Universitas Brawijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Universitas Brawijaya
Bundaran depan Gedung Rektorat UB
Monumen Tugu Universitas Brawijaya
Moto Join UB, be the Best
Didirikan 1963 (1963)
Jenis Negeri
Rektor Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito
Staf administratif 1.669 (2012)
Jumlah mahasiswa 52.376 (2012)
Sarjana 47.233 (2012)
Magister 2.316 (2012)
Doktor 1.123 (2012)
Jumlah mahasiswa lain 1.222 (2012) (Diploma)
482 (2012) (Spesialis)
Lokasi Malang, Jawa Timur, Indonesia
112° 36' 45.88" E 7° 57' 20.00" S
Kampus Urban (Malang)
Nama sebelumnya Gemeentelijke Universiteit
(Universitas Kotapraja Malang)
Warna Biru Turquoise     
Julukan UB
Situs web www.ub.ac.id
Logo Universitas Brawijaya

Universitas Brawijaya (biasa disingkat UNBRA, UNIBRAW atau singkatan resmi UB) merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri di Indonesia yang berdiri pada tahun 1963 di Kota Malang melalui Ketetapan Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan No. 1 tanggal 5 Januari 1963, kemudian disahkan oleh Keputusan Presiden no. 196 tahun 1963 yang kemudian tanggal 5 Januari ditetapkan sebagai hari lahir Universitas Brawijaya. Jumlah mahasiswa lebih dari 60 ribu orang dari berbagai strata mulai program Diploma, program Sarjana, program Magister, dan program Doktor selain program Spesialis tersebar dalam 10 Fakultas dan 2 Program pendidikan setara fakultas.

Universitas Brawijaya pada 10 Januari 2009 mendapatkan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) melalui Keputusan BAN PT No. 015/BAN-PT/Ak-II/Inst/I/2009. Dengan demikian, UB adalah 1 dari 2 perguruan tinggi di Jawa Timur yang terakreditasi A yaitu bersama Intitut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Empat puluh empat tahun kemudian, UB mendapat persetujuan Dirjen Dikti untuk menjadi perguruan tinggi Otonom pada tanggal 29 November 2007.[1]

Universitas Brawijaya memiliki kampus pusat yaitu di Malang (Ketawanggede, Puncak Dieng, Griyasahanta), dan cabang yang lebih kecil di Kediri, Kasembon, Jakarta, dan Probolinggo. Pada tahun 2013, terdapat 157 program studi yang terdiri dari Vokasi 18, S1 69, S2 37, S3 16, dan Profesi 17. Jumlah mahasiswa baru tahun 2013 yaitu 16.334 orang dan total seluruh mahasiswa adalah 61.511 orang. Untuk program beasiswa Bidik Misi, UB menerima 1.500 mahasiswa pertahun dan menambah biaya Rp 200.000 perbulan dari yang diberikan oleh pemerintah. Sedangkan total beasiswa lain yaitu Rp 27,6 miliar pertahun. Terakreditasinya fakultas Ekonomi dan Bisnis-UB dan Teknologi Pertanian-UB oleh internasional. Sedangkan untuk semua fakultas, lembaga, dan unit telah mendapatkan sertifikat manajemen ISO. Universitas Brawijaya sebagai World Class Entrepreneurial University.[1]

Lahan kampus utama seluas 58 ha terletak di kawasan barat kota Malang, tepatnya di Jalan Veteran. Gedung-gedung dalam Kampus pada umumnya berarsitektur Jawa yang ditata sedemikian rupa. Efisiensi penggunaan lahan kampus, gedung-gedung UB kebanyakan berlantai 3 bahkan di beberapa fakultas gedungnya berlantai 7. Gedung kantor pusat berlantai 8 dengan bangunan yang sangat khas, saat ini menjadi maskot UB. Secara keseluruhan UB memiliki aset tanah seluas 1.813.664 m2 (181 ha). Dari luas tanah tersebut 58 ha terletak di dalam Kota Malang dan merupakan wilayah utama kegiatan universitas. Lahan seluas 73 ha merupakan lahan laboratorium dan lahan percobaan di propinsi Jawa Timur di luar kota Malang, yaitu di Cangar, Jatikerto, Dau dan Sumberpasir. Sedangkan sisanya, seluas 92 ha, terletak di Lampung dan merupakan lahan percobaan untuk bidang pertanian.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

1957-1960: Gemeentelijke Universiteit[sunting | sunting sumber]

Gedung Balaikota Malang dilihat dari Alun-alun Bundar.

Berawal dari Balaikota Malang, gagasan untuk pembentukan perguruan tinggi itu digulirkan. Atas prakarsa Ketua DPRD, 10 Mei 1957, diadakan pertemuan tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintahan kota Malang, membahas rencana pembentukan sebuah universitas milik kotapraja (Gemeentelijke Universiteit).[2][2]

Sebagai langkah awal, didirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Perguruan Tinggi Malang (YPTM) dengan akte notaris nomor 48 tahun 1957, 28 Mei 1957. Yayasan ini kemudian membuka Perguruan Tinggi Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (PTHPM), pada 1 Juli 1957. Tercatat sebanyak 104 mahasiswa perguruan tinggi ini, dan menggunakan ruang sidang Balaikota Malang sebagai tempat perkuliahannya.[2][2]

Sementara itu, atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat yang lain dibentuk pula Yayasan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (YPTEM) dengan akte notaris nomor 26, 15 Agustus 1957, yang kemudian mendirikan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM). Tak jauh berbeda dengan pendahulunya, aktivitas perkuliahan PTEM juga menumpan di Balaikota Malang.[2]

Secara resmi PTHPM diakui sebagai milik Kotaparaja Malang dengan keputusan DPRD, 19 Juni 1958. Pada dies natalis ketiga PTHPM, 1 Juli 1960, diumumkan penggunaan nama Universitas Kotapraja Malang bagi perguruan tinggi itu. Selain itu diumumkan pula rencana membuka dua fakultas baru. Rencana itu menjadi kenyataan, 15 September 1960, berdiri Fakultas Administrasi Niaga (FAN). Disusul kemudian oleh Fakultas Pertanian (FP), 10 November 1960.[2][3]

1961-1964: Upaya penegerian[sunting | sunting sumber]

"Brawijaya" merupakan nama gelar raja Majapahit, yang diberikan oleh Presiden Soekarno.

