Perpustakaan Aleksandria

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Perpustakaan Alexandria)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Perpustakaan Aleksandria
Ancientlibraryalex.jpg
Penggambaran Perpustakaan Aleksandria karya seniman Jerman O. Von Corven dari abad ke-19. Gambar ini didasarkan pada bukti arkeologi yang tersedia pada masa tersebut.[1]
NegaraKerajaan Ptolemaik
JenisPerpustakaan nasional
DidirikanKemungkinan pada masa Ptolemaios II Filadelfos (285–246 SM)[2][3]
LokasiAleksandria, Mesir
Koleksi
Koleksi bukuKarya-karya tertulis manapun[4][5]
UkuranPada abad kesatu SM, antara 40.000 hingga 400.000 gulungan, bahkan ada yang memperkirakan 700.000 gulungan,[6] mungkin sama dengan sekitar 100.000 buku[7]
Informasi lain
StafDiperkirakan mempekerjakan 100 ahli pada puncak kejayaannya[8][9]

Perpustakaan Agung Aleksandria di kota Aleksandria, Mesir, merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno. Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, Mouseion, yang dipersembahkan untuk para Musai (sembilan dewi yang melambangkan seni). Gagasan mengenai sebuah perpustakaan untuk segala bidang di Aleksandria mungkin diusulkan oleh Demetrios dari Faleron (seorang negarawan asal Athena yang menjalani pengasingannya di Aleksandria) kepada Raja Ptolemaios I Soter pada zaman Helenistik. Rancangan untuk mendirikan perpustakaan ini mungkin sudah disusun pada masanya, tetapi perpustakaan ini kemungkinan baru dibangun pada masa pemerintahan anaknya, yaitu Ptolemaios II Filadelfos. Berkat dukungan dari raja-raja Wangsa Ptolemaios, perpustakaan ini dengan segera memperoleh banyak sekali gulungan papirus. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah gulungan papirus yang disimpan di perpustakaan ini, tetapi perkiraannya berkisar antara 40.000 hingga 400.000 gulungan.

Salah satu alasan mengapa Aleksandria dianggap sebagai pusat pembelajaran dan pengetahuan adalah keberadaan perpustakaan ini. Banyak cendekiawan terkenal yang bekerja di perpustakaan ini pada abad ketiga dan kedua SM, seperti Zenodotos dari Efesos yang berupaya menstandardisasi naskah puisi-puisi Homeros, Kalimakos yang menulis Pinakes (kadang-kadang dianggap sebagai katalog perpustakaan pertama di dunia), Apolonios dari Rodos yang menyusun puisi wiracarita Argonautika; Eratostenes dari Kirene yang menghitung keliling Bumi dengan keakuratan yang hanya meleset sedikit, Aristofanes dari Bizantion yang menciptakan sistem diakritik Yunani dan adalah orang pertama yang membagi naskah-naskah puisi menjadi baris-baris, serta Aristarkos dari Samotrakia yang membuat naskah definitif puisi-puisi Homeros dan menulis tafsir-tafsir panjang untuk puisi-puisi tersebut. Pada masa kekuasaan Ptolemaios III Euergetes, sebuah cabang perpustakaan didirikan di Serapeum, yang merupakan sebuah kuil yang dipersembahkan untuk dewa Serapis dalam kepercayaan Yunani-Mesir.

Walaupun pada masa modern terdapat anggapan bahwa perpustakaan ini pernah "dibakar" dan dihancurkan, perpustakaan ini sebenarnya sudah mengalami kemunduran secara bertahap dalam kurun waktu beberapa abad, dimulai dari pengusiran pada cendekiawan dari Aleksandria pada tahun 145 SM atas perintah dari Ptolemaios VIII Fiskon, yang berujung pada keputusan Aristarkos dari Samotrakia yang menjabat sebagai kepala perpustakaan untuk mengundurkan diri dan kemudian mengasingkan dirinya ke Siprus. Banyak cendekiawan lain yang juga melarikan diri ke kota lain (seperti Dionisios Traks dan Apolodoros dari Athena). Perpustakaan ini atau sebagian dari koleksinya terbakar secara tidak sengaja oleh Yulius Kaisar selama peristiwa perang saudara pada tahun 48 SM, tetap tidak diketahui secara pasti seberapa banyak gulungan yang hancur. Tampaknya perpustakaan ini masih dapat bertahan atau dibangun kembali tidak lama sesudahnya; pakar geografi kuno yang bernama Strabo menulis bahwa ia pernah mengunjungi Mouseion sekitar tahun 20 SM, sementara karya cendekiawan Didimos Kalkenteros di Aleksandria dari masa ini menunjukkan bahwa ia mungkin dapat mengakses paling tidak sebagian dari koleksi di perpustakaan ini.

Perpustakaan ini mengalami kemerosotan pada zaman Romawi akibat kekurangan dana. Keanggotaan perpustakaan ini sepertinya sudah tidak ada lagi pada dasawarsa 260-an Masehi. Pada tahun 270 hingga 275, pemberontakan meletus di Aleksandria, dan serangan balasan Kekaisaran Romawi tampaknya menghancurkan sisa dari perpustakaan ini (kalaupun perpustakaan ini memang masih ada pada masa tersebut). Cabang perpustakaannya di Serapeum mungkin dapat bertahan lebih lama. Serapeum dirusak dan dihancurkan pada tahun 391 sesuai dengan maklumat Paus Teofilos dari Aleksandria, tetapi tampaknya perpustakaan ini sudah tidak menyimpan buku pada masa tersebut dan gedungnya dipakai sebagai tempat berkumpulnya para filsuf beraliran neoplatonisme yang mengikuti ajaran Iamblikos.

Latar belakang sejarah[sunting | sunting sumber]

Patung kepala dari zaman Helenistik yang menggambarkan Ptolemaios I Soter, kini disimpan di Louvre, Paris
Salinan patung Aleksander yang Agung buatan Romawi, kini disimpan di Ny Carlsberg Glyptotek, Kopenhagen

Perpustakaan Aleksandria bukanlah perpustakaan pertama di dunia.[10][3] Perpustakaan-perpustakaan lain sudah ada di Yunani dan kawasan Timur Dekat sejak lama.[11][3] Arsip tulisan pertama yang tercatat dalam sejarah terletak di kota Uruk di peradaban Sumeria kuno sekitar tahun 3400 SM, ketika manusia baru saja mengembangkan tulisan.[12] Pengumpulan naskah-naskah oleh para ahli dimulai sekitar tahun 2500 SM.[12] Kerajaan dan kekaisaran kuno di kawasan Timur Dekat juga memiliki tradisi pengumpulan buku.[13][3] Bangsa Het dan Asiria memiliki arsip raksasa yang berisikan catatan-catatan dalam berbagai bahasa.[13] Perpustakaan paling terkenal di kawasan Timur Dekat pada zaman kuno adalah Perpustakaan Asyurbanipal di Niniwe yang didirikan pada abad ketujuh SM oleh Raja Asiria Asyurbanipal (berkuasa 668 hingga sekitar tahun 627 SM).[12][3] Di Babilonia juga pernah ada sebuah perpustakaan besar pada masa Nebukadnezar II (berkuasa sekitar tahun 605 hingga 562 SM).[13] Di Yunani, penguasa Athena Peisistratos konon pernah membuka perpustakaan umum besar pertama pada abad keenam SM.[14] Dari tradisi pengumpulan buku di Yunani dan Timur Dekat inilah terlahir gagasan pendirian Perpustakaan Aleksandria.[15][3]

