Tim nasional sepak bola Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tim nasional sepak bola Indonesia
Lambang asosiasi
Pelatih Alfred Riedl
Asisten Pelatih Wolfgang Pikal
Widodo Cahyono Putro
Kapten Boaz Solossa
Penampilan terbanyak Bambang Pamungkas (85)
Pencetak gol terbanyak Bambang Pamungkas (37)
Kode FIFA IDN
Peringkat FIFA 156 3 (18 September 2014)
Peringkat FIFA tertinggi 76 (September 1998)
Peringkat FIFA terendah 170 (Oktober 2012, April-September 2013)
Peringkat Elo 147
Peringkat Elo tertinggi 35 (November 1969)
Peringkat Elo terendah 155 (4 Desember 1995)
Kostum kandang
Kostum tandang
Pertandingan internasional pertama
Persahabatan:
Bendera Belanda Hindia Belanda 1–0 Singapura Flag of the British Straits Settlements (1874-1942).svg
(Batavia, Hindia Belanda; 28 Maret 1921)[1] Turnamen Pertama:
 Jepang 1–7 Hindia Belanda Bendera Hindia Belanda
(Manila, Filipina; 13 May 1934)
Pertandingan Pertama Setelah Kemerdekaan:
 India 3-0 Indonesia 
(New Delhi, India; 4 Maret 1951)[2]
Kemenangan terbesar
Bendera Indonesia Indonesia 12–0 Filipina 
(Seoul, Korea Selatan; 22 September 1972)
Bendera Indonesia Indonesia 13–1 Filipina 
(Jakarta, Indonesia; 23 Desember 2002)
Kekalahan terbesar
 Bahrain 10–0 Indonesia Bendera Indonesia
(Riffa, Bahrain, 29 Februari 2012)
Piala Dunia
Penampilan 1 (pertama kali pada 1938)
Hasil terbaik Babak 1 (1938, sebagai Hindia Belanda)
Piala Asia
Penampilan 4 (pertama kali pada 1996)
Hasil terbaik Babak 1 (1996, 2000, 2004, 2007)

Tim nasional sepak bola Indonesia adalah tim yang mewakili Indonesia di sepak bola internasional. Tim ini dikontrol oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dan merupakan anggota dari Konfederasi Sepak Bola Asia. Sebelum kemerdekaan pada 1945, tim ini menggunakan nama tim nasional sepak bola Hindia Belanda. Dengan nama itulah, tim ini bermain di Piala Dunia FIFA 1938 di Perancis, dimana mereka kalah dari Hongaria di babak pertama dan tak pernah lagi lolos setelahnya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepak bola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) pada tahun 1936 milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) milik seseorang yang berketurunan Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia milik bumiputra. Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) sebuah organisasi sepak bola orang-orang Belanda di Hindia Belanda menaruh hormat kepada PSSI lantaran SIVB yang memakai bintang-bintang dari NIVB kalah dengan skor 2-1 melawan VIJ.

NIVU yang semula memandang sebelah mata PSSI akhirnya mengajak bekerjasama. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari 1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara de facto dan de jure Belanda mengakui PSSI. Perjanjian itu juga menegaskan bahwa PSSI dan NIVU menjadi pucuk organisasi sepak bola di Hindia Belanda. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal tim untuk dikirim ke Piala Dunia, dimana dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia (semacam seleksi tim). Tapi NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab PSSI pada masa itu memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional, PSSI membuktikannya. Pada 7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya Maladi, Djawad, Moestaram, Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa dari Cina di Gelanggang Union, Semarang. Padahal Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim PSSI mulai kesohor.

Atas tindakan sepihak dari NIVU ini, Soeratin Sosrosoegondo, ketua PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme Indonesia,sangat geram. Ia menolak memakai nama NIVU. Alasannnya, kalau NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang Belanda. Tapi FIFA mengakui NIVU sebagai perwakilan dari Hindia Belanda. Akhirnya PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di Solo pada 1938.

Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang Belanda. Mereka yang terpilih untuk berlaga di Perancis, yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua NIVU, Johannes Mastenbroek. Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain pribumi yang berhasil memperkuat kesebelasan Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland. [3]

Piala Dunia FIFA[sunting | sunting sumber]

Indonesia pada tahun 1938 (di masa penjajahan Belanda) sempat lolos dan ikut bertanding di Piala Dunia 1938. Waktu itu Tim Indonesia di bawah nama Dutch East Indies (Hindia Belanda), peserta dari Asia yang pertama kali lolos ke Piala Dunia. Indonesia tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12. Grup kualifikasi Asia untuk Piala Dunia FIFA 1938 hanya terdiri dari 2 negara, Indonesia (Hindia Belanda) dan Jepang karena saat itu dunia sepak bola Asia memang hampir tidak ada. Namun, Indonesia akhirnya lolos ke final Piala Dunia 1938 tanpa harus menyepak bola setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan Cina.

Pada waktu itu tim ini menggunakan seragam berwarna oranye dan bercelana putih seperti warna seragam yang dipakai kesebelasan Belanda.[4]

Skuat Piala Dunia 1938[sunting | sunting sumber]

Pelatih: Johannes Christoffel Jan Mastenbroek.