Pembiayaan menjadi kendala utama penyelenggaraan Universitas Kotapraja Malang. Meskipun diakui sebagai milik Kotapraja Malang, pembiayaan universitas ini sepenuhnya tetap menjadi beban yayasan. Oleh karena itu ditempuh usaha untuk memperoleh status universitas negeri. Sesuai UU nomor 22 tahun 1961 tentang perguruan tinggi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, baik mengenai jumlah maupun jenis fakultas yang dimiliki. Untuk itu, diupayakan penggabungan dengan perguruan tinggi yang sudah ada di Malang, yakni PTEM dan STKM (Sekolah Tinggi Kedokteran Malang). PTEM sepakat dengan gagasan ini, sementara STKM masih belum dapat menerimanya.[2][4]

Sebagai langkah menuju penggabungan, Universitas Kotapraja Malang berganti nama menjadi Universitas Brawijaya. Nama ini berasal dari gelar raja-raja Majapahit yang merupakan kerajaan besar di Indonesia pada abad 12 sampai 15.[3] Nama ini diberikan oleh Presiden Republik Indonesia melalui kawat nomor 258/K/61 tanggal 11 Juli 1961, dipilih dari 3 alternatif yang diajukan, yakni Tumapel, Kertanegara, dan Brawijaya. Nama itu secara resmi baru dipakai 3 Oktober 1961, setelah penggabungan Yayasan Perguruan Tinggi Malang (Universitas Kotapraja Malang) dengan Yayasan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM) menjadi Yayasan Universitas Malang, yang disahkan akte notaris nomor 11 tanggal 12 Oktober 1961.[2][4]

Untuk memenuhi syarat penegerian, Universitas Brawijaya yang telah memiliki 4 fakultas (FHPM, FE, FAN, dan FP) membuka lagi sebuah fakultas, Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) pada 26 Oktober 1961.[2][3][4]

Presiden Universitas Brawijaya, H. Doel Arnowo bersama para perintis universitas ini terus berjuang untuk mendapatkan status universitas negeri. Dalam sebuah pertemuan 7 Juli 1962, dicapai kesepakatan antara Menteri PTIP, Pangdam VIII Brawijaya, Presiden Universitas Airlangga, Presiden Universitas Brawijaya, dan Presiden Universitas Tawangalun, bahwa hanya fakultas-fakultas eksakta saja yang terlebih dulu dinegerikan. Keputusan Menteri PTIP nomor 92 tahun 1962 tanggal 1 Agustus 1962 menetapkan FP dan FKHP dinegerikan dan sekaligus menjadi bagian dari Universitas Airlangga. Keputusan ini berlaku surut mulai 1 Juli 1962.[2][3][4]

Sementara itu di Probolinggo, 28 Oktober 1962 dibuka Perguruan Tinggi Jurusan Perikanan Laut oleh Yayasan Pendidikan Tinggi Probolinggo. Jurusan ini pada saatnya kemudian menjadi bagian dari FKHP dengan SK Menteri PTIP no 163 tahun 1963, 25 Mei 1963. Tanggal 5 Januari 1963, keluar Keputusan Menteri PTIP nomor 1 tahun 1963, tentang pendirian Universitas Negeri Brawijaya di Malang.[2][3][4]

Gedung Fakultas Pertanian di Jl. Mayjen Haryono (dulu Jl. Raya Dinoyo).

Dengan keputusan itu, ditetapkan Universitas Brawijaya di Malang terdiri dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Keputusan itu pula memisahkan Fakultas Pertanian, dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan dari Universitas Airlangga dan memasukkannya ke dalam lingkungan Universitas Brawijaya di Malang. Selain itu, keputusan Menteri PTIP ini juga meresmikan 3 fakultas yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Ketatanegaraan di Jember sebagai bagian dari Universitas Brawijaya. Kemudian, dengan Keputusan Menteri PTIP nomor 97 tahun 1963, 15 Agustus 1963, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan di Kediri ditetapkan sebagai cabang dari FKK Universitas Brawijaya.[2][3][4]

Keputusan Menteri PTIP tentang pendirian Universitas Negeri Brawijaya kemudian disahkan dengan Keputusan Presiden nomor 196 tahun 1963, 23 September 1963. Dengan itu pula ditetapkan fakultas-fakultas yang bergabung ke dalam Universitas Brawijaya, yakni FE, FHPM, FKK, FP dan FKHP di Malang, serta Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial, dan Fakultas Kedokteran di Jember. Dalam status negeri, Universitas Brawijaya membuka Fakultas Teknik (FT) berdasarkan Keputusan Menteri PTIP nomor 167 tahun 1963, 23 Oktober 1963.[3] Pada tahun 1964, cabang di Jember memisahkan diri dan membentuk Universitas Jember (SK Menteri PTIP nomor 151 tahun 1964, 9 November 1964).[2][4]

1965-1968: Kampus bergolak[sunting | sunting sumber]

Situasi negara memburuk dengan meletusnya pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Seluruh perguruan tinggi bergolak, tidak terkecuali Universitas Brawijaya. Pergolakan mencapai puncaknya 2 April 1966, seluruh aktivitas universitas ini berhenti. Dengan keputusan nomor 012/IV/66, Komandan Korem 083 selaku PU Pepelrada (Penguasa Pelaksana Perang Daerah) menetapkan sebuah presidium untuk memimpin Universitas Brawijaya, dan dekan untuk memimpin fakultas-fakultas. Keputusan itu kemudian disahkan Deputi Menteri PTIP dengan Keputusan nomor 4385 tahun 1966. Tugas utama presidium adalah normalisasi keadaan dan menggalang persatuan dan kesatuan di kalangan sivitas akademika. Presidium mulai bekerja 7 April 1966, dan membuka kembali Universitas Brawijaya 12 April 1966.[2][5]

Bulan Juni 1966, Brigjen dr. Eri Soedewo ditugasi pemerintah untuk stabilisasi perguruan tinggi-perguruan tinggi di Jawa Timur. Jabatannya sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Jawa Timur, di samping Pejabat Rektor Universitas Airlangga, Ketua Presidium IKIP Surabaya, Ketua Presidium IKIP Malang, dan Ketua Presidium Universitas Brawijaya.[2][5]

Dalam rangka pengamanan seluruh kampus di Jawa Timur, Pangdam VIII/Brawijaya, 1 Agustus 1966, memberhentikan seluruh pimpinan perguruan tinggi di Jawa Timur. Sebagai pimpinan Universitas Brawijaya, dengan keputusan Pepelrada nomor 59 tahun 1966, yang kemudian disahkan oleh keputusan Direktur Jenderal Perguruan Tinggi nomor 798/I/SP/KT/67, diangkat Kolonel Moejadhie Komandan Korem 083 sebagai Rektor Universitas Brawijaya, dibantu oleh para pembantu rektor dan para dekan fakultas.[2][5]

