Technische Hoogeschool te Bandoeng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari TH Bandung)
Langsung ke: navigasi, cari
Technische Hoogeschool te Bandoeng
Lambang TH te Bandoeng[1]:5
Didirikan 3 Juli 1920 - 8 Maret 1942
Jenis

3 Juli 1920 sebagai Perguruan tinggi swasta

sejak 18 Oktober 1924 sebagai Perguruan tinggi negeri Hindia Belanda
Lokasi Hoogeschoolweg[note 1]Bandung, Jawa Barat, Hindia Belanda, Telepon: Bd 1166[2]
Kampus Urban
Julukan TH Bandung; THS
Kampus TH Bandung dilihat dari IJzermanpark (Taman Ganesha), dari kiri ke kanan adalah Barakgebouw A (Aula Barat), kantor Sekretaris TH (sekarang Kantor Dekan FTSL), gerbang utama, kantor Pedel TH (sekarang Kantor Dekan FSRD), dan Barakgebouw B (Aula Timur), tampak di kejauhan searah garis lurus poros tengah kampus adalah Gunung Tangkuban Parahu
Barakgebouw B (sekarang Aula Timur) dilihat dari plaza gerbang utama TH Bandung pada saat tanaman bougainvillea sudah merimbun
Interior Barakgebouw B Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang menjadi Aula Timur ITB) menjelang rampungnya pelaksanaan konstruksi tahun 1920.

Technische Hoogeschool te Bandoeng[note 2] biasa disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung, THB, atau THS, adalah perguruan tinggi teknik pertama sekaligus lembaga pendidikan tinggi pertama di Hindia Belanda[note 3] yang dibuka sejak 3 Juli 1920 berkedudukan di Kota Bandung, atas prakarsa badan swasta Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië.[note 4]

Daftar isi

Pada mulanya[sunting | sunting sumber]

Sampai sekitar tahun 1910, hampir semua pihak sepakat bahwa belumlah perlu untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi di Hindia Belanda. Baru pada permulaan abad ke-20 masalah pendirian perguruan tinggi di Hindia Belanda menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan elite Belanda dan para pemuka bumiputera. Dari bahan bacaan yang diterbitkan di berbagai majalah, laporan, dan surat kabar terungkap banyak pendapat yang merebak dalam rentang waktu 40 tahun terakhir kolonialisme Belanda, baik yang setuju maupun yang tidak mengenai perluasan pendidikan di Hindia Belanda. Kenyataan itu menunjukkan bahwa ada keraguan dan kebimbangan di pihak pemerintah kolonial untuk mendirikan suatu perguruan tinggi di Hindia Belanda.[5]:1

Pada tanggal 8 Maret 1910[6] pemerintah kolonial menyetujui pendirian Indische Universiteit Vereeniging (IUV) – Perhimpunan Universitas Hindia Belanda yang dalam statutanya menyebutkan IUV bertujuan memajukan, mendirikan, dan mengurus sekolah-sekolah tinggi Hindia Belanda.[5]:1 Namun hingga tahun 1912 Minister van Kolonien (Menteri Urusan Daerah Jajahan) belum memikirkan rencana pendirian suatu universitas di Hindia Belanda. Seandainya ada masyarakat Hindia Belanda yang berminat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka lebih baik mereka dikirim ke universitas di Negeri Belanda, dengan bantuan dana dari pemerintah Hindia Belanda.[5]:2 Beberapa tokoh bumiputera yang melanjutkan kuliah di Negeri Belanda di antaranya adalah Mohammad Hatta – sarjana ekonomi lulusan Nederland Handelshoogeschool (kini menjadi Universitas Erasmus Rotterdam); Sam Ratulangi - sarjana dan Doktor matematika pertama Indonesia lulusan Vrije Universiteit van Amsterdam; Ir. Wreksodiningrat alias Notodiningrat (Dekan FT UGM 1947-1951) - insinyur sipil pertama Indonesia lulusan TH Delft – sekarang Universitas Teknik Delft pada tahun 1916.[7]

Pada tahun 1918, Dr. Abdul Rivai (lulusan STOVIA dan orang bumiputera pertama yang meraih gelar Doctor in de Medicijnen, Chirurgie en Verloskunde dari Universiteit Gent Belgia – 23 Juli 1908) bersama 14 anggota Volksraad mengusulkan rencana pembentukan suatu universitas di Hindia Belanda. Pada kesempatan itu perdebatan mengenai batasan kata universiteit dan hooger onderwijs tidak terelakkan. Berdasarkan Hoogeronderwijswet (Undang-Undang Pendidikan Tinggi) Staatsblaad Koninklijk der Nederlanden No. 181 ditetapkan tanggal 6 Juni 1905 dinyatakan bahwa suatu universitas harus memiliki lima fakultas (Pasal 76) yaitu:

  • fakultas teologi
  • fakultas hukum
  • fakultas kedokteran
  • fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam
  • fakultas sastra dan filsafat

Sepertinya persyaratan ini cukup berat, karena untuk mendirikan ke lima fakultas tersebut tentunya membutuhkan sumber daya yang besar. Ditambah lagi dihadapkan pada kenyataan lain bahwa sampai saat itu sekolah setingkat SMA Umum hanya HBS (Hoogere Burgerschool)[note 2], itupun tidak banyak. AMS (Algemeene Middelbare School)[note 2] pertama di Indonesia (sekolah setingkat SMA sekarang) baru dibuka tahun 1919 di Yogyakarta[4]:24, padahal suatu universiteit dan hooger onderwijs mensyaratkan lulusan HBS sebagai sumber mahasiswanya dan bukan sekedar lulusan MULO (setingkat SMP) atau HIS/Inlandsche School (setingkat SD). Oleh karena itu masih jauh kiranya untuk mendirikan sekolah tinggi atau universitas, walaupun Direktur pertama NIAS Surabaya Dr. A. F. Sitsen mengusulkan agar universitas di Hindia Belanda terdiri dari beberapa sekolah tinggi yang didirikan tersebar di beberapa tempat.[5]:5

Itulah gambaran situasi berbagai wacana tentang pendirian universitas di Hindia Belanda, namun faktanya bahwa hingga Pemerintah Kolonial Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, belum ada universitas yang didirikan di Hindia Belanda.

Perang Dunia I yang mengubah pandangan[sunting | sunting sumber]

Daerah yang diarsir menunjukkan zona peperangan kapal selam tak terbatas yang diumumkan oleh Jerman pada 1 Februari 1917
Ruang untuk praktek pensurveian dan perataan tanah bagian Bangunan Jalan Kereta Api dan Bangunan Air di Sekolah Teknik - Technische School "Prinses Juliana School".[note 5]
rahmat karena perang? atau karena pertimbangan ekonomis?

Namun karena keadaan luar biasa yang diakibatkan oleh Perang Dunia I (1914-1918), pendapat yang merugikan ini tidak bisa dipertahankan. Industrialisasi yang berkembang di Hindia Belanda sangat membutuhkan tenaga insinyur yang terus meningkat, sementara lulusan HBS di kawasan Nusantara saat itu tidak bisa melanjutkan kuliahnya ke Technische Hoogeschool te Delft (sekarang Universitas Teknik Delft). Gagasan mula pendirianya terutama dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya perang tersebut. Walaupun Belanda dan negara jajahannya tidak terlibat dalam perang itu, situasi ekonominya mendapat tekanan yang amat berat. Hubungan perdagangan yang pada waktu itu hanya melalui laut menjadi sukar; bertambah lagi setelah Jerman menyatakan perang kapal selam tak terbatas dalam tahun 1917.[3]:1

Kemungkinan studi lanjutan bagi anak pribumi sangat kecil. Hanya anak priyayi tingkat atas yang dapat masuk HBS melalui ELS (Europeesche Lagere School - Sekolah Rendah Eropa yang diperuntukan bagi keturunan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka). Ijazah HBS memberikan kemungkinan yang lebar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di Belanda, dan memiliki hak yang sama seperti lulusan HBS di Belanda. Bila lulusannya tidak meneruskan studi, ijazah HBS memberikan jaminan hidup yang kuat dalam mencari pekerjaan.[3]:2

Setelah IUV gagal mengusulkan berdirinya universitas karena pemerintah menganggap Hindia Belanda belum waktunya memiliki universitas. Muncul Technisch Onderwijs Comissie yaitu suatu Komisi Pendidikan Teknik yang berkesimpulan bahwa di samping sekolah teknik yang sudah ada (Ambachtsschool - Sekolah Pertukangan atau Lagere technische school (LTS) - Sekolah Teknik Rendah, dengan lama studi 4 tahun di atas ELS atau HIS), di Hindia Belanda keadaannya telah mencukupi untuk mengadakan pendidikan 'insinyur' dengan program:

  • insinyur diploma A Middelbare Technische School (MTS) - Sekolah Teknik Menengah dengan lama studi 4 tahun yang menerima lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs - sekolah setingkat SMP waktu itu). Sekolah ini bentuknya kurang lebih mirip STM Pembangunan sekarang, yaitu sekolah teknik menengah program 4 tahun (contohnya di masa kini adalah SMK Negeri 1 Cimahi).
  • insinyur diploma B dengan lama studi 6 tahun yang menerima lulusan MULO. Konsepnya adalah menggabungkan pendidikan setingkat SMA (3 tahun) dan akademi (3 tahun), mengingat jumlah HBS terbatas dan AMS waktu itu belum ada, sehingga sulit mendapatkan lulusan HBS. Rupanya itu salah satu usulan solusi untuk mencetak insinyur. Jika ada yang "berbakat" tinggal meneruskan di TH Delft untuk menjadi Insinyur (dalam pengertian Sarjana Teknik). Pendidikan dalam satu paket tersebut sudah diterapkan oleh STOVIA dan NIAS yang menyaring siswanya dari lulusan SD (pada kurikulum tahun 1875)[9] dengan lama pendidikan 7 tahun (2 tahun bagian persiapan dan 5 tahun bagian kedokteran). Kemudian pada tahun 1913 lama pendidikan menjadi 10 tahun (3 tahun bagian persiapan dan 7 tahun bagian kedokteran) di mana lulusan MULO langsung diterima pada STOVIA tingkat III Bagian Persiapan, sedangkan lulusan HBS-V dan AMS-B langsung di tingkat II Bagian Kedokteran.[9] Suatu solusi yang tepat untuk mengantisipasi minimnya peminat lulusan HBS, walaupun mungkin bertentangan dengan Hoogeronderwijswet (Undang-Undang Pendidikan Tinggi) - sehingga baru tahun 1927 STOVIA ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool).
  • Selain itu pendapat minoritas dalam komisi tersebut menyarankan pendidikan insinyur (lama studi 4 tahun yg menerima lulusan HBS (pada waktu itu belum ada rencana untuk membuka AMS, sekolah setingkat SMA waktu itu hanya HBS), dan akhirnya justru pendapat minoritas itulah yang terpilih, bukan program setengah-setengah melainkan pendidikan tinggi yang sesungguhnya.

Sebagai gambaran berikut adalah kesetaraan tingkat pendidikan pada masa itu:

Sekolah umum sekarang Sekolah umum zaman kolonial Sekolah teknik zaman kolonial
SD
ELS - HIS - HCS
(7 tahun)
SMP
HBS
(5 tahun)
MULO
(4 tahun)
Ambachtsschool
(Sekolah Pertukangan 2 tahun)
Lagere technische school (LTS)
(Sekolah Teknik 4 tahun)
SMA
AMS
(3 tahun)
Middelbare technische school (MTS)
(Sekolah Teknik Menengah 4 tahun)
Universitas
Universiteit / Hoogeschool
(4-5 tahun)
Hogere technische school (HTS)
(Sekolah teknik yang lebih tinggi (dari MTS)
(3-4 tahun, setara Politeknik sekarang)
Technische Hoogeschool (THS)
(Sekolah Tinggi Teknik 5 tahun)[note 6]

Pada tanggal 18 Mei 1918 Volksraad (dewan perwakilan rakyat saat itu) dibuka dengan resmi. Kalangan pribumi tidak keras dalam tuntutan akan perlunya perguruan tinggi di Indonesia, tetapi justru para pengusaha Belanda yang menganggap penting dibukanya perguruan tinggi di Indonesia. Karena yang lebih menderita akibat terjadinya Perang Dunia I itu industri perkebunan dan perhubungan, maka yang mereka harap adalah perluasan dan peningkatan pendidikan keteknikan.[3]:4 Karena pemerintah kolonial sepertinya setengah hati dalam pendirian perguruan tinggi tersebut, maka para pengusaha itu pun mengambil alih upaya tersebut, dalam bentuk Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië, lembaga swasta inilah akhirnya yang merealisasi pendirian Technische Hoogeschool di Hindia Belanda - TH kedua setelah TH Delft.

Persiapan pendirian TH Bandung[sunting | sunting sumber]

dari wacana ke tindakan nyata

Pada tahun 1917 di Amsterdam Belanda, pembicaraan telah dimulai ke arah persiapan pendirian technische hoogeschool (sekolah tinggi teknik) di antara para pemuka bank, perdagangan, dan perusahaan.

Dalam tahun 1918 satu delegasi dari Indonesia datang ke Belanda, salah satu anggotanya adalah Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha perkebunan di Malabar, Pangalengan, selatan Kota Bandung. Delegasi ini menyokong berdirinya Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië - KIHTONI (Institut Kerajaan bagi Pendidikan Teknik Tinggi di Hindia Belanda) di Belanda (30 Mei 1917), suatu badan yang menyiapkan pendirian Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool). KIHTONI merupakan gabungan pemuka pengusaha swasta, wakil dari Ministerie van Kolonien (Kementerian Urusan Daerah Jajahan), dan wakil dari Koninklijk Instituut van Ingenieurs (semacam Persatuan Insinyur Belanda).

Dengan adanya orang yang berpengaruh, dalam waktu singkat terkumpul uang sebanyak tiga juta gulden, suatu jumlah yang dianggap cukup untuk mendirikan program studi Weg- en Waterbouwkunde (Bangunan jalan dan bangunan air).[3]:5 (ƒ 3.000.000,- pada tahun 1919 kurang lebih bernilai ƒ 37.289.177,- pada tahun 2011 atau lebih dari Rp 198 miliar, dihitung dengan Konversi nilai gulden dan Konversi ke Rupiah).

Pengurus umum kemudian membentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) untuk memimpin pelaksanaan selanjutnya dengan bantuan Technisch Onderwijs Comissie. Ketua Raad van Beheer semula adalah Dr. C. J. K. van Aalst, kemudian digantikan oleh Jan Willem IJzerman (dalam ejaan sebelumnya dituliskan "Yzerman", namun pada referensi berikutnya dituliskan "IJzerman"), sementara Dr. C. J. K. van Aalst menjadi Ketua Kehormatan. J. W. IJzerman dipercaya berhubung pengalamannya dalam perkereta-apian di Jawa dan Sumatera, dan pengetahuan kemasyarakatan Indonesia, termasuk sejarah kuno tentang Jawa dan Sumatera.

Nama organisasi Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië mengandung maksud bahwa semula yang akan didirikan adalah sebuah perguruan teknik pada tingkat di antara MTS di Belanda dan perguruan tinggi (Hogere technische school (HTS) dan bukan Technische Hoogeschool (THS); 'politeknik' dan bukan 'sekolah tinggi teknik'). Oleh karena itu, Prof. Ir. Jan Klopper, guru besar TH Delft, telah ditugasi menyusun program pendidikan/kurikulum sesuai maksud KIHTONI. Program tersebut memuat rencana memusat, di mana setelah tiga tahun studi – setingkat politeknik sekarang, lulusannya dapat bekerja sebagai middelbaar technicus (teknisi menengah), dan bagi yang pintar dapat meneruskan studi untuk keinsinyuran. Namun berbagai kalangan di Indonesia tidak menghendaki program “setengah-setengah” tersebut, tetapi menghendaki perguruan tinggi penuh - technische hoogeschool[3]:6 dan bukan “sekedar” setingkat hogere technische school atau politeknik.

Technisch Onderwijs Comissie yang diketuai Ir. Rudolf Adriaan van Sandick dan diperbantukan pada KIHTONI telah merencanakan program studi keinsinyuran untuk insinyur sipil dan insinyur kimia. Sebagai sumber mahasiswa diambil lulusan HBS-B yang telah ada di Indonesia, dan dari sekolah menengah/persiapan perguruan tinggi (VHO AMS-B) yang sedang direncanakan dan dibuka tahun 1919 di Yogyakarta.

Program ini pada prinsipnya disetujui, namun dengan catatan bahwa akan dipotong setengahnya, sehubungan dengan biaya pendirian yang sangat besar untuk insinyur teknik kimia, maka pada awal pendidikan insinyur kimia ditiadakan, dan telah ditetapkan untuk hanya mempersiapkan pendidikan untuk insinyur teknik sipil. Program studi secara prinsip meniru kurikulum TH Delft dengan modifikasi antara lain:

  • Kurikulum TH Bandung dirancang untuk studi selama 4 tahun, berbeda dengan TH Delft yaitu 5 tahun, dengan pertimbangan satu tahun pelajaran di Delft hanya memuat 25 minggu sementara di Bandung 40 minggu (4 x 40 = 160 > 5 x 25 = 125) – Sumber lain menyatakan satu tahun pelajaran di Delft memuat 28 minggu sementara di Bandung 35 minggu (4 x 35 = 140 ≡ 5 x 28 = 140)[10]. Masa ujian diambil 2 minggu, dan jumlah hari libur 10 minggu. Percepatan masa studi dari 5 tahun menjadi 4 tahun ini berkaitan dengan kebutuhan yang mendesak akan tenaga insinyur sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
  • Tidak ada vrije studie (studi bebas) di tingkat satu, dalam arti misalnya adanya keharusan kuliah (para mahasiswa diharuskan menandatangani daftar hadir).
  • Sebabnya mungkin diadakan 'tentamen' dalam tahun kuliah sebelum ujian akhir tahun.
  • Dosen menyediakan diktat yang agak lengkap (untuk mengantisipasi keterbatasan dalam mendapatkan text book di tanah jajahan).
  • Matematika dikonsentrasikan di tingkat satu, dan langsung ditujukan pada kegunaannya dalam bidang teknik.

Sementara itu di Indonesia Ir. Henri MacLaine Pont telah merencanakan bangunan yang bergaya Minangkabau (Minangkabau stijl), sedangkan kota tempat lokasi kampus belum ditetapkan. Kalangan di Belanda memikirkan pilihan antara Solo/Yogya atau Batavia/Bandung. Technisch Onderwijs Comissie mengusulkan di Jakarta, tetapi Burgemeester (Walikota) Bandung, Bertus Coops dengan tegas mengajukan bahwa kotanya bersedia menerima TH itu, sekaligus menunjukkan lokasi kampusnya di dalam Kota Bandung.[3]:7

Ketua Raad van Beheer J. W. IJzerman bersama Prof. Ir. Jan Klopper datang ke Indonesia pada tanggal 19 April 1919. Bersama dengan para pemuka di Indonesia, mereka mengadakan konferensi/beraudiensi dengan Gouverneur Generaal Jonkheer Mr. Johan Paul van Limburg Stirum di istana tanggal 1 Mei 1919. Gubernur Jenderal menerima pendirian sekolah tinggi teknik itu di Bandung dengan harapan bahwa perguruan tinggi itu dapat dibuka dalam tahun 1920.[note 7]

Dalam sidang Dewan Kota Bandung tanggal 3 Mei 1919 anggota dewan Eerdmans telah menekankan apa artinya penetapan tempat kedudukan tersebut bagi kota ini. Beliau menyebutnya sebagai suatu anugerah tertinggi dan membandingkannya dengan kehormatan kerajaan dari sesepuh Belanda yang diterima kota Leiden pada tahun 1579 untuk mendirikan suatu perguruan tinggi.

Organisasi dan status[sunting | sunting sumber]

Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië (KIHTONI) terdiri dari:

  • Raad van Beheer (Dewan Pengurus) dibantu Technisch Onderwijs Comissie (TOC)
  • College van Directeureun (Majelis Direktur) – Ketua: K. A. R. Bosscha; Sekretaris: Prof. Ir. Jan Klopper; Bendahara: Direktur Factorij van de Nederlandsche Handel Maatschappij te Batavia; yang mengurus kebutuhan material bagi TH Bandung mulai dari pembangunannya sampai kegiatan akademik berjalan (hingga diambil alih oleh Pemerintah).
  • College van Curatoren (Majelis Kurator/Pengawas/Wali – sekarang semacam "Majelis Wali Akademik" - MWA) – dibentuk pada tanggal 26 Mei 1920 yang mengurus persoalan ideal dan akademik TH Bandung; Ketua: Prof. Mr. Johannes Hendrik Carpentier Alting

TH Bandung akan ditetapkan sebagai bijzondere school (sekolah luar biasa) yang akan menerima subsidi dari Pemerintah sebesar setengah biaya eksploitasi. Segala biaya pembangunan dan perlengkapan akan ditanggung Institut (kemudian ditetapkan dalam Ordonnantie 11 April 1921, Staatsblad No.218). Lulusan TH Bandung dalam penempatan di kantor pemerintah akan diakui sama dengan lulusan TH Delft.[3]:9

Upacara yang unik di Jumat petang[sunting | sunting sumber]

empat pohon beringin di tengah sawah
dan penguburan kotak timah berisi piagam

Pada hari Jumat 4 Juli 1919 pukul 2 petang, di jalan Dagoweg Kota Bandung berlangsung suatu upacara yang unik. Pada sebidang lahan yang sudah diratakan di bekas persawahan, dengan dihadiri banyak pihak berwenang, berlangsung penanaman empat pohon beringin yang dilakukan oleh empat orang gadis, di lokasi yang akan menjadi pusat area di mana akan berdiri kompleks bangunan TH.[11][note 8] Mengingat bahwa Tuan J. W. IJzerman dan Prof. Jan Klopper, para “pendiri” universitas ini, akan segera berangkat ke Belanda, sehingga tidak mungkin untuk menyiapkan upacara peletakan batu pertama.[note 9] Oleh karena itu, sebagai gantinya diadakanlah penanaman pohon beringin tersebut. Selain J. W. IJzerman dan Klopper, upacara tersebut dihadiri Walikota Bandung dan sejumlah pejabat senior lainnya.[11]

Walikota Bandung, Bertus Coops, atas nama Pemerintah Kota Bandung menyampaikan ucapan terima kasih kepada KIHTONI dan kepada perwakilannya, Tuan J. W. IJzerman, serta kepada Prof. Klopper. Ucapan terima kasih juga dikemukakan berkenaan dengan kegiatan Pemerintah Kota Bandung yang dibantu panitia pelaksana, yang telah banyak berkontribusi atas keberhasilan rencana tersebut. Beliau mengharapkan bahwa dengan adanya fasilitas baru pendidikan tinggi tersebut akan bermanfaat sebesar mungkin.[11]

Setelah pidatonya empat orang gadis menanam pohon beringin di sudut-sudut area terbuka tersebut. Setelah itu, Tuan J. W. IJzerman berbicara. Dia memuji dukungan besar dari semua pihak yang terkait, dan pada gilirannya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Bandung atas kemurahan hatinya, yang telah menyediakan lokasi kampus bagi Institut dengan gratis, di lokasi yang sangat cocok dan sesuai dengan harapan. Setelah membandingkan antara pertumbuhan pohon-pohon beringin dengan fasilitas baru yang akan dibangun tersebut, dia menyudahi sambutannya, yang diakhiri dengan tepuk tangan para hadirin untuknya.

Pada akhirnya, para pihak menandatangani selembar piagam, yang dimasukkan ke dalam kotak timah/timbal (looden) tertutup dan dengan khidmat dikuburkan.

Sebelum pulang ke Belanda, Tuan J. W. IJzerman dan Prof. Klopper mengucapkan selamat tinggal.[11]

Pada tanggal 13 September 1919, Prof. Ir. J. Klopper meninggalkan Belanda menuju Hindia Belanda untuk mempersiapkan pembukaan TH Bandung.[12] J. W. IJzerman dan Prof. Klopper juga telah mendapat kesediaan dua orang dosen untuk memegang mata kuliah matematika dan fisika. Prof. Ir. Jan Klopper yang akan ditunjuk sebagai Rector magnificus pertama, diangkat secara resmi pada tanggal 16 September 1919.[3]:7

Pada tanggal 6 Januari 1920, korps guru besar TH Bandung yang akan memulai tahun akademiknya pada bulan Juli telah lengkap, mereka adalah Ir. Walther Henri Anton van Alphen de Veer untuk Pengetahuan tentang Penelitian Bahan Bangunan, Dr. Willem Boomstra untuk Matematika, Dr. Jacob Clay untuk Fisika, Ir. Jan Klopper untuk Mekanika Terapan, dan Richard Leonard Arnold Schoemaker (adik kandung Charles Prosper Wolff Schoemaker). Ir. van Alphen de Veer dan Schoemaker sementara waktu tinggal di Belanda. Dr. Boomstra dan Dr. Clay akan segera datang.[13]

Selama bulan Januari 1920, Prof. Ir. Klopper berkunjung ke empat HBS di Bandung, Batavia, Surabaya, dan Semarang untuk memberikan penyuluhan kepada orang tua atau wali murid dan para siswa itu sendiri untuk menjaring calon mahasiswa baru TH Bandung yang akan dibuka pada Juli 1920. Tim tersebut juga siap dan bersedia untuk memberikan informasi secara tertulis.[14]

Pelaksanaan konstruksi[sunting | sunting sumber]

Peta sekitar kampus TH Bandung (1926)
Denah desain rencana Technische Hoogeschool te Bandoeng
Struktur utama bangunan Aula Timur berupa busur dari kayu berlapis sedang di-setting
Pembangunan gedung di kampus TH di lokasi bekas persawahan
Pembangunan Barakgebouw B (sekarang Aula Timur ITB). Bangunan yang terpotong di paling kanan adalah bangsal darurat yang akan digunakan hingga Barakgebouw B selesai sempurna pada bulan Desember 1920

Segera dimulailah pelaksanaan pembangunan di atas tanah yang telah disediakan seluas 30 hektare (500 meter barat-timur dan 600 meter utara-selatan), yang dibatasi Sungai Cikapundung dan Dagoweg (kemudian diubah namanya menjadi Jl. Dago dan terakhir menjadi Jl. Ir. H. Juanda). Sebagai perancang dan bouwmeester adalah Ir. Henri MacLaine Pont; sebagai pelaksana pembangunan yaitu mantan Kolonel Zeni Victor Louis Slors dan Kapten Zeni M. T. van Staveren

Keterangan gambar desain rencana:

  • A. Hoofdgebouw - Gedung pusat
  • B. Bibliotheek - Perpustakaan pusat
  • C. Kleine aula - Aula kecil
  • D. Groote aula - Aula besar
  • 1. Barakgebouw A - untuk Matematika dan Mekanika
  • 2. Barakgebouw B - untuk Penelitian Bahan Bangunan
  • 3. Ilmu Ukur Tanah dan Perataan (Teknik Geodesi)
  • 4. Bangunan Jalan dan Air (Teknik Sipil)
  • 4a. Gedung administrasi sementara (sampai Barakgebouw A dan B selesai)
  • 4b. Gedung kuliah sementara (sampai Barakgebouw A dan B selesai)
  • 5. Ilmu Alam (Fisika)
  • 6. Teknik Mesin
  • 7. Teknik Elektro
  • 8a. Kimia
  • 8b. Teknik Kimia
  • 9. Arsitektur
  • 10. Teknik Pertambangan
  • 11. Matematika
  • 12. Mekanika

Untuk tahap pertama yang dibangun adalah Barakgebouw A, Barakgebouw B, dan bangunan penghubung di sekitar gerbang utama. Namun pelaksanaan konstruksi berjalan lambat, hingga bulan Oktober 1919 ketika Klopper datang kembali dari Belanda, kedua bangunan gedung utama termasuk bangunan selasar penghubungnya masih belum ada kemajuan yang berarti, sehingga dapat dipastikan tidak akan selesai pada bulan Juli 1920.

Oleh karena itu para insinyur zeni tersebut merancang dua bangsal sementara di belakang gedung depan timur (nomor 4a dan 4b pada gambar). Keputusan ini ternyata tepat, karena gedung timur/Barakgebouw B[note 10] baru dapat dirampungkan pada bulan Desember 1920, sementara gedung barat/Barakgebouw A baru dapat dirampungkan pada bulan Juni 1921 menjelang Dies Natalis ke-1 TH Bandung.

Dari kedua bangsal sementara tersebut, bangsal bagian depan digunakan untuk gedung administrasi sementara (tijdelijk administratie gebouw), sementara bangsal bagian belakang (sisi utara) digunakan untuk ruang kuliah sementara (tijdelijk collegezaal).

Nama daerah dan jalan di sekitar kampus TH tempo doeloe dan sekarang:

  • Hoogeschoolweg = Jl. Ganesha
  • Dagoweg = Jl. Ir. H. Juanda
  • Maclaine Pont Weg = Jl. Gelap Nyawang (sisi Selatan Taman Ganesha)
  • Huygensweg = Jl. Taman Sari
  • IJzerman Park = Taman Ganesha
  • IJzermanparkweg = Jl. Skanda (sisi Barat Taman Ganesha)
  • Jubileum Park = Kebon Binatang
  • Lembang Weg = Jl. Cihampelas
  • Dj. Tjihampelass = Jl. Taman Hewan
  • Dj. Tempat Plesieran = Jl. Plesiran
  • Borromeusweg = Jl. Suryakencana
  • Kromhoutweg = Jl. Dayang Sumbi

Pembukaan TH Bandung[sunting | sunting sumber]

Upacara Pembukaan Technische Hoogeschool te Bandoeng pada hari Sabtu, 3 Juli 1920 di Barakgebouw B (sekarang Aula Timur ITB).
Piagam Peresmian Pembukaan Technische Hoogeschool te Bandoeng yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Jhr. Mr. Johan Paul van Limburg Stirum; Direktur Onderwijs & Eeredienst (Departemen Pendidikan & Agama) – Mr. K. F. Creutzberg; Wakil dari Raad van Beheer KIHTONI – Ir. R. A. van Sandick; Ketua College van Curatoren – Prof. Mr. J. H. Carpentier Alting; Ketua College van DirecteurenK. A. R. Bosscha; dan terakhir Rector magnificus – Prof. Ir. Jan Klopper. Piagam ini sampai sekarang disimpan di Gedung Rektorat ITB Jl. Tamansari 64 Bandung.

Sabtu, 3 Juli 1920, jam 09.00 berlangsung Upacara Pembukaan Technische Hoogeschool te Bandoeng yang diadakan di gedung utama timur/Barakgebouw B[note 10] yang belum sepenuhnya selesai, dihadiri para undangan antara lain para tokoh Hindia Belanda, anggota Raad van Indië, para direktur departemen, direktur Javasche Bank, anggota Volksraad, anggota Dewan Daerah Karesidenan Priangan (Resident der Preanger Regentschappen), Dewan Kota Bandung, dan berbagai pejabat pemerintah dan tokoh lainnya. Hadir juga Sultan Yogyakarta, Susuhunan Solo, kepala Keraton Paku Alaman, dan kepala Keraton Mangkunegaran. Perlu dicatat bahwa pada hari ini dinyatakan sebagai hari libur umum di mana semua sekolah dan bank tutup.[15]

Pidato disampaikan oleh berbagai pejabat, di antaranya:[16]:691-699

Ir. R. A. van Sandick menyampaikan bahwa peristiwa ini merupakan saat bersejarah yang penuh makna dalam perkembangan Hindia Belanda, yaitu dengan berdirinya instansi pertama untuk pendidikan tinggi di wilayah kepulauan yang luas ini.

Secara prinsip, tujuan pendiriannya adalah bahwa insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng akan setara dengan insinyur dari sekolah tinggi teknik terbaik di dunia barat, namun bukan berarti bahwa kurikulumnya merupakan salinan buta dari kurikulum TH Delft. Karena setiap pendidikan insinyur pada dasarnya harus memperhatikan kondisi dari negara di mana insinyur tersebut diharapkan akan bekerja. Dan ilmu rekayasa di daerah pegunungan yang berkontur ini, air harus bisa dimanfaatkan untuk pengairan sawah, yang tentunya berbeda dengan di Belanda yang rendah dan datar di mana air, yang merupakan musuh bebuyutan dari penduduk harus dibuang keluar dari dalam tanggul.

Rel kereta api antara Krawang dan Padalarang mempunyai tuntutan yang sangat berbeda dengan di Belanda yang relatif datar, dan sebuah dinas untuk urusan tenaga air dan listrik tidak akan pernah muncul dalam pemerintah Belanda. Akan tetapi ilmu rekayasa di Hindia Belanda berakar dari ilmu barat, dan taraf pengetahuan yang diterapkan di sekolah tinggi yang didirikan ini tidak boleh lebih rendah dari yang ada di tempat lainnya.

Kaum muda bangsa apapun akan diterima di Technische Hoogeschool. Jumlah orang pribumi lulusan HBS 5 tahun tidak banyak dibanding dengan siswa bangsa lain, karena tidak ada kesempatan untuk pendidikan akademis lanjutan di Hindia Belanda. Demikian juga hasil dari pendidikan lanjutan melalui pengiriman ke Belanda sampai sekarang sangat sedikit. Setelah didirikannya Technische Hoogeschool diharapkan orang pribumi yang berbakat, dalam jumlah yang lebih besar dari sekarang, akan menyiapkan diri untuk studi lanjutan.

Sementara Prof. Ir. Jan Klopper selaku Rector magnificus yang pertama TH Bandung menyampaikan bahwa pendidikan tinggi harus meliputi pembentukan dan penyiapan manusia untuk penerapan ilmu pengetahuan secara mandiri, dan untuk menduduki jabatan publik di mana disyaratkan suatu pendidikan ilmiah.