Nama Klub Posisi
Tan "Bing" Mo Heng Hua Chiao Tsing Nien Hui (HCTNH) Malang Penjaga gawang
L.N. Van Beuzekom

Digantikan oleh Jack Samuels

Hercules Batavia Penjaga gawang
Dorst Tidak diketahui Pemain belakang
J. Harting Houdt Braaf Stand (HBS) Soerabaja Pemain belakang
Frans G. Hu Kon Sparta Bandung Pemain belakang
Jack Kolle

Digantikan oleh Teilherber

Tidak diketahui Pemain belakang
Jack Samuels

Menggantikan L.N. Van Beuzekom

Excelsior Soerabaja Pemain belakang
G.H.V.L. Faulhaber Djocoja Djogjakarta Pemain tengah
Frans Alfred Meeng Sportvereniging Binnenlands Bestuur (SVBB) Batavia Pemain tengah
Achmad Nawir (C) Houdt Braaf Stand (HBS) Soerabaja Pemain tengah
Anwar Sutan Voorwaarts Is Ons Streven (VIOS) Batavia Pemain tengah
G. van den Burgh Semarang Voetbal Vereniging (SVV) Semarang Pemain tengah
Tan Hong Djien Tiong Hoa Soerabaja Pemain depan
Tan See Han Houdt Braaf Stand (HBS) Soerabaja Pemain depan
Isaac "Tjaak" Pattiwael Voetbal Vereniging (VV) Jong Ambon Tjimahi Pemain depan
Suvarte Soedarmadji Houdt Braaf Stand (HBS) Soerabaja Pemain depan
M.J. Hans Taihuttu Voetbal Vereniging (VV) Jong Ambon Tjimahi Pemain depan
Teilherber

Menggantikan Jack Kolle

Djocoja Djogjakarta Pemain depan
R. Telwe Houdt Braaf Stand (HBS) Soerabaja Pemain depan
Herman Zomers Hercules Batavia Pemain depan

Pertandingan melawan Hongaria[sunting | sunting sumber]

Pada 5 Juni 1938, sejarah mencatat pembantaian tim Hungaria terhadap Hindia Belanda. Mereka bermain di Stadion Velodrome Municipale, Reims, Perancis. Sekitar 10.000 penonton hadir menyaksikan pertandingan ini. Sebelum bertanding, para pemain mendengarkan lagu kebangsaan masing-masing. Kesebelasan Hindia Belanda mendengarkan lagu kebangsaan Belanda Het Wilhelmus. Karena perbedaan tinggi tubuh yang begitu mencolok, walikota Reims menyebutnya, "saya seperti melihat 22 atlet Hungaria dikerubungi oleh 11 kurcaci."

Meski strategi tak bisa dibilang buruk, tapi Tim Hindia Belanda tak dapat berbuat banyak. Pada menit ke-13, jala di gawang Mo Heng bergetar oleh tembakan penyerang Hongaria Vilmos Kohut. Lalu hujan gol berlangsung di menit ke-15, 28, dan 35. Babak pertama berakhir 4-0. Nasib Tim Hindia Belanda tamat pada babak kedua, dengan skor akhir 0-6. Pada saat itu Piala Dunia memakai sistem gugur.

Meskipun kalah telak, surat kabar dalam negeri, Sin Po, memberikan apresiasinya pada terbitan mereka, edisi 7 Juni 1938 dengan menampilkan headline: "Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah".[5]

Setelah penampilan perdana itu, Indonesia tidak pernah lagi masuk babak pertama Piala Dunia FIFA, dengan hasil paling memuaskan adalah Sub Grup III Kualifikasi Piala Dunia FIFA 1986. Ketika itu Indonesia hampir lolos ke Piala Dunia 1986 tetapi Indonesia kalah di partai final kualifikasi melawan Korea Selatan dengan agregat 1-6.

Era 1950[sunting | sunting sumber]

Setelah era Perang Dunia kedua, pada tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan mereka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah itu, sepak bola Indonesia mengalami kemajuan di Asia. Mereka berhasil lolos ke Olimpiade Melbourne 1956. Indonesia berhasil melaju ke perempat final dan bertemu dengan raksasa dunia ketika itu, Uni Soviet yang ketika itu dikapteni oleh kiper terbaik dunia ketika itu, Lev Yashin. Ketika itu mereka berhasil menahan Uni Soviet 0-0. Namun pada akhirnya Indonesia harus kalah dengan skor 4-0 pada pertandingan kedua. Prestasi ini adalah prestasi tertinggi Indonesia dalam sejarah sepak bola di Indonesia.

Pada tahun 1958, Indonesia juga merasakan hasil terbaik di Kualifikasi Piala Dunia 1958 dimana Indonesia berhasil mengalahkan China pada ronde pertama. Namun mereka menolak untuk bertanding melawan Israel pada ronde kedua dikarenakan alasan politis. Sejak saat itu, Indonesia tidak pernah ikut dalam kualifikasi piala dunia hingga tahun 1970.

Uniknya, setelah bertanding di kualifikasi piala dunia, Indonesia berhasil meraih medali perunggu di Asian Games 1958 setelah pada perebutan tempat ketiga berhasil mengalahkan India 4-1.

