Kerajaan Mempawah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kerajaan Mempawah
کراجاءن ممڤاوه
1740–1950


Lambang

Istana Amantubillah di Mempawah
Ibu kota Mempawah
Bahasa Melayu (resmi), Dayak
Agama Islam
Pemerintahan Monarki
Panembahan
 -  1740–1761 Pangeran Mas Surya Negara
 -  1902–1944 Gusti Muhammad Thaufiq Accamuddin
 -  2002-Sekarang Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim
Sejarah
 -  Berkembangnya Islam 1740
 -  Peristiwa Mandor 1944
 -  Pembubaran Daerah Istimewa Kalimantan Barat 1950

Kerajaan Panembahan Mempawah adalah sebuah kerajaan Islam yang saat ini menjadi wilayah Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Penguasa kerajaan ini bergelar Panembahan (bukan Sultan). Dahulu kalanya Kerajaan Mempawah merupakan bawahan/cabang dari Kerajaan Tanjungpura, namun pada masa kolonial Belanda, pemerintah Hindia Belanda menunjuk Kesultanan Pontianak sebagai wakil Belanda untuk memimpin semua raja-raja di Kalimantan Barat. Karena itu penguasa Mempawah dan 12 raja-raja daerah lainnya bergelar Panembahan dan hanya 2 raja yang bergelar Sultan (gelar ini lebih tinggi daripada gelar Panembahan) yaitu Sultan Pontianak dan Sultan Sambas.

Nama Mempawah diambil dari istilah Mempauh, yaitu nama pohon yang tumbuh di hulu sungai yang kemudian juga dikenal dengan nama Sungai Mempawah[1]. Pada perkembangannya, Mempawah menjadi lekat sebagai nama salah satu kerajaan yang berkembang di Kalimantan Barat. Riwayat pemerintahan adat Mempawah sendiri terbagi atas dua periode, yakni pemerintahan kerajaan Suku Dayak yang berdasarkan ajaran Hindu dan masa pengaruh Islam.

Sistem Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Sistem dan pola pemerintahan cikal-bakal Kerajaan Mempawah, yakni Kerajaan Bangkule Sultankng dan Kerajaan Sidiniang, masih bersumber berdasarkan adat-istiadat setempat, yakni hukum adat yang berlaku pada masyarakat Suku Dayak.[2] Sistem pemerintahan tradisional yang lekat dengan ritual-ritual adat dan kepercayaan kepada hal-hal gaib masih berlaku dalam kehidupan kerajaan yang masih menganut ajaran agama Hindu itu. Pada masa pemerintahan Panembahan Senggaok, sistem pemerintahan tradisional masih dipertahankan meski pengaruh ajaran Islam mulai masuk ke dalam kehidupan kerajaan. Pengaruh Islam di Mempawah semakin kuat pada era kepemimpinan Opu Daeng Menambun yang bertahta sejak tahun 1740. Opu Daeng Menambun berasal dari Kesultanan Luwu yang telah cukup lama menjadi kerajaan bercorak Islam. Pemerintahan Opu Daeng Menambun di Kerajaan Mempawah memadukan antara hukum-hukum adat lama dengan hukum syara yang bersumber pada ajaran agama Islam. Pengaruh hukum-hukum Islam dalam kehidupan pemerintahan Kerajaan Mempawah semakin kuat berkat peran sentral Sayid Habib Husein Alqadrie, seorang penyebar ajaran Islam dari Timur Tengah, tepatnya Hadramaut atau Yaman Selatan.[3]

Daftar pemimpin Mempawah[sunting | sunting sumber]

Masa Suku Dayak Hindu[sunting | sunting sumber]

  1. Patih Gumantar (± 1380)
  2. Raja Kudung (± 1610)
  3. Panembahan Senggaok (± 1680)

Masa Islam[sunting | sunting sumber]

  1. Opu Daeng Menambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara (1740–1761)
  2. Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma (1761–1787)
  3. Syarif Kasim bergelar Panembahan Mempawah (1787–1808)
  4. Syarif Hussein (1808–1820)
  5. Gusti Jati bergelar Sri Paduka Muhammad Zainal Abidin (1820–1831)[4]
  6. Gusti Amin bergelar Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin (1831–1839)
  7. Gusti Mukmin bergelar Panembahan Mukmin Nata Jaya Kusuma (1839–1858)
  8. Gusti Makhmud bergelar Panembahan Muda Makhmud Alauddin (1858)
  9. Gusti Usman bergelar Panembahan Usman (1858–1872)
  10. Gusti Ibrahim bergelar Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin (1872–1892)
  11. Gusti Intan bergelar Ratu Permaisuri (1892–1902)
  12. Gusti Muhammad Thaufiq Accamuddin (1902–1944)
  13. Gusti Mustaan (1944–1955); diangkat oleh Jepang
  14. Gusti Jimmi Muhammad Ibrahim Bergelar Panembahan XII (1955-2002)
  15. Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim bergelar Panembahan XIII (2002–sekarang)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ J.U. Lontaan, 1975:125
  2. ^ Umberan, et.al, 1996-1997:18
  3. ^ Yahya, 1999:224
  4. ^ (Belanda) van Eysinga, Philippus Pieter Roorda (1841). Handboek der land- en volkenkunde, geschiedtaal-, aardrijks- en staatkunde von Nederlandsch Indie 3. Van Bakkenes. hlm. 177.