1969-1997: Pengembangan kampus[sunting | sunting sumber]

Pimpinan Universitas Brawijaya bekerja tanpa anggaran selama setahun. Baru kemudian secara berangsur-angsur diperoleh kembali anggaran dari pemerintah. Setelah 3 tahun keadaan menjadi normal, Universitas Brawijaya melangkah memasuki masa pembangungan (Pelita I) pada tahun 1969, dipimpin oleh rektor dari kalangan sendiri, yaitu Dr Ir Moeljadi Banoewidjojo (1969-1973).[2][6]

Pembangunan fisik dilaksanakan. Gedung-gedung kuliah, laboratorium, bengkel, dan perpustakaan dibangun di kompleks Dinoyo. Secara berangsur-angsur prasarana dan sarana kampus dilengkapi. Untuk memudahkan manajemen, jurusan Perikanan Laut di Probolinggo (1972) dan cabang Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK) di Kediri (1973) secara berangsur-angsur dipindahkan ke Malang. Sedangkan jurusan Kedokteran Hewan di Surabaya (berdiri 1970) sejak 1972 bergabung dengan Universitas Airlangga. Di bawah kepemimpinan Rektor Dardji Darmodihardjo SH (1973-1979), pembangunan fisik terus berlangsung.[2][6]

Kantor Pusat dipindahkan dari Jalan Guntur 1 ke Kampus Dinoyo (1974), juga tempat perkuliahan seluruh fakultas secara berangsur-angsur dipusatkan. Jumlah staf pengajar maupun administratif bertambah dengan banyaknya pengangkatan baru. Beliau juga menetapkan singkatan “Unibraw” sebagai pengganti “Unbra”. Jumlah fakultas pun bertambah dengan bergabungnya Sekolah Tinggi Kedokteran Malang (STKM) secara resmi menjadi Fakultas Kedokteran dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 001/O/1974, 1 Januari 1974.[2][6]

Gedung Rektorat UB yang dibangun pada kepemimpinan rektor Prof. Drs. Zainal Arifin Achmady (1987-1993).

Berdasarkan SK Presiden Nomor 59 tahun 1982 tanggal 7 September 1982 tentang struktur organisasi Universitas Brawijaya, Fakultas Perikanan (FPi) menjadi fakultas tersendiri karena sejak tahun 1977 digabung menjadi satu dengan Fakultas Peternakan dengan nama Fakultas Peternakan dan Perikanan. Sebagai catatan bahwa Fakultas Perikanan telah berdiri sejak tahun 1963 di Probolinggo yang merupakan Jurusan dari FKHP Universitas Brawijaya.[2][3][6]

Dalam periode selanjutnya, berturut-turut di bawah kepemimpinan Rektor Prof Harsono (1979-1987), Rektor Prof ZA Achmady (1987-1994), Rektor Prof Hasyim Baisoeni (1994-1998). Terjadi perubahan nama beberapa fakultas, peningkatan beberapa jurusan menjadi fakultas, pembukaan fakultas dan program-program baru, serta pemisahan untuk mandiri program non gelar Politeknik. Selain itu banyak pembangunan fasilitas pembangunan fisik seperti gedung Rektorat berlantai 8 dan gedung Widyaloka pada masa jabatan Rektor Prof ZA Achmady, sedangkan penggunaan website resmi Universitas Brawijaya mulai diresmikan pada masa Rektor Prof Hasyim Baisoeni.[2][6]

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), diresmikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0371/O/1993 tanggal 21 Oktober 1993. Universitas Brawijaya menambah satu lagi fakultas yaitu Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) yang merupakan peningkatan satu dari Jurusan Teknologi Pertanian yang sebelumnya berada di Fakultas Pertanian.[2][3][6]

1998-2005: Perguruan Tinggi Otonom[sunting | sunting sumber]

Pada masa kepemimpinan Rektor Prof Eka Afnan Troena (1998-2002) mulai menerima mahasiswa asing asal Malaysia, dimulainya era jaringan serat optik untuk pengembangan teknologi informasi (TI) di kampus dan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bekerjasama dengan Keio University, Jepang, serta memulai program pemberian beasiswa studi lanjut bagi staf administrasi.[2]

Pada tahun 1999, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum. Tekad Universitas Brawijaya menjadi perguruan tinggi otonom sesuai PP 60 dan PP 61 Tahun 1999, telah di persiapkan sejak tahun 2000, dengan melakukan sosialisasi kepada sivitas akademika.[2][7][8]

Beberapa Presiden mahasiswa perguruan tinggi menolak otonomi kampus. Presiden Mahasiswa Universitas Brawijaya, Muhammad Fadhli mengusulkan adanya SPP progresif (proporsional), jika otonomi kampus diberlakukan. Menurut Presiden Mahasiswa Universitas Brawijaya, pihaknya telah melakukan polling pendapat tentang otonomi kampus yang hasilnya 63,9% menolak penerapan otonomi kampus dan hanya 26,7% yang setuju. Otonomi kampus, yang akan diberlakukan di Universitas Brawijaya harus dikaji ulang dan dicarikan format yang paling baik dan tepat.[2][7][8]

Pada masa Rektor Prof Bambang Guritno ini, beliau mencanangkan visi menjadikan Universitas Brawijaya sebagai perguruan tinggi terkemuka melewati batas wilayah nasional, melakukan persiapan-persiapan untuk menjadi perguruan tinggi otonom, mengupayakan peningkatan kualitas dosen melalui studi lanjut, memperluas kerjasama luar negeri, mengadakan penataan jenjang karier staf administrasi, merintis pemberian subsidi biaya perjalanan haji bagi karyawan, serta menempatkan perencanaan sebagai dasar penetapan program dan kegiatan Universitas Brawijaya.[2]

Pada tahun 2003, berdasarkan SK Rektor nomor 147/SK/2003 dibentuklah dan mulai disosialisasikan pelaksanaan Tim Evaluasi Diri (Persiapan BHMN-UB) untuk Pengembangan Otonomi dan Akuntabilitas Organisasi Universitas Brawijaya. Otonomi adalah salah satu pilar untuk menghasilkan SDM yang berkualitas berdasarkan hasil studi banding ke Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung dan Institut Pertanian Bogor yang telah berstatus perguruan tinggi BHMN (Badan Hukum Milik Negara).[2][7][8]

