Kleopatra

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Cleopatra)
Lompat ke: navigasi, cari
Kleopatra VII Filopator
Berlin Cleopatra, sebuah patung dada Romawi dari Kleopatra VII mengenakan diadem kerajaan, pertengahan abad ke-1 SM (sekitaran waktu kunjungannya ke Roma pada 46–44 SM), ditemukan di sebuah villa sepanjang Via Appia; patung dada tersebut sekarang disimpan di Museum Altes, Antikensammlung Berlin.[1][2][3][note 1]
Berlin Cleopatra, sebuah patung dada Romawi dari Kleopatra VII mengenakan diadem kerajaan, pertengahan abad ke-1 SM (sekitaran waktu kunjungannya ke Roma pada 46–44 SM), ditemukan di sebuah villa sepanjang Via Appia; patung dada tersebut sekarang disimpan di Museum Altes, Antikensammlung Berlin.[1][2][3][note 1]
Ratu Kerajaan Ptolemaik
Berkuasa 51 – 10 atau 12 Agustus 30 SM (21 tahun)[4][note 2]
Pendahulu Ptolemi XII Auletes
Pengganti Ptolemi XV Caesarion
Wakil penguasa Ptolemi XII Auletes
Ptolemi XIII Theos Filopator
Ptolemi XIV
Ptolemi XV Caesarion
Lahir 69 SM
Aleksandria, Kerajaan Ptolemaik
Mangkat 10 atau 12 Agustus 30 SM (usia 39 tahun)[note 2]
Aleksandria, Mesir
Pemakaman Tidak diketahui (diyakini di Mesir)
Nama lengkap
Kleopatra VII Thea Philopator
Ayah Ptolemi XII Auletes
Ibu Tidak diketahui, diyakini Kleopatra VI Trifaena (juga dikenal sebagai Kleopatra V Trifaena)[note 3]
Pasangan Ptolemi XIII Theos Philopator
Ptolemi XIV
Markus Antonius
Anak
Kaesarion, Ptolemi XV Filopator Filometor Kaesar
Aleksander Helios
Kleopatra Selene, Ratu Mauretania
Ptolemi XVI Filadelfus
Kleopatra VII dalam hieroglif
Hiero Ca1.svg
q
rw
i wA p A d
r
t A H8
Hiero Ca2.svg
Kleopatra
Qlwpdrt
G5
wr
r
nb nfr nfr nfr H2
x
O22
Srxtail2.svg
Nama Horus (1): Wer(et)-neb(et)-neferu-achet-seh
Wr(.t)-nb(.t)-nfrw-3ḫ(t)-sḥ
Nyonya besar dari kesemurnpaan, sempurna dalam nurani
G5
wr t
r
t
W
t
A53 n
X2 t
z
Srxtail2.svg
Nama Horus (2): Weret-tut-en-it-es
Wr.t-twt-n-jt=s
Orang besar, citra kudus dari ayahnya
Hiero Ca1.svg
q
rw
W
p
d
r
t H8
nTr t
H8
R7
t
z
N36
Hiero Ca2.svg
Cleopatra netjeret mer(et) ites
Qlwpdrt nṯrt mr(t) jts
Dewi Kleopatra yang tercinta dari ayahnya

Kleopatra VII Filopator (Yunani: Κλεοπάτρα Φιλοπάτωρ Cleopatra Philopator;[5] 69 – 10 atau 12 Agustus 30 SM)[note 2] adalah seorang ratu dan penguasa aktif terakhir dari Kerajaan Ptolemaik dari Mesir, secara dingkat disebut oleh Firaun oleh putranya Kaesarion. Ia juga merupakan diplomat, komandan angkatan laut, administrator, linguis,[note 4] dan pengarang pengobatan.[6] Sebagai anggota dinasti Ptolemaik, ia merupakan keturunan pendirinya Ptolemi I Soter, seorang jenderal Makedonia Yunani dan pengikut Aleksander Agung. Setelah kematian Kleopatra, Mesir menjadi sebuah provinsi Kekaisaran Romawi, menandai akhir periode Hellenistik yang telah terjadi sejak masa pemerintahan Aleksander (336–323 SM).[note 5] Bahasa aslinya adalah bahasa Yunani Koine dan ia adalah penguasa Ptolemaik pertama yang mempelajari bahasa Mesir.

