Kota Bandung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bandung)
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Bandung
ᮊᮧᮒ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ

Kota Kembang, Parijs Van Java
dan "City Of Heritage"
Jawa Nuvola single chevron right.svg Jawa Barat
Beberapa tempat di Bandung
Beberapa tempat di Bandung
Lambang Kota Bandungᮊᮧᮒ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ
Seal
Semboyan: Bermartabat (Bersih, Makmur, Taat, dan Bersahabat)
Kota Bandungᮊᮧᮒ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ is located in Jawa
Kota Bandung
ᮊᮧᮒ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ
Lokasi kota Bandung di peta pulau Jawa
Kota Bandungᮊᮧᮒ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ is located in Indonesia
Kota Bandung
ᮊᮧᮒ ᮘᮔ᮪ᮓᮥᮀ
Lokasi kota Bandung di peta Indonesia
Koordinat: 6°54′53,08″LU 107°36′35,32″BT / 6,9°LS 107,6°BT / -6.90000; 107.60000
Negara  Indonesia
Hari jadi 25 September 1810
Pemerintahan
 • Wali kota Ridwan Kamil, S.T., M.U.D. [1]
Populasi
 • Total jiwa
Demografi
 • Suku bangsa Sunda, Jawa, Tionghoa, Arab, dll
 • Agama Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu
 • Bahasa Sunda, Indonesia, Jawa
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode telepon +62 22
Bandar udara Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara
Situs web www.bandung.go.id

Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Jawa Barat sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta, dan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya menurut jumlah penduduk. Sedangkan wilayah Bandung Raya (Wilayah Metropolitan Bandung) merupakan metropolitan terbesar ketiga di Indonesia setelah Jabodetabek dan Gerbangkertosusila (Grebangkertosusilo). Di kota yang bersejarah ini, berdiri sebuah perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia (Technische Hoogeschool te Bandoeng - TH Bandung, sekarang Institut Teknologi Bandung - ITB)[2], menjadi ajang pertempuran di masa kemerdekaan[3], serta pernah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955,[4] suatu pertemuan yang menyuarakan semangat anti kolonialisme, bahkan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dalam pidatonya mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika.[5]

Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time.[6]

Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur.[7] Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan. Dua aspek inilah yang sekarang menjadi konsentrasi pembangunan yang diinisiasi oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil. Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Bandung banyak membuka taman-taman kota, festival kuliner, dan komunitas anak muda. Perkembangan ini untuk memfasilitasi aktivitas masyarakat Bandung di berbagai lapisan masyarakat.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Balai Kota BandungKantor Walikota Bandung
Balai Kota Bandung
Kantor Walikota Bandung
Bendera Kota Bandung, berdasarkan Surat Keputusan DPRD Sementara Kota Besar Bandung nomor 9938/53 tanggal 8 Juni 1953
Bendera Kota Bandung, berdasarkan Surat Keputusan DPRD Sementara Kota Besar Bandung nomor 9938/53 tanggal 8 Juni 1953

Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi wilayahnya bagaikan sebuah mangkok raksasa,[8] secara geografis kota ini terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, serta berada pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut, dengan titik tertinggi di berada di sebelah utara dengan ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut dan sebelah selatan merupakan kawasan rendah dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan laut.

Kota Bandung dialiri dua sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bertemu di Sungai Citarum. Dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan sangat rentan terhadap masalah banjir terutama pada musim hujan.

Keadaan geologis dan tanah yang ada di kota Bandung dan sekitarnya terbentuk pada zaman kwartier dan mempunyai lapisan tanah alluvial hasil letusan Gunung Tangkuban Parahu. Jenis material di bagian utara umumnya merupakan jenis andosol begitu juga pada kawasan dibagian tengah dan barat, sedangkan kawasan dibagian selatan serta timur terdiri atas sebaran jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan tanah liat.

Semetara iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk, dengan suhu rata-rata 23.5 °C, curah hujan rata-rata 200.4 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 21.3 hari per bulan.[9]


Data iklim kota Bandung
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Sumber: Pemerintah kota Bandung[10]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Suasana Jalan Braga ke arah utara pada tahun (1908)

Kata "Bandung" berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama "Bandung" diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata "Bandung" berasal dari kalimat "Nga-Bandung-an Banda Indung", yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-"Bandung"-an artinya menyaksikan atau bersaksi. "Banda" adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. "Indung" adalah Bumi, disebut juga sebagai "Ibu Pertiwi" tempat "Banda" berada. Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai "Banda". Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah "Banda Indung", yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfir adalah tempat yang menyaksikan, "Nu Nga-Bandung-an". Yang disebut sebagai Wasa atau Sanghyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.

Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Legenda Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sangkyang Tikoro.

Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk pemukiman.

