Kota Pontianak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kota Pontianak
Kalimantan 1rightarrow blue.svg Kalimantan Barat
Tugu Khatulistiwa di Kota Pontianak
Tugu Khatulistiwa di Kota Pontianak
Lambang Kota Pontianak
Lambang
Kota Pontianak is located in Indonesia
Kota Pontianak
Lokasi Kota Pontianak di Pulau Kalimantan
Koordinat: 0°01′LS 109°20′BT / 0,02°LS 109,34°BT / -0.02; 109.34
Negara  Indonesia
Hari jadi 23 Oktober 1771
Dasar hukum UU Darurat No. 3 Tahun 1953
UU No. 27 Tahun 1959
Koordinat 0° 02' 24" LU – 0° 01' 37" LS
109° 16' 25" – 109° 23' 04" BT
Pemerintahan
 • Walikota H. Sutarmidji, S.H., M.Hum.
Populasi (2010)[1]
 • Total 554.764 jiwa
 • Kepadatan 5.145/km2 (13,330/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Tionghoa (31,2%), Melayu (26,1%), Bugis (13,1%), Jawa (11,7%), Madura (6,4%), Dayak.[2]
 • Agama Islam (75,4%), Buddha (12%), Katolik (6,1%), Protestan (5%), Konghucu (1,3%), Hindu (0,1%).
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode telepon +62 561
Kecamatan 6
Desa/kelurahan 29
Situs web www.pontianakkota.go.id

Kota Pontianak adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat di Indonesia. Kota ini juga dikenal dengan nama 坤甸 (Pinyin: Kūndiàn) oleh etnis Tionghoa di Pontianak.

Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu, Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang membelah kota disimbolkan di dalam logo Kota Pontianak.

Asal nama[sunting | sunting sumber]

Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu ini dipercaya ada kaitannya dengan kisah Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masa pendirian[sunting | sunting sumber]

Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami' (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur.[4]

Sejarah pendirian menurut V.J. Verth[sunting | sunting sumber]

Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, V.J. Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini.

Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), meninggalkan Kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Di wilayah Banjarmasin, ia menikah dengan adik sultan Banjar Sunan Nata Alam dan dilantik sebagai Pangeran. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan Sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur. Wilayah inilah yang kini bernama Pontianak.

Kolonialisme Belanda dan Jepang[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.[4]

Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda yang kemudian menjadi kedudukan pemerintahan Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Barat) dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asisten Residen Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya menjadi Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau Hoofd Plaatselijk Bestuur van Pontianak.[4]

Assistent Resident het Hoofd der Afdeeling van Pontianak (semacam Bupati Pontianak) mendirikan Plaatselijk Fonds. Badan ini mengelola eigendom atau kekayaan Pemerintah dan mengurus dana pajak. Plaatselijk Fonds kemudian berganti nama menjadi Shintjo pada masa kependudukan Jepang di Pontianak.[4]

Masa Stadsgemeente[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai stadsgemeente. R. Soepardan ditunjuk menjadi syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal tahun 1948 dan kemudian digantikan oleh Ads. Hidayat.[4]

Kemudian, pusat PPD ini dipindahkan ke Pontianak yang awalnya berasal dari Sanggau pada 1 November 1945[5] dan menjadi suatu wadah kebangkitan Dayak pada 3 November 1945, sekitar 74 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Masa pemerintahan kota[sunting | sunting sumber]

Pembentukan stadsgerneente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan Undang-undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949 No. 40/1949/KP. Dalam undang-undang ini disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah kota Pontianak, sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak. Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi walikota Pontianak.[4]

Masa kota praja[sunting | sunting sumber]

Sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan Landschap Gemeente, ditingkatkan menjadi kota praja Pontianak. Pada masa ini urusan pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah.[4]

Masa kotamadya dan kota[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Kota Praja Pontianak diubah dengan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1957, Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 Tahun 1964 dan Undang-undang No. 18 Tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak, kemudian dengan Undang-undang No.5 Tahun 1974, nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak.[4]

Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah di Daerah mengubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak, sebutan Kotamadya Potianak diubah kemudian menjadi Kota Pontianak.[4]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kota Pontianak dipimpin oleh seorang wali kota. Saat ini Walikota Pontianak dijabat oleh H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. dengan Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T. sebagai wakilnya. Keduanya dilantik pada 23 Desember 2014 setelah, dengan dukungan lima partai politik (PDI-P, PKS, PPP, PAN, dan PKPB), memenangkan 52,7% suara pada Pemilukada 2013 lalu, mengalahkan lima pasangan kandidat lainnya.[6] Hingga kini Kota Pontianak pernah dipimpin oleh:[4]