Pada 58 SM, Kleopatra sering menemani ayahnya Ptolemi XII pada masa pengasingannya di Roma, setelah sebuah pemberontakan di Mesir yang membolehkan putri sulungnya Berenice IV untuk mengklaim tahta. Berenice IV dibunuh pada 55 SM saat Ptolemi XII pulang ke Mesir dengan bantuan militer Romawi. Saat Ptolemi XII meninggal pada 51 SM, Kleopatra dan adiknya Ptolemi XIII memegang tahta sebagai penguasa bersama, melawan pesaingnya Julius Caesar dalam Perang Saudara Caesar, negarawan Romawi Pompei Agung kabur ke Mesir, sebuah negara klien Romawi. Ptolemi XIII membunuh Pompei saat Caesar merebut Aleksandria atas perintah Pompei. Sebagai konsul Republik Romawi, Caesar berniat untuk merekonsiliasi Ptolemi XIII dengan Kleopatra. Namun, kepala penasehat Ptolemi XIII Poteinos memandang Caesar menyukai Kleopatra, sehingga pasukannya, yang kemudian jatuh di bawah kendali adik Kleopatra Arsinoe IV, mengepung Caesar dan Kleopatra di istana. Pengepungan tersebut diredam pada awal 47 SM dan Ptolemi XIII meninggal tak lama setelah Pertempuran Nil. Arsinoe IV kemudian diasingkan ke Efesus dan Caesar, sekarang seorang diktator terpilih, mendeklarasikan Kleopatra dan adiknya Ptolemi XIV sebagai penguasa bersama Mesir. Namun, Caesar mengutamakan hubungan pribadi dengan Kleopatra yang melahirkan seorang putra, Caesarion (kemudian Ptolemi XV), sebelum ia pergi dari Aleksandria ke Roma. Kleopatra datang ke Roma sebagai ratu klien pada 46 dan 44 SM, singgah di villa Caesar. Saat Caesar dibunuh pada 44 SM, Kleopatra berniat untuk mengangkat Caesarion menjadi pewarisnya, namun tahta tersebut malah jatuh kepada anak keponakan Caesar Oktavianus (dikenal sebagai Augustus pada 27 SM, saat ia menjadi kaisar Romawi pertama). Kleopatra kemudian membunuh Ptolemi XIV dan mengangkat putranya Caesarion sebagai penguasa bersama.

Dalam perang saudara Liberator pada 43–42 SM, Kleopatra brpindah pada Triumvirat Kedua Romawi yang dibentuk oleh Oktavianus, Markus Antoniusm dan Markus Aemilius Lepidus. Setelah pertemuan mereka di Tarsos pada 41 SM, Kleopatra menjalin hubungan dengan Antonius yang kemudian mengkaruniainya tiga anak: anak kembar Aleksander Helios dan Kleopatra Selene II, dan Ptolemi Filadelfus. Antonius memakai otoritasnya sebagai triumvir untuk melakukan eksekusi terhadap Arsinoe IV atas permintaan Kleopatra. Ia menjadi makin akrab dengan Kleopatra untuk bantuan dana dan militr pada invasinya ke Kekaisaran Parthia dan Kerajaan Armenia. Meskipun invasinya ke Parthia gagal, ia berhasil menduduki Armenia, mengirim raja Artavasdes II kembali ke Aleksandria pada 34 SM sebagai tahanan pawai dengan cemoohan kemenangan Romawi yang dipandu oleh Kleopatra. Ini disusul oleh Donasi Aleksandria, sebuah deklarasi resmi bahwa anak-anak Kleopatra dari Antonius akan memerintah atas berbagai kawasan yang berada di bawah otoritas Antonius. Brsama dengan pernikahan Antonius dengan Kleopatra dan perceraiannya dengan Oktavia Minor, saudari Oktavianus, peristiwa tersebut berujung pada Perang Republik Romawi Terakhir. Setelah mengadakan perang propaganda, Oktavianus memaksa para sekutu Antonius di Senat Roma untuk keluar dari Roma pada 32 SM dan mendeklarasikan perang terhadap Kleopatra. Armada angkatan laut campuran dari Antonius dan Kleopatra dikalahkan dalam Pertempuran Aktium tahun 31 SM oleh jenderal Oktavianus Agrippa. Pasukan Oktavianus menginvasi Mesir pada 30 SM dan mengalahkan pasukan Antonius, yang berujung pada bunuh dirinya. Saat Kleopatra menyadari bahwa Oktavianus berencana mengirimnya ke Roma untuk prosesi kemenangannya, ia melakukan bunuh diri dengan memakai racun, keyakinan populer menyatakan bahwa ia digigit oleh seekor ular.