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906[11] dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha pada tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini.[12]

Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.

Pada tanggal 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama "Concordia" (Jl. Asia Afrika, sekarang), berseberangan dengan Hotel Savoy Homann, diadakan untuk pertama kalinya Konferensi Asia-Afrika yang kemudian kembali KTT Asia-Afrika 2005 diadakan di kota ini pada 19 April-24 April 2005.

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Tahun Jumlah penduduk
1941 226.877
1950 644.475
2005 2.315.895
2006 2.340.624
2007 2.364.312
2008 2.390.120
Sejarah kependudukan kota Bandung
Sumber:[13]

Kota Bandung merupakan kota terpadat di Jawa Barat, di mana penduduknya didominasi oleh etnis Sunda, sedangkan etnis Jawa merupakan penduduk minoritas terbesar di kota ini dibandingkan etnis lainnya.

Pertambahan penduduk kota Bandung awalnya berkaitan erat dengan ada sarana transportasi Kereta api yang dibangun sekitar tahun 1880 yang menghubungkan kota ini dengan Jakarta (sebelumnya bernama Batavia).[11] Pada tahun 1941 tercatat sebanyak 226.877 jiwa jumlah penduduk kota ini[14] kemudian setelah peristiwa yang dikenal dengan Long March Siliwangi, penduduk kota ini kembali bertambah dimana pada tahun 1950 tercatat jumlah penduduknya sebanyak 644.475 jiwa.[15]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Dalam administrasi pemerintah daerah, kota Bandung dipimpin oleh wali kota. Sejak 2008, penduduk kota ini langsung memilih wali kota beserta wakilnya dalam pilkada, sedangkan sebelumnya dipilih oleh anggota DPRD kotanya.

Wilayah Kota Bandung dibagi menjadi 30 kecamatan dan 153 kelurahan:

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Kota Bandung 2014-2019
Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 12
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 7
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 6
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 6
Lambang PKS PKS 6
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 6
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 4
Lambang PPP PPP 2
Lambang PKB PKB 1
Total 50
Sumber:[16]

Sesuai konstitusi yang berlaku DPRD Kota Bandung merupakan representasi dari perwakilan rakyat. Pada Pemilu Legislatif 2014 anggota DPRD kota Bandung adalah 50 orang, yang kemudian tersusun atas perwakilan sembilan partai.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kota Bandung merupakan salah satu kota pendidikan, dan Soekarno, presiden pertama Indonesia, pernah menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda pada masa pergantian abad ke-20.

Pendidikan formal SD atau MI negeri dan swasta SMP atau MTs negeri dan swasta SMA negeri dan swasta MA negeri dan swasta SMK negeri dan swasta Perguruan tinggi
Jumlah satuan 1023 250 184 25 96 130
Data sekolah di kota Bandung
Sumber:[17]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, kota Bandung memiliki sarana pelayanan kesehatan yang paling lengkap di provinsi ini. Sampai tahun 2007, kota Bandung telah memiliki 30 unit rumah sakit dan 70 unit puskesmas yang tersebar di kota ini,[18] di mana dari 17 unit rumah sakit tersebut diantaranya telah memiliki 4 pelayanan kesehatan dasar sedangkan selebihnya merupakan rumah sakit khusus. Pelayanan kesehatan dasar tersebut meliputi pelayanan spesialis bedah, pelayanan spesialis penyakit dalam, pelayanan spesialis anak serta pelayanan spesialis kebidanan dan kandungan.

Dari jumlah tenaga medis yang tercatat di kota Bandung dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 adalah 86 orang tenaga medis untuk melayani 100.000 penduduk.

Perhubungan[sunting | sunting sumber]

Sampai pada tahun 2004, kondisi transportasi jalan di kota Bandung masih buruk dengan tingginya tingkat kemacetan serta ruas jalan yang tidak memadai, termasuk masalah parkir dan tingginya polusi udara.[19] Permasalahan ini muncul karena beberapa faktor diantaranya pengelolaan transportasi oleh pemerintah setempat yang tidak maksimal seperti rendahnya koordinasi antara instansi yang terkait, ketidakjelasan wewenang setiap instansi, dan kurangnya sumber daya manusia, serta ditambah tidak lengkapnya peraturan pendukung.

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Sampai tahun 2000 panjang jalan di kota Bandung secara keseluruhan baru mencapai 4.9 % dari total luas wilayahnya dengan posisi idealnya mesti berada pada kisaran 15-20 %.[20] Pembangunan jalan baru, peningkatan kapasitas jalan dan penataan kawasan mesti menjadi perhatian bagi pemerintah kota untuk menjadikan kota ini menjadi kota terkemuka. Pada 25 Juni 2005, jembatan Pasupati resmi dibuka,[21] untuk mengurangi kemacetan di pusat kota,[22] dan menjadi landmark baru bagi kota ini. Jembatan dengan panjangnya 2.8 km ini dibangun pada kawasan lembah serta melintasi Ci Kapundung dan dapat menghubungkan poros barat ke timur di wilayah utara kota Bandung.

