Kereta api Bima

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Plat Ka Bima.PNG
Kereta Api Bima
KA 33 Bima.jpg
KA 41 Biru Malam Ekspres
Info
Kelas Eksekutif Satwa
Sistem Kereta api cepat
Status Beroperasi
Lokal Daop 1 Jakarta
Stasiun terminus Jakarta Gambir
Surabaya Gubeng dan Malang Kota Baru
Jumlah stasiun 12
Rute pelayanan 2
Nomor KA 41-44
Operasional
Dibuka 1 Juni 1967
Pemilik PT Kereta Api Indonesia
Operator Daerah Operasi I Jakarta
Dipo Jakarta Kota (JAKK), Jatinegara (JNG)
Lokomotif CC206
Teknis
Jarak tempuh 907 km
Lebar trek 1.067 mm
Kecepatan operasi 60 s.d. 100 km/jam
Peta Rute

Peta rute KA Bima Gambir-Surabaya Gubeng

Jakarta Kota
Head station
ke Ancol/Mangga Dua
Junction to left Continuation to right
Unknown route-map component "BRÜCKEa"
Jakarta Gambir
Unknown route-map component "hBHF"
Unknown route-map component "BRÜCKEe"
ke
Continuation to left Junction from right
Jakarta Manggarai
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Tebet
Continuation to left Junction to right
ke
Unknown route-map component "KRWg+l" Continuation to right
Unknown route-map component "xpBHF"
Jalan Tol Ir.Wiyoto Wiyono
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Kraji Flyover
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Bekasi
Unknown route-map component "xpBHF"
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Purwakarta
Continuation to left Junction to right
Cirebon
Station on track
ke Brebes/Semarang
Junction to left Continuation to right
Jalan Tol Palimanan-Kanci
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Ketanggungan
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Tegal lewat Lebaksiu
Continuation to left Junction to right
Purwokerto
Station on track
ke Bandung / Cilacap
Continuation to left Junction from right
Karanganyar
Station on track
Kebumen
Unknown route-map component "xpBHF"
Yogyakarta Tugu
Station on track
Kali Code, Yogya
Transverse water Bridge over water Transverse water
Lempuyangan, Yogya
Unknown route-map component "xpBHF"
Flyover Dr.Soetomo, Yogya
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Solo Balapan
Station on track
ke Sumber Lawang
Junction both to and from left Continuation to right
Sragen
Unknown route-map component "xpBHF"
Madiun
Station on track
Nganjuk
Unknown route-map component "xpBHF"
Kertosono
Station on track
ke Blitar
Continuation to left Junction to right
Jombang
Station on track
Mojokerto
Station on track
Kali Porong
Transverse water Bridge over water Transverse water
Tarik
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Sidoarjo
Continuation to left Junction to right
Jalan Surabaya-Mojokerto
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Jalan Tol Surabaya-Gempol
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Layang Mayangkara
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
ke Sidoarjo / Malang
Continuation to left Junction from right
Wonokromo
Unknown route-map component "xpBHF"
Surabaya Gubeng
Station on track
ke Surabaya Kota
Continuation forward

Surabaya Gubeng-Malang Kota Baru

Surabaya Kota
Head station
Surabaya Gubeng
Station on track
Wonokromo
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Mojokerto
Continuation to left Junction to right
Waru
Unknown route-map component "xpBHF"
Gedangan
Unknown route-map component "xpBHF"
Jalan Surabaya-Sidoarjo
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Sidoarjo
Station on track
Tanggulangin
Unknown route-map component "xpBHF"
Porong
Unknown route-map component "xpBHF"
Kali Porong
Transverse water Bridge over water Transverse water
Bangil
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Pasuruan/Banyuwangi
Junction to left Continuation to right
Wonokerto
Unknown route-map component "xpBHF"
Sukorejo
Unknown route-map component "xpBHF"
Sengon
Unknown route-map component "xpBHF"
Lawang
Station on track
Singosari
Unknown route-map component "xpBHF"
Blimbing
Unknown route-map component "xpBHF"
Malang
Station on track
ke Blitar
Continuation forward

Kereta api Bima adalah kereta api kelas eksekutif satwa sekelas argo yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Pulau Jawa dengan jurusan Stasiun Gambir (GMR) - Stasiun Surabaya Gubeng (SGU) dan Stasiun Surabaya Gubeng (SGU) - Stasiun Malang (ML) dan sebaliknya dengan melewati jalur selatan. Meskipun kelas satwa, KA Bima adalah KA Eksekutif sekelas Argo dan menggunakan kereta Argo, dalam hal ini adalah KA eks-Argo Bromo (K1 0 95 xx JAKK).