Warisan Kleopatra masih ada dalam sejumlah karya seni baik kuno maupun modern, dan beberapa dramatisasi insiden dari kehidupannya dalam sastra dan media lainnya. Ia dideskripsikan dalam berbagai karya historiografi Romawi dan banyak tampil dalam puisi Latin kuno. Puisi Latin kuno umumnya memproduksi pandangan polemik dan negatif dari ratu tersebut yang kemudian diambil dalam sastra abad pertengahan dan sastra Renaisans. Dalam seni rupa, penggambaran kuno Kleopatra meliputi koin Romawi dan koin Ptolemaik, patung, patung dada, relief, kaca kameo, ukiran kameo dan lukisan. Ia menjadi subyek beberapa karya dalam seni rupa Renaisans dan seni rupa Barok, yang meliputi pahatan, lukisan, puisi, drama teatrikal seperti Antonius dan Kleopatra (1608) karya William Shakespeare dan opera-opera seperti Giulio Cesare in Egitto (1724) karya George Frideric Handel. Pada zaman modern, Kleopatra tampil dalam seni rupa terapan dan seni rupa murni, burlesque satir, film-film Hollywood seperti Cleopatra (1963), dan gambar-gambar merek untuk produk-produk komersial, menjadikannya ikon budaya pop Egiptomania sejak era Victoria.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Kleopatra berasal dari nama Yunani Kleopatra (bahasa Yunani: Κλεοπάτρα), artinya "kejayaan dari ayahnya" dalam bentuk feminim.[7] Kata tersebut berasal dari kata kleos (bahasa Yunani: κλέος), "kejayaan", yang dipadu dengan pater (bahasa Yunani: πατήρ), "para leluhur", memakai bentuk genitif patros (bahasa Yunani: πατρός).[8] Bentuk maskulinnya akan ditulis menjadi Kleopatros (bahasa Yunani: Κλεόπατρος) atau Patroklos (bahasa Yunani: Πάτροκλος).[8] Cleopatra adalah nama dari saudari Aleksander Agung, serta Kleopatra Alkione, istri Meleager dalam mitologi Yunani.[9] Melalui pernikahan Ptolemi V Epifanes dan Kleopatra I Syra (seorang putri raja Seleukia), nama tersebut masuk ke dinasti Ptolemaik.[10][11] Gelar yang diadopsi Kleopatra Thea Philopatora (bahasa Yunani: Θεά Φιλοπάτωρα) artinya "dewi yang mengasihi ayahnya."[12][13]

Masa kecil[sunting | sunting sumber]

Sedikit yang diketahui tentang masa kecil Kleopatra, tetapi Kleopatra berdarah Yunani, bukan keturunan Mesir. Ia dilahirkan pada awal tahun 69 SM, anak ke-3 dari 6 bersaudara dan lahir di kalangan Dinasti Ptolemaik Yunani. Ia mempunyai 2 orang kakak dan seorang adik perempuan serta dua adik laki-laki. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Alexandria yang merupakan kota terbesar dan termewah saat itu.

