Universitas Padjadjaran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Universitas Padjadjaran
Didirikan 11 September 1957
Jenis Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum
Rektor Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr.
Staf akademik 1.790 (2013)[1]
Jumlah mahasiswa 29.269 (2013)[1]
Sarjana 3.937 (2013)[1]
Magister 4.370 (2013)[1]
Doktor 1.887 (2013)[1]
Lokasi Bandung, Jawa Barat
Warna Biru Tua
Julukan Jaket Biru Dongker
Afiliasi ASAIHL, - SEAMEO - AUN - AUAP
Situs web http://www.unpad.ac.id

Universitas Padjadjaran (disingkat Unpad) adalah sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Universitas Padjadjaran memiliki dua kampus utama, yaitu Kampus Iwa Koesoemasoemantri di Dipati Ukur, Bandung dan Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Selain dua kampus tersebut, terdapat pula beberapa kampus yang tersebar di beberapa lokasi di area Kota Bandung antara lain Sekeloa, Singaperbangsa, Dago 4, Simpang Dago, Dago Atas, Dago Pojok, Banda, Cimadiri, Cisangkuy, Eikman, Pasirkaliki, Teuku Umar, dan beberapa tempat lainnya yang dimanfaatkan oleh beberapa unit di Unpad.

Pada 20 Oktober 2014, Universitas ini berubah status menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) dari Badan Layanan Umum (BLU). Peresmian itu ditandai dengan peraturan pemerintah (PP) yang ditandatangani mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penetapan itu didasarkan atas evaluasi kinerja yang dilakukan tim independen yang dibentuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemendikbud)[2].

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pemilihan nama "Padjadjaran" yang digunakan diambil dari nama kerajaan Sunda, yaitu Kerajaan Padjadjaran, yang dipimpin oleh Raja Prabu Siliwangi atau Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Pakuan Padjadjaran (1473-1513 M). Nama ini adalah nama yang paling terkenal dan dikenang oleh rakyat Jawa Barat, karena kemashuran sosoknya di antara raja-raja yang ada di tatar Sunda pada masa itu. Universitas Padjadjaran didirikan atas prakarsa para pemuka masyarakat Jawa Barat yang menginginkan adanya perguruan tinggi tempat pemuda-pemudi Jawa Barat memperoleh pendidikan tinggi untuk mempersiapkan pemimpin di masa depan.

Setelah melalui serangkaian proses, pada tanggal 11 September 1957 Universitas Padjadjaran secara resmi didirikan melalui Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1957, dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 24 September 1957.

Pada awal berdirinya, Unpad memiliki 4 fakultas, saat ini telah berkembang menjadi 16 fakultas dan program pascasarjana. Program yang ditawarkan Unpad meliputi program doktor (S-3) terdiri dari 9 program studi, program magister (S-2) terdiri dari 19 program studi, 2 program spesialis, 5 program profesi, dan program sarjana (S-1) terdiri dari 44 program studi, program diploma III (D-3) terdiri atas 32 program studi dan program diploma IV (D-4) terdiri atas 1 program studi. Unpad juga memiliki Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) sebagai wadah untuk mengelola kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Lahirnya Universitas Padjadjaran merupakan puncak dari gerakan pencerdasan kehidupan masyarakat Jawa Barat yang sudah dirintis oleh beberapa tokoh, antara lain Raden Dewi Sartika, Siti Jenab, Ayu Lasminingsih, K.H. Abdul Halim, dan K.H. Hasan Mustofa.

Hasrat mencerdaskan kehidupan bangsa ini semakin kuat ketika kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Tokoh-tokoh masyarakat Jawa Barat berkeinginan keras agar generasi muda Jawa Barat dapat meningkatkan pendidikannya sampai jenjang perguruan tinggi. Keberadaan Institut Teknologi Bandung (ITB) kala itu dianggap kurang memadai. Selain karena pendidikan khusus di bidang teknik, juga dianggap tidak terlalu mendukung pendidikan Jawa Barat dan Bandung, karena ITB sudah merupakan perguruan tinggi nasional.