Raja-raja Makedonia yang menggantikan Aleksander yang Agung sebagai penguasa Timur Dekat ingin mendorong penyebaran budaya Helenistik dan pembelajaran di wilayah dunia yang saat itu telah mereka ketahui.[16] Sejarawan Roy MacLeod menyebutnya "program imperialisme budaya".[4] Maka para penguasa ini memiliki kepentingan dalam upaya untuk mengumpulkan dan menyusun keterangan dari Yunani maupun dari kerajaan-kerajaan kuno di Timur Dekat.[16] Keberadaan perpustakaan meningkatkan martabat suatu kota, menarik para cendekiawan, dan juga membantu penguasa dalam memerintah negara.[4][17] Oleh sebab itu, setiap kota Helenistik yang besar memiliki sebuah perpustakaan kerajaan.[4][18] Namun, Perpustakaan Aleksandria merupakan suatu hal yang baru;[4][19] tidak seperti perpustakaan-perpustakaan sebelumnya, para penguasa dari Kerajaan Ptolemaik ingin mendirikan tempat penyimpanan semua pengetahuan.[4][5]

Dukungan dari Wangsa Ptolemaios[sunting | sunting sumber]

Pendirian[sunting | sunting sumber]

Patung kepala yang ditemukan selama penggailan di Villa dei Papiri. Patung kepala ini menggambarkan Ptolemaios II Filadelfos, yang diyakini sebagai pendiri Perpustakaan Aleksandria sebagai suatu lembaga, walaupun rancangan perpustakaannya mungkin dikembangkan oleh ayahnya, Ptolemaios I Soter.[2]

Perpustakaan Aleksandria adalah salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno, tetapi rincian mengenai perpustakaan ini tercampur-campur dengan legenda.[15] Sumber keterangan pertama mengenai pendirian perpustakaan ini adalah Surat Aristeas yang ditulis sekitar tahun 180 hingga 145 SM.[20][21][13] Naskah ini mengklaim bahwa perpustakaan ini didirikan pada masa Ptolemaios I Soter (berkuasa sekitar tahun 323 hingga 283 SM), dan awalnya perpustakaan ini diatur oleh Demetrios dari Faleron, murid Aristoteles yang diasingkan dari Athena dan mengungsi di istana Wangsa Ptolemaios di Aleksandria.[21][13] Namun, Surat Aristeas ditulis bukan pada masa pendirian perpustakaan ini dan di dalamnya juga terkandung keterangan yang ternyata tidak tepat.[21] Sumber-sumber lain mengklaim bahwa perpustakaan ini didirikan pada masa kekuasaan anak Ptolemaios I, Ptolemaios II Filadelfos (berkuasa 283–246 SM).[3]

Para ahli modern sepakat bahwa meskipun Ptolemaios I mungkin adalah orang yang menyiapkan rancangan pendirian perpustakaan ini, kemungkinan perpustakaannya sendiri baru benar-benar dibangun pada masa pemerintahan Ptolemaios II.[21] Pada masa tersebut, Demetrios dari Faleron sudah tidak lagi didukung oleh Wangsa Ptolemaios, sehingga kemungkinan ia sama sekali tidak bersumbangsih terhadap pendirian lembaga perpustakaan ini.[2] Namun, pakar sejarah klasik Stephen V. Tracy berpendapat bahwa kemungkinan besar Demetrios pernah membantu mengumpulkan paling tidak beberapa naskah yang kemudian akan menjadi bagian dari koleksi perpustakaan ini.[2] Pada kisaran tahun 295 SM, Demetrios mungkin sudah memperoleh naskah yang berisikan tulisan Aristoteles dan Teofrastos, dan ia memang merupakan orang yang bisa melakukannya, karena ia adalah anggota mazhab Peripatos.[22]

Perpustakaan ini dibangun di dekat istana kerajaan di kawasan Brukeion (daerah Yunani di Alexandria yang bersebelahan dengan pesisir). Perpustakaan ini merupakan bagian dari lembaga yang lebih besar, yaitu Mouseion.[23] Mouseion sendiri adalah sebuah kuil yang dipersembahkan untuk para Musai.[4] Tujuan utama pendirian perpustakaan ini adalah untuk mengumpulkan semua buku yang ditulis dalam bahasa Yunani dan juga buku karya suku bangsa lain yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, menyunting karya-karya penyair dan dramawan Yunani Klasik dalam bentuk aslinya, serta mendirikan perpustakaan penelitian untuk para ahli dari segala bidang.[23] Namun, menurut sejarawan David C. Lindberg, tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan kekayaan Mesir, sementara penelitian adalah tujuan keduanya.[20] Tata letak perpustakaan ini tidak diketahui secara pasti, tetapi di gedung Mouseion terdapat sebuah kebun, tempat perjamuan, ruang membaca, balai ceramah, dan ruang pertemuan.[24] Terdapat sebuah balai yang berisi rak-rak untuk koleksi gulungan papirus, dan rak-rak ini disebut bibliothekai (βιβλιοθῆκαι). Konon di atas rak tersebut terdapat inskripsi yang bertuliskan: "Tempat penyembuhan jiwa."[25]

Perluasan[sunting | sunting sumber]

Peta Aleksandria pada zaman kuno. Mouseion terletak di kawasan Broukeion (di peta ini disebut "Bruchium") di pusat kota di dekat pelabuhan besar ("Portus Magnus" di peta).[26]

Para penguasa dari Wangsa Ptolemaios berupaya untuk memperbesar koleksi perpustakaan melalui kebijakan pembelian buku yang agresif.[27] Mereka mengirim petugas-petugas kerajaan dengan anggaran yang besar untuk membeli dan mengumpulkan teks sebanyak tanpa memandang subjek atau penulisnya.[27] Salinan naskah yang tua lebih dipilih daripada yang baru, karena naskah baru sudah melalui banyak proses penyalinan, sehingga naskah tua dirasa lebih menyerupai naskah aslinya.[27] Petugas-petugas kerajaan berkali-kali mengunjungi pameran buku di Rhodos dan Athena.[28] Menurut seorang penulis kedokteran Yunani yang bernama Galenos, berdasarkan maklumat Ptolemaios II, setiap buku yang ditemukan di kapal-kapal yang berlabuh akan dibawa ke perpustakaan ini untuk disalin oleh juru tulis resmi.[3][29][8][17] Naskah aslinya disimpan di perpustakaan dan salinannya diberikan kepada pemiliknya.[9][8][17] Perpustakaan ini mencurahkan perhatiannya pada upaya untuk memperoleh naskah puisi-puisi Homeros, yang merupakan landasan pendidikan Yunani dan yang paling dikagumi dari puisi-puisi lainnya.[30] Dengan ini Perpustakaan Aleksandria telah memperoleh banyak naskah puisi Homeros; setiap salinannya diberi tanda untuk menunjukkan tempat asalnya.[30]

Selain mengumpulkan karya dari masa lalu, gedung Mouseion juga menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan, penyair, filsuf, dan peneliti. Menurut ahli geografi Yunani dari abad pertama SM, Strabo, mereka diberikan gaji yang besar, dan mereka juga mendapatkan makanan dan tempat tinggal gratis serta pengecualian dari pajak.[31][32] Mereka memiliki sebuah balai perjamuan yang besar dan berbentuk bundar dengan atap kubah yang tinggi.[32] Terdapat pula sejumlah ruangan kelas untuk mengajar.[32] Ptolemaios II Filadelfos konon sangat tertarik dengan ilmu zoologi, sehingga muncul dugaan bahwa mungkin di Mouseion juga pernah ada kebun binatang untuk hewan-hewan langka.[32] Menurut pakar sejarah klasik Lionel Casson, tunjangan-tunjangan ini diberikan agar para cendekiawan tidak perlu memikirkan beban kehidupan sehari-hari dan agar mereka dapat memusatkan perhatiannya pada penelitian.[27] Strabo menjuluki para cendekiawan yang tinggal di Mouseion dengan sebutan σύνοδος (synodos), yang berarti "komunitas".[32] Kemungkinan terdapat sekitar tiga puluh hingga lima puluh orang terpelajar di Mouseion paling tidak dari tahun 283 SM.[32]