Kerajaan dari ayah Kleopatra tidak aman akibat tekanan dan konflik dari luar dan dalam perebutan kekuasaan, serta konflik internal seperti sentralisasi pemerintahan dan korupsi politik. Hal ini memicu pemberontakan dan lepasnya Siprus dan Cyrenaica yang menyebabkan masa kekuasaan Ptolemeus sebagai salah satu yang paling mematikan di dinasti tersebut. Semasa kecil, Kleopatra telah melihat persengketaan dalam keluarganya sendiri. Dikatakan bahwa ayahnya selamat dari 2 usaha pembunuhan ketika seorang pelayan menemukan ular berbisa yang mematikan di tempat tidurnya dan pelayan yang mencicipi minuman anggur tuannya meninggal. Kakak perempuan tertuanya, Tryphaena, juga mencoba untuk meracuni Kleopatra sehingga ia mulai menggunakan juru cicip. Ketika ia berusia belasan tahun, ia menyaksikan kejatuhan ayahnya sendiri dan ayahnya menjadi boneka Kekaisaran Romawi akibat beban utang yang terlalu tinggi, tetapi masih berharap agar Romawi tidak menaklukkan Mesir. Keadaan itu menyebabkan Ptolemeus XII diusir rakyat dari Alexandria yang akhirnya melarikan diri ke Romawi. Pada tahun 58 SM, ibunya, Kleopatra V mengambil alih pemerintahan bersama anaknya, Berenice IV dengan bantuan gubernur Suriah yang dikuasai Romawi, Aulus Gabinius, selama setahun hingga ibunya meninggal, lalu Berenice IV memerintah sendiri. Ptolemeus XII menggulingkan anak perempuan tertuanya pada tahun 55 SM dan menghukum mati anaknya, Berenice IV. Kakak perempuan Kleopatra lainnya, Tryphaena, mengambil takhta dan tidak lama kemudian ia meninggal yang menyisakan Kleopatra dengan suaminya dan adiknya, Ptolemeus XIII sebagai penerus takhta.

Dari ayahnya, Ptolemeus XII, Kleopatra mengetahui akan kekuatan leluhurnya. Leluhurnya telah melakukan penaklukan besar hampir 3 abad yang lalu.

Silsilah keluarga Kleopatra.

Naik takhta[sunting | sunting sumber]

Ptolemeus XII meninggal pada bulan Maret tahun 51 SM, membuat Kleopatra yang saat itu berusia sekitar 18 tahun dan Ptolemeus XIII yang berusia sekitar 12 tahun sebagai pemimpin gabungan. Tiga tahun pertama kekuasaan mereka sulit karena permasalahan ekonomi, kelaparan, banjir Sungai Nil, dan konflik politik. Walaupun Kleopatra menikahi adiknya, ia menunjukkan bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk berbagi kekuasaan dengannya.

Diturunkan dari takhta[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Agustus tahun 51 SM, relasi mereka rusak. Kleopatra menurunkan nama Ptolemeus dari dokumen resmi dan wajahnya muncul sendiri di uang koin yang bertentangan dengan tradisi Ptolemaik yang menyatakan bahwa pemimpin wanita dibawahkan oleh pemimpin laki-laki. Akibatnya, kelompok rahasia orang yang tidak termasuk dalam istana, yang dipimpin oleh kasim Pothinus, menjatuhkan Kleopatra dari kekuasaan dan menjadikan Ptolemeus pemimpin pada tahun 48 SM (atau lebih awal, dan terdapat sebuah dekret pada tahun 51 SM dengan nama Ptolemeus sendiri). Kleopatra mencoba untuk melakukan pemberontakan di sekitar Pelusium, tetapi ia terpaksa melarikan diri dari Mesir dengan adiknya yang tersisa, Arsinoë.[14]

Kembali naik takhta[sunting | sunting sumber]

Kleopatra bertemu dengan Caesar.

