un pada 18 H. Sebagian ulama berpendapat Tha'un adalah wabah pes[16], tetapi ada pula yang berpendapat Tha'un masih belum jelas termasuk kategori penyakit apa[17]. Untuk mengisi kekosongan, Umar bin Khattab menugaskan Muawiyah untuk menggantikan posisi saudaranya memimpin Damaskus, Ba'labak (Ballbek, Yordania), dan Balqa (Yordania).[18]

Membagi Pasukan Islam[sunting | sunting sumber]

Byzantium dan Persia terus menyerang daerah perbatasan kekhalifahan. Untuk menahan hal itu, Muawiyah membagi pasukan menjadi dua, yakni pasukan musim panas dan pasukan musim dingin. Selain itu, Muawiyah menutup celah-celah di kota-kota perbatasan agar tak diserang. Muawiyah sempat memimpin penyerangan musim panas melawan Byzantium di 22 H.[19]

Membangun Angkatan Laut Islam[sunting | sunting sumber]

Mayoritas kaum Muslimin pada saat itu adalah orang Arab. Mereka adalah orang-orang yang tidak akrab dengan laut. Namun, Muawiyah menyadari pentingnya angkatan laut dan di zaman Umar ia mulai membangunnya. Sayangnya, Umar tidak mengizinkan Muawiyah memakai angkatan laut karena ia tidak mau kaum Muslimin habis ditelan laut (karena mereka tidak familiar dengan laut)[20]. Angkatan laut baru dipergunakan pada zaman Utsman bin Affan untuk membebaskan Cyprus.[21]

Muawiyah di Zaman Utsman bin Affan[sunting | sunting sumber]

Menjadi Gubernur Penuh Syam[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana Umar, Utsman bin Affan tidak memakzulkan Muawiyah. Bahkan, Utsman terus memberi Muawiyah kekuasaan sehingga Muawiyah menjadi Gubernur daerah mayoritas Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan telah menjadi gubernur Utsman yang paling berpengaruh. Di awal pemerintahan Utsman, di Syam ada beberapa gubernur, yakni Muawiyah bin Abu Sufyan, Umair bin Saad al-Anshari (Himsh), dan Alqamah bin Khalid bin Walid (Palestina). Namun, karena Umair sering sakit-sakitan, ia mengundurkan diri dari jabatannya. Utsman pun memberikan Himsh kepada Muawiyah. Setelah itu Alqamah wafat, Utsman pun memberikan Palestina kepada Muawiyah. Hal ini membuat Muawiyah menjadi gubernur Syam seluruhnya. Sampai akhir hayat Utsman, Muawiyah mengontrol daerah Syam. Pada zaman modern, Syam meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, dan Syria -bisa dibayangkan seluas apa daerah kekuasaan Muawiyah.[22].

Inspeksi Militer ke Perbatasan[sunting | sunting sumber]

Pada zaman Utsman, Muawiyah cukup banyak melakukan inspeksi militer ke daerah perbatasan daerah kekuasaannya di Syam. Misalnya, pada 25 H ia menuju Anthakiyah dan Tarsus, tahun 26 H ia kembali melakukannya. Tahun 31 H, Muawiyah berangkat ke Daruliyah. Perbatasan yang berbentuk kepulauan ia serahkan penjagaannya kepada Habib bin Maslamah. Muawiyah juga beberapa turun langsung memimpin pasukannya sampai merambah celah bukit di Konstantinopel[23].

