Kota Banjarbaru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Banjarbaru
Lambang Kota Banjarbaru
Lambang Kota Banjarbaru
Moto: Gawi Sabarataan (Bekerja Semua)
Semboyan:Kota Idaman
Tugu Adipura Kota Banjarbaru.jpg
Lokasi Kalimantan Selatan Kota Banjarbaru.svg
Peta lokasi Kota Banjarbaru
Koordinat: 114°45' - 114°45' BT dan 3°27' - 3°29' LS
Provinsi Kalimantan Selatan
Dasar hukum UU No. 9 Tahun 1999
Tanggal 20 April 1999
Pemerintahan
 - Walikota Ruzaidin Noor
 - DAU Rp. 358.995.070.000.-(2013)[1]
Luas 371,30 km²
Populasi
 - Total 199.359 jiwa (2010)
 - Kepadatan 606
Demografi
 - Kode area telepon 0511
 - Bandar udara Syamsuddin Noor
Pembagian administratif
 - Kecamatan 5
 - Kelurahan 20
 - Situs web http://www.banjarbarukota.go.id/
Tugu selamat datang di Kota Banjarbaru.
Kawasan Simpang Empat (0 km Jl. Pangeran H. Muhammad Noor, sekarang berdiri tugu baru) pada latitude: 3°26'35.51"S dan longitude: 114°50'51.73"E
Kawasan Jl. Ahmad Yani Banjarbaru.

Kota Banjarbaru adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota Banjarbaru dahulu merupakan sebuah kota administratif yang dimekarkan dari Kabupaten Banjar. Jauh di masa sebelumnya sebagian besar wilayahnya merupakan Kawedanan Ulin di dalam Kabupaten Banjar.

Kota Banjarbaru berdiri pada tanggal 20 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999. Kota Banjarbaru memiliki luas wilayah 371,30 km² (37.130 ha) atau 3,8 x luas Banjarmasin atau ½ luas Jakarta. Seluruh wilayah Kota Banjarbaru merupakan bagian dari kawasan perkotaan Banjar Bakula.[2][3] Banjarbaru terbagi atas 5 kecamatan dan 12 kelurahan.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kota Banjarbaru terletak pada koordinat 03°27' s/d 03°29' LS dan 114°45' s/d 114°45' BT. Posisi geografis Kota Banjarbaru terhadap Kota Banjarmasin adalah 35 km pada arah 296°30' sebelah tenggara Kota Banjarmasin, sedangkan posisi terhadap Martapura, Kabupaten Banjar adalah 5 km pada arah 55°30' sebelah barat daya Kota Martapura. Kota Banjarbaru merupakan kota penghasil intan yang terdapat di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru yang merupakan pusat pemukiman atau perkampungan tertua yang ada di kota ini.

Wilayah Kota Banjarbaru berada pada ketinggian 0–500 m dari permukaan laut, dengan ketinggian 0–7 m (33,49%), 7-25 m (48,46%), 25-100 m (15,15%), 100-250 m (2,55%) dan 250-500 m (0,35%).

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kota Banjarbaru terdiri dari lima kecamatan, antara lain:

  1. Banjarbaru Selatan
  2. Banjarbaru Utara
  3. Cempaka
  4. Landasan Ulin
  5. Liang Anggang

Geologi[sunting | sunting sumber]