Akhirnya pada Desember 2004, diterbitkanlah keputusan Senat mengenai Otonomi Kampus Universitas Brawijaya. Dan mulai disosialisasikan bagi kalangan pejabat di lingkungan kampus dan bagi para fungsionaris mahasiswa yaitu Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa, serta Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Program Studi mulai tahun 2005.[2][7][8]

2006-sekarang: World Class Entrepreneurial University[sunting | sunting sumber]

Universitas Brawijaya mendapat persetujuan Dirjen Dikti untuk menjadi perguruan tinggi otonom pada tanggal 29 November 2007, walaupun pelaksanaannya harus menunggu pengesahan Undang Undang BHP. Sementara menunggu pengesahan UU-BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara) oleh DPR, untuk itu telah dibentuk tim penyusun proposal BLU (Badan Layanan Umum) yang diketuai oleh Prof. Dr. Sutiman B. Sumitro.[2][7][8]

Dalam masa kepemimpinan Rektor Prof. Yogi Sugito, Universitas Brawijaya diarahkan untuk menjadi entrepreneurial university yang bertaraf internasional, dibuat logo Universitas Brawijaya, mulai diperkenalkan singkatan UB menggantikan Unibraw, diberlakukan SPP proporsional bagi mahasiswa baru, dibangun gedung Pusat Bisnis, gedung kuliah Fakultas Ekonomi, gedung Pusat Pendidikan Fakultas Kedokteran, dan monumen tugu UB, dan pembentukan Laboratorium Sentral Ilmu Hayati. Rektor ini sangat memperhatikan keindahan, keamanan, dan kenyamanan kampus.[2][7]

Gedung INBIS UB di Jalan Veteran, sebagai penunjang Entrepreneurial University.

Pencanangan UB menuju Entrepreneurial University (EU) disaksikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Juni 2007. Bagi UB, EU merupakan perwujudan Visi dan Misi, untuk menghasilkan lulusan yang mandiri dan berjiwa pelopor. Di dalam pelaksanaannya telah ditempuh rintisan-rintisan berbagai kegiatan dengan bantuan dana hasil kerjasama. Sebagai bagian dari langkah nyata UB menuju EU, maka dilakukan pembenahan organisasi, antara lain pembentukan UBBIPS (University of Brawijaya Business Incubator and Public Services atau Pusat Inkubator Bisnis dan Layanan Masyarakat UB). Lembaga ini keberadaannya di bawah Rektor yang berfungsi sebagai tempat pengembangan pendidikan dan latihan kewirausahaan bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan masyarakat, sebagai fasilitator pengembangan riset di universitas yang relevan dengan kebutuhan industri/UKM dan ekspose hasil riset potensial agar bernilai bisnis, serta mengembangkan unit bisnis akademik dan non akademik sebagai sumber pendapatan universitas untuk menunjang aktivitas pendidikan.[7][9][10]

Kerjasama dilakukan dengan Badan Litbang Diknas, UB dipercaya untuk menyusun Pedoman Umum, Pedoman Khusus dan berbagai modul Inkubator Bisnis Perguruan Tinggi. Bekerja sama dengan JBIC (Japan Bank for International Cooperation) dan Waseda University, serta perguruan tinggi di negara-negara ASEAN untuk mencari dan menguji coba model Pendidikan Entrepreneurship untuk Mahasiswa Pendamping UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang cocok diterapkan di kawasan ASEAN.[7][9][10]

Atribut[sunting | sunting sumber]

Lambang[sunting | sunting sumber]

Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Raja Brawijaya.

Lambang merupakan penyederhanaan dari kenyataan yang kompleks dan bersifat abstrak. Dengan lambang, sebuah institusi memiliki identitas yang unik agar dikenali orang lain. Lambang Universitas Brawijaya berbentuk segilima dengan warna dasar hitam. Di dalamnya terdapat gambar arca Raden Wijaya (Prabu Brawijaya) berwarna kuning emas, sebagai penjelmaan Dewa Wisnu yang bertangan empat. Masing-masing tangan memegang lampu, canka atau siput, qada, dan cakra. Selain itu sebagai lambang Ciwa, Raden Wijaya mengenakan mahkota Candra Kapala. Di samping kiri dan kanan Raden Wijaya terdapat sepasang Dewa Perwara sebagai pengikut Sang Raja.[11][12][13]

Lambang secara keseluruhan menggambarkan corak atau watak dari Universitas Brawijaya. Jiwa kepeloporan, seperti yang dimiliki oleh Raden Wijaya (Prabu Brawijaya), dilukiskan dengan warna kuning emas. Memiliki sifat abadi, dilukiskan dengan warna dasar hitam.[11][12][13]

Menjunjung tinggi falsafah Pancasila, digambarkan dalam bentuk segilima berwarna kuning emas. Berani membongkar segala sesuatu yang tidak wajar atau tidak benar, digambarkan dalam bentuk mahkota candra kapala. Penegak tertib hukum, digambarkan dalam bentuk gada. Berani meratakan segala sesuatu yang dianggap kurang wajar atau kurang benar, digambarkan dalam bentuk senjata cakra. Segalanya dilakukan dengan kesucian yang disertai pula tugas pemelihara atau pembina sesuai dengan sifat Wisnu, yang dilambangkan dalam bentuk fanka atau siput. Percaya dan meyakini benar-benar bahwa zat hidup itu ada, yang dilukiskan dalam bentuk lampu. Dengan demikian lambang tersebut menggambarkan penjiwaan keseluruhan watak Raden Wijaya (Prabu Brawijaya) yang senantiasa dilandasi moral Pancasila.[11][12]

Bendera[sunting | sunting sumber]

Setiap fakultas di Universitas Brawijaya mempunyai warna-warna tertentu sesuai dengan ciri khas masing-masing. Fakultas Hukum (FH) memiliki warna bendera merah, Fakultas Ekonomi (FE) warna bendera kuning, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) warna bendera abu-abu, Fakultas Pertanian (FP) warna bendera hijau muda, Fakultas Peternakan (FPet) warna bendera coklat, Fakultas Teknik (FT) warna bendera biru tua, Fakultas Kedokteran (FK) warna bendera hijau tua, Fakultas Perikanan (FPi) warna bendera biru laut, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) warna bendera biru muda, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) warna bendera biru muda.[12][14]

Lagu[sunting | sunting sumber]

Hymne Universitas Brawijaya diciptakan oleh R. Janardhana mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (sekarang: Fakultas Peternakan) Universitas Brawijaya pada tahun 1963. Sedangkan Mars Universitas Brawijaya diciptakan oleh Lilik Sugiarto tahun 1990. Sampai saat ini, kedua lagu tersebut masih digunakan.[3][12][15]