Pembebasan Cyprus[sunting | sunting sumber]

Syarat dari Utsman[sunting | sunting sumber]

Setelah sebelumnya ditolak Umar, Muawiyah kali ini mencoba meyakinkan Utsman untuk memakai angkatan laut demi membebaskan Qubrush (Cyprus). Utsman mengizinkannya dengan memberi syarat:

  • Muawiyah harus membawa istrinya
  • Pasukan yang berangkat harus dengan kemauan sendiri. Jika ada yang tidak mau berangkat maka tidak apa-apa[24]

Pembebasan dimulai[sunting | sunting sumber]

Walaupun Muawiyah mempersilahkan masyarakat untuk memilih ikut ke Cyprus atau tidak, kekhalifahan berhasil mengumpulkan armada hingga 1.700 kapal. Mereka tertarik karena sebuah hadist dari Ummu Haram binti Milhan (istri sahabat Nabi Ubadah bin Shamit) yang menyebutkan bahwa akan ada sekelompok dari umatnya yang "mengarungi laut seperti raja-raja di singgasana"[25]. Pada 28 H (649 M) mereka pun berangkat. Di pelabuhan, Abdullah bin Qais al-Jasi, panglima angkatan laut bermusyawarah dengan Muawiyah dan sahabat Nabi yang lain. Pasukan segera mengepung ibukota Cyprus dan mengatakan mereka tidak datang untuk mengambil-alih Cyprus, akan tetapi meminta mereka bekerjasama dengan kekhalifahan. Sebab selama ini Cyprus menjadi daerah kekuasaan Byzantium sehingga menjadi duri dalam daging kekhalifahan.Tidak butuh waktu lama, Cyprus pun menyerah dan menyetujui syarat-syarat berikut:

  • Bila Cyprus menyerang kaum Muslimin, ia tidak akan dibela lagi
  • Cyprus harus mengabarkan gerak-gerik Byzantium
  • Cyprus harus membayar jizyah kepada kekhalifahan sebesar 7.200 dinar per tahun
  • Cprus tidak boleh mendukung Byzantium jika mereka menyerang kekhalifahan dan tidak membocorkan rahasia kekhalifahan[26]

Cyprus Mengingkari Perjanjian[sunting | sunting sumber]

Pada 32 H, Cyprus mengingkari perjanjian dengan kekhalifahan karena ditekan Byzantium. Kali ini Muawiyah datang kembali dan mengambil-alih Cyprus. Setelah menguasai Cyprus, Muawiyah menyadari bahwa ternyata Cyprus hanyalah pulau yang lemah. Tradisi militer mereka lemah sekali dan sering dijadikan boneka oleh Byzantium. Oleh karena itulah, Muawiyah menempatkan 12.000 pasukan di Cyprus, mendirikan kota-kota baru, membereskan administrasi, menggaji tentara, dan melindungi kekhalifahan dari serangan Byzantium.[27]

Muawiyah Membantu Utsman Menghadapi Badai Ujian[sunting | sunting sumber]

Baca juga: Tuduhan terhadap Utsman bin Affan

Di akhir pemerintahannya, Utsman menerima cobaan yang berat. Ia dituduh macam-macam oleh sebagian rakyatnya, mulai dari tuduhan menggelapkan harta, boros, mengangkat keluarganya sendiri untuk menduduki jabatan penting, dan sebagainya. Pada masa-masa ini, Muawiyah terus membantu Utsman.

Mendebat Perusuh[sunting | sunting sumber]

Pada suatu hari pada tahun 33 H, ada sekelompok orang yang mencari ribut di Kufah sampai hampir menyulut pertempuran. Utsman yang mendengar itu menyuruh Said bin Al-Ash, Gubernur Kufah, mengirim mereka ke Syam untuk bertemu Muawiyah. Utsman memerintahkan Muawiyah untuk "memperingati mereka dengan tegas, membuat nyali mereka ciut, menakut-nakuti mereka, dan mendidik mereka"[28] agar tidak membuat kerusuhan lagi. Muawiyah pun berkali-kali mendebat mereka dan berkali-kali pula menang. Di akhir debat mereka kalah dan marah, lalu merenggut jenggot Muawiyah[29]. Muawiyah pun mengancam mereka agar jangan macam-macam terhadap dirinya. Ancaman itu membuat mereka mundur.