Masa Zenodotos dan Apolonios[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan Aleksandria tidak menjadikan mazhab filsafat tertentu sebagai mazhab resmi, sehingga para cendekiawan di lembaga ini memiliki kebebasan akademik.[9] Namun, mereka masih harus tunduk kepada raja.[9] Terdapat sebuah kisah yang diragukan kebenarannya mengenai seorang penyair bernama Sotades yang menulis sebuah epigram cabul yang mengolok-olok Ptolemaios II karena telah menikahi saudara perempuannya, Arsinoe II.[9] Ptolemaios II konon menjebloskannya ke penjara, dan setelah ia lolos, sang raja memerintahkan agar ia dimasukkan ke dalam sebuah guci timbal dan lalu dilempar ke laut.[9] Sebagai sebuah pusat keagamaan, Mouseion dipimpin oleh seorang imam Musai yang dikenal dengan sebutan epistates, dan imam ini diangkat oleh raja seperti para imam di kuil-kuil Mesir.[33] Perpustakaan ini sendiri dipimpin oleh seorang cendekiawan yang menjabat sebagai kepala perpustakaan sekaligus guru untuk anak lelaki raja.[32][34][35][36]

Kepala perpustakaan Aleksandria pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Zenodotos dari Efesos (hidup sekitar tahun 325–270 SM).[35][36] Pencapaian terbesarnya adalah dalam menyusun naskah puisi-puisi Homeros dan penyair-penyair lira Yunani lainnya.[35][36] Keterangan-keterangan mengenai Zenodotos diperoleh dari tafsir-tafsir yang dibuat pada masa sesudahnya yang menyebutkan tafsiran yang lebih ia sukai untuk bagian-bagian tertentu.[35] Zenodotos pernah menulis sebuah glosarium kata-kata yang jarang ditemui atau tidak lazim. Glosarium ini disusun secara alfabetik, sehingga ia adalah orang pertama yang diketahui menggunakan alfabet sebagai metode penyusunan.[36] Mengingat koleksi Perpustakaan Aleksandria tampaknya disusun berdasarkan huruf pertama nama penulisnya sedari awal, Casson menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Zenodotos adalah orang yang memulai kebiasaan ini.[36] Namun, sistem yang diberlakukan oleh Zenodotos hanya menggunakan huruf pertama suatu kata,[36] dan baru pada abad kedua Masehi orang mulai menggunakan metode yang sama untuk huruf-huruf lain yang tersisa dalam suatu kata.[36]

Sementara itu, seorang cendekiwan dan penyair yang bernama Kalimakos menyusun Pinakes, sebuah katalog yang terdiri dari 120 buku mengenai para penulis dan karya-karya mereka.[35][34][9] Pinakes sudah hilang ditelan zaman, tetapi penggalan-penggalannya dan juga penyebutan katalog ini dalam sumber-sumber lain memungkinkan para ahli untuk merekonstruksi struktur dasarnya.[37] Pinakes terbagi menjadi beberapa bagian, masing-masing berisikan lema untuk penulis dari ragam sastra tertentu.[9][37] Pembagian yang paling dasar dilakukan antara penulis puisi dan prosa, dan setiap bagian terbagi menjadi beberapa subbagian.[37] Di setiap bagian, nama penulis disusun secara alfabetik.[38] Di setiap lema terdapat nama penulis, nama ayah, tempat lahir, dan keterangan biografi singkat lainnya, kadang-kadang juga mencakup julukan si penulis dan daftar lengkap karya penulis tersebut.[38] Lema untuk penulis-penulis tersohor seperti Aiskilos, Euripides, Sofokles, dan Teofrastos kemungkinan amatlah panjang.[38] Walaupun Kalimakos mengerjakan karyanya yang paling terkenal di Perpustakaan Aleksandria, ia tidak pernah menjabat sebagai kepala perpustakaan di lembaga tersebut.[34][9] Kalimakos sendiri memiliki beberapa murid dengan kiprahnya masing-masing, seperti Hermipos dari Smirna yang menulis biografi-biografi, Filostefanos dari Kirene yang mempelajari geografi, dan Istros (mungkin berasal dari Kirene juga) yang mempelajari barang antik Atika.[39]

Menurut legenda, penemu asal Sirakusa yang bernama Archimedes pernah menciptakan baling-baling Archimedes (pompa untuk mengangkut air) saat sedang belajar di Perpustakaan Aleksandria.[40]

Seiring berjalannya waktu, perpustakaan-perpustakaan kecil lain juga mulai bermunculan di kota Aleksandria.[9] Setelah Zenodotos meninggal dunia atau pensiun, Ptolemaios II Filadelfos mengangkat Apolonios dari Rodos (hidup sekitar tahun 295–kr. 215 SM, merupakan putra daerah Aleksandria dan murid Kalimakos) sebagai kepala perpustakaan kedua Aleksandria.[35][39][40] Filadelfos juga mengangkat Apolonios sebagai guru anaknya yang kelak akan berkuasa dengan nama Ptolemaios III Euergetes.[39] Apolonios dikenal sebagai penulis Argonautika, puisi wiracarita mengenai Iason dan para pahlawan Argonaut, dan puisi ini masih utuh hingga kini.[41][40] Argonautika menunjukkan pengetahuan Apolonios yang luas mengenai sejarah dan sastra, dan pada saat yang sama ia meniru gaya puisi-puisi Homeros.[41] Beberapa penggalan karya-karya ilmiahnya telah ditemukan, tetapi kini ia lebih dikenal sebagai seorang penyair daripada cendekiawan.[35]

Menurut legenda, pada masa kepemimpinan Apolonios, matematikawan dan penemu asal Sirakusa, Archimedes (hidup sekitar tahun 287–212 SM), datang berkunjung ke Perpustakaan Aleksandria.[40] Konon Archimedes menciptakan baling-baling Archimedes setelah mengamati naik dan turunnya permukaan Sungai Nil; alat baru ini dapat digunakan untuk mengangkut air dari bawah ke parit irigasi di atas.[40] Archimedes kemudian kembali ke Sirakusa dan terus berkiprah sebagai penemu di sana.[40]

Menurut dua karya biografi yang dibuat pada masa sesudahnya dan juga tidak dapat diandalkan, Apolonios dipaksa mundur dari jabatannya sebagai kepala perpustakaan dan pindah ke Pulau Rodos akibat amarah warga Aleksandria terhadap naskah Argonautika yang pertama.[42] Kemungkinan besar Apolonios mundur akibat kenaikan takhta Ptolemaios III Euergetes pada tahun 246 SM.[41]

Masa Erastotenes[sunting | sunting sumber]

Gambar yang menunjukkan benua Afrika di bola dunia. Sinar matahari mencapai permukaan di Siene (kini Aswan) dan Aleksandria. Sudut sinar matahari dan gnomon (tiang vertikal) ditunjukkan di Aleksandria, dan dengan ini Erastotenes dapat memperkirakan jari-jari dan keliling Bumi.

