Kerajaan Batulicin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Daerah Lansekap Batulicin yang berwarna kuning

Kerajaan Batoe Litjin atau menurut ejaan sekarang Kerajaan Batu Licin adalah kerajaan pecahan dari kerajaan Tanah Bumbu.[butuh rujukan] Wilayah Batu Licin mencakup Daerah Aliran Sungai Batulicin serta daerah sekitarnya, yaitu wilayah kecamatan Batulicin sebelum dimekarkan menjadi 4 kecamatan : Batulicin, Simpang Empat, Karang Bintang dan Mentewe.

Penguasa pertama kerajaan Batulicin adalah Ratu Intan I anak kandung Ratu Mas.[1] Ratu Mas bin Pangeran Mangu adalah penguasa terakhir kerajaan Tanah Bumbu sebelum dipecah menjadi beberapa wilayah kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan Tanah Bumbu didirikan oleh Pangeran Dipati Tuha (Raden Basus) putera Sultan Saidullah, raja Banjar. Pada Tahun 1870 wilayah kerajaan Tanah Bumbu dibagikan kepada anak kandung dan anak-anak tiri Ratu Mas yaitu Pangeran Prabu dan Ratu Intan I. Pangeran Prabu memperoleh wilayah utara yang berpusat di negeri/Kerajaan Bangkalaan, sedangkan wilayah selatan (Cantung dan Batulicin) diberikan kepada Ratu Intan I.[2] Pada 4 Mei 1826, Sultan Adam (raja Banjar) menyerahkan wilayah Batulicin kepada Hindia Belanda.

Sejak tahun 1860[butuh rujukan] wilayah Kerajaan Batoe Litjin menjadi suatu wilayah pemerintahan swapraja yang dikepalai seorang bumiputera bagian dari Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda di bawah kekuasaan Asisten Residen GH Dahmen yang berkedudukan di Samarinda. Pemerintah daerah swapraja tersebut dikuasakan kepada seorang kepala bumiputera yaitu Pangeran Syarif Hamid, seorang Arab dari Batavia, bukan keturunan Sultan Banjar. Atas perintah Belanda, Pangeran Syarif Hamid inilah yang berhasil menangkap Demang Lehman, salah seorang pemimpin Perang Banjar-Barito.

Batoe Litjin dan negeri-negeri lainnya dalam wilayah Tanah Bumbu merupakan daerah-daerah landschap dalam Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178. Pada masa Republik Indonesia Serikat, wilayah ini termasuk ke dalam Dewan Pagatan bagian dari Federasi Kalimantan Tenggara.[butuh rujukan] Sekarang wilayah swapraja ini menjadi kecamatan Simpang Empat, Batulicin, Mentewe, Karang Bintang. Batulicin sekarang merupakan ibukota dari Kabupaten Tanah Bumbu. Wilayah Kabupaten Tanah Bumbu tidak sama dengan wilayah bekas Kerajaan Tanah Bumbu.

Kepala Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

  1. Ratu Intan I anak dari Ratu Mas bin Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha, menjadi Ratu Cantung dan Batulicin (1780-1800). Ratu Intan I menikah dengan Sultan Anom IV Aji Dipati dari Kesultanan Pasir, tetapi tidak memiliki keturunan.
  2. Raja Gusti Besar binti Pangeran Prabu (1820-1825) sebagai Raja Bangkalaan, Sampanahan, Manunggul, Cengal, Cantung, Batulicin. Raja Gusti Besar berkedudukan di Cengal. Cantung dan Batulicin merupakan warisan dari bibinya yaitu Ratu Intan I yang tidak memiliki keturunan. Gusti Besar menikahi Aji Raden. Sultan Sulaiman dari Pasir menyerbu dan mengambil Cengal, Manunggul, Bangkalaan, dan Cantung, tetapi kemudian dapat direbut kembali.
  3. Pangeran Muhammad (keturunan Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah), berkedudukan di Sela Selilau.
  4. Pangeran Haji Musa bin Pangeran Muhammad, sebagai Raja Batulicin dan Bangkalaan (1832).[3] Ia mangkat tahun 1840. Pangeran Haji Musa menikahi puteri Sultan Sulaiman yaitu Ratu Salamah yang digelari Ratu Haji Musa.
  5. Pangeran Panji bin Pangeran Musa
  6. Aji Landasan binti Raja Aji Jawi (isteri Pangeran Panji, tidak memiliki keturunan)
  7. Daing Magading (suami Aji Landasan, tidak memiliki keturunan, saudara Arung Botto)
  8. Pangeran Muhammad Nafis bin Pangeran Haji Musa.
  9. Pangeran Abdul Kadir bin Pangeran Aji Musa, dikenal sebagai Raja Kusan, Batulicin, Pulau Laut (1845-1860).[4]
  10. Pangeran Syarif Hasyim al-Qudsi (1860-1864), berkedudukan di Batulicin[5]
  11. Pangeran Syarif Hamid, memerintah mulai tanggal 13 Juni 1866.[6]
  12. Pangeran Syarif Thoha (1883-1885) sebagai Raja Batulicin, kemudian juga menjadi Raja Pagatan dan Kusan. Ia menikah dengan Mutajeng puteri La Paliweng Arung Abdul Rahim, Raja Pagatan dan Kusan sebelumnya.
  13. Pangeran Syarif Ahmad
KESULTANAN BANJAR
(Tanah Bumbu, Kotawaringin, Kusan)