Guru besar yang menghadiri pembukaan TH Bandung adalah Prof. Ir. Jan Klopper dan Prof. Dr. Jacob Clay.[17] Jacob Clay diangkat menjadi guru besar Fisika pada tanggal 1 Januari 1920.[3]:11

Sedikit catatan pada persiapan malam sebelumnya, di mana aula tersebut dihiasi dengan untaian beringin hijau yang anggun bergantung pada rangka kayu lengkung parabolis. Untuk menjaga agar untaian tersebut tetap berwarna hijau segar pada saat acara berlangsung, maka untaian beringin itu harus dipasang pada Jumat malam, satu hari sebelum berlangsungnya upacara. Karena penerangan listrik tidak siap, maka digunakanlah cahaya lampu asetilena. Kemudian salah satu perangkat lampu itu meledak dan menimbulkan kebakaran, yang menyebabkan sebagian kotak kayu untuk dasar podium terbakar habis! Dengan beberapa pot dan tanam-tanaman, lubang tersebut ditutupi sebisa mungkin.[18]

Sementara itu dua kereta api tambahan diberangkatkan pada malam sebelumnya untuk membawa para pejabat dari Batavia menuju ke Bandung.[18]

Setelah upacara pembukaan dilanjutkan dengan pagelaran konser di Sociëteit Concordia yang diadakan pemerintah kota Bandung; kemudian makan siang yang diadakan Vereeniging in het Jaarbeursgebouw (perhimpunan pameran perdagangan). Malam harinya di gedung Keresidenan Priangan diadakan pesta meriah yang dihadiri Nyonya Johan Paul van Limburg Stirum. Pada pesta ini turut dipamerkan piagam pembukaan TH yang baru tadi pagi ditandatangani untuk memperingati pembukaan Sekolah Tinggi pertama di Hindia Belanda. Pesta tersebut dilanjutkan dengan pawai alegoris keliling kota Bandung.[15]

Tahun akademik ke-1 (3 Juli 1920-2 Juli 1921)[sunting | sunting sumber]

Pengumuman Pendaftaran Mahasiswa TH.
mahasiswa angkatan pertama sebanyak 28 orang, dua di antaranya pribumi yaitu R. Katamso dan R. Soeria Nata Legawa

Setelah dibuka secara resmi pada hari Sabtu, 3 Juli 1920, maka pada hari Senin, 5 Juli 1920 dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-1 dengan 22 mahasiswa yang kemudian bertambah menjadi 28 mahasiswa reguler, terdiri dari 22 orang Eropa (di antaranya 2 wanita), 2 orang pribumi, dan 4 orang Tionghoa. Selain itu terdapat 5 mahasiswa luar biasa (pendengar) terdiri dari 3 orang untuk kuliah Matematika dan 2 orang untuk kuliah Fisika. Sebagai perbandingan, pada TA 1920-1921 TH Delft menerima 312 mahasiswa baru, sementara TA sebelumnya menerima 406 mahasiswa baru.[19] Dua mahasiswa pribumi tersebut, R. Katamso berasal dari Solo, sementara R. Soeria Nata Legawa berasal dari Garut.[20]:62

Pendaftaran untuk mahasiswa angkatan pertama ini telah diadakan pada hari Jumat, 2 Juli 1920 jam 08.00-10.00. Uang kuliah bagi mahasiswa reguler untuk satu tahun ƒ 200 (ƒ 200 pada tahun 1920 kurang lebih bernilai ƒ 2.311 pada tahun 2012 atau lebih dari Rp 13 juta, dihitung dengan Konversi nilai gulden dan Konversi ke Rupiah).[21]

Hingga liburan Natal perkuliahan diberikan mulai jam 8.00 hingga jam 11.00-12.00, sedangkan praktek/praktikum (oefeningen) dilangsungkan setelah siang-sore hari, agar mahasiswa dapat mencoba untuk mengambil ke bagian lainnya. Namun setelah liburan Natal, kuliah dan praktek/praktikum dilaksanakan bersama-sama dari jam 7.00 hingga jam 13.00.[17]

Kamis, 29 Juli 1920 dilaksanakan studi ekskursi/kunjungan lapangan ke pengeboran sumur dalam pengembangan air tanah di jalan Riouwstraat (sekarang Jl. R.E. Martadinata – sebelumnya Jl. Riau, Bandung) yang diprakarsai oleh perencananya Ir. C. A. de Jongh - seorang insinyur pertambangan.[17]

Kamis, 18 November 1920 dilaksanakan studi ekskursi/kunjungan lapangan bagi para mahasiswa ke bengkel/workshop Staatsspoorwegen (SS). Selanjutnya juga dilakukan kunjungan ke pabrik pengolahan karet, kunjungan ke bangunan-bangunan gedung, juga menyaksikan demonstrasi uji coba pertama PLTA Dago.[17]

Pada tanggal 29 Maret 1912 dikeluarkan Gouvernements Besluit No. 13 di mana Ir. W. H. A. van Alphen de Veer, seorang insinyur teknik kimia Belanda, diangkat menjadi Kepala Laboratorium yang namanya diubah menjadi Laboratorium Penelitian Bahan (Laboratorium voor Materiaalonderzoek) yang berada di bawah Departemen BOW (Burgerlijke Openbare Werken - Pekerjaan Umum). Oleh karena itu, tanggal 29 Maret 1912 dianggap sebagai awal dimulainya kehadiran Laboratorium Penelitian Bahan. Pada bulan November 1921 dilakukan reorganisasi yang sangat berarti, di mana Laboratorium tersebut ditingkatkan sebagai sebuah divisi layanan mandiri dari Departemen BOW, yang dipindahkan dari Jakarta ke Bandung. Laboratorium ini menempati Barakgebouw B (Aula Timur) milik TH Bandung, yang dalam tahun tersebut lingkupnya diperluas, sekarang mencakup bagian bahan kimia dan mekanika yang masing-masing terorganisir. Selain dua bagian tersebut, laboratorium juga dilengkapi bagian administrasi dan perpustakaan khusus. Agar selalu memperoleh informasi ilmu material modern terkini, Laboratorium tersebut berlangganan sekitar 58 majalah.[22]

Bandoengsch Studenten Corps[sunting | sunting sumber]

Pada hari Kamis, 2 September 1920, berdirilah organisasi resmi mahasiswa tertua di TH Bandung, yang juga merupakan organisasi mahasiswa tertua di Hindia Belanda, yaitu Bandoengsch Studenten Corps (BSC - Korps Mahasiswa Bandung) yang diakui pihak fakultas. Organisasi ini serupa dengan Dewan Mahasiswa di era 1960-1980-an atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di era tahun 2000-an. Nama BSC sendiri mengikuti organisasi serupa dengan yang ada di TH Delft yaitu Delftsch Studenten Corps (DSC). Pengakuan fakultas terhadap organisasi BSC yang diketuai oleh President van den Senat ini juga merupakan bukti bahwa untuk menghasilkan insinyur yang baik, diperlukan penyiapan diri selain yang didapat dari buku pelajaran dan ruang kuliah.[23] (Pada masa kemerdekaan BSC bukan lagi organisasi mahasiswa internal TH Bandung melainkan bersifat terbuka bagi seluruh mahasiswa yang ada di Bandung, dengan nama barunya Corpus Studiosorum Bandungense - CSB).

Bentuk nyata lain dukungan terhadap berdirinya BSC adalah dengan disumbangkannya ƒ 1.000,- (ƒ 1.000,- pada tahun 1920 ≈ ƒ 11.558,36 pada tahun 2012 ≈ Rp 67 juta)[24][25] untuk pembentukan klub tersebut oleh Raad van Beheer. Kegiatan pertama BSC adalah menyiapkan pembangunan sebuah asrama mahasiswa yang direncanakan mendapat subsidi dari pemerintah. Untuk menyiapkannya kemudian dibentuk sebuah komite yang beranggotakan Residen Karesidenan Priangan, Prof. Ir. Jan Klopper, Prof. Dr. Jacob Clay, Prof. Dr. Willem Boomstra, dan Presiden BSC.[15]:700

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Rector magnificus: Prof. Ir. Jan Klopper; Sekretaris: Prof. Dr. Jacob Clay

Senin, 5 Juli 1920 Prof. Dr. Willem Boomstra (yang diangkat menjadi guru besar Matematika pada tanggal 1 Maret 1920) [3]:11 baru tiba di Pelabuhan Tanjungpriok dan pada hari Rabu 7 Juli 1920 sudah memberikan kuliah Matematika untuk pertama kalinya.[17]

Rabu, 28 Juli 1920 berlangsung sidang fakultas untuk pertama kalinya, salah satu keputusannya adalah mengangkat Prof. Dr. Jacob Clay menjadi Sekretaris.[17]:357

Terhitung sejak tanggal 11 Oktober 1920[15], Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker - Kapten Zeni KNIL diangkat menjadi guru besar luar biasa dalam bidang Bouwkunde (Bangunan Gedung)[note 11], sekembalinya dari cuti luar negeri. Selama kekosongan tersebut, untuk sementara kuliah Bangunan diberikan oleh kakak kandungnya yaitu arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker (kelak akan menggantikan adiknya secara tetap menjadi guru besar Bangunan).[3]:12 Selanjutnya pada tanggal 29 April 1921, Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker diangkat menjadi guru besar tetap dalam bidang Bangunan.[15]

Terhitung sejak tanggal 1 Januari 1921, Ir. W. H. A. van Alphen de Veer - Kepala Laboratorium Penelitian Bahan (Laboratorium voor Materiaalonderzoek) Departemen BOW diangkat sebagai guru besar luar biasa dalam bidang Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan (Kennis en Onderzoek van Bouwstoffen) sekembalinya dari cuti luar negeri, sehingga perkuliahan untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan baru dimulai pada bulan Januari 1921.

Selain menyiapkan guru besar, mulai Januari 1921 telah diangkat asisten untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan – J. A. Maronier, asisten untuk Fisika – Ny. Clay-Jolles, dan asisten untuk Matematika – E. J. M. Giesen.

Total guru besar pada tahun akademik ini ada lima orang yaitu:

  1. Prof. Ir. Jan Klopper – guru besar tetap untuk Mekanika
  2. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  3. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  4. Prof. Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker – guru besar luar biasa untuk Bangunan
  5. Prof. Ir. Walther Henri Anton van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan

Dengan jumlah mahasiswa 28 orang dan guru besar sebanyak 5 orang, maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 5,6.[note 12]

Sarana akademik[sunting | sunting sumber]

Sarana gedung yang dimiliki:

  • Dua gedung pembantu (hulpgebouwen) - mulai digunakan pada bulan Juli 1920
  • Barakgebouw B/Timur - selesai pada akhir Desember 1920
  • Barakgebouw A/Barat - selesai pada akhir Juni 1921

Meskipun pembukaan TH Bandung sudah bisa dilangsungkan di aula besar gedung timur - Barakgebouw B[note 10], namun sebenarnya gedung itu masih jauh dari selesai. Barulah pada bulan Desember 1920 bangunan tersebut mendekati selesai, selanjutnya peralatan untuk praktikum Laboratorium Fisika ditempatkan, demikian juga secara bertahap berdatangan koleksi/peralatan untuk Laboratorium Pengetahuan Bahan Bangunan untuk selanjutnya ditempatkan.[17]

Sampai bulan Desember 1920, perkuliahan dan praktikum dilangsungkan di dua gedung pembantu (hulpgebouwen). Gedung ‘sementara’ tersebut bentuk dan arsitekturnya sangat sederhana, tidak menggunakan model atap ‘julang ngapak’ seperti gedung-gedung lain di kampus tersebut. Walaupun sifatnya sementara dan dibangun secara mendadak, namun gedung tersebut ternyata berumur panjang, setelah kemudian terus digunakan secara berturutan untuk kursus penera, praktikum geodesi, kursus guru gambar, hingga terakhir digunakan menjadi gedung perkuliahan FSRD di era ITB, dan baru dibongkar di sekitar tahun 1993 di mana dibangun kembali menjadi gedung FSRD ITB yang baru.

Prof. Jacob Clay telah mengajukan proposal untuk pembangunan laboratorium fisika yang terpisah, karena gedung timur (Aula Timur) sama sekali tidak cocok untuk lokasi laboratorium tersebut. Setelah perdebatan yang panjang antara yang pro dan kontra, Majelis Kurator mendukung rencana itu, Direktur dengan dukungan Dewan Direksi menyetujuinya, dan pembangunan kompleks sudah dapat dimulai pada bulan September 1920. Dengan demikian Hindia Belanda akan memiliki sebuah laboratorium fisika yang lengkap.

Prof. Clay juga mengusulkan dibukanya kursus pelatihan pembuat instrumen dan peniup gelas (Opleiding voor Instrumentmakers en Glasblazers).

Dies Natalis ke-1 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

satu mahasiswa pribumi meninggalkan kuliahnya

Sabtu, 2 Juli 1921 – Dies Natalis ke-1 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10] yang baru saja selesai dibangun (terlambat dari yang dijadwalkan, rupanya bentuk yang non-konvensional dari lengkung-lengkung kayu parabolis dan konstruksi atap yang rumit membuat masa konstruksi lebih lama dari bentuk bangunan yang biasa). Pada kesempatan ini Prof. Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Constructie, doelmatigheid en schoonheid in de bouwkunde" (Konstruksi, efisiensi, dan keindahan dalam bangunan).[17]

Hasil studi untuk TA 1920-1921 adalah dari 28 mahasiswa reguler, sebanyak satu orang Eropa, satu orang pribumi, dan satu orang wanita telah meninggalkan kuliahnya, sehingga jumlah mahasiswa yang mengikuti perkuliahan sampai akhir sebanyak 25 orang. Berdasarkan tentamen dan ujian-ujian, sebanyak 20 orang lulus ke tingkat 2, sementara 3 orang tidak memenuhi syarat dan 2 orang lagi mendapatkan ujian diperpanjang (verlengd examen).[17]

Tahun akademik ke-2 (2 Juli 1921-1 Juli 1922)[sunting | sunting sumber]

Soekarno sewaktu menjadi siswa HBS Soerabaja
Dies Natalis ke-1 Technische Hoogeschool te Bandoeng 2 Juli 1921 di Barakgebouw A (Aula Barat ITB). Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker sedang menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Constructie, doelmatigheid en schoonheid in de bouwkunde" (Konstruksi, efisiensi, dan keindahan dalam bangunan).
Soekarno terdaftar sebagai mahasiswa untuk pertama kali, namun dua bulan kemudian meninggalkan kuliahnya

Jumat, 1 Juli 1921 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-2 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak sekitar 59 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 2 sebanyak 22 orang[26] (20 orang lulus langsung + 2 orang lulus ujian perpanjangan), tingkat 1 sebanyak sekitar 37 orang.[27][note 13]. Di antara mahasiswa baru tersebut terdapat 6 mahasiswa pribumi[28]:26, di mana salah satu dari mereka bernama Soekarno, yang dua bulan kemudian meninggalkan kuliahnya.[3]:38 Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 65 orang.

Tidak ada ujian seleksi masuk TH Bandung untuk menjadi mahasiswa baru tingkat 1, cukup dengan menunjukkan ijazah lulusan HBS-program 5 tahun bagian B (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) atau AMS bagian B (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam). Hingga beberapa tahun kemudian mayoritas mahasiswa baru TH Bandung berasal dari lulusan empat HBS yang ada di Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung, sementara AMS baru meluluskan siswa untuk pertama kali pada tahun 1922 dari AMS Jogjakarta yang berdiri pada tahun 1919.

Untuk mahasiswa tingkat 2, 3, dan 4, syarat pendaftaran kembali adalah menunjukkan tanda bukti lulus tingkat sebelumnya. Masa studi keinsinyuran selama empat tahun terdiri dari:

  • Tingkat 1 – setelah lulus ujian mendapat tanda bukti Propaedeuse 1 atau P1
  • Tingkat 2 – setelah lulus ujian mendapat tanda bukti Propaedeuse 2 atau P2
  • Tingkat 3 – setelah lulus ujian Candidaats-examen mendapat tanda bukti Candidaat-ingenieur atau C
  • Tingkat 4 – setelah lulus ujian Ingenieurs-examen mendapat tanda bukti Civiel-ingenieur atau Ir. Ujian tahap ini sering juga disebut eind-examen atau doctoraal-examen, disebut demikian karena setelah lulus tahap keinsinyuran tersebut, seseorang dapat mempertahankan disertasinya untuk memperoleh gelar Doctor van Technische Wetenschap – Doktor dalam Ilmu Pengetahuan Teknik di TH Bandung maupun TH Delft atau sekolah tinggi teknik lain seperti di Zurich (Swiss) dan Aachen (Jerman).

Pemerintah melalui Directeur van Onderwijs en Eeredienst (Direktur Pendidikan dan Agama) menyediakan beasiswa hingga ƒ 800,- per tahun bagi lulusan HBS maupun AMS yang memenuhi persyaratan, untuk yang berminat melanjutkan kuliahnya di Belanda atau di TH Bandung.[29] (ƒ 800,- pada tahun 1922 ≈ ƒ 11.745,- pada tahun 2011 ≈ Rp 62,5 juta).[24][25]

Secara tradisi tahun akademik dibuka secara resmi dengan acara Dies Natalis yang biasanya dilangsungkan pada hari Sabtu terdekat dengan awal perkuliahan. Selain untuk memperingati hari ulang tahun TH Bandung, acara tersebut juga ditujukan untuk penerimaan mahasiswa baru dan wisuda/pelepasan insinyur baru, yang diawali dengan pidato tahunan Rector magnificus, dilanjutkan orasi ilmiah oleh salah satu guru besar, dan acara lain seperti pemberian penghargaan, dan lainnya. Pada acara Dies Natalis tersebut, Rector magnificus menyampaikan pidato tahunan yang berisi perkembangan selama tahun akademik terakhir termasuk:

  • jumlah mahasiswa yang terdaftar (ingeschreven) – biasanya berubah-ubah sepanjang berjalannya perkuliahan;
  • jumlah mahasiswa yang putus kuliah (studie staakten/studie afgebroken);
  • jumlah mahasiswa yang mundur dari ujian (teruggetrokken) – mengikuti kuliah namun tidak ikut ujian, dapat dipastikan mengulang pada tahun depan;
  • jumlah mahasiswa yang lulus (slaagden/geslaagd) kenaikan tingkat maupun lulus menjadi insinyur;
  • jumlah mahasiswa yang tidak lulus/ditolak (afgewezen) – mengikuti kuliah dan ujian, namun tidak lulus ujian, harus mengulang pada tahun depan;
  • jumlah mahasiswa yang mendapatkan ujian diperpanjang (verlengd examen) – tidak lulus ujian, namun diberi kesempatan mengikuti ujian ulangan setelah libur panjang akhir tahun akademik sekitar bulan Juli;
  • jumlah mahasiswa yang mendapat dispensasi ujian ditangguhkan (uitgesteld examen) – tidak mengikuti ujian dengan alasan yang dapat diterima seperti sakit;
  • jumlah staf pengajar seperti guru besar tetap (gewoon hoogleraar), guru besar luar biasa/tidak tetap (buitengewoon hoogleraar), lektor tetap (gewoon lector), lektor luar biasa/tidak tetap (buitengewoon lector), dosen sementara, maupun asisten;
  • hal-hal lain yang perlu dilaporkan.

Sesuai artikel 10 Reglement voor de Technische Hoogeschool menyatakan bahwa awal perkuliahan suatu tahun akademik (cursusjaar) dimulai pada hari kerja pertama bulan Juli.

Pada hari Sabtu, 3 September 1921 berlangsung resepsi dalam rangka peringatan ulang tahun ke-1 Bandoengsch Studenten Corps (BSC) yang diadakan di Aula/Barakgebouw A.[30]

Pada tanggal 15 Januari 1922 TH Bandung membuka kursus pelatihan akta mengajar untuk guru matematika sekolah menengah (cursus tot opleiding voor de middelbare acte wiskunde - K. I.) dipimpin oleh Prof. Dr. Willem Boomstra dibantu oleh dr. W. P. Thijsen, guru HBS Bandung. Kursus dengan masa studi dua tahun ini dilangsungkan dari jam 17.00-20.00 hingga Desember 1923, angkatan berikutnya dimulai pada bulan Januari 1924.[31]

Pada tanggal 11-14 Mei 1922 berlangsung Kongres Ilmu Pengetahuan Alam Hindia Belanda ke-2 (Nederlandsch-Indisch Natuurwetenschappelijk Congres) yang dilangsungkan di kampus TH Bandung.[32]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Rector magnificus: Prof. Ir. Jan Klopper; Sekretaris: Prof. Dr. Jacob Clay

Pada tahun akademik ini korps guru besar makin diperkuat dengan pengangkatan Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos pada bulan Juni 1921[33], insinyur dari Burgerlijke Openbare Werken (BOW - Departemen PU zaman kolonial) menjadi guru besar tetap dalam bidang Bangunan Air (Waterbouwkunde – Bangunan Air) sekembalinya dari cuti luar negeri.[17]

Terhitung sejak 1 Juli 1921, diangkat tiga guru besar luar biasa yaitu Ir. J. H. G. Schepers - Kepala Triangulatie-brigade Dinas Topografi – untuk bidang Survei, Perataan, dan Geodesi; Dr. Ir. J. H. A. Haarman - Kepala Biro Konstruksi dan Bangunan Jembatan Staatsspoorwegen (SS) – untuk bidang Bangunan Jalan dan Jembatan[34]; dan Ir. G. H. M. Vierling[33] - Kepala Indischen Centralen Aanschaffingsdienst – untuk bidang Teknik Mesin.[17][15]

Sehubungan kondisi kesehatan yang tidak mengijinkan[15], Ir. J. H. G. Schepers memperoleh perpanjangan cuti, sehingga tidak bisa tiba di Hindia Belanda tepat waktu ketika perkuliahan dimulai. Oleh karena itu Schuitevoerder - wakilnya di Dinas Topografi ditunjuk untuk sementara menggantikannya.[35] Ir. J. H. G. Schepers baru kembali dari Amsterdam tanggal 4 Februari 1922 dengan Kapal "Prinses Juliana" dan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok - Batavia sekitar tanggal 10 Maret 1922.[36]

Selanjutnya Gubernur Jenderal telah mengesahkan penunjukan yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 1922 oleh Ir. Jelte Nicolaas van der Ley, pejabat Kepala Dienst van Waterkracht en Electricteit (dinas pembangkit tenaga air dan kelistrikan) sebagai guru besar luar biasa bidang Teknik Elektro.[37]

Terhitung tanggal 1 Januari 1922 Charles Prosper Wolff Schoemaker diangkat menjadi guru besar luar biasa dalam bidang Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota (Geschiedenis der Bouw- en Versierkunst, Bestekken, Begrootingen en Stadsaanleg).[38][39]:I.119

Hingga saat tersebut TH Bandung berhasil menyediakan guru besar yang dibutuhkan untuk sebuah "sekolah tinggi teknik", hal tersebut menjawab anggapan yang mempertanyakan kesanggupan TH Bandung dalam mendapatkan guru yang baik.

Total guru besar pada tahun akademik ini ada sebelas orang yang terdiri dari 5 guru besar tetap dan 6 guru besar luar biasa[note 14] yaitu:

  1. Prof. Ir. Jan Klopper – guru besar tetap untuk Mekanika
  2. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  3. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  4. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  5. Prof. Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan (29 April 1921)[15]
  6. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  7. Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  8. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  9. Prof. Ir. Jelte Nicolaas van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  10. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar luar biasa untuk Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  11. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi

Dengan jumlah mahasiswa sekitar 59 orang dan guru besar sebanyak 11 orang, maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 5,36.[note 12]

Peresmian komplek Laboratorium Natuurkunde[sunting | sunting sumber]

Laboratorium Fisika yang baru, dilihat dari arah barat daya kampus TH.
Ruang kuliah di komplek Laboratorium Fisika TH Bandung yang dilengkapi peralatan simulasi pelajaran fisika.
Suasana praktikum di Laboratorium Fisika.
Siswa kursus pembuat alat (cursus voor instrumentmaker) sedang melaksanakan praktek salah satu ruang Laboratorium Fisika.
Siswa kursus peniup gelas (cursus voor glasblazer) sedang melaksanakan praktek salah satu ruang Laboratorium Fisika.

Sabtu, 18 Maret 1922 – Kampus ini kembali ramai dikunjungi para pejabat, bukan hanya dari kota Bandung, melainkan mulai Gubernur Jenderal Mr. Dirk Fock, Panglima Angkatan Darat Hindia Belanda – Letnan Jenderal G.K. Dijkstra bersama para pejabat militer lainnya, Residen, Walikota, pejabat pemerintah sipil, Direktur dan para guru HBS dan Gymnasium, dan lainnya.

Tepat jam 09.00 dimulailah upacara pembukaan Laboratorium Natuurkunde - Laboratorium Fisika, yang diawali pidato pembukaan oleh K. A. R. Bosscha selaku Ketua College van Directeureun (Majelis Direktur), dilanjutkan dengan pidato peresmian oleh Gubernur Jenderal Mr. Dirk Fock. Untuk mengenang jasanya, pada tahun 1924 komplek laboratorium ini dinamakan Bosscha-Laboratorium Natuurkunde. Dengan mengakhiri pidatonya dengan ucapan selamat atas berdirinya Laboratorium Fisika itu, dan ucapan selamat kepada para guru besar dan mahasiswa yang telah memiliki laboratorium itu,

En hiermede verklaar ik het natuurkundig laboratorium voor geopend...
dengan ini saya menyatakan laboratorium fisika dibuka...

Selanjutnya Prof. Dr. Jacob Clay menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul Cultuur en Natuur – “kebudayaan dan alam”, sekaligus menjelaskan tentang tata letak laboratorium, peralatan di dalamnya, biaya pembangunannya, termasuk akan dibukanya kursus peniup gelas dan pembuat alat yang dilaksanakan di komplek laboratorium tersebut.

Jam setengah dua belas Gubernur Jenderal meninggalkan acara untuk menuju ke Jaarbeurs untuk mengunjungi pameran kesenian. Para tamu dan undangan lain diberi kesempatan untuk berkeliling komplek laboratorium baru tersebut dan diakhiri di Aula Barat.[40]

Komplek laboratorium baru tersebut juga sudah memperhitungkan persiapan akan dibukanya dua fakultas baru yaitu Teknik Kimia dan Teknik Pertambangan[41], namun baru tahun akademik 1940-1941 program studi Teknik Kimia menerima mahasiswa baru, sementara program studi Teknik Pertambangan baru bisa direalisasi setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Sarana akademik[sunting | sunting sumber]

Dengan diresmikannya Laboratorium Fisika yang baru, bertambah lagi sarana akademik yang dimiliki TH Bandung menjadi 7 gedung, yaitu: dua gedung pembantu (hulpgebouwen); dua gedung di gerbang depan; dua gedung utama timur dan barat; dan yang terakhir adalah komplek laboratorium fisika.

Barakgebouw A semula disekat-sekat dan digunakan untuk:

  • 2 ruang kuliah - di ujung timur dan barat;
  • ruang rektor, ruang rapat, dan ruang guru besar - di sisi selatan;
  • perpustakaan - di sisi utara;
  • ruang tengah yang besar untuk ruang gambar merangkap aula tempat upacara (Dies Natalis ke-1 Juli 1921 dilaksanakan di ruang ini).

Barakgebouw B semula disekat-sekat dan digunakan untuk:

  • ruang kuliah pengetahuan dan penelitian bahan bangunan - di ujung barat;
  • laboratorium kimia - di ujung timur;
  • laboratorium fisika (sebelum pindah ke lokasi baru), laboratorium teknologi mekanik - di sisi selatan;
  • laboratorium penelitian bahan bangunan - di sisi utara;
  • ruang tengah disekat untuk ruang-ruang persiapan laboratorium (Upacara Pembukaan TH Bandung tanggal 3 Juli 1920 dilaksanakan di ruang ini).

Pada TA 1921-1922 terdapat 2 angkatan yang menggunakan 2 ruang kuliah di ujung timur dan barat Aula/Barakgebouw A. TA 1922-1923 akan menjadi 3 angkatan, sehingga dibutuhkan minimal 3 ruang kuliah. Pengurus TH Bandung seakan berkejaran dengan waktu. Satu collegezaal (ruang kuliah) baru dengan kapasitas sekitar 150-200 orang dengan susunan bangku yang berundak menyerupai amphitheater sudah terbangun di komplek Laboratorium Fisika (sekarang ruang kuliah ini dinamakan Ruang 1201, sebelumnya dinamakan Ruang VI). Artinya sampai tahun depan kebutuhan ruang mencukupi, namun untuk TA 1923-1924, perlu disediakan lagi ruang kuliah untuk tingkat 4.

Oleh karena itu dengan selesainya pembangunan Laboratorium Fisika, pada tahun 1922 TH Bandung terus berekspansi dengan mulai membangun gedung untuk 2 ruang kuliah besar (masing-masing dengan kapasitas 100-150 orang, sekarang dinamakan Ruang 3201 dan Ruang 3202), kamar guru besar, dan ruang gambar baru di sebelah utara Aula/Barakgebouw A[note 15].

Kawasan ini semula diperuntukkan untuk program studi Teknik Mesin (werktuigbouwkunde - lihat gambar rencana denah awal), sementara program studi Teknik Sipil semula ditempatkan di kawasan yang kemudian dijadikan dua gedung pembantu (hulpgebouwen), di sinilah awal ketidaksesuaian terhadap rencana induk yang dibuat Ir. Henri MacLaine Pont dimulai. Namun setidaknya poros utara-selatan yang membagi kampus ini tetap dipertahankan, demikian juga bentuk atap 'julang ngapak', pilar-pilar batu kali, dan elemen-elemen detil bangunan lainnya secara konsisten diikuti oleh bangunan Laboratorium Fisika dan gedung yang sedang dibangun tersebut.

Dies Natalis ke-2 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

empat mahasiswa pribumi naik ke tingkat dua

Sabtu, 1 Juli 1922 – Dies Natalis ke-2 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10] dimulai jam 10.00, di mana para undangan bangkit berdiri dari kursinya untuk menyambut prosesi anggota Majelis Direktur, Majelis Kurator, para guru besar, yang didahului petugas Pedel, yang masuk ke dalam Aula dengan diiringi lagu Io vivat. Selanjutnya Rector magnificus Prof. Ir. Jan Klopper menyampaikan gambaran tentang apa yang terjadi dalam satu tahun terakhir, termasuk akan diadakannya kursus pelatihan insinyur listrik arus lemah (zwakstroom-ingenieurs) Dinas PTT (Pos, Telegraf dan Telepon), yang akan diikuti oleh 6 perwira angkatan laut dan lima perwira artileri dan zeni.[42]

Setelah pidato rektor, Prof. Dr. Willem Boomstra menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "De betekenis der meetkundige axioma's" (makna aksioma geometris).

Hasil studi untuk TA 1921-1922 adalah dari 59 mahasiswa, sebanyak 19 orang lulus ke tingkat 3 (3 orang gagal); dan 21 orang lulus ke tingkat 2.[43][44] Sementara itu, empat mahasiswa pribumi yaitu Djoko Asmo (TH 1921), R. Katamso (TH 1920), M. Soetedjo (TH 1921), dan M. Soetojo (TH 1921) berhasil lulus dari tingkat satu ke tingkat dua.[43]

Hingga TA 1921-1922, selain program pendidikan insinyur, TH Bandung juga membuka kursus akta mengajar untuk guru matematika sekolah menengah, serta kursus peniup gelas dan pembuat alat.

Tahun akademik ke-3 (1 Juli 1922-30 Juni 1923)[sunting | sunting sumber]

Sebagai perbandingan, pada TA 1922-1923 TH Delft menerima 287 mahasiswa baru, terdiri dari 86 mahasiswa Teknik Elektro, 72 mahasiswa Teknik Mesin, 55 mahasiswa Teknik Sipil, 36 mahasiswa Teknik Kimia, 17 mahasiswa Arsitektur, 16 mahasiswa Teknik Pertambangan, 3 mahasiswa Teknik Perkapalan.[45] Jumlah mahasiswa baru TH Bandung 42 orang, sedangkan mahasiswa baru program studi Teknik Sipil di Delft 55 orang.
Soekarno terdaftar kembali sebagai mahasiswa tingkat satu

Senin, 3 Juli 1922 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-3 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 93 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 3 sebanyak 19 orang, tingkat 2 sebanyak 22 orang, tingkat 1 sebanyak 52 orang (mahasiswa baru 42 orang[27] ditambah 10 orang mahasiswa angkatan-angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[44][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 107 orang.

Pada TA 1922-1923 dibuka program pendidikan bagi mantan perwira militer kecabangan teknik, mantan perwira Angkatan Laut, dan mantan petugas-masinis atas permintaan pemerintah untuk kemudian diangkat sebagai insinyur di Dinas PTT (Pos, Telegraf dan Telepon).

Majalah mahasiswa Ganeća[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 1922 BSC menerbitkan majalah yang terbit dua bulan sekali, yaitu Majalah "Ganeća" - dengan logo bergambar dewa berbadan manusia dengan kepala gajah dalam mitologi Hindu. Jadi logo tersebut telah lama digunakan di kampus tersebut, jauh sebelum digunakan sebagai logo ITB, dengan perbedaan pada stilasi yang lebih rumit dari pada logo ITB. Di bagian bawahnya tertulis motto "yasya buddhir balam tasya" yang berarti "kecerdasan adalah kekuatan". Majalah mahasiswa pertama di Hindia Belanda ini dilaksanakan oleh para editor yang juga mahasiswa TH Bandung, yaitu E. P. H. Joon, A. C. de Wilde, dan A. P. V. Kist. Terbitan pertamanya berisikan antara lain tulisan Prof. Jacob Clay, dan penjelasan mengenai logo dan motto Majalah "Ganeća" oleh J. C. de Haan.[46] Dengan adanya majalah tersebut, para mahasiswa dilatih untuk menulis secara ilmiah dan tertata baik, selain belajar berorganisasi, dan membagi waktu dengan kegiatan akademis.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Rector magnificus: Prof. Ir. Jan Klopper; Sekretaris: Prof. Dr. Willem Boomstra

Kesulitan ditemui dalam pengisian staf pengajar untuk mata kuliah Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara. Ketika Mr. A. C. H. Graafland akan diangkat, ternyata kondisi kesehatannya tidak mengizinkan. Mr. L. A. de Waal, guru OSVIA Bandung, sangat membantu di bulan-bulan terakhir TA 1922-1923 untuk memberikan serangkaian kuliah pengganti. Untuk TA 1923-1924 kekosongan tersebut terpenuhi dengan diangkatnya Mr. A. H. Walkate, hakim di Mahkamah Agung Hindia Belanda, sebagai profesor luar biasa untuk Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara.[47]

Sementara 2 orang lagi menunggu proses pengangkatan, total guru besar pada tahun akademik ini ada tiga belas orang[48] yang terdiri dari 6 guru besar tetap dan 7 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Ir. Jan Klopper – guru besar tetap untuk Mekanika
  2. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  3. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  4. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  5. Prof. Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan
  6. Prof. Ir. Hendrik van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air[note 16], efektif November 1922.[49]
  7. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  8. Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  9. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  11. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar luar biasa untuk Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  12. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  13. Mayor Jenderal Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan[50]

Dengan jumlah mahasiswa 93 orang dan guru besar sebanyak 13 orang, maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 7,15.[note 12]

Sebagai perbandingan pada TA 1921-1922 untuk TH Delft: jumlah mahasiswa 2.421 orang; jumlah guru besar tetap 65 orang; guru besar luar biasa 5 orang; lektor 14 orang; dosen privat/lepas 5 orang; asisten dosen 117 orang.[51]:429 Dengan memperhitungkan dosen privat, lektor, dan asisten, jumlah total staf pengajar adalah 206 orang untuk 2.421 mahasiswa, maka rasio dosen : mahasiswa = 1 : 11,75. Oleh karena itu beberapa tahun kemudian perbedaan tajam rasio dosen : mahasiswa antara TH Delft dan TH Bandung ini (1:11,75 dengan 1:7,15) mendapat banyak sorotan dari berbagai pihak di Belanda maupun di Hindia Belanda yang menganggap hal tersebut terlalu berlebihan dan tidak efisien. Namun kalangan yang kontra tidak mengerti bahwa TH Bandung sendiri memiliki kesulitan dalam memperoleh input yang berkualitas dari sumber HBS dan AMS yang juga terbatas, sementara jumlah staf pengajar minimal sendiri tetap perlu dipenuhi.

Sarana akademik[sunting | sunting sumber]

Sarana akademik yang dimiliki TH Bandung masih sama seperti TA sebelumnya yaitu 7 gedung (dua gedung pembantu; dua gedung di gerbang depan; dua gedung utama timur dan barat; dan komplek laboratorium fisika). Pembangunan 2 gedung baru di utara Barakgebouw A[note 15] hampir selesai.

Pada tahun 1923 TH Bandung sebagai bijzondere school (sekolah luar biasa/swasta bersubsidi) menerima subsidi dari Pemerintah sebesar setengah biaya eksploitasi yaitu ƒ 185.000. (ƒ 185.000,- pada tahun 1923 ≈ ƒ 2.810.499,- pada tahun 2011 ≈ Rp 14,9 miliar. Jumlah mahasiswa THS saat itu 93 mahasiswa sehingga didapat Rp 160,7 juta/mahasiswa.[24][25] Sebagai perbandingan alokasi anggaran pemerintah untuk ITB pada tahun 2011 sebesar Rp 359,5 miliar (di luar dana yang diperoleh dari masyarakat) untuk 19.440 mahasiswa (S1, S2, S3)[52] atau Rp 18,5 juta/mahasiswa.)

Dies Natalis ke-3 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

tiga mahasiswa pribumi naik ke tingkat tiga, Soekarno naik ke tingkat dua

Sabtu, 30 Juni 1923 – Dies Natalis ke-3 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dimulai jam 10.00 dengan diiringi lagu Io vivat di mana telah hadir Majelis Kurator, Direktur Pendidikan dan Agama, Residen, Bupati, para pejabat instansi pemerintahan sipil dan militer, kalangan swasta, dan undangan lainnya. Selanjutnya Rector magnificus Prof. Ir. Jan Klopper menyampaikan gambaran tentang apa yang terjadi pada TA 1922-1923. Beliau juga mengingatkan tentang perkembangan yang signifikan dari TH Bandung di masa mendatang. Pada kesempatan ini Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman menyampaikan orasi ilmiahnya di mana ia menggantikan Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer yang sedang sakit.[48] Orasi ilmiahnya berjudul "De berekening van ijzeren bruggen en de richting, waarin die zich ontwikkelt" (perhitungan dari jembatan besi, dan ke arah mana ia mengembang).