No. Nama Status Wilayah Tahun Pemerintahan
1 R. Soepardan Syahkota Pontianak 1947–1948
2 Ads. Hidayat Burgemester Pontianak 1948–1950
3 Ny. Rohana Muthalib Burgemester Pontianak 1950–1953
4 Soemartoyo Kotapraja 1953–1957
5 A. Muis Amin Kotapraja/Kotamadya Pontianak 1957–1967
6 Siswoyo Kotamadya Pontianak 1967–1973
7 Muhammad Barir, S.H. Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1973–1978
8 T.B. Hisny Halir Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1978–1983
9 H. A. Majid Hasan Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1983–1993
10 R.A. Siregar, S.Sos. Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak 1993–1999
11 dr. H. Buchary Abdurrachman Kota Pontianak 1999–2008
12 H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. Kota Pontianak 2008–sekarang

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Gedung DPRD Kota Pontianak

DPRD Kota Pontianak terdiri atas 45 anggota. Berdasarkan Pemilihan Umum 2014, DPRD Kota Pontianak terdiri dari 45 anggota yang enam di antaranya merupakan perempuan. Ke-45 anggota itu berasal dari sebelas partai politik yang tergabung ke dalam sembilan fraksi. Saat ini, DPRD Kota Pontianak diketuai oleh Satarudin yang berasal dari PDI Perjuangan.[7][8]

DPRD Kota Pontianak 2014-2019[7]
Fraksi Partai Kursi
Fraksi PDI-P PDIPLogo.png PDI Perjuangan 6
Fraksi NasDem Partai NasDem.svg Partai NasDem 6
Fraksi Golkar Logo GOLKAR.jpg Partai Golkar 5
Fraksi PAN Logo Partai Amanat Nasional.jpg PAN 5
Fraksi PKB Pkb.jpg PKB 5
Fraksi Gerindra Gerindra.jpg Partai Gerindra 4
Fraksi PPP PPP.gif PPP 4
Fraksi Kebangkitan Hati Nurani HANURA.jpg Partai Hanura 3
Bulan Bintang.jpg PBB 2
Fraksi Demokrat Perubahan DEMOKRAT.gif Partai Demokrat 3
Logo PKPI.jpg PKPI 2
Jumlah 45

Geografi dan pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Pembagian administratif Kota Pontianak

Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,1 sampai 1,5 meter diatas permukaan laut. Kota dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan.

Struktur tanah kota merupakan lapisan tanah gambut bekas endapan lumpur Sungai Kapuas. Lapisan tanah liat baru dicapai pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut. Kota Pontianak termasuk beriklim tropis dengan suhu tinggi (28-32 °C dan siang hari 30 °C).

Rata–rata kelembaban nisbi dalam daerah Kota Pontianak maksimum 99,58% dan minimum 53% dengan rata–rata penyinaran matahari minimum 53% dan maksimum 73%.[9]

Besarnya curah hujan di Kota Pontianak berkisar antara 3.000–4.000 mm per tahun. Curah hujan terbesar (bulan basah) jatuh pada bulan Mei dan Oktober, sedangkan curah hujan terkecil (bulan kering) jatuh pada bulan Juli. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan berkisar 15 hari.[9]

Secara administratif, kota Pontianak dibagi atas enam kecamatan, yaitu Pontianak Selatan, Pontianak Timur, Pontianak Barat, Pontianak Utara, Pontianak Kota, dan Pontianak Tenggara, yang kemudian dibagi lagi menjadi 29 kelurahan.

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, penduduk Kota Pontianak berjumlah 554.764 jiwa, terdiri dari 277.971 (50,1%) laki-laki dan 276.793 (49,9%) perempuan.[10]

Suku bangsa penduduk Kota Pontianak terdiri dari Cina (31,2%), Melayu (26,1%), Bugis (13,1%), Jawa (11,7%), Madura (6,4%), Dayak, dan lainnya.[2]

Sebagian besar penduduk memeluk agama Islam (75,4%), sisanya memeluk agama Buddha (12%), Katolik (6,1%), Protestan (5%), Konghucu (1,3%), Hindu (0,1%), dan lainnya (0,1%).[1]

Hampir seluruh penduduk Kota Pontianak memahami dan menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Namun bahasa ibu masing-masing juga umum digunakan, antara lain Bahasa Melayu Pontianak, Bahasa Tiociu, Bahasa Khek, dan bahasa daerah lainnya.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Tanaman lidah buaya yang kini gencar diproduksi di Kota Pontianak
Matahari Mal, mal pertama di Kota Pontianak

Sebagian besar perekonomian kota Pontianak bertumpu pada industri, pertanian, dan perdagangan.

Perindustrian[sunting | sunting sumber]

Jumlah perusahaan industri besar dan sedang di Kota Pontianak yang telah terdata selama tahun 2005 adalah 34 perusahaan. Tenaga kerja yang diserap oleh perusahaan industri tersebut berjumlah 3.300 orang yang terdiri dari pekerja produksi 2.700 orang dan pekerja lainnya atau administrasi 600 orang. Perusahaan industri besar atau sedang yang terletak di Kecamatan Pontianak Utara menyerap tenaga kerja terbesar, yaitu 2.952 orang.