Jaket[sunting | sunting sumber]

Warna biru dipakai berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0602a/U/1984 tanggal 28 November 1984 tentang Pedoman Tata-Busana Akademik Perguruan Tinggi di Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang tertuang dalam Lampiran 1-2 tentang warna-warna Universitas/Institut Negeri di seluruh Indonesia tabel nomor 12 (Universitas Brawijaya dengan warna: Biru Turquoise). Sedangkan model yang sampai sekarang dipakai, telah disempurnakan atas kepeloporan Ir. Abdul Azis Hoesein, Dipl.HE (Ketua Dewan Mahasiswa 1970-1971) pada acara "Jaket Show" untuk memilih model desain jaket almamater.[12][16] mnmmn

[sunting | sunting sumber]

Logo UB

Logo merupakan salah satu bentuk representasi dari lembaga yang diharapkan mampu mensosialisasikan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Hal ini melatarbelakangi Pusat Jaminan Mutu (PJM) Universitas Brawijaya untuk mengadakan penjaringan design logo Universitas Brawijaya yang berlangsung selama 1 bulan penuh (1-30 September 2006). Pada tanggal 21 November 2006, melalui Keputusan nomor 163/SK/2006, tanggal 14 November 2006, Rektor Prof Yogi Sugito menetapkan pemenang lomba desain logo Universitas Brawijaya. Logo ini secara filosofis memuat pesan ”Join UB, be the best” untuk jaminan mutu, dapat diubah kapan saja. Logo UB berbentuk persegi empat dengan warna blue navie dengan tuisan UB berwarna kuning emas.[12][17]

Makna logo dari UB yang memiliki motto ”Join UB, be the best” adalah huruf “UB” dalam bulatan mengandung makna bahwa Universitas Brawijaya selalu dinamis keberadaannya dalam masyarakat dunia. Sayap berjumlah tiga buah mengelilingi bulatan dunia menggambarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang bertaraf internasional. Warna emas pada huruf dan gambar bermakna kebijaksanaan dan kejayaan. Warna biru menggambarkan Universitas Brawijaya bersifat universal. Bingkai bujur sangkar sendiri bermakna keadilan.[12][17][18]

Singkatan nama[sunting | sunting sumber]

Nama "Universitas Brawijaya" diberikan oleh Presiden RI melalui surat kawat Nomor 258/K/61 tertanggal 11 Juli 1961, dipilih dari 3 nama yang diajukan Senat Universitas, yakni: Kertanegara, Tumapel, dan Brawijaya. Sejak saat itu pula dikenal nama "Unbra" sebagai singkatan nama Universitas Brawijaya. Dalam perkembangannya, sejak 1 Maret 1975 berdasarkan SK Rektor, singkatan "Unbra" tidak digunakan lagi dan diganti dengan singkatan baru, yaitu "Unibraw". Selanjutnya, sejak tahun 2006 telah disosialisasikan singkatan "UB" untuk menggantikan singkatan "Unibraw", dan disetujui Senat Universitas Brawijaya tanggal 17 Maret 2008.[12][19]

Moto[sunting | sunting sumber]

Sejak peringatan Dies Natalis ke 44, Januari 2007 diperkenalkan moto Universitas Brawijaya yaitu "Join UB, be the best".[12][20]

Monumen Tugu UB[sunting | sunting sumber]

Tugu Universitas Brawijaya yang terletak di depan Gedung Rektorat dibangun mulai Desember 2007. Letaknya di pusat kampus dengan bentuk lingkaran di jalan utama. Fungsinya selain sebagai bagian keasrian kampus juga mempunyai makna pada setiap bagiannya.[12][21]

Puncak kepala tugu, berbentuk dasar lingkaran bermakna pusat dan wawasan yang luas, tetapi tetap fokus dan lentur. Diatasnya berbentuk bulat telungkup, bermakna fakir, tetapi tak miskin. Dipuncak sendiri berbentuk tongkat menunjukkan bahwa insan akademis pun masih membutuhkan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa.[12][21]

Bentuk kepala tugu bermakna simbolik adanya tiga strata pendidikan (S1, S2, S3) di Universitas Brawijaya. Bentuk transparan, bermakna Universitas Brawijaya terbuka bagi saran dan kritik. Warna kuning bermakna jiwa kepeloporan sebagai pusat llmu, teknologi, dan seni. Sedangkan warna hitam bermakna abadi, tidak pandang suku, bangsa, negara, kebudayaan maupun agama.[12][21]

Badan tugu mengesankan ilmu, tekonologi dan seni yang sederhana, kokoh dan monumental. Terdapat pula jam sebagai penunjuk waktu yang tepat berada di dada tugu sebagai pengingat bahwa warga Universitas Brawijaya harus menghargai waktu. Sedangkan bentuk kaki tugu bermakna kepeloporan perguruan tinggi yang terjaga oleh para pengampu sesuai dengan susunan simbolik yaitu spesialis dan praktisi ilmu; teknologi dan seni; ilmuwan dan peneliti; profesor dan doktor.[12][21]

Dasar tugu terdiri dari kolam atas, pelataran gersang, pelataran bunga, dan kolam teratai. Kolam atas yaitu kolam air bermakna simbolik bahwa ilmu, teknologi, dan seni itu tidak terbatas dan terus berkembang, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan jamannya. Pelataran gersang tetapi berpola dan bertekstur serta dikelilingi pelita, bermakna para mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai disiplin ilmu dan pembimbingnya. Pelataran dengan hamparan bunga berwarna-warni dan bunga-bunga ini dapat diganti/disesuaikan dengan event yang sedang tejadi, bermakna para alumni dari berbagai disiplin ilmu yang selalu siap dengan berbagai tuntutan perubahan jaman. Sedangkan kolam teratai bermakna simbolik berupa harapan kepada para alumni Universitas Brawijaya. "Jadilah bunga bangsa yang lentur, anggun dan berwibawa, tenang, lestari dan menghidupi."[12][21]

Rektor[sunting | sunting sumber]

! Artikel utama untuk kategori ini adalah Rektor Universitas Brawijaya.