Ketika Kleopatra pergi dari Mesir, Pompey terlibat dalam perang saudara Romawi. Pada musim gugur tahun 48 SM, Pompey melarikan diri dari pasukan Julius Caesar ke Alexandria dan mencari suaka. Ptolemeus saat itu berusia 15 tahun dan menunggu kedatangannya. Pada tanggal 28 September 48 SM, Pompey dibunuh oleh salah satu mantan perwiranya yang sekarang bekerja untuk Ptolemeus. Ia dipenggal di depan istri dan anaknya, yang berada di kapal yang baru saja ia turuni. Ptolemeus berpikir bahwa dengan melakukan ini ia dapat menyenangkan Julius Caesar. Ternyata ini merupakan kesalahan besar. Ketika Caesar tiba di Mesir dua hari kemudian, Ptolemeus memberikan kepala Pompey. Caesar yang melihat hal ini sangat marah karena walaupun ia musuh politik Caesar, Pompey adalah konsul Roma dan duda dari anak Julius Caesar, Julia. Caesar menguasai ibukota Mesir dan menjadikan dirinya penengah dalam pertentangan antara Ptolemeus dan Kleopatra.

Kleopatra mengambil kesempatan ini dan kembali ke istana untuk bertemu dengan Caesar. Diyakini bahwa Caesar terpesona dengan langkahnya, dan Kleopatra menjadi kekasihnya. Sembilan bulan setelah pertemuan pertama mereka, Kleopatra melahirkan seorang bayi. Pada saat ini, Caesar meninggalkan rencananya untuk menguasai Mesir, dan mendukung klaim Kleopatra atas takhta. Setelah perang saudara singkat, Ptolemeus XIII tenggelam di Sungai Nil dan Caesar mengembalikan Kleopatra ke takhtanya, dengan adiknya yang lain Ptolemeus XIV sebagai wakil pemimpin baru.

Hubungan Kleopatra dengan Julius Caesar[sunting | sunting sumber]

Walaupun perbedaan umur Kleopatra dan Julius Caesar sebesar 30 tahun, Kleopatra dan Caesar menjadi kekasih selama Caesar berada di Mesir tahun 48 SM sampai 47 SM. Mereka bertemu ketika Kleopatra berusia 21 tahun dan Caesar berusia 50 tahun. Pada tanggal 23 Juni 47 SM, Kleopatra melahirkan Ptolemeus Caesar (disebut "Caesarion" yang berarti "Caesar kecil"). Kleopatra mengklaim Caesar sebagai ayahnya dan berharap untuk menjadikan anak itu sebagai ahli waris, tetapi Caesar menolak dan lebih memilih cucu lelakinya, Oktavianus. Caesarion dimaksudkan untuk mewarisi Mesir dan Romawi, menyatukan timur dan barat.

Kleopatra dan Caesarion mengunjungi Roma pada tahun 47 SM sampai tahun 41 SM dan hadir ketika Caesar dibunuh pada tanggal 15 Maret 44 SM. Sebelum atau sesudah pembunuhan, ia kembali ke Mesir. Ketika Ptolemeus XIV meninggal karena kesehatannya memburuk, Kleopatra menjadikan Caesarion penerusnya. Untuk menjaganya dan Caesarion, adiknya Arsinoe meninggal.

Hubungan Kleopatra dengan Markus Antonius[sunting | sunting sumber]

Antonius dan Kleopatra, dibuat oleh Lawrence Alma-Tadema.

Pada tahun 42 SM, Markus Antonius, salah satu orang yang berkuasa di Roma setelah kematian Caesar, memanggil Kleopatra untuk bertemu dengannya di Tarsus untuk menjawab pertanyaan mengenai kesetiaan Kleopatra. Kleopatra tiba dan memikat Antonius yang menyebabkan Antonius menghabiskan musim dingin tahun 41 SM40 SM dengannya di Alexandria. Pada tanggal 25 Desember 40 SM, ia melahirkan 2 anak, Alexander Helios dan Kleopatra Selene II.