Muawiyah mengirim surat kepada Utsman dan mengatakan bahwa mereka "berbicara dengan lidah setan". Utsman mengirim mereka ke Kufah kembali. Namun, karena mereka macam-macam kembali, Utsman kemudian mengirim mereka ke Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid, gubernur Himsh. Di sini mereka baru tidak berani macam-macam karena Abdurrahman adalah anak Khalid bin al-Walid dan dia adalah seorang laki-laki yang berkarakter sangat keras seperti ayahnya.[30]

Muawiyah Mengikuti Forum Antargubernur[sunting | sunting sumber]

Kerusuhan yang makin parah menyebabkan Utsman mengundang para gubernur dan sahabat Nabi untuk berunding tentang apa yang harus dilakukannya terhadap para pemberontak ini. Di forum ini, Muawiyah mengusulkan untuk segera mengirim pasukan ke mereka dan dia sendiri akan mengatasi pemberontakan di Syam. Namun, Utsman lebih tertarik dengan perdamaian dan tidak menerima usul Muawiyah.[31]

Sebelum pulang kembali ke Syam, Muawiyah memperingatkan Utsman bahwa ia kemungkinan akan segera dibunuh oleh pemberontak dan Muawiyah menawarkan pasukan Syam untuk melindungi Utsman. Utsman mengatakan ia sudah tahu hal itu, tetapi ia menolak perlindungan dari Muawiyah karena ia tidak mau merepotkan orang-orang Madinah atas kedatangan pasukan Syam.[32]

SIkap Muawiyah Atas Terbunuhnya Utsman[sunting | sunting sumber]

Para perusuh yang mencapai 500 orang sudah mencapai rumah Utsman. Para sahabat Nabi mengirimkan anak-anak mereka untuk melindungi Utsman tetapi mereka kalah jumlah. Utsman dibunuh dan para sahabat yang melindunginya terluka. Dan tidak ada satu orang sahabat Nabi Muhammad yang terlibat dan menyetujui pembunuhan itu. Ummu Habibah binti Abu Sufyan mengirimkan baju Utsman yang berlumuran darah ke tangan Muawiyah[33]. Saat mendengar berita pembunuhan itu, Muawiyah berpidato di depan penduduk Syam, bersumpah akan menuntut balas kematiannya.[34] Penduduk Syam sendiri bersumpah akan membantu Muawiyah dengan mengorbankan nyawa mereka.[35]

Muawiyah di Zaman Ali bin Abi Thalib[sunting | sunting sumber]

Inti Konflik Ali-Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Setelah Utsman terbunuh, para sahabat sepakat untuk menghukum qishash pelaku pembunuhan Utsman. Namun, mereka terbagi tiga kelompok tentang hal ini:

  • Pertama, mereka harus diqishash secepatnya sebelum baiat kepada Ali. Inilah pendapat Muawiyah dan pendukungnya. Muawiyah berpendapat jika qishash ditunda, pembunuhnya akan berbaur di kehidupan sehari-hari kaum Muslimin dan mereka akan sulit dilacak. Lagipula, Muawiyah adalah wali Utsman dan di antara saudara-saudara Utsman yang lain, Muawiyah lah yang kekuatannya paling besar.
  • Kedua, mereka harus diqishash tetapi setelah Ali bisa mengendalikan keadaan sehingga tenteram kembali. Jika qishash dilaksanakan sekarang juga, maka akan berakibat keadaan makin kacau. Para perusuh akan melipatgandakan tekanannya kepada kekhalifahan. Ini adalah pendapat Ali dan pendukungnya. Mayoritas sahabat Nabi menjadi pendukung Ali.
  • Ketiga, uzlah (mengasingkan diri). Ada sahabat-sahabat Nabi yang tidak mau terlibat dalam permasalahan ini dan mereka pun pindah dari pusat konflik. Mereka tidak mau berperang dengan saudara sesama mukmin. Mereka adalah Abdullah bin Umar, Saad bin Abi Waqqash, dan lainnya.