Berikut ini adalah daftar nama Rektor Universitas Brawijaya sejak dinegrikan sampai sekarang:[22]

No. Nama Masa jabatan Keterangan
1. H. Doel Arnowo 1963-1966 Presiden Universitas
2. Brigjen. Prof. Dr. dr. Eri Soedewo 1966 Ketua Presidium
3. Kolonel Moejadhi 1966-1969
4. Prof. Dr. Ir. Moeljadi Banoewidjojo 1969-1973
5. Prof. Darji Darmodiharjo, SH 1973-1979
6. Prof. Dr. Harsono, SE 1979-1987
7. Prof. Drs. Zainal Arifin Achmady, MPA 1987-1993
8. Prof. Drs. H. M. Hasyim Baisoeni 1994-1998
9. Prof. Dr. Eka Afnan Troena, SE 1998-2002
10. Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno 2002-2006
11. Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito 2006-sekarang

Seleksi Masuk[sunting | sunting sumber]

Jalur Nasional[sunting | sunting sumber]

  • SNMPTN 2013
    SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri merupakan seleksi penerimaan calon mahasiswa tanpa ujian tulis yang baru lulus Ujian Nasional pada tahun itu. Dilaksanakan secara nasional berdasarkan prestasi akademik sesuai ketentuan SNMPTN. Jalur ini biasa disebut jalur undangan atau PMDK.
  • SBMPTN 2013
    SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri merupakan seleksi penerimaan calon mahasiswa melalui ujian tulis, dilaksanakan secara serempak nasional setelah kelulusan SMA/MA/SMK. SBMPTN ini diadakan setelah pengumuman SNMPTN 2013. Materi yang diujikan pada hari pertama adalah Tes Potensi Akademik, Tes Kemampuan Dasar Umum (terdiri dari Matematika Dasar, Bhs. Indonesia, dan Bhs. Inggris. Kemudian pada hari kedua adalah Tes Kemampuan IPA dan/atau IPS sesuai dengan jurusan yang diambil.

Jalur Mandiri[sunting | sunting sumber]

  • SPKD/SPKIns
    Seleksi Program Kemitraan Daerah/Instansi merupakan seleksi ujian tulis dilaksanakan di daerah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat/Instansi atau Perusahaan setempat. Seleksi jalur ini dilaksanakan setelah seleksi nasional.
  • SPMK
    Seleksi Program Minat dan Kemampuan merupakan seleksi ujian tulis dilaksanakan di Universitas Brawijaya dan sekolah yang telah ditunjuk oleh UB. Seleksi ini juga dilaksanakan setelah seleksi nasional.
  • Kampus Kediri
    Merupakan seleksi ujian tulis untuk UB Kampus Kediri yang dilaksanakan setelah seleksi nasional.
  • SPI
    Seleksi Program Internasional merupakan seleksi ujian tulis untuk menjaring mahasiswa luar negeri. Seleksi ini dilaksanakan berdasarkan kemitraan dengan pihak luar negeri.
  • SAP
    Seleksi Alih Program merupakan seleksi penerimaan mahasiswa bagi yang berpendidikan Sarjana Muda atau Diploma III untuk melanjutkan pendidikan ke Strata 1. Seleksi ini dikelola oleh pihak fakultas masing-masing.
  • SPVok
    Seleksi Program Pendidikan Vokasi/Keahlian yaitu seleksi ujian tulis untuk Diploma I dan III dan dilaksanakan setelah seleksi nasional.

Biaya Pendidikan dan Beasiswa[sunting | sunting sumber]

Biaya pendidikan terdiri dari SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) yang dibayarkan setiap awal semester. SPP ditetapkan secara proporsional per jurusan, per mahasiswa, dalam 7 kategori untuk jalur nasional, dan 3 kategori untuk jalur mandiri. SPFP (Sumbangan Pengembangan Fasilitas Pendidikan) yaitu dibayarkan sekali saat daftar ulang sebagai mahasiswa baru. SPFP ini juga ditetapkan secara proporsional seperti SPP. DBP (Dana Bantuan Praktikum) ini dibayarkan setiap awal semester. Dan biaya lain-lain yang mencakup ordik, ormawa, jas almamater, perpustakaan, dan tes kesehatan dan dibayarkan sekali saat daftar ulang sebagai mahasiswa baru.

Beasiswa juga diberikan, yakni mencapai 4.676 orang pada tahun 2010 mencapai Rp. 16 M.[23] Beasiswa tersebut adalah BMU, Bidik Misi, PPA, BBM, Supersemar, Bank Indonesia, BRI, Toyota, Astra, IMHERE, Taspen, BNI, PGN, ETOS, BTN, Pertamina, Eka Tjipta, Indosat, Pegadaian, Daihatsu, Djarum, BCA Finance, CIMB Niaga, TNI, Yayasan Salim, Yayasan Kasih, IKOMA, KOSGORO, Semen Gresik, ORBIT, dan lain-lain. Di tahun 2011, UB memberikan beasiswa pada 6.168 mahasiswa dan pada tahun 2012 pada 6.686 mahasiswa. Jumlah ini meningkat setiap tahunnya.

Program Akademik[sunting | sunting sumber]

Sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 232/U/2000, pendidikan akademik yang terdiri atas program sarjana, program magister dan program doktor, adalah pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Pendidikan profesional adalah program pendidikan diploma yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu, sedang kan pendidikan profesi adalah pendidikan tambahan setelah program sarjana untuk memperoleh keahlian dan sebutan profesi dalam bidang tertentu. Saat ini Universitas Brawijaya memiliki 12 Fakultas dan 2 Program seatara Fakultas, 74 Program Studi S-1, 37 Program Studi S-2, 17 Program Studi S-3, 16 Program Dokter Spesialis 1 (Sp-1), 14 Program D-3, dan 1 Program D-1.[24]

Mahasiswa dan Dosen[sunting | sunting sumber]

Universitas Brawijaya saat ini memiliki 52.376 orang mahasiswa aktif dari berbagai strata yang tersebar di berbagai fakultas.[25] Karena membuka kelas internasional melalui seleksi jalur mandiri untuk semua fakultas, terdapat juga beberapa mahasiswa asing dari beberapa negara lain seperti USA, Malaysia, Korea Selatan, Vietnam, Myanmar, Libia, Bosnia, Timor Leste, dan Palestina. Jumlah dosen tetap pada tahun 2012 adalah 1.852 orang, yang terdiri dari S1 yaitu 326 orang, Sp1 yaitu 89 orang, S2 yaitu 1.032 orang, dan S3 yaitu 405 orang.[26]

Prestasi dan Keunggulan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2008, UB masuk rangking 500+ dunia versi THES (QS World University Rangkings) bersama-sama 7 perguruan tinggi lain di Indonesia dan masuk peringkat 3 di antara perguruan tinggi di Indonesia versi Ditjen Dikti. Pada tahun 2009, masuk rangking 191 di Asia menurut THES. Saat ini UB sebagai ”World Class Entrepreneurial University” telah mendapatkan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) A dan mayoritas program studi telah terakreditasi A. Pada tahun 2010, UB mendapat penghargaan dari Smart Campus Award 2010, dimana UB menjadi yang terbaik dalam kategori The Most Interactive LocalNode. Mendapat peringkat 59 Asia Tenggara versi Webomatrics. Di bidang penelitian, publikasi ilmiah dosen dan perolehan patent, pada tahun 2010 telah meraih prestasi peringkat 5 terbaik dari seluruh PT di Indonesia.