Empat tahun kemudian, tahun 37 SM, Antonius mengunjungi Alexandria sekali lagi untuk berperang dengan Parthia. Ia memperbarui hubungannya dengan Kleopatra, dan sejak saat itu Alexandria menjadi rumahnya. Ia menikahi Kleopatra berdasarkan ritus Mesir (menurut sepucuk surat yang dikutip oleh Suetonius), walaupun ia saat itu sudah menikah dengan Oktavia Minor. Ia dan Kleopatra dikaruniai seorang anak yang bernama Ptolemeus Philadelphus.

Setelah Kleopatra dan Antonius menyatakan akan membagi wilayah kepada anak-anak Kleopatra pada tahun 34 SM, dan juga setelah serangan Antonius terhadap Armenia, Kleopatra dan Caesarion dimahkohtai sebagai wakil pemimpin Mesir dan Siprus. Alexander Helios menjadi pemimpin Armenia, Media, dan Parthia; Kleopatra Selene II menjadi pemimpin Cyrenaica dan Libya. Ptolemeus Philadelphus menjadi penguasa Phoenicia, Suriah, dan Sisilia. Kleopatra juga mendapat gelar "Ratu atas Raja".

Sikap Antonius dipandang buruk oleh Romawi, sehingga Oktavianus meyakinkan senat untuk berperang dengan Mesir. Pada tahun 31 SM, pasukan Antonius menghadapi serangan armada Romawi di Pantai Actium. Dengan terjadinya pertempuran Actium, Oktavianus menyerang Mesir. Setelah ditinggalkan oleh tentaranya, Antonius melakukan aksi bunuh diri dengan menikam dirinya dengan pedang pada tanggal 12 Agustus 30 SM.

Kematian[sunting | sunting sumber]

Gambaran kematian Kleopatra oleh Reginald Arthur.

Akibat kematian Antonius, Kleopatra juga ikut bunuh diri. Tidak diketahui bagaimana ia meninggal, tetapi menurut legenda, ia mengambil keputusan untuk bunuh diri setelah ia menyadari bahwa ia gagal mencapai tujuannya. Ia meninggal akibat membiarkan dirinya digigit ular berbisa yang diselipkan ke dalam bakul berisi buah ara. Dalam detik terakhir kematiannya, ia menyatakan takdirnya sebagai seorang dewi.[15]

Anak Kleopatra, Caesarion mengklaim sebagai firaun Mesir, tetapi Oktavianus menang lebih dulu. Caesarion ditangkap dan dieksekusi; hidupnya dilaporkan diakhiri oleh pernyataan Oktavianus yang terkenal: "Tidak baik memiliki terlalu banyak Caesar." Hal ini mengakhiri garis pharaoh Mesir. Tiga anak dari Kleopatra dan Antonius diampuni dan dibawa kembali ke Roma dan mereka dirawat oleh istri Antonius, Oktavia Minor.

Pelayan Kleopatra, Iras dan Charmion juga bunuh diri. Anak perempuan Antonius, Oktavia dan anaknya, Iullus Antonius, diampuni. Anaknya yang tertua, Marcus Antonius Antyllus, dibunuh ketika memohon pengampunan di Caesarium.

Kleopatra dalam kebudayaan populer[sunting | sunting sumber]

Elizabeth Taylor berperan sebagai Kleopatra dalam film Cleopatra tahun 1963.

