Abjad Jawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Abjad Jawi.

Abjad Jawi (Bahasa Arab: جوي Jăwi) (atau Yawi di daerah Patani, Gundhil di daerah Jawa disamping Pegon, Jawoe di daerah Aceh) adalah abjad Arab yang diubah untuk menuliskan Bahasa Melayu. Abjad ini digunakan sebagai salah satu dari tulisan resmi di Brunei, dan juga di Malaysia, Indonesia, Patani dan Singapura untuk keperluan religius.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata "Jawi" (جاوي) adalah sebuah kata sifat untuk kata benda Jawah Arab (جاوة). Kedua istilah mungkin berasal dari istilah "Javadwipa", nama kuno untuk Jawa. "Jawah" dan "Jawi" mungkin telah digunakan oleh orang Arab sebagai catch-all istilah dalam mengacu pada Tenggara Maritim seluruh Asia tenggara dan rakyatnya,[1] mirip dengan jenis pemahaman oleh orang Eropa kemudian ketika menamakan istilah Kepulauan Melayu dan Suku Melayu dengan Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa) dan Suku Jawa.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Palang jalan bertuliskan Jawi di Pekanbaru, Riau

Kemunculannya berkait secara langsung dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara. Abjad ini didasarkan pada abjad Arab dan digunakan untuk menuliskan ucapan Melayu. Dengan demikian, tidak terhindarkan adanya tambahan atau modifikasi beberapa huruf untuk mengakomodasi bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab (misalnya ucapan /o/, /p/, atau /ŋ/).

Bukti terawal tulisan Jawi ini berada di Malaysia dengan adanya Prasasti Terengganu yang bertarikh 702 Hijriah atau abad ke-14 Masehi (Tarikh ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka). Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain: (20 sampai 29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326M atau 1386M.

Abjad Jawi adalah salah satu dari abjad pertama yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu, dan digunakan sejak zaman Kerajaan Pasai, sampai zaman Kesultanan Malaka, Kesultanan Johor, dan juga Kesultanan Aceh serta Kesultanan Patani pada abad ke-17. Bukti dari penggunaan ini ditemukan di Batu Bersurat Terengganu, bertarikh 1303 Masehi (atau 702H pada Kalendar Islam). Penggunaan alfabet Romawi pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-19. Abjad Jawi merupakan tulisan resmi dari Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu pada zaman kolonialisme Britania.

Zaman dahulu, abjad Jawi memainkan peranan penting dalam masyarakat. Abjad ini digunakan sebagai media perantara dalam semua urusan tata usaha, adat istiadat, dan perdagangan. Sebagai contoh, huruf ini digunakan juga dalam perjanjian-perjanjian penting antara pihak raja Melayu dengan pihak Portugis, Belanda, atau Inggris. Selain itu, pernyataan kemerdekaan 1957 bagi negara Malaysia sebagian juga tertulis dalam aksara Jawi.

Sekarang abjad ini digunakan untuk urusan kerohanian dan tata usaha budaya Melayu di Terengganu, Kelantan, Kedah, Perlis, dan Johor. Orang-orang Melayu di Patani masih menggunakan abjad Jawi sampai saat ini.

Huruf Jawi[sunting | sunting sumber]

Karakter Berdiri Sendiri Awal Tengah Akhir Nama
ا     alif
ب ba
ت ta
ث tsa
ج jim
ح ha
چ ca
خ kha
د     dal
ذ     dzal
ر     ra
ز     zai
س sin
ش syin
ص ṣad
ض ﺿ ḍad
ط ṭhad
ظ ẓhad
ع 'ain
غ ghain
ڠ ڠ ڠـ ـڠـ ـڠ nga
ف fa
ڤ pa
ق qaf
ك ك كـ ـكـ ـك kaf
ڬ ڬ ڬـ ـڬـ ـڬ gaf
ل lam
م mim
ن nun
ڽ ڽ ڽـ ـڽـ ـڽ nya
و     wau
ۏ ۏ     ۏ va
ھ ھ ھـ ـھـ ـھ ha
ي ya

Huruf yang diabu-abukan merupakan rekaan yang hanya didapati dalam bahasa Melayu dan tidak dijumpai di huruf Arab yang sejatinya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • H.S. Paterson (& C.O. Blagden), 'An early Malay Inscription from 14th-century Trengganu', Journ. Mal. Br.R.A.S., II, 1924, pp. 258-263.
  • R.O. Winstedt, A History of Malaya, revised ed. 1962, p. 40.
  • J.G. de Casparis, Indonesian Paleography, 1975, p. 70-71.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]