Era 1960-1970[sunting | sunting sumber]

Pada era ini, lahirlah pesepak bola Indonesia yang terkenal di Asia antara lain Soetjipto Soentoro, Max Timisela, Jacob Sihasale, Kadir, Iswadi Idris, Andjiek Ali Nurdin, dan Yudo Hadianto. Diantara mereka yang paling fenomenal adalah Soetjipto Soentoro. Ia adalah pemain tersukses di Indonesia dengan membawa Indonesia menjadi raja sepak bola Asia.

Ketika itu Indonesia berhasil menjuarai berbagai turnamen yaitu Turnamen Merdeka 1961, 1962, 1969, Piala Emas Agha Khan 1966, dan Piala Raja 1968. Indonesia juga berhasil meraih medali perak dalam Asian Games 1966.

Bahkan pemain Indonesia ada yang dipanggil AFC untuk menjadi bagian dari skuat Asia All Stars pada tahun 1967-1968. Mereka adalah Soetjipto Soentoro yang bertindak sebagai penyerang bayangan sekaligus sebagai kapten, Jacob Sihasale sebagai penyerang tengah, Iswadi Idris bertindak sebagai penyerang sayap kanan, dan Kadir sebagai penyerang sayap kiri. Ketika itu, mereka adalah kuartet tercepat yang pernah dimiliki Indonesia.

Era 1970-1990-an[sunting | sunting sumber]

Era ini merupakan era dimana sepak bola Indonesia masih menjadi negara terkuat di Asia. Indonesia berhasil menjuarai Piala Pesta Sukan 1972 di Singapura untuk terakhir kali. Namun Indonesia sempat berjaya ketika mereka berhasil mengalahkan tim asal Amerika Latin, Uruguay.

Ketika itu Indonesia berhasil mengalahkan Uruguay dengan skor 2-1. Beruntung ketika itu, Indonesia memiliki pemain yang bertalenta yang sangat mumpuni seperti Ronny Paslah, Sutan Harhara, Ronny Pattinasarany, Risdianto, Andi Lala, Anjas Asmara, Waskito dan pemain bekas angkatan Soetjipto Soentoro.

Setelah itu sepak bola Indonesia berangsur mengalami penurunan. Terakhir mereka menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Di kualifikasi Piala Dunia, prestasi terbaik hanya diraih ketika Indonesia berhasil lolos ke putaran final. Namun harus kandas di tangan Korea Selatan dengan agregat 1-6.

Di Asian Games, Indonesia berhasil meraih medali perunggu setelah menembus semifinal tetapi kalah dari Kuwait pada partai perebutan tempat ketiga. Pemain pada masa itu yang terkenal adalah Ricky Yakobi. Tendangannya volinya yang mengejutkan lawan ketika Indonesia melawan Uni Emirat Arab dengan jarak yang cukup jauh di luar kotak penalty.

Piala Asia[sunting | sunting sumber]

Di kancah Piala Asia Indonesia pertama kali tampil di putaran final pada tahun 1996 di Uni Emirat Arab (UAE). Indonesia berhasil membuat kejutan di pertandingan pertama dengan berhasil menahan imbang Kuwait 2-2, tetapi akhirnya tersingkir di penyisihan grup setelah kalah 2-4 dari Korea Selatan dan kalah 0-2 dari tuan rumah UAE. Indonesia meraih kemenangan pertama pada tahun 2004 di China setelah menaklukkan Qatar 2-1. Yang kedua diraih ketika mengalahkan Bahrain dengan skor yang sama tahun 2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Piala AFF[sunting | sunting sumber]

Di kancah Asia Tenggara sekalipun, Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara Piala AFF (dulu disebut Piala Tiger) dan hanya menjadi salah satu tim unggulan. Prestasi tertinggi Indonesia hanyalah tempat kedua pada tahun 2000, 2002, dan 2004, dan 2010 (dan menjadikan Indonesia negara terbanyak peraih runner-up dari seluruh negara peserta Piala AFF). Di ajang SEA Games pun Indonesia jarang meraih medali emas, yang terakhir diraih tahun 1991.

Kostum[sunting | sunting sumber]

Kostum Indonesia bergaya timnas Belanda yang digunakan dalam Piala Dunia FIFA 1938
Jersey tim sepakbola Indonesia pada tahun 1981

Kostum tim nasional Indonesia tidak hanya merah-putih sebab ada juga putih-putih, biru-putih, dan hijau-putih. Menurut Bob Hippy, yang ikut memperkuat timnas sejak tahun 1962 hingga 1974, kostum Indonesia dengan warna selain merah-putih itu muncul ketika PSSI mempersiapkan dua tim untuk Asian Games IV-1962, Jakarta.

Saat itu ada dua tim yang diasuh pelatih asal Yugoslavia, Toni Pogacnic, yakni PSSI Banteng dan PSSI Garuda. Yang Banteng, yang terdiri dari pemain senior saat itu, seperti Maulwi Saelan, Djamiat Dalhar, dan Tan Liong Houw, selain menggunakan kostum merah-putih juga punya kostum hijau-putih. Sedangkan tim Garuda, yang antara lain diperkuat Omo, Anjik Ali Nurdin, dan Ipong Silalahi juga dilengkapi kostum biru-putih. Tetapi, setelah terungkap kasus suap yang dikenal dengan "Skandal Senayan", sebelum Asian Games IV-1962, pengurus PSSI hanya membuat satu timnas. Itu sebabnya, di Asian Games IV-1962, PSSI sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa karena kemudian kedua tim itu dirombak. Selanjutnya digunakan tim campuran di Asian Games.