Kereta api Bima pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Juni 1967[1]; mengawali sejarah pengoperasian kereta api berpengatur suhu ruangan/ Air Conditioner bersistem Modern di Indonesia. KA ini melayani perjalanan koridor Jakarta - Surabaya lewat Purwokerto, Yogyakarta, Solo, dan Madiun.

Asal-usul nama[sunting | sunting sumber]

Nama Bima merupakan singkatan dari Biru Malam, karena, pada awal peluncurannya, rangkaian kereta api ini bercat biru dan beroperasi pada malam hari. Selain itu, kata Bima dianalogikan pula dengan nama dari salah satu tokoh Mahabharata, Bima yang memang digambarkan memiliki karakter tubuh tinggi besar, kokoh, kekar, kuat dan pemberani. Karakter itu dilekatkan pada KA Bima untuk menggambarkan kehandalan perjalanan dan kualitas pelayanannya yang selalu siap dalam berbagai keadaan.

Sejarah[1][sunting | sunting sumber]

Kereta tidur[sunting | sunting sumber]

KA Bima ini diresmikan pada tanggal 1 Juni 1967 dengan menggunakan gerbong tidur berwarna biru buatan pabrik Görlitz Waggenbau, Jerman Timur dan menjadi KA pertama yang menggunakan gerbong pembangkit (DPPW). Awalnya peta rute KA ini mengikuti arah pendahulunya, Bintang Sendja. Yaitu, setelah dari Jakarta Gambir melewati Cirebon, kemudian melewati Semarang, kemudian menuju Kedungjati dan Solo Jebres serta Madiun dan Jombang, hingga akhirnya tiba di Surabaya. Tetapi, beberapa minggu berikutnya, rute KA diubah hingga melewati Purwokerto dan Yogyakarta, hingga sekarang.

Selama dekade 1960-an hingga awal 1980-an, KA Bima beroperasi dengan stamformasi (urutan rangkaian): satu buah lokomotif (berstriping/livery hijau-kuning PNKA/PJKA), dua gerbong SAGW (eksekutif kelas I), dua gerbong SBGW (eksekutif kelas II), satu gerbong FW (makan), dan satu gerbong DPPW (pembangkit) plus satu gerbong barang; semua gerbong berwarna biru tua. KA ini menjadi KA eksekutif AC pertama di Indonesia dan menjadi KA yang populer. Ada kebanggan tersendiri (prestisi) bagi siapa pun yang pernah menaiki KA Bima. Apalagi pada masa itu, kenyamanan moda transportasi lain tidak mampu menyamai kenyamanan yang ditawarkan KA Bima. Kualitas pelayanan KA Bima sekelas dengan hotel berbintang, sehingga menghemat biaya akomodasi dan transportasi sekaligus. KA Bima juga menghiasi berbagai media.

KA Eksekutif[sunting | sunting sumber]

Rupanya selama tahun 1967-1984 menjadi masa-masa indah KA Bima sebagai KA tidur. Akan tetapi, dengan alasan sosial daripada alasan finansial, gerbong SAGW akhirnya dihapus. Sebagai persiapan, PJKA akhirnya mengimpor dua rangkaian gerbong eksekutif buatan pabrik Arad, Rumania, bernomor seri K1-847xx (dibuat tahun 1984, nomor baru: K1 0 84 xx[catatan 1]). Rangkaian gerbong ini difungsikan untuk mengganti gerbong SAGW yang berhenti beroperasi. Gerbong ini adalah gerbong dengan tempat duduk, tidak seperti gerbong SAGW-nya Görlitz yang merupakan gerbong tidur.

Gerbong Arad ini dirangkai bersama gerbong SBGW. Sementara itu, sisa gerbong tidur SAGW sempat dipakai sebentar di layanan PJKA lainnya, seperti kereta api Mutiara Utara, Senja, atau Mutiara Selatan sebelum diistirahatkan. Tiga di antaranya menjadi gerbong kenegaraan, kini menjadi gerbong pariwisata, antara lain Nusantara, Bali, dan Toraja.