Mitra Kerjasama[sunting | sunting sumber]

Jalinan kerjama sama UB dengan perguruan tinggi dan instansi tersebut dilakukan dalam bentuk Program Double Degree, Pertukaran Mahasiswa, Sandwich Program, dan Join Research. Dalam rangka menerapkan program ”World Class Entrepreneurial University”, telah dilaksanakan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri, yaitu 5 PT Thailand, 8 PT Jepang, 4 PT Taiwan, 3 PT USA, dan beberapa perguruan tinggi di Australia, Belanda, dan Jerman.

Beberapa dari perguruan tinggi dan instansi dari luar negeri yang terkait adalah Curtin University of Technology, Wollongong University (Australia), Hohenheim University (Jerman), Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD-Jerman), Centro International Agriculture Trophicale (CIAT), dan lain-lain. Sedangkan dari dalam negeri sendiri adalah PT. Bimantara Citra Tbk., PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia, Institute For Community Leaders (ICL), Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), dan lain-lain.[27]

Fasilitas Kampus[sunting | sunting sumber]

Gedung[sunting | sunting sumber]

Setiap fakultas memiliki gedung masing-masing di area kampus UB. Untuk kepentingan lain, terdapat gedung Sasana Samantha Krida, merupakan gedung terbesar di Universitas Brawijaya. Di gedung ini diadakan berbagai macam kegiatan diantaranya kongres, wisuda (diploma, sarjana, dan pascasarjana), dan lomba/kejuaraan seperti lomba paduan suara, lomba ketrampilan bahasa Inggris dan lain-lain. Terdapa pula gedung Widyaloka merupakan gedung tempat diadakannya berbagai macam aktivitas/kegiatan mahasiswa maupun umum seperti seminar nasional, regional, maupun internasional, pertemuan-pertemuan penting seperti rapat pimpinan maupun lainnya, diskusi, dan kuliah tamu. Gedung Student Center merupakan gedung tempat diadakannya berbagai macam aktivitas/kegiatan mahasiswa maupun umum seperti seminar ilmiah, pendaftaran mahasiswa baru, kejuaaraan/lomba, kongres mahasiswa, pameran, bursa buku, dan aktivitas lainnya. Dan yang terakhir adalah gedung Graha Medika merupakan gedung terbaru di UB, berlokasi di Fakultas Kedokteran. Gedung ini merupakan tempat untuk kegiatan pertemuan, resepsi acara-acara khusus dan lain sebagainya.[28][29]

Sarana Umum[sunting | sunting sumber]

Di lingkungan Kampus tersedia masjid pusat yaitu Masjid Raden Patah, mushola-mushola yang tersebar di berbagai fakultas maupun jurusan. Di dekat lingkungan kampus juga tersedia Vihara untuk penganut agama Budha, sedangkan untuk umat Kristen, gereja berada di daerah Ijen, Jl Bromo.[1][30] Terdapat sarana telekomunikasi seperti Warung Pos & Telekomunikasi (Warpostel), Kantor Pos dan Giro, Warung Internet (Warnet), dan Telepon Umum. Di lingkungan kampus UB terdapat pula beberapa ATM dan Bank. Untuk Bank yaitu Bank BTN, BRI dan Bank BNI. Sedangkan untuk ATM yang tersedia adalah ATM BCA, BNI dan BRI. ATM BCA terletak di dekat asrama mahasiswa (daerah Koperasi Mahasiswa), ATM BNI terletak di sebelah Bank BNI di Jalan Veteran, sedangkan Bank dan ATM BRI terletak di Jl. MT Haryono.[28][31]

Terdapat pula UB Hotel untuk tamu yang mencari tempat beristirahat, tempat pertemuan, maupun tempat untuk berbisnis.[32] Youth Hostel adalah penginapan Griya Brawijaya yang dikelola oleh Koperasi Mahasiswa Universitas Brawijaya, yang berkedudukan di komplek kampus. Terapat pula Brawijaya Smart School yang terdiri dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas di bawah naungan Universitas Brawijaya. Untuk travel umum terdapat Yubi Travel milik UB. Selain itu terapat pula penitipan anak dan Taman Kanak-Kanak yaitu Daycare Center dan TK.[28][31]

Pusat Pembelajaran[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan Pusat merupakan sarana penunjang kelengkapan di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu UB juga memiliki banyak laboratorium sebagai sarana penunjang pendidikan, penelitian, dan pelayanan di seluruh fakultas dan jurusan.[28][33]

Fasilitas Mahasiswa[sunting | sunting sumber]

Universitas Brawijaya memiliki sarana poliklinik untuk mahasiswa. Mahasiswa bisa memperoleh layanan kesehatan dengan harga yang terjangkau oleh seluruh mahasiswa. Fasilitas mahasiswa selain itu adalah Student Computer Services (SCS) , Unit Kegiatan Mahasiswa, dan Student Internet Access.[28]

Fasilitas Olah Raga & Seni[sunting | sunting sumber]

Sarana olahraga yang tersedia di Universitas Brawijaya adalah Stadion Brawijaya merupakan sarana untuk cabang olahraga sepakbola yang cukup luas, GOR Pertamina yang berlokasi di belakang gedung Samantha Krida, lapangan Bulutangkis Indoor berlokasi di gedung Samantha Krida, selain itu tersedia lapangan Tenis Indoor, Fitness Centre, dan lapangan Kantor Pusat. Sedangkan sarana kesenian yang tersedia di Universitas Brawijaya adalah Homeband UB (Unit aktifitas band) yaitu fasilitas untuk bermain musik yang dikelola oleh Unitas Band Universitas Brawijaya, selain itu tersedia Unit Aktifitas Karawitan dan Tari.[28][34]

Fasilitas Teknologi Informasi[sunting | sunting sumber]