Hasil studi untuk TA 1922-1923 adalah dari 93 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, sebanyak 15 orang lulus ke tingkat 4; 16 orang lulus ke tingkat 3; dan 26 orang lulus ke tingkat 2.[44] Di antara mahasiswa yang berhasil tersebut, tiga mahasiswa pribumi yaitu M. Hoedioro (TH 1921), M. Soetedjo (TH 1921), dan M. Soetojo (TH 1921) berhasil lulus dari tingkat dua ke tingkat tiga.[53] Sementara itu, R. Soekarno (TH 1922) berhasil lulus dari tingkat satu ke tingkat dua, bersama M. Anwari (TH 1922), R. M. Koesoemaningrat (TH 1922), Marsito (TH 1922), R. Soemani (TH 1922), M. Soetono (TH 1922), Soetoto (TH 1922), Herling Laoh[note 17] (TH 1922), dan J. A. H. Ondang (TH 1922).[53]

Fakta bahwa tidak semua mahasiswa dapat lulus ujian dan banyaknya mahasiswa yang meninggalkan bangku kuliah (drop out), dapat disebabkan beberapa hal di antaranya kehilangan minat terhadap studi yang dijalaninya. Hal ini akan menyulitkan bagi mahasiswa tersebut dalam menjalani sisa studinya, dan tentunya akan lebih baik jika mahasiswa tersebut segera mengambil keputusan untuk meninggalkan kuliah. Di sisi lain, para pengajar harus tetap menjaga mutu yang tinggi, sesuai tujuan utama para pendiri, di mana ijazah yang diberikan TH Bandung harus setara dengan TH Delft.[48]

Tahun akademik ke-4 (30 Juni 1923-1 Juli 1924)[sunting | sunting sumber]

Mahasiswa pribumi TH Bandung tahun 1923. Baris belakang dari kiri ke kanan: M. Anwari, Soetedjo (TH 1921), Soetojo (TH 1921), Soekarno, R. Soemani, Soetono/Soetoto(?), R. M. Koesoemaningrat, Djokoasmo (TH 1921), Marsito. Duduk di depan: Soetono/Soetoto(?), M. Hoedioro (TH 1921), Katamso (TH 1920).

Senin, 2 Juli 1923 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-4 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 88 orang. Pada TA ini TH Bandung sudah lengkap menyelenggarakan empat tingkatan yang terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 15 orang, tingkat 3 sebanyak 18 orang, tingkat 2 sebanyak 25 orang, tingkat 1 sebanyak 30 orang (mahasiswa baru 19[27] orang - laporan tahun 1922-1923 hanya menyebut 14 kemudian meningkat menjadi 17 orang - ditambah 11 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[47][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 126 orang.

Pada tanggal 16-23 September 1923 dilaksanakan studi ekskursi/kunjungan lapangan tahunan untuk mahasiswa tingkat 3 dan 4 ke Jawa Tengah untuk mengunjungi beberapa lokasi. Pada tanggal 16 September 1923 tiba di Stasiun Maos dilanjutkan ke Stasiun Purwokerto dengan KA Serajoedal Stoomtram Maatschappij, dilanjutkan ke proyek irigasi Bandjar-Tjahjana. Hari berikutnya menuju Yogyakarta untuk mengunjungi proyek-proyek yang diawali dengan kuliah pengantar oleh para insinyur Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Tanggal 18 September dilaksanakan kunjungan di antaranya ke pabrik gula "Gesiekan". Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan dengan KA khusus ke Muntilan dilanjutkan ke Candi Mendut dan Borobudur. Hari-hari berikutnya dilaksanakan kunjungan ke Semarang yaitu ke pelabuhan, gedung Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, dan lokasi-lokasi proyek lainnya.[54]:I.957

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Rector magnificus: Prof. Ir. Jan Klopper; Sekretaris: Prof. Dr. Willem Boomstra

Sesuai Keputusan Gubernur Jenderal dinyatakan bahwa penggolongan dan penggajian bagi staf pengajar dan personil lain yang terkait dengan TH Bandung sebagai berikut:

  • lima orang guru besar tetap mendapat gaji sebesar ƒ 1200 hingga ƒ 1500-an per bulan (Rp 96 juta hingga Rp 120 juta - 2011)[24][25];
  • seorang profesor yang menjabat Ketua Fakultas mendapat tunjangan tambahan sebesar ƒ 250-an per bulan selama masa jabatan (Rp 20 juta - 2011)[24][25];
  • lima orang guru besar luar biasa mendapat gaji sebesar ƒ 300-an per bulan (Rp 24 juta - 2011)[24][25];
  • tiga orang guru besar luar biasa mendapat gaji sebesar ƒ 200-an per bulan (Rp 16 juta - 2011)[24][25];
  • sekretaris, termasuk pengelola perpustakaan mendapat gaji sebesar ƒ 500-an per bulan (Rp 40 juta - 2011)[24][25];
  • amanuensis/asisten/teknisi peniup gelas mendapat gaji sebesar ƒ 300 hingga ƒ 500-an per bulan;
  • amanuensis/asisten/teknisi pembuat instrumen mendapat gaji sebesar ƒ 400 hingga ƒ 500-an per bulan.[55]

17 Mei 1924 – Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker diangkat menjadi guru besar tetap dalam bidang Arsitektur di TH Delft[56], posisinya kelak digantikan Wolff Schoemaker yang diangkat menjadi guru besar tetap dalam bidang Bangunan selain bidang yang sudah dipegang sebelumnya yaitu Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota.

Total guru besar pada tahun akademik ini ada lima belas orang yang terdiri dari 6 guru besar tetap dan 9 guru besar luar biasa yaitu:[3]:16

  1. Prof. Ir. Jan Klopper – guru besar tetap untuk Mekanika
  2. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  3. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  4. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  5. Prof. Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan (sampai bulan Mei 1924)
  6. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  8. Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  9. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  11. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar luar biasa untuk Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  12. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  13. Mayor Jenderal Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan
  14. Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Jembatan
  15. Prof. Mr. A. H. Walkate - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dengan jumlah mahasiswa 88 orang dan guru besar sebanyak 15 orang, maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 5,87.[note 12]

Sarana akademik[sunting | sunting sumber]

Sarana akademik yang dimiliki TH Bandung pada akhir TA ini sebanyak 9 gedung yang terdiri dari: dua gedung pembantu (untuk praktikum geodesi); dua gedung di gerbang depan (bagian barat untuk Kantor Sekretaris TH; bagian timur untuk Kantor Pedel); dua gedung utama timur dan barat; komplek laboratorium fisika; dan 2 gedung baru di utara Barakgebouw A yang selesai dibangun pada bulan September 1923[note 15].

  • Gedung baru di bagian selatan terdiri dari 2 ruang kuliah besar masing-masing dengan kapasitas 100-150 orang untuk ruang kuliah tingkat satu dan tingkat empat (sekarang dinamakan Ruang 3201 dan Ruang 3202), kamar-kamar guru besar, dan kabinet guru besar.[1]:122-123
  • Gedung baru di bagian utara terdiri dari ruang gambar arsitektur/ilmu bangunan, ruang maket/modellenzaal, dan ruang asisten.[1]:122-123

Kini TH Bandung memiliki 4 ruang kuliah untuk tingkat satu sampai tingkat empat, ditambah 1 ruang kuliah persiapan Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan, dan 1 ruang kuliah persiapan Fisika.

Dies Natalis ke-4 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

lahirnya dua belas insinyur pertama; satu mahasiswa pribumi naik ke tingkat empat; Soekarno naik ke tingkat tiga

Selasa, 1 Juli 1924 – Dies Natalis ke-4 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A.[note 10] Pukul 10.00 Prof. Ir. Jan Klopper selaku Rector magnificus beserta guru besar TH Bandung lainnya memasuki ruangan diiringi lagu Io vivat di mana telah hadir para undangan. Dalam pidatonya Prof. Ir. Jan Klopper melontarkan kekecewaan atas ketidakhadiran K. A. R. Bosscha sehubungan karena sedang sakit. Selanjutnya juga disampaikan tentang Prof. R. L. A. Schoemaker yang harus meninggalkan TH Bandung untuk menerima jabatan guru besar di TH Delft.[57]

Pada TA ini untuk pertama kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak dua belas insinyur sipil dari 15 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Bandoengsche ingenieurs (sebutan untuk insinyur lulusan TH Bandung - untuk membedakan dengan koleganya dari TH Delft yang disebut Delftsche ingenieurs) terdiri dari delapan orang Eropa, satu orang wanita Eropa, dan tiga orang Tionghoa.[43][58]:167

Dua belas Bandoengsche ingenieurs tersebut merupakan 42,86% dari 28 mahasiswa angkatan pertama TH Bandung TA 1920-1921.

Selanjutnya disampaikan pidato oleh Tuan Frijling selaku Wakil Presiden Raad van Indië (Dewan Hindia Belanda); Ir. M. H. Damme mewakili Persatuan Insinyur Kerajaan Belanda Grup Hindia Belanda (yang juga menjabat anggota College van Curatoren); Walikota Bandung Bertus Coops; Ketua Senat Mahasiswa THS (Bandoengsch Studenten Corps - BSC).[59]

Hasil studi untuk TA 1923-1924 adalah dari 88 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, sebanyak 12 orang lulus ke tingkat 4; 21 orang lulus ke tingkat 3; dan 14 orang lulus ke tingkat 2.[43] Satu orang dari tiga mahasiswa pribumi tingkat tiga, yaitu M. Soetedjo (TH 1921) berhasil lulus ke tingkat empat.[43] Sementara enam mahasiswa pribumi yaitu R. Soekarno (TH 1922), R. Soemani, M. Soetono, Soetoto, Djoko Asmo (TH 1921), M. Anwari; dan satu mahasiswa Minahasa - J. A. H. Ondang berhasil lulus dari tingkat dua ke tingkat tiga.[43] Di antara mahasiswa tingkat satu yang berhasil lulus ke tingkat dua terdapat nama Goesti Mohamad Noor[note 17] - putera Kalimantan, dan Martinus Putuhena[note 17] - seorang putera Maluku.[43]

Tahun akademik ke-5 (1 Juli 1924-4 Juli 1925)[sunting | sunting sumber]

Upacara Peresmian Penyerahan Technische Hoogeschool te Bandoeng kepada Negara yang dihadiri Gubernur Jenderal Mr. Dirk Fock, Voorzitter van het College van Directeureun K. A. R. Bosscha, dan pejabat lainnya.
Piagam Peresmian Penyerahan Technische Hoogeschool te Bandoeng kepada Negara yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Mr. Dirk Fock dan Voorzitter van het College van Directeureun K. A. R. Bosscha.
Prasasti Peresmian Nama Bosscha-Laboratorium pada tanggal 18 Oktober 1924.
THS diambil alih Pemerintah Hindia Belanda;
Rechtshoogeschool (RHS - sekolah tinggi hukum) dibuka;
Hindia Belanda memiliki dua sekolah tinggi;
J. W. IJzerman - doktor honoris causa pertama THS

Selasa, 1 Juli 1924 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-5 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak sekitar 96 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 15 orang, tingkat 3 sebanyak 26 orang, tingkat 2 sebanyak 17 orang, tingkat 1 sebanyak 38 orang (mahasiswa baru 29 orang[27] ditambah 9 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[60][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 155 orang.

Pada TA ini terdapat beberapa peristiwa penting yaitu:

  • 9 Oktober 1924 - Hooger Onderwijswet Ordonnantie (UU Perguruan Tinggi) Hindia Belanda untuk pertama kali ditetapkan;
  • 18 Oktober 1924 - THS diambil alih Pemerintah Hindia Belanda;
  • 28 Oktober 1924 - Rechtshoogeschool te Batavia (RHS - sekolah tinggi hukum) dibuka;
  • 7 April 1925 - Doktor Honoris Causa untuk pertama kali diberikan THS kepada J. W. Ijzerman dengan promotor Prof. Ir. Jan Klopper.[61]

THS diambil alih Pemerintah Hindia Belanda[sunting | sunting sumber]

Pada hari Sabtu, 18 Oktober 1924 - di Aula/Barakgebouw A[note 10] - dilangsungkan Upacara Peresmian Pengambil-alihan TH Bandung yang dihadiri oleh Gubernur Jenderal Mr. Dirk Fock. Dalam pidatonya Gubernur Jenderal mengucapkan penghargaan kepada seluruh staf pengajar atas kemampuannya, dan menyatakan bahwa peristiwa pengalihan ini tidak sepenting pembukaan TH pada tahun 1920. Walaupun demikian hari itu harus dianggap penting sebagai tonggak sejarah (mijlpaal) dalam kehidupan TH, yaitu peralihan status dari swasta menjadi instansi pemerintah. Selain itu, TH Bandung membuat kota tersebut menjadi pusat aktivitas ilmu pengetahuan alam di Hindia Belanda.[3]:19

Dengan masuknya TH menjadi lembaga pemerintah, maka KIHTONI telah selesai dengan tugasnya dan ada dalam keadaan likuidasi. Berhubung dengan hal itu, maka College van Directeureun sebagai wakil Raad van Beheer di Indonesia dibubarkan. Presiden Direktur College van Directeureun K. A. R. Bosscha mulai saat itu diangkat sebagai Presiden College van Curatoren. Sehingga pada permulaan pidatonya Gubernur Jenderal menyebut sebagai Presiden Direktur, dan pada penutupan sebagai Presiden Kurator. Sementara itu, Prof. Ir. Jan Klopper sekarang berbicara sebagai Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap, sebelumnya sebagai Rector Magnificus dan Voorzitter Faculteit Weg- en Waterbouwkunde. Penyerahan resmi dinyatakan dalam sebuah Oorkonde - piagam - yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Mr. Dirk Fock dan Voorzitter van het College van Directeureun K. A. R. Bosscha.

Sesudah upacara resmi, diadakan upacara keakraban untuk mengenang jasa K. A. R. Bosscha - penganjur utama dan pemimpin pembangunan TH. Komplek Fisika kemudian diberi nama Bosscha Laboratorium. Selain itu sebuah foto Bosscha diserahkan kepada pengurus Bosscha-lab untuk ditempatkan di kamar bacaan.

Bandoengsch Technische Hoogeschool-fonds[sunting | sunting sumber]

Bandoengsch Technische Hoogeschool-fonds (BTH-fonds) adalah suatu yayasan yang didirikan untuk menyokong perkembangan TH Bandung dalam arti luas. BTH-fonds berkedudukan di Belanda dan mempunyai badan perwakilan di Indonesia yang diikat pada TH Bandung.

Sehubungan dengan dilikuidasinya KIHTONI, maka saldo keuangan ƒ 350.000,- (ƒ 350.000,- pada tahun 1924 ≈ ƒ 5.280.490,- pada tahun 2011 ≈ Rp 28 miliar)[24][25] harus disetorkan ke negara, namun dengan persetujuan Minister van Kolonien (Menteri Urusan Daerah Jajahan) dan Gubernur Jenderal, maka sebesar ƒ 100.000,- (ƒ 100.000,- pada tahun 1924 ≈ ƒ 1.508.711,- pada tahun 2011 ≈ Rp 8 miliar)[24][25] disisihkan untuk dipergunakan sebagai modal Bandoengsch Technische Hoogeschool-fonds (BTH-fonds), yang didirikan dengan Akte Notaris 16 Februari 1926.

Dari dana yang kemudian disimpan dan diolah tersebut, secara rutin Yayasan BTH-fonds memberikan bantuannya kepada TH Bandung, misalnya pada tahun 1928[62], BTH-fonds mengeluarkan ƒ 5000,- untuk pembelian koleksi patung gips oleh Prof. C. P. Wolff Schoemaker di Musée des sculptures comparées di Paris (sekarang bernama Musée des monuments français) untuk bidang pelajaran Arsitektur di TH Bandung. Pada tahun 1929 diperoleh pemasukan dari bunga sebesar ƒ 4.950; sumbangan sebesar ƒ 1.550; jumlah total ƒ 6.500; pengeluaran: untuk biaya umum ƒ 1000, sedangkan untuk bantuan rutin untuk TH Bandung tersedia ƒ 5.500 (ƒ 5.500,- pada tahun 1924 ≈ ƒ 86.560,- pada tahun 2011 ≈ Rp 460 juta).[24][25]

Dalam “Statuten” dari Yayasan BTH-fonds ditetapkan bahwa selama di Bandung ada ‘technische hoogeschool’ maka tujuan yayasan (Stichting) ini tidak dapat diubah.[3]:26 Tidak dijelaskan apakah yang dimaksud ‘technische hoogeschool’ sebagai istilah untuk ‘sekolah tinggi teknik’ atau sebagai nama/nomenklatur “Technische Hoogeschool”, karena nama “Technische Hoogeschool” sekarang sudah tidak ada, namun ‘technische hoogeschool’ tetap ada hingga kini dengan nama Institut Teknologi Bandung. Namun yang pasti, Yayasan BTH-fonds masih berdiri hingga kini di Negeri Belanda dan tetap memberikan bantuan khususnya beasiswa bagi lulusan yang ingin melanjutkan studi pasca sarjana di Belanda. Yayasan ini berkontribusi dalam memberikan fellowship bagi para peraih Ganesha Prize ITB. Yayasan ini merupakan salah satu mata rantai yang menghubungkan ITB dengan sejarah masa lalunya - Technische Hoogeschool te Bandoeng.

Undang-Undang Perguruan Tinggi 1924[sunting | sunting sumber]

Sehubungan dengan pengambil-alihan THS (Sabtu, 18 Oktober 1924) oleh negara dan pembukaan RHS (Selasa, 28 Oktober 1924), maka kedua sekolah tinggi tersebut diatur dalam peraturan perundang-undangan tentang pendidikan/perguruan tinggi di Hindia Belanda yang selanjutnya disebut Hooger Onderwijs Wet 1924 Ordonnantie 9 Oktober 1924 No.1 yang di antaranya mengatur:[63]

  • Sebuah sekolah tinggi (hoogeschool) tidak mencakup lebih dari satu fakultas (faculteit); sebuah fakultas dapat dibagi menjadi beberapa bagian (afdeelingen) yang masing-masing mewakili suatu disiplin tertentu; beberapa sekolah tinggi dapat disatukan menjadi sebuah universitas (universiteit).
  • Warga negara secara otomatis diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi di:
    • Fakultas Teknik; dan
    • Fakultas Hukum.
  • Fakultas Teknik untuk saat ini hanya terdiri dari bagian teknik sipil (weg- en waterbouwkunde).
  • Bidang pelajaran yang diberikan untuk pendidikan insinyur sipil di TH Bandung adalah:
  1. Wiskunde (Matematika);
  2. Mechanica (Mekanika);
  3. Natuurkunde (Fisika);
  4. Hydraulica (Hidrolika);
  5. Waterbouwkunde (Bangunan air);
  6. Wegen- en bruggenbouw (Bangunan jalan dan jembatan);
  7. Architectuur (Arsitektur);
  8. Landmeten, waterpassen en geodesie (Ilmu ukur tanah/surveying, perataan/levelling dan geodesi);
  9. Kennis en onderzoek van bouwstoffen (Pengetahuan dan penelitian bahan bangunan);
  10. Werktuigkunde (Teknik mesin);
  11. Electrotechniek (Teknik listrik);
  12. Technologie (Teknologi/kimia);
  13. Landbouwkunde (Pertanian);
  14. Technische aardrijkskunde (Geografi teknik);
  15. Staats-, administratief- en handelsrecht van Ned.-Indië (Hukum tata negara, hukum administrasi negara dan hukum dagang di Hindia Belanda);
  16. Staathuishoudkunde (Ekonomi studi pembangunan);
  17. Bedrijfsleer en boekhouden (Pengetahuan bisnis dan akuntansi);
  18. Hygiëne (Higiene).
  • Rencana masa studi untuk THS selama empat tahun; ujian pada akhir tingkat tiga disebut candidaats-examen; mereka yang lulus ujian penghabisan eind-examen menerima ijazah (getuigschrift) insinyur sipil (civiel-ingenieur).
  • Rencana masa studi untuk RHS selama empat tahun, dibagi menjadi dua periode utama. Periode pertama ditutup dengan candidaats-examen, yang kedua adalah doctoraal-examen. Candidaats-examen dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama diujikan pada akhir tahun pertama (C1), yang kedua pada akhir tahun kedua (C2). Doctoraal-examen juga dilakukan dalam dua bagian, bagian pertama diujikan pada akhir tahun ketiga (D1), yang dibagi menjadi empat arah: (1) Hukum privat/perdata; (2) Hukum pidana; (3) Hukum tata negara; (4) Sosiologis dan ekonomi. Mereka yang berhasil lulus doctoraal-examen (D2) memperoleh status meester in de rechten.
  • Pemegang ijazah insinyur sipil yang diperoleh dari TH Bandung, atau ijazah insinyur salah satu atau lebih program studi yang diperoleh dari TH Delft, dapat menempuh promosi untuk meraih gelar “Doctor in de Technische Wetenschap”.
  • Mereka yang berstatus meester in de rechten serta memenuhi persyaratan untuk menempuh promosi ke doktor dalam ilmu hukum di universitas di Belanda, dapat menempuh promosi untuk meraih gelar Doktor Ilmu Hukum.
  • Staf pengajar/dosen diangkat oleh Gubernur Jenderal dan dibagi atas guru besar tetap/biasa (gewoon hoogleraar), guru besar luar biasa/tidak tetap (buitengewoon hoogleraar), lektor tetap (gewoon lector), lektor luar biasa/tidak tetap (buitengewoon lector). Guru besar yang berhenti dengan hormat tetap memegang gelar hoogleraar, peraturan ini tidak berlaku bagi guru besar luar biasa. Perlu diperhatikan bahwa sebutan “professor” tidak ditulis dalam Hooger Onderwijs Ordonnantie maupun Reglement.[3]:23

Dari Hooger Onderwijs (HO) Ordonnantie tersebut kemudian dibuat aturan turunannya yaitu Reglement van de Technische Hoogeschool yang di antaranya mengatur:[3]:24-25

  • Pendaftar (mahasiswa) biasa mempunyai hak mengikuti kuliah di setiap sekolah tinggi negeri; uang kuliah ƒ 300,- setahun; untuk seluruh studi sampai selesai berjumlah 4 kali ƒ 300,- = ƒ 1.200,- (ƒ 300,- pada tahun 1924 jika dikonversi ke tahun 2011 menjadi ƒ 4.526,- atau lebih dari Rp 24 juta. Namun besar uang kuliah tersebut bertahan hingga tahun 1950-an awal, oleh karenanya ƒ 300,- pada tahun 1950 jika dikonversi ke tahun 2011 menjadi ƒ 2.430,- atau mendekati Rp 13 juta pertahun. Sebagai perbandingan uang kuliah ITB tahun 2011 adalah Rp 5 juta per semester atau Rp 10 juta pertahun.[64])[24][25]
  • Pendaftar biasa (tanpa ujian masuk) adalah:
    • mereka yang telah lulus ujian penghabisan HBS atau AMS bagian B;
    • mereka yang resmi dapat diterima di TH Delft sesuai dengan peraturan yang tertulis dalam HO Ordonnantie
  • Pendaftar luar biasa memerlukan persetujuan lebih dahulu dari ketua fakultas; uang kuliah ƒ 15,- setahun untuk satu jam kuliah seminggu.
  • Liburan besar lamanya delapan minggu sebelum permulaan tahun akademik.

Dengan dikeluarkannya UU tersebut pada tahun 1924, semakin kuatlah dasar pijakan bagi dua sekolah tinggi tersebut - satu hasil perolehan dari lembaga swasta bersubsidi yaitu Sekolah Tinggi Teknik di Bandung; satu lagi hasil inisiatif pemerintah Hindia Belanda sendiri yaitu Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Tiga tahun ke depan, tepatnya tahun 1927, bertambah lagi sekolah tinggi di negeri ini, yaitu Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Rector magnificus: Prof. Ir. Jan Klopper; Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos

Setelah menjabat sekitar lima tahun, mulai TA 1925-1926 bertindak selaku Ketua Fakultas adalah Prof. Dr. Jacob Clay.

Pada bulan Juli 1924, Mr. Dr. Harmen Westra, guru Rechtsschool di Weltevreden, diangkat menjadi guru besar luar biasa untuk Hukum Administrasi Negara di TH Bandung.[65]

Terhitung tanggal 1 September 1924 Charles Prosper Wolff Schoemaker yang sebelumnya menjabat guru besar luar biasa dalam bidang Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota (Geschiedenis der Bouw- en Versierkunst, Bestekken, Begrootingen en Stadsaanleg) diangkat menjadi guru besar tetap untuk Bangunan ditambah bidang-bidang yang sebelumnya telah dipegang.[39]:I.119

Berdasarkan Besluit tanggal 16 Oktober 1924 yang berlaku sejak tanggal 18 Oktober 1924, total guru besar pada tahun akademik ini ada empat belas orang yang terdiri dari 6 guru besar tetap dan 8 guru besar luar biasa sesuai urutan sebagai berikut:[66]

  1. Prof. Ir. Jan Klopper – guru besar tetap untuk Mekanika merangkap Ketua Fakultas
  2. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  3. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  4. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Hidrolika, Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  5. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  6. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  7. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – Kepala Laboratorium voor Materiaalonderzoek Departemen BOW - sebagai guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  8. Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman – pejabat Kepala Biro Konstruksi Umum Staatsspoorwegen (SS) - sebagai guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  9. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – pensiunan pegawai kepala - sebagai guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – Kepala Triangulatie-brigade Dinas Topografi Batavia - sebagai guru besar luar biasa untuk Ilmu Ukur Tanah/Surveying, Perataan/Levelling dan Geodesi
  11. Prof. Ir. J. N. van der Ley – pejabat sementara Kepala Dienst voor Waterkracht en Electricteit (dinas pembangkit tenaga air dan kelistrikan) - sebagai guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  12. Mayor Jenderal (Purn) Prof. dr. H. M. Neeb – Inspektur Dinas Kedokteran Militer - sebagai guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan
  13. Prof. Ir. P. N. Max – insinyur kepala Biro Konstruksi Umum Staatsspoorwegen (SS) - sebagai guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  14. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra – pejabat sementara guru Rechtsschool Batavia - sebagai guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dies Natalis ke-5 (Lustrum ke-1) dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Jan Klopper - Jacob Clay; delapan insinyur sipil diluluskan; Soekarno naik ke tingkat empat

Sabtu, 4 Juli 1925 – Dies Natalis ke-5 dan Lustrum ke-1 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10] kali ini dipimpin Ketua Fakultas yang baru yaitu Prof. Dr. Jacob Clay. Dalam pidatonya ia mengulas tentang perkembangan TH Bandung hingga dialihkan kepada Pemerintah, termasuk memperingati jasa Prof. Ir. Jan Klopper sebagai salah satu pendiri dan Rector magnificus dan Ketua Fakultas pertama TH Bandung. Selain itu juga ia memperkenalkan dan menyambut kedatangan Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman - guru besar mekanika dari TH Delft yang mengikuti program pertukaran tempat dengan Prof. Ir. Jan Klopper, di mana Prof. Ir. Jan Klopper akan menjadi guru besar sementara di TH Delft selama TA 1925-1926 (namun akhirnya tidak kembali lagi ke Bandung), dan pada saat bersamaan, Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman akan menjadi guru besar sementara di TH Bandung,[67] dan sudah berangkat ke Negeri Belanda pada tanggal 15 Juni 1925.[68]

Selanjutnya Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "De ontwikkeling van onze kennis van de bouwmaterialen" (perkembangan pengetahuan dalam bahan bangunan).

Pada TA ini untuk kedua kalinya TH Bandung meluluskan sebanyak delapan orang insinyur sipil - semuanya orang Eropa, dari 15 kandidat yang mengikuti ujian akhir.[58]:167 Satu-satunya mahasiswa pribumi yang duduk di tingkat empat, belum berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 20 insinyur, 19 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (95%), 1 orang menempuh studi selama lima tahun (5%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,05 tahun.

Hasil studi untuk TA 1924-1925 adalah dari 96 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, dari 26 mahasiswa tingkat 3 yang terdaftar, 25 orang mengikuti ujian akhir dengan hasil 19 orang lulus ke tingkat 4, dan 6 orang tidak lulus.

Dari 17 mahasiswa tingkat 2 yang terdaftar, 15 orang mengikuti ujian akhir dengan hasil 14 orang lulus ke tingkat 3, dan 1 orang tidak lulus.

Dari 38 mahasiswa tingkat 1 yang terdaftar, 31 orang mengikuti ujian akhir dengan hasil 19 orang lulus ke tingkat 2, 1 orang dikenakan ujian ulangan, dan 11 orang tidak lulus.[60]

Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat empat, terdapat nama M. Anwari, R. M. Koesoemaningrat, J. A. H. Ondang, R. Soekarno (TH 1922), dan Soetoto.[69] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat tiga, terdapat nama Herling Laoh[note 17], Goesti Mohamad Noor[note 17], dan Martinus Putuhena[note 17].[69] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat dua, terdapat nama B. R. M. Saloekoe dan A. M. Semawi.[69]

Tahun akademik ke-6 (4 Juli 1925-3 Juli 1926)[sunting | sunting sumber]

Patung dada Dr.(HC) J. W. Ijzerman di depan Ijzermanpark (Taman Ganesha Kampus ITB sekarang) tanggal 3 Juli 1926 bertepatan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung.
Para guru besar dan undangan berjalan dari gerbang kampus menuju lokasi peresmian patung dada Dr.(HC) J. W. Ijzerman di depan Ijzermanpark (Taman Ganesha Kampus ITB sekarang).
Kerumunan undangan pada saat peresmian patung dada Dr.(HC) J. W. Ijzerman di depan Ijzermanpark.

Rabu, 1 Juli 1925 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-6 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 77 orang dalam empat tingkatan yang terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 25 orang, tingkat 3 sebanyak 19 orang, tingkat 2 sebanyak 18 orang, tingkat 1 sebanyak 15 orang (mahasiswa baru 14[27] orang ditambah 1 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[70][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 169 orang.

Sedikitnya jumlah mahasiswa baru tersebut (14 orang) mendapat perhatian Prof. Dr. Jacob Clay selaku Ketua Fakultas, yang menyampaikan bahwa pada situasi saat itu, seorang mahasiswa yang berkuliah di TH Bandung akan lebih beruntung dibandingkan berkuliah di tempat lain. Sangat disesalkan bahwa jumlah mahasiswa baru dari tahun ke tahun cenderung menurun, di bawah kapasitas yang direncanakan (1920 - 28 orang; 1921 - 37 orang; 1922 - 42 orang; 1923 -19 orang; 1924 - 29 orang; 1925 - 14 orang). Selanjutnya disampaikan penyebabnya antara lain adalah keterbatasan keuangan calon mahasiswa, dibukanya Sekolah Tinggi Hukum (RHS) pada tahun 1924, dan keadaan ekonomi yang buruk sejak tahun 1922. Bagaimanapun untuk beberapa tahun ke depan, jumlah insinyur yang ada tidak akan mencukupi kebutuhan.[70]

Faktor penting lain penyebab menurunnya animo menjadi mahasiswa teknik adalah secara umum generasi muda lebih menginginkan studi di bidang teknik elektro, oleh karenanya TH Bandung merencanakan perluasan pendidikan tersebut. Sehubungan dengan rencana Pemerintah untuk mengembangkan pendidikan tinggi, ia berpendapat bahwa yang pertama dibutuhkan adalah mengembangkan pendidikan menengah dan sekolah tinggi yang memadai. Untuk itulah TH Bandung merencanakan untuk menambahkan program studi teknik mesin dan teknik elektro.[70] Namun keinginan tersebut baru terlaksana pada TA 1940-1941 dengan dibukanya program studi Teknik Kimia, dan TA 1941-1942 untuk program studi Teknik Mesin-Listrik - itupun atas inisiatif staf pengajar TH Bandung (belum mendapat ijin dan pengesahan Pemerintah). Inilah sebagai gambaran betapa sulitnya mengembangkan sekolah tinggi pada masa kolonial.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Jacob Clay; Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos.

Susunan korps guru besar hanya mengalami satu perubahan namun sangat signifikan, di mana Prof. Ir. Jan Klopper tidak dapat kembali ke TH Bandung, sementara Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman harus kembali ke Delft.[70]

Mulai TA mendatang tepatnya tanggal 2 Juni 1926 korps guru besar TH Bandung diperkuat dengan diangkatnya insinyur dari Dinas Pembangkit Tenaga dan Kelistrikan - Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh sebagai guru besar mekanika.[71]

Total guru besar pada tahun akademik ini ada empat belas orang yang terdiri dari 6 guru besar tetap dan 8 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  2. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  3. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Hidrolika, Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  4. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  5. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  6. Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman – guru besar untuk Mekanika
  7. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  8. Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  9. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Ilmu Ukur Tanah/Surveying, Perataan/Levelling dan Geodesi
  11. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  12. Mayor Jenderal (Purn) Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan
  13. Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  14. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra – guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dies Natalis ke-6 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

dua puluh insinyur sipil diluluskan - di antaranya Soetedjo, Soekarno, M. Anwari, dan J. A. H. Ondang;
kalung jabatan Ketua Fakultas hadiah dari Dr. Yzerman;
peresmian patung Dr. Yzerman

Sabtu, 3 Juli 1926 – Dies Natalis ke-6 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang antara lain dihadiri Pjs. Panglima Angkatan Darat Hindia Belanda – Mayor Jenderal Blits dan Pjs. Direktur Gouvernementsbedrijven (GB).[70] Setelah pidato Ketua Fakultas Prof. Dr. Jacob Clay, Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Bevloeiing, welvaart en cultuur" (irigasi, kesejahteraan dan kebudayaan).[70]:10

Pada kesempatan kali ini, K. A. R. Bosscha mengalungkan ambtsketen (kalung rantai) jabatan Ketua Fakultas pada Prof. Dr. Jacob Clay diiringi tepuk tangan para hadirin. Kalung rantai itu adalah hadiah dari Dr. J. W. Ijzerman.

Selanjutnya dilaksanakan peresmian pembukaan patung dada Dr. Yzerman yang didahului sambutan dari K. A. R. Bosscha. Patung itu berlokasi di plaza depan Taman Ganesha sekarang, pada zaman pendudukan Jepang dicopot, kemudian disimpan di gedung rektorat ITB, tahun 2001 dipindahkan lagi ke Villa Merah - salah satu properti milik ITB yang juga terletak di Jl. Taman Sari Bandung dan kini menjadi Kantor Pusat Penelitian Pariwisata ITB.[72]. Patung dada itu dibuat oleh Prof. Ode dari Delft yang diserahkan kepada pemerintah kota Bandung. Burgemeester (Walikota) Bandung, Bertus Coops mengucapkan terima kasih atas nama dewan kota untuk hadiah yang indah itu.[70]

Pada TA ini untuk ketiga kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak dua puluh orang (semula 19 orang, satu orang menyusul kemudian karena sakit).[58]:167 Di antara insinyur muda tersebut terdapat empat orang pribumi pertama yang berhasil meraih gelar insinyur dari TH Bandung yaitu M. Soetedjo (TH 1921), Soekarno (TH 1922), M. Anwari (TH 1922), dan J. A. H. Ondang (TH 1922).[73] Dalam pidatonya Prof. Dr. Jacob Clay menyampaikan: "Aan het eind-examen voor ingenieurs namen 22 personen deel, hiervan slaagden er 19, w.o. 3 Javaansche jongelui."[70] … tiga insinyur Jawa, sayangnya ia tidak menyebutkan empat insinyur pribumi… rupanya konsep nusantara belum memasyarakat pada waktu itu. Sebagai catatan bahwa sebelumnya sudah ada beberapa orang pribumi yang berhasil meraih gelar insinyur dari luar negeri di antaranya Ir. Wreksodiningrat - lulusan TH Delft tahun 1916.[7] Dari 19 insinyur muda tersebut 3 orang menyelesaikan pendidikan dalam 6 tahun, 7 orang menyelesaikan pendidikan dalam 5 tahun, dan 9 orang menyelesaikan pendidikan dalam 4 tahun.

Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 40 insinyur, 29 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (72,5%), 8 orang menempuh studi selama lima tahun (20%), 3 orang menempuh studi selama enam tahun (7,5%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,35 tahun.

Hasil studi untuk TA 1925-1926 adalah dari 77 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, sebanyak 14 orang lulus ke tingkat 4; 11 orang lulus ke tingkat 3 (ditambah 3 orang ujian perpanjangan); dan 5 orang lulus ke tingkat 2 (ditambah 1 orang ujian perpanjangan).[70] Dari 25 mahasiswa tingkat 4, sebanyak 19 orang lulus ingenieurs-examen (ujian akhir tingkat 4 - ujian insinyur), sementara satu orang menyusul kemudian setelah menjalani ujian perpanjangan karena sakit.[73] Dari 19 mahasiswa tingkat 3, sebanyak 14 orang lulus candidaats-examen (ujian kenaikan tingkat 3 ke tingkat 4), di antaranya M. Hoedioro, Herling Laoh [note 17], M. Marsito, G. M. Noor[note 17], Martinus Putuhena[note 17], R. Soemani; sementara 5 orang tidak lulus.[73] Dari 18 mahasiswa tingkat 2, sebanyak 11 orang lulus ujian kenaikan tingkat 2 ke tingkat 3, di antaranya A. M. Semawi[note 18].[73] Dari 15 mahasiswa tingkat 1, sebanyak 5 orang lulus ujian kenaikan tingkat 1 ke tingkat 2, di antaranya M. Soegyono, dan R. M. Soemantri; 1 orang ujian perpanjangan; 7 orang mengundurkan diri, 3 orang tidak lulus.[73] Suatu hasil studi yang kurang memuaskan, namun merupakan kenyataan yang harus dihadapi TH Bandung.