Inti dari permasalahan Ali-Muawiyah adalah perbedaan cara qishash ini. Muawiyah sendiri tidak mengklaim bahwa dirinya khalifah umat Islam dan tidak berniat merebut kekhalifahan. Hanyasaja ia dan penduduk Syam tidak mau baiat (sumpah setia) kepada Ali karena permasalahan terbunuhnya Utsman tersebut. Ketika kita melihat kondisi zaman Ali lewat kacamata abad modern, kita bisa dengan mudah menilai, tetapi bagi orang yang hidup di zaman itu, situasi pada saat tersebut sangat pelik. Menurut mayoritas ulama, dalam persoalan rumit itu yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat Ali karena bagaimanapun juga perdamaian negara lebih diutamakan.

Muawiyah pernah ditanya, "Apakah kau penentang Ali?"

Muawiyah menjawab, "Tidak demi Allah. Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa dia lebih utama dariku dan lebih berhak memegang khilafah dariku. Akan tetapi, sebagaimana yang kalian ketahui bahwa Utsman dibunuh dalam keadaan teraniaya dan aku, sepupu Utsman, akan menuntut darahnya. Datanglah kepada Ali dan katakan, 'serahkan para pembunuh Utsman kepadaku dan aku akan tunduk kepadanya"

Orang-orang segera menemui Ali dan mengatakan perkataan Muawiyah, tetapi Ali tidak mengabulkannya[36]

Perang Saudara[sunting | sunting sumber]

Karena situasi makin memanas, akhirnya terjadilah Perang Jamal dan Perang Shiffin antara kubu Ali dan Muawiyah. Tebunuhnya Ammar bin Yasir menjadi kunci selesainya perang ini karena Nabi Muhammad pernah mengabarkan bahwa yang membunuh Ammar adalah kelompok pembangkang[37]. Yang membunuh Ammar bin Yasir ternyata adalah Abu al-Ghadiyah Al-Juhani dari pihak Muawiyah -ia bukanlah sahabat Nabi.[38]

Terbunuhnya Ammar membuat kedua kelompok terguncang dan sepakat untuk berdamai. Mereka juga mengkhawatirkan perbatasan yang sedang lemah dan kapan saja bisa diserang oleh Persia dan Byzantium. Perjanjian damai ini dibuat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah dengan kedua hakimnya adalah Amr bin Ash dan Abu Musa al-Asy'ari. Tidak seperti kabar yang terkenal, Amr bin Ash tidak memakzulkan Ali.[39]

Ali Terbunuh dan Sikap Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Saat kabar tentang Ali yang terbunuh sampai kepada Muawiyah, ia menangis. Istrinya berkata, "Kamu menangisi orang yang memerangimu?" Muawiyah menjawab, "Diam saja lah kamu. Kamu tidak mengetahui berapa banyak manusia kehilangan keutamaan, fikih, dan ilmu karena kematian dia" Utbah berkata juga, "Jangan sampai orang-orang Syam mendengar hal itu darimu". Muawiyah menghardik, "Kamu juga diam saja lah!"[40]

Sikap Kita terhadap Konflik Ali-Muawiyah[sunting | sunting sumber]

Menurut mayoritas ulama, sikap Kaum Muslimin dalam menyikapi konflik Ali-Muawiyah adalah meyakini bahwa mereka semua sedang berijtihad merespon situasi yang sangat pelik pada masa itu. Di antara mereka ada yang benar dan mendapat dua pahala, tetapi di antara mereka ada yang salah dan mendapat satu pahala. Kita tidak boleh membicarakan sahabat Nabi dengan perasaan benci.[41]

Pandangan Husein bin Hamid Alattas Tentang Muawiyah

Mungkin ada penyunting lain yang bisa memberi penjelasan Soal Sahabat yang satu ini di sebabkan berbagai kebingunan orang jika membaca sejarah para sahabat dari berbagai persfektif silahkan mencemati lebih dahulu tulisan di bawa tulisan .

Ini sekadar Tambahan Saja Tentang Muawiyah ,

Husein bin Hamid Alattas akui dirinya tidak menganggap Muawiyah RA sebagai sahabat Nabi SAW, ia juga mengakui Muawiyah RA boleh dihujat dan dikritik. Meskipun, dirinya menyatakan bermanhaj sebagai Ahlus Sunnah.