Mulyadi (Fan Tek Fong), asisten pelatih klub UMS, yang memperkuat timnas mulai tahun 1964 hingga 1972, menjelaskan bahwa setelah dari era Asian Games, sepanjang perjalanan timnas hingga tahun 1970-an, PSSI hanya mengenal kostum merah-putih dan putih-putih. Begitu juga ketika timnas melakukan perjalanan untuk bertanding di sejumlah negara di Eropa pada tahun 1965. Saat itu setiap kali bermain, tim nasional hanya menggunakan merah-putih dan putih-putih dengan gambar Garuda yang besar di bagian dada hingga ke perut. Seragam hijau-putih kembali digunakan saat mempersiapkan kesebelasan pra-Olimpiade 1976, dan kemudian digunakan pada arena SEA Games 1981 Manila. "Begitu juga ketika Indonesia bermain di Thailand, di mana saat itu Indonesia menjadi runner-up Piala Raja 1981," kata Ronny Pattinasarani yang memperkuat PSSI tahun 1970-1985.

Di Piala Asia 2007 yang digelar mulai 8 Juli hingga Minggu 29 Juli, Nike juga telah mendesain kostum tim nasional Indonesia, tetapi kali ini bukan hijau-putih, melainkan putih-hijau. Tentu tetap dengan detail yang sama, seperti Garuda yang selalu bertengger di dada.

2010 All reds home kit
2008-2010 away kit
2008-2010 home kit

Dan pada kostum Timnas Indonesia terakhir yang dibuat Nike pada 2010 untuk Piala Suzuki AFF 2010, motif baru kembali diperkenalkan. Pada kostum ini, terdapat Burung Garuda besar yang membentang hampir di seluruh bagian depan kostum yang tidak berwarna tetapi memiliki garis-garis yang memiliki warna hitam cenderung abu-abu. Sementara pada kostum kedua yang berwarna Putih-Hijau, terdapat motif yang sama, tetapi garis-garis pada burung Garuda berwarna abu-abu muda.

Stadion[sunting | sunting sumber]

Stadion Gelora Bung Karno

Terletak di Jakarta, stadion kandang bagi timnas Indonesia adalah Gelora Bung Karno yang berkapasitas 88.000 penonton. Stadion ini merupakan stadion terbesar di Indonesia, stadion terbesar kedua di Asia Tenggara dan stadion sepak bola terbesar kesembilan di dunia. Stadion ini dibangun pada tahun 1960 untuk Asian Games 1962 dan pembangunannya didukung oleh pemerintah Uni Soviet, dengan pinjaman lunak sebesar US $ 12,5 juta. Stadion ini selesai setelah dua tahun dan secara resmi dibuka pada tanggal 24 Agustus 1962.[6]

Stadion lainnya yang digunakan meliputi:

Pertandingan dan hasil[sunting | sunting sumber]

  • 1 Bukan pertandingan internasional FIFA 'A'.

Rekor turnamen[sunting | sunting sumber]


Rekor penampilan di Piala Dunia FIFA[sunting | sunting sumber]

Rekor Penampilan di Piala Dunia FIFA
Tuan Rumah / Tahun Hasil Posisi M S K GM GK
Bendera Uruguay 1930 Tidak Ikut - - - - - -
Bendera Italia 1934 Tidak Ikut - - - - - -
Bendera Perancis 1938 Babak 1 (sebagai Hindia Belanda) 14 0 0 1 0 6
Bendera Brasil 1950 Mengundurkan diri - - - - - -
Bendera Swiss 1954 Tidak Ikut - - - - - -
Bendera Swedia 1958 Mengundurkan diri selama kualifikasi - - - - - -
Bendera Chili 1962 Mengundurkan diri - - - - - -
Bendera Inggris 1966 Tidak Ikut - - - - - -
Bendera Meksiko 1970 Tidak Ikut - - - - - -
Bendera Jerman Barat 1974 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Argentina 1978 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Spanyol 1982 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Meksiko 1986 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Italia 1990 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Amerika Serikat 1994 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Perancis 1998 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Korea Selatan Bendera Jepang 2002 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Jerman 2006 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Afrika Selatan 2010 Tidak lolos kualifikasi Asia - - - - - -
Bendera Brasil 2014 Tidak lolos kualifikasi. Asia - - - - - -
Bendera Rusia 2018 Belum Diselenggarakan
Bendera Qatar 2022 Belum Diselenggarakan
Total 1/19 Round 1 0 0 1 0 6
Sejarah final Piala Dunia FIFA 1938
Tahun Babak Nilai Hasil
1938 Babak 1  Hindia Belanda 0 – 6  Hongaria Kalah

Rekor penampilan di Piala Asia AFC[sunting | sunting sumber]