Tahun akademik ke-7 (3 Juli 1926-2 Juli 1927)[sunting | sunting sumber]

Kamis, 1 Juli 1926 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-7 dengan jumlah mahasiswa baru di tingkat satu sebanyak 23 orang.[27][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 192 orang.

Kondisi kurang menggembirakan dirasakan para pengajar TH Bandung mengenai kualitas dari mahasiswa baru. Hal ini tampak jelas dari persentase kelulusan ujian kenaikan tingkat satu selama beberapa tahun terakhir yang cenderung menurun. Hasil yang baik diperoleh pada TA 1920-1921 dengan prosentase kelulusan adalah 80% (20 mahasiswa lulus langsung dari 25 peserta ujian tingkat satu - angka tersebut kemudian menjadi 22 ditambah dengan 2 orang yang lulus ujian perpanjangan - angka 25 didapat dari jumlah semula 28 orang dikurangi 3 orang yang meninggalkan studinya/drop out). Prosentase tersebut dari TA 1921-1922 hingga TA 1926-1927 semakin menurun yaitu 60, 43, 61, 48, 44 dan akhirnya tahun ini 34 persen.[75]

Jacob Clay selaku Ketua Fakultas berpendapat bahwa kualitas pendidikan pra-pendidikan tinggi (voorbereiding voor het hooger onderwijs) di tingkat sekolah menengah semakin menurun sejak tahun 1921. Jam pelajaran matematika di HBS dikurangi, demikian juga untuk mata pelajaran mekanika dan fisika - di mana semua pelajaran tersebut merupakan dasar bagi calon insinyur. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah dengan meningkatnya jumlah siswa yang diterima di HBS (sebagai dampak kebijakan pemerintah di mana salah satunya adalah dibukanya kesempatan bagi semua golongan untuk melanjutkan studinya di jenjang lebih tinggi), menyebabkan jumlah murid dalam suatu kelas semakin besar, jumlah jam mengajar setiap guru juga semakin banyak, dan rasio guru per siswa semakin besar, sehingga kualitas pengajaran HBS mengalami penurunan.[75]

TH Bandung sendiri telah berupaya untuk membantu peningkatan kualitas guru dengan membuka kursus pelatihan akta mengajar untuk guru matematika sekolah menengah (cursus tot opleiding voor de middelbare acte wiskunde - K. I.) sejak tahun 1922.

Banyaknya jumlah mata pelajaran dan jumlah murid menyebabkan pendangkalan sistematis dari siswa, oleh karena itu ia mengusulkan agar jumlah murid di kelas 4 dan 5 HBS dikurangi dengan cara memecahnya menjadi dua bagian atau lebih. Selanjutnya ia juga menyampaikan, agar tidak mengalami kesulitan dalam studi di TH Bandung, maka calon mahasiswa yang sedang belajar di sekolah menengah, setidaknya mendapatkan nilai 7 untuk pelajaran matematika dan fisika.[75]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Jacob Clay; Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik van Breen.

Setelah menjabat sekitar dua tahun, mulai TA 1927-1928 bertindak selaku Ketua Fakultas adalah Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos, sebagai pejabat sementara selama Prof. Dr. Jacob Clay cuti ke luar negeri selama satu tahun.

Total guru besar pada tahun akademik ini ada empat belas orang yang terdiri dari 6 guru besar tetap dan 8 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  2. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  3. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Hidrolika, Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  4. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  5. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  6. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika
  7. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  8. Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  9. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Ilmu Ukur Tanah/Surveying, Perataan/Levelling dan Geodesi
  11. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  12. Mayor Jenderal (Purn) Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan
  13. Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  14. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra – guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dies Natalis ke-7 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

empat belas insinyur sipil angkatan keempat diluluskan - di antaranya M. Hoedioro, R. M. Koesoemaningrat, Marsito, Soetoto, Goesti Mohamad Noor, dan Martinus Putuhena;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Jacob Clay - Hendrik Christiaan Paulus de Vos

Sabtu, 2 Juli 1927 – Dies Natalis ke-7 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dihadiri sejumlah pejabat sipil dan militer antara lain Panglima Angkatan Darat Hindia BelandaLetnan Jenderal La Lau, Direktur Gouvernementsbedrijven (GB) - Ir. De Iongh, dan Residen Karesidenan Priangan (Resident der Preanger Regentschappen) - van Gesseler Verschuir.[75]

Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Dr. Jacob Clay yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir. Selain itu ia juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para kolega staf pengajar atas kerjasamanya selama dua tahun masa kepemimpinannya yang kemudian diserahkan kepada Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos. Tidak lupa ia juga memberikan pesan-pesan untuk memotivasi para mahasiswa. Prof. Dr. Jacob Clay tak lama kemudian berangkat cuti ke Eropa.[75]

Selanjutnya Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro TH Bandung menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Electriciteits voorziening als factor in de menschelijke samenleving" (penyediaan tenaga listrik sebagai salah satu faktor dalam kehidupan masyarakat).[75]

Pada TA ini untuk keempat kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 14 insinyur sipil dari 19 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 54 insinyur, 35 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (65%), 13 insinyur lainnya menempuh studi selama lima tahun (24%), dan 6 orang lainnya membutuhkan waktu enam tahun (11%).[75] Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,46 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah M. Hoedioro (TH 1921), R. M. Koesoemaningrat (TH 1922), Marsito (TH 1922), Soetoto (TH 1922), Goesti Mohamad Noor (TH 1923)[note 17], dan Martinus Putuhena (TH 1923)[note 17].[76] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 10 orang.[58]:167

Hasil studi untuk TA 1926-1927 berdasarkan hasil ujian akhir, sebanyak 11 orang lulus ke tingkat 4[76]; 3 orang lulus ke tingkat 3; dan 5 orang lulus ke tingkat 2.[77] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat empat, terdapat nama B. R. M. Saloekoe dan A. M. Semawi.[76]

Tahun akademik ke-8 (2 Juli 1927-30 Juni 1928)[sunting | sunting sumber]

Senin, 4 Juli 1927 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-8 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 51 orang dalam empat tingkatan yang terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 17 orang, tingkat 3 sebanyak 8 orang, tingkat 2 sebanyak 7 orang, tingkat 1 sebanyak 19 orang (mahasiswa baru 16[27] orang ditambah 3 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[78][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 208 orang.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos; Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik van Breen. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1928-1929 jabatan Ketua Fakultas dipegang kembali oleh Prof. Dr. Jacob Clay yang baru kembali dari cuti luar negeri selama hampir setahun.

Mulai bulan Juni 1928 korps guru besar TH Bandung diperkuat dengan diangkatnya insinyur dari Staatsspoorwegen (SS) - Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard sebagai guru besar tetap bidang Bangunan Jalan dan Jembatan untuk menggantikan posisi Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman yang sebelumnya mengundurkan diri.[79]

Total guru besar pada tahun akademik ini ada empat belas orang yang terdiri dari 6 guru besar tetap dan 8 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  2. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  3. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Hidrolika, Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  4. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan
  5. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  6. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika
  7. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  8. Prof. Dr. Ir. J. H. A. Haarman – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  9. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Ilmu Ukur Tanah/Surveying, Perataan/Levelling dan Geodesi
  11. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  12. Mayor Jenderal (Purn) Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan
  13. Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  14. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra – guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dies Natalis ke-8 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

delapan insinyur sipil angkatan kelima diluluskan - di antaranya R. Soemani, Herling Laoh, dan A. M. Semawi;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Hendrik Christiaan Paulus de Vos - Jacob Clay

Sabtu, 30 Juni 1928 – Dies Natalis ke-8 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos, kemudian dilanjutkan orasi ilmiah Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa Teknik Mesin TH Bandung yang memberikan gambaran dan uraian mengenai peran para teknisi Belanda dalam pengembangan turbin uap dan mesin kapal ("Aandeel van de Nederlandsche technici in de ontwikkeling van stoommachine en motor voor scheepsbedrijf").[80]

Pada TA ini untuk kelima kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 8 insinyur sipil dari 17 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 62 insinyur, 40 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (64,5%), 13 insinyur lainnya menempuh studi selama lima tahun (21%), dan 9 orang lainnya membutuhkan waktu enam tahun (14,5%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,5 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah R. Soemani (TH 1922), Herling Laoh (TH 1922)[note 17][note 19], dan A. M. Semawi (TH 1924)[note 18].[78] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 13 orang.[58]:167

Hasil studi untuk TA 1927-1928 berdasarkan hasil ujian akhir, dari 8 mahasiswa tingkat 3 yang mengikuti ujian, sebanyak 5 orang lulus ke tingkat 4[78]; dari 7 mahasiswa tingkat 2 yang mengikuti ujian, 5 orang lulus ke tingkat 3; dan dari 19 mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti ujian, 11 orang lulus ke tingkat 2, satu orang diijinkan mengikuti ujian susulan, tiga orang dikenakan ujian ulangan, dan 4 orang tidak lulus.[78] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama M. Iskandar Karjomanggolo dan M. Soemono. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama Pangeran Mohamad Djahir Ibrahim, M. Soemardjono, M. Thahir dan M. Salyo Nitidrono.[78]

Tahun akademik ke-9 (30 Juni 1928-29 Juni 1929)[sunting | sunting sumber]

Senin, 2 Juli 1928 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-9 dengan jumlah mahasiswa baru di tingkat satu sebanyak 32 orang[81]:16[note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 240 orang.

Pada tanggal 18-25 Mei 1929 TH Bandung menjadi tuan rumah penyelenggaraan Fourth Pacific Science Congress yang dihadiri para ilmuwan dari negara-negara kawasan Pasifik[82].

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Jacob Clay; Sekretaris: Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker. Setelah menjabat selama kurang lebih tiga tahun akademik (TA 1925-1927 dan TA 1928-1929), mulai TA 1929-1930 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Dr. Willem Boomstra. Jacob Clay selanjutnya akan diangkat sebagai guru besar Universitas Amsterdam. Posisi guru besar tetap untuk Fisika selanjutnya akan diisi oleh Prof. Dr. Herman Robert Woltjer yang baru diangkat menjadi guru besar di Universitas Leiden.

Prof. Ir. C. B. Biezeno, profesor mekanika terapan dan Kepala Bagian Mesin dan Bangunan Kapal dari TH Delft berangkat dari Belanda pada bulan Mei 1929 untuk memberikan kuliah di TH Bandung selama tahun akademik 1929-1930 sebagai guru besar biasa[83] sebagai pengganti sementara Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh yang mengambil cuti di Belanda.[3]:27

Total guru besar pada tahun akademik ini ada empat belas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 7 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Jacob Clay – guru besar tetap untuk Fisika
  2. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  3. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  4. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  5. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  6. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika
  7. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  8. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  9. Prof. Ir. G. H. M. Vierling – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  11. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  12. Mayor Jenderal Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan
  13. Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Jembatan
  14. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dies Natalis ke-9 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

sepuluh insinyur sipil angkatan keenam diluluskan - di antaranya B. R. M. Saloekoe;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Jacob Clay - Willem Boomstra

Sabtu, 29 Juni 1929 – Dies Natalis ke-9 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang antara lain dihadiri Directeur van Onderwijs dan Ketua-ketua Fakultas Batavia (RHS dan GHS). [84]:3

Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Dr. Jacob Clay yang dilanjutkan orasi ilmiah Prof. Mr. Dr. Harmen Westra – guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang di TH Bandung yang memberikan gambaran dan uraian mengenai pentingnya reorientasi ilmu hukum (her-oriënteering der rechtswetenschap).[84]:1

Pada TA ini untuk keenam kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 10 insinyur sipil dari 13 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 72 insinyur, 42 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (58,3%), 15 orang menempuh studi selama lima tahun (20,8%), 10 orang membutuhkan waktu enam tahun (13,9%), 3 orang membutuhkan waktu tujuh tahun (4,2%), dan 2 orang membutuhkan waktu delapan tahun (2,8%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,72 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah B. R. M. Saloekoe (TH 1924-?).[85] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 14 orang.[58]:168

Hasil studi untuk TA 1928-1929 adalah dari 10 mahasiswa tingkat 2 yang mengikuti ujian, 6 orang lulus ke tingkat 3; satu orang dikenakan ujian ulangan; dan 3 orang tidak lulus.[85] Dari 24 mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti ujian, 15 orang lulus ke tingkat 2; dua orang dikenakan ujian ulangan; dan 7 orang tidak lulus.[85] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama Moh. Iskandar Karjomanggolo. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama R. Agoes Prawiranata, Pangeran Mohamad Djahir Ibrahim, dan M. Soemardjono. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama R. Roosseno, M. Sahardi, dan R. M. Soetardi.[85]

Tahun akademik ke-10 (29 Juni 1929-28 Juni 1930)[sunting | sunting sumber]

Senin, 1 Juli 1929 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-10 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak sekitar 87 orang, terdiri dari 49 orang Eropa, 32 orang pribumi, dan 6 orang Tionghoa.[86] Jumlah tersebut terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 11 orang; tingkat 3 sebanyak 10 orang; tingkat 2 sebanyak 16 orang; tingkat 1 sebanyak 50 orang (mahasiswa baru 40 orang ditambah 10 orang mahasiswa angkatan-angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[87]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Willem Boomstra; Sekretaris: Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker[88]

Jumlah staf pengajar hingga akhir tahun 1929 sebanyak 22 orang terdiri dari 15 guru besar, 3 lektor, dan 4 dosen sementara. Selain itu tercatat sebanyak 7 orang mantan guru besar (yang sudah tidak bekerja di TH Bandung). Jumlah asisten sebanyak 11 orang.[86]

Posisi guru besar tetap untuk Fisika diisi oleh Prof. Dr. Herman Robert Woltjer yang baru diangkat menjadi guru besar di Universitas Leiden.

Selama TA 1929-1930 Prof. Ir. C. B. Biezeno, profesor mekanika terapan dan Kepala Bagian Mesin dan Bangunan Kapal dari TH Delft untuk sementara menggantikan Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh yang mengambil cuti di Belanda.[83][3]:27

Guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin - Prof. Ir. G. H. M. Vierling, sejak tanggal 30 Juni 1929 atas permintaannya sendiri, diberhentikan dengan hormat dari jabatan guru besar luar biasa TH Bandung. Oleh karena itu, pada TA 1929-1930 TH Bandung mengangkat Ir. P. F. A. van Wolzogen Kühr menjadi lektor luar biasa ("buitengewoon lector") untuk Teknik Mesin. Wolzogen Kühr adalah insinyur kelas I di perusahaan "Staats Spoor- en Tramwegen" di Jawa.[89]

Total guru besar pada tahun akademik ini ada lima belas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap, 7 guru besar luar biasa, dan 1 guru besar sementara yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  3. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  4. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  5. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika (cuti)
  6. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan
  7. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  8. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  9. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  10. – guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin
  11. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  12. Mayor Jenderal Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan
  13. Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Jembatan
  14. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang
  15. Prof. Ir. C. B. Biezeno – guru besar untuk Mekanika (sementara)

Dengan jumlah mahasiswa 87 orang dan guru besar sebanyak 15 orang, maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 5,8.[note 12]

Sarana akademik[sunting | sunting sumber]

TH Bandung memiliki 6 fasilitas dan sarana pendidikan teknik (Barakgebouw A, Barakgebouw B, gedung kantor Sekretaris TH, gedung kantor Pedel TH, gedung kelas, gedung ruang gambar), dengan laboratorium dan ruang praktek sebanyak empat buah (dua buah hulpgebouwen, kompleks Laboratorium Bosscha, dan Laboratorium Electriciteit).[86]

Dies Natalis ke-10 (Lustrum ke-2) dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

enam insinyur sipil angkatan ketujuh diluluskan - di antaranya Moh. Iskandar Karjomanggolo dan M. Soemono

Sabtu, 28 Juni 1930[86]Dies Natalis ke-10 dan Lustrum ke-2 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10] di mana Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar Arsitektur TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "De aesthetiek der architectuur en de kunst der modernen" (estetika arsitektur dan seni dari gerakan modernisme).

Pada TA ini untuk ketujuh kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 6 insinyur sipil dari 11 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 78 insinyur, 45 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (57,7%), 16 orang menempuh studi selama lima tahun (20,5%), 12 orang menempuh studi selama enam tahun (15,4%), 3 orang menempuh studi selama tujuh tahun (3,8%), dan 2 orang menempuh studi selama delapan tahun (2,6%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,73 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah Moh. Iskandar Karjomanggolo dan M. Soemono.[90] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 16 orang.

Hasil studi untuk TA 1929-1930 adalah dari 87 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, dari 10 mahasiswa tingkat 3 yang mengikuti ujian, sebanyak 6 orang lulus ke tingkat 4 (1 orang ujian perpanjangan); dari 16 mahasiswa tingkat 2 yang mengikuti ujian, 9 orang lulus ke tingkat 3 (6 orang gagal, 1 orang ujian perpanjangan); dan dari 38 mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti ujian, 18 orang lulus ke tingkat 2, 7 orang dikenakan ujian ulangan, 11 orang tidak lulus, dan 2 orang mundur dari ujian.[90][87] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama R. Agoes Prawiranata, Pangeran Mohamad Djahir Ibrahim, dan M. Soemardjono. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama R. Roosseno. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama R. Djoeanda Kartawidjaja, Mas Endoen Abdul Karim, M. Goenarso, Indera Mahmoed Tjaja, M. Soenardi, M. Soepardi, dan M. Soewito.[90]

Selama sepuluh tahun akademiknya, mahasiswa yang pernah mendaftar sebanyak 736 pendaftar terdiri dari 508 orang Eropa, 170 orang pribumi, dan 58 orang Tionghoa. Angka 736 adalah jumlah pendaftar dari semua tingkat (I sampai IV), namun jumlah total pendaftar pertama kali (mahasiswa baru tingkat 1) sebanyak 338 orang. [86]

Tahun akademik ke-11 (28 Juni 1930-4 Juli 1931)[sunting | sunting sumber]

Sebagai perbandingan pada tahun yang sama, RHS Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) menerima 88 mahasiswa baru, naik hampir dua kali lipat dari sebelumnya TA 1929-1930 sebanyak 46 orang. Jumlah total mahasiswa naik menjadi 204 orang dari sebelumnya TA 1929-1930 sebanyak 148 orang.
Sementara GHS Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran) menerima 95 mahasiswa baru, meningkat dari sebelumnya TA 1929-1930 sebanyak 75 orang, TA 1928-1929 sebanyak 33 orang, dan TA 1927-1928 sebanyak 27 orang. Jumlah total mahasiswa naik menjadi 216 orang, sehingga GHS memiliki mahasiswa terbanyak dibandingkan dua sekolah tinggi Hindia Belanda yang lain.[81]:242
Ir. N. H. Harpen - doktor kedua TH Bandung;
sembilan insinyur sipil angkatan kedelapan diluluskan - di antaranya R. Agoes Prawiranata, Pangeran Mohamad Djahir Ibrahim, dan M. Soemardjono

Senin, 30 Juni 1930 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-11 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 111 orang, terdiri dari 66 orang Eropa, 36 orang pribumi, dan 9 orang Tionghoa.[81]:241 Jumlah tersebut terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 11 orang, tingkat 3 sebanyak 12 orang, tingkat 2 sebanyak 24 orang, tingkat 1 sebanyak 64 orang (mahasiswa baru 46 orang ditambah 18 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 326 orang.

Doktor yang kedua[sunting | sunting sumber]

Setelah pemberian gelar doktor honoris causa kepada J. W. Ijzerman dengan promotor Prof. Ir. Jan Klopper pada tanggal 7 April 1925, maka pada tahun ini untuk pertama kalinya TH Bandung menghasilkan Doktor Ilmu Teknik selain honoris causa yaitu Ir. Nicolaas Hendrik van Harpen, seorang insinyur kimia lulusan TH Delft tahun 1924, peneliti pada AVROS di Medan. Pada hari Kamis, 9 Oktober 1930 jam 09.00 di Aula/Barakgebouw A[note 10], Ir. N. H. Harpen berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "De electrometrische bepaling van de waterstofionenconcentratie in de latex van Hevea brasiliensis en hare toepassing op technische vraagstukken" (Penentuan elektrometri konsentrasi ion hidrogen dalam lateks Hevea brasiliensis, dan penggunaannya pada masalah teknis). Bertindak selaku promotor adalah Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer (semula Prof. Dr. O. de Vries, namun diganti karena ia berangkat ke Groningen), sedangkan selaku penyanggah adalah Ibu Dr. P.J.F. Beumée-Nieuwland.[91]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Willem Boomstra; Sekretaris: Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh[92]:A.338

Pada bulan Juni 1930 Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom - kepala kantor penelitian untuk penjernihan air Manggarai, diangkat sebagai lektor luar biasa untuk bidang Sanitasi di TH Bandung.[93]

Pada bulan Juli 1930 TH Bandung mengangkat Ir. Ferdinand Taco Mesdag menjadi lektor luar biasa ("buitengewoon lector") untuk Geologi Teknik; Ir. P. F. A. van Wolzogen Kühr menjadi lektor luar biasa ("buitengewoon lector") untuk Teknik Mesin; Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – selain menjabat guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan, juga diangkat untuk memegang Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – selain menjabat guru besar tetap untuk Mekanika, diangkat untuk memegang Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim serta Teknologi Sanitasi.[94]

Sejak tanggal 8 November 1930, Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Jembatan, melaksanakan cuti luar negeri selama 9 bulan[95] dengan kapal "Koningin der Nederlanden" yang berangkat dari Batavia tanggal 12 November 1930 menuju Amsterdam.[96] Namun satu tahun kemudian ia tidak kembali ke Hindia Belanda, oleh karenanya sejak tanggal 31 December 1931, atas permintaannya sendiri, ia diberhentikan dengan hormat dari kepegawaiannya di Staatsspoorwegen (SS).[97]

Guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang - Prof. H. Westra, sejak tanggal 20 Mei 1931 atas permintaannya sendiri, diberhentikan dengan hormat dari jabatan guru besar luar biasa TH Bandung.[98]

Sejak tanggal 30 Juni 1931, Prof. Ir. H. van Breen, atas permintaannya sendiri, diberhentikan dengan hormat dari jabatan guru besar tetap TH Bandung untuk Bangunan Air.[99]

Sementara itu, terhitung tanggal 30 Juni 1931 Mayor Jenderal (Purn) Prof. dr. H. M. Neeb atas permintaannya sendiri, diberhentikan dengan hormat dari jabatan guru besar luar biasa untuk bidang Higiene/Lingkungan TH Bandung.[98]

Total guru besar pada tahun akademik ini ada tiga belas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 6 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  3. Prof. Ir. H. van Breen – guru besar tetap untuk Bangunan Air (sampai 30 Juni 1931)
  4. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  5. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  6. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  7. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  8. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  9. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  10. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  11. Mayor Jenderal Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Teknik Higiene/Lingkungan (sampai 30 Juni 1931)
  12. Prof. Ir. P. N. Max – guru besar luar biasa untuk Jembatan (sampai 8 November 1930)
  13. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang (sampai 20 Mei 1931)

Dengan jumlah mahasiswa 111 orang dan guru besar sebanyak 13 orang, maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 8,54.[note 12]

Dies Natalis ke-11 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

Sabtu, 4 Juli 1931 – Dies Natalis ke-11 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10] di mana Prof. dr. H. M. Neeb – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknik Sanitasi TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Hygiëne en gezondheidszorg in tropisch Nederland" (kebersihan dan pelayanan kesehatan di kawasan tropis Belanda).

Pada TA ini untuk kedelapan kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 9 insinyur sipil dari 11 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 87 insinyur, 47 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (54%), 20 orang menempuh studi selama lima tahun (23%), 12 orang menempuh studi selama enam tahun (13,79%), 3 orang menempuh studi selama tujuh tahun (3,45%), 4 orang menempuh studi selama delapan tahun (4,6%), dan 1 orang menempuh studi selama sepuluh tahun (1,15%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,86 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah R. Agoes Prawiranata, Pangeran Mohamad Djahir Ibrahim, dan M. Soemardjono.[100] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 19 orang.

Hasil studi untuk TA 1930-1931 adalah dari 111 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, dari 12 mahasiswa tingkat 3 yang mengikuti ujian, sebanyak 10 orang lulus ke tingkat 4 (1 orang tidak lulus); dari 24 mahasiswa tingkat 2 yang mengikuti ujian, 10 orang lulus ke tingkat 3 (5 orang tidak lulus, 4 orang dikenakan ujian ulangan, 2 orang diijinkan mengikuti ujian susulan karena sakit); dan dari 48 mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti ujian, 16 orang lulus ke tingkat 2, 13 orang dikenakan ujian ulangan, dan 19 orang tidak lulus.[100] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama R. Roosseno. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama Djoeanda Kartawidjaja, Mas Endoen Abdul Karim, M. Soenardi, dan M. Soepardi. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama R. Abdoelmoettalip Danoeningrat, Djoenaedi, dan R. Poedjono Hardjoprakoso.[100]

Tahun akademik ke-12 (4 Juli 1931-2 Juli 1932)[sunting | sunting sumber]

Pada awal bulan Juli 1931 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-12 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 128 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 12 orang, tingkat 3 sebanyak 15 orang, tingkat 2 sebanyak 29 orang, tingkat 1 sebanyak 72 orang (mahasiswa baru 49 orang ditambah 23 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[101][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 375 orang.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Willem Boomstra; Sekretaris: -

Pada tanggal 17 September 1931 Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger diangkat menjadi guru besar tetap bidang Bangunan Air. Pada acara pengukuhannya Sprenger memberikan orasi ilmiah dengan judul "Het Beton als materiaal voor waterbouwkundige werken" - (beton sebagai material untuk pekerjaan bangunan air).

Dengan berhentinya Prof. dr. H. M. Neeb, maka posisi guru besar luar biasa untuk bidang Higiene dan Teknologi Sanitasi TH Bandung diisi oleh Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom. Pengukuhan C. P. Mom sebagai guru besar dilaksanakan pada hari Jumat, 18 Desember 1931 dengan membacakan orasi ilmiah yang berjudul "Over het verband tusschen drinkwater, bodemverontreiniging en darmziekten".[102]

Pada tanggal 23 Maret 1932 Martin August Gustav Harthoorn diangkat menjadi guru besar luar biasa bidang Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang untuk menggantikan Prof. Mr. Dr. Harmen Westra. Pada acara pengukuhannya Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn memberikan orasi ilmiah dengan judul "De huidige crisis" - (krisis saat ini).

Total guru besar pada tahun akademik ini ada dua belas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 5 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  3. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  4. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  5. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  6. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  7. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  9. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  10. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  11. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  12. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dengan jumlah mahasiswa 128 orang dan guru besar sebanyak 12 orang, maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 10,67.[note 12]

Dies Natalis ke-12 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

Medali Bosscha pertama kali diberikan;
sepuluh insinyur sipil angkatan kesembilan diluluskan - di antaranya R. Roosseno dan Mohammad Thahir

Sabtu, 2 Juli 1932 – Dies Natalis ke-12 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Willem Boomstra yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir. Selanjutnya Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Ilmu Ukur Tanah/Surveying, Perataan/Levelling dan Geodesi TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul Problemen der Hoogere Geodesie (permasalahan higher geodesy - daerah yang lebih besar dari 50 x 50 km²).[101]

Pada dies natalis ini untuk pertama kalinya dilaksanakan penganugerahan Medali Bosscha. Medali diberikan oleh Dr. K. W. Dammerman, Ketua Dewan Ilmu Pengetahuan Hindia Belanda ("Natuurwetenschappelijken Raad van Nederlandsch-Indië") kepada Dr. Matthieu Gérard Jacques Marie Kerbosch atas prestasinya dalam bidang pertanian ("landbouwkunde"). Setelah meninggalnya K. A. R. Bosscha dibentuk sebuah yayasan untuk memperingatinya. Dengan dana awal ƒ 4.000,- yang dikelola Dewan Ilmu Pengetahuan Hindia Belanda, setiap dua tahun akan diberikan medali emas kepada orang yang berprestasi dalam bidang pertanian atau teknik. Sesuai statuta yayasan itu, penganugerahan Medali Bosscha harus dilaksanakan pada peringatan Dies Natalis TH Bandung.[103]:A.261

Pada TA ini untuk kesembilan kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 10 insinyur sipil dari 12 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 97 insinyur, 53 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (54,64%), 21 orang menempuh studi selama lima tahun (21,65%), 15 orang menempuh studi selama enam tahun (15,46%), 3 orang menempuh studi selama tujuh tahun (3,09%), 4 orang menempuh studi selama delapan tahun (4,12%), dan 1 orang menempuh studi selama sepuluh tahun (1,03%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,85 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah R. Roosseno dan Mohammad Thahir.[104] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 21 orang.

Hasil studi untuk TA 1931-1932 adalah dari 128 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, dari 15 mahasiswa tingkat 3 yang terdaftar, 1 orang mengundurkan diri pada saat ujian, 13 orang lulus ke tingkat 4, dan 1 orang dikenakan ujian ulangan.

Dari 29 mahasiswa tingkat 2 yang terdaftar, 1 orang ditangguhkan karena tindakan yang tidak diinginkan, 1 orang mengundurkan diri pada saat ujian, 15 orang lulus ke tingkat 3, 2 orang dikenakan ujian ulangan, dan 10 orang tidak lulus.

Dari 72 mahasiswa tingkat 1 yang terdaftar, 13 orang mengundurkan diri selama masa perkuliahan, 11 orang mengundurkan diri sebelum atau pada saat ujian, 23 orang lulus ke tingkat 2, 5 orang dikenakan ujian ulangan, dan 20 orang tidak lulus.[101]

Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama Djoeanda Kartawidjaja, Mas Endoen Abdul Karim, Indera Mahmoed Tjaja, M. Soenardi, dan M. Soepardi. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama M. Achmad Zacharias, M. Goenarso, M. Soeroto, M. Soetjitro, dan M. Soewito. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama Ida Bagoes Oka, J. A. Manusama, M. Soedarsono, M. Soedjito, R. Soedjono, dan R. M. Soewandi Notokoesoemo.[104]

Tahun akademik ke-13 (2 Juli 1932-1 Juli 1933)[sunting | sunting sumber]

Senin, 4 Juli 1932 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-13 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 133 orang dalam empat tingkatan terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 16 orang[105], tingkat 3 sebanyak 17 orang, tingkat 2 sebanyak 38 orang, tingkat 1 sebanyak 62 orang (mahasiswa baru 40 orang ditambah 22 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[106][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 415 orang.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Willem Boomstra; Sekretaris: -. Setelah menjabat selama empat tahun, mulai TA 1933-1934 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos. Jika sebelumnya aturan masa jabatan adalah empat tahun, maka mulai saat ini masa jabatan ketua fakultas adalah satu tahun dan dapat diangkat kembali jika memenuhi persyaratan.[107]

Total guru besar pada tahun akademik ini ada dua belas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 5 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  3. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  4. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  5. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  6. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  7. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  9. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  10. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  11. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  12. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dengan jumlah mahasiswa 133 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 11,08.[note 12]

Dies Natalis ke-13 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

empat belas insinyur sipil angkatan kesepuluh diluluskan - di antaranya Djoeanda Kartawidjaja, Mas Endoen Abdul Karim, Indera Mahmoed Tjaja, Mas Soenardi, dan Mas Soepardi;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Willem Boomstra - Hendrik Christiaan Paulus de Vos

Sabtu, 1 Juli 1933 – Dies Natalis ke-13 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10] yang dimulai jam 10.00 pagi. Pada kesempatan ini Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Grepen uit de ontwikkeling der mechanica" (menangani pengembangan mekanika)[108]

Pada TA ini untuk kesepuluh kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 14 insinyur sipil dari 16 kandidat yang mengikuti ujian akhir, sedangkan 2 kandidat tidak lulus.[106] Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 111 insinyur. Di antara insinyur muda tersebut adalah Djoeanda Kartawidjaja[note 17][note 19], Mas Endoen Abdul Karim[note 19], Indera Mahmoed Tjaja[note 19], Mas Soenardi, dan Mas Soepardi.[58]:168 Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 26 orang.

Hasil studi untuk TA 1932-1933 adalah dari 133 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan, berdasarkan hasil ujian akhir, dari 17 mahasiswa tingkat 3 yang terdaftar, 11 orang lulus ke tingkat 4, 1 orang dikenakan ujian ulangan, dan 5 orang tidak lulus. Dari 38 mahasiswa tingkat 2 yang terdaftar, 35 orang mengikuti ujian dengan hasil 14 orang lulus ke tingkat 3, 2 orang dikenakan ujian ulangan, dan 19 orang tidak lulus. Dari 62 mahasiswa tingkat 1 yang terdaftar, 13 orang mengundurkan diri selama masa perkuliahan hingga menjelang ujian, tersisa 49 orang yang mengikuti ujian dengan hasil 16 orang lulus ke tingkat 2, 7 orang dikenakan ujian ulangan, dan 26 orang tidak lulus.[106] Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama R. Abdoelmoettalip Danoeningrat, M. Goenarso, Sedyatmo, M. Soetjitro, dan M. Soewito.[105]

Tahun akademik ke-14 (1 Juli 1933-3 Agustus 1934)[sunting | sunting sumber]

Senin, 3 Juli 1933 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-14 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 138 orang dalam empat tingkatan yang terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 14 orang, tingkat 3 sebanyak 21 orang, tingkat 2 sebanyak 38 orang, dan tingkat 1 sebanyak 65 orang[108] (mahasiswa baru 42 orang[109] ditambah 23 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[note 13] Jumlah tersebut terdiri dari 73 orang Eropa, 47 orang pribumi, dan 18 orang Tionghoa.[110]:241 Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 457 orang.

Pada tanggal 2-8 Oktober 1933 diadakan studi ekskursi bagi mahasiswa senior ke proyek di Krawang, instalasi penjernihan air di Manggarai, laboratorium-laboratorium di GHS, proyek bangunan pelabuhan di Tanjung Priok, proyek pekerjaan irigasi Cisadane, pabrik bir "Archipel Brouwerij", dan sumber air untuk Batavia di Bogor. Selain itu juga dilakukan studi lapangan yang lebih kecil di sekitar Bandung. Masa perkuliahan berjalan hingga tanggal 24 Maret dan 6 April 1934, dilanjutkan masa ujian mulai tanggal 16 April 1934, hasilnya diumumkan pada tanggal 11 Mei 1934.[108]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos; Sekretaris: Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai 16 Juni 1934 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Pada tanggal 16 Juni 1934, Prof. Ir. H. C. P. de Vos, setelah 13 tahun bertugas, mengajukan pensiun dari TH Bandung untuk kembali ke Belanda. Sebagai penggantinya telah diangkat Ir. J. W. F. C. Proper yang akan memegang kuliah irigasi dan hidrolika.[108]

Untuk menggantikan Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer yang mengambil cuti ke luar negeri, maka Ir. W. J. Th. Amons dari Laboratorium Penelitian Bahan Bangunan diangkat sebagai dosen sementara.

Untuk menggantikan Prof. Dr. Willem Boomstra yang mengambil cuti ke luar negeri sejak 27 Juni 1934, maka dr. A. J. Leckie dan Ir. O. Stevens - keduanya asisten di TH Bandung, beserta Drs. J. H. Van Lint - guru HBS diangkat sebagai dosen sementara untuk perkuliahan matematika.

Selain perubahan dalam susunan guru besar, telah diangkat juga Ir. A. L. van der Laaken, kepala bagian Pekerjaan Umum dan Rel KA di perusahaan KA Staatsspoorwegen (SS) sebagai lektor luar biasa untuk Konstruksi Jalan Kereta Api.