Adapun kondisi fisik tanah yang dapat dipergunakan untuk menggambarkan kondisi efektif pertumbuhan tanaman adalah kelerengan, kedalaman efektif tanah, drainase dan keadaan erosi tanah dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Klasifikasi kelerengan Kota Banjarbaru adalah:
    • 0-2% yang mencakup 59,35 persen luas wilayah
    • 2-8% yang mencakup 25,78 persen wilayah
    • 8-15% mencakup 12,08 persen wilayah.
  • Klasifikasi kedalaman efektif tanah terbagi dalam empat kelas, yaitu: <30 cm, 30-60 cm, 60-90 cm dan >90 cm. Kota Banjarbaru secara umum mempunyai kedalaman efektif lebih 90 cm dimana jenis-jenis tanaman tahunan akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
  • Drainase di Kota Banjarbaru tergolong baik, secara umum tidak terjadi penggenangan. Namun ada daerah yang tergenang periodik, yaitu tergenang kurang dari 6 (enam) bulan, terdapat di Kecamatan Landasan Ulin yang merupakan peralihan daerah rawa (persawahan) di Kecamatan Gambut dan Aluh-Aluh.
  • Berdasarkan Peta Kemampuan Tanah Skala 1:25.000, erosi tidak terjadi di wilayah Kota Banjarbaru.
  • Berdasarkan Peta Geologi tahun 1970, batuan di Kota Banjarbaru terdiri dari:
    • Alluvium (Qha) 48,44 persen
    • Martapura (Qpm) 37,71 persen
    • Binuang (Tob) 3,64 persen
    • Formasi Kerawaian (Kak) 2,26 persen
    • Formasi Pitap 3,47 persen
  • Jenis tanah terbentuk dari faktor-faktor pembentuk tanah antara lain: batuan induk, iklim, topografi, vegetasi dan waktu. Tiap jenis tanah mempunyai karakteristik tertentu yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Karakteristik tanah tersebut misalnya berkaitan tingkat kepekaan nya terhadap erosi, kesuburan tanah, tekstur tanah dan konsistensi tanah.
  • Berdasarkan peta skala 1:50.000 yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Tanah Bogor tahun 1974, di wilayah Kota Banjarbaru terdapat 3 (tiga) kelompok jenis tanah, yaitu:
    • Podsolik 63,82 persen
    • Latosol 6,36 persen
    • Organosol 29,82 persen

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas wilayah Kota Banjarbaru sebagai berikut:

Utara Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar
Selatan Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut
Barat Kecamatan Gambut dan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar
Timur Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar

Lambang Daerah[sunting | sunting sumber]

Lambang daerah Kota Banjarbaru memiliki arti sebagai berikut:

  1. Bintang bersudut lima, menggambarkan Pancasila sebagai falsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia.
  2. Pilar kiri dan kanan, menggambarkan Kota Banjarbaru sebagai kota 4 (empat) dimensi, yakni pusat Pemerintahan, Pendidikan, Industri dan Permukiman, selain itu pilar kiri dan kanan juga menggambarkan gerbang transportasi udara dari dan ke Kalimantan Selatan. Jumlah petak pada kiri dan kanan masing–masing 10 buah dengan jumlah seluruhnya 20 buah menggambarkan tanggal berdirinya Pemerintah Kota Banjarbaru. Pilar kiri dan kanan masing-masing berjumlah 2 (dua) buah dengan jumlah seluruhnya 4 (empat) buah menggambarkan bulan April, yaitu berdirinya Pemerintah Kota Banjarbaru.
  3. Pita berwarna hijau, bertuliskan Gawi Sabarataan, menunjukkan motto Kota Banjarbaru.
  4. Buku, menggambarkan Banjarbaru sebagai Kota Pelajar dan Pusat Pendidikan karena terdapat prasarana dan sarana penunjang pendidikan yang memadai dari disiplin ilmu.
  5. Alat Linggang, menggambarkan pendulangan tradisional intan cempaka yang terdapat di Kecamatan Cempaka dan merupakan objek wisata budaya dan sejarah di Kota Banjarbaru.
  6. Museum Lambung Mangkurat, sebagai objek wisata dan sejarah dan budaya yang diapit rumah menggambarkan Kota Banjarbaru sebagai Pusat Pemerintahan dan Pusat Permukiman.
  7. Roda (gir), menggambarkan roda industri dan perdagangan karena di Kota Banjarbaru sangat potensial menjadi daerah industri dan perdagangan.
  8. Perisai, menggambarkan sebagai alat pelindung dalam mencapai cita-cita luhur bangsa (Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945) dan Pembangunan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Penduduk asli kota Banjarbaru adalah Suku Banjar. Suku pendatang yang banyak mendiami kota Banjarbaru yaitu Suku Jawa, Suku Sunda dan Suku Madura.

Jumlah penduduk di Kota Banjarbaru adalah sebanyak 123.973 jiwa (2000) yang terdiri dari beberapa suku bangsa antara lain:[4]

  1. Suku Banjar: 75.537 jiwa
  2. Suku Jawa: 37.975 jiwa
  3. Suku Sunda: 2.319 jiwa
  4. Suku Buket: 1.728 jiwa
  5. Suku Madura: 1.180 jiwa
  6. Suku Bugis: 947 jiwa
  7. Suku Bakumpai: 85 jiwa
  8. Suku Mandar: 6 jiwa
  9. Lainnya: 4.340 jiwa

Sejarah Banjarbaru[sunting | sunting sumber]

  • Gunung Apam

Wilayah Banjarbaru sekarang, dulunya adalah perbukitan di pinggiran Kota Martapura yang dikenal dengan nama Gunung Apam. Daerah Gunung Apam dikenal sebagai daerah persitirahatan buruh-buruh penambang intan selepas menambang di Cempaka.