Kepala perpustakaan yang ketiga, yaitu Erastotenes dari Kirene (hidup sekitar tahun 280–194 SM), dikenal akan karya-karya ilmiahnya, tetapi ia juga merupakan seorang ahli kesusastraan.[34][43][40] Karya Erastotenes yang paling penting adalah risalahnya yang berjudul Geographika, yang awalnya terdiri dari tiga buku.[44] Karya ini sudah hilang ditelan zaman, tetapi banyak penggalan isinya yang telah ditemukan dalam tulisan-tulisan Strabo.[44] Erastotenes adalah cendekiawan pertama yang menerapkan matematika dalam bidang geografi dan pembuatan peta.[45] Dalam risalahnya yang berjudul Mengenai Pengukuran Bumi, ia menghitung keliling Bumi dan hasilnya hanya meleset sedikit.[45][40][46] Erastotenes juga membuat peta wilayah dunia yang telah diketahui keberadaannya saat itu. Peta ini menggabungkan informasi dari sumber-sumber yang disimpan di Perpustakaan Aleksandria, termasuk catatan sejarah mengenai ekspedisi militer Aleksander Agung di India dan laporan yang ditulis oleh ekspedisi pemburu gajah dari Kerajaan Ptolemaik di pesisir Afrika Timur.[46]

Erastotenes adalah orang pertama yang menjadikan geografi sebagai bidang keilmuan.[47] Erastotenes berkeyakinan bahwa latar puisi-puisi Homeros itu imajinasi belaka dan ia berpendapat bahwa tujuan dari puisi adalah untuk "menawan jiwa" dan bukan untuk menceritakan kisah nyata dalam sejarah.[44] Sementara itu, cendekiawan lain di Perpustakaan Aleksandria juga menunjukkan ketertarikan mereka terhadap bidang ilmiah.[48][49] Bakios dari Tanagra (hidup sezaman dengan Erastotenes) menyunting dan mengomentari tulisan-tulisan kedokteran dalam Corpus Hippocraticum.[48] Dokter Herofilos (hidup sekitar tahun 335–280 SM) dan Erasistratos (sekitar tahun} 304–250 SM) mempelajari anatomi manusia, tetapi penelitian mereka terhalang oleh penolakan terhadap pembedahan mayat (yang dianggap sebagai tindakan tidak bermoral).[50]

Menurut Galenos, pada masa itu, Ptolemaios III meminta izin dari Athena untuk meminjam naskah asli karya Aeskilos, Sofokles, dan Euripides. Sebagai gantinya, Athena meminta lima belas talenta (450 kg) logam berharga sebagai jaminan bahwa naskah-naskah tersebut akan dikembalikan.[32][5][51] Ptolemaios III memerintahkan agar papirus dengan mutu tertinggi digunakan untuk membuat salinannya. Ia menyimpan naskah aslinya di Perpustakaan Aleksandria dan memberikan salinannya kepada Athena dengan pemberitahuan bahwa mereka boleh menyimpan logam yang telah dibayarkan sebagai jaminan.[32][5][51] Kisah ini bisa juga ditafsirkan secara keliru sebagai upaya untuk menunjukkan kekuatan Aleksandria di atas Athena. Aleksandria sendiri pada saat itu merupakan pelabuhan buatan manusia yang terletak di antara dataran utama Mesir dengan pulau yang menjadi tempat berdirinya Mercusuar Aleksandria. Pelabuhan ini didatangi kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dan menjadi pusat perdagangan. Kota ini juga menjadi produsen utama papirus dan kemudian juga buku.[52] Seiring dengan membesarnya Perpustakaan Aleksandria, sudah tidak ada lagi tempat untuk menyimpan gulungan. Maka dari itu, pada masa Ptolemaios III Euergetes, dibuka sebuah koleksi lain di Serapeum, yaitu sebuah kuil yang dipersembahkan untuk dewa Serapis di dekat istana kerajaan.[9][27][8]

Masa Aristofanes hingga Aristarkos[sunting | sunting sumber]

Reruntuhan Serapeum pada zaman modern. Perpustakaan Aleksandria memindahkan sebagian koleksinya ke tempat ini karena gedung utama mereka sudah penuh.[9]

Aristofanes dari Bizantion (hidup sekitar tahun 257–180 SM) menjadi kepala perpustakaan keempat sekitar tahun 200 SM.[53] Menurut legenda yang dicatat oleh penulis Romawi Vitruvius, Aristofanes adalah salah satu dari tujuh juri yang diangkat untuk lomba menulis puisi yang digelar oleh Ptolemaios III Euergetes.[53][54] Enam juri lainnya mendukung salah satu peserta, tetapi Aristofanes memilih satu orang yang paling tidak disukai oleh penonton.[53][55] Aristofanes menyatakan bahwa semua peserta (kecuali satu peserta yang ia pilih) telah melakukan kecurangan dan mereka pun dikeluarkan dari lomba.[53][55] Sang raja menuntut bukti, dan Aristofanes kemudian mengambil naskah-naskah yang telah disalin oleh para penyair curang ini dari Perpustakaan Aleksandria. Aristofanes menemukannya dengan mengandalkan ingatannya.[53][55] Berkat ketekunan dan kemampuannya dalam mengingat, ia diangkat sebagai kepala perpustakaan oleh Ptolemaios III.[55]

Masa kepemimpinan Aristofanes dianggap telah membuka lembaran baru dalam sejarah Perpustakaan Aleksandria.[35][56][50] Pada masa ini, kritik sastra mencapai puncak kejayaannya[35][56] dan menjadi subjek yang mendominasi karya-karya yang dihasilkan oleh perpustakaan ini.[57] Aristofanes dari Bizantion menyunting naskah-naskah puisi dan memperkenalkan konsep pembagian puisi menjadi baris-baris yang terpisah, sementara sebelumnya puisi ditulis seperti prosa.[58] Ia juga memperkenalkan sistem diakritik Yunani,[59][50] menulis karya-karya penting mengenai leksikografi,[35] dan memperkenalkan tanda-tanda yang digunakan untuk menulis kritik tekstual.[60] Ia menulis pembukaan untuk banyak drama, dan sebagian masih ada dalam bentuk yang sudah ditulis ulang sebagian.[35]

Kepala Perpustakaan Aleksandria yang kelima adalah seseorang yang tak dikenal yang bernama "Apolonios" dengan gelar Yunani: ὁ εἰδογράφος ("penggolong bentuk").[35][61] Menurut salah satu sumber leksikografi dari zaman sesudahnya, gelar ini mengacu kepada penggolongan puisi berdasarkan bentuk musiknya.[61] Pada awal abad kedua SM, beberapa cendekiawan di Perpustakaan Aleksandria mempelajari karya-karya mengenai kedokteran.[48] Zeuxis sang Empirisis dikenal akan tafsir-tafsirnya tentang Corpus Hippocraticum[48] dan ia secara aktif berupaya memperoleh tulisan-tulisan kedokteran untuk melengkapi koleksi perpustakaan ini.[48] Seorang cendekiawan yang bernama Ptolemaios Epitetes menulis sebuah risalah mengenai luka-luka dalam puisi-puisi Homeros, dan subjek ini melampaui batas antara filologi tradisional dengan kedokteran.[48] Namun, pada masa ini kekuasaan Wangsa Ptolemaios juga mulai mengalami kemunduran.[62] Seusai Pertempuran Raphia pada tahun 217 SM, keadaan menjadi semakin kacau.[62] Pergolakan sering terjadi di Mesir, dan pada paruh pertama abad kedua SM, hubungan dengan wilayah Mesir Hulu sangat terganggu.[62] Para penguasa Wangsa Ptolemaios juga mulai menekankan kemesiran mereka alih-alih keyunaniannya.[62] Akibatnya, banyak cendekiawan Yunani yang mulai meninggalkan Aleksandria dan mendatangi negara yang lebih aman dengan pendukung yang juga lebih murah hati.[35][62]

Aristarkos dari Samotrakia (hidup sekitar tahun 216–145 SM) adalah kepala perpustakaan keenam.[35] Ia tidak hanya membuat naskah puisi-puisi klasik dan karya-karya prosa, tetapi juga menulis hipomnemata (tafsir) lengkap mengenai naskah-naskah tersebut.[35] Tafsir-tafsir ini biasanya mengutip dari naskah klasik, menjelaskan maknanya, mendefinisikan kata yang tidak lazim, dan mencoba menjawab apakah kata-kata di bagian tersebut benar-benar kata yang dipakai oleh penulis aslinya atau merupakan kata yang ditambah-tambahkan oleh juru tulis.[63] Ia banyak bersumbangsih dalam berbagai bidang ilmu, tetapi sumbangsihnya yang terbesar adalah dalam kajian puisi-puisi Homeros,[35] dan pendapat-pendapatnya sering dikutip oleh penulis kuno.[35] Salah satu bagian dari tafsir Aristarkos mengenai Historia karya Herodotos masih bertahan hingga zaman modern dalam sebuah penggalan di papirus.[35][63] Namun, pada tahun 145 SM, Aristarkos terlibat dalam perselisihan politik di Mesir. Ia mendukung Ptolemaios VII Neos Filopator sebagai penguasa Mesir.[64] Ptolemaios VII dibunuh dan digantikan oleh Ptolemaios VIII Fiskon, yang kemudian langsung ingin menghukum semua pendukung pendahulunya. Akibatnya, Aristarkos terpaksa melarikan diri dari Mesir dan mengungsi ke Pulau Siprus, dan di tempat tersebut ia menjemput ajalnya tak lama sesudahnya.[64][35] Ptolemaios VIII mengusir semua cendekiawan asing dari Aleksandria, sehingga mereka pun pindah ke berbagai wilayah di kawasan Mediterania Timur.[35][62]