“Secara lughowy (bahasa) Muawiyah termasuk sahabat, tetapi secara syar’i Muawiyah tidak termasuk sahabat,” kata Husein Hamid Alattas di tengah acara dialog dan mubahalah antara ustaz Haidar Abdullah Bawazir dengan Husein bin Hamid Alattas di Radio Silaturahim, Jl. Masjid Silaturahim No. 36, Cibubur, Bekasi, Rabu (27/6).

Husein berpendapat, Muawiyah RA merupakan  pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya orang beriman dan Amar bin Yasir ketika terjadi perselisihan antara Muawiyah RA dengan Ali bin Abi Tholib RA yang berujung dengan peperangan. Pihak yang melakukan kesalahan dalam mengubah sistem kekhilafahan menjadi kerajaan dengan mengangkat anaknya sebagai penerus kekhalifahan, serta yang menyebabkan peristiwa-peristiwa berdarah. “Memecahbelah umat dan menguasai harta,” tambah Husein.

Pendapat bahwa terdapat perbedaan makna sahabat secara bahasa dan syar’i dan ketidaksepakatan ulama dalam menilai sahabat yang membunuh orang beriman, menurutnya adalah berdasarkan kitab ulasan orang-orang yang sesuai dengan buku kalangan sunni kontemporer karya Hasan Farhan Al Maliki yang berjudul ‘Assubhu was Sahabah’. “Dalam buku itu tidak terdapat ijma dalam ahlussunnah berkaitan pandangan tersebut (status sahabat bagi orang yang membunuh orang beriman),” ujar Husein.

Penjelasan tersebut diutarakan Husein, setelah menolak definisi sahabat oleh jumhur ulama yang diutarakan ustaz Haidar Bawazir, yakni seseorang yang bertemu Nabi SAW dalam keadaan beriman ketika hidup dan  beriman hingga ia meninggal dunia.

Menanggapi buku Hasan Farhan Al Maliky, ustaz Haidar menyatakan buku tersebut cacat untuk dijadikan referensi dikalangan sunni, karena ia menemukan Hasan Farhan Al Maliky dalam sebuah video yang ia bawa di laptopnya menghujat Sahabat Abu Bakar RA, Umar RA, Aisyah RA, Thalhah RA, dan Zubair RA, serta menyatakan ulama syiah afdhol (lebih utama) dari ulama sunni. “Bagaimana antum akan mengambil hujjah kepada orang yang menyatakan bahwa Abu bakar merebut Kekhalifahan dari Ali?” ujarnya yang kemudian direspon Husein bahwa ia mengambil hujjah dan kutipan Hasan Farhan Al Maliky yang sesuai dengan pandangan ulama.

Masih berkenaan referensi, Husein yang selama ini menjadikan Abul ‘ala al Maududi sebagai sandaran bolehnya menghujat Muawiyah RA dalam bukunya Al Khilafah wal Mulk, menurut ustadz Haidar sikap Husein jika diukur dengan buku tersebut justru terkena vonis sesat. Karena dalam buku tersebut di halaman 97, Abul ‘Ala al Maududi menyatakan bahwa Muawiyah adalah seorang sahabat. “Dia menyatakan bahwa sesungguhnya Muawiyah adalah seorang sahabat, yang kita akui keunggulannya, keutamaannya, mempersatukan umat, dan barang siapa mencaci Muawiyah dia telah berlebihan dan keluar dari haq,” ungkapnya.

Pernyataan bahwa Muawiyah RA bukan sahabat Nabi SAW dan menghujat Muawiyah RA ia tegaskan kembali dengan sumpah atau mubahalah,”Ana meyakini bahwa Muawiyah bukan Sahabat dalam pandangan syar’i dan boleh menghujatnya, dan ana siap dilaknat dan dikutuk oleh Allah bila ana salah. Tetapi, jika saya benar saya berdoa kepada Allah agar memberi hidayah kepada Haidar,” ungkapnya sembari menjelaskan bahwa ia mencintai sahabat Nabi, terkecuali Muawiyah RA.