Nilai keluaran yang dihasilkan dari perusahaan industri besar atau sedang adalah sebesar 1,51 triliun rupiah, dimana perusahaan industri besar atau sedang yang berada di Kecamatan Pontianak Utara yang didominasi oleh perusahaan industri karet, sedangkan nilai keluaran yang terkecil berasal dari perusahaan yang terdapat di Kecamatan Pontianak Kota, senilai 2,85 miliar Rupiah.

Untuk Nilai Tambah Bruto (NTB) yang diperoleh dari seluruh perusahaan industri besar /sedang di Kota Pontianak selama tahun 2005 adalah sebesar 217,57 miliar Rupiah dan pajak tak langsung yang diperoleh adalah sebesar 462,78 juta Rupiah, sedangkan NTB atas Biaya Faktor yang diperoleh adalah sebesar 217,10 miliar Rupiah.

Jumlah unit usaha industri, tenaga kerja, besarnya nilai investasi dan nilai penjualan dari sentra industri kecil jenis Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) terlihat bahwa sentra industri kecil jenis IHPK terbanyak adalah usaha industri makanan ringan yang terpusat di Kelurahan Sungai Bangkong dengan tenaga kerja yang diserap sebanyak 329 orang, nilai investasinya mencapai 249,50 juta rupiah dan nilai penjualannya sebesar 780,50 juta rupiah. Sedangkan industri anyaman keladi air pada tahun 2005 ini hanya memiliki 16 unit usaha dengan nilai investasi 17,5 juta Rupiah dan nilai penjualan 110 juta Rupiah yang terletak di Tanjung Hulu, Pontianak Timur.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2006, jenis tanaman pangan yang hasilnya paling besar adalah ubi kayu, padi, ubi rambat. Penduduk juga bertani sayuran dan lidah buaya. Tanaman buah-buahan yang banyak ada di Kota Pontianak adalah nangka, pisang, serta nanas.

Perternakan di kota Pontianak terdiri dari sapi (potong dan perah), kambing, babi, dan ayam (ras dan buras).

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Perdagangan merupakan salah satu usaha yang berkembang pesat di Kota Pontianak. Perdagangan modern mulai berkembang pada tahun 2001 dengan berdirinya Mal Matahari Pontianak di Pontianak Kota. Pusat perbelanjaan modern mulai dibangun di berbagai sudut kota, seperti Mal Pontianak dan Ayani Mega Mall Pontianak (Pontianak Selatan). Berbagai perusahaan retail nasional mulai mendirikan usahanya di Pontianak.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Perguruan tinggi negeri dan swasta[sunting | sunting sumber]

Sekolah menengah atas[sunting | sunting sumber]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Waterfront Kota Pontianak
Aksi Naga dan Barongsai saat Imlek di Kota Pontianak

Pariwisata Kota Pontianak didukung oleh keanekaragaman budaya penduduk Pontianak, yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Suku Dayak memiliki pesta syukur atas kelimpahan panen yang disebut Gawai dan masyarakat Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru Imlek, Cap Go Meh, dan perayaan sembahyang kubur (Cheng Beng atau Kuo Ciet) yang memiliki nilai atraktif turis.

Kota Pontianak juga dilintasi oleh garis khatulistiwa yang ditandai dengan Tugu Khatulistiwa di Pontianak Utara. Selain itu kota Pontianak juga memiliki visi menjadikan Pontianak sebagai kota dengan pariwisata sungai.

Pontianak juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Keanekaragaman makanan menjadikan Pontianak sebagai surga kuliner. Makanan yang terkenal antara lain:

  • Air Tahu dan Kembang Tahu, yang dikenal juga dengan susu soya
  • Bakcang (ketan yang dikukus dan diisi daging ayam, sawi asin, kacang tanah, dan ebi, terkadang ditambahkan lauk lainnya)
  • Bakpao (sejenis roti yang diisi dengan kacang hijau, ayam, sapi, atau babi)
  • Bubur Pedas
  • Chai Kwe (semacam pastel berisi bengkuang, kuchai, talas, atau kacang; ada yang dikukus dan ada yang digoreng)
  • Hekeng (daging goreng yang dibuat dari udang)
  • Hu Ju (tahu yang dengan kuah berwarna merah yang asin)
  • Ie atau Jan atau onde-onde (sup manis yang dibuat dari tepung kanji dengan bola-bola kecil berwarna merah dan putih)
  • Ikan asam pedas (sup ikan dengan bumbu asam-pedas)
  • Kaloci atau kue mochi (kue yang dibuat dari tepung kanji dan luarnya diselimuti kacang tanah, wijen, dan gula)
  • Keladi
  • Kengci Kwetiau (kwetiau goreng dengan lauk sayuran)
  • Ki Cang (ketan yang dikukus, digolongkan kue dan cara menikmatinya dengan menaburkan gula)
  • Kuan Chiang (sejenis sosis, berwarna merah kehitaman)
  • Kue Bulan atau Gwek Pia (kue yang diisi dengan kacang hijau)
  • Kwe Cap (sup dengan kulit babi, semacam kwetiau, tahu, kacang, dan kadang-kadang ditambah daging)
  • Kwe Kia Theng (sup dengan isi jeroan babi)
  • Kwetiau (sejenis mie, ada yang goreng dan kuah)
  • Lemang (ketan yang dibakar)
  • Lempok Durian
  • Minuman Lidah Buaya
  • Nasi Ayam (nasi campur dengan kuah khas dengan lauk ayam, babi, sayur asam, dan timun)
  • Nasi Capcai (nasi dengan banyak jenis sayur)
  • Pacri Nanas
  • Pekasam
  • Peng Kang (sejenis lemper, diisi ebi)
  • Pindang
  • Pwe Ki Mue atau bubur pesawat (bubur yang ditambahkan telur, daging babi, dan lemak dengan cita rasa khas)
  • Sambal Goreng Tempoyak
  • Tau Swan (sup kacang hijau ditambah potongan-potongan kue yang digoreng dan mirip kerupuk ca kue)
  • Sio Bi (seperti siomay, namun memiliki cita rasa tersendiri dengan sausnya yang juga berbeda rasanya)
  • Sotong Pangkong
  • Tun Koi (sup sari pati ayam dengan kunyit dan ginseng)
  • Yam Mi (sejenis mie namun sangat kecil dengan lauk khas di atasnya)

Hotel-hotel berbintang yang ada di pusat kota Pontianak adalah:

  • Hotel Aston (*4), Jl. Gajah Mada
  • Hotel Mercure (*4), Jl. A. Yani
  • Hotel Grand Mahkota (*4), Jl. Sidas
  • Hotel Kapuas Palace (*3), Jl. Imam Bonjol
  • Hotel Santika (*3), Jl. Diponegoro
  • Hotel Orchardz Gajah Mada (*3), Jl. Gajah Mada
  • Hotel Orchardz A. Yani (*3), Jl. Perdana
  • Hotel Kini (*3), Jl. Nusa Indah I
  • Hotel Peony (*3), Jl. Gajah Mada
  • Hotel Star (*3), Jl. Gajah Mada
  • Hotel Gajah Mada (*3), Jl. Gajah Mada
  • Hotel Garuda (*3), Jl. Veteran
  • Hotel Kapuas Dharma (*2), Jl. Imam Bonjol
  • Hotel Merpati (*2), Jl. Imam Bonjol
  • Hotel Grand Kartika (*2), Jl. Rahadi Oesman
  • Hotel Borneo, Jl. Merdeka
  • Hotel Orient, Jl. Tanjungpura
  • Hotel Queen, Jl. Hijas
  • Hotel 2000, Jl. Gajah Mada
  • Hotel 95, Jl. Imam Bonjol

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Udara[sunting | sunting sumber]

Kota Pontianak melalui Bandar Udara Internasional Supadio terhubung dengan beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Batam, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Selain itu bandara ini juga mempunyai penerbangan internasional langsung ke Kuching, Kota Kinabalu, Singapura dan Brunei Darusalam. Dari Pontianak juga dapat dilayani penerbangan perintis ke kota kabupaten di Kalimantan Barat seperti Ketapang dan Putussibau. Bandar Udara Supadio terletak di luar Kota Pontianak tepatnya di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Laut dan Sungai[sunting | sunting sumber]

Pelabuhan Pontianak dapat melayani kapal-kapal barang maupun penumpang. Dahulu melalui dermaga ini sering melayani kapal penumpang menuju Jakarta, Ketapang, Landak, Sanggau, dan Putussibau.

Darat[sunting | sunting sumber]

Sistem transportasi darat Kota Pontianak dilayani oleh minibus angkutan kota yang biasa disebut oplet, taksi, dan beberapa rute dilayani oleh bus kota. Sebagian besar rute dalam kota dilayani oleh oplet yang menghubungkan beberapa terminal. Untuk keberangkatan jalan darat ke luar kota dilayani di Terminal Batulayang.

Melalui jalan darat pula dilayani bus antar negara, yakni ke Kuching dan ke Brunei. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan, termasuk DAMRI. Transportasi darat ke Malaysia menjadi mungkin melalui Jalan Lintas Kalimantan. Layanan imigrasi Indonesia-Malaysia dilaksanakan di Entikong, Kabupaten Sanggau.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]