Kemunduran[sunting | sunting sumber]

Setelah pengusiran oleh Ptolemaios VIII[sunting | sunting sumber]

Para cendekiawan yang pernah berkiprah di Perpustakaan Aleksandria dan murid-murid mereka masih tetap melanjutkan karya mereka dalam melakukan penelitian dan menulis risalah, tetapi sebagian besar tidak lagi melakukannya di bawah naungan lembaga perpustakaan tersebut.[65] Para cendekiawan Aleksandria tersebar di berbagai wilayah di Mediterania Timur, tetapi belakangan ada juga yang pindah ke kawasan Mediterania Barat.[65] Murid Aristarkos yang bernama Dionisios Traks (sekitar tahun 170–90 SM) mendirikan sebuah sekolah di Pulau Rodos.[66][67] Dionisios Traks menulis buku pertama mengenai tata bahasa Yunani yang memberikan panduan menulis dan berbicara dengan jelas dan efektif.[67] Buku ini tetap menjadi buku teks utama bagi anak sekolah Yunani yang mempelajari tata bahasa hingga akhir abad kedua Masehi.[67] Orang-orang Romawi mendasarkan tulisan mengenai tata bahasa dari buku ini, dan susunan dasarnya juga menjadi landasan bagi buku-buku tata bahasa dalam berbagai bahasa hingga kini.[67] Salah satu murid Aristarkos yang lain, yaitu Apolodoros dari Athena (sekitar tahun 180–110 SM), pergi ke kota yang menjadi saingan terbesar Aleksandria, yaitu Pergamon, dan di situ ia mengajar dan melakukan penelitian.[66] Keberadaan kelompok cendekiawan Aleksandria di pengasingan ini membuat sejarwan Menekles dari Barke berkomentar dengan nada sarkastik bahwa Aleksandria telah menjadi guru semua orang Yunani dan barbar.[68]

Sementara itu, semenjak abad kedua SM, kekuasaan Wangsa Ptolemaios di Mesir semakin kacau.[69] Mereka harus menghadapi pergolakan sosial yang semakin menguat ditambah dengan masalah-masalah politik dan ekonomi lainnya, sehingga para penguasa tidak terlalu banyak memperhatikan Perpustakaan Aleksandria.[69] Status perpustakaan dan jabatan kepala perpustakaan juga mengalami penurunan.[69] Penguasa-penguasa Wangsa Ptolemaios pada masa ini memanfaatkan jabatan kepala perpustakaan untuk menghadiahi pendukung mereka yang paling setia.[69] Ptolemaios VIII mengangkat salah satu penjaga istananya yang bernama Kidas sebagai kepala perpustakaan,[70][69] sementara Ptolemaios IX Soter II (berkuasa 88–81 SM) dikatakan pernah memberikan jabatan ini kepada salah satu pendukungnya.[69] Pada akhirnya, martabat kepala perpustakaan merosot sampai-sampai para penulis pada zaman tersebut tidak lagi mencatat masa jabatan setiap kepala perpustakaan.[70]

Bidang keilmuan di Yunani Kuno juga mengalami perubahan besar pada permulaan abad pertama SM.[66][71] Pada masa tersebut, hampir semua naskah puisi klasik sudah distandardisasi, dan karya para pujangga dari Zaman Klasik Yunani juga sudah banyak ditafsirkan.[66] Akibatnya, tidak banyak hal baru yang dapat dibuat oleh para ahli dari naskah-naskah tersebut.[66] Banyak ahli yang mulai melakukan sintesis dan pengerjaan ulang terhadap tafsir-tafsir para cendekiawan Aleksandria dari abad-abad sebelumnya, dan ini bukanlah suatu karya yang baru.[66][71][a] Cendekiawan-cendekiawan lain mengambil jalan lain dan mulai menulis tafsir untuk puisi-puisi para penulis pascaklasik, termasuk penyair-penyair Aleksandria seperti Kalimakos dan Apolonios dari Rodos.[66] Sementara itu, tradisi kecendekiawanan Aleksandria kemungkinan dibawa ke Roma pada abad pertama SM oleh Tiranion dari Amisos (sekitar tahun 100–25 SM), salah satu murid Dionisios Traks.[66]

Terbakar akibat ulah Yulius Kaisar[sunting | sunting sumber]

Jenderal Romawi Yulius Kaisar terpaksa membakar kapal-kapalnya sendiri saat terjadinya Pengepungan Aleksandria pada tahun 48 SM.[8] Banyak penulis kuno yang melaporkan bahwa apinya menjalar ke Perpustakaan Aleksandria dan melalap paling tidak sebagian dari koleksi perpustakaan tersebut.[8] Namun, perpustakaan ini tampaknya berhasil bertahan sebagian atau dibangun ulang tidak lama sesudahnya.[8]

Pada tahun 48 SM, ketika perang saudara tengah berkecamuk di Republik Romawi, Yulius Kaisar dikepung di Aleksandria. Pasukannya membakar kapal-kapal mereka sendiri untuk menahan armada yang dimiliki oleh saudara Kleopatra, Ptolemaios XIV.[50][8] Api menjalar ke daerah perkotaan yang terletak dekat dengan dermaga dan mengakibatkan kehancuran.[70][8] Seorang filsuf dan dramawan Romawi dari abad pertama Masehi yang bernama Seneca Muda pernah mengutip sebuah pernyataan dari Ab Urbe Condita Libri karya Livius (yang ditulis antara tahun 63 hingga 14 SM), yang mengatakan bahwa kebakaran tersebut menghancurkan 40.000 gulungan di Perpustakaan Aleksandria.[50][70][8][72] Tokoh platonisme Yunani yang bernama Plutarkos (sekitar tahun 46–120 M) pernah menulis dalam Kehidupan Kaisar: "[K]etika musuh berupaya memutus komunikasi lewat laut, ia terpaksa mengalihkan ancaman tersebut dengan membakar kapal-kapalnya sendiri, yang (...) kemudian menjalar dan menghancurkan perpustakaan agung."[8] Namun, sejarawan Romawi Kasius Dio (sekitar tahun 155–235 M) menulis bahwa ada "banyak tempat" yang terbakar, termasuk bangunan-bangunan lain seperti "galangan kapal dan tempat penyimpanan gandum dan buku, yang dikatakan berjumlah besar dan merupakan yang terbaik."[73][70][8] Namun, Florus dan Lukanus menulis bahwa yang terbakar adalah armada itu sendiri dan "rumah-rumah di dekat laut".[74]

Kutipan dari Kasius Dio telah menimbulkan penafsiran bahwa kebakarannya tidak menghancurkan seluruh perpustakaan, tetapi hanya tempat penyimpanan yang terletak di dekat dermaga yang dipakai oleh perpustakaan tersebut untuk menyimpan gulungan.[73][70][8][75] Terlepas dari perdebatan ini, Perpustakaan Agung Aleksandria tidak hangus dilalap api.[73][70][8][75] Strabo menulis bahwa ia pernah mengunjungi Mouseion sekitar tahun 20 SM, beberapa dasawarsa setelah kebakaran yang dipicu oleh pasukan Yulius Kaisar, dan hal ini menyiratkan bahwa perpustakaan ini selamat dari bencana kebakaran atau dibangun lagi tak lama sesudahnya.[73][8] Walaupun begitu, cara Strabo dalam menjelaskan Mouseion menunjukkan bahwa lembaga ini sudah tidak semasyhur sebelumnya.[8] Strabo sendiri memang membicarakan Mouseion, tetapi ia tidak menyebut soal perpustakaan ini secara terpisah, sehingga terdapat kemungkinan bahwa perpustakaan ini benar-benar sudah merosot statusnya pada masa itu.[8] Nasin Mouseion setelah kunjungan Strabo tidak diketahui secara pasti.[50]