Lalu kemudian, ia meminta ustaz Haidar Bawazir tidak perlu mubahalah, cukup dirinya saja yang menyatakan tersebut.

Terkait persoalan Muawiyah, ustaz Haidar Abdullah Bawazir menyatakan bahwa ijma jumhur ulama Ahlussunah mengakui Muawiyah RA sebagai pihak yang salah dalam perselisihan dan Ali bin Abi Tholib RA berada di pihak yang benar serta Sahabat tidak ‘ishmah (ma’shum/terjaga dari dosa). Namun, menurutnya sesuai pandangan jumhur ulama yang diikutinya kesalahan yang dilakukan Muawiyah RA tidak serta merta menyebabkan status Sahabat hilang dari sisi Muawiyah RA ataupun menjadi kafir.

“Ulama menyimpulkan Muawiyah bukan ahli nar, kenapa begitu? Karena ulama mengumpulkan semua nash, bukan hanya satu hadist,” kata ustadz Haidar sembari menyitir sebuah hadist sebagai contoh yang menyatakan cucu nabi Hasan RA akan mendamaikan dua firqoh yang besar dari kaum Muslimin yaitu pihak Ali bin Abi Thalib RA dengan Muawiyah RA.

Sebelumnya, ustadz Haidar Bawazir juga menyatakan siap dilaknat oleh Allah terhadap keyakinannya bahwa Muawiyah RA adalah seorang Sahabat Nabi SAW, “Dan dia (Muawiyah) ridhoi Allah, apabila ana salah, ana siap dilaknat oleh Allah,” lontarnya.

Dialog sendiri terjadi kurang lebih 3 jam diselingi istirahat untuk shalat zhuhur. Dalam dialog tersebut terjadi diskusi yang ketat terkait memposisikan seseorang termasuk Sahabat atau bukan, dan kesalahan-kesalahan Sahabat apakah menghilangkan status Sahabat tersebut.

Selain itu, dalam dialog sebagian audiens dari pihak Husein dan Rasil yang hadir sempat menolak dan terkesan menghalangi diadakan mubahalah karena dianggap bid’ah (perkara baru dalam agama) atau sunnah sayyi-ah (buruk) serta persoalan penghujatan Muawiyah dinilai oleh mereka sebagai perbedaan yang tidak prinsip. Sehingga sempat adu argumen dengan pihak ustadz Haidar Bawazir yang mengutarakan terdapat dalil mubahalah dalam Al-Qur’an dan contoh para sahabat seperti Ibnu Abbas RA dan Imam Auzai rahimahullah.

Lalu ustadz Haidar Bawazir menyatakan bahwa penghujatan Muawiyah menurutnya merupakan suatu hal yang prinsip dan termasuk aqidah Ahlussunnah, sehingga perlu dilakukan mubahalah.

Menjelang akhir dialog, ustadz Haidar Bawazir sempat mempersoalkan point baru, bahwa Husein pernah menghujat Abu Hurairah RA yang kemudian direspon itu hanya sebagai ‘tataran ilmiyah’ ilmu hadist. Lalu terjadi perdebatan sengit terkait batasan yang termasuk hujatan atau tataran ilmiyah. Namun dihentikan oleh moderator mengingat kesepakatan waktu telah selesai.

Di penghujung dialog, pihak dari Radio Rasil meminta jika terjadi mubahalah dengan tema tuduhan syi’ah kepada Husein dan radio tersebut. Mereka menilai tuduhan tersebut tidak beralasan. “Kita Ahlussunnah wal jama’ah tidak sepenakut Syi’ah, dan itu eksplisit,” ungkap Firman.

Selain itu, Faried Thalib dari pihak Rasil tidak ingin ada lagi tuduhan syi’ah ataupun diplintir bahwa Husein tidak syi’ah tapi menyebarkan fikroh syi’ah. “Itu sama saja tidak menuduh Ustadz Husein maling, tapi Ustadz Husein mencuri,” ujarnya.