Pada era tahun 1950-an, Gubernur dr. Murdani dibantu seorang perencana Van der Pijl merancang Banjarbaru sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan. Namun pada perjalanan selanjutnya, perencanaan ini terhenti sampai pada perubahan status Kota Banjarbaru menjadi Kota Administratif.

Nama banjarbaru sedianya hanyalah nama sementara yang diberikan Gubernur dr. Murjani, untuk membedakan dengan Kota Banjarmasin, yaitu kota baru di Banjar. Namun akhirnya melekat nama Banjarbaru sampai sekarang.

Sebagai kota administratif, Kota Banjarbaru berada dalam lingkungan Kabupaten Banjar, dengan ibukotanya Martapura. Jadi Kota Banjarbaru merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar.

Kota Banjarbaru berdiri berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 9 Tahun 1999.

Lahirnya UU tersebut menandai berpisahnya Kota Banjarbaru dari Kabupaten Banjar yang selama ini merupakan daerah administrasi induk. Kota Banjarbaru yang sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif, sempat berpredikat sebagai kota administratif tertua di Indonesia.

Kini, jumlah penduduk di Kota Banjarbaru terus berkembang dengan adanya perpindahan penduduk dari luar Kota Banjarbaru, baik dari Kalimantan sendiri maupun dari luar Kalimantan. Perkembangan penduduk ini beriringan dengan semakin terbukanya wilayah Kota Banjarbaru, baik untuk kawasan permukiman serta Bandar Udara Syamsudin Noor maupun peruntukan yang lain.

  • Gunung Apam termasuk wilayah Kampung Guntung Payung, Kampung Jawa, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
  • 1951, Gubernur dr. Murdjani menyampaikan usulan untuk merancang Gunung Apam menjadi Kota Banjarbaru sebagai calon Ibukota Provinsi Kalimantan.
  • 1953, pembangunan perkantoran dan pemukiman di Banjarbaru, dirancang oleh D.A.W. Van der Peijl.
  • 9 Juli 1954, Gubernur K.R.T. Milono mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota Provinsi Kalimantan ke Banjarbaru, namun tidak ada realisasi.
  • 27 Juli 1964, DPRD-GR Kalimantan Selatan mengeluarkan resolusi agar Banjarbaru ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
  • 6 Oktober 1965, Panitia Penuntut Kotamadia Banjarbaru menuntut agar meningkatkan status Banjarbaru menjadi daerah tingkat II/kotapraja dan mendesak direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
  • 12 Oktober 1965, DPRD-GR Tingkat II Banjar di Martapura mendukung desakan direalisirnya kota Banjarbaru menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
  • 17 Agustus 1968, penetapan status Banjarbaru sebagai Kota Administratif.
  • 27 April 1999, penetapan status Banjarbaru sebagai Kotamadya.

Daftar wali kota[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar wali kota administratif dan wali kota Banjarbaru dari tahun 1966 hingga sekarang :

No. Periode Nama Keterangan
1 1966-1970 H. Baharuddin, BA Wali kota Administratif
2 1970-1975 H. Abd. Gaffar Hanafiah Wali kota Administratif
3 1975-1981 H. Abdul Moeis Wali kota Administratif
4 1981-1983 Drs. H. Abdurrahman Wali kota Administratif
5 1983-1984 Drs. H. Edy Rosasi Wali kota Administratif
6 1984-1986 Drs. H. Zawawi M. Aini Wali kota Administratif
7 1986-1990 Drs. H. Yuliansyah Wali kota Administratif
8 1990-1993 Drs. H. Raymullan Wali kota Administratif
9 1993-1998 Drs. H. Hamidhan B. Wali kota Administratif
10 1998-2000 Drs. H. A. Fakhrulli Wali kota Administratif
11 2000-2005 Drs. H. Rudy Resnawan Wali kota
12 2005 Drs. H. Hadi Soesilo Pejabat Wali kota
13 2005-2010 Drs. H. Rudy Resnawan Wali kota
14 2010-2015 Ruzaidin Noor Wali kota

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 
  2. ^ Kalsel Bakal Miliki Lima Kota Metropolitan
  3. ^ http://www.ijsrp.org/research_paper_apr2012/ijsrp-apr-2012-61.pdf
  4. ^ (Sumber: Badan Pusat Statistik - Sensus Penduduk Tahun 2000)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]