Gerbong K1-847xx ini diyakini sebagai gerbong eksekutif terburuk yang pernah dimiliki oleh PJKA. Akibatnya, pada saat itulah, menurunlah kualitas pelayanan KA Bima. KA Bima tetap menggunakan stamformasi K1 dan SBGW (KT-677xx) hingga akhir dekade 1980-an, dan setelah awal dekade 1990-an, SBGW berhenti beroperasi. Gerbong SAGW dan SBGW diubah menjadi gerbong eksekutif duduk dengan menghilangkan tempat tidur dan menggantinya dengan tempat duduk. Sistem penomoran SAGW dan SBGW diubah menjadi K1-67xxx (nomor baru: K1 0 67 xx).[catatan 1]

Peran SBGW kemudian digantikan oleh gerbong kuset (couchette). Gerbong ini dimodifikasi dari gerbong ekonomi buatan pabrik Nippon Sharyo yang sudah ada sejak 1964 dengan menambahkan AC, sekat ruangan, dan memasang tempat tidur yang paten. Namun, hingga tahun 1995, kebijakan Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) yang lebih mengejar okupansi daripada kualitas layanan membuat era gerbong tidur telah berakhir. Akhirnya, KA Bima berubah menjadi gerbong eksekutif biasa.

Regenerasi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1995, lahirlah KA Argo, yakni Argo Bromo JS 950 dan Argo Gede (semua gerbong bernomor BP/M1/K1 0 95 xx). Keberadaan kereta-kereta api ini menggeser layanan KA Bima dari posisi puncak kereta unggulan. Para penumpang lebih memilih KA Argo karena waktunya yang lebih cepat (Argo Bromo 9 jam, Bima 13 jam). Rute Argo Bromo yang melewati lintas utara (Pantura) ini mengikuti pendahulunya, Mutiara Utara dan Suryajaya, dan melewati kota besar seperti Semarang dan Bojonegoro, tidak seperti KA Bima yang melewati Purwokerto dan Yogyakarta yang terkesan lebih jauh.

Faktor lain yang mengakibatkan Argo Bromo lebih cepat adalah penguatan bantalan rel lintas Pantura yang sudah direncanakan sebelumnya (yang dahulu bertekanan gandar rendah karena sebagian merupakan bekas jalur trem). Dengan begitu, KA Argo Anggrek bisa dilalui oleh lokomotif besar (CC203 saat itu) dengan kecepatan penuh 120 km/jam. Selama bertahun-tahun KA Bima sudah makin terlupakan. Pilihan mereka justru tertuju kepada KA semacam Argo Bromo atau Sembrani. Perjalanan KA yang lama dan jauh mengakibatkan orang kurang tertarik naik KA Bima.

Akan tetapi, kemunculan Argo Bromo Anggrek produksi PT Inka tahun 1997 (P/K1/M1 0 97 xx) membuat armada Argo Bromo menjadi surplus. Maka rangkaian Argo Bromo dialihkan kepada KA Bima. Namun, gerbong Argo eks-JS 950 ini terkadang bisa dipakai untuk lintas utara lagi jika gerbong Anggrek mengalami masalah. Hal ini disebabkan karena jumlah gerbong Anggrek sangat terbatas serta kerjanya berlebihan sehingga mudah rusak. Kemunculan gerbong Anggrek tambahan tahun 2001 (P/K1/M1 0 01 xx) mengakibatkan gerbong JS 950 mulai tahun 2002 dipakai seterusnya untuk KA Bima, hingga saat ini.

Pada awal tahun 2014, KA Bima kini diperpanjang rutenya hingga stasiun Malang. Pada tanggal 1 Juni 2014 KA Bima diubah nomor gapekanya dari 33-34 menjadi 41-42. Namun ada yang menyebutkan bahwa KA Bima memiliki nomor gapeka 41-42 (Gambir-Surabaya Gubeng pp) dan 43-44 (Surabaya Gubeng-Malang Kota Baru pp).

Lokomotif[sunting | sunting sumber]

KA Bima semasa ditarik CC204.

Semasa PNKA-PJKA, ada beragam lokomotif yang paling sering digunakan, seperti BB200, BB201, atau CC200. Bagi sebagian orang, BB301 lebih identik dengan awal-awal operasi KA Bima. Walaupun pada tahun 1977 muncul lokomotif CC201 buatan General Electric yang juga pernah menarik KA Bima, namun BB301 adalah loko yang paling sering digunakan untuk menarik KA Bima. Namun, seiring menurunnya kemampuan lokomotif BB301, pada tahun 1990, akhirnya CC201 dioperasikan sebagai loko favorit KA Bima.

Mulai pada tahun 1995, lokomotif CC203 didatangkan sebagai penarik KA eksekutif, mengganti CC201 yang saat itu turun pangkat. Akhirnya CC203 menjadi andalan KA Bima. Namun, sejak hadirnya CC204, CC203 dan CC204 menjadi andalan KA Bima. Namun, mulai tahun 2013, lokomotif CC206 telah menggantikan CC203 dan CC204 menjadi andalan KA Bima dan KA eksekutif lainnya juga.