Ustadz Haidar Bawazir membenarkan bahwa dia tidak menuduh Husein sebagai Syi’ah, akan tetapi hanya menyatakan Husein menyebarkan fikroh syi’ah. “Ana siap mubahalah untuk ini,” tegas ustadz Haidar di tengah tuntutan mubahalah jika diadakan tentang tuduhan Syi’ah

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 15
  2. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 73
  3. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 74
  4. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 72
  5. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 16
  6. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 23-36
  7. ^ a b Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 36-38
  8. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 39
  9. ^ http://priyayimuslim.wordpress.com/2012/12/11/keutamaan-muawiyah-bin-abi-sufyan-berdasarkan-hadits-rasulullah/
  10. ^ Hadits ini diriwayatkan At Tirmidzi No. 3842, Imam At Tirmidzi berkata: hasan gharib. Ahmad No. 17895, Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir, 5/240. Ibnu Abi ‘Ashim, Al Aahaad wal Matsani No. 1129, Al Khathib dalam   Tarikh Baghdad , 1/207-208, Ibnul Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah No. 442, Al Khalal dalam As Sunnah No. 699, Ibnu Qaani’ dalam Mu’jam Ash Shahabah, 2/146, Ath Thabarani dalam Al Ausath No. 660, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 8/358. Imam Ibnu Abdil Bar dan Al Hafizh Ibnu Hajar mengisyaratkan kelemahan hadits ini. Lihat Al Ishabah, 4/342-343 dan Fathul Bari, 7/104 Akan tetapi, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth, hadits ini adalah shahih. “Rijal hadits ini tsiqat (terpercaya) dan merupakan para perawi hadits shahih, kecuali Sa’id bin Abdul Aziz, dia menjadi pokok perbincangan hadits ini, dia telah mengalami kekacauan hapalan pada akhir usianya seperti yang dikatakan oleh Abu Mushir dan Yahya bin Ma’in.” (Musnad  Ahmad No. 17895, dengan tahqiq; Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh ‘Adil Mursyid, dan lainnya) Menurut Syaikh Al Albani, hadits ini shahih, “Semua rijal (perawinya) adalah tsiqat (terpercaya) dan merupakan perawi yang dipakai Imam Muslim, maka hadits ini lebih benar  adalah shahih.” (As Silsilah Ash Shahihah No. 1969)
  11. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 61
  12. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 64
  13. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 67-68
  14. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 68-69
  15. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 69
  16. ^ http://danusiri.dosen.unimus.ac.id/artikel/bakteriologi-dalam-sabda-nabi-saw/
  17. ^ http://abuutsman.blogspot.com/2013/10/wabah-thaun-amwas-yang-ada-di-negeri.html
  18. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 70-71
  19. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 76-77
  20. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 83
  21. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 77
  22. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 78
  23. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 81-82
  24. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 84
  25. ^ HR. Bukhari no.2877
  26. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 88
  27. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 92
  28. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 136
  29. ^ Memegang jenggot di tradisi Arab adalah simbol merendahkan atau menantang
  30. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 135-150
  31. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 153-154
  32. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 154
  33. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 166
  34. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 155-161
  35. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 175
  36. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 168-171
  37. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 203
  38. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 209
  39. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 224-259
  40. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 259
  41. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan. halaman 245-254

Bacaan Lanjutan[sunting | sunting sumber]

(Indonesia) Mursi, Muhammad Sa'id. Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Penerjemah: Khoirul Amru Harahap, Lc, MHI dan Achmad Faozan, Lc, M.Ag. Editor: Muhammad Ihsan, Lc. Cet. 1, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007. ISBN 979-592-387-0.

Ash-Shallabi, Ali Muhammad. 2012. Muawiyah bin Abu Sufyan: Prestasi Gemilang Selama 20 Tahun Sebagai Gubernur & 20 Tahun Sebagai Khalifah; Disertai Studi Kritis tentang Fitnah-Fitnah yang Terjadi di Zamannya. Darul Haq: Jakarta.

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
tidak ada
Khalifah Bani Umayyah
(661680)
Diteruskan oleh:
Yazid I