Tahun Hasil Poin M S K GM GK
Bendera Hong Kong 1956 Tidak ikut - - - - - -
Bendera Korea Selatan 1960 Tidak ikut - - - - - -
Bendera Israel 1964 Tidak ikut - - - - - -
Bendera Iran 1968 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Kuwait 1972 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Singapura 1976 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Qatar 1980 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Uni Emirat Arab 1984 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Lebanon 1988 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Jepang 1992 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Uni Emirat Arab 1996 Babak 1 3 0 1 2 4 8
Bendera Lebanon 2000 Babak 1 3 0 1 2 0 7
Bendera Republik Rakyat Tiongkok 2004 Babak 1 3 1 0 2 3 9
Bendera IndonesiaBendera MalaysiaBendera ThailandBendera Vietnam 2007 Babak 1 3 1 0 2 3 4
Bendera Qatar 2011 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Bendera Australia 2015 Tidak lolos kualifikasi - - - - - -
Total
Best: Round 1
12 2 2 8 10 28

Rekor penampilan di Kejuaraan Sepak Bola ASEAN[sunting | sunting sumber]

Kompetisi ini dulu dikenal sebagai Tiger Cup sekarang bernama Piala Suzuki AFF


Kejuaraan Sepak Bola ASEAN
Tahun Babak Main M S K GM GK
Bendera Singapura 1996
Juara keempat
6
3
1
2
18
9
Bendera Vietnam 1998
Juara ketiga
5
2
1
2
15
10
Bendera Thailand 2000
Runner-Up
5
3
0
2
13
10
Bendera Indonesia Bendera Singapura 2002
Runner-Up
6
3
3
0
22
7
Bendera Malaysia Bendera Vietnam 2004
Runner-Up
8
4
1
3
24
8
Bendera Singapura Bendera Thailand 2007
Babak grup
3
1
2
0
6
4
Bendera Indonesia Bendera Thailand 2008
Semi Final
5
2
0
3
8
5
Bendera Indonesia Bendera Vietnam 2010
Runner-Up
7
6
0
1
17
6
Bendera Thailand Bendera Malaysia 2012
Babak Grup
3
1
1
1
3
4
Total
Terbaik: Runner-Up
48
25
9
14
126
63


Pertandingan resmi[sunting | sunting sumber]

Di bawah ini adalah daftar cocok dan terperinci pertandingan Indonesia melawan tim yang diakui FIFA.[7][8]

Staff Kepelatihan[sunting | sunting sumber]

Staff Kepelatihan Saat ini[sunting | sunting sumber]

Daftar Pelatih Tim Nasional Indonesia[sunting | sunting sumber]

Manajer
Pelatih Kepala Bendera Austria Alfred Riedl
Asisten Pelatih 1 Bendera Austria Wolfgang Pikal
Bendera Indonesia Widodo Putro
Pelatih Kiper Bendera Indonesia Edy Harto
Pelatih Fitness Bendera Saint Kitts dan Nevis Keith Gumbs
Tim Doktor Bendera Indonesia Aditya Wahyudi
Bendera Indonesia Zaini Khadafi Saragih
Fisioterapis Bendera Indonesia Mathias Ibo
Pelatih Kepala U-23 Bendera Indonesia Aji Santoso
Pelatih Kepala U-19 Bendera Indonesia Indra Sjafri
Periode Asal Negara Nama Pelatih
1938 Bendera Belanda Belanda Johannes Christoffel van Mastenbroek
1951-1953 Bendera Singapura Singapura Choo Seng Quee
1954-1964 Bendera Yugoslavia Yugoslavia Antun Pogačnik
1966-1970 Bendera Indonesia Indonesia E.A. Mangindaan
1970 Bendera Indonesia Indonesia Endang Witarsa
1971-1972 Bendera Turki Turki Yusuf Balik
1972-1974 Bendera Indonesia Indonesia Suwardi Arland
1974 Bendera Indonesia Indonesia Djamiat Dalhar
1974-1975 Bendera Indonesia Indonesia Aang Witarsa
1975-1976 Bendera Belanda Belanda Wiel Coerver
1976-1978 Bendera Indonesia Indonesia Suwardi Arland
1978-1979 Bendera Belanda Belanda Frans Van Balkom
1979-1980 Bendera Polandia Polandia Marek Janota
1980-1981 Bendera Jerman Jerman Bernd Fischer
1981-1982 Bendera Indonesia Indonesia Harry Tjong
1982-1983 Bendera Indonesia Indonesia Sinyo Aliandoe
1983-1984 Bendera Indonesia Indonesia M. Basri, Iswadi Idris dan Abdul Kadir
1985-1987 Bendera Indonesia Indonesia Bertje Matulapelwa
1987 Bendera Indonesia Indonesia Sinyo Aliandoe
1987-1991 Bendera Rusia Rusia Anatoli Polosin
1991-1993 Bendera Yugoslavia Yugoslavia Ivan Toplak
1993-1995 Bendera Italia Italia Romano Mattè
1995-1996 Bendera Indonesia Indonesia Danurwindo
1996-1997 Bendera Belanda Belanda Henk Wullems
1998 Bendera Indonesia Indonesia Rusdy Bahalwan
1999 Bendera Jerman Jerman Bernard Schumm
1999-2000 Bendera Indonesia Indonesia Nandar Iskandar
2000-2001 Bendera Indonesia Indonesia Benny Dollo
2002-2004 Bendera Bulgaria Bulgaria Ivan Venkov Kolev
2004-2007 Bendera Inggris Inggris Peter Withe
2007 Bendera Bulgaria Bulgaria Ivan Venkov Kolev
2008-2010 Bendera Indonesia Indonesia Benny Dollo
2010-2011 Bendera Austria Austria Alfred Riedl
2011-2012 Bendera Belanda Belanda Wim Rijsbergen
2012 Bendera Indonesia Indonesia Aji Santoso
2012-2013 Bendera Indonesia Indonesia Nil Maizar
2013 Bendera Argentina Argentina Luis Manuel Blanco
2013 Bendera Indonesia Indonesia Rahmad Darmawan
2013 Bendera Brasil Brasil Jacksen F. Tiago
2013- Bendera Austria Austria Alfred Riedl