Kota Bandung berjarak sekitar 180 km dari Jakarta melalui Cianjur, Puncak dan Bogor,[20] saat ini dapat dicapai melalui jalan Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) yang hanya berjarak sekitar 150 km dengan waktu tempuh antara 1.5 jam sampai dengan 2 jam. Jalan tol ini merupakan pengembangan dari jalan Tol Padaleunyi (Padalarang-Cileunyi), yang sudah dibangun sebelumnya.

Angkutan Kota dan Bus Kota[sunting | sunting sumber]

Untuk transportasi di dalam kota, masyarakat Bandung biasanya menggunakan angkutan kota atau yang lebih akrab disebut angkot[23]. Selain itu, bus kota dan taksi juga menjadi alat transportasi di kota ini. Sedangkan sebagai terminal bus antarkota dan provinsi di kota ini adalah terminal Leuwipanjang untuk rute barat dan terminal Cicaheum untuk rute timur. Travel point to point antara Bandung-Jakarta memiliki poolnya sendiri-sendiri, tetapi semua travel memiliki juga pool di Terusan Pasteur, jalan menuju tol Bandung-Jakarta.

Pada 24 September 2009, TMB (Trans Metro Bandung) resmi beroperasi, walaupun sempat diprotes oleh sopir angkot setempat.[24] TMB ini merupakan proyek patungan antara pemerintah kota Bandung dengan Perum II DAMRI Bandung dalam memberikan layanan transportasi massal dengan harga murah, fasilitas dan kenyamanan yang terjamin serta tepat waktu ke tujuan.[25]

Pesawat[sunting | sunting sumber]

Kota Bandung memiliki sebuah pelabuhan udara yang bernama Bandar Udara Husein Sastranegara untuk menghubungkan kota ini dengan beberapa kota-kota lainnya di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, Menado, Yogyakarta, Batam, Mataram, Makassar, Palembang, Pangkalpinang, Semarang, dan Medan. Sedangkan untuk rute luar negeri diantaranya Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam. Kapasitas Terminal Airport sekarang ini sedang dikembangkan menjadi berkapasitas tiga kali lipat semula.

Kereta Api[sunting | sunting sumber]

Kota Bandung juga mempunyai stasiun kereta api yang setiap harinya melayani rute dari dan ke Jakarta, ataupun Semarang, Surabaya dan Yogyakarta, yaitu Stasiun Bandung untuk kelas bisnis dan eksekutif. Sedangkan Stasiun Kiaracondong melayani rute yang sama (kecuali Jakarta) untuk kelas ekonomi.

Selain 2 buah stasiun tersebut, terdapat 5 stasiun KA lain yang merupakan stasiun khusus peti kemas, yakni Gedebage, Cimindi, Andir, Ciroyom dan Cikudapateuh.

Pelayanan publik[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2008, pemerintah merencanakan pembangunan Pusat Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Gedebage[26], namun sempat diprotes warga setempat. Dan baru pada tahun 2010 wacana pembangunan PLTSa ini kembali digulirkan, dimana tendernya akan dilakukan pada November 2010 dan proyek ini akan dimulai pada awal 2011 dan diperkirakan selesai pada akhir 2012.[27]

Sementara untuk melayani kebutuhan akan air bersih, pemerintah kota melalui PDAM kota Bandung saat ini baru mampu memasok air untuk 66 % dari total jumlah penduduknya.[28] Hal ini terjadi karena semakin berkurangnya debit air baku, baik sumber air dalam tanah maupun mata air. Sementara itu penggunaan sumber air dalam tanah di kota ini sudah memainkan penting dalam pemenuhan kebutuhan air minum sejak dimulai pembangunan kota ini di akhir abad ke-19, namun seiring dengan perkembangan kota terutama berkembangnya industri serta ditambah kurangnya regulasi dalam konservasi sumber air sehingga menjadikan masalah air minum semakin rumit dan perlu penangganan khusus.[29]

Saat ini sebagian besar sumur artesis milik PDAM, tidak lagi berfungsi termasuk andalan utama pasokan air baku dari Sungai Cisangkuy yang berasal dari Sungai Cilaki melalui Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca.[30] Selain itu pendistribusian air pada masyarakat kadangkala dilakukan secara bergilir dan juga air yang didistribusikan kotor dan keruh pada jam-jam tertentu.[31]