Cerita Kleopatra telah mengagumkan penulis dan artis. Selain ia adalah figur politik yang kuat, ia juga muncul sebagai orang yang dapat bersekutu dengan 2 orang terkuat (Julius Caesar dan Markus Antonius) pada masanya. Ia muncul baik dalam buku, film, novel, drama, permainan video, lukisan, dan serial televisi. Contohnya pada drama Antony dan Cleopatra tahun 1609 buatan William Shakespeare. Film pertama yang berkaitan dengan Kleopatra adalah Antony and Cleopatra dengan Florence Lawrence sebagai Kleopatra. Contoh film lain adalah Cleopatra yang dibintangi oleh Helen Gardner. Banyak artis yang juga menjadikan Cleopatra sebagai objek lukisannya, contohnya Guido Cagnacci yang melukis tentang kematian Cleopatra pada tahun 1658.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Raia & Sebesta (2017).
  2. ^ Art Institute of Chicago ().
  3. ^ Grout (2017b).
  4. ^ Burstein (2004), hlmn. xx–xxiii, 155.
  5. ^ Hölbl (2001), hlm. 231.
  6. ^ Roller (2010), hlm. 1.
  7. ^ Royster (2003), hlm. 48.
  8. ^ a b Muellner ().
  9. ^ Roller (2010), hlmn. 15–16.
  10. ^ Roller (2010), hlmn. 15–16, 39.
  11. ^ Fletcher (2008), hlmn. 55–57.
  12. ^ Burstein (2004), hlm. 15.
  13. ^ Fletcher (2008), hlmn. 84, 215.
  14. ^ Peter Green (1990). Alexander to Actium: The Historical Evolution of the Hellenistic Age. Berkeley: University of California Press. hlmn. 661–664. ISBN 0-520-05611-6. 
  15. ^ Smith, William (ed.) (1867). Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology. Boston: Little, Brown & Company. hlm. 802. 

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Ullman, Berthold L. (1957). "Kleopatra's Pearls". The Classical Journal. 52 (5): 193–201. 

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Untuk validasi tambahan tentang "Berlin Cleopatra", lihat Polo 2013, hlmn. 184–186, Roller 2010, hlmn. 54, 174–175, Jones 2006, hlm. 33, dan Hölbl 2001, hlm. 234.
  2. ^ a b c Theodore Cressy Skeat, dalam Skeat 1953, hlmn. 98–100, menyatakan bahwa kematian Kleopatra terjadi pada 12 Agustus 30 SM Burstein 2004, hlm. 31 memberikan tanggal yang sama dengan Skeat, sementara Dodson & Hilton 2004, hlm. 277 mendukung hal ini, menyatakan bahwa itu terjadi pada sekitaran tanggal tersebut. Sumber-sumber yang mengklaim kematiannya terjadi pada 10 Agutus SM meliputi Roller 2010, hlmn. 147–148, Fletcher 2008, hlm. 3, dan Anderson 2003, hlm. 56.
  3. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama cleopatra v or vi
  4. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama languages
  5. ^ Grant 1972, hlmn. 5–6 menyatakan bahwa periode Hellenistik, dimulai dengan masa pemerintahan Aleksander Agung (336–323 Sm), berakhir dengan kematian Kleopatra pada 30 SM. Michael Grant menekankan bahwa bangsa Yunani Hellenistik dipandang oleh bangsa Romawi kontemporer mengalami penurunan dan kehilangan kejayaan sejak zaman Yunani Klasik, sebuah sikap yang berlanjut pada karya-karya historiografi modern. Terkait Mesir Hellenistik, Grant berpendapat bahwa "Kleopatra VII, yang disorot ke belakang pada seluruh leluhurnya dilakukan pada masa itu, nampaknya tak membuat kesalahan yang sama. Namun ia dan para tokoh sezamamnnya dari abad pertama SM memiliki masalah keganjilan lain dari diri mereka sendiri. Sehingga, 'Zaman Hellenistik' (yang mereka sendiri sering anggap datang pada akhir masa pemerintahannya) masih dikatakan berjalan secara bulat, pada zaman Yunani manapun, apakah bangsa Romawi merupakan kekuatan dominan? Ini adalah sebuah pertanyaan yang tak pernah jauh dari pikiran Kleopatra. Namun ini sangat bergantu pada bahwa ia menganggap zaman Yunani tidaklah selesai, dan menganggap setiap hal dalam kekuatannya mewujudkan pengabadiannya."

Kutipan[sunting | sunting sumber]

Kutipan teks[sunting | sunting sumber]

Sumber daring

Sumber cetak

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Kleopatra
Lahir: 69 SM Wafat: 30 SM
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Ptolemi XII
Ratu Mesir
51–30 SM
bersama dengan Ptolemi XII,
Ptolemi XIII,
Ptolemi XIV dan
Ptolemi XV Kaesarion
Jabatan ditiadakan
Mesir dianeksasi oleh Republik Roma