Pemain[sunting | sunting sumber]

Skuat saat ini[sunting | sunting sumber]

Berikut 13 pemain yang dipanggil untuk pelatihan pusat pada Oktober 2014 di Indonesia.[15]

Caps dan gol diperbarui dari 25 September 2014, setelah pertandingan melawan Kamboja.

No. Pos. Nama Pemain Tanggal lahir (umur) Tampil Gol Klub
GK Teguh Amiruddin 13 Agustus 1993 (umur 21) 0 0 Bendera Indonesia Perseru Serui
GK Yogi Triana 5 Juli 1994 (umur 20) 0 0 Bendera Indonesia Persita Tangerang
DF Muhammad Roby 12 September 1985 (umur 29) 32 1 Bendera Indonesia Putra Samarinda
DF Hamka Hamzah 29 Januari 1984 (umur 30) 32 0 Bendera Malaysia PKNS
DF Fachrudin Aryanto 19 Februari 1989 (umur 25) 9 0 Bendera Indonesia Persepam Madura United
DF Dany Saputra 1 Januari 1993 (umur 21) 0 0 Bendera Indonesia Persija Jakarta
MF Dedi Hartono 12 Desember 1987 (umur 26) 3 0 Bendera Indonesia Barito Putera
MF Steven Imbiri 30 April 1987 (umur 27) 2 0 Bendera Indonesia Persiram Raja Ampat
MF Rizky Ripora 22 November 1989 (umur 24) 2 0 Bendera Indonesia Barito Putera
MF Bayu Gatra 12 November 1991 (umur 22) 1 0 Bendera Indonesia Putra Samarinda
MF Ramdhani Lestaluhu 5 November 1991 (umur 22) 0 0 Bendera Indonesia Persija Jakarta
MF Evan Dimas Darmono 13 Maret 1995 (umur 19) 0 0 Unattached
FW Maldini Pali 27 Januari 1995 (umur 19) 0 0 Bendera Indonesia PSM Makassar

Baru dipanggil[sunting | sunting sumber]

Para pemain berikut telah dipilih untuk skuad Indonesia dalam 12 bulan terakhir dan masih tersedia untuk seleksi.