Selain itu, Plutarkos mencatat dalam Kehidupan Markus Antonius bahwa pada tahun-tahun menjelang Pertempuran Aktion pada tahun 33 SM, Mark Antonious konon telah menyerahkan semua gulungan di Perpustakaan Pergamon yang berjumlah 200.000 kepada Kleopatra.[73][70] Plutarkos sendiri memberikan catatan bahwa sumber pernyataan ini kadang-kadang tidak dapat diandalkan, dan terdapat kemungkinan bahwa kisah ini hanyalah sebuah propaganda yang dimaksud untuk menunjukkan bahwa Markus Antonius setia kepada Kleopatra dan Mesir dan bukan kepada Roma.[73] Namun, menurut pendapat Casson, kalaupun kisah ini memang dikarang, kisah tersebut tidak dapat dipercaya kecuali jika Perpustakaan Agung Aleksandria benar-benar masih ada.[73] Sementara itu, Edward J. Watts berpendapat bahwa hadiah dari Markus Antonius mungkin dimaksudkan untuk mengisi kembali koleksi perpustakaan.[70]

Bukti lain yang menunjukkan bahwa perpustakaan ini masih ada setelah tahun 48 SM berasal dari fakta bahwa penulis tafsir yang paling penting pada akhir abad pertama SM dan awal abad pertama Masehi adalah seorang cendekiawan di Aleksandria yang bernama Didimos Kalkenteros, dan gelarnya sendiri (Chalkénteros atau Χαλκέντερος) berarti "perut perunggu".[76][73] Didimos konon telah membuat sekitar 3.500 hingga 4.000 buku, sehingga ia adalah penulis paling produktif pada zaman kuno.[76][71] Ia juga diberi julukan βιβλιολάθης (Biblioláthēs), yang berarti "pelupa buku", karena konon ia tidak dapat mengingat semua buku yang pernah ia tulis.[76][77] Sebagian dari tafsir-tafsir Didimos tersimpan dalam bentuk kutipan-kutipan, dan sumber-sumber inilah yang diandalkan oleh para ahli modern untuk mengetahui karya-karya penting para cendekiawan di Perpustakaan Aleksandria.[76] Lionel Casson menyatakan bahwa karya Didimos yang luar biasa tidak mungkin dibuat jika ia tidak dapat mengakses naskah-naskah di perpustakaan ini.[73]

Zaman Romawi dan kehancuran[sunting | sunting sumber]

Inskripsi dalam bahasa Latin mengenai Tiberius Klaudius Balbilus (meninggal sekitar tahun 79 M) yang menyebutkan "ALEXANDRINA BYBLIOTHECE" (baris kedelapan).

Sangat sedikit keterangan yang ada mengenai Perpustakaan Aleksandria pada zaman Principatus Romawi (27 SM–284 M).[70] Kaisar Klaudius (berkuasa 41–54 M) tercatat pernah memperluas Perpustakaan Aleksandria,[78] tetapi tampaknya nasib perpustakaan ini bergantung pada nasib kota Aleksandria.[79] Setelah Aleksandria jatuh ke tangan Romawi, status kota ini beserta perpustakaannya mengalami penurunan.[79] Walaupun Mouseion masih tetap berdiri, orang yang ingin menjadi anggota tidak harus berasal dari kalangan cendekiawan, tetapi malah dipilih berdasarkan pencapaian dalam pemerintahan, militer, atau bahkan olah raga.[69]

Jabatan kepala perpustakaan juga mengalami nasib serupa;[69] satu-satunya kepala perpustakaan yang tercatat dalam sejarah pada masa Romawi adalah Tiberius Klaudius Balbilus yang hidup pada pertengahan abad pertama Masehi dan berprofesi sebagai politikus dan perwira militer tanpa ada pencapaian sebagai seorang cendekiawan.[69] Anggota Mouseion tidak lagi harus mengajar, meneliti, atau bahkan tinggal di Aleksandria.[80] Penulis Yunani Filostratos mencatat bahwa Kaisar Hadrianus (berkuasa 117–138 M) mengangkat pakar etnografi Dionisios dari Miletos dan filsuf beraliran sofisme Polemon dari Laodikea sebagai anggota Mouseion meskipun kedua orang ini tampaknya tidak pernah menghabiskan banyak waktu di kota Aleksandria.[80]

Sementara itu, seiring dengan meredupnya reputasi Aleksandria sebagai pusat ilmu, reputasi perpustakaan-perpustakaan lain di wilayah Mediterania meningkat.[79] Perpustakaan-perpustakaan lain juga bermunculan di dalam kota Aleksandria,[70] dan gulungan-gulungan dari Perpustakaan Agung digunakan untuk mengisi perpustakaan-perpustakaan yang lebih kecil ini.[70] Kaesareum dan Klaudianum di Aleksandria dikenal memiliki perpustakaan besar pada akhir abad pertama Masehi.[70] Serapeum yang awalnya hanya menjadi "cabang" juga membesar pada masa ini (menurut pakar sejarah klasik Edward J. Watts).[81]

Pada abad kedua Masehi, ketergantungan Romawi terhadap gandum dari Aleksandria juga berkurang.[79] Ketertarikan bangsa Romawi terhadap tradisi kecendekiawanan di Aleksandria juga tidak sebesar sebelumnya.[79] Para cendekiawan yang bekerja dan melakukan penelitian di Perpustakaan Aleksandria pada masa Romawi tidak seterkenal para cendekiawan dari zaman Wangsa Ptolemaios.[79] Pada akhirnya, kata "Aleksandria" menjadi sinonim dengan penyuntingan naskah, pembetulan kesalahan tekstual, dan penulisan tafsir yang merupakan penggabungan cendekiawan-cendekiawan lainnya; dalam kata lain, istilah ini mendapatkan konotasi berupa sifat suka menonjolkan keilmuan, kemonotonan, dan ketiadaan orisinalitas.[79] Perpustakaan Agung Aleksandria dan gedung Mouseion tidak lagi disebutkan pada pertengahan abad ketiga Masehi.[82] Sumber sejarah terakhir yang menyebutkan cendekiawan yang menjadi anggota Mouseion berasal dari dasawarsa 260-an.[82]

Pada tahun 272 M, Kaisar Aurelianus dan pasukannya berupaya merebut kembali kota Aleksandria dari pasukan Ratu Tadmur, Zenobia.[82][69][3] Pada saat terjadinya pertempuran, pasukan Aurelianus menghancurkan daerah Broucheion.[82][69][3] Apabila Mouseion dan Perpustakaan Agung Aleksandria memang masih ada pada masa itu, keduanya hampir pasti hancur.[82][69] Kalaupun masih ada yang tersisa, lembaga atau bangunan tersebut akan binasa akibat pengepungan kota Aleksandria oleh pasukan Kaisar Diokletianus pada tahun 297.[82]

Penerus Mouseion[sunting | sunting sumber]

Gambar dari Kronik Dunia Aleksandria yang menggambarkan Paus Teofilos dari Aleksandria yang memegang injil di satu tangannya sembari berdiri di atas Serapeum.[83]

Serapeum[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan bukti-bukti yang terpencar, pada abad keempat, sebuah lembaga yang disebut "Mouseion" mungkin telah didirikan kembali di tempat yang berbeda di Aleksandria.[82] Namun, tidak ada satu keterangan pun mengenai lembaga ini.[82] Mungkin lembaga ini memiliki beberapa buku, tetapi skalanya jelas tidak dapat dibandingkan dengan Perpustakaan Agung Aleksandria.[84] Pada akhir abad keempat Masehi, perpustakaan Serapeum mungkin memiliki koleksi buku terbesar di Aleksandria.[85] Pada dasawarsa 370-an dan 380-an, Serapeum juga masih menjadi tempat peziarahan bagi penganut paganisme.[86]