Total guru besar pada tahun akademik ini ada dua belas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 5 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos – guru besar tetap untuk Bangunan Air (sampai 16 Juni 1934)
  3. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  4. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  5. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  6. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  7. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  9. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  10. Prof. Ir. J. N. van der Ley – guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro
  11. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  12. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang

Dengan jumlah mahasiswa 138 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 11,5.[note 12]

Dies Natalis ke-14 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

Medali Bosscha kedua kali diberikan;
sepuluh insinyur sipil angkatan kesebelas diluluskan - di antaranya R. Abdoelmoettalip Danoeningrat, Sedyatmo, M. Soetjitro, dan M. Soewito;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Hendrik Christiaan Paulus de Vos-Charles Prosper Wolff Schoemaker

Jumat, 3 Agustus 1934 – Dies Natalis ke-14 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A.[note 10] Tepat jam 10.00 diiringi lagu "Gaudeamus igitur", anggota Majelis Kurator dan para guru besar TH Bandung, beserta perwakilan dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran Batavia berada di Aula. Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir. Biasanya pidato dibawakan ketua fakultas yang lama, sekaligus sebagai pidato akhir masa jabatan. Namun karena Prof. Ir. H. C. P. de Vos telah lebih dahulu pensiun (16 Juni 1934), maka pidato dies kali ini dibawakan oleh ketua fakultas yang baru yaitu Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Pada kesempatan ini Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "De factoren, die het materiaalverbruik in constructies beinvloeden" (faktor yang mempengaruhi pemakaian bahan dalam konstruksi).[108]

Pada dies natalis ini untuk kedua kalinya dilaksanakan penganugerahan Medali Bosscha, dan merupakan yang pertama kali dalam bidang teknik. Medali yang dianugerahkan setiap dua tahun ini diberikan oleh Dr. K. W. Dammerman, Ketua Dewan Ilmu Pengetahuan Hindia Belanda ("Natuurwetenschappelijken Raad van Nederlandsch-Indië") kepada Ir. W. F. Einthoven - Kepala Kantor PTT atas prestasinya dalam bidang teknik telekomunikasi. Malam harinya diadakan jamuan makan malam di Grand Hotel Preanger dihadiri para anggota Majelis Kurator dan guru besar termasuk para perwakilan kedua fakultas (RHS dan GHS) dan para undangan lain di antaranya Ir. Einthoven. Pidato yang terkait pemberian Medali Bosscha tersebut disiarkan melalui Radio NIROM ke seluruh Hindia Belanda.[108]

Pada TA ini untuk kesebelas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 10 insinyur sipil dari 14 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 121 insinyur, 65 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (53,7%), 27 orang menempuh studi selama lima tahun (22,3%), 18 orang menempuh studi selama enam tahun (14,9%), 4 orang menempuh studi selama tujuh tahun (3,3%), 5 orang menempuh studi selama delapan tahun (4,13%), dan 2 orang menempuh studi selama sepuluh tahun (1,65%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,88 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah R. Abdoelmoettalip Danoeningrat[note 19], Sedyatmo, M. Soetjitro, dan M. Soewito.[111] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 30 orang.

Berdasarkan ujian perpanjangan yang berlangsung pada bulan Juli 1933, hasilnya untuk tingkat 3: lulus 1 orang; tingkat 2: lulus 2 orang; dan tingkat 1: dari 7 kandidat, 6 lulus, 1 gagal.

Hasil studi selama TA 1933-1934 untuk 138 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 4 (ingenieurs-examen) dari 14 mahasiswa, 10 orang lulus dan 4 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 3 (candidaats-examen) dari 21 mahasiswa, 13 orang lulus, 4 orang tidak lulus, dan 4 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 38 mahasiswa, 3 orang berhenti kuliah, sehingga terdapat 35 orang yang mengikuti ujian, dengan hasil 20 orang lulus, 13 orang tidak lulus, 1 orang dikenakan ujian ulangan, dan 1 orang diizinkan untuk ujian susulan.
  • Ujian tingkat 1dari 65 mahasiswa, 14 orang berhenti kuliah, sehingga terdapat 51 orang yang mengikuti ujian, dengan hasil 22 orang lulus, 26 orang tidak lulus, dan 3 orang dikenakan ujian ulangan.[108]

Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama M. Achmad Zacharias, Ida Bagoes Oka, R. Poedjono Hardjoprakoso, dan M. Soeroto. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama R. Oekar, M. Pramoedji, M. Soedarsono, dan M. Soewarto. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama M. Adali Nataamidjaja, R. Entjon, R. Ng. P. Koesoedianto Hadinoto, M. Moechamad Joesoeph Afandi, Mohamad Effendi Saleh, M. Oerip Iman Soedjono, Sakirman, Sanoesi, Sardjono, R. Soegoto, Soehamir, Soepardi, M. Srigati Santoso.[111]

Tahun akademik ke-15 (3 Agustus 1934-2 Agustus 1935)[sunting | sunting sumber]

Senin, 6 Agustus 1934 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-15 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 149 orang dalam empat tingkatan yang terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 19 orang, tingkat 3 sebanyak 22 orang, tingkat 2 sebanyak 37 orang, dan tingkat 1 sebanyak 71 orang (mahasiswa baru 49 orang ditambah 22 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[112]:I.90 Mulai TA ini permulaan kuliah ditetapkan pada hari kerja pertama bulan Agustus.[3]:25 Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 506 orang.

Pada tanggal 6-14 Oktober 1934 diadakan studi ekskursi besar bagi mahasiswa tingkat 3 dan 4 yang dipimpin Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger ke Singapura untuk meninjau proyek-proyek rekayasa seperti pembangunan pelabuhan, perusahaan saluran pembuangan kota, proyek air bersih Gunung Pulai (Johor), proyek Johore-causeway,dan lain-lain. Sebelum menuju Singapura, rombongan ekskursi meninjau pelabuhan Tanjung Priok. Sekembalinya dari Singapura, rombongan menuju Muntok untuk meninjau pekerjaan pertambangan timah. Selain ekskursi besar, juga dilakukan ekskursi-ekskursi kecil selama masa perkuliahan.

Pada tanggal 28 September 1934 para mahasiswa tingkat 4 mengunjungi proyek irigasi di sekitar Bandung yang dipimpin oleh Prof. Ir. Proper, setelah satu sebelumnya mendapatkan pengenalan oleh Ir. M. F. Adams, insinyur dari Dinas Pengairan Provinsial. Pada tanggal 28 November 1934 mahasiswa tingkat 2 di bawah bimbingan Prof. Ir. Amons meninjau ke pembakaran kapur di Cipatat dan tempat penggalian batuan andesit di Gunung Misigit.[112]

Pada tanggal 16-23 Januari 1935, Dr. Ir. Geert Otten - insinyur mesin dari Bagian Penerbangan Militer, atas permintaan Fakultas, telah memberikan perkuliahan tentang Konstruksi Pesawat Udara (vliegtuigbouw) bagi para mahasiswa tingkat 4, dilanjutkan kunjungan ke fasilitas Bagian Penerbangan Militer pada tanggal 29 Januari 1935 dipimpin Prof. Ir. Bijlaard. Kuliah dan kunjungan lapangan ini diikuti dengan antusias bahkan diikuti beberapa guru besar.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker; Sekretaris: Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1935-1936 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh.

Untuk menggantikan Prof. Dr. Willem Boomstra yang mengambil cuti ke luar negeri sejak 27 Juni 1934-13 Februari 1935, maka Ir. O. Stevens - diangkat sebagai dosen sementara untuk perkuliahan Beschrijvende Meetkunde (geometri deskriptif).

Pada tanggal 3 September 1934, A. D. H. Bosch untuk sementara dipercaya untuk mengajar perkuliahan Ilmu Pertanian/Agronomi. Pada tanggal 7 September 1934, lektor luar biasa untuk Konstruksi Jalan Kereta Api yang baru, Ir. A. L. van der Laaken, telah memberikan kuliah umum berjudul "Een en ander over spoorwegverbindingen in en om groote steden" (suatu hal tentang jalur kereta api di dan sekitar kota-kota besar). Pada tanggal 24 September 1934, Ir. Ferdinand Taco Mesdag diberhentikan dengan hormat sebagai lektor luar biasa untuk Geologi Terapan sehubungan dengan pemulangannya ke Negeri Belanda dan sejak tanggal 1 Oktober 1934 Ir. G. Pott ditunjuk sebagai penggantinya.

Sejak tanggal 20 September 1934, Prof. Ir. Jelte Nicolaas van der Ley setelah 12 tahun bertugas, diberhentikan dengan hormat dari jabatan guru besar luar biasa untuk Teknik Elektro. Untuk sementara Ir. G. van der Harst diangkat menjadi lektor luar biasa untuk Teknik Elektro, di mana tanggal 16 November 1934 telah memberikan kuliah umumnya yang berjudul "Over een merkwaardig verband tusschen hier te lande door bliksemslag veroorzaakte beschadigingen aan bovengrondsche electrische transmissieleidingen en denatuurlijke afwatering van het aardoppervlak".

Pada tanggal 21 Desember 1934, Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper diangkat menjadi guru besar tetap untuk Bangunan Air di TH Bandung, orasi pengukuhannya berjudul "Het experimenteel Onderzoek van hydraulische problemen op waterbouwkundig gebied".

Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer, yang sedang mengambil cuti ke luar negeri, mengajukan pensiun, maka pada bulan Januari 1935, setelah 23 tahun bertugas, ia diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan. Setelah menjadi pengganti sementara sejak bulan Agustus 1934, Ir. W. J. Th. Amons, yang juga Kepala Laboratorium, diangkat sebagai guru besar luar biasa dalam bidang "Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan" (Kennis en Onderzoek van Bouwstoffen) di TH Bandung sejak tanggal 1 April 1935.[112]:I.88[22]:I.52

Total guru besar pada tahun akademik ini ada dua belas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 5 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika (cuti ke luar negeri sejak 27 Juni 1934-13 Februari 1935)
  2. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  3. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  4. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  5. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  6. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan (cuti sejak Agustus 1934, pensiun pada akhir bulan Januari 1935)
  9. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  10. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  11. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang
  12. Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan (sejak 1 April 1935)

Dengan jumlah mahasiswa 149 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 12,42.[note 12]

Laboratorium voor Technische Hygiëne en Assaineering[sunting | sunting sumber]

Tahun ini sarana akademik TH Bandung bertambah lagi, dengan adanya Laboratorium voor Technische Hygiëne en Assaineering (Laboratorium Teknik Sanitasi - sekarang digunakan program studi Teknik Lingkungan ITB). Ini merupakan laboratorium ke delapan yang didirikan di kampus TH Bandung.

Pada hari Selasa, 19 Maret 1935 jam 10.00 di Aula/Barakgebouw A[note 10] berlangsung upacara penyerahan secara resmi laboratorium teknik sanitasi yang dibangun atas inisiatif dari Vereeniging tot bevordering der Hygiëne in Nederlandsch-Indië kepada TH Bandung. Laboratorium ini berada sayap timur kampus TH, di antara Laboratorium Listrik Pusat (Oktober 1929) yang berada di sebelah utara dan Laboratorium Bangunan Jalan (1924) yang berada di sebelah selatan, di mana kedua laboratorium tersebut sudah lebih dahulu dibangun.

Dies Natalis ke-15 (Lustrum ke-3) dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

pertama kalinya ujian akhir dilaksanakan 2 kali setahun;
dua belas insinyur sipil angkatan ke dua belas diluluskan - di antaranya M. Goenarso, dan Ida Bagoes Oka;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Charles Prosper Wolff Schoemaker-C. G. J. Vreedenburgh

Jumat, 2 Agustus 1935 – Dies Natalis ke-15 dan Lustrum ke-3 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A.[note 10] Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir. Pada kesempatan ini Prof. Dr. Herman Robert Woltjer menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul Variaties in de cosmische straling (Berbagai macam radiasi kosmik).[112]

Pada TA ini untuk ke dua belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 12 insinyur sipil dari 19 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 133 insinyur, 70 insinyur memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun (52,63%), 30 orang menempuh studi selama lima tahun (22,56%), 21 orang menempuh studi selama enam tahun (15,79%), 5 orang menempuh studi selama tujuh tahun (3,76%), 5 orang menempuh studi selama delapan tahun (3,76%), dan 2 orang menempuh studi selama sepuluh tahun (1,5%). Rata-rata waktu kelulusan adalah 4,89 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah M. Goenarso, dan Ida Bagoes Oka.[113] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 32 orang.

Pada TA ini juga lulus seorang insinyur yang kelak menjadi salah satu pendiri dan guru besar program studi Teknik Fisika ITB, Go Pok Oen[113] - yang namanya kemudian lebih dikenal sebagai Prof. Ir. Adhiwiyogo.

Berdasarkan ujian perpanjangan yang berlangsung pada bulan Agustus 1934 untuk TA 1933-1934, hasilnya untuk tingkat 3: lulus 4 orang; tingkat 2: lulus 2 orang; dan tingkat 1: lulus 3 orang.

Hasil studi selama TA 1934-1935 diumumkan pada tanggal 8 Juni 1935 untuk 149 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 3 (candidaats-examen) dari 22 mahasiswa, 1 orang mengundurkan diri, 7 orang lulus, 3 orang tidak lulus, dan 11 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 37 mahasiswa, 7 orang mengundurkan diri, 16 orang lulus, 7 orang tidak lulus, dan 7 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 1 dari 71 mahasiswa, 26 orang mengundurkan diri, 20 orang lulus, 24 orang tidak lulus, dan 1 orang dikenakan ujian ulangan. Mengingat semakin rendahya tingkat kelulusan untuk ujian akhir insinyur, mulai TA ini ujian akhir dibagi dua bagian yaitu pada bulan Juni dan bulan Desember.[112]

Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama M. Pramoedji, Mohamad Natal Siregar, R. Oekar, M. Soetomo Wongsotjitro. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama M. Ali Arondo, Mananti Sitompoel, J. A. Manusama, Soehamir, Soepardi, M. Srigati Santoso, R. Entjon, R. Ng. P. Koesoedianto Hadinoto, Sanoesi, Sardjono, R. Soegoto. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama Abdul Kader, R. Ahja, M. Hoesen, Herman Johannes, R. Moempoeni Dirdjosoebroto, Sardjono, M. Soemarman, dan Tarip Abdullah Harahap.[113][114]

Tahun akademik ke-16 (2 Agustus 1935-31 Juli 1936)[sunting | sunting sumber]

Pada awal bulan Agustus 1935 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-16 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 149 orang dalam empat tingkatan yang terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 26 orang, tingkat 3 sebanyak 27 orang, tingkat 2 sebanyak 26 orang, dan tingkat 1 sebanyak 70 orang (mahasiswa baru 48 orang ditambah 22 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[115]:I.118 Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 554 orang.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh; Sekretaris: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1936-1937 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard. Keputusan ini dibuat berdasarkan hasil rapat fakultas pada tanggal 9 Juni 1936.[115]:I.121

Pada tanggal 30 Agustus 1935, Kepala Laboratorium Penelitian Bahan Departemen Urusan Ekonomi, Ir. W. J. Th. Amons, yang diangkat menjadi guru besar luar biasa bidang Pengetahuan Bahan Bangunan pada bulan April 1935[22]:I.52 menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Enkele ervaringen op het gebied van onze bouwstoffen, opgedaan in Nederlandsch-Indië, van belang voor den civiel-ingenieur".

Total guru besar pada tahun akademik ini ada sebelas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 4 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  3. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  4. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  5. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  6. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  9. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  10. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang
  11. Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan

Dengan jumlah mahasiswa 149 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 13,55.[note 12]

Waterloopkundig Laboratorium[sunting | sunting sumber]

Tahun ini sarana akademik TH Bandung bertambah lagi, dengan adanya Waterloopkundig Laboratorium (Laboratorium Hidrolika) yang merupakan laboratorium ke sembilan yang didirikan di kampus TH Bandung.

Pada hari Jumat, 5 Juni 1936 di Aula/Barakgebouw A berlangsung upacara pembukaan secara resmi laboratorium hidrolika yang dibangun dan dimiliki oleh Departement van Verkeer en Waterstaat (Departemen PU dan Pengairan) namun berada di dalam area TH Bandung. Pidato pertama dibawakan oleh Mr. Dr. Ir. J. A. M. van Buuren - Direktur Departement van Verkeer en Waterstaat yang juga Presiden Kurator TH Bandung, yang memberikan penjelasan dan sejarah berdirinya laboratorium ini. Sambutan berikutnya diberikan oleh Dr. P. J. A. Idenburg dari Departemen Pendidikan dan Agama; Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh - Ketua Fakultas TH Bandung; dan terakhir oleh Prof. Ir. J. W. F. C. Proper selaku pimpinan laboratorium baru tersebut.[116]

Pendirian laboratorium ini sendiri telah direncanakan sejak tahun 1926, dengan menugaskan Ir. J. W. F. C. Proper untuk mempelajari peralatan dan metode dari beberapa laboratorium di Eropa dan mendesain sebuah laboratorium untuk dibangun di negara ini. Proyek itu direncanakan untuk dapat diselesaikan pada tahun 1929 dengan biaya konstruksi mencapai ƒ 125.000,- Pada tahun 1928 rencana pendirian laboratorium tersebut diajukan kepada pemerintah namun tidak disetujui. Dengan bantuan beberapa anggota Volksraad akhirnya rencana berikut pembiayaannya disetujui pemerintah. Namun berhubung datangnya krisis ekonomi, pemerintah tidak sanggup lagi menyediakan anggaran untuk melaksanakan proyek ini. Untuk sementara, dengan berbagai usaha termasuk dengan dukungan Bandoengsch Technische Hoogeschool-fonds, pada tahun 1927 TH Bandung melalui Prof. Ir. H. C. P. de Vos membuka laboratorium demonstrasi/simulasi hidrodinamika yang kecil dan sederhana, berlokasi di ruang simpan sepeda (sekarang dijadikan toilet di lapangan parkir depan program studi Teknik Sipil ITB). Walaupun kecil, laboratorium tersebut banyak berperan khususnya untuk pendidikan, agar para mahasiswa memahami karakteristik dari pergerakan air.

Dies Natalis ke-16 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

Medali Bosscha ketiga kali diberikan;
delapan insinyur sipil angkatan ke tiga belas diluluskan - di antaranya R. Oekar, dan R. Poedjono Hardjoprakoso;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari C. G. J. Vreedenburgh-Paulus Pieter Bijlaard

Jumat, 31 Juli 1936 – Dies Natalis ke-16 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A.[note 10] Tepat jam 10.00 diiringi lagu "Gaudeamus igitur", anggota Majelis Kurator dan para guru besar TH Bandung, beserta perwakilan dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran Batavia berada di Aula. Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir.

Selanjutnya Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn – guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Sociaal economische ordening" (perencanaan sosial-ekonomi).

Pada dies natalis ini untuk ketiga kalinya dilaksanakan penganugerahan Medali Bosscha, yang merupakan kedua kalinya dalam bidang ilmu agronomi/pertanian. Medali yang dianugerahkan setiap dua tahun ini diberikan oleh Prof. Dr. J. Boerema, Ketua Dewan Ilmu Pengetahuan Hindia Belanda ("Natuurwetenschappelijken Raad van Nederlandsch-Indië") kepada Dr. P. van der Goot - Kepala "Instituut voor Plantenziekten te Buitenzorg" (sekarang menjadi salah satu bagian Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian RI) atas prestasinya dalam bidang pertanian. Malam harinya diadakan jamuan makan malam di Grand Hotel Preanger dihadiri para anggota Majelis Kurator dan guru besar termasuk para perwakilan kedua fakultas (RHS dan GHS) dan para undangan lain di antaranya Prof. Dr. J. Boerema dan Dr. P. van der Goot.[115]:I.123

Pada TA ini untuk ke tiga belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 8 insinyur sipil dari 18 kandidat yang mengikuti ujian akhir (semula terdapat 26 orang terdaftar sebagai mahasiswa tingkat 4). Dari 8 lulusan baru tersebut, 4 orang memperoleh ijazah dalam waktu empat tahun, 1 orang menempuh studi selama enam tahun, 2 orang menempuh studi selama tujuh tahun, dan 1 orang menempuh studi selama delapan tahun[115], dengan rata-rata waktu kelulusan adalah 5,5 tahun. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 141 insinyur, dengan total rata-rata waktu kelulusan 4,9 tahun. Di antara insinyur muda tersebut adalah R. Oekar, dan R. Poedjono Hardjoprakoso.[117] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 34 orang.

Hasil studi selama TA 1935-1936 diumumkan pada tanggal 9 Juni 1936 untuk 149 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 3 (candidaats-examen) dari 27 mahasiswa yang terdaftar, 27 orang mengikuti ujian dengan hasil 20 orang lulus, 5 orang tidak lulus, dan 2 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 26 mahasiswa yang terdaftar, 19 orang mengikuti ujian dengan hasil 8 orang lulus, 7 orang tidak lulus, 1 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 3 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 1 dari 70 mahasiswa yang terdaftar, 45 orang mengikuti ujian dengan hasil 11 orang lulus, 27 orang tidak lulus, 1 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 6 orang dikenakan ujian ulangan.[115]

Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama M. Ali, R. Ng. P. Koesoedianto Hadinoto, Sanoesi, Sardjono, Soepardi, M. Srigati Santoso. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama M. Hoesen, M. Oerip Iman Soedjono, dan Sardjono. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama R. Amandus Soedarto, Soedarsono, dan J. Tahir.[117]

Dalam pidatonya, ketua fakultas menyinggung tentang semakin menurunnya prestasi mahasiswa dengan mengutip pernyataan Prof. Dr. Jacob Clay pada tahun 1927 yang menganjurkan agar kuliah di TH bisa berhasil, maka nilai rata-rata pelajaran di sekolah menengah setidaknya di atas 7.[115]

Tahun akademik ke-17 (31 Juli 1936-14 Agustus 1937)[sunting | sunting sumber]

Pada awal bulan Agustus 1936 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-17 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 151 orang, terdiri dari 62 orang Eropa, 59 orang pribumi, dan 30 orang Tionghoa. Dari jumlah ini, sebanyak 70 orang merupakan lulusan HBS terdiri dari 45 orang Eropa, 11 orang pribumi, dan 14 orang Tionghoa; sedangkan 81 orang merupakan lulusan AMS terdiri dari 17 orang Eropa, 48 orang pribumi, dan 16 orang Tionghoa.[118]:301 Jumlah tersebut terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 39 orang, tingkat 3 sebanyak 16 orang, tingkat 2 sebanyak 28 orang, tingkat 1 sebanyak 68 orang (mahasiswa baru 44 orang ditambah 24 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[119]:I.158[note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 598 orang.

Pada tanggal 3-13 Oktober 1936 dilaksanakan studi ekskursi/kunjungan lapangan ke pelabuhan Surabaya dilanjutkan ke Bali untuk meninjau sistem irigasi yang dikelola dengan latar budaya Hindu. Ekskursi besar ini dipimpin oleh Prof. C. P. W. Schoemaker dan Ir. Happe. Selain itu juga dilaksanakan beberapa ekskursi kecil antara lain ke PLTA Lamajan.

Pada tanggal 25 Februari 1937 kampus TH Bandung dikunjungi Gouverneur Generaal Jonkheer Mr. Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Selanjutnya pada tanggal 29 April 1937 kampus TH Bandung dikunjungi mantan Gouverneur Generaal Mr. Johan Paul van Limburg Stirum - di mana pada masa kepemerintahannya TH Bandung didirikan.

Pada tanggal 3-13 Agustus 1937 kampus TH Bandung menjadi tuan rumah Intergovernmental Conference of Far-eastern Countries on Rural Hygiëne yang diselenggarakan oleh Liga Bangsa-Bangsa. Konferensi ini dibuka dengan pidato Gouverneur Generaal Jonkheer Mr. Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, dilanjutkan pidato dr. Ludwik Rajchman - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Liga Bangsa-Bangsa, dan dr. J. Offringa - Kepala Dinas Kesehatan selaku ketua konferensi.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard; Sekretaris: Prof. Dr. Herman Robert Woltjer sampai 1 Februari 1937, selanjutnya digantikan Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1937-1938 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger.

Susunan guru besar tidak berubah, beberapa di antaranya melaksanakan cuti ke luar negeri selama beberapa bulan antara lain Prof. Ir. J. W. F. C. Proper (sejak 24 Juni 1937) dan Prof. Dr. Herman Robert Woltjer (sejak 7 Juli 1937). Sebagai pengganti sementara, Ir. P. L. E. Happe ditunjuk untuk memegang perkuliahan Irigasi, Hidrolika, dan Teknik Sanitasi; sementara Dr. A. J. Leckie ditunjuk untuk memegang perkuliahan Fisika.[119]:I.157

Total guru besar pada tahun akademik ini ada sebelas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 4 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  3. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  4. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  5. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  6. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  9. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  10. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang
  11. Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan

Dengan jumlah mahasiswa 151 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 13,73.[note 12]

Dies Natalis ke-17 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

dua puluh insinyur sipil angkatan ke empat belas diluluskan - di antaranya Patuan Doli Diapari, M. Pramoedji, M. Soetomo Wongsotjitro, R. M. Soewandi Notokoesoemo, M. Soewarto, dan M. Achmad Zacharias;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Paulus Pieter Bijlaard-Jan Jacob Iman Sprenger

Sabtu, 14 Agustus 1937 – Dies Natalis ke-17 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A.[note 10] Tepat jam 10.00 diiringi lagu "Gaudeamus igitur", anggota Majelis Kurator dan para guru besar TH Bandung, beserta perwakilan dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran Batavia berada di Aula. Perwakilan dari Delftsche zusterfaculteit yang hadir adalah Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker - yang juga mantan guru besar TH Bandung (1921-1924). Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir, termasuk keprihatinan dengan adanya pemotongan anggaran pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Risalah ilmiah penelitian yang diterbitkan jauh berkurang. Permasalahan tersebut berusaha ditutupi dengan dukungan finansial tahunan dari Bandoengsch Technische Hoogeschool-fonds, namun tidak bisa dipungkiri bahwa akan lebih banyak lagi yang bisa dilakukan jika tersedia lebih banyak dukungan anggaran dan personil dari pemerintah.[119]

Berkaitan dengan berkembangnya teknologi konstruksi dan semakin mendalamnya pelajaran yang diberikan membuat masa studi 4 tahun di TH Bandung menjadi lebih berat dibanding ketika pertama kali dibuka. Hal ini dibuktikan dengan fakta, bahwa pada mulanya cukup banyak mahasiswa yang lulus dalam waktu 4 tahun, namun semakin lama semakin sedikit.[119] Dari pendaftar angkatan 1920 sebanyak 28 orang, 12 orang lulus dalam waktu 4 tahun (43,86%); angkatan 1921 sebanyak 37 orang, 7 orang lulus tepat waktu (18,92%); prosentase tersebut terus mengecil hingga angkatan 1932 dari sebanyak 40 pendaftar pertama, hanya 4 orang yang lulus tepat waktu (10%). Sementara mereka yang belajar dengan serius di TH Delft saja, hanya beberapa orang yang bisa lulus dalam masa studi 5 tahun, tentunya akan lebih berat lagi jika dilaksanakan dengan masa studi 4 tahun seperti di TH Bandung dengan beban yang sama.[119] Oleh karenanya sejak beberapa tahun ini TH Bandung telah mengusulkan perpanjangan lama studi dari 4 menjadi 5 tahun. Dengan masa studi 5 tahun seperti di TH Delft perpindahan mahasiswa TH Bandung ke TH Delft dan sebaliknya akan menjadi mudah diatur. Namun usul tersebut hingga TA ini belum dapat dikabulkan.[3]:31

Selanjutnya Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Het Suez-kanaal: Eenige zijner ingenieursproblemen" (Terusan Suez: Beberapa permasalahan rekayasa).

Pada TA ini untuk ke empat belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 20 insinyur sipil dari 36 kandidat yang mengikuti ujian akhir (semula terdapat 39 orang terdaftar sebagai mahasiswa tingkat 4) yang merupakan lulusan ujian bulan Desember 1936 dan Juni 1937. Pada ujian insinyur di bulan Desember 1936 telah diluluskan 10 orang insinyur di antaranya Patuan Doli Diapari[note 20], M. Pramoedji, M. Soetomo Wongsotjitro (kelak menjadi guru besar Geodesi ITB), R. M. Soewandi Notokoesoemo (kelak menjadi salah satu pendiri dan guru besar Fakultas Teknik UGM), M. Soewarto[note 17].[120] Pada ujian insinyur di bulan Juni 1937 telah diluluskan 10 orang insinyur di antaranya M. Achmad Zacharias.[121] Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 161 insinyur. Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 40 orang.

Hasil studi selama TA 1936-1937 untuk 151 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 3 (candidaats-examen) dari 16 mahasiswa yang terdaftar, 15 orang mengikuti ujian dengan hasil 7 orang lulus, 4 orang tidak lulus, 1 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 3 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 28 mahasiswa yang terdaftar, 24 orang mengikuti ujian dengan hasil 11 orang lulus, 7 orang tidak lulus, dan 6 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 1 dari 68 mahasiswa yang terdaftar, 49 orang mengikuti ujian dengan hasil 20 orang lulus, 23 orang tidak lulus, dan 6 orang dikenakan ujian ulangan.[119]

Di antara mahasiswa yang lulus ujian bagian B, terdapat nama M. Ali, R. Ng. P. Koesoedianto Hadinoto, R. Entjon, Sardjono, dan Soepardi. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama R. Ahja, M. Hoesen, dan Sardjono. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama Abdul Kader, Herman Johannes, Sakirman, Soedarsono, R. Soemarman, dan J. Tahir. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama Aboe Noezar, Moechtar, Moehamad Djakaria Gandi, Nowo, Sartomo, Hardjosarwono, R. Soemadyo, M. Soenarjo, dan M. Soendjasmono.[122]

Tahun akademik ke-18 (14 Agustus 1937-29 Juli 1938)[sunting | sunting sumber]

Pada awal bulan Agustus 1937 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-18 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 148 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 4 sebanyak 21 orang, tingkat 3 sebanyak 21 orang, tingkat 2 sebanyak 30 orang, tingkat 1 sebanyak 76 orang (mahasiswa baru 51 orang ditambah 25 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[123]:I.218[note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 649 orang.

Pada tanggal 9-19 Oktober 1937 dilaksanakan studi ekskursi/kunjungan lapangan tahunan untuk mahasiswa tingkat 3 dan 4 ke Bangka dan Palembang. Ekskursi besar ini dipimpin oleh Prof. Ir. J. W. F. C. Proper dan Prof. Ir. W. J. Th. Amons. Selain itu juga dilaksanakan beberapa ekskursi kecil antara lain ke proyek jembatan KA di Serayu, proyek di Citarum, Batujajar, dan Cililin, Pabrik Bata NV Steenfabriek di Dayeuh Kolot, dan instalasi penjernihan air di pemandian Het Centrum di bawah pimpinan Prof. Dr. Ir. C. P. Mom.

Isu penting yang berkembang pada beberapa tahun terakhir ini adalah tentang perpanjangan masa studi normal dari 4 menjadi 5 tahun. Pada waktu TH Bandung dibuka, pendidikan insinyur sipil dirancang dalam kurikulum empat tahun, berbeda dengan kurikulum TH Delft yang berdurasi lima tahun. Para pendiri TH Bandung dahulu berpandangan setidaknya tersedia 40 minggu per tahun untuk kegiatan pendidikan. Namun berdasarkan pengalaman yang ada membuktikan sebaliknya, karena terdapat lebih banyak hari libur resmi dan waktu yang lebih lama yang dibutuhkan untuk masa ujian dan persiapan yang diperlukan, sehingga waktu efektifnya turun sekitar 20%. Supaya materi pelajaran tetap setara dengan yang diberikan di TH Delft, sehingga perlu dipacu dengan keras, terutama dalam praktek menggambar yang merupakan bagian tak terpisahkan dari program studi keinsinyuran. Sehubungan dengan penjejalan materi yang tidak diinginkan tersebut, maka pihak TH Bandung bertekad untuk membahasnya.

Pada tahun 1933 pihak fakultas telah mengajukan proposal tentang perubahan masa studi lima tahun, mengingat waktu kelulusan rata-rata sudah mundur menjadi 5 tahun. Namun rencana ini tidak didukung Departemen Pendidikan, karena Majelis Kurator sendiri belum sepenuhnya sepakat atas usul tersebut. Namun beberapa perbaikan dalam mengatasi kesulitan pendidikan adalah dengan mengadakan ujian akhir insinyur pada bulan Desember (sebelumnya ujian akhir insinyur hanya dilaksanakan satu kali setiap tahun yaitu pada bulan Mei, sehingga seseorang yang tidak lulus ujian baru bisa mengulang satu tahun kemudian, dengan adanya ujian akhir di bulan Desember, waktu tunggu bisa dikurangi setengah tahun).

Berbagai kritik terhadap kurikulum yang terlalu berat, kurangnya waktu bagi para mahasiswa untuk kegiatan belajar mandiri pada bidang pelajaran yang diminati, dan kurangnya waktu untuk latihan praktek menggambar, sehingga fakultas memutuskan untuk membahas kembali usulan tersebut, di mana kali ini Majelis Kurator mendukung usulan tersebut dengan suara bulat.

Kini dengan penuh perhatian pihak fakultas menunggu kelanjutannya. Hasil ujian insinyur yang paling akhir semakin menguatkan pandangan tersebut. Dari 17 wisudawan, hanya 2 orang yang lulus tepat waktu dalam 4 tahun, waktu studi rata-rata adalah 5,06 tahun.[123]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Jan Jacob Iman Sprenger-Herman Robert Woltjer

Ketua Fakultas: Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger; Sekretaris: Prof. Dr. Willem Boomstra. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1938-1939 terhitung sejak tanggal 18 Juli 1938 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Dr. Herman Robert Woltjer.

Susunan guru besar tidak berubah, beberapa di antaranya melaksanakan cuti ke luar negeri selama beberapa bulan antara lain Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard (sejak 8 September 1937) dan Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger (sejak 18 Juli 1938). Sebagai pengganti sementara, Ir. W. P. C. Hennequin - insinyur kepala dari Staatsspoorwegen (SS) ditunjuk untuk memegang perkuliahan Bangunan Jembatan dan Beton Bertulang; sementara Ir. W. Kamp - mantan insinyur kepala dari proyek Zuiderzeewerken ditunjuk untuk memegang perkuliahan Teknik Pondasi dan Bangunan Air.[123]:I.217

Total guru besar pada tahun akademik ini ada sebelas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 4 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  3. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  4. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  5. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  6. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  9. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  10. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang
  11. Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan

Dengan jumlah mahasiswa 148 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 13,45.[note 12]

Dies Natalis ke-18 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

tujuh belas insinyur sipil angkatan ke lima belas diluluskan - di antaranya M. Ali Djojodinoto, R. Entjon, R. Ng. P. Koesoedianto Hadinoto, Sanoesi, Sardjono, Soepardi, dan M. Srigati Santoso

Jumat, 29 Juli 1938 – Dies Natalis ke-18 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dihadiri sejumlah pejabat antara lain perwakilan dari Departemen Pendidikan dan Agama; segenap anggota Majelis Kurator, guru besar, dosen, asisten, mahasiswa, dan para wisudawan TH Bandung; segenap perwakilan dari Majelis Kurator Sekolah-Sekolah Tinggi Batavia, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran Batavia.[123]:I.215

Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Dr. Herman Robert Woltjer yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir. Biasanya pidato dibawakan ketua fakultas yang lama, sekaligus sebagai pidato akhir masa jabatan. Namun karena Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger selaku ketua fakultas lama terhitung sejak tanggal 18 Juli 1938 telah mengundurkan diri karena melaksanakan cuti ke luar negeri, maka pidato dies kali ini dibawakan oleh ketua fakultas yang baru.[123]:I.217

Selanjutnya Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "De bacteriën en de hygiëne" (bakteri dan kebersihan).

Pada TA ini untuk kelima belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 17 insinyur sipil yang merupakan lulusan ujian bulan Desember 1937 dan Juni 1938. Pada ujian insinyur di bulan Desember 1937 telah diluluskan 12 orang insinyur di antaranya M. Ali Djojodinoto (kelak menjadi salah satu pendiri dan guru besar Fakultas Teknik UGM), R. Entjon, R. Ng. P. Koesoedianto Hadinoto, Sanoesi, Sardjono, dan Soepardi.[124] Pada ujian insinyur di bulan Juni 1938 telah diluluskan 5 orang insinyur di antaranya M. Srigati Santoso.[125] Dari 17 lulusan baru tersebut, 2 orang memperoleh ijazah dalam waktu 4 tahun, 6 orang menempuh studi selama 4,5 tahun, 1 orang menempuh studi selama 5 tahun, 5 orang menempuh studi selama 5,5 tahun, 2 orang menempuh studi selama 6 tahun, 1 orang menempuh studi selama 6,5 tahun, dengan rata-rata waktu kelulusan adalah 5,06 tahun.[123]:I.218 Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 178 insinyur. Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 47 orang.