Masyarakat Jawa Barat ingin memiliki sebuah universitas negeri yang menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai bidang ilmu. Akan tetapi, karena situasi politik dan keamanan yang tidak kondusif karena berkecamuknya Perang Kemerdekaan (1945-1949), perwujudan ke arah cita-cita itu terhambat. Pada tahun 1950-an tekad para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk memiliki sebuah universitas negeri di Bandung semakin mengarah pada kenyataan, terutama setelah dipilihnya Kota Bandung sebagai tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tanggal 18-24 April 1955.

Pada tanggal 4-7 Nopember 1956 dengan sepengetahuan penguasa dan pemerintahan setempat di masa itu, pernah diadakan Kongres Pemuda Sunda di Bandung dan dihadiri oleh para utusan dari semua daerah Jawa Barat, termasuk Jakarta, dan juga dari Yogyakarta. Kongres ini bertujuan untuk mencari jalan konkret dan positif dalam turut serta menyelesaikan berbagai masalah yang pada saat itu berkecamuk di Tanah Sunda, termasuk gangguan keamanan yang dilakukan oleh gerombolan Kartosuwiryo, kehidupan sosial ekonomi yang dirasakan sangat sulit, dan kehidupan kebudayaan yang tertekan.

Melalui Surat Keputusan Nomor 91445/.CIII tanggal 20 September 1957, Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan mengubah status dan fungsi Badan Pekerja Panitia Negara Pembentukan Universitas Negeri di Bandung menjadi Presidium Universitas Padjadjaran. Presidium ini dilantik oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 24 September 1957 di Gubernuran Bandung, yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, para presiden universitas negeri seluruh Indonesia, para pembesar sipil dan militer, para guru besar dan dosen.

Pada awal berdirinya Universitas Padjadjaran hanya memiliki 4 (empat) fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dua fakultas yang disebut pertama berasal dari Yayasan Universiitas Merdeka di Bandung; sementara fakultas yang disebut terakhir merupakan penjelmaan dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Bandung. Keempat fakultas ini secara resmi pembentukannya didasarkann pada peraturan Pemerintah RI Nomor 37 Tahun 1957 tertanggal 24 September 1957.

Di masa-masa perjuangan dan perintisan pendiriannya, Universitas Padjadjaran dipimpin oleh sebuah presidium yang diangkat oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Pelantikan presidium ini dilakukan pada hari Selasa tanggal 24 September 1957, bertempat di Gubernuran Jawa Barat, Jalan Otto Iskandar Dinata No. 1 Bandung. Presidium ini terdiri dari tokoh-tokoh kalangan pemerintah daerah dan masyarakat Jawa Barat.

Kepemipinan Universitas Padjadjaran oleh Presidium hanya berlangsung satu setengah bulan. Selanjutnya pada tanggal 6 November 1957 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 154/M tanggal 1 Oktober 1957 pimpinan Universitas Padjadjaran diserahterimakan dari Presidium kepada Prof.Mr.Iwa Kusuma Sumantri yang diangkat menjadi Presiden Universitas Padjadjaran.

Untuk mambantu kelancaran tugas pimpinan universitas, pada tanggal 20 Februari 1958 dibentuk Yayasan Pembina Universitas Padjadjaran dengan ketua Prof.Mr.Iwa Kusuma Sumantri yang dibantu oleh beberapa orang pejabat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat Jawa Barat. Pembentukan yayasan ini pun dimaksudkan untuk memberikan dukungan serta bantuan moral dan material bagi pembina Universitas Padjadjaran dan penghubung antara universitas masyarakat.

Pada tanggal 30 Agustus 1958, pemerintah juga melantik Dewan Kurator Universitas Padjadjaran dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Nomor 8295/S, tanggal 22 Agustus 1958. Dewan ini bertugas membantu pemerintah dalam pemeliharaan dan pembinaan Universitas Padjadjaran. Pada 18 September 1960, dibuka Fakultas Pendidikan Jasmani (FPJ) sebagai perubahan dari Akademi Pendidikan Jasmani. Pada tahun 1963-1964, FPJ dan FKIP melepaskan diri dari Unpad dan masing-masing menjadi Sekolah Tinggi Olah Raga dan Institut Keguruan & Ilmu Pendidikan (IKIP, sekarang Universitas Pendidikan Indonesia).