Sebagai KA eksekutif unggulan, KA Bima selalu menggunakan lokomotif yang terbaru, dalam hal ini adalah CC206.

Kelas dan rangkaian[sunting | sunting sumber]

Di awal pengoperasiannya, KA Bima dilengkapi dengan kereta berfasilitas tempat tidur kelas I (SAGW) dan kelas II (SBGW)[1] dan eksterior kereta yang sengaja dicat dengan warna biru. Seiring waktu, kereta tidur mulai diganti dengan kereta bertempat duduk. Sejak tanggal 9 Juni 1990 KA Bima mengalami perubahan interior menjadi kereta kelas eksekutif dengan tetap dilengkapi fasilitas pendingin ruangan (AC) dengan menghapus fasilitas kereta bertempat tidur. Tetapi, kereta tidur (couchette) digunakan sampai tahun 1995 dan akhirnya dihilangkan.

Perubahan layanan dilakukan lagi sejak tanggal 1 Agustus 2002 dengan mengganti rangkaian kereta api Bima dengan rangkaian kereta api sekelas Argo (eks-Argo Bromo JS-950, kode K1 0 95 xx) dengan kapasitas angkut sebanyak 300 - 400 orang (membawa rangkaian 6 - 8 kereta kelas eksekutif). Rangkaian KA Bima terdiri dari 6 - 8 kereta kelas eksekutif argo (K1), 1 Kereta Makan Eksekutif (KM1), 1 Kereta Pembangkit Listrik (P), dan 1 Kereta Bagasi (B). KA eks-Argo Bromo yang digunakan Bima memiliki ciri khas yaitu AC yang kotak (buatan 1995), berbeda dengan KA Argo setelahnya (buatan 1996 yang AC-nya berbentuk lebih mengikuti lengkung atap tapi agak kotak, dan buatan 1998-2002 yang AC-nya berbentuk melengkung). Meskipun begitu, terkadang KA Bima memakai KA Argo generasi kedua atau KA Retrofit jendela pesawat.

Stasiun[sunting | sunting sumber]

Perjalanan Gambir - Surabaya Gubeng - Malang melalui Lintas Selatan ditempuh dalam waktu kurang lebih 13 jam dan berhenti di stasiun Jatinegara (arah ke Jakarta), Jatibarang, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Jombang, Mojokerto, Surabaya Gubeng, Sidoarjo, Bangil, Lawang, Malang. Selain itu, banyak penumpang KA Bima yang melanjutkan perjalanan ke Denpasar, Jember, Pasuruan, Probolinggo dan Banyuwangi dengan menggunakan Kereta api Mutiara Timur.

Pada pagi harinya, rangkaian KA Bima yang berada di Surabaya digunakan untuk trayek Surabaya - Malang. Sedangkan KA Bima yang berada di Jakarta diistirahatkan di Manggarai untuk diberangkatkan kembali pada sore hari.

Jadwal perjalanan[sunting | sunting sumber]

Jadwal Perjalanan KA Bima Mulai 1 Juni 2014

Stasiun Kedatangan Keberangkatan
KA 41 (Surabaya Gubeng-Gambir)
Malang - 13.30
Lawang 13.57 14.02
Sidoarjo 15.11 15.18
Surabaya Gubeng 15.42 16.35
Mojokerto 17.11 17.16
Jombang 17.38 17.41
Wilangan 18.28 18.35
Madiun 19.05 19.10
Solo Balapan 20.20 20.28
Yogyakarta 21.11 21.20
Kutowinangun 22.30 22.39
Karanganyar 22.57 23.04
Sumpiuh 23.26 23.32
Purwokerto 00.08 00.13
Cirebon 02.09 02.59
Jatinegara 04.44 04.46
Gambir 04.56 -
KA 42 (Gambir-Surabaya Gubeng)
Gambir - 16.20
Jatibarang 18.29 18.31
Cirebon 19.00 19.05
Purwokerto 20.58 21.14
Tambak 21.54 22.03
Yogyakarta 23.42 23.51
Solo Balapan 00.34 00.41
Madiun 01.53 02.00
Jombang 03.11 03.15
Mojokerto 03.37 03.40
Surabaya Gubeng 04.15 06.00
Sidoarjo 06.23 06.26
Lawang 07.32 07.37
Malang 08.03 -

Galeri[sunting | sunting sumber]

Daftar kecelakaan[sunting | sunting sumber]

Interior KA Eksekutif Bima

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 45 tahun 2010.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]