Hasil studi selama TA 1937-1938 untuk 148 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 4 dari 21 mahasiswa yang terdaftar, 18 orang mengikuti ujian dengan hasil 6 orang lulus ujian bagian A, 6 orang lulus ujian bagian B, dan 6 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 3 dari 21 mahasiswa yang terdaftar, 18 orang mengikuti ujian dengan hasil 8 orang lulus, 8 orang tidak lulus, dan 2 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 30 mahasiswa yang terdaftar, 25 orang mengikuti ujian dengan hasil 11 orang lulus, 9 orang tidak lulus, dan 5 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 1 dari 76 mahasiswa yang terdaftar, 55 orang mengikuti ujian dengan hasil 17 orang lulus, 31 orang tidak lulus, 1 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 6 orang dikenakan ujian ulangan.[123]

Di antara mahasiswa yang lulus ujian bagian B, terdapat nama Sardjono. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama Mananti Sitompoel, Oerip Imam Soedjono, Sakirman, R. Soegoto, dan R. Soemarman. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama Amandus Soedarto, Aboe Noezar, R. Soemadyo, dan M. Soenarjo. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama R. Aboeprajitno, Mohammad Sjarif, R, Soehardi, dan Togar Pohan.[125]

Tahun akademik ke-19 (29 Juli 1938-28 Juli 1939)[sunting | sunting sumber]

Pada awal bulan Agustus 1938 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-19 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 174 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 4 bagian A sebanyak 13 orang, tingkat 4 bagian B sebanyak 16 orang, tingkat 3 sebanyak 22 orang, tingkat 2 sebanyak 34 orang, tingkat 1 sebanyak 89 orang (mahasiswa baru 55 orang ditambah 34 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[126]:I.228[note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 704 orang.

Pada tanggal 9-16 Oktober 1938 dilaksanakan studi ekskursi/kunjungan lapangan tahunan mahasiswa ke Jawa Tengah untuk mengunjungi beberapa proyek irigasi dan PLTA, termasuk kota Semarang untuk mengunjungi laboratorium hidrodinamika, bandar udara, pelabuhan, dan beberapa proyek lain yang berkaitan dengan keilmuan teknik sipil. Ekskursi besar ini dipimpin oleh Prof. Ir. J. W. F. C. Proper, Prof. Ir. W. J. Th. Amons, dan Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh. Beberapa pihak yang turut membantu pelaksanaan ekskursi ini antara lain Direksi Staatsspoorwegen (SS), NISM, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij, ANIEM, Dinas Pengairan Provinsial Jawa Tengah, dan pemerintah kota Semarang. Selain itu juga dilaksanakan beberapa ekskursi kecil antara lain ke Artillerie-Constructiewinkel (sekarang PT Pindad) dipimpin oleh Prof. Ir. J. W. F. C. Proper dan Ir. W. P. C. Hennequin, instalasi penjernihan air di pemandian Het Centrum dipimpin Prof. Dr. Ir. C. P. Mom, Pabrik Bata NV Steenfabriek di Dayeuh Kolot, ekskursi geologi ke Curug Jompong dipimpin Ir. Amons, Ir. Pott, dan Ir. Harting - kepala penelitian geologi dari Dinas Pertambangan.[126]:I.228

Doktor yang ketiga[sunting | sunting sumber]

Setelah pemberian gelar doktor honoris causa kepada J. W. Ijzerman pada tanggal 7 April 1925 dan Doktor Ilmu Teknik kepada. Ir. N. H. van Harpen pada tanggal 9 Oktober 1930, tahun ini seorang insinyur sipil lulusan TH Bandung tahun 1928, berhak menyandang gelar yang sama. Pada hari Selasa, 30 Mei 1939 jam 11.00 di Aula/Barakgebouw A[note 10], Ir. Willem Johan van Blommestein berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Een nieuw pompsysteem in Nederlansch-Indië voor irrigatie en ontwatering" (Sistem pompanisasi baru di Hindia Belanda untuk irigasi dan drainase). Bertindak selaku promotor adalah Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh dan Prof. Ir. J. W. F. C. Proper.[127]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Herman Robert Woltjer; Sekretaris: Prof. Ir. J. W. F. C. Proper. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1939-1940 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Dr. Willem Boomstra.

Sejak tanggal 2 Agustus 1938, Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker melaksanakan cuti ke luar negeri. Sebagai pengganti sementara untuk mata kuliah terkait selama TA 1938-1939 adalah Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker - guru besar TH Delft, yang juga mantan guru besar TH Bandung (1921-1924). Ini adalah salah satu contoh persaudaraan TH Delft-TH Bandung.

Sejak tanggal 3 April 1939, Prof. Ir. J. H. G. Schepers - guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi mengakhiri masa tugasnya setelah lebih dari 17 tahun mengajar di TH Bandung. Selanjutnya, Ir. P. H. Poldervaart, yang juga menjabat Kepala Triangulatie-brigade Dinas Topografi yang baru, ditunjuk untuk sementara memegang mata kuliah tersebut. Ir. P. H. Poldervaart sendiri sejak TA 1926-1927 sudah berkiprah sebagai pengajar di TH Bandung.[126]:I.227 Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger yang melaksanakan cuti ke luar negeri sejak 18 Juli 1938 sampai dengan 13 Juli 1939, akan aktif mengajar kembali pada TA 1939-1940.

Total guru besar pada tahun akademik ini ada sebelas orang yang terdiri dari 7 guru besar tetap dan 4 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota (cuti ke luar negeri, sementara digantikan Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker)
  3. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh – guru besar tetap untuk Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi
  4. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  5. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  6. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  8. Prof. Ir. J. H. G. Schepers – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi (sampai 3 April 1939)
  9. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  10. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang
  11. Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan

Dengan jumlah mahasiswa 174 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 15,82.[note 12]

Dies Natalis ke-19 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

dua belas insinyur sipil angkatan ke enam belas diluluskan - di antaranya Raden Ahja, Sardjono, Mas Hoesen, Mohamad Effendi Saleh, dan Raden Soegoto;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Herman Robert Woltjer-Willem Boomstra

Jumat, 28 Juli 1939 – Dies Natalis ke-19 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dihadiri sejumlah pejabat antara lain perwakilan dari Departemen Pendidikan dan Agama; segenap anggota Majelis Kurator, guru besar, dosen, asisten, mahasiswa, dan para wisudawan TH Bandung; segenap perwakilan dari Majelis Kurator Sekolah-Sekolah Tinggi Batavia, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran Batavia.[126]:I.226

Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Dr. Herman Robert Woltjer yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir. Selanjutnya Prof. Ir. J. W. F. C. Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Water-, zand- en grindbewegingen bij watervangen" (pergerakan air, pasir dan kerikil dalam saluran intake air).

Pada TA ini untuk keenam belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 12 insinyur sipil yang merupakan lulusan ujian bulan Desember 1938 dan Juni 1939. Pada ujian insinyur di bulan Desember 1938 telah diluluskan 7 orang insinyur di antaranya Raden Ahja, dan Sardjono.[128] Pada ujian insinyur di bulan Juni 1939 telah diluluskan 5 orang insinyur di antaranya Mas Hoesen, Mohamad Effendi Saleh (kelak menjadi Direktur Djenderal/Kepala Djawatan Kereta Api - sekarang Kereta Api Indonesia), dan Raden Soegoto.[129] Dari 12 lulusan baru tersebut, 1 orang memperoleh ijazah dalam waktu 4 tahun, 5 orang menempuh studi selama 4,5 tahun, 3 orang menempuh studi selama 6 tahun, 1 orang menempuh studi selama 6,5 tahun, 1 orang menempuh studi selama 7 tahun, 1 orang menempuh studi selama 8,5 tahun.[130]:I.165 Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 190 insinyur (Pidato Ketua Fakultas pada Dies Natalis ke-19 melaporkan jumlah 189 insinyur[126]:I.229, namun berdasarkan Tabel Lulusan TH Bandung pada Laporan Dies Natalis ke-20 diperoleh jumlah 190 insinyur[130]:I.165). Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 52 orang.

Hasil studi selama TA 1938-1939 untuk 174 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 4 bagian A dari 13 mahasiswa yang terdaftar, 12 orang mengikuti ujian dengan hasil 11 orang lulus ujian bagian A, dan 1 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 4 bagian B dari 16 mahasiswa yang terdaftar, 15 orang mengikuti ujian dengan hasil 12 orang lulus ujian bagian B, dan 3 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 3 dari 22 mahasiswa yang terdaftar, 19 orang mengikuti ujian dengan hasil 7 orang lulus, 9 orang tidak lulus, dan 3 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 34 mahasiswa yang terdaftar, 28 orang mengikuti ujian dengan hasil 10 orang lulus, 7 orang tidak lulus, 1 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 10 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 1 dari 89 mahasiswa yang terdaftar, 52 orang mengikuti ujian dengan hasil 20 orang lulus, 23 orang tidak lulus, 1 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 8 orang dikenakan ujian ulangan.[126]

Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama Aboe Noezar, Herman Johannes, Mas Soenarjo, dan J. Tahir. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama Mas Moehamad Djakaria Gandi, Nowo, dan Raden Soebianto. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama Amroe Baghwie, Raden Gadjali, A. M. Loembantobing, Raden Mas Oerip Djojosantoso, Mas Setyadi Reksoprodjo, Mas Soebyanto, Raden Soesilo Maroetotenojo, A. H. Tamboenan, dan Masnir.[129]

Tahun akademik ke-20 (28 Juli 1939-1 Agustus 1940)[sunting | sunting sumber]

Pada akhir bulan Juli/awal bulan Agustus 1939 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-20 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 182 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 4 bagian A sebanyak 15 orang, tingkat 4 bagian B sebanyak 14 orang, tingkat 3 sebanyak 30 orang, tingkat 2 sebanyak 35 orang, tingkat 1 sebanyak 88 orang (mahasiswa baru 60 orang ditambah 28 orang mahasiswa angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[130]:I.168[note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 764 orang.

Pada tanggal 8-15 Oktober 1939 dilaksanakan studi ekskursi/kunjungan lapangan tahunan untuk mahasiswa tingkat 3 dan 4 ke Jawa Timur untuk mengunjungi beberapa proyek antara lain pembangunan Rumah Sakit Umum Pusat Surabaya, bandar udara baru di Morokrembangan, Marine Etablissement (sekarang PT PAL), pengelasan rel di bengkel Staatsspoorwegen (SS), instalasi penjernihan air sungai di Surabaya, pabrik NV Machinefabriek Braat, jembatan gantung di Kali Mas, dan proyek lain yang berkaitan dengan keilmuan teknik sipil. Ekskursi besar ini dipimpin oleh Prof. Ir. J. W. F. C. Proper dan Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger. Beberapa pihak yang turut membantu pelaksanaan ekskursi ini antara lain Direksi Staatsspoorwegen (SS), Komandan Angkatan Laut, Dinas Pengairan Provinsial Jawa Timur, dan pemerintah kota Surabaya. Selain itu juga dilaksanakan beberapa ekskursi kecil antara lain ke bengkel instalasi penerbangan militer di Andir dipimpin oleh Prof. Ir. W. J. Th. Amons dan Ir. M. E. Akkersdijk, instalasi air bersih pemerintah kota Bandung dipimpin Prof. Dr. Ir. C. P. Mom, pembakaran kapur dan tebing Cipatat, pembudidayaan pohon jati, dan beberapa objek geologi.[130]:I.167

Konversi masa studi 4 tahun menjadi 5 tahun[sunting | sunting sumber]

Setelah menunggu selama bertahun-tahun, perubahan tentang masa studi empat tahun menjadi lima tahun disetujui pemerintah sesuai Gouvernementsbesluit tanggal 16 September 1939[130]:I.168 mulai TA 1939-1940 sesuai yang diterapkan di TH Delft. Masa studi empat tahun yang berlangsung hingga tahun 1939 ditinjau kembali setelah melihat waktu studi mahasiswa rata-rata yang semakin panjang (tahun 1924 – 4,00 tahun; tahun 1930 – 4,83 tahun; bahkan pernah mencapai lebih dari 6 tahun – tahun 1929 dan 1931), selain itu juga untuk mempermudah konversi/perpindahan mahasiswa antara TH Bandung dengan TH Delft dan sebaliknya.

Rencana pembukaan tiga program studi baru[sunting | sunting sumber]

Salah satu permasalahan yang dihadapi Hindia Belanda adalah terputusnya pasokan tenaga kerja profesional dari Belanda akibat serbuan Jerman ke Negeri Belanda tanggal 10 Mei 1940 yang berakhir dengan dikuasainya negeri itu, yang juga menyebabkan pupusnya kesempatan para lulusan HBS maupun Lyceum di Hindia Belanda untuk meneruskan studinya di Belanda. Sekolah-sekolah tinggi di Hindia Belanda (THS, RHS, dan GHS) belum dapat memberikan solusi untuk permasalahan itu, khususnya TH Bandung yang mengalami stagnasi dalam perkembangannya seperti tertundanya pembangunan gedung-gedung laboratorium dan fasilitas akademik lain, dan belum disetujuinya pembukaan program studi baru.

Terdapat tujuh program studi di TH Delft (teknik sipil, arsitektur, teknik mesin, teknik elektro, teknik kimia, teknik pertambangan, dan teknik perkapalan) sementara hanya satu program studi di TH Bandung yaitu teknik sipil, sementara usulan pembukaan program studi teknik kimia baru bisa dimulai pada tahun 1942. Namun dengan perubahan situasi yang ada, beberapa dosen TH Bandung terinspirasi untuk menawarkan waktu luang dan tenaganya untuk memberikan kuliah persiapan (propaedeutische - kuliah tingkat 1) dan praktikum untuk program studi teknik kimia, teknik mesin, dan teknik elektro. Fakultas dan Majelis Kurator telah menerima tawaran ini, demikian pula Direktur Pendidikan sangat menghargai inisiatif tersebut dan akan mendukung sepenuhnya.

Setelah dibuka pendaftaran, jumlah peminat untuk program studi teknik mesin dan teknik elektro hanya sedikit, sehingga belum mencukupi kriteria untuk dibukanya suatu program studi. Sementara sampai dengan tanggal 15 Juli 1940, jumlah peminat untuk program studi teknik kimia sebanyak 15 orang, sehingga diputuskan untuk membuka program studi ini mulai TA 1940-1941.

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Dr. Willem Boomstra; Sekretaris: Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper. Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1940-1941 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Ir. J. W. F. C. Proper.

Pada tanggal 26 Juli 1939 Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh melaksanakan cuti ke Negeri Belanda[126]:I.227 dan berangkat pada bulan September 1939, di mana sejak 10 Mei 1940 untuk sementara ia mengajar di TH Delft.[39]:I.119 Posisinya untuk sementara digantikan oleh Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman - guru besar mekanika dari TH Delft, di mana ini merupakan kedatangannya yang kedua setelah pada TA 1925-1926 ia bertukar tempat dengan Prof. Ir. Jan Klopper. Kesementaraan itu ternyata menjadi permanen, C. G. J. Vreedenburgh tidak bisa kembali ke Hindia Belanda karena invasi Jerman ke Belanda, Buisman juga tidak bisa kembali ke Belanda dengan masuknya Jepang ke Hindia Belanda hingga ia meninggal dunia pada tahun 1944 di kamp interniran Bandung.[131]

Setelah melaksanakan cuti ke luar negeri sejak tanggal 2 Agustus 1938, Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker kembali melaksanakan tugasnya di TH Bandung sejak tanggal 4 November 1939.[130]:I.166

Sementara itu, E. H. T. Leidelmeyer - petugas Pedel yang telah bekerja selama 20 tahun sejak berdirinya TH, menyelesaikan masa tugasnya dan digantikan oleh F. J. Schram.

Dengan berakhirnya masa tugas Prof. Ir. J. H. G. Schepers - guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi sejak tanggal 3 April 1939, total guru besar pada tahun akademik ini ada sepuluh orang yang terdiri dari 6 guru besar tetap, 1 guru besar sementara, dan 3 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  3. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  4. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  5. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  6. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman – guru besar sementara untuk Mekanika dan Mekanika Tanah
  8. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  9. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang
  10. Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan

Dengan jumlah mahasiswa 182 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 18,2.[note 12]

Sarana akademik[sunting | sunting sumber]

Pada TA ini Laboratorium Technische Hygiëne en Assaineering diperluas dan dibuat berlantai dua, terutama untuk mewadahi penelitian yang berkaitan dengan udara. Selain itu juga dibangun gedung kuliah berbentuk amphitheater dengan kapasitas 140 orang untuk perkuliahan ilmu bahan bangunan. Dengan ruang kuliah besar yang baru ini, permasalahan yang terkait dengan peningkatan jumlah mahasiswa tingkat 1 dapat dipecahkan (lokasi gedung ini di sebelah utara Aula Timur, yang pada tahun 1960-2000-an selain digunakan untuk perkuliahan juga dipakai sebagai bioskop mahasiswa - Liga Film Mahasiswa ITB).

Dies Natalis ke-20 (Lustrum ke-4) dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

Medali Bosscha keempat kali diberikan;
dua belas insinyur sipil angkatan ke tujuh belas diluluskan - di antaranya Aboe Noezar, J. A. Manusama, Sakirman, Mas Soenarjo, dan J. Tahir;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari Willem Boomstra-Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper

Kamis, 1 Agustus 1940 – Dies Natalis ke-20 dan Lustrum ke-4 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dihadiri sejumlah pejabat antara lain perwakilan dari Departemen Pendidikan dan Agama; segenap anggota Majelis Kurator, guru besar, dosen, asisten, mahasiswa, dan para wisudawan TH Bandung; segenap perwakilan dari Majelis Kurator Sekolah-Sekolah Tinggi Batavia, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran Batavia.[130]:I.163

Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Dr. Willem Boomstra yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir. Selain itu juga dilaporkan mengenai data lulusan TH Bandung sejak tahun 1924, ketika untuk pertama kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil berikut bidang pekerjaan para insinyur tersebut saat ini; serta rencana pembukaan program studi baru.

Pada dies natalis ini untuk keempat kalinya dilaksanakan penganugerahan Medali Bosscha, yang merupakan ketiga kalinya dalam bidang ilmu agronomi/pertanian. Pada tahun 1938, sesuai giliran seharusnya medali diberikan untuk prestasi di bidang teknik, namun komite evaluasi memutuskan untuk tidak memberikan medali tersebut. Sesuai aturan, maka untuk tahun 1940 penganugerahan diberikan pada bidang ilmu agronomi/pertanian. Kelanjutan acara penganugerahan medali ini sempat memunculkan kontroversi, mengingat Negeri Belanda sedang menghadapi musuh dan ancaman terjadinya perang di Hindia Belanda. Medali yang dianugerahkan setiap dua tahun ini diberikan oleh Prof. Dr. W. A. Mijsberg, Ketua Dewan Ilmu Pengetahuan Hindia Belanda ("Natuurwetenschappelijken Raad van Nederlandsch-Indië") kepada H. van Lennep - Direktur "Gouvernements Landbouwbedrijven te Batavia" atas prestasinya dalam bidang pertanian.[130]

Pada TA ini untuk ketujuh belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 12 insinyur sipil yang merupakan lulusan ujian bulan Desember 1939, Januari dan Juni 1940. Pada ujian insinyur di bulan Desember 1939 telah diluluskan 4 orang insinyur, pada ujian insinyur di bulan Januari 1940 telah diluluskan 1 orang insinyur. Pada ujian insinyur di bulan Juni 1940 telah diluluskan 7 orang insinyur di antaranya Aboe Noezar (kelak menjadi salah satu pendiri Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI)), J. A. Manusama (kelak menjadi Presiden Republik Maluku Selatan), Sakirman (kelak menjadi salah satu pimpinan PKI), Mas Soenarjo (kelak menjadi salah satu pendiri dan guru besar Fakultas Teknik UGM), dan J. Tahir (kelak menjadi salah satu pendiri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya).[132] Dari 12 lulusan baru tersebut, 3 orang memperoleh ijazah dalam waktu 4 tahun, 2 orang menempuh studi selama 4,5 tahun, 1 orang menempuh studi selama 5,5 tahun, 1 orang menempuh studi selama 6 tahun, 2 orang menempuh studi selama 7 tahun, 2 orang menempuh studi selama 7,5 tahun, 1 orang menempuh studi selama 10 tahun. Hingga wisuda ini TH Bandung sudah menghasilkan 202 insinyur.[130]:I.165 Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung sebanyak 57 orang (Sementara Pidato Ketua Fakultas pada Dies Natalis ke-20 melaporkan "Het aantal afgestudeerden bedraagt op dit oogenblik 202, waarvan 122 Europeanen, 56 Inheemschen en 24 Chineezen" - jumlah lulusan hingga saat ini sebanyak 202, terdiri dari 122 orang Eropa, 56 orang pribumi, dan 24 orang Tionghoa.[130]:I.164). Jumlah total lulusan yang dihasilkan oleh ketiga sekolah tinggi Hindia Belanda pada tahun 1940 (GHS, RHS, dan THS) sebanyak 79 orang.[133]:I.14

Hasil studi selama TA 1939-1940 untuk 182 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 4 bagian A dari 15 mahasiswa yang terdaftar, 13 orang mengikuti ujian dengan hasil 12 orang lulus ujian bagian A, dan 1 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 4 bagian B dari 14 mahasiswa yang terdaftar, 13 orang mengikuti ujian dengan hasil 11 orang lulus ujian bagian B, dan 2 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 3 dari 30 mahasiswa yang terdaftar, 26 orang mengikuti ujian dengan hasil 22 orang lulus, 2 orang tidak lulus, dan 2 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 35 mahasiswa yang terdaftar, 34 orang mengikuti ujian dengan hasil 22 orang lulus, 4 orang tidak lulus, 2 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 6 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 1 dari 88 mahasiswa yang terdaftar, 52 orang mengikuti ujian dengan hasil 21 orang lulus, 25 orang tidak lulus, dan 6 orang dikenakan ujian ulangan.[130]:I.168

Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 4, terdapat nama Abdoel Kader, R. Aboeprajitno, R. Oeloe Soelaeman Prawirokoesoema, R. Soemadyo, dan M. Soendjasmono. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 3, terdapat nama Raden Mas Oerip Djojosantoso, Mas Soebyanto, A. H. Tamboenan, dan Togar Pohan. Di antara mahasiswa yang lulus ke tingkat 2, terdapat nama R. Hartono, Irdam Idris, R. Rodzianko Probonegoro, M. Sentot Alibasah, R. M. J. T. Soehakso, dan Soekonjono.[132]

Tahun akademik ke-21 (1 Agustus 1940-1 Agustus 1941)[sunting | sunting sumber]

Pada awal bulan Agustus 1940 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-21 dengan jumlah total mahasiswa terdaftar sebanyak 248 orang, terdiri dari mahasiswa tingkat 4 bagian A sebanyak 10 orang, tingkat 4 bagian B sebanyak 28 orang, tingkat 3 sebanyak 34 orang, tingkat 2 sebanyak 33 orang (3 di antaranya mahasiswa pindahan dari TH Delft), tingkat 1 sebanyak 143 orang terdiri dari mahasiswa teknik sipil 109 orang dan mahasiswa teknik kimia 34 orang. Dari 143 orang mahasiswa tingkat 1 tersebut, 115 orang adalah mahasiswa baru ditambah 28 orang mahasiswa angkatan-angkatan sebelumnya yang harus mengulang).[39][note 13] Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 882 orang (termasuk 3 mahasiswa baru tingkat 2 pindahan dari TH Delft).

Peristiwa dalam TA ini secara umum berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya akibat terjadinya Perang Dunia II yang berpengaruh pada bidang ekonomi, sosial dan politik di Hindia Belanda. Terputusnya hubungan antara Negeri Belanda dengan wilayahnya di luar negeri menyebabkan terputusnya arus perputaran barang dan manusia, sehingga pemerintah setempat dipaksa untuk mandiri di dalam segala hal, termasuk penyediaan tenaga kerja pada bidang-bidang yang selama ini harus didatangkan dari Negeri Belanda. Fakta yang selama ini terjadi bahwa Hindia Belanda tidak mungkin untuk memiliki pendidikan akademik tertentu, kini memaksa Hindia Belanda untuk sesegera mungkin menyusun pendidikan untuk bidang-bidang antara lain pelatihan untuk para pejabat publik (bestuursambtenaren), para ahli pertanian (landbouwkundigen), perwira angkatan darat, laut, dan udara, termasuk pelatihan untuk insinyur teknik kimia dan teknik mesin.

Pada tanggal 7-13 Oktober 1940 dilaksanakan studi eksekursi/kunjungan lapangan tahunan untuk mahasiswa tingkat 3 dan 4 ke Jawa Barat dan Batavia untuk mengunjungi beberapa lokasi antara lain perkuatan jembatan KA Cilame-Sasaksaat, Bendungan Walahar, Pelabuhan Tanjung Priok, galangan kapal, pabrik cat, bandar udara Kemayoran, pabrik opium, proyek irigasi di Tangerang, sumber air untuk Batavia, Boschbouwproefstation di Bogor, dan pabrik ban Goodyear. Eksekursi besar ini dipimpin oleh Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger dan Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman. Beberapa pihak yang turut membantu pelaksanaan eksekursi ini antara lain Direksi Staatsspoorwegen (SS), Direksi Pelabuhan Tanjung Priok, direksi pabrik, Kepala Dinas Pengairan Provinsial Jawa Barat, dan pemerintah kota Batavia. Selain itu juga dilaksanakan beberapa eksekursi kecil untuk mahasiswa tingkat 1 antara lain pada tanggal 6 Oktober 1940 ke lembah Citarum dipimpin oleh Ir. M. E. Akkersdijk, dan pada tanggal 20 Desember 1940 ke pabrik genteng di Ujung Berung dipimpin oleh Prof. Ir. W. J. Th. Amons.[39]:I.120

Kegiatan eksternal lain yang dilakukan Fakultas di antaranya menghadiri dengar pendapat dengan Residen Priangan (31 Agustus 1940); peringatan Dies Natalis Fakultas Hukum - RHS di mana dilangsungkan juga penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada Dr. H. J. van Mook - Direktur Departemen Urusan Ekonomi (28 Oktober 1940); peringatan Dies Natalis Fakultas Kedokteran - GHS (16 Agustus 1940); pembukaan Hoogere Krijgsschool (2 Desember 1941) dan Koninklijke Militaire Academie (1 Oktober 1940); pembukaan Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (fakultas sastra dan filsafat - fakultas ke-4 di Hindia Belanda) oleh Gubernur Jenderal di gedung RHS Batavia (4 Desember 1940); resepsi di aula HBS Bandung (20 Desember 1940) dalam rangka peringatan ke-25 tahun; dan resepsi di istana Rijswijk Batavia untuk menghormati Menteri Urusan Daerah Jajahan dan Menteri Urusan Luar Negeri (25 April 1941).[39]:I.121

Teknik kimia - program studi kedua (1 Agustus 1940)[sunting | sunting sumber]

Rencana pembentukan program studi teknik kimia di TH Bandung bukanlah hal yang baru. Sejak TH Bandung dibangun lebih dari 20 tahun yang lalu, lokasi untuk ruang kuliah dan laboratorium untuk program studi teknik kimia, teknik mesin, teknik elektro dan pertambangan sudah disediakan (Lihat Denah TH Bandung). Kurikulum lengkap untuk pendidikan insinyur teknik kimia sudah disusun oleh Prof. S. Hoogewerff dari TH Delft. Sementara semua pihak sudah diyakinkan akan manfaat dari pendidikan ini. Namun kondisi keuangan Hindia Belanda yang tidak menentu selama tahun-tahun berikutnya, bagaimanapun, membuat rencana tersebut tidak bisa diimplementasikan.

Pada tahun 1938 Volksraad telah menanyakan kepada pemerintah berkenaan dengan kemungkinan pembukaan pelatihan insinyur teknik kimia di TH Bandung. Pemerintah menjanjikan untuk mempelajari hal tersebut, dan meminta masukan dan tanggapan dari TH Bandung. Pihak Fakultas menanggapinya dengan menunjukkan bahwa pembentukan program studi teknik kimia akan bermanfaat untuk kepentingan ekonomi Hindia Belanda dengan meningkatnya industrialisasi, pendirian dan perluasan pabrik-pabrik yang memproduksi antara lain minyak nabati, karet, cat, kertas, fermentasi, parfum, dan pewarna. Pada prinsipnya TH Bandung menekankan kenyataan bahwa akan semakin besar kesempatan mencari pekerjaan dan penempatan bagi insinyur teknik kimia di Hindia Belanda.

Pendidikan teknik kimia di Bandung tidak sepenuhnya meniru kurikulum di TH Delft yang memberikan porsi yang besar dalam dasar-dasar teoritis, pengetahuan ilmu kimia, begitu juga penerapan dalam proses teknik kimia. Untuk pendidikan di Bandung, pelajaran kimia teori dikurangi dan diganti dengan pengetahuan teknik mesin dan teknik elektro. Selain itu sebaiknya kurikulum juga menekankan pada pembentukan suatu bisnis/usaha, sehingga mahasiswa perlu diajarkan studi bisnis, ekonomi, dan pemasaran.

Secara tegas dinyatakan bahwa pendidikan insinyur teknik kimia di Bandung dan Delft pada dasarnya setara, namun tidak sepenuhnya sama satu sama lain. Program perkuliahan dan praktikum disusun dalam masa studi 5 tahun. Sehubungan hal tersebut terdapat perbedaan pandangan dengan Departemen Urusan Ekonomi yang menyarankan agar tingkat 1 dan 2 atau tahap persiapan ("propaedeuse") pendidikan insinyur teknik kimia dapat diberikan di dalam negeri, tetapi tingkat-tingkat selanjutnya pendidikan dilanjutkan ke luar negeri seperti Amerika Serikat. Fakultas keberatan dengan usulan tersebut dan menyatakan keyakinannya bahwa keseluruhan proses pendidikan harus dilakukan di dalam negeri; mungkin untuk beberapa bagian dilanjutkan dengan praktek di luar negeri beberapa tahun, dengan mempertimbangkan sisi keuangan.

Dengan terjadinya invasi Jerman ke Negeri Belanda pada tanggal 10 Mei 1940 diperkirakan akan menyebabkan tidak ada insinyur dari Belanda yang bisa datang dalam beberapa tahun ke depan. Kurang dari tiga bulan setelah tanggal ini, yaitu pada tanggal 1 Agustus 1940 - di mana tahun akademik baru TH dimulai, sehingga tidak ada lagi waktu untuk mengurus secara resmi dan mengorganisir sepenuhnya pelatihan insinyur teknik kimia. Oleh karenanya, atas inisiatif tiga profesor TH yaitu Prof. Dr. H. R. Woltjer, Prof. Ir. W. J. Th. Amons dan Prof. Dr. Ir. C. P. Mom, kuliah dan praktikum fisika dan kimia mulai diberikan kepada mahasiswa angkatan ke-1 program studi teknik kimia tersebut. Perkuliahan lain yang diikuti sama dengan yang diikuti mahasiswa tingkat 1 program studi teknik sipil, sehingga dengan persetujuan Fakultas, Majelis Kurator, dan Departemen Pendidikan, maka dapat dikatakan bahwa tahun ke-1 pelatihan insinyur teknik kimia dimulai sejak tanggal 1 Agustus 1940. Mahasiswa angkatan pertama Teknik Kimia sebanyak 34 orang. Dalam TA 1941-1942 direncanakan untuk menyelesaikan penyusunan kurikulum pelatihan 5 tahun sepenuhnya secara resmi, setelah melalui persetujuan Majelis Kurator dan Direktur Departemen Pendidikan dan Agama.

Akan tetapi penyelesaian rencana tersebut tentunya tidak mudah, sehubungan dengan diterimanya usulan Departemen Urusan Ekonomi untuk mempertimbangkan agar pendidikan insinyur teknik kimia tersebut digabungkan dengan pendidikan insinyur pertanian di Bogor. Setelah melalui pembahasan yang panjang pada akhirnya diputuskan secara resmi bahwa pelatihan insinyur teknik kimia dengan masa studi 5 tahun, sepenuhnya diadakan di TH Bandung. Usulan tersebut telah diajukan pemerintah kepada Volksraad, di mana selanjutnya pemerintah akan mengeluarkan peraturan, di mana pada TA 1941-1942 terdapat dua angkatan untuk mahasiswa program studi teknik kimia.

Dengan dibukanya program studi teknik kimia tentunya berdampak pada perluasan sarana ruang-ruang kuliah dan laboratorium yang harus dibangun, demikian juga pengangkatan para dosen dan asisten. Pada TA ini telah diselesaikan bangunan gedung kuliah baru. Sementara baru-baru ini dimulai pembangunan laboratorium yang baru. Usulan pengangkatan dosen dan asisten sudah sampai di Departemen Pendidikan dan Agama.[39]:I.116

Universiteit van Nederlandsch-Indië[sunting | sunting sumber]

Peristiwa besar lain yang terjadi selama TA ini adalah berkaitan dengan rencana pembentukan "Universiteit van Nederlandsch-Indië". Pada tanggal 8 Oktober 1940, Fakultas menerima surat dari Direktur Pendidikan dan Agama berkenaan dengan rencana Pemerintah untuk menggabungkan fakultas-fakultas yang ada dan segera dibentuk dalam suatu universitas. Universitas itu tidak akan meniru secara mutlak organisasi univeritas di Negeri Belanda, tetapi akan menarik manfaat dari pengalaman yang didapat oleh setiap sekolah tinggi yang ada di sini. Pimpinan universitas ini akan disebut "President der Universiteit".

Pihak TH Bandung sendiri agak keberatan dengan rencana tersebut. Selanjutnya masih perlu dirundingkan dengan semua fakultas tentang bentuk organisasi keseluruhannya, tentang kuratorium, dan tentang perubahan terhadap administrasi fakultas. Masuknya TH Bandung ke dalam universitas itu memang harus ditinjau tersendiri. Kesukaran terbesar bagi TH adalah jarak Bandung-Batavia jika administrasi akan dipusatkan di universitas. Pimpinan TH tidak melihat adanya perbaikan jika TH dimasukkan ke dalam universitas tersebut; selain lokasi administrasi pusat yang jauh, tetapi juga tidak akan ada kuratorium sendiri bagi TH, yang mampu langsung ikut memimpin Fakultas Teknik dalam ikatan universitas.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada tanggal 28 April 1941 dilangsungkan pertemuan antara Direktur Pendidikan dan Agama dengan pihak TH Bandung yaitu Majelis Kurator dan pihak Fakultas. Setelah pertemuan itu, Fakultas menerima rencana Pemerintah untuk memasukkan TH Bandung dalam ikatan universitas walaupun masih perlu mengajukan beberapa usul baru dan harapan.

Universitas ini sendiri baru dapat dibentuk setelah terlebih dahulu mengubah "Hooger Onderwijs Ordonnantie" - Undang-Undang Pendidikan Tinggi. Sebuah rancangan ordonansi yang baru telah disajikan kepada Fakultas untuk dipelajari, dan permintaan ini akan dipenuhi secepatnya. Namun rencana tersebut tidak sempat terlaksana dengan jatuhnya Hindia Belanda pada bulan Maret 1942.[39]:I.117-118[3]:34-35

Hoogere Krijgsschool dan Koninklijke Militaire Academie[sunting | sunting sumber]

Keistimewaan lain pada TA ini yang juga merupakan konsekuensi dari keadaan perang adalah, untuk pertama kalinya dalam sejarah TH Bandung perkuliahan diberikan kepada para perwira Hoogere Krijgsschool - HKS (sejenis Seskoad) dan para kadet dari Koninklijke Militaire Academie - KMA (Akmil). Dengan terputusnya hubungan ke Negeri Belanda, maka didirikanlah kedua lembaga pendidikan militer itu di Hindia Belanda, KMA - Akademi Militer Kerajaan, dibuka pada tanggal 1 Oktober 1940 di Bandung, sedangkan HKS dibuka pada tanggal 1 Desember 1940 di Bandung. Para profesor yang ditugaskan mengajar di KMA sejak tanggal 1 Maret 1941 adalah Prof. Dr. Willem Boomstra – mengajar Matematika 10 jam per minggu; Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – mengajar Ilmu Bangunan Air 2 jam per minggu; Prof. Ir. W. J. Th. Amons - mengajar Pengetahuan Bahan Bangunan 1 jam per minggu. Sedangkan yang ditugaskan mengajar di HKS sejak tanggal 1 Desember 1940-akhir Mei 1941 adalah Prof. Dr. Herman Robert Woltjer - mengajar Fisika 2 jam per minggu; dan Prof. Dr. Ir. C. P. Mom - mengajar Kimia 2 jam per minggu.[39]:I.118

Perlindungan serangan udara[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Oktober 1940 diterima instruksi untuk mengantisipasi kemungkinan serangan udara oleh Jepang, agar disiapkan langkah penanggulangan untuk melindungi bangunan-bangunan yang ada di TH Bandung. Selanjutnya diadakan pertemuan dengan kepala sektor Luchtbeschermingsdienst (LBD - dinas pertahanan sipil untuk menghadapi kemungkinan serangan udara). Fakultas membentuk tim pelaksana yang terutama berhubungan dengan penanggulangan dan pencegahan kebakaran, termasuk pertolongan pertama. Kantor Sekretaris TH dijadikan pos komando sektor lokal beserta stafnya.