Pos. Nama pemain Tanggal lahir (usia) Tampil Gol Klub Panggilan terakhir
GK I Made Wirawan 1 Desember 1981 (umur 32) 8 0 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Kamboja, 25 September 2014
GK Kurnia Meiga 7 Mei 1990 (umur 24) 6 0 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Kamboja, 25 September 2014
GK Shahar Ginanjar 4 November 1990 (umur 23) 0 0 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Kamboja, 25 September 2014
GK Dian AgusINJ 3 Agustus 1985 (umur 29) 3 0 Bendera Indonesia Mitra Kukar v.  Qatar, 14 Juli 2014
GK Aji Saka 23 Februari 1991 (umur 23) 0 0 Bendera Indonesia Gresik United v.  Nepal, 25 Juni 2014
GK Choirul Huda 2 Juni 1979 (umur 35) 0 0 Bendera Indonesia Persela Lamongan v. ASEAN ASEAN All-Star, 11 May 2014
GK Andritany Ardhiyasa 26 Desember 1991 (umur 22) 1 0 Bendera Indonesia Persija Jakarta v.  Kuba, 29 March 2014
DF Zulkifli Syukur 3 Mei 1984 (umur 30) 23 0 Bendera Indonesia Mitra Kukar v.  Kamboja, 25 September 2014
DF Supardi Nasir 9 April 1983 (umur 31) 20 0 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Kamboja, 25 September 2014
DF Dedi Gusmawan 18 Februari 1984 (umur 30) 1 0 Bendera Indonesia Mitra Kukar v.  Kamboja, 25 September 2014
DF Victor Pae 7 Februari 1986 (umur 28) 0 0 Bendera Indonesia Persija Jakarta v.  Kamboja, 25 September 2014
DF Ricardo SalampessyINJ 18 Februari 1984 (umur 30) 23 1 Bendera Indonesia Persebaya Surabaya v.  Qatar, 14 Juli 2014
DF Ruben Sanadi 8 Januari 1987 (umur 27) 7 0 Bendera Indonesia Persipura Jayapura v.  Qatar, 14 Juli 2014
DF Achmad Jufriyanto 7 Februari 1987 (umur 27) 8 1 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Qatar, 14 Juli 2014
DF Hasyim Kipuw 9 Mei 1988 (umur 26) 4 0 Bendera Indonesia Persebaya Surabaya v.  Nepal, 25 Juni 2014
DF Novan Sasongko 26 November 1989 (umur 24) 12 0 Bendera Indonesia Semen Padang v. ASEAN ASEAN All-Star, 11 May 2014
DF Diego Muhammad 8 Agustus 1990 (umur 24) 3 0 Bendera Indonesia Mitra Kukar v.  Kuba, 29 March 2014
DF Victor Igbonefo 10 Oktober 1985 (umur 29) 7 0 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Arab Saudi, 5 March 2014
DF Alfin Tuasalamony 13 November 1992 (umur 21) 0 0 Bendera Indonesia Persebaya Surabaya v.  Arab Saudi, 5 March 2014
MF Firman Utina 15 Desember 1981 (umur 32) 60 5 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Kamboja, 25 September 2014
MF Ahmad Bustomi 13 Juli 1985 (umur 29) 27 0 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Kamboja, 25 September 2014
MF Hariono 2 Oktober 1985 (umur 29) 18 1 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Kamboja, 25 September 2014
MF Raphael Maitimo 17 Maret 1984 (umur 30) 16 3 Bendera Indonesia Mitra Kukar v.  Kamboja, 25 September 2014
MF Tony Sucipto 12 Februari 1986 (umur 28) 15 1 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Kamboja, 25 September 2014
MF Zulham Zamrun 19 Februari 1988 (umur 26) 11 2 Bendera Indonesia Mitra Kukar v.  Kamboja, 25 September 2014
MF Hendro Siswanto 12 Maret 1990 (umur 24) 5 0 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Kamboja, 25 September 2014
MF Imanuel Wanggai 23 Februari 1988 (umur 26) 5 0 Bendera Indonesia Persipura Jayapura v.  Qatar, 14 Juli 2014
MF Gerald Pangkali 20 Oktober 1982 (umur 32) 0 0 Bendera Indonesia Persipura Jayapura v.  Nepal, 25 Juni 2014
MF Asri Akbar 29 Januari 1984 (umur 30) 0 0 Bendera Indonesia Sriwijaya v. ASEAN ASEAN All-Star, 11 May 2014
MF Imanuel Padwa 12 Februari 1984 (umur 30) 0 0 Bendera Indonesia Persiram Raja Ampat v. ASEAN ASEAN All-Star, 11 May 2014
MF Muhammad Ridwan INJ 8 Juli 1980 (umur 34) 36 4 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Kuba, 29 March 2014
MF Slamet Nurcahyono 11 Juli 1983 (umur 31) 5 0 Bendera Indonesia Persepam Madura United v.  Kuba, 29 March 2014
MF Manahati Lestusen 17 Desember 1993 (umur 20) 2 0 Bendera Indonesia Persebaya Surabaya v.  Kuba, 29 March 2014
MF Amirul Mukminin 6 Agustus 1984 (umur 30) 1 0 Bendera Indonesia Barito Putera v.  Kuba, 29 March 2014
MF Rizky Pellu 26 Juni 1992 (umur 22) 1 0 Bendera Indonesia Pelita Bandung Raya v.  Kuba, 29 March 2014
MF I Gede Sukadana 18 Oktober 1987 (umur 27) 0 0 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Arab Saudi, 5 March 2014
MF Irsyad Maulana 27 September 1993 (umur 21) 0 0 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Arab Saudi, 5 March 2014
FW Cristian Gonzáles 30 Agustus 1976 (umur 38) 23 11 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Kamboja, 25 September 2014
FW Samsul Arif 14 Januari 1985 (umur 29) 14 1 Bendera Indonesia Arema Cronous v.  Kamboja, 25 September 2014
FW M. Nur Iskandar 7 Desember 1986 (umur 27) 5 0 Bendera Indonesia Semen Padang v.  Kamboja, 25 September 2014
FW Anindito Wahyu 13 April 1988 (umur 26) 2 0 Bendera Indonesia Mitra Kukar v.  Kamboja, 25 September 2014
FW Irfan Bachdim 11 Agustus 1988 (umur 26) 26 7 Bendera Jepang Ventforet Kofu v.  Malaysia, 14 September 2014
FW Ferdinand Sinaga 18 September 1988 (umur 26) 7 0 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Qatar, 14 Juli 2014
FW Tantan 6 Agustus 1982 (umur 32) 3 0 Bendera Indonesia Persib Bandung v.  Nepal, 25 Juni 2014
FW Talaohu Musafri 19 Februari 1982 (umur 32) 10 1 Bendera Indonesia Pelita Bandung Raya v. ASEAN ASEAN All-Star, 11 May 2014
FW Greg Nwokolo 3 Januari 1986 (umur 28) 6 1 Bendera Indonesia Persebaya Surabaya v.  Andorra, 26 March 2014
Notes

INJ Pemain mengundurkan diri dari skuat karena cedera.