Tahun 1961, Prof.Mr.Iwa Kusumasumantri diangkat menjadi Menteri PTIP. Oleh karena iitu, Presiden Universitas Padjadjaran untuk sementara waktu dijabat oleh Prof. drg. R. G. Soeria Soemantri, M.P.A., F.A.C.D., M.R.S.H. (September 1961 s.d. Juni 1962) dengan Drs. Muchtar Affandi sebagai sekretaris. Selanjutnya Prof. drg. R. G. Soeria Soemantri dikukuhkan sebagai Presiden Universitas Padjadjaran untuk periode 1962-1964. Pengukuhan ini diikuti juga dengan perubahan struktur organisasi Universitas Padjadjaran, yaitu jabatan Sekretaris I dan II diubah menjadi Kuasa Presiden I, II dan III.

Sejak tahun 1963, keorganisasian di Universitas Padjadjaran mengalami perubahan lagi, yaitu sebutan Presiden Universitas Padjadjaran menjadi Rektor Universitas Padjadjaran, dan Kuasa Presiden menjadi Pembantu Rektor.

Sejalan dengan perkembangan pendidikan/ilmu pengetahuan maka pada tanggal 22 September 1973, Rektor/Ketua Senat Guru Besar dengan Surat Keputusan Nomor 30/Kep/Universitas Padjadjaran. Kebijakan ini disusul oleh Surat Keputusan Rektor Nomor 75/Kep/Universitas Padjadjaran/73 tentang Struktur, Organisasi, Wewenang dan Tatakerja dalam Lingkungan Universitas Padjadjaran.

Pada perkembangan selanjutnya struktur, organisasi, wewenang dan tatakerja dalam lingkungan Universitas Padjadjaran mengalami berbagai perubahan yang menyesuaikan dengan tuntutan dan situasi kekinian dunia pendidikan.

Rektor[sunting | sunting sumber]

Lagu[sunting | sunting sumber]

Lagu wajib mahasiswa Universitas Padjadjaran adalah Himne UNPAD dan Almamater, yang diciptakan oleh Alumnus UNPAD, Iwan Abdurrahman. Dalam lagu Himne Universitas Padjadjaran ini, bait-baitnya menggambarkan rasa cinta dan harapan insan-insan di dalamnya. Penggambaran yang jujur apa adanya tentang sebuah pengabdian, cinta dan harapan. Hal ini tercermin dari liriknya yang lugas, sederhana, dengan kombinasi nada yang mudah difahami. Sedangkan Almamater, lagu ini menggambarkan rasa cinta sivitas akademika kepada Universitas Padjadjaran. Liriknya ‘Jangankan keringatku, darahku pun kurelakan. Guna baktiku padamu, Almamater…’, mengingatkan bagaimana sivitas akademika UNPAD tetap cinta dan rela berkorban demi almamater. [3]

Mesjid Raya Universitas Padjadjaran, berada di Kampus Jatinangor

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Pemondokan[sunting | sunting sumber]

UNPAD mempunyai Pemondokan beragam, terdiri dari Asrama Padjadjaran I, Asrama Padjadjaran II, Asrama Padjadjaran III dan Asrama Pedca. Semua asrama ini diperuntukan untuk mahasiswa, baik untuk mahasiswa Bidik Misi (Asrama I dan II) mau pun mahasiswa asing (Asrama III). Sedangkan mahasiswa yang mengambil Pendidikan Dokter, disediakan Bale Padjadjaran untuk menunjang pemondokan di kampus.[4]

Ruang Pertemuan[sunting | sunting sumber]

Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran

Salah satu gedung pertemuan yang sering digunakan adalah Graha Sanusi Hadjadinata. Gedung ini mempunyai kapasitas 1000 orang dan sering digunakan untuk berbagai kegiatan seperti seminar, rapat, dan wisuda. Selain untuk para civitas akademika UNPAD, gedung ini juga disewakan untuk umum dan kegiatan resepsi. [5].

Selain gedung pertemuan, terdapat juga tiga Balai yang digunakan untuk kegiatan penunjang kampus seperti seminar, rapat atau pun digunakan dalam acara kegiatan kemahasiswaan.


Perpustakaan[sunting | sunting sumber]

Sebagai fasilitas penunjang pendidikan, Unpad mempunyai perpustakaan pusat yang berada di UNPAD Dipatiukur, Bandung. Perpustakaan ini dibawah koordinasi UPT Perpustakaan.