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya kota Bandung sekitarnya secara tradisional merupakan kawasan pertanian, namun seiring dengan laju urbanisasi menjadikan lahan pertanian menjadi kawasan perumahan serta kemudian berkembang menjadi kawasan industri dan bisnis, sesuai dengan transformasi ekonomi kota umumnya. Sektor perdagangan dan jasa saat ini memainkan peranan penting akan pertumbuhan ekonomi kota ini disamping terus berkembangnya sektor industri. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) 2006, 35.92 % dari total angkatan kerja penduduk kota ini terserap pada sektor perdagangan, 28.16 % pada sektor jasa dan 15.92 % pada sektor industri. Sedangkan sektor pertanian hanya menyerap 0.82 %, sementara sisa 19.18 % pada sektor angkutan, bangunan, keuangan dan lainnnya.[32]

Pada triwulan I 2010, kota Bandung dan sebagian besar kota lain di Jawa Barat mengalami kenaikan laju inflasi tahunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.[33] Sebagai faktor pendorong inflasi dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter, yang berupa interaksi permintaan-penawaran serta ekspektasi inflasi masyarakat. Walaupun secara keseluruhan laju inflasi pada kota Bandung masih relatif terkendali. Hal ini terutama disebabkan oleh deflasi pada kelompok sandang, yaitu penurunan harga emas perhiasan. Sebaliknya, inflasi Kota Bandung mengalami tekanan yang berasal dari kelompok transportasi, yang dipicu oleh kenaikan harga BBM non subsidi yang dipengaruhi oleh harga minyak bumi di pasar internasional.

Sementara itu yang menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Bandung masih didominasi dari penerimaan hasil pajak daerah dan retribusi daerah, sedangkan dari hasil perusahaan milik daerah atau hasil pengelolaan kekayaan daerah masih belum sesuai dengan realisasi.

Kelompok Triwulan II 2009 Triwulan III 2009 Triwulan IV 2009 Triwulan I 2010
Bahan makanan 5.30 4.35 4.02 3.96
Makanan jadi 5.93 6.21 5.85 5.39
Perumahan 2.62 0.11 1.74 1.97
Sandang 3.80 3.77 5.09 -1.74
Kesehatan 5.52 5.40 5.32 2.20
Pendidikan 6.88 7.55 3.31 3.71
Transporstasi -9.11 -8.64 -5.98 1.09
Total 2.17 1.53 2.11 2.86
Inflasi tahunan kota Bandung
Sumber:[33]

Pariwisata dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Jalan Asia-Afrika

Sejak dibukanya Jalan Tol Cipularang, kota Bandung telah menjadi tujuan utama dalam menikmati liburan akhir pekan terutama dari masyarakat yang berasal dari Jakarta sekitarnya. Selain menjadi kota wisata belanja, kota Bandung juga dikenal dengan sejumlah besar bangunan lama berarsitektur peninggalan Belanda, diantaranya Gedung Sate sekarang berfungsi sebagai kantor pemerintah provinsi Jawa Barat, Gedung Pakuan yang sekarang menjadi tempat tinggal resmi gubernur provinsi Jawa Barat, Gedung Dwi Warna atau Indische Pensioenfonds sekarang digunakan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk Kantor Wilayah XII Ditjen Pembendaharaan Bandung[34], Villa Isola sekarang digunakan Universitas Pendidikan Indonesia, Stasiun Hall atau Stasiun Bandung dan Gedung Kantor Pos Besar Kota Bandung.

Kota Bandung juga memiliki beberapa ruang publik seni seperti museum, gedung pertunjukan dan galeri diantaranya Gedung Merdeka, tempat berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pada tahun 1955,[35] Museum Sri Baduga, yang didirikan pada tahun 1974 dengan menggunakan bangunan lama bekas Kawedanan Tegallega,[36] Museum Geologi Bandung, Museum Wangsit Mandala Siliwangi, Museum Barli, Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Gedung Indonesia Menggugat dahulunya menjadi tempat Ir. Soekarno menyampaikan pledoinya yang fenomenal (Indonesia Menggugat) pada masa penjajahan Belanda, Taman Budaya Jawa Barat (TBJB) dan Rumentang Siang.