Pemain Terkenal[sunting | sunting sumber]

Penampilan Terbanyak[sunting | sunting sumber]

# Pemain Karier Penampilan Gol
1 Bambang Pamungkas 1999–2012 85 37
2 Soetjipto Soentoro 1965-1970 68 57
3 Ponaryo Astaman 2003–2010 61 2
4 Kurniawan Dwi Yulianto 1995–2005 60 31
= Hendro Kartiko 1996–2011 57 0
6 Bima Sakti 1995–2001 56 11
7 Widodo C Putro 1991–1999 55 15
8 Robby Darwis 1987–1997 53 6
= Ismed Sofyan 2000-2009 53 3
= Agung Setyabudi 1993–2004 53 1

* Bambang Pamungkas caps (gol) 88 (42) termasuk pertandingan non-FIFA (etc. melawan Klub dan Timnas U-23).

Pencetak gol terbanyak[sunting | sunting sumber]

# Nama Karier Gol (penampilan) Rata/Pertandingan
1 Soetjipto Soentoro 1965–1970 57 (68) 0.49
2 Bambang Pamungkas 1999–sekarang 36 (77) 0.47
3 Kurniawan Dwi Yulianto 1995–2005 31 (60) 0.52
4 Rocky Putiray 1991–2004 17 (41) 0.41
5 Budi Sudarsono 2001–2009 16 (46) 0.35
6 Widodo C. Putro 1991–1999 15 (55) 0.27
7 Fachry Husaini 1988–1997 13 (42) 0.31
= Uston Nawawi 1997–2004 13 (43) 0.30
= Ilham Jayakesuma 2004–2007 13 (18) 0.72
10 Zaenal Arif 2002–2007 12 (22) 0.55
11 Bima Sakti 1995–2001 11 (56) 0.2

* Bambang Pamungkas caps (gol) 88 (42) termasuk pertandingan non-FIFA (etc. melawan Klub dan Timnas U-23).

Kapten[sunting | sunting sumber]

Pemain Periode
Achmad Nawir 1938
Maulwi Saelan 1956
Soetjipto Soentoro 1965-1970
Iswadi Idris 1970-1971
Anwar Ujang 1971-1974
Iswadi Idris 1974-1980
Ronny Pattinasarany 1980-1985
Herry Kiswanto 1985–1987
Ricky Yacobi 1987–1990
Ferril Raymond Hattu 1991–1992
Robby Darwis 1993–1995
Sudirman 1996
Robby Darwis 1997
Aji Santoso 1998–2000
Bima Sakti 2001
Agung Setyabudi 2002-2004
Ponaryo Astaman 2004-2008
Charis Yulianto 2008–2010
Firman Utina 2010–2011
Bambang Pamungkas 2011–2012
Syamsidar 2012
Elie Aiboy 2012-2013
Boaz Solossa 2013-sekarang

Rekor turnamen[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Data pertandingan Indonesia di RSSF
  2. ^ Data pertandingan Indonesia di RSSF
  3. ^ Mimpi Manis Piala Dunia 1938, Kompasiana.com
  4. ^ Een historische voetbalreis
  5. ^ Kisah Indonesia di Piala Dunia, Vivanews.com
  6. ^ "The Bung Karno Sports Complex: Jakarta’s Sports, Conventions and Entertainment Center". Wonderful Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. 2012. Diakses 6 Desember 2012. 
  7. ^ "Fixtures Results". FIFA. Diakses 5 December 2010. 
  8. ^ "Head-to-Head Search". FIFA. Diakses 2 December 2010. 
  9. ^ "Head-to-Head Indonesia vs Andorra". FIFA. Diakses 16 August 2013. 
  10. ^ "Head-to-Head Indonesia vs Autralia". FIFA. Diakses 16 August 2013. 
  11. ^ "Head-to-Head Indonesia vs Bahrain". FIFA. Diakses 16 August 2013. 
  12. ^ "Head-to-Head Indonesia vs Bangladesh". FIFA. Diakses 16 August 2013. 
  13. ^ "Head-to-Head Indonesia vs Bhutan". FIFA. Diakses 16 August 2013. 
  14. ^ "Head-to-Head Indonesia vs Bosnia-Herzegovina". FIFA. Diakses 16 August 2013. 
  15. ^ "Pelatnas Oktober TImnas Indonesia Hanya Diikuti Sebelas Pemain". goal.com. PSSI. Diakses 7 October 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Penghargaan dan prestasi
Didahului oleh:
tidak ada
Kejuaraan Sepak Bola ASEAN
Peringkat 4

1996
Diteruskan oleh:
 Thailand
Didahului oleh:
 Vietnam
Kejuaraan Sepak Bola ASEAN
Peringkat 3

1998
Diteruskan oleh:
 Malaysia
Didahului oleh:
 Vietnam
Kejuaraan Sepak Bola ASEAN
Peringkat 2

2000-2004
Diteruskan oleh:
 Thailand
Didahului oleh:
 Malaysia
Kejuaraan Sepak Bola ASEAN
Peringkat 4

2008
Diteruskan oleh:
 Filipina
Didahului oleh:
 Thailand
Kejuaraan Sepak Bola ASEAN
Peringkat 2

2010
Diteruskan oleh:
 Thailand