Dalam operasionalnya, perpustakaan ini menjalankan fungsinya sebagai sarana belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi senantiasa memberikan pelayanan yang baik kepada sivitas akademika Unpad khususnya, dan masyarakat pengguna lainnya. Sehingga perpustakaan terbuka untuk umum.

Fakultas[sunting | sunting sumber]

Prangko peringatan 50 tahun Universitas Padjadjaran
Prangko peringatan 50 tahun Universitas Padjadjaran
Prangko peringatan 50 tahun Universitas Padjadjaran
Prangko peringatan 50 tahun Universitas Padjadjaran

Unpad memiliki 16 fakultas, yaitu:

Berdasarkan data akreditasi dari BAN-PT (November 2008), Unpad menempati posisi ke-4 perguruan tinggi yang paling banyak memiliki proragm studi S1 terakreditasi A (33 buah) setelah UGM 60, UI 37, dan IPB 37 program studi. Selain itu pada Februari 2014, berdasarkan data akreditasi institusi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Unpad diakreditasi dengan nilai A dari jajaran 18 PTN/PTS yang terakreditasi A. Unpad merupakan perguruan tinggi dengan mahasiswa asing terbanyak ke-2 di Indonesia.

Alumni[sunting | sunting sumber]

  • A. Bakir Pasaman, Direktur PT Rekayasa Industri
  • Aas Asikin Idat, Presiden Direktur PT Pupuk Kujang, Presiden Direktur PT Pupuk Kaltim
  • Abdullah Gymnastiar, pendakwah, penulis, pengusaha
  • Akhil Mochtar, Ketua MK
  • Abraham Mose, Direktur Utama PT LEN Industri
  • Abrun Abubakar, Direktur PT TIMAH (Persero) Tbk
  • Agus Gumiwang Kartasasmita, wakil ketua komisi I DPR periode 2009-2014
  • Agus Teguh Prakosa Andarusman (Sandy), musisi, drummer PAS Band
  • Achmad Baiquni, Direktur Bank BNI
  • Achjar Iljas, Komisaris Independen Bank BII
  • Achmad Roestandi, hakim Mahkamah Konstitusi
  • Acil Bimbo, musisi
  • Adrian E. Sjamsul, Direktur PT Reswara Minergi Hartama (Reswara)
  • Alo Liliweri, sosiolog
  • Agum Gumelar, Menteri Transportasi, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Sosial
  • Ahmad Fajar, Direktur Utama Mutiara Bank (dulu bernama Bank Century)
  • Ahmad Fuadi, penulis, novelis, pengusaha
  • Ahmad Irfan, Direktur Utama Bank BJB
  • Ahmad M. Ramli, Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI
  • Ahmad Subagdja, Presiden Direktur PT TIMAH (Persero) Tbk
  • Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Selatan
  • Andhi Nirwanto, Wakil Jaksa Agung
  • Andri T. Hidayat, Direktur Keuangan PT Pertamina
  • Anggono Raras, Direktur PT. Angkasa Pura Solusi
  • Annisa Pohan, artis
  • Armida Alisjahbana, Kepala BAPPENAS/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
  • Arie Wibisono, Direkturr PT Universal Batam Energy dan PT Energi Listrik Batam
  • Arief Suditomo, penyiar, Pimpinan Redaksi RCTI
  • Arief Yahya, Direktur PT. Telkom, Menteri Pariwisata di Kabinet Kerja 2014-2019
  • Arifin Asydhad, Wakil Pemimpin Redaksi Detik.com
  • Arnes Lukman, Direktur PT Plaza Indonesia Realty, Tbk.
  • Asmawi Syam, Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (persero)
  • Atje Muhammad Darjan, Direktur Perum Percetakan Uang RI, Direktur PT. Paper Surabaya
  • Avril Kundai Mhembere, Miss Zimbabwe
  • Ayi Vivinanda, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat
  • Bambang Sutrisno (Trisno), musisi, basis PAS Band
  • Bambang Sutejo (Bengbeng), musisi, gitaris PAS Band
  • Bagir Manan, Ketua Mahkamah Agung / Hakim Agung Republik Indonesia
  • Bangun Maruli Napitupulu, Senior Geologist Metal of Africa Limited
  • Benny Yusman, Direktur PT Marka Inspektindo Technical (MARINDOTECH)