Kota ini memiliki beberapa kawasan yang menjadi taman kota, selain berfungsi sebagai paru-paru kota juga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat di kota ini. Kebun Binatang Bandung merupakan salah satu kawasan wisata yang sangat diminati oleh masyarakat terutama pada saat hari minggu maupun libur sekolah, kebun binatang ini diresmikan pada tahun 1933 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda dan sekarang dikelola oleh Yayasan Margasatwa Tamansari.[37] Selain itu beberapa kawasan wisata lain termasuk pusat perbelanjaan maupun factory outlet juga tersebar di kota ini diantaranya, di kawasan Jalan Braga, kawasan Cihampelas, Cibaduyut dengan pengrajin sepatunya dan Cigondewah dengan pedagang tekstilnya. Puluhan pusat perbelanjaan sudah tersebar di kota Bandung, beberapa di antaranya Istana Plaza Bandung, Bandung Indah Plaza, Paris Van Java Mall, Cihampelas Walk, Trans Studio Mall, Bandung Trade Center, Plaza Parahyangan, Balubur Town Square, dan Metro Trade Centre. Terdapat juga pusat rekreasi modern dengan berbagai wahana seperti Trans Studio Resort Bandung, Trans Studio Bandung, yang terletak pada lokasi yang sama dengan Trans Studio Mall.

Sementara beberapa kawasan pasar tradisional yang cukup terkenal di kota ini diantaranya Pasar Baru, Pasar Gedebage dan Pasar Andir. Potensi kuliner khususnya tutug oncom, serabi, pepes, dan colenak juga terus berkembang di kota ini.[38] Selain itu Cireng juga telah menjadi sajian makanan khas Bandung, sementara Peuyeum sejenis tapai yang dibuat dari singkong yang difermentasi, secara luas juga dikenal oleh masyarakat di pulau Jawa.

Kota Bandung dikenal juga dengan kota yang penuh dengan kenangan sejarah perjuangan rakyat Indonesia pada umumnya, beberapa monumen telah didirikan dalam memperingati beberapa peristiwa sejarah tersebut, diantaranya Monumen Perjuangan Jawa Barat, Monumen Bandung Lautan Api, Monumen Penjara Banceuy, Monumen Kereta Api dan Taman Makam Pahlawan Cikutra.

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Masyarakat kota Bandung dan sekitarnya merupakan pengemar fanatik atau dikenal dengan istilah bobotoh untuk Persib Bandung, yaitu sebuah klub sepak bola yang bermain di kompetisi Liga Super Indonesia yang berdiri sejak tahun 1933 [39], klub ini menggunakan Stadion Siliwangi namun pada musim kompetisi LSI 2009-2010 Stadion Si Jalak Harupat juga digunakan klub ini untuk pertandingan kandang. Rencananya mulai tahun 2013 Persib Bandung menggunakan Stadion Gelora Bandung Lautan Api di kawasan Bandung Timur sebagai markas dan tempat untuk laga kandang, Selain itu di kota ini terdapat juga beberapa klub sepak bola lain yang bermain di Liga Super Indonesia yaitu Pelita Bandung Raya. Garuda Speedy Bandung[40] merupakan sebuah klub basket yang bermarkas di kota ini dan bermain pada kompetisi NBL Indonesia.

Media[sunting | sunting sumber]

Radio[sunting | sunting sumber]

Kota Bandung juga memiliki beberapa terdiri dari 79-stasiun radio bersiaran lokal seperti:

Frekuensi Signal Nama Stasiun
540-KHz AM Radio Programma 4 Radio Republik Indonesia
702-KHz Radio Bravo Medika
810-KHz Radio Kandaga
828-KHz Radio Kharisma
840-KHz Radio Programma 3 Radio Republik Indonesia
918-KHz Radio Debora
930-KHz Radio Programma 2 Radio Republik Indonesia
936-KHz Radio Budaya Sari
1116-KHz Radio Barani
1170-KHz Radio Dios
1215-KHz Radio Programma 1 Radio Republik Indonesia
1224-KHz Radio Sonata
1277-KHz Radio Trios
1314-KHz Radio Mutiara
1458-KHz Radio Fajri
1476-KHz Radio Rodja
87.7-MHz FM Radio Hard Rock Bandung Radio Hard Rock
88.1-MHz Radio Sonora Bandung Radio Sonora
88.5-MHz Radio Mora
88.9-MHz Radio Auto
89.3-MHz Radio Berita Bandung Radio Elshinta News and Talk
89.7-MHz Radio Global Bandung Radio Global
90.1-MHz Radio Zora
90.5-MHz Radio Sky
90.9-MHz Radio Lita
91.3-MHz Radio SINDO Trijaya Bandung Radio SINDO Trijaya
91.7-MHz Radio CBL
92.1-MHz Radio Mei Sheng
92.4-MHz Radio Bisnis Bandung Radio Pas (Radio Bisnis Jakarta)
92.5-MHz Radio Maestro
92.9-MHz Radio Arus Rizki
93.3-MHz Radio Walagri
93.5-MHz Radio ROC
93.7-MHz Radio Paramuda
94.1-MHz Radio Q
94.4-MHz Radio Delta Bandung Radio Delta
94.8-MHz Radio ON
95.2-MHz Radio Sunda
95.6-MHz Radio B
96.0-MHz Radio Programma 2 Radio Republik Indonesia
96.2-MHz Radio Bobotoh
96.4-MHz Radio Female Bandung Radio Female
96.8-MHz Radio Kencana
97.0-MHz Radio Programma 1 Radio Republik Indonesia
97.2-MHz Radio Shinta
97.6-MHz Radio Programma 3 Radio Republik Indonesia
98.0-MHz Radio Mayanada
98.4-MHz Radio Prambors Bandung Radio Prambors
98.8-MHz Radio Raka
99.2-MHz Radio KLCBS
99.6-MHz Radio Dangdut Indonesia Bandung Radio Dangdut Indonesia
100.0-MHz Radio 19
100.1-MHz Radio Programma 4 Radio Republik Indonesia
100.4-MHz Radio Suara Bandung Pikiran Rakyat
100.7-MHz Radio 911
100.8-MHz Radio OB
100.9-MHz Radio Candra
101.1-MHz Radio MGT
101.5-MHz Radio Dahlia
101.9-MHz Radio Cosmo
102.3-MHz Radio Rase
102.7-MHz Radio MQ
103.1-MHz Radio OZ
103.5-MHz Radio Chevy
103.9-MHz Radio Hits
104.3-MHz Radio U
104.7-MHz Radio Rama
105.1-MHz I-Radio Bandung I-Radio
105.5-MHz Radio Garuda
105.9-MHz Radio Ardan
106.3-MHz Radio Urban
106.7-MHz Radio Mara Ghita
106.9-MHz Radio K-Lite
107.1-MHz Radio Gitanada
107.2-MHz Radio Mustika
107.3-MHz Radio Rakita
107.4-MHz Radio Alfa
107.5-MHz Radio Pikiran Rakyat (PR)
107.6-MHz Radio Suara Kemanusiaan