Doktor yang keempat[sunting | sunting sumber]

Setelah pemberian gelar doktor honoris causa kepada J. W. Ijzerman (7 April 1925); dan Doktor Ilmu Teknik kepada. Ir. N. H. van Harpen (9 Oktober 1930) dan Ir. W. J. van Blommestein (30 Mei 1939), tahun ini TH Bandung kembali meluluskan doktor ilmu teknik yang ketiga (atau doktor keempat termasuk honoris causa). Pada tanggal 19 November 1940 jam 11.00 di Aula/Barakgebouw A[note 10], Ir. Joseph Antoine Wiesebron, seorang insinyur kimia lulusan TH Delft berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Psychometrisch onderzoek aangaande het behaaglijkheidsgevoel in Nederlandsch-Indië" (Penelitian psikometri tentang tingkat kenyamanan di Hindia Belanda). Bertindak selaku promotor adalah Prof. Dr. Ir. C. P. Mom dan Prof. Dr. Herman Robert Woltjer, sedangkan selaku penyanggah adalah Ir. Thijsse, Ir. G. Meesters, dan Prof. Ir. W. J. Th. Amons.[134]

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper; Sekretaris: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard (1 Agustus 1940-7 Maret 1941); Prof. Dr. Herman Robert Woltjer (7 Maret-1 Agustus 1941).[39]:I.119 Setelah menjabat selama satu tahun, mulai TA 1941-1942 jabatan Ketua Fakultas dipegang oleh Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger.

Berdasarkan "Gouvernementsbesluit" tanggal 3 September 1940, terhitung sejak tanggal 31 Desember 1940, Prof. Charles P. Wolff Schoemaker mengakhiri masa tugasnya sebagai guru besar setelah 19 tahun mengajar di TH.[135] Sebagai penggantinya, berdasarkan "Gouvernementsbesluit" tanggal 28 Juni 1941, Ir. W. Lemei diangkat menjadi guru besar untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota.[39]:I.119

Pada tanggal 11 Februari 1941, Prof. Mr. Dr. Martin August Gustav Harthoorn telah mengakhiri masa tugasnya sebagai guru besar luar biasa TH Bandung ditandai dengan kuliah terakhirnya dalam Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang. Setelah hampir 10 tahun mengajar di TH Bandung, selanjutnya Harthoorn akan diangkat menjadi Ketua Hooggerechthof (Mahkamah Agung). Sebagai penggantinya sejak tanggal 1 April 1941 diangkat Mr. N. S. Blom, namun 3 bulan kemudian mengundurkan diri sehubungan dengan pengangkatannya sebagai Direktur Departemen Kehakiman. Dalam waktu singkat Prof. Blom telah meyakinkan Fakultas bahwa kuliah Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang diberikan dengan cara yang sangat baik.[39]:I.119 Sebagai pengganti Prof. Blom, berdasarkan "Gouvernementsbesluit" No.15 tanggal 29 Juli 1941 Mr. Willem Frederik Prins diangkat menjadi guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang di TH Bandung terhitung sejak tanggal 1 Agustus 1941.[136]

Sejak tanggal 23 Mei 1941, Ir. P. H. Poldervaart, yang juga menjabat Kepala Triangulatie-brigade Dinas Topografi, diangkat secara resmi sebagai guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi, setelah sekitar dua tahun menggantikan sementara posisi yang ditinggalkan J. H. G. Schepers.[39]:I.119

Berkaitan dengan asisten, Ir. R. Roosseno Soerjohadikoesoemo telah meminta pemberhentian diri dengan hormat sebagai asisten untuk Ilmu Ukur Tanah/Surveying dan Perataan/Levelling. Dengan demikian, ia digantikan oleh Ir. Soetomo Wongsotjitro, yang juga menjabat sebagai asisten untuk Irigasi, Hidrolika, dan Teknik Sanitasi. Namun ia juga meminta pemberhentian diri dengan hormat pada akhir Juli 1941. Pada tanggal 1 Agustus 1941, Ir. R. Soemarman (kelak menjadi salah satu guru besar FT UGM dan Universitas Diponegoro; pendiri, Ketua Jurusan Teknik Sipil yang pertama, dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro yang pertama[137]) telah diangkat untuk menggantikannya.[39]:I.120

Total guru besar pada tahun akademik ini ada sebelas orang yang terdiri dari 6 guru besar tetap, 1 guru besar sementara, dan 4 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota (sampai 31 Desember 1940); digantikan Prof. Ir. W. Lemei (sejak 28 Juni 1941)
  3. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  4. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  5. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  6. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  7. Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman – guru besar sementara untuk Mekanika dan Mekanika Tanah
  8. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  9. Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang (sampai 11 Februari 1941); digantikan Prof. Mr. N. S. Blom (1 April-Juli 1941); digantikan Prof. Mr. Willem Frederik Prins (sejak 1 Agustus 1941)
  10. Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar luar biasa untuk Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
  11. Prof. Ir. P. H. Poldervaart – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi (sejak 23 Mei 1941)

Dengan jumlah mahasiswa 248 orang maka rasio guru besar : mahasiswa = 1 : 22,55.[note 12]

Dies Natalis ke-21 dan hasil studi[sunting | sunting sumber]

tujuh insinyur sipil angkatan ke delapan belas diluluskan;
serah terima jabatan Ketua Fakultas dari J. W. F. C. Proper-Jan Jacob Iman Sprenger

Jumat, 1 Agustus 1941 – Dies Natalis ke-21 TH Bandung diadakan di Aula/Barakgebouw A[note 10], yang dihadiri sejumlah pejabat sipil dan militer antara lain Residen Karesidenan Priangan - E. Tacoma; Komandan KNILLetnan Jenderal Gerardus Johannes Berenschot; Kepala Kantor Pasokan Departemen Perang – H. van Galen Last; Kepala Kantor PTT - Ir. C. Hillen; anggota Volksraad - W. R. van Nauta Lemke;[138] Presiden Kurator TH Bandung; perwakilan dari guru besar Fakultas Hukum RHS, Fakultas Kedokteran GHS, dan Fakultas Sastra dan Filsafat; perwakilan dari Hoogere Krijgsschool dan Akademi Militer Kerajaan; anggota Majelis Kurator, para guru besar, lektor, asisten, dan mahasiswa TH Bandung.[39]:I.115

Acara dimulai dengan pidato Ketua Fakultas Prof. Ir. J. W. F. C. Proper yang melaporkan perkembangan TH selama satu tahun terakhir, selanjutnya Prof. Ir. W. J. Th. Amons – guru besar untuk Kimia Analitik dan Pengetahuan Bahan Bangunan TH Bandung menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Corrosieverschijnselen" (gejala korosif).[138]

Pada TA ini untuk kedelapan belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 7 insinyur sipil yang merupakan lulusan ujian bulan Juni 1941. Pidato Ketua Fakultas pada Dies Natalis ke-21 melaporkan jumlah lulusan hingga saat ini sebanyak 209 dengan masa studi rata-rata 5,15 tahun.[39]:I.123.

Hasil studi selama TA 1940-1941 untuk 248 mahasiswa yang terdaftar adalah:

  • Ujian tingkat 4 bagian A dari 10 mahasiswa yang terdaftar, 9 orang mengikuti ujian dengan hasil 7 orang lulus ujian bagian A, dan 2 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 4 bagian B dari 28 mahasiswa yang terdaftar, 25 orang mengikuti ujian dengan hasil 21 orang lulus ujian bagian B, dan 4 orang tidak lulus.
  • Ujian tingkat 3 dari 34 mahasiswa yang terdaftar, 32 orang mengikuti ujian dengan hasil 21 orang lulus, 5 orang tidak lulus, 1 orang mendapat dispensasi penangguhan ujian, dan 5 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 2 dari 33 mahasiswa yang terdaftar, 31 orang mengikuti ujian dengan hasil 22 orang lulus, 3 orang tidak lulus, dan 6 orang dikenakan ujian ulangan.
  • Ujian tingkat 1 program studi Teknik Sipil dari 109 mahasiswa yang terdaftar, 11 orang berhenti kuliah, 29 orang mengundurkan diri dari ujian, sehingga yang mengikuti ujian sebanyak 69 orang.
  • Ujian tingkat 1 program studi Teknik Kimia dari 34 mahasiswa yang terdaftar, 6 orang berhenti kuliah, 3 orang mengundurkan diri dari ujian, 1 orang meninggal dunia, sehingga yang mengikuti ujian sebanyak 24 orang. (Pidato Ketua Fakultas pada Dies Natalis ke-21 tidak memberikan data kelulusan untuk mahasiswa tingkat 1 tersebut).[39]:I.123

Tahun akademik ke-22 (1 Agustus 1941-8 Maret 1942-ditutup)[sunting | sunting sumber]

Pada awal bulan Agustus 1941 – dimulailah masa perkuliahan tahun akademik ke-22 dengan jumlah mahasiswa baru 132 orang.[139]:I.97 Jumlah total mahasiswa yang pernah terdaftar untuk pertama kalinya (mahasiswa baru) hingga saat ini sebanyak 1.014 orang (termasuk 3 mahasiswa baru tingkat 2 pindahan dari TH Delft pada TA 1940-1941).[139]:I.97

Pada tanggal 6-11 Oktober 1941 sekitar 40 mahasiswa senior TH Bandung melaksanakan studi eksekursi/kunjungan lapangan ke Surabaya dan Madura di bawah bimbingan Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard dan Prof. Ir. W. Lemei. Tempat yang dikunjungi adalah instansi/lembaga dan perusahaan di antaranya bengkel kereta api SS, Stasiun KA Gubeng, dan galangan kapal. [140]

Teknik mesin - program studi ketiga (1 Agustus 1941)[sunting | sunting sumber]

Sebagai akibat dari terputusnya hubungan antara Negeri Belanda dan Hindia Belanda, dapat dipastikan bahwa akan terjadi kekurangan insinyur mesin. Bahkan dengan selesainya perang pun akan tidak mudah tersedia insinyur di Hindia Belanda. Oleh karenanya pembentukan insinyur mesin di Hindia Belanda akan sangat bermanfaat bagi negara ini, sebagaimana diusulkan TH Bandung untuk membuka pendidikan insinyur teknik mesin. Proposal ini harus memperoleh persetujuan dari Majelis Kurator, Direktur Pendidikan dan Agama, dan Volksraad. Lektor luar biasa untuk Teknik Mesin - Dr. Ir. Geert Otten, yang sehari-harinya menjabat Kepala Dinas Teknik Penerbangan Militer, sangat berjasa dalam pendirian program studi tersebut.[39]:I.117

Kampus TH menjadi Markas Militer[sunting | sunting sumber]

Kurang lebih bersamaan dengan pecahnya perang dengan Jepang pada bulan Desember 1941 sebagian dari kampus TH Bandung diambil alih penguasa militer untuk dijadikan "Algemeen Hoofdkwartier (AHK) van Oorlog" (Markas Besar Kementerian Perang Hindia Belanda). Pengambilalihan ini dilaksanakan secara fleksibel, sehingga kegiatan penelitian di laboratorium bisa terus bekerja, demikian juga kegiatan pendidikan, meskipun dalam skala terbatas, tetap bisa dilanjutkan. Perpustakaan ditempatkan dalam ruangan dari baja yang terbuka, dengan pelat pada bagian depan yang bisa dibuka tutup, oleh karenanya layanan peminjaman buku sementara dinonaktifkan. Untuk kepentingan para staf TH, dibangun parit perlindungan dan ditempatkan Luchtbeschermingsdienst (LBD - dinas pertahanan sipil untuk menghadapi kemungkinan serangan udara).[141]:73

Di sekitar kampus dimulai pembangunan barak semi permanen, termasuk sebuah bunker beton yang tahan serangan bom untuk markas keseluruhan. Pada awal Februari 1942 pembangunan bunker dipercepat agar bisa segera digunakan oleh bagian Operasi AHK, para perwira penghubung Sekutu, dinas komunikasi dan intelijen. Pada awal Februari 1942 Markas Besar Angkatan Laut Belanda dan Angkatan Laut Sekutu (ABDA-FLOAT dipindahkan dari Batavia ke lokasi TH Bandung. Markas Besar ABDACOM sendiri berada di Grand Hotel Lembang. Markas besar AL kemudian menempati lantai atas bunker beton tersebut sejak awal bulan Maret 1942.[142] Lokasi bunker beton tersebut berada di sebelah Barat kampus TH (sampai sekarang bunker tersebut masih ada dan digunakan sebagai Laboratorium Metrologi Industri ITB).

Staf pengajar[sunting | sunting sumber]

Ketua Fakultas: Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger; Sekretaris: Prof. Ir. W. J. Th. Amons.

Dengan dimulainya pendidikan insinyur teknik kimia pada TA 1940-1941 dan dibuka secara resmi pada TA 1941-1942, maka pada TA 1941-1942 telah diangkat guru besar dan dosen di program studi Teknik Kimia di antaranya:

  1. Prof. Ir. W. J. Th. Amons - Kepala Laboratorium Penelitian Bahan Departemen Urusan Ekonomi, selain sebagai guru besar luar biasa untuk Pengetahuan Bahan Bangunan TH Bandung - diangkat menjadi guru besar untuk Kimia Analitik dan Pengetahuan Bahan Bangunan.
  2. Dr. Kees Posthumus - Rektor di "Christelijk Lyceum te Bandoeng"[note 21] - diangkat sebagai guru besar luar biasa untuk Kimia Anorganik dan Kimia Fisik.
  3. Ir. M. E. Akkersdijk - Inspektur di Dinas Pertambangan, selain sebagai lektor luar biasa untuk Geologi Teknik TH Bandung - diangkat menjadi guru besar luar biasa untuk Mineralogi.
  4. Dr. J. K. Baars - Peneliti Tingkat I di Eijkmaninstituut te Batavia di Jakarta - diangkat sebagai guru besar luar biasa untuk Kimia Organik.[143]

Sejak tanggal 1 September 1941, Ir. Thomas Karsten diangkat menjadi lektor luar biasa untuk Planologi.[144]

Pada tanggal 3 Oktober 1941, Prof. Ir. W. Lemei - guru besar baru untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota membawakan orasi ilmiah yang berjudul "De bouwkunst in de 19de en 20ste eeuw".[145]:I.132

Menjelang akhir tahun 1941, Ir. J. L. B. Gribling diangkat menjadi guru besar untuk Teknik Mesin.[146]

Total guru besar pada tahun akademik ini ada enam belas orang yang terdiri dari 8 guru besar tetap, 1 guru besar sementara, dan 7 guru besar luar biasa yaitu:

  1. Prof. Dr. Willem Boomstra – guru besar tetap untuk Matematika
  2. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard – guru besar tetap untuk Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim
  3. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer – guru besar tetap untuk Fisika
  4. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  5. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper – guru besar tetap untuk Bangunan Air
  6. Prof. Ir. W. J. Th. Amons - guru besar tetap untuk Kimia Analitik dan Pengetahuan Bahan Bangunan
  7. Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman – guru besar sementara untuk Mekanika dan Mekanika Tanah
  8. Prof. Ir. W. Lemei – guru besar tetap untuk Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota
  9. Prof. Ir. J. L. B. Gribling – guru besar untuk Teknik Mesin
  10. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom – guru besar luar biasa untuk Higiene dan Teknologi Sanitasi
  11. Prof. Mr. Willem Frederik Prins - guru besar luar biasa untuk Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, dan Hukum Dagang
  12. Prof. Ir. P. H. Poldervaart – guru besar luar biasa untuk Survei, Perataan, dan Geodesi
  13. Prof. Dr. Kees Posthumus - guru besar luar biasa untuk Kimia Anorganik dan Kimia Fisik
  14. Prof. Ir. M. E. Akkersdijk - guru besar luar biasa untuk Mineralogi
  15. Prof. Dr. J. K. Baars - guru besar luar biasa untuk Kimia Organik
  16. Prof. Dr. Ir. Geert Otten - guru besar luar biasa untuk Teknik Mesin

Sarana akademik[sunting | sunting sumber]

Dengan dibukanya program studi teknik kimia dan teknik mesin, diperlukan tambahan bangunan gedung di mana desainnya dilaksanakan oleh Dinas Bangunan Gedung Provinsial di Bandung. Pada pertengahan tahun 1942 direncanakan akan dibangun dua laboratorium yaitu Laboratorium Kimia Anorganik dan Kimia Fisik, dan Laboratorium Kimia Organik. Selanjutnya beberapa bangunan gedung untuk teknik mesin diharapkan bisa dibangun dan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 1942 (awal TA 1942-1943). Gedung-gedung baru tersebut akan dibangun di sisi Barat kampus TH, meliputi ruang gambar yang luas, beberapa ruang kuliah, sebuah perpustakaan kecil, dan sejumlah ruang kerja guru besar dan para asisten. Di masa depan juga akan dibangun laboratorium dan bengkel kerja.[147] Namun rencana tersebut tidak bisa terlaksana dengan adanya invasi Jepang pada bulan Desember 1941.

Hasil studi terakhir[sunting | sunting sumber]

empat belas insinyur sipil angkatan kesembilan belas diluluskan - di antaranya R. Abdul Kader, R. Aboeprajitno, dan R. Soemadyo

Pada TA ini untuk kesembilan belas kalinya TH Bandung meluluskan insinyur sipil, yaitu sebanyak 14 insinyur sipil dari 17 kandidat yang mengikuti ujian akhir. Satu kandidat tidak lulus dan dua kandidat dikenakan ujian ulangan.[148] Hingga bulan Desember 1941 TH Bandung sudah menghasilkan 223 insinyur.[note 22] Di antara insinyur muda tersebut adalah R. Abdul Kader, R. Aboeprajitno (kelak menjadi Direktur Djenderal Perusahaan Negara Kereta Api), dan R. Soemadyo (kelak menjadi salah satu pendiri, guru besar, dan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya 1968-1973).[148] Jumlah total insinyur pribumi yang diluluskan TH Bandung yang tercatat dalam artikel ini sebanyak 60 orang. Sementara pidato Prof. Posthumus tanggal 18 Oktober 1949 menyatakan jumlah lulusan sebesar 232 insinyur, terdiri dari 61 orang pribumi, 40 orang Tionghoa, dan 131 orang Eropa.[139]:I.97

Epilog[sunting | sunting sumber]

Inilah sejarah Technische Hoogeschool te Bandoeng selama 22 tahun, pendiriannya pada tahun 1920 dilatar-belakangi adanya perang (PD I - yang memutuskan jalur laut Hindia Belanda ke Belanda), namun harus ditutup pada tahun 1942 dengan latar belakang perang juga (PD II - pendudukan Jepang).

Wij sluiten nu. Vaarwel tot betere tijden....

Kami akhiri sekarang. Selamat tinggal, sampai waktu yang lebih baik...

Jumlah mahasiswa baru yang diterima pada tahun 1920 adalah 28 orang, tahun 1925 sebanyak 14 orang, dan tahun-tahun berikutnya berkisar antara 40-50 orang, kemudian meningkat pada tahun 1941 menjadi 117 orang, dan pada tahun 1942 menjadi 132 orang.[139]

Total populasi mahasiswa pada tahun 1940 berjumlah di atas 200 orang.[139] Jumlah total mahasiswa yang pernah mendaftar sejak tahun 1920-1942 sebesar 1.014 orang.[139] Jumlah total lulusan insinyur sipil yang dihasilkan sebesar 232 orang, terdiri dari 61 orang Indonesia (26,29%), 40 orang Tionghoa (17,24%), dan 131 orang Eropa (56,47%).[139]

Data jumlah mahasiswa baru dan lulusan 1920-1942[sunting | sunting sumber]

TA Mahasiswa baru Lulusan/TA Akumulasi lulusan
1920/1921 28
1921/1922 37
1922/1923 42
1923/1924 19 12 12
1924/1925 29 8 20
1925/1926 14 20 40
1926/1927 23 14 54
1927/1928 16 8 62
1928/1929 32 10 72
1929/1930 40 6 78
1930/1931 46 9 87
1931/1932 49 10 97
1932/1933 40 14 111
1933/1934 42 10 121
1934/1935 49 12 133
1935/1936 48 8 141
1936/1937 44 20 161
1937/1938 51 17 178
1938/1939 55 12 190
1939/1940[note 23] 60 12 202[note 24]
1940/1941 115 (+ 3 mahasiswa tingkat 2) 9 211
1941/1942 132 16 225
Jumlah 1.014[note 25] 225[note 25] rata-rata
11,7 per tahun

Kronologis bangunan gedung dan laboratorium[sunting | sunting sumber]

Hingga saat ditutupnya TH, telah berdiri sejumlah gedung dan laboratorium yang selain dibangun oleh KIHTONI dan pemerintah, juga dibangun oleh departemen atau kepemilikan institusi lain, yang bertujuan memudahkan kerja sama ilmiah dengan TH sebagai lembaga pendidikan tinggi. Gedung dan laboratorium sesuai urutan waktu pembangunan sebagai berikut:

  1. Dua gedung pembantu (hulpgebouwen) di utara Barakgebouw B (mulai digunakan pada bulan Juli 1920; gedung sisi selatan (4a) untuk gedung administrasi sementara, gedung sisi utara (4b) untuk gedung kuliah sementara - hingga Barakgebouw A dan B selesai; selanjutnya digunakan untuk kursus penera, praktikum geodesi, kursus guru gambar, hingga terakhir digunakan menjadi gedung perkuliahan dan studio FSRD ITB; sekitar tahun 1993 dirubuhkan dan dibangun kembali menjadi gedung FSRD yang baru)
  2. Barakgebouw B (selesai dibangun pada akhir bulan Desember 1920 - dibuka pada bulan Januari 1921 untuk Laboratorium voor materialenkennis en onderzoek van bouwstoffen - Laboratorium Pengetahuan Material dan Penelitian Bahan Bangunan milik BOW (Departemen PU) kemudian dialihkan ke Departemen Urusan Ekonomi - sekarang Aula Timur)
  3. Barakgebouw A (selesai dibangun pada akhir bulan Juni 1921 untuk ruang kuliah, ruang rektor, ruang rapat, ruang guru besar, perpustakaan, dan ruang baca merangkap aula tempat upacara - sekarang Aula Barat)
  4. Kantor Sekretaris TH di bagian barat gerbang utama (sekarang digunakan untuk kantor administrasi FTSL ITB)
  5. Kantor Pedel di bagian timur gerbang utama (sekarang digunakan untuk kantor administrasi FSRD ITB)
  6. Bosscha-Laboratorium Natuurkunde - Laboratorium Fisika (diresmikan pada tanggal 18 Maret 1922 - sekarang ditempati program studi Fisika)
  7. Gedung kuliah dan kamar guru besar di utara Barakgebouw A (selesai dibangun pada bulan September 1923 - sekarang dinamakan Ruang 3201 dan Ruang 3202 ditempati program studi Teknik Sipil ITB)
  8. Gedung untuk ruang gambar arsitektur/ilmu bangunan, ruang maket/modellenzaal di sebelah utara Gedung kuliah (selesai dibangun pada bulan September 1923 - sekarang ditempati program studi Teknik Sipil ITB)
  9. Laboratorium voor wegenbouw - Laboratorium Bangunan Jalan (dibuka pada tahun 1924 dan dikembangkan pada tahun 1930; milik Nederlandsch Indië Wegenvereeniging - NIWV; dilengkapi proefbaan - jalur uji/test track untuk konstruksi jalan - lokasi di sekitar area program studi Teknik Geodesi ITB)
  10. Laboratorium demonstrasi/simulasi hidrodinamika pada tahun 1927 sebagai cikal bakal Laboratorium Hidrodinamika (lokasi di sebelah utara Aula Barat, setelah dibongkar menjadi area parkir Teknik Sipil)
  11. Centraal Electrisch Laboratorium - Laboratorium Listrik Pusat dibuka pada bulan Oktober 1929; milik Departement van Verkeer, Energie en Mijnwezen afdeeling Waterkracht en Electriciteit (Departemen PU, Energi dan Pertambangan bagian PLTA dan Kelistrikan) - sebelum dibongkar hingga tahun 1993 ditempati program studi Teknik Informatika ITB)
  12. Laboratorium Mekanika, dilengkapi penyelidikan foto-elastis dimulai pada tahun 1929
  13. Laboratorium Mekanika Tanah pada tahun 1930
  14. Laboratorium Technische Hygiëne en Assaineering - Laboratorium Teknik Sanitasi (diresmikan pada tanggal 19 Maret 1935; milik Departemen Kesehatan - sekarang digunakan program studi Teknik Lingkungan).
  15. Waterloopkundig Laboratorium - Laboratorium Hidrolika untuk irigasi (diresmikan pada tanggal 5 Juni 1936, milik Departement van Verkeer en Waterstaat (Departemen PU) - lokasi di sebelah utara gedung ruang gambar, di sebelah selatan Bosscha-Laboratorium Natuurkunde, sekarang ditempati program studi Teknik Sipil)
  16. Gedung kuliah di sebelah utara Barakgebouw B/Aula Timur (mulai digunakan pada bulan Agustus 1940 - sampai sekarang masih digunakan sebagai ruang kuliah dan bioskop mahasiswa - Liga Film Mahasiswa ITB)
  17. Laboratorium Kimia Analitik, mulai digunakan sekitar tahun 1941, sejalan dengan dibukanya bagian Teknik Kimia
  18. Waterloopkundig Laboratorium - Laboratorium Hidrolika untuk penelitian maritim/pelabuhan dan sungai (mulai digunakan pada tahun 1941, milik Departement van Verkeer en Waterstaat (Departemen PU) - sekarang menjadi laboratorium program studi Teknik Kelautan di sisi Timur Kampus ITB).

Penerima Gelar Doktor dari TH 1920-1942[sunting | sunting sumber]

No. Tanggal Promovendus Judul Promotor Keterangan
1. 7 April 1925 Dr.(HC) J. W. Ijzerman Prof. Ir. Jan Klopper Doktor Honoris Causa[86]
2. 9 Oktober 1930 Dr. Ir. Nicolaas Hendrik van Harpen "De electrometrische bepaling van de waterstofionenconcentratie in de latex van Hevea brasiliensis en hare toepassing op technische vraagstukken"
(Penentuan elektrometri konsentrasi ion hidrogen dalam lateks Hevea brasiliensis, dan penggunaannya pada masalah teknis)
Prof. Ir. W. H. A. van Alphen de Veer Doktor Ilmu Teknik[91]
3. 30 Mei 1939 Dr. Ir. W. J. van Blommestein "Een nieuw pompsysteem in Nederlansch -Indië voor irrigatie en ontwatering"
(Sistem pompanisasi baru di Hindia Belanda untuk irigasi dan drainase)
Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh dan Prof. Ir. J. W. F. C. Proper Doktor Ilmu Teknik
4. 19 November 1940 Dr. Ir. J. A. Wiesebron "Psychometrisch onderzoek aangaande het behaaglijkheidsgevoel in Nederlandsch-Indië"
(Penelitian psikometri tentang tingkat kenyamanan di Hindia Belanda)
Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom dan Prof. Dr. Herman Robert Woltjer Doktor Ilmu Teknik[134]

Daftar Rector-magnificus / Voorzitter dan Sekretaris TH Bandung 1920-1942[sunting | sunting sumber]

No. Foto Nama Dari Sampai Keterangan
1. Prof. Ir. Jan Klopper Rector-magnificus: Prof. Ir. Jan Klopper
Sekretaris: Prof. Dr. Jacob Clay (3 Juli 1920-1 Juli 1922)
Sekretaris: Prof. Dr. Willem Boomstra (1 Juli 1922-1 Juli 1924)
Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos (1 Juli 1924-15 Juni 1925)
3 Juli 1920 15 Juni 1925 [note 26][149][150]
2. Prof. Dr. Jacob Clay Ketua: Prof. Dr. Jacob Clay
Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos (15 Juni 1925-3 Juli 1926)
Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik van Breen (3 Juli 1926-2 Juli 1927)
15 Juni 1925 2 Juli 1927 [151][152][75]
3. Ketua: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos (pengganti sementara)
Sekretaris: Prof. Ir. Hendrik van Breen
2 Juli 1927 30 Juni 1928 [75]
4. Prof. Dr. Jacob Clay Ketua: Prof. Dr. Jacob Clay
Sekretaris: Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker
30 Juni 1928 29 Juni 1929
5. Prof. Dr. Willem Boomstra Ketua: Prof. Dr. Willem Boomstra
Sekretaris: Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker (29 Juni 1929-28 Juni 1930)[88]
Sekretaris: Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh (28 Juni 1930-4 Juli 1931)[92]:A.338
29 Juni 1929 1 Juli 1933
6. Ketua: Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos
Sekretaris: Prof. Ir. Cornelis Gijsbert Jan Vreedenburgh
1 Juli 1933 16 Juni 1934 [108]
7. Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker Ketua: Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker
Sekretaris: Prof. Ir. Cornelis Gijsbert Jan Vreedenburgh
16 Juni 1934 2 Agustus 1935 [note 27][112]
8. Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh Ketua: Prof. Ir. Cornelis Gijsbert Jan Vreedenburgh
Sekretaris: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard
2 Agustus 1935 31 Juli 1936 [note 28]
9. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard Ketua: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard
Sekretaris: Prof. Dr. Herman Robert Woltjer (31 Juli 1936-1 Februari 1937)
Sekretaris: Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger (1 Februari 1937-14 Agustus 1937)
31 Juli 1936 14 Agustus 1937 [note 29][119]
10. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger Ketua: Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger
Sekretaris: Prof. Dr. Willem Boomstra
14 Agustus 1937 18 Juli 1938 [note 30]
11. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer Ketua: Prof. Dr. Herman Robert Woltjer
Sekretaris: Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper
18 Juli 1938 28 Juli 1939 [note 31]
12. Prof. Dr. Willem Boomstra Ketua: Prof. Dr. Willem Boomstra
Sekretaris: Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper
28 Juli 1939 1 Agustus 1940 [note 32]
13. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper Ketua: Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper
Sekretaris: Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard (1 Agustus 1940-7 Maret 1941);
Sekretaris: Prof. Dr. Herman Robert Woltjer (7 Maret-1 Agustus 1941)[39]:I.119
1 Agustus 1940 1 Agustus 1941 [note 33]
14. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger Ketua: Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger
Sekretaris: Prof. Ir. W. J. Th. Amons
1 Agustus 1941 8 Maret 1942 [note 34][note 35]

Daftar guru besar 1920-1942[sunting | sunting sumber]

No. Nama Bidang Waktu Keterangan
1. Prof. Ir. Jan Klopper Mekanika 16 September 1919-15 Juni 1925 GBT: 16 September 1919[3]:7
2. Prof. Dr. Jacob Clay Fisika 1 Januari 1920-4 September 1929 GBT: 1 Januari 1920[3]:7
3. Prof. Dr. Willem Boomstra Matematika 1 Maret 1920-1947 GBT: 1 Maret 1920[3]:11[153]
4. Prof. Ir. Richard Leonard Arnold Schoemaker Bangunan Januari 1921-Mei 1924 GBLB: 11 Oktober 1920; GBT: 29 April 1921[15]
5. Prof. Ir. Walther Henri Anton van Alphen de Veer Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan 1 Januari 1921-Januari 1935 GBLB: 1 Januari 1921[17][22]:I.51
6. Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos Hidrolika, Bangunan Air, Bangunan Jalan dan Jembatan Juni 1921-16 Juni 1934 GBT: Juni 1921[33][17][note 27]
7. Prof. Dr. Ir. Johan Herman Adolf Haarman Bangunan Jalan dan Jembatan 1 Juli 1921-1 Maret 1928 GBLB: 1 Juli 1921[34]
8. Prof. Ir. Gerardus Henricus Maria Vierling Teknik Mesin 1 Juli 1921-30 Juni 1929 GBLB: 1 Juli 1921[15][33][17]
9. Prof. Ir. Jelte Nicolaas van der Ley Teknik Elektro 1 Januari 1922-20 September 1934 GBLB: 1 Januari 1922[154][112]:I.88
10. Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota 1 Januari 1922-31 Desember 1940 GBLB: 1 Januari 1922; GBT: 1 September 1924[39]:I.119
11. Prof. Ir. Johan Hildebrand George Schepers Ilmu Ukur Tanah/Surveying, Perataan/Levelling dan Geodesi Maret 1922-3 April 1939 GBLB: 1 Juli 1921[15], baru efektif pada bulan Maret 1922[36]
12. Prof. Ir. Hendrik van Breen Bangunan Air November 1922-30 Juni 1931 GB: 11 Januari 1922[155]; efektif November 1922[49][99]
13. Mayor Jenderal (Purn) Prof. dr. Hendricus Marinus Neeb Teknik Higiene/Lingkungan 1 Juli 1922-30 Juni 1931 GBLB: 1922[50][98]
14. Prof. Mr. Adolf Henri Walkate Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang 1 Juli 1923-31 Mei 1924 GBLB: TA 1923/1924[47]
15. Prof. Ir. P. N. Max Bangunan Jalan dan Jembatan Oktober 1924-8 November 1930 GBLB: 18 Oktober 1924[66][95][97]
16. Prof. Mr. Dr. Harmen Westra Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang Oktober 1924-20 Mei 1931 GBLB: 18 Oktober 1924[66]
17. Prof. Ir. Albert Sybrandus Keverling Buisman Mekanika 1 Juli 1925-30 Juni 1926
1939-20 Februari 1944
GLBB: 1 Juli 1925[156][note 36]
18. Prof. Ir. Cornelis Gijsbert Jan Vreedenburgh Mekanika; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim; Teknologi Sanitasi 30 Juni 1926-26 Juli 1939 GB: 2 Juni 1926[71][126]:I.227
19. Prof. Dr. Johann Heinrich Adolf Logemann Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara 5 Juli 1926-31 Maret 1927 pengganti sementara
20. Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard Bangunan Jalan dan Jembatan; Bangunan Pelabuhan dan Pekerjaan Maritim 1 Juli 1928-September 1947 GB: 1 Juli 1928[79][note 37]
21. Prof. Ir. Cornelis Benjamin Biezeno Mekanika Terapan Mei 1929-Mei 1930 GB: Mei 1929[83][158]
22. Prof. Dr. Herman Robert Woltjer Fisika Juni 1929-1947 GBT: Juni 1929[3]:27[153]
23. Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger Bangunan Air 17 September 1931- GBT: 17 September 1931
24. Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom Higiene dan Teknologi Sanitasi 18 Desember 1931- GBLB: 18 Desember 1931
25. Prof. Mr. Dr. Martin August Gustav Harthoorn Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang 23 Maret 1932-11 Februari 1941 GBLB: 23 Maret 1932[39]:I.119
26. Prof. Ir. Johannes Wilhelmus Franciscus Cornelis Proper Bangunan Air 21 Desember 1934-1 Januari 1949 GBT: 21 Desember 1934[159][133]
27. Prof. Ir. Willem Jan Thomas Amons Pengetahuan Bahan Bangunan dan Kimia Analitik 1 April 1935- GBLB Pengetahuan Bahan Bangunan: 1 April 1935[112]:I.88; GB Kimia Analitik: 1 Agustus 1941
28. Prof. Mr. Nicolaas Selhorst Blom Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang 1 April-Juni 1941 GBLB: 1 April 1941[39]:I.119
29. Prof. Ir. P. H. Poldervaart Ilmu Ukur Tanah/Surveying, Perataan/Levelling dan Geodesi 23 Mei 1941- GBLB: 23 Mei 1941
30. Prof. Mr. Willem Frederik Prins Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Dagang 29 Juli 1941 GBLB: 29 Juli 1941
31. Prof. Ir. Wijnand Lemei Bangunan, Sejarah Arsitektur dan Seni Dekoratif, Spesifikasi dan Estimasi, dan Perencanaan Kota 28 Juni 1941- GB: 28 Juni 1941[39]:I.119
32. Prof. Dr. Kees Posthumus Kimia Anorganik dan Kimia Fisik 1 Agustus 1941- GBLB: 1 Agustus 1941
33. Prof. Ir. M. E. Akkersdijk Mineralogi 1 Agustus 1941- GBLB: 1 Agustus 1941
34. Prof. Dr. Johan Kornelis Baars Kimia Organik 1 Agustus 1941- GBLB: 1 Agustus 1941
35. Prof. Dr. Ir. Geert Otten Teknik Mesin 1941- GBLB: 1941
36. Prof. Ir. J. L. B. Gribling Teknik Mesin 1941- GB: 1941