  • Burhanudin Abdullah, Gurbernur Bank Indonesia
  • Bustanil Arifin, Menteri Koperasi dan Kepala Bulog
  • Butet Manurung, Perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing dan terpencil di Indonesia, pendiri Sokola Rimba
  • Chairuman Harahap, politikus Partai Golkar, kepala komisi ke-3 Dewan Perwakilan Rakyat
  • Chyntia Sari, presenter
  • Dadan Wildan, Komisaris Bali Tourism Development Corporation (BTDC)
  • Daly Mulyana, Direktur PT Multi Nitrotama Kimia
  • Dayu Padmara Rengganis, Direktur PT Indonesia Trading Company
  • Dede Yusuf, Anggota DPR RI, Wakil Gubernur Jawa Barat ke-10 Periode 2008 – 2013
  • Dedy Djamaluddin Malik, Politikus Partai Amanat Nasional, anggota Dewan Perwakilan Rakyat
  • Dian Desiana, Direktur Topotels
  • Dipa Nandastyra Hasibuan, musisi, personil The Changcuters
  • Djoni Permato, personil Project Pop
  • Dona Agnesia, aktris
  • Edwin Pamimpin Situmorang, Presiden Komisaris PT Arwana Citramulia Tbk
  • Elza Syarief, pengacara
  • Erry Riyana Hardjapamekas, Direktur Maybank, mantan Wakil Ketua KPK
  • Ernest Prakarsa, presenter, komedian
  • Farhan, presenter
  • Feby Fadly Wiraputra, officer Bumitama Gunajaya Agro
  • Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Agraria dan Tata Ruang di Kabinet Kerja 2014-2019
  • Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Ketua KPU Jawa Barat, Anggota KPU Divisi Hubungan Masyarakat
  • Fitri Tropica, presenter
  • Frans Hendra Winarta, pengacara
  • Ganjar Kurnia, rektor Universitas Padjadjaran dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Paris
  • Gempa Nursyamsu Yasin, Direktur PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero)
  • Gumilar Nurochman, personil Project Pop
  • Hakiki Sudrajat, Direktur PT Perumnas
  • Hamdan Zoelva, ketua Mahkamah Konstitusi
  • Handayani, Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Garuda Indonesia
  • Hana A. Satriyo, Direktur The Asia Foundation
  • Hary Suganda, Komisaris PT. Taka Turbomachinery Indonesia
  • Harjanto Prabowo, Rektor Universitas Bina Nusantara
  • Helmi Budiman, Wakil Bupati Garut
  • Hendar, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI)
  • Henrianto Kuswendi, Directur PT Buana Listya Tama Tbk
  • Herry Hykmanto, Direktur Bank Danamon
  • Heru Pribadi, Direktur HERO Group
  • Hotman Paris, pengacara
  • I Made Surata, Direktur PT ANTAM (Persero)
  • Ilya Avianti, Auditor Utama Keuangan Badan Pemeriksa Keuangan Negara (BPK)
  • Iman Nurwahyu, Presiden Komisaris PT Andalan Multi Kencana dan PT Universal Tekno Reksajaya, Direktur PT United Tractors Semen Gresik
  • Iman Rachman, Direktur Mandiri Sekuritas
  • Indy Rachmawati, presenter, penyiar
  • Jaka Bimbo, musisi
  • Iskandar, Presiden Direktur PT Bio Farma (Persero)
  • Juniver Girsang, pengacara
  • Jusuf Anwar, Menteri Keuangan
  • Kanaka Puradiredja, Komisaris PT Aneka Satwitra Fast Food
  • Keri Lestari Dandan, peneliti, ilmuwan, penemu obat kolesterol dan diabetes non-kimia
  • Jusuf Wibisono, Menteri Keuangan
  • M. Afdal Bahaudin, Direktur Utama PT Tugu Pratama Indonesia, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PT Pertamina
  • M. Sahid Mahudie, DIrektur VIVA Group, Direktur PT Asia Global Media
  • Made Wedana, Direktur The Aspinall Foundation
  • Marbintoko Soedhomo, Direktur PT Patra Jasa
  • Maulana Ibrahim, Deputi Gurbernur Bank Indonesia
  • Megawati Soekarnoputri, Presiden Indonesia ke-5
  • Meisya Siregar, artis
  • Melly Sah Bandar, Direktur Western Mining Network
  • Miryam S.V. Nainggolan, Direktur BPSW Indonesia
  • Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Kehakiman dan Menteri Luar Negeri
  • Mohamad Laica Marzuki, Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi 2003-2008
  • MS Hidayat, Menteri Perindustrian
  • Muhammad Iqbal 'Qibil', personil The Changcuters
  • Muladi, Gurbernur Lemhanas, Menteri Kehakiman, Menteri Sekretaris Negara
  • Mburumba Kerina, Politisi Namibia, co-founder SWAPO, NUDO, dan FCN
  • Muhammad Hatta Ali, Ketua Mahkamah Agung periode 2012-2017
  • Mustoha Iskandar, Direktur Utama PT Perhutani
  • Nana Supriana, Direktur PT. Aplikanusa Lintasarta
  • Nico Siahaan, presenter
  • Nilawati Djuanda, Direktur PT INTI (Persero)
  • Noegroho Adhi Wibowo, Direktur Utama PT Satkomindo Mediyasa
  • Nurjaman Mochtar, Pimpinan Redaksi Indosiar
  • Okky Lukman, artis, komedian
  • Omesh, presenter
  • Otto Cornelis Kaligis, pengacara
  • Paskah Suzetta, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
  • Patrialis Akbar, Hakim Mahkamah Konstitusi
  • Prastiwi Dwiarti, musisi, personil T2
  • Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata "Kang Ibing", komedian
  • Rieka Roslan, musisi dan personil The Groove
  • Ridho Ficardo, Gubernur Lampung
  • Rinaldi Firmansyah, Komisaris Indosat
  • Robby Djohan, mantan CEO Bank Niaga (sekarang CIMB Niaga), mantan CEO Garuda Indonesia, mantan CEO Bank Mandiri (merger dari beberapa bank BUMN)
  • Romli Atmasasmita, tim ahli United Nations Convention Against Corruption (Konvensi PBB Melawan Korupsi)
  • Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika di Kabinet Kerja 2014-2019
  • Ruhut Sitompul, Pengacara Hukum, Politikus Partai Demokrat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat
  • Ryan Thamrin, presenter, dokter
  • Rudy Gunawan, Bupati Garut
  • Rusdi Rosman, Direktur Utama PT. Kimia Farma
  • Salman Aditya, musisi
  • Salman Aristo, penulis, sutradara, dan produser
  • Santosa Doellah, pengusaha
  • Sapta Nirwandar, Presiden Komisaris Bali Tourism Development Corporation (BTDC), mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014
  • Sentot A. Sentausa, Direktur Bank Mandiri
  • Setyanto Prawira Santosa, Komisaris VIVA Group
  • Sjahril Sabarrudin, Diplomat, Dubes Afrika Selatan, Lesotho, dan Swaziland
  • Sharif Cicip Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan
  • Sigit Hermansyah, Direktur PT Astra International Tbk.
  • Sihol Siagian, Komisaris PT Indo Straits Tbk
  • Soebianto B. Soegiarto, Direktur PT Panasia Group
  • Soleh Solihun, presenter, komedian
  • Soemarno Sosroatmodjo, Gurbernur Jakarta
  • Sri Soemantri Martosoewignjo, Kepala Komisi Konstitusi
  • Sudiro Asno, CFO PT. Telkom
  • Suprajarto, Wakil Direktur Utama Bank BNI
  • Sutardji Calzoum Bachri, sastrawan
  • Syaeful Arifin, Direktur PT. Gratika
  • Syahrial Yusuf, Founder & Direktur Utama LP3I Group (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia)
  • Taji M Sianturi, pengacara
  • T.B Silalahi, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VI
  • Tina Talisa, presenter
  • Umar Wirahadikusumah, Wakil Presiden Indonesia ke-4
  • Utut Adianto, Grandmaster Catur Indonesia
  • Yovie Widianto, musisi
  • Yuddy Chrisnandi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Kabinet Kerja 2014-2019
  • Yuki Arifin Martawidjaja (Yukie), musician, vocalis PAS Band
  • Widya Saputra, artis
  • Winata Supriatna, Kepala Rumah Tangga Kepresidenan RI
  • W. Karioka, Direktur PT Pembangunan Perumahan

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]