Selain memiliki perpustakaan terbesar di Aleksandria, Serapeum masih berfungsi sebagai kuil dan bahkan di situ juga terdapat ruangan-ruangan kelas untuk para filsuf yang mau mengajar.[86] Serapeum cenderung menarik para pengikut aliran neoplatonisme Iamblikos.[86] Kebanyakan dari para filsuf ini tertarik dengan bidang teurgi, yaitu kajian ritual kultus dan praktik agama esoterik.[86] Filsuf Damaskios yang beraliran neoplatonisme (hidup sekitar tahun 458–setelah tahun 538) mencatat bahwa seorang lelaki yang bernama Olimpos datang dari Kilikia untuk mengajar di Serapeum, dan ia mengajarkan murid-muridnya dengan penuh semangat mengenai aturan pemujaan dewa secara tradisional dan praktik keagamaan kuno.[87] Ia memerintahkan murid-muridnya untuk memuja dewa-dewa dengan cara lama, dan mungkin ia juga mengajarkan mereka teurgi.[88]

Pada tahun 391 M, sekelompok pekerja Kristen di Aleksandria menemukan peninggalan Mithraeum kuno.[88] Mereka memberikan beberapa benda yang dipakai untuk pemujaan kepada Uskup Aleksandria Teofilos.[88] Teofilos memerintahkan agar benda-benda tersebut diarak di jalanan untuk diejek dan diolok-olok.[88] Kaum pagan di Aleksandria pun murka, terutama para pengajar filsafat neoplatonisme dan teurgi di Serapeum.[88] Para guru di Serapeum mengangkat senjata dan melancarkan serangan gerilya terhadap warga Kristen di Aleksandria bersama dengan murid-murid mereka dan para pengikut lainnya. Dalam serangan ini, mereka membunuh banyak orang hingga akhirnya mereka terpaksa mundur.[88] Kaum Kristen membalasnya dengan menyerang dan menghancurkan Serapeum,[89][90] walaupun sebagian dari barisan tiangnya masih berdiri hingga abad keduabelas.[89] Namun, tidak ada catatan sejarah mengenai kehancuran Serapeum yang menyebutkan soal keberadaan sebuah perpustakaan, dan sumber-sumber yang ditulis sebelum Serapeum dihancurkan menyebut keberadaan buku dengan menggunakan kala lampau, sehingga kemungkinan Serapeum sudah tidak memiliki koleksi buku yang besar ketika tempat ini dihancurkan.[91][90]

Sekolah Theon dan Hipatia[sunting | sunting sumber]

Lukisan Hipatia karya Alfred Seifert dari tahun 1901.

Ensiklopedia Suda, yaitu sebuah ensiklopedia Romawi Timur dari abad kesepuluh, menyebut Theon dari Aleksandria (hidup sekitar tahun 335–405) dengan julukan "orang Mouseion".[92] Namun, menurut pakar sejarah klasik Edward J. Watts, Theon kemungkinan merupakan kepala sebuah sekolah yang disebut "Mouseion", walaupun sekolah ini tidak ada kaitannya dengan gedung Mouseion yang pernah menjadi tempat berdirinya Perpustakaan Agung.[92] Sekolah Theon sangat bergengsi, beraliran konservatif, dan juga bersifat eksklusif.[93] Theon tampaknya sama sekali tidak berhubungan dengan para filsuf yang sangat teguh dengan pendirian neoplatonisme Iamblikosnya di Serapeum.[89] Theon tampaknya malah menolak ajaran Iamblikos[93] dan mungkin ia bangga dengan neoplatonisme "murni" yang ia ajarkan.[93] Putri Theon yang bernama Hipatia (lahir sekitar tahun 350-370, meninggal tahun 415 M) menggantikannya sebagai kepala sekolah ini sekitar tahun 400 M.[94] Sama seperti ayahnya, ia menolak ajaran Iamblikos dan mendukung neoplatonisme "asli" yang dikemukakan oleh Plotinos.[93]

Uskup Teofilos menoleransi sekolah Hipatia dan bahkan dua murid Hipatia juga menjadi uskup di bawah wewenang Teofilos.[95] Hipatia sangat disukai oleh rakyat Aleksandria[96] dan merupakan sosok yang berpengaruh secara politik.[96] Teofilos menghormati struktur politik di Aleksandria dan tidak menolak hubungan erat Hipatia dengan para prefek Romawi.[95] Namun, setelah Teofilos tidak lagi berkuasa, Hipatia terseret dalam percekcokan antara Prefek Romawi di Aleksandria, Orestes, dengan Uskup Kirilos dari Aleksandria.[97][98] Muncul desas desus yang mengatakan bahwa Hipatia adalah orang yang membuat Orestes tidak bisa rukun dengan Kirilos.[97][99] Kemudian, pada Maret 415, Hipatia dibunuh oleh gerombolan Kristen yang dipimpin oleh seorang lektor yang bernama Petrus.[97][100] Hipatia tidak memiliki penerus dan sekolahnya bubar setelah ia menjemput ajalnya.[101]

Sekolah dan perpustakaan lain di Aleksandria[sunting | sunting sumber]

Walaupun nasib Hipatia berakhir tragis, ia bukanlah satu-satunya penganut paganisme di Aleksandria, dan ia juga bukan filsuf neoplatonisme yang terakhir.[102][103] Neoplatonisme dan paganisme masih tetap ada di Aleksandria dan wilayah Mediterania Timur selama berabad-abad setelah ia menjemput ajalnya.[102][103] Ahli Egiptologi Charlotte Booth memberikan catatan bahwa ada banyak balai ceramah akademik baru yang dibangun di Kom el-Dikka, Aleksandria, tak lama setelah kemangkatan Hipatia, sehingga filsafat kemungkinan masih diajarkan di sekolah-sekolah Aleksandria.[104] Penulis dari akhir abad kelima, Zakarias Skolastikos dan Aeneas dari Gaza sama-sama membahas "Mouseion" sebagai sesuatu yang menempati ruang fisik.[82] Arkeolog telah mengidentifikasi balai-balai ceramah dari masa ini yang berada di dekat Mouseion dari zaman Ptolemaios, dan mungkin balai-balai inilah yang dimaksud dengan "Mouseion" oleh para penulis ini.[82]

Pada tahun 642, Aleksandria direbut oleh pasukan Muslim yang dipimpin oleh Amru bin Ash. Beberapa sumber sejarah berbahasa Arab menjelaskan tentang kehancuran perpustakaan ini atas perintah dari Khalifah Umar bin Khattab.[105][106] Bar-Hebraeus juga menulis pada abad ketigabelas bahwa Umar pernah berkata kepada Yaḥyā al-Naḥwī: "Jika buku-buku tersebut sesuai dengan Quran, kami tidak membutuhkannya; dan jika bertentangan dengan Quran, hancurkanlah."[107] Para ahli dari zaman berikutnya (termasuk Romo Eusèbe Renaudot pada tahun 1793), meragukan kebenaran kisah ini akibat rentang waktu antara kejadiannya dengan masa ketika kisah tersebut ditulis, sehingga terdapat kemungkinan bahwa penulis yang membuat kutipan tersebut memiliki niatan politik.[108][109][110][111][112]

Koleksi[sunting | sunting sumber]