Surat kabar[sunting | sunting sumber]

Kota Bandung juga memiliki beberapa tediri dari 14-surat kabar yang terbit di kota ini antara lain:

Nama Jenis Jaringan Perusahaan Bahasa
Koran SINDO Edisi Jawa Barat Nasional Koran SINDO SINDOMedia
(melalui MNC)
Indonesia
Suara Pembaruan Edisi Jawa Barat Suara Pembaruan BeritaSatu Media Holdings
Republika Edisi Jawa Barat Republika Mahaka Media
Kompas Edisi Jawa Barat Kompas Kompas Gramedia
Bisnis Indonesia Edisi Jawa Barat Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika
Media Indonesia Edisi Jawa Barat Media Indonesia Media Group
Koran Tempo Edisi Jawa Barat Koran Tempo Tempo Media
The Jakarta Post Bandung Edition The Jakarta Post Kompas Gramedia Inggris
Pikiran Rakyat Lokal Pikiran Rakyat Pikiran Rakyat Indonesia
Galamedia
Radar Bandung Jawa Pos Grup Jawa Pos
Bandung Ekspres
Tribun Bandung Kompas Kompas Gramedia
Bisnis Bandung Bisnis Indonesia Jurnalindo Aksara Grafika

Televisi[sunting | sunting sumber]

Terrestrial televisi[sunting | sunting sumber]

Kota Bandung juga memiliki beberapa terdiri dari 26-stasiun televisi (16-siaran nasional dan 10-siaran lokal) seperti:

Kanal Signal Frekuensi Nama Jaringan Nama Perusahaan Ternama(PT) Pemilik Status Negara
21 479.250-MHz UHF Bloomberg TV Indonesia Bloomberg Television Bloomberg Televisi Indonesia Bloomberg L.P. Nasional  Indonesia
22 479.250-MHz SINDOtv Bandung SINDOtv PT Sun Televisi Network SINDOMedia (Media Nusantara Citra) Lokal
23 487.250-MHz MNC Business Bandung MNC Business MNC Sky Vision (Media Nusantara Citra)
24 495.250-MHz Garuda Vision TV O Channel PT Garuda Bintang Anggada
PT Omni Intivision
Surya Citra Media (Elang Mahkota Teknologi)
26 511.250-MHz I Channel BeritaSatu News Channel PT Bandung Media Visual BeritaSatu Media Holdings
28 527.250-MHz SBO TV Bandung SBO TV PT Surabaya Televisi Indonesia Jawa Pos Multimedia Corporation (Jawa Pos Group)
30 543.250-MHz NET. Bandung NET. PT Net Mediatama Indonesia Grup Indika Nasional
32 559.250-MHz MNC News Bandung MNC News MNC Sky Vision (Media Nusantara Citra) Lokal
34 575.250-MHz Kompas TV Jawa Barat Kompas TV PT Gramedia Media Nusantara Kompas Gramedia
36 591.250-MHz RTV Bandung Rajawali Televisi PT Televisi Nusantara Indonesia Rajawali Corpora Nasional
38 607.250-MHz Bandung TV Indonesia Network PT Bandung Media Televisi Indonesia Kelompok Media Bali Post Lokal
40 623.250-MHz TVRI Nasional Televisi Republik Indonesia Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia Pemerintah Indonesia Nasional
TVRI Jawa Barat Pemeritah Jawa Barat Lokal
42 639.250-MHz Trans TV PT Televisi Transformasi Indonesia Trans Media (Trans Corp) Nasional
44 655.250-MHz Trans7 PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh
46 671.250-MHz Global TV PT Global Informasi Bermutu Media Nusantara Citra
48 687.250-MHz tvOne PT Lativi Media Karya Visi Media Asia
50 703.250-MHz RCTI PT Rajawali Citra Televisi Indonesia Media Nusantara Citra
51 711.250-MHz Antara News Channel Lembaga Kantor Berita Nasional Antara
52 719.250-MHz SCTV PT Surya Citra Televisi Surya Citra Media (Elang Mahkota Teknologi)
53 727.250-MHz CNN Indonesia CNN Cable News Network Indonesia Trans Media dan Turner Broadcasting System (Trans Corp dan Time Warner)
54 735.250-MHz Indosiar PT Indosiar Visual Mandiri Surya Citra Media (Elang Mahkota Teknologi)
56 751.250-MHz Metro TV PT Media Televisi Indonesia Media Group
58 767.250-MHz ANTV PT Cakrawala Andalas Televisi Visi Media Asia
60 783.250-MHz MQTV PT Manajemen Qolbu Televisi Abdullah Gymnastiar Lokal
62 799.250-MHz MNCTV PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia Media Nusantara Citra Nasional

Televisi berlangganan[sunting | sunting sumber]

Kota Bandung juga memiliki beberapa televisi berlangganan seperti:

Musik dan Hiburan[sunting | sunting sumber]

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional masyarakat Sunda di kota ini dan Jawa Barat pada umumnya, alat musik ini terbuat dari bahan bambu.

Bandung banyak melahirkan penyanyi dan grup musik besar di tanah air. Sejumlah grup musik besar yang dibentuk di Bandung antara lain Noah, The Titans, Setia Band, SM*SH, Burgerkill, Putri Penelope, Ungu, Rida Sita Dewi, Cokelat, Pas Band, Mocca dan The Changcuters. Penyanyi dari Bandung antara lain: Nazril Irham, Meistika Senichaksana, Donita, Anisa Rahma, Lala Karmela, Rita Effendy, Irene Justine, Tamara Bleszynski, Salman Aditya, Sammy Simorangkir, Sherina Munaf, Nita Thalia, Meriam Bellina, Shinta Dewi, Ruth Sahanaya, Nuri Maulida, Adinda Purnama Adi, Dewi Lestari, Novia Kolopaking, Nicky Astria dan Nike Ardilla.

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Kota kembar[sunting | sunting sumber]

Kota-kota lain yang menjadi bagian dari proyek kota kembar dari kota Bandung adalah:

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Mohamad Amin Madani (16 September 2013). "Ridwan Kamil Resmi Dilantik Jadi Wali Kota Bandung Periode 2013 - 2018". Republika Online. Diakses 18 September 2013. 
  2. ^ Yat, H.Y., (1973), Development of higher education in Southeast Asia: problems and issues, Regional Institute of Higher Education and Development.
  3. ^ Toer, K.S., Kamil, E., (1999), Kronik revolusi Indonesia, Vol. 1, Kepustakaan Populer Gramedia, ISBN 978-979-9023-27-8.
  4. ^ Plummer, B.G., (2003), Window on freedom: race, civil rights, and foreign affairs, 1945-1988, UNC Press, ISBN 978-0-8078-5428-0.
  5. ^ See, S.T., Acharya, A., (2009), Bandung Revisited: The Legacy of the 1955 Asian-African Conference for International Order, NUS Press, ISBN 978-9971-69-393-0.
  6. ^ Rafael V. L., Mrázek R., (1990), Figures of criminality in Indonesia, the Philippines, and colonial Vietnam, SEAP Publications, ISBN 978-0-87727-724-8.
  7. ^ Suherman, S.A., (2009), Made in Bandung, DAR! Mizan, ISBN 978-979-752-872-0.
  8. ^ Suganda, Her, (2007), Jendela Bandung: pengalaman bersama Kompas, Penerbit Buku Kompas, ISBN 978-979-709-335-8.
  9. ^ www.bandung.go.id Iklim dan Wilayah (diakses pada 14 Juli 2010)
  10. ^ "Bandung Dalam Angka tahun 2003" (pdf). www.bandung.go.id. 2003. Diakses 2010-07-15. 
  11. ^ a b Edi Suhardi Ekajati, Sobana Hardjasaputra, Ietje Mardiana, (1985), Sejarah Kota Bandung, 1945-1979, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  12. ^ www.ar.itb.ac.id Bandung Colonial City Revisited (diakses pada 14 Juli 2010)
  13. ^ jabar.bps.go.id Jumlah Penduduk Kota Bandung
  14. ^ Oey E., (2001), Java, Tuttle Publishing, ISBN 962-593-244-5
  15. ^ Sariyun, Y., Martodirdjo, H.S., (1993), Pembinaan disiplin di lingkungan masyarakat kota di Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.
  16. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Detik
  17. ^ nisn.jardiknas.org Data Siswa
  18. ^ www.depkes.go.id Profil kesehatan kota Bandung (diakses pada 15 Juli 2010)
  19. ^ Sihombing, J., (2004), Identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya kinerja pelaksanaan administratif Badan Koordinasi Transportasi Jalan (Bakortrans Jalan) kota Bandung, Skripsi, Departemen Teknik Planologi, ITB.
  20. ^ a b Kartajaya, Hermawan, (2005), Attracting tourists, traders, investors: strategi memasarkan daerah di era otonomi, Gramedia Pustaka Utama, ISBN 978-979-22-1284-6.
  21. ^ diskimrum.jabarprov.go.id Jalan Layang Pasupati Belum Atasi Kemacetan (diakses pada 22 Juli 2010)
  22. ^ pustaka.pu.go.id Jembatan Layang Pasopati (diakses pada 22 Juli 2010)
  23. ^ Berkmoes, R.V., (2010), Lonely Planet Indonesia, Lonely Planet, ISBN 978-1-74104-830-8
  24. ^ metrotvnews.com Trans Metro Bandung Dioperasikan (diakses pada 22 Juli 2010)
  25. ^ Polisi Kawal Operasi Perdana Trans Metro Bandung (diakses pada 22 Juli 2010)
  26. ^ www.antaranews.com Menristek Canangkan Pembangunan PLTSa Gedebage (diakses pada 15 Juli 2010)
  27. ^ www.apeksi.or.id PLTSa Gedebage Baru Selesai 2012 (diakses pada 15 Juli 2010)
  28. ^ www.pambdg.co.id Cakupan Layanan (diakses pada 15 Juli 2010)
  29. ^ Chilton J., (1999), Groundwater in the Urban Environment: Selected city profiles, Taylor & Francis, ISBN 978-90-5410-924-2.
  30. ^ www.bandung.go.id PDAM Kota Bandung Upayakan Pelestarian Kawasan Sumber Air Baku (diakses pada 15 Juli 2010)
  31. ^ www.pikiran-rakyat.com PDAM Kota Bandung Terkendala Mata Air (diakses pada 15 Juli 2010)
  32. ^ jabar.bps.go.id Tenaga Kerja (diakses pada 16 Juli 2010)
  33. ^ a b www.bi.go.id Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Barat Triwulan I-2010 (diakses pada 16 Juli 2010)
  34. ^ www.perbendaharaan.go.id Kanwil XII Ditjen PBN Bandung (diakses pada 16 Juli 2010)
  35. ^ www.asianafrican-museum.org Gedung Merdeka (The Venue of the Asian African Conference) (diakses pada 16 Juli 2010)
  36. ^ www.museum-indonesia.net Museum Sri Baduga (diakses pada 20 Juli 2010)
  37. ^ www.bandungtourism.com Yayasan Margasatwa Tamansari (Jubileumpark), Museum & Pendidikan (diakses pada 20 Juli 2010)
  38. ^ www.klik-galamedia.com Week-end Frestival Kembangkan Potensi Kuliner Kota Bandung (diakses pada 20 Juli 2010)
  39. ^ "Sejarah Lengkap PERSIB Bandung". www.persibhistory.com. 
  40. ^ "Statistik Tim Garuda Speedy Bandung". NBLIndonesia.com. Diakses 17 Juli 2012. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Kota-kota besar di Indonesia
  Kota Provinsi Populasi     Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.989.550 Kota Bandung
Kota Bandung
7 Depok Jawa Barat 1.738.570
2 Surabaya Jawa Timur 2.813.847 8 Semarang Jawa Tengah 1.555.984
3 Bandung Jawa Barat 2.536.649 9 Palembang Sumatera Selatan 1.763.475
4 Bekasi Jawa Barat 2.098.805 10 Makassar Sulawesi Selatan 1.338.663
5 Medan Sumatera Utara 2.097.610 11 Tangerang Selatan Banten 1.290.322
6 Tangerang Banten 1.798.601 12 Batam Kepulauan Riau 1.153.860