Kereta api Mutiara Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Papan Nama Kereta (20).PNG
Kereta api Mutiara Timur
Muttim 86.jpg
Mutiara Timur masuk stasiun Garahan ditarik CC203 95 07
Info
Kelas Eksekutif dan Bisnis
Sistem Kereta api ekspress
Status Beroperasi
Lokal Daop 9 Jember
Stasiun terminus Surabaya Gubeng
Banyuwangi Baru
Jumlah stasiun 14-15
Rute pelayanan 2 (Siang dan Malam)
Nomor KA 85-88
Operasional
Dibuka 1972
Dibuka kembali 7 April 1996 (layanan baru)
Pemilik PT Kereta Api Indonesia
Operator Daerah Operasi IX Jember
Dipo Banyuwangi (BW)
Lokomotif CC 201, CC 203, CC204, BB304
Teknis
Jarak tempuh 308 km
Lebar trek 1067 mm
Kecepatan operasi 30 s.d. 80 km/jam

Kereta api Mutiara Timur adalah nama kereta api yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia di Jawa yang melayani rute Surabaya Gubeng - Banyuwangi Baru PP. Kereta ini merupakan satu-satunya kereta elit yang dioperasikan PT KAI Daop IX Jember sampai saat ini.

Kereta api Mutiara Timur dioperasikan pertama kali pada tahun 1972 dengan menawarkan layanan kelas ekonomi dan bisnis. Sejak tanggal 7 April 1996 diluncurkan layanan baru dengan menggantinya menjadi kelas bisnis dan eksekutif. Kereta api ini sengaja dirancang ulang untuk kelas bisnis dan eksekutif yang menginginkan perjalanan ke Pulau Bali dan sebaliknya. Kereta ini menempuh koridor Surabaya-Banyuwangi dengan jarak 308 km, ditempuh dalam waktu sekitar 6,5 jam.

Rangkaian kereta api ini terdiri dari kereta kelas eksekutif, kereta makan (biasanya KMP2 atau MP2), kereta kelas bisnis, dan kereta bagasi. Dalam perjalanannya kereta api ini berhenti di Stasiun Surabaya Gubeng, Sidoarjo, Bangil, Pasuruan (hanya KA 85), Probolinggo, Tanggul, Rambipuji, Jember, Kalisat, Kalibaru, Kalisetail, Temuguruh, Rogojampi, Karangasem, dan Banyuwangi.

Tarif untuk kelas eksekutif antara Rp 75.000,00-Rp300.000,00 dan untuk kelas bisnis antara Rp60.000,00-Rp200.000,00, bergantung pada jarak tempuh, subkelas/posisi tempat duduk di dalam kereta, serta hari-hari tertentu seperti akhir pekan dan libur nasional.

Menuju Pulau Bali[sunting | sunting sumber]

Untuk penumpang yang akan meneruskan perjalanan dari Banyuwangi ke Denpasar dan sebaliknya disediakan Bus Damri eksekutif sebagai bagian dari pelayanan yang disajikan oleh PT KAI. Setiap harinya terdapat dua alternatif perjalanan kereta api dari Surabaya - Banyuwangi dan dari arah sebaliknya dengan jadwal pemberangkatan pada pagi.

Jadwal Perjalanan (per 1 Juni 2014)[sunting | sunting sumber]

Rute Surabaya Gubeng - Banyuwangi

Stasiun KA 85 Mutiara Timur Siang KA 87 Mutiara Timur Malam
Kedatangan Keberangkatan Kedatangan Keberangkatan
Surabaya Gubeng - 09.00 - 22.10
Sidoarjo 09.23 09.25 22.35 22.37
Bangil 09.47 09.52 23.00 23.05
Pasuruan 10.09 10.11 Ls 23.22
Probolinggo 10.55 11.01 00.06 00.11
Tanggul 12.04 12.10 01.15 01.19
Rambipuji 12.29 12.31 01.39 01.41
Jember 12.43 12.51 01.54 02.02
Kalisat 13.11 13.13 02.22 02.24
Kalibaru 14.00 14.03 03.11 03.14
Kalisetail 14.25 14.27 03.35 03.37
Temuguruh 14.37 14.39 03.47 03.49
Rogojampi 14.50 14.52 04.00 04.02
Karangasem 15.04 15.08 04.14 04.16
Banyuwangi 15.20 - 04.28 -

Rute Banyuwangi - Surabaya Gubeng (tidak berhenti di Pasuruan)

Stasiun KA 86 Mutiara Timur Siang KA 88 Mutiara Timur Malam
Kedatangan Keberangkatan Kedatangan Keberangkatan
Banyuwangi - 09.00 - 22.00
Karangasem 09.13 09.15 22.13 22.17
Rogojampi 09.27 09.29 22.29 22.31
Temuguruh 09.40 09.42 22.42 22.44
Kalisetail 09.52 09.54 22.54 22.56
Kalibaru 10.15 10.19 23.18 23.21
Kalisat 11.04 11.06 00.07 00.09
Jember 11.25 11.33 00.28 00.36
Rambipuji 11.45 11.47 00.48 00.50
Tanggul 12.08 12.12 01.09 01.17
Probolinggo 13.15 13.20 02.20 02.25
Bangil 14.21 14.29 03.26 03.31
Sidoarjo 14.52 14.56 03.54 03.59
Surabaya Gubeng 15.21 - 04.25 -

Keterangan: Ls = berjalan langsung/tidak berhenti.

Insiden[sunting | sunting sumber]

  • Pada tanggal 11 Juni 2014 kereta api Mutiara Timur bertabrakan dengan truk Mitsubishi Fuso nopol L 8981 UX di perlintasan Jalan Jemursari, Surabaya. Akibatnya, perjalanan menuju Banyuwangi dialihkan melalui rute lain, yakni melalui stasiun Tarik. Akibatnya lokomotif dan gerbong logistik (bagasi) anjlok.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]