Orasi Ilmiah pada Dies Natalis TH 1920-1942[sunting | sunting sumber]

Dies ke Hari, tanggal Pembicara Judul Keterangan
1 Sabtu, 2 Juli 1921 Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker "Constructie, doelmatigheid en schoonheid in de bouwkunde"
(Konstruksi, efisiensi, dan keindahan dalam bangunan)
Bangunan
2 Sabtu, 1 Juli 1922 Prof. Dr. Willem Boomstra "De betekenis der meetkundige axioma's"
(makna aksioma yang geometris)
Matematika
3 Sabtu, 30 Juni 1923 Prof. Dr. Ir. Johan Herman Adolf Haarman "De berekening van ijzeren bruggen en de richting, waarin die zich ontwikkelt"
(perhitungan dari jembatan besi, dan ke arah mana ia mengembang)
Bangunan Jalan dan Jembatan
4 Selasa, 1 Juli 1924 Pada Dies Natalis ke-4 tidak ada orasi ilmiah, sehubungan dengan wisuda insinyur untuk pertama kalinya, ada banyak pidato yang disampaikan lebih dari biasanya.
5 Sabtu, 4 Juli 1925 Prof. Ir. Walther Henri Anton van Alphen de Veer "De ontwikkeling van onze kennis van de bouwmaterialen"
(perkembangan pengetahuan dalam bahan bangunan)
Pengetahuan dan Penelitian Bahan Bangunan
6 Sabtu, 3 Juli 1926 Prof. Ir. Hendrik Christiaan Paulus de Vos "Bevloeiing, welvaart en cultuur"
(irigasi, kesejahteraan dan kebudayaan)
Bangunan Air
7 Sabtu, 2 Juli 1927 Prof. Ir. Jelte Nicolaas van der Ley "Electriciteits voorziening als factor in de menschelijke samenleving"
(penyediaan tenaga listrik sebagai salah satu faktor dalam kehidupan masyarakat)
Teknik Elektro
8 Sabtu, 30 Juni 1928 Prof. Ir. G. H. M. Vierling "Aandeel van de Nederlandsche technici in de ontwikkeling van stoommachine en motor voor scheepsbedrijf"
(peran para teknisi Belanda dalam pengembangan turbin uap dan mesin kapal)
Teknik Mesin
9 Sabtu, 29 Juni 1929 Prof. Mr. Dr. H. Westra "Her-oriënteering der rechtswetenschap"
(reorientasi ilmu hukum)
Administrasi Negara dan Hukum Dagang
10 Sabtu, 28 Juni 1930 Prof. Ir. Charles P. Wolff Schoemaker "De aesthetiek der architectuur en de kunst der modernen"
(estetika arsitektur dan seni dari gerakan modernisme)
Arsitektur
11 Sabtu, 4 Juli 1931 Prof. dr. H. M. Neeb "Hygiëne en gezondheidszorg in tropisch Nederland"
(kebersihan dan pelayanan kesehatan di kawasan tropis Belanda)
Higiene dan Teknik Sanitasi
12 Sabtu, 2 Juli 1932 Prof. Ir. J. H. G. Schepers "Problemen der hoogere geodesie"
(permasalahan higher geodesy - daerah yang lebih besar dari 50 x 50 km²)
Geodesi
13 Sabtu, 1 Juli 1933 Prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh "Grepen uit de ontwikkeling der mechanica"
(menangani pengembangan mekanika)
Mekanika
14 Jumat, 3 Agustus 1934 Prof. Ir. Paulus Pieter Bijlaard "De factoren, die het materiaalverbruik in constructies beinvloeden"
(faktor yang mempengaruhi pemakaian bahan dalam konstruksi)
Bangunan Jalan dan Jembatan
15 Jumat, 2 Agustus 1935 Prof. Dr. Herman Robert Woltjer "Variaties in de cosmische straling"
(berbagai macam radiasi kosmik)
Fisika
16 Jumat, 31 Juli 1936 Prof. Mr. Dr. M. A. G. Harthoorn "Sociaal economische ordening"
(perencanaan sosial-ekonomi)
Administrasi Negara dan Hukum Dagang
17 Sabtu, 14 Agustus 1937 Prof. Ir. Jan Jacob Iman Sprenger "Het Suez-kanaal: Eenige zijner ingenieursproblemen"
(Terusan Suez: Beberapa permasalahan rekayasa)
Bangunan Air
18 Jumat, 29 Juli 1938 Prof. Dr. Ir. Cornelis Pieter Mom "De bacteriën en de hygiëne"
(bakteri dan kebersihan)
Higiene dan Teknologi Sanitasi
19 Jumat, 28 Juli 1939 Prof. Ir. J. W. F. C. Proper "Water-, zand- en grindbewegingen bij watervangen"
(pergerakan air, pasir dan kerikil dalam saluran intake air)
Bangunan air
20 Kamis, 1 Agustus 1940 Pada Dies Natalis ke-20 tidak ada orasi ilmiah.
21 Jumat, 1 Agustus 1941 Prof. Ir. W. J. Th. Amons "Corrosieverschijnselen"
(gejala korosif)
Kimia Analitik dan Pengetahuan Bahan Bangunan

Galeri[sunting | sunting sumber]

Galeri tokoh[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sekarang Jl. Ganeća 10 Bandung.
  2. ^ a b c Mulai tanggal 1 Agustus 1935 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan aturan tentang penggunaan ejaan baru... di antaranya ejaan 'hoogeschool' menjadi 'hogeschool'. Namun tulisan "Technische Hoogeschool te Bandoeng" tidak berubah karena merupakan 'nama'/nomenklatur. Hal serupa juga pada 'hoogere burgerschool' - 'hogere burgerschool', 'algemeene' - 'algemene', dan seterusnya.[3]:51
  3. ^ "… En reeds in het volgende jaar, in Juli 1920, werd de Technische Hoogeschool (TH), Indië's eerste instelling voor Hooger Onderwijs, plechtig geopend." Terjemahan: "… Dan pada tahun berikutnya, pada bulan Juli 1920, Sekolah Tinggi Teknik yang merupakan institusi pendidikan tinggi pertama di Hindia Belanda diresmikan."[4]:26
  4. ^ Pada tanggal 3 Juli 1920 sekolah tinggi pertama di Hindia Belanda, yaitu Technische Hoogeschool (Sekolah Tinggi Teknik), yang dikenal dengan singkatan namanya THS didirikan di Bandung.[5]:6 Pada tanggal 28 Oktober 1924 Rechtshoogeschool (RHS atau Sekolah Tinggi Hukum) yang merupakan institusi pendidikan tinggi kedua dibuka di Jakarta, dan tiga tahun kemudian, pada tanggal 16 Agustus 1927 Geneeskundige Hoogeschool (GHS atau Sekolah Tinggi Kedokteran) yang merupakan institusi pendidikan tinggi ketiga dibuka di Jakarta.[5]:8
  5. ^ Pada masa kemerdekaan menjadi Sekolah Teknik Menengah (ijazah pertama dikeluarkan tahun 1951) yang merupakan Sekolah Teknik Negeri yang pertama di Indonesia. Tahun 1952 dipecah menjadi dua sekolah, yaitu STM Negeri I (Bagian Bangunan dan Kimia), STM Negeri II (Bagian Listrik dan Mesin). Pada dekade 70-an digunakan bersama oleh STM Negeri I (Bagian Bangunan dan Kimia), STM Negeri II (Bagian Listrik dan Mesin), STM Chusus Instruktur (Bagian Bangunan, Listrik, Diesel dan Mesin), STM Geologi Pertambangan, STM Metalurgi, STM Pertanian, STM Percobaan I dan STM Percobaan II. Pada tahun 1975 semua STM di kompleks Jetis digabungkan menjadi STM Yogyakarta I. Tanggal 11 April 1980 menjadi STM I Yogyakarta. Sejak 7 Maret 1997 menjadi SMK Negeri 2 Yogyakarta.[8]
  6. ^ Pada saat itu Belanda baru memiliki satu Technische Hoogeschool yaitu di Delft. Sejak tanggal 22 Mei 1905 Sekolah Tinggi Teknik tersebut ditingkatkan statusnya dari Polytechnische School menjadi Technische Hoogeschool yang berstatus setara universitas.
  7. ^ Johan Paul van Limburg Stirum adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1916-1921.
  8. ^ Goenarso menyatakan empat pohon tersebut ditanam oleh empat gadis berbagai bangsa. Pada waktu itu tentunya belum ada konsep Nusantara sehingga pengertian 'bangsa' pada waktu itu adalah 'suku bangsa' dalam pengertian sekarang.
  9. ^ Kemungkinan lain yang menjadi pertimbangan adalah penentuan kota Bandung sebagai lokasi kampus TH baru diputuskan beberapa waktu sebelumnya, sehingga gambar desain dan tata letak bangunan yang telah direncanakan Henri MacLaine Pont harus disesuaikan dengan lokasi ini. Sehingga belum dapat ditentukan di mana akan meletakkan "batu pertama".
  10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac Barakgebouw A sekarang menjadi Aula Barat ITB, Barakgebouw B sekarang menjadi Aula Timur ITB.
  11. ^ "Bouwkunde" ≈ teknik arsitektur/ilmu bangunan gedung; "Bouwkunst" ≈ arsitektur.
  12. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Sebagai perbandingan pada tahun 2011 rasio dosen : mahasiswa ITB adalah 1 : 16.4 (sumber: Fakta dan Angka.
  13. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Angka-angka tersebut diperoleh dari jumlah mahasiswa yang mengikuti ujian, jumlah pada saat awal kuliah biasanya lebih besar, namun kemudian berkurang dengan adanya sejumlah mahasiswa yang meninggalkan studinya (drop out)
  14. ^ Sementara Goenarso (1995:16) menyebutkan "pada permulaan tahun 1922 ada dua belas orang guru besar, yakni 5 orang guru besar biasa, 7 orang guru besar luar biasa".[3]:16
  15. ^ a b c Sekarang ditempati program studi Teknik Sipil ITB.
  16. ^ (Belanda) Prof. Ir. H. van Breen, diangkat 11 Januari 1922
  17. ^ a b c d e f g h i j k l m n Pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
  18. ^ a b Kemudian menjadi Dekan Fakultas Teknik UNPAR Bandung 1960-1979.[74]
  19. ^ a b c d e Pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan Republik Indonesia.
  20. ^ Referensi dari Harian "De Indische courant" menuliskan bahwa "Patuan Doli Diapari" adalah gelar, referensi lain yaitu Buku Alumni TH-ITB tidak mencantumkan gelar tersebut melainkan nama Mohammad Natal Siregar.
  21. ^ Pendidikan menengah setingkat HBS 5 tahunan (setara pendidikan SMP + SMA yang digabungkan). Setelah pengakuan kedaulatan RI menjadi SMA Kristen Dago Bandung.
  22. ^ Ada beberapa versi di antaranya pidato Prof. Posthumus tanggal 27 November 1948 jumlah lulusan sebesar 228 insinyur; pidato Prof. Posthumus tanggal 18 Oktober 1949 jumlah lulusan sebesar 232 insinyur; sementara Goenarso (1995) mencantumkan angka 222 insinyur. Perbedaan tersebut disebabkan karena tidak adanya data resmi yang biasanya disampaikan pada saat Dies Natalis, di mana pada tahun 1942 tidak pernah terlaksana karena TH sudah ditutup pada bulan Maret 1942. Dalam rentang Desember 1941-Maret 1942 mungkin ada lagi ujian-ujian akhir yang kemudian tidak terdata, sehingga menyebabkan perbedaan data jumlah lulusan tersebut. Dalam artikel ini sendiri, data nama lulusan Juni 1941 belum ada.
  23. ^ TA 1939/1940 dimulainya masa studi 5 tahun.
  24. ^ Data lulusan sampai TA 1939/1940 didapat dari Tabel Lulusan pada Pidato Dies Natalis ke-20.
  25. ^ a b Versi Pidato Prof. Posthumus tanggal 18 Oktober 1949 jumlah mahasiswa sebesar 1.014 orang, jumlah lulusan sebesar 232 insinyur.
  26. ^ Sebutan pada tahun 1920-1924 adalah "Rector Magnificus", sejak TH Bandung diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1924, sebutan "Rector Magnificus" diubah menjadi "Voorzitter" "... Sementara itu, Prof. Klopper sekarang berbicara sebagai Voorzitter der Faculteit van Technische Wetenschap (sebelumnya sebagai Rector Magnificus dan Voorzitter Faculteit Weg- en Waterbouwkunde)...".[3]:21
  27. ^ a b Ir. H. C. P. de Vos mengundurkan diri sebelum habis masa jabatannya (16 Juni 1934), sehingga pidato Ketua Fakultas pada acara Dies Natalis TH ke-14 pada tanggal 3 Agustus 1934 dibawakan oleh prof. C. P. Wolff Schoemaker sebagai Ketua Fakultas yang baru (yang biasanya dibacakan Ketua Fakultas yang akan mengakhiri masa jabatannya).[108]
  28. ^ Dalam pidato Ketua Fakultas (yang akan berakhir masa jabatannya) pada acara Dies Natalis TH ke-15 pada tanggal 2 Agustus 1935, prof. C. P. Wolff Schoemaker menyampaikan "Sekarang tibalah pada bagian akhir laporan ini, di mana tugas ketua fakultas saya serahkan kepada penerusku, kolega Vreedenburgh yang akan dibantu oleh kolega Bijlaard sebagai sekretaris."[112]
  29. ^ Dalam pidato Ketua Fakultas pada acara Dies Natalis TH ke-16 pada tanggal 31 Juli 1936, prof. Ir. C. G. J. Vreedenburgh menyampaikan "Pada tahun akademik 1936-1937 yang akan menjabat Ketua Fakultas adalah prof. Ir. P. P. Bijlaard, sementara prof. dr. H. R. Woltjer menjabat Sekretaris Fakultas."[115]
  30. ^ Dalam pidato Ketua Fakultas pada acara Dies Natalis TH ke-17 pada tanggal 14 Agustus 1937, prof. Ir. P. P. Bijlaard menyampaikan "Pada tahun akademik 1937-1938 yang akan menjabat Ketua Fakultas adalah Prof. Ir. J. J. I. Sprenger, sementara Prof. Dr. Willem Boomstra menjabat Sekretaris Fakultas."[119]
  31. ^ Dalam pidato Ketua Fakultas pada acara Dies Natalis TH ke-18 pada tanggal 29 Juli 1938, prof. dr. H. R. Woltjer menyampaikan "Pada tanggal 18 Juli 1938 yang lalu Ketua Fakultas Ir. J. J. I. Sprenger mengundurkan diri karena mengambil cuti di luar tanggungan negara, sehingga sejak itu Ketua Fakultas dijabat oleh saya (prof. dr. H. R. Woltjer), sementara ir. J. W. F. C. Proper menjabat Sekretaris Fakultas."[123]
  32. ^ Dalam pidato Ketua Fakultas (yang akan berakhir masa jabatannya) pada acara Dies Natalis TH ke-19 pada tanggal 28 Juli 1939, prof. dr. H. R. Woltjer menyampaikan "Pada tahun akademik 1939-1940 yang akan menjabat Ketua Fakultas adalah Dr. W. Boomstra, sementara ir. Proper, tetap menjabat Sekretaris Fakultas."[126]
  33. ^ Dalam pidato Ketua Fakultas (yang akan berakhir masa jabatannya) pada acara Dies Natalis TH ke-20 pada tanggal 1 Agustus 1940, prof. dr. W. Boomstra menyampaikan "Setelah dua tahun menjabat sebagai Sekretaris, mulai tahun ini (1940) ir. Proper diangkat sebagai Ketua Fakultas sedangkan ir. Bijlaard diangkat sebagai Sekretaris Fakultas yang baru..."[130]
  34. ^ Dalam pidato Ketua Fakultas (yang akan berakhir masa jabatannya) pada acara Dies Natalis TH ke-21 pada tanggal 1 Agustus 1941, prof. ir. J. W. F. C. Proper menyampaikan "...Sejak mulai hari ini, ir. J. J. I. Sprenger bertugas sebagai Ketua Fakultas, dan ir. W. J. Th. Amons bertugas sebagai Sekretaris Fakultas..."[39]
  35. ^ Tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati - TH Bandung ditutup.
  36. ^ Pada tanggal 20 Februari 1944 Prof. Ir. A. S. Keverling Buisman meninggal dunia di kamp interniran Bandung.[131]
  37. ^ "In 1936 and again in 1946 he served the University as Rector Magnificus"[157]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Sakri, A. (1979a). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979, Jilid 1: Selintas perkembangan ITB. Bandung: Penerbit ITB.
  2. ^ (Belanda) Telefoongids Bandoeng (Preanger) No.101, Januari 1936 - diperbarui tanggal 20 Desember 1935.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac Goenarso (1995). Riwayat perguruan tinggi teknik di Indonesia, periode 1920-1942. Bandung: Penerbit ITB.
  4. ^ a b (Belanda) Hoe het groide: Het onderwijs in Nederlandsch-Indië, Januari-Februari 1941.
  5. ^ a b c d e f Somadikarta, S. (1999). Tahun emas Universitas Indonesia, Jilid 1: Dari Balai ke Universitas. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
  6. ^ Douwes Dekker
  7. ^ a b Sejarah Arsitek Indonesia
  8. ^ Sejarah SMK Negeri 2 Yogyakarta di Jl. A.M. Sangaji 47 Yogyakarta.
  9. ^ a b Pendidikan dokter zaman Belanda.
  10. ^ (Belanda) "Verlenging van den studietijd" dalam Harian "De Sumatra post" edisi 23 Januari 1939, Tahun ke-41 No.19.
  11. ^ a b c d (Belanda) Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 8 Juli 1919, Tahun ke-24 No.156.
  12. ^ (Belanda) Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 5 September 1919, Tahun ke-24 No.206.
  13. ^ (Belanda) De Sumatra post, 7 Januari 1920, Tahun ke-22 No.5.
  14. ^ (Belanda) Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 2 Januari 1920, Tahun ke-25 No.1.
  15. ^ a b c d e f g h i j k (Belanda) "De Technische Hoogeschool te Bandoeng 1920-1921" dalam Majalah "De Ingenieur" edisi 3 September 1921, Tahun ke-36 No.36.
  16. ^ (Belanda) "De Ingenieur" edisi 18 September 1920, Tahun ke-35 No.38.
  17. ^ a b c d e f g h i j k l m n (Belanda) "De eerste verjaardag der Technische Hoogeschool te Bandoeng" dalam Majalah "Indië: Geillustreerd weekblad voor Nederland en Kolonien" edisi 31 Agustus 1921 Tahun ke-5 No.2.
  18. ^ a b (Belanda) "De Technische Hogeschool te Bandung en de eerste jaren van haar bestaan" dalam Majalah "De ingenieur in Indonesie" edisi Desember 1955, Tahun ke-7 No.4.
  19. ^ (Belanda) "Algemeen handelsblad", 11 September 1920, Tahun ke-93 No.29991.
  20. ^ Onggoboyo, A. N. & Rahmah, A. U. (2006). Pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng 1920. Bandung: (makalah tidak diterbitkan).
  21. ^ (Belanda) "De Sumatra post" edisi 14 Mei 1920, Tahun ke-22 No.112.
  22. ^ a b c d (Belanda) "De Ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi Mei 1937, Tahun ke-4 No. 5.
  23. ^ (Belanda) "Bandoengsche studenten-feesten" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 21 Oktober 1940, Tahun ke-88 No.248.
  24. ^ a b c d e f g h i j k l (Inggris) Value of the Guilder.
  25. ^ a b c d e f g h i j k l (Inggris) Currency Converter.
  26. ^ (Belanda) "Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad", edisi 7 Oktober 1921.
  27. ^ a b c d e f g (Belanda) Pidato Dies Natalis ke-8 TH Bandung.
  28. ^ (Belanda) Dullemen, C. J. van (2008). Op zoek naar de tropenstijl: Leven en werk van prof. ir. C. P. Wolff Schoemaker, Indisch architect.
  29. ^ (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 25 Januari 1922, Tahun ke-27 No.21.
  30. ^ (Belanda) Het Bandoengsche Studenten-corps dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 29 Agustus 1921, Tahun ke-26 No.199.
  31. ^ (Belanda) Nieuwe cursus dalam Harian "De Indische courant" edisi 3 Januari 1922, Tahun ke-1 No.93.
  32. ^ (Belanda) "De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad77", edisi 17 Maret 1922, Tahun ke-77 No.22810.
  33. ^ a b c d (Belanda) Hoogleraren dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 14 Juni 1921, Tahun ke-26 No.134.
  34. ^ a b (Belanda) "Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad", edisi 7 Maret 1921.
  35. ^ (Belanda) Technische Hoogeschool dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 30 Juni 1921, Tahun ke-37 No.175.
  36. ^ a b (Belanda) Passagierslijst dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 1 Maret 1922, Tahun ke-27 No.50.
  37. ^ (Belanda) "De Indische courant" edisi 5 Januari 1922, Tahun ke-1 No.95.
  38. ^ (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 29 September 1922, Tahun ke-26 No.225.
  39. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1941, Tahun ke-8 No.9.
  40. ^ (Belanda) "Opening van het natuurkundig laboratorium der Technische Hoogeschool te Bandoeng" dalam Majalah "Indië: Geillustreerd weekblad voor Nederland en Kolonien" edisi 31 Mei 1922 Tahun ke-6 No.9.
  41. ^ (Belanda) "Algemeen Handelsblad", edisi 4 November 1921.
  42. ^ (Belanda) "Bandoengsche causerie", dalam Harian De Sumatra post, edisi 20 Juli 1922, Tahun ke-24 No.166.
  43. ^ a b c d e f g (Belanda) "Nieuwe Rotterdamsche Courant", edisi 13 Juni 1922.
  44. ^ a b c (Belanda) "De Sumatra post" edisi 6 Juli 1923, Tahun ke-25 No.154.
  45. ^ (Belanda) "De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad", 30 September 1922, Tahun ke-78 No.22975.
  46. ^ (Belanda) Een studentenblad dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 7 Agustus 1922, Tahun ke-38 No.205.
  47. ^ a b c (Belanda) "Nieuwe Rotterdamsche Courant", edisi 18 oktober 1923.
  48. ^ a b c (Belanda) "De Indische courant" edisi 30 Juni 1923, Tahun ke-2 No.236.
  49. ^ a b (Belanda) "De Indische courant" edisi 23 Oktober 1922, Tahun ke-2 No.32.
  50. ^ a b (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 23 Juni 1922, Tahun ke-27 No.142.
  51. ^ (Belanda) Brugmans, H. (ed). (1923). Officieel gedenkboek ter gelegenheid van het vijf en twintig jarig regeeringsjubileum van Hare Mejesteit Koningin Wilhelmina Helena Pauline Maria. Amsterdam: Van Holkema & Warendorf.
  52. ^ Fakta dan Angka tentang ITB
  53. ^ a b (Belanda) "De Indische courant", edisi 7 Mei 1923, Tahun ke-2 No.192.
  54. ^ (Belanda) "De Ingenieur" edisi 17 November 1923, Tahun ke-38 No.46.
  55. ^ (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 19 Oktober 1924, Tahun ke-29 No.255.
  56. ^ (Belanda) Prof. R. L. A. Schoemaker.
  57. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "De Sumatra post" edisi 2 Juli 1924, Tahun ke-26 No.152.
  58. ^ a b c d e f g Sakri, A. (1979b). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan lustrum keempat 2 Maret 1979, Jilid 2: Daftar lulusan ITB. Bandung: Penerbit ITB.
  59. ^ (Belanda) "De Indische courant", edisi 3 Juli 1924, Tahun ke-3 No.240.
  60. ^ a b (Belanda) "Het eerste Lustrum der Technische Hoogeschool" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 9 Juli 1925, Tahun ke-41 No.215.
  61. ^ (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 2 Agustus 1930, Tahun ke-35 No.176.
  62. ^ (Belanda) BTH-fonds, 24 November 1928.
  63. ^ (Belanda) "Hooger Onderwijs Indië".
  64. ^ ITB 2011.
  65. ^ (Belanda) Mr. Dr. Westra - Juli 1924.
  66. ^ a b c (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 23 Oktober 1924, Tahun ke-29 No.259.
  67. ^ (Belanda) "Eerste lustrum" dalam Harian "De Indische courant" edisi 6 Juli 1925, Tahun ke-4 No.242.
  68. ^ (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 4 April 1925, Tahun ke-30 No.91.
  69. ^ a b c (Belanda) "Nieuwe Rotterdamsche Courant", edisi 9 Juni 1925.
  70. ^ a b c d e f g h i (Belanda) "Dies Technische Hoogeschool" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 5 Juli 1926, Tahun ke-31 No.156.
  71. ^ a b (Belanda) "Hoogleraar te Bandoeng" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 14 Mei 1926, Tahun ke-31 No.113.
  72. ^ Resmikan Patung Soekarno, Megawati Akan Disambut Konvoi.
  73. ^ a b c d e (Belanda) "Examens Technische Hoogeschool" dalam Harian "De Indische courant" edisi 7 Mei 1926, Tahun ke-5 No.193.
  74. ^ History Faculty of Engineering UNPAR.
  75. ^ a b c d e f g h i (Belanda) "Dies Technische Hoogeschool Bandoeng" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 4 Juli 1927, Tahun ke-32 No.151.
  76. ^ a b c (Belanda) "Examens Technische Hoogeschool" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 5 Mei 1927, Tahun ke-32 No.102.
  77. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "Algemeen handelsblad" edisi 9 Juni 1927, Tahun ke-100 No.32426.
  78. ^ a b c d e (Belanda) "Examens Technische Hoogeschool" dalam Harian "Nieuwe Rotterdamsche courant" edisi 2 Juni 1928.
  79. ^ a b (Belanda) "Hoogleraar THS" dalam Harian "Algemeen handelsblad" edisi 20 Juni 1928, Tahun ke-101 No.32800.
  80. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "Nieuwe Rotterdamsche courant" edisi 5 Agustus 1928.
  81. ^ a b c (Belanda) "Hooger onderwijs" dalam Laporan "Indisch verslag 1932"
  82. ^ (Belanda) "Nieuwe Rotterdamsche courant" edisi 7 Februari 1929.
  83. ^ a b c (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad" edisi 17 Januari 1929.
  84. ^ a b (Belanda) "Jaardag Technische Hoogeschool" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 29 Juni 1929, Tahun ke-34 No.146.
  85. ^ a b c d (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 6 Mei 1929, Tahun ke-34 No.101.
  86. ^ a b c d e f (Belanda) "De Technische Hoogeschool" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 2 Agustus 1930, Tahun ke-35 No.176.
  87. ^ a b (Belanda) "De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad", edisi 8 Agustus 1930, Tahun ke-85 No.25569.
  88. ^ a b (Belanda) Ambtenaren en Personeel van de Technische Hoogeschool te Bandoeng (1930)
  89. ^ (Belanda) "Personalia" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 27 Februari 1929, Tahun ke-45 No.73.
  90. ^ a b c (Belanda) "Onderwijs. De TH te Bandoeng" dalam Harian "De Indische courant" edisi 8 Mei 1930, Tahun ke-9 No.194
  91. ^ a b (Belanda) "De Eerste Doctors-Promotie" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 7 Oktober 1930, Tahun ke-45 No.255.
  92. ^ a b (Belanda) "De Ingenieur" edisi 4 September 1931, Tahun ke-46 No.36.
  93. ^ (Belanda) "Tot buitengewoon lector benoemd" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 25 Juni 1930, Tahun ke-45 No.167.
  94. ^ (Belanda) "OFF. BERICHTEN. CIVIEL DEPARTEMENT" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 4 Juli 1930, Tahun ke-45 No.175.
  95. ^ a b (Belanda) "Personalia" dalam Harian "Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad" edisi 23 Sepember 1930.
  96. ^ (Belanda) "Passagierslijst" dalam Harian "De Indische courant" edisi 11 November 1930, Tahun ke-10 No.50.
  97. ^ a b (Belanda) "Benoemingen" dalam Harian "De Sumatra post" edisi 15 Januari 1932, Tahun ke-34 No.12.
  98. ^ a b c (Belanda) "Universitaria" dalam Harian "De Sumatra post" edisi 23 April 1931, Tahun ke-33 No.94.
  99. ^ a b (Belanda) Off. berichten. civiel departement dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 22 April 1931, Tahun ke-46 No.116.
  100. ^ a b c (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "De Indische courant" edisi 8 Mei 1931, Tahun ke-10 No.193.
  101. ^ a b c (Belanda) "Studie-Resultaten te Bandoeng" dalam Harian "De Sumatra post" edisi 15 Juli 1932, Tahun ke-34 No.161.
  102. ^ (Belanda) "Uit een rede van prof. dr. ir. Mom. Bij zijn ambtsaanvaarding te Bandoeng" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 21 Desember 1931, Tahun ke-47 No.18.
  103. ^ (Belanda) "De Ingenieur" edisi 5 Agustus 1932, Tahun ke-47 No.32.
  104. ^ a b (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "De Indische courant" edisi 6 Mei 1932, Tahun ke-11 No.193.
  105. ^ a b (Belanda) "Nieuwe ingenieurs" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 9 Mei 1933, Tahun ke-81 No.104.
  106. ^ a b c (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 4 Juli 1933, Tahun ke-81 No.150.
  107. ^ (Belanda) "Onderwijs: Voorzitter der faculteit" dalam Harian "De Indische courant" edisi 8 Mei 1933, Tahun ke-12 No.193.
  108. ^ a b c d e f g h i (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi Agustus 1934, Tahun ke-1 No.8.
  109. ^ (Belanda) "Aanmelding voor T.H." dalam Harian "De Indische courant" edisi 13 Agustus 1934, Tahun ke-13 No.274.
  110. ^ (Belanda) "Hooger onderwijs" dalam Laporan "Indisch verslag 1934" No.1, 1 Januari 1934.
  111. ^ a b (Belanda) "Kerk en School Technische Hoogeschool" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 14 Mei 1934, Tahun ke-39 No.107.
  112. ^ a b c d e f g h i (Belanda) "De Ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1935, Tahun ke-2 No. 9.
  113. ^ a b c (Belanda) "Technische Hoogeschool. Nieuwe ingenieurs" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 21 Agustus 1935, Tahun ke-40 No.192.
  114. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "De Indische courant" edisi 11 Juni 1935, Tahun ke-14 No.223.
  115. ^ a b c d e f g (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1936, Tahun ke-3 No.9.
  116. ^ (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi Juli 1936, Tahun ke-3 No.7.
  117. ^ a b (Belanda) "Technische Hoogeschool. Examen-uitslagen" dalam Harian "De Indische courant" edisi 11 Juni 1936, Tahun ke-15 No.223.
  118. ^ (Belanda) "Hooger onderwijs" dalam Laporan "Indisch verslag 1937" No.1, 1 Januari 1937.
  119. ^ a b c d e f g h (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1937, Tahun ke-4 No.9.
  120. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool. Examen-uitslagen" dalam Harian "De Indische courant" edisi 22 Desember 1936, Tahun ke-16 No.84.
  121. ^ (Belanda) " Examens Technische Hoogeschool" dalam Harian "De Indische courant" edisi 7 Juni 1937, Tahun ke-16 No.219.
  122. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool. Examen-uitslagen" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 8 Juni 1937, Tahun ke-85 No.129.
  123. ^ a b c d e f g h (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1938, Tahun ke-5 No.9.
  124. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool. Het ingenieurs-examen" dalam Harian "De Indische courant" edisi 23 Desember 1937, Tahun ke-17 No.85.
  125. ^ a b (Belanda) "Technische Hoogeschool. De examen-uitslagen" dalam Harian "De Indische courant" edisi 7 Juni 1938, Tahun ke-17 No.219.
  126. ^ a b c d e f g h i (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1939, Tahun ke-6 No.9.
  127. ^ (Belanda) "Promotie aan Technische Hoogeschool. Van ir. W.J. Blommestein" dalam Harian "De Indische courant" edisi 23 Mei 1939, Tahun ke-18 No.209.
  128. ^ (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 21Desember 1938, Tahun ke-54 No.18.
  129. ^ a b (Belanda) "Technische Hoogeschool. Examen-uitslagen" dalam Harian "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 5 Juni 1939, Tahun ke-44 No.117.
  130. ^ a b c d e f g h i j k l (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi September 1940, Tahun ke-7 No.9.
  131. ^ a b (Belanda) Prof. Ir. A.S. Keverling Buisman.
  132. ^ a b (Belanda) "Examenuitslagen Technische Hoogeschool" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 5 Juni 1940, Tahun ke-55 No.161.
  133. ^ a b (Belanda) "De ingenieur in Indonesie" edisi Desember 1948, Tahun ke-1 No.2.
  134. ^ a b (Belanda) "Plechtigheid in Technische Hoogeschool Promotie van dr. ir. J.A. Wiesebron" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 22 November 1940, Tahun ke-88 No.275.
  135. ^ (Belanda) "Personalia" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 17 September 1940, Tahun ke-88 No.219.
  136. ^ (Belanda) "Personalia" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 1 Agustus 1941, Tahun ke-89 No.178.
  137. ^ Sejarah dan Perkembangan Fakultas Teknik Undip.
  138. ^ a b (Belanda) "Dies Technische Hoogeschool" dalam Harian "De Indische courant" edisi 2 Agustus 1941, Tahun ke-20 No.268.
  139. ^ a b c d e f g (Belanda) "Pidato peringatan penyerahan TH Bandung kepada pemerintah tahun 1924" oleh Ketua Fakultas Teknik Prof. Dr. K. Posthumus pada tanggal 18 Oktober 1949 dalam Majalah "De ingenieur in Indonesie" edisi Desember 1949, Tahun ke-1 No.7.
  140. ^ (Belanda) "Excursie van Bandoengsche studenten" dalam Harian "De Indische courant" edisi 7 Oktober 1941, Tahun ke-21 No.20.
  141. ^ (Belanda) "De laboratoria der Technische Hoogeschool te Bandoeng" dalam Majalah "Natuurwetenschappelijk tijdschrift voor Nederlandsch Indië / Koninklijke natuurkundige vereeniging in Nederlandsch Indië" Volume 102, No.4, 1 Juli 1946.
  142. ^ (Belanda) Nortier, J. J. (1987). "De afdeling Operatiën van het Algemeen Hoofdkwartier KNIL in 1941/42".
  143. ^ (Belanda) "Personalia" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 24 September 1941, Tahun ke-89 No.223.
  144. ^ (Belanda) "Personalia" dalam Harian "Bataviaasch nieuwsblad" edisi 20 November 1941, Tahun ke-56 No.302.
  145. ^ (Belanda) "De ingenieur in Nederlandsch-Indië" edisi Oktober 1941, Tahun ke-8 No.10.
  146. ^ (Belanda) "Mutaties" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 25 November 1941, Tahun ke-89 No.275.
  147. ^ (Belanda) "Nieuwe gebouwen bij de T.H. Voor scheikundige en werktuigkundige afdeeling" dalam Harian "De Indische courant" edisi 8 Oktober 1941, Tahun ke-21 No.21.
  148. ^ a b (Belanda) "Technische Hoogeschool" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 22 Desember 1941, Tahun ke-89 No.298.
  149. ^ (Belanda) Prof. Ir. Jan Klopper - www.iisg.nl
  150. ^ Prof. Ir. Jan Klopper
  151. ^ (Belanda) Jacob Claij (1882-1955)
  152. ^ Prof. Dr. Jacob Clay/Claij (1882-1955)
  153. ^ a b (Belanda) "Personalia" dalam Harian "Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia" edisi 2 Desember 1947, Tahun ke-3 No.51.
  154. ^ (Belanda) "De Indische courant" edisi 5 Januari 1922, Tahun ke-1 No.95.
  155. ^ (Belanda) "De Sumatrapost" edisi 14 Januari 1922, Tahun ke-24 No.12.
  156. ^ (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië", edisi 20 Juni 1925.
  157. ^ (Inggris) Cornell–Paulus Pieter Bijlaard.
  158. ^ (Belanda) "Scheepvaart" dalam Harian "Soerabaijasch handelsblad" edisi 28 Mei 1930.
  159. ^ (Belanda) "Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië" edisi 19 Desember 1934, Tahun ke-39 No.292.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Technische Hoogeschool te Bandoeng
1920–1942
Diteruskan oleh:
Bandung Kogyo Daigaku

1944-1945