School On Internet (SOI) merupakan program belajar/kuliah jarak jauh (distance learning) melalui internet dengan teknologi video conference. Program School On The Internet merupakan program kerjasama pembelajaran melalui internet antar institusi pendidikan di regional Asia. Pelayanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) menyediakan pelatihan-pelatihan berkaitan dengan komputer, pemrograman, jaringan, dan sebagainya. Tersedia Layanan MCA yaitu Microsoft Campus Agreement adalah program pendaftaran lisensi tahunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan khusus dari institusi pendidikan tinggi. Microsoft Campus Agreement memungkinkan institusi pendidikan untuk mengikuti teknologi yang berkembang walau hanya dengan anggaran yang terbatas. Universitas Brawijaya telah mengadakan ikatan perjanjian dengan Microsoft Indonesia dalam hal melegalkan pemakaian perangkat lunak buatan Microsoft di lingkungan Universitas Brawijaya.[28][35]

Web Hosting Services merupakan layanan web hosting disediakan bagi lembaga-lembaga resmi Universitas Brawijaya yang mempublikasikan situs yang berisi informasi lembaga-lembaga tersebut melalui jaringan internet. Selain itu terapat fasilitas Electronic Mail (e-mail) bagi sivitas akademika di lingkungan Universitas Brawijaya. Saat ini layanan e-mail terdiri dari dua jenis layanan, yaitu Campus Web-based E-Mail merupakan email resmi disediakan bagi para dosen, staf, fakultas, jurusan, unit kerja dan lembaga resmi kampus lainnya dan Student E-mail yang disediakan khusus bagi seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya. Untuk pusat bantuan, pusat informasi, form layanan, serta panduan dan manual layanan teknologi informasi tersedia IT Helpdesk & Costumer Care. Dan fasilitas mengakses internet secara gratis yang dapat diperoleh oleh seluruh pengguna dalam jaringan Intranet di Universitas Brawijaya.[28][35]

Pusat Pelatihan dan Penelitian[sunting | sunting sumber]

Universitas Brawijaya saat ini memiliki dua pusat pelatihan, di Inkubator Bisnis (INBIS) dan Pusat Komputer (Puskom). INBIS UB menyediakan pelatihan-pelatihan berkaitan dengan kewirausahaan dan bisnis, sedangkan Puskom menyediakan pelatihan-pelatihan berkaitan dengan komputer, jaringan, dan sebagainya. Selain itu juga terdapat pusat-pusat penelitian sebagai sarana penelitian di UB.[28][36]

Lembaga[sunting | sunting sumber]

LPPM[sunting | sunting sumber]

LPPM atau Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat merupakan institusi yang menyediakan segala informasi penelitian, pelaksana penelitian dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengedepankan standar kualitas tertinggi dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat kampus maupun luar kampus. Lembaga ini mempunyai tugas melaksanakan, mengkoordinasikan, memantau dan menilai pelaksanaan kegiatan penelitian dan PKM yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pusat Pelayanan serta ikut mengusahakan serta mengendalikan administrasi sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan tugas pokok tersebut.[37]

LP3[sunting | sunting sumber]

LP3 atau Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan merupakan pusat pengkajian dan pengembangan pendidikan guna mewujudkan paradigma baru perguruan tinggi yang disingkat RAISE (relevance, academic atmosphere, internal management, sustainability dan equity).[37]

LSIH[sunting | sunting sumber]

LSIH atau Laboratorium Sentral Ilmu Hayati membantu pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sebagai bagian integral pembangunan nasional ditujukan untuk menjadi landasan ketahanan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. LSIH melakukan beberapa jenis pelayanan dan pengujian untuk masyarakat umum/ industri, peneliti, praktisi dan mahasiswa (S1,S2,S3) terkait dengan bidang hayati, dengan didukung peralatan terbaru dan terkalibrasi.[37]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya Menyongsong Masa Depan” – Selayang Pandang". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya, Riwayatmu Dulu” – Gagasan Gemeentelijke Universiteit". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  3. ^ a b c d e f g h i j Universitas, Brawijaya (2012). "Profil Universitas Sekilas". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  4. ^ a b c d e f g Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya, Riwayatmu Dulu” – Upaya Penegrian". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  5. ^ a b c Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya, Riwayatmu Dulu” – Kampus Bergolak". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  6. ^ a b c d e f Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya, Riwayatmu Dulu” – Saatnya Membangun". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  7. ^ a b c d e f g h Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya Menyongsong Masa Depan”". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  8. ^ a b c d e Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya Menyongsong Masa Depan” – Perjalanan Menuju Otonomi Perguruan Tinggi". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  9. ^ a b Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya Menyongsong Masa Depan” – UB Menuju Entrepreneurial University". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  10. ^ a b Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Universitas Brawijaya Menyongsong Masa Depan” – UB Menuju Entrepreneurial University (Beberapa Aktivitas Terkait EU)". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  11. ^ a b c Universitas, Brawijaya (2012). "Profil Universitas Lambang". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  12. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya”". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  13. ^ a b Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Lambang". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  14. ^ Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Bendera". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  15. ^ Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Lagu". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  16. ^ Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Jaket Almamater". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  17. ^ a b Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Logo". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  18. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Profil Universitas Logo". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  19. ^ Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Singkatan Nama". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  20. ^ Universitas, Brawijaya (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Moto". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  21. ^ a b c d e Universitas (2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Atribut Universitas Brawijaya” – Monumen Tugu". oldsite.ub.ac.id. Diakses 06 September 2013. 
  22. ^ Universitas, Brawijaya (2001-2003). "Buku 45 Tahun Universitas Brawijaya “Rektor Dari Masa Ke Masa”". ub.ac.id. Diakses 27 Agustus 3012. 
  23. ^ Hapes, Hanir (2013). "Sekilas Tentang Brawijaya". blog.ub.ac.id. Diakses 24 Juli 2013. 
  24. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Profil Universitas Program". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  25. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Mahasiswa Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  26. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Dosen Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  27. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Kerjasama Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  28. ^ a b c d e f g h i Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  29. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Gedung Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  30. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus “Sarana Ibadah”". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  31. ^ a b Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Umum Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  32. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Hotel “UB Hotel” Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  33. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Pusat Pembelajaran Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  34. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Olahraga & Seni Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  35. ^ a b Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Teknologi Informasi Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  36. ^ Universitas, Brawijaya (2012). "Kehidupan Kampus – Fasilitas Pusat Pelatihan Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 
  37. ^ a b c Universitas, Brawijaya (2012). "Organisasi Lembaga di Universitas Brawijaya". ub.ac.id. Diakses 20 Juli 2013. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]