SULTAN BANJAR
  • Sultan Muhammadillah

KEPANGERANAN KUSAN
Raja Kusan 1 (1785-1789)[7]

SULTAN BANJAR
  • Sultan Saidullah

KEPANGERANAN TANAH BUMBU
(Sampanahan, Bangkalaan, Cengal, Manunggul, Cantung, Buntar Laut, Batulicin )
Raja Tanah Bumbu 1

  • ♂ Pangeran Dipati Tuha (anak/ipar Sultan Saidullah - raja Banjar)

Raja Tanah Bumbu 2

  • ♂ Pangeran Mangu (anak Pangeran Dipati Tuha)

Raja Tanah Bumbu 3

KEPANGERANAN BATULICIN
Raja Cantung 1/Batulicin 1

Raja Cantung 2/Batulicin 2

  • ♀ Raja Gusti Besar (keponakan Ratu Intan I)

Raja Batulicin

  • ♂ Pangeran Kassir bin Sultan Sulaiman


VORST VAN KOESAN, BATOE LITJIN EN BANGKALAAN
(PANGERAN KUSAN, BATU LICIN DAN BANGKALAAN)
Raja Kusan 2, Raja Batulicin (1832-1840) dan Raja Bangkalaan 6 (1838-1840)


Raja Kusan 3
  • ♂ Pangeran Muhammad Nafis bin Pangeran Aji Musa Raja Bangkalaan (1840-1845), mangkubumi Gusti Jamaluddin

Raja Kusan 4 dan Raja Pulau Laut 1[8]

  • ♂ Pangeran Jaya Sumitra bin Pangeran Aji Musa (sejak 1845), mangkubumi Pangeran Abdoel Kadir
Daftar Raja Batulicin
  • ♂ Pangeran Panji bin Pangeran Haji Musa
  • ♀ Aji Landasan binti Raja Aji Jawi (isteri alm. Pangeran Panji)
  • ♂ Daing Magading (suami alm. Aji Landasan)
  • ♂ Pangeran Muhammad Nafis bin Pangeran Haji Musa


VORST VAN KOESAN, BATOE LITJIN EN POELOE LAUT
(PANGERAN KUSAN, BATU LICIN DAN PULAU LAUT)
Raja Kusan 5, Raja Batulicin, dan Raja Pulau Laut 2


HOOFD VAN POELOE LAUT

(KEPALA WILAYAH PULAU LAUT)

  • Raja Pulau Laut 2: ♂ Pangeran Abdoel Kadir bin Pangeran Haji Musa (1 Januari 1861-1873)[10]
  • Raja Pulau Laut 3: ♂ Pangeran Berangta Kasuma bin Pangeran Abdoel Kadir (1873-1881)
  • Raja Pulau Laut 4: ♂ Pangeran Amir Husin Kasuma bin Pangeran Berangta Kasuma(1881-1900)
  • Raja Pulau Laut 5: ♂ Pangeran Abdurrahman Kasuma bin Berangta Kasuma (10 Januari 1900 - 7 Januari 1903)
  • Raja Pulau Laut 6: ♂ Pangeran M. Aminullah Kasuma bin Pg. Amir Husin Kasuma ( 7 Januari 1903 - 3 April 1903)
HOOFD VAN BATOE LITJIN

(KEPALA WILAYAH BATU LICIN)

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Truhart P., Regents of Nations. Systematic Chronology of States and Their Political Representatives in Past and Present. A Biographical Reference Book, Part 3: Asia & Pacific Oceania, München 2003, s. 1245-1257, ISBN 3-598-21545-2.
  • Arena Wati, Syair Pangeran Syarif Hasyim al-Qudsi (Poem by Raja Ali al-Haji Riau based on the transliteration of Pangeran Syarif Hasyim al-Qudsi's story of working with the Dutch between 1860 to 1864 in Kalimantan Selatan).
  • Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde, Jilid 1, Bataviaasch Genootschap van Kunsten e

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris)Tanah Bumbu (kerajaan)
  2. ^ Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia, Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde, Jilid 1, Lange & Co., 1853
  3. ^ (Indonesia) Mayur, Gusti (1979). Perang Banjar. Rapi. hlm. 123. 
  4. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 31. Lands Drukkery. hlm. 134. 
  5. ^ (Melayu) Syair Pangeran Syarif Hasyim al-Qudsi, Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1989, ISBN 967-942-170-8, 9789679421705
  6. ^ a b (Belanda)Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 44. Lands Drukkery. 1871. hlm. 198. 
  7. ^ http://julakbungsu.blogspot.com/2013/11/kerajaan-kusan-dan-kerajaan-pagatan.html
  8. ^ http://www.bappeda-kotabaru.info/umum/96/
  9. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1862). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 35. Lands Drukkery. hlm. 152. 
  10. ^ a b (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1862). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 36. Lands Drukkery. hlm. 156. 
  11. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1870). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 43. Lands Drukkery. hlm. 181. 
  12. ^ (Belanda) Dienst van den Mijnbouw, Netherlands. Departement van Kolonien, Dutch East Indies (1888). Jaarboek van het mijnwezen in Nederlandsch-Indië 17. J.G. Stemler. 
  13. ^ http://julakbungsu.blogspot.com/2013/11/kerajaan-batulicin.html