Jumlah koleksi Perpustakaan Aleksandria tidak dapat ditentukan secara pasti. Koleksinya sendiri terdiri dari gulungan-gulungan papirus. Walaupun kodeks sudah mulai digunakan setelah tahun 300 SM, tidak ada sumber sejarah yang menunjukkan bahwa Perpustakaan Aleksandria pernah mengganti gulungan-gulungannya menjadi perkamen, kemungkinan karena kota Aleksandria memiliki ikatan yang kuat dengan perdagangan papirus. Sebenarnya keberadaan Perpustakaan Aleksandria sendiri secara tidak langsung menjadi penyebab pembuatan material perkamen, karena perpustakaan ini sangat butuh papirus, sehingga hanya sedikit papirus yang diekspor dari Mesir dan materi alternatif diperlukan untuk memenuhi kebutuhan di tempat lain.[113]

Raja Ptolemaios II Filadelfos (309–246 SM) konon pernah memasang target sebesar 500.000 gulungan untuk perpustakaan ini. Tidak diketahui secara pasti seberapa besar dan seberagam apa koleksi Perpustakaan Aleksandria sebelumnya. Pada abad pertama SM, perpustakaan ini dilaporkan memiliki 40.000 gulungan, 400.000 gulungan, atau bahkan 700.000 gulungan. Namun, tidak diketahui ada berapa banyak karya yang disimpan di perpustakaan ini, karena satu karya bisa terdiri dari sejumlah gulungan.[6]

Sebagai sebuah lembaga penelitian, perpustakaan ini mengisi koleksinya dengan karya-karya baru dalam bidang matematika, astronomi, fisika, ilmu alam, dan bidang-bidang lainnya. Di tempat ini para cendekiawannya berkecimpung dalam kritik tekstual. Suatu karya seringkali memiliki lebih dari satu versi, dan kritik teksual secara komparatif sangat penting untuk merekonstruksi naskah aslinya. Setelah itu, salinan naskah yang dianggap sebagai versi resmi kemudian akan dibuat untuk para cendekiawan, anggota keluarga kerajaan, dan pecinta buku yang kaya di berbagai belahan dunia, dan hal ini memberikan pemasukan bagi perpustakaan ini.[114]

Tinggalan sejarah[sunting | sunting sumber]

Zaman kuno[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan Aleksandria adalah salah satu perpustakaan terbesar dan paling bergengsi pada zaman kuno, tetapi perpustakaan ini bukanlah satu-satunya perpustakaan di dunia.[7][115][116] Pada akhir zaman Helenistik, hampir semua kota besar di kawasan Mediterania Timur memiliki perpustakaan umum, dan banyak kota berukuran sedang yang juga memiliki perpustakaan.[7][4] Pada zaman Romawi, jumlah perpustakaan terus bertambah.[117] Pada abad keempat Masehi, terdapat paling tidak dua lusin perpustakaan umum di kota Roma.[117]

Pada akhir zaman kuno, ketika agama Kristen menyebar di Kekaisaran Romawi, perpustakaan-perpustakaan Kristen dibangun dengan mengikuti model Perpustakaan Aleksandria di wilayah kekaisaran yang berbahasa Yunani.[117] Contohnya adalah Perpustakaan Teologi Kaisarea Maritima, Perpustakaan Yerusalem, dan perpustakaan Kristen di Aleksandria.[117] Perpustakaan-perpustakaan ini menyimpan tulisan pagan dan Kristen,[117] dan para cendekiawan Kristen yang sedang mengkaji Alkitab menggunakan teknik filologi yang sama dengan teknik cendekiawan-cendekiawan di Perpustakaan Aleksandria dalam mengkaji teks-teks klasik Yunani.[117] Walaupun begitu, kajian Alkitab tetap diutamakan oleh mereka hingga masa Renaisans.[117]

Namun, naskah-naskah kuno terus diturunkan hingga zaman modern bukan berkat keberadaan perpustakaan-perpustakaan besar, tetapi justru karena naskah-naskah tersebut terus disalin, pada mulanya oleh juru tulis profesional pada zaman Romawi dengan menggunakan papirus dan kemudian oleh para biarawan pada Abad Pertengahan dengan menggunakan perkamen.[1][118]

Bibliotheca Alexandrina[sunting | sunting sumber]

Gagasan untuk membangkitkan kembali Perpustakaan Aleksandria pada zaman modern pertama kali dicetuskan pada tahun 1974 ketika jabatan kepala Universitas Iskandariyah dipegang oleh Lotfy Dowidar.[119] Pada Mei 1986, Mesir meminta kepada Badan Eksekutif UNESCO untuk melakukan kajian kelayakan.[119] Maka dimulailah keterlibatan UNESCO dan komunitas internasional dalam upaya untuk mewujudkan proyek ini.[119] Pada tahun 1988, UNESCO dan UNDP menggelar sayembara arsitektur internasional untuk merancang gedungnya.[119] Sementara itu, Mesir menyiapkan empat hektare lahan untuk gedung perpustakaannya dan juga mendirikan Komisi Tinggi Nasional untuk Perpustakaan Aleksandria.[120] Presiden Mesir Hosni Mubarak sendiri sangat tertarik dengan proyek ini, alhasil proyek ini terus mengalami kemajuan.[121] Proyek ini akhirnya dituntaskan pada tahun 2002, dan Bibliotheca Alexandrina kini berfungsi sebagai perpustakaan modern dan pusat kebudayaan. Di perpustakaan ini juga terdapat International School of Information Science (ISIS), yaitu sekolah yang menawarkan pendidikan pascasarjana untuk petugas perpustakaan profesional.[122]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Perubahan semacam ini juga dapat diamati dalam bidang filsafat. Banyak filsuf yang mulai menyintesis pandangan filsuf-filsuf sebelumnya daripada mencetuskan gagasan mereka sendiri.[71]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Garland 2008, hlm. 61.
  2. ^ a b c d Tracy 2000, hlm. 343–344.
  3. ^ a b c d e f g h i j Phillips 2010.
  4. ^ a b c d e f g h MacLeod 2000, hlm. 3.
  5. ^ a b c d Casson 2001, hlm. 35.
  6. ^ a b Wiegand & Davis 2015, hlm. 20.
  7. ^ a b c Garland 2008, hlm. 60.
  8. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Haughton 2011.
  9. ^ a b c d e f g h i j k l MacLeod 2000, hlm. 5.
  10. ^ MacLeod 2000, hlm. 1–2, 10–11.
  11. ^ MacLeod 2000, hlm. 13.
  12. ^ a b c MacLeod 2000, hlm. 11.
  13. ^ a b c d e MacLeod 2000, hlm. 2.
  14. ^ MacLeod 2000, hlm. 1.
  15. ^ a b MacLeod 2000, hlm. 1–2.
  16. ^ a b MacLeod 2000, hlm. 2–3.
  17. ^ a b c Fox 1986, hlm. 341.
  18. ^ Fox 1986, hlm. 340.
  19. ^ Fox 1986, hlm. 340–341.
  20. ^ a b David C. Lindberg (15 March 1980). Science in the Middle Ages. University of Chicago Press. hlm. 5. ISBN 978-0-226-48233-0. Diakses tanggal 11 January 2013. 
  21. ^ a b c d Tracy 2000, hlm. 343.
  22. ^ Tracy 2000, hlm. 344–345.
  23. ^ a b Wiegand & Davis 2015, hlm. 19.
  24. ^ Lyons 2011, hlm. 26.
  25. ^ Manguel, Alberto, The Library at Night. New Haven: Yale University Press, 2008, hlm. 26.
  26. ^ Barnes 2000, hlm. 62.
  27. ^ a b c d e Casson 2001, hlm. 34.
  28. ^ Erksine, Andrew. 1995. "Culture and Power in Ptolemaic Egypt: The Museum and Library of Alexandria". Greece & Rome, 2nd ser., 42(1), 38–48.
  29. ^ MacLeod 2000, hlm. 4–5.
  30. ^ a b Casson 2001, hlm. 36.
  31. ^ Casson 2001, hlm. 33–34.
  32. ^ a b c d e f g h i MacLeod 2000, hlm. 4.
  33. ^ MacLeod 2000, hlm. 3–4.
  34. ^ a b c d Staikos 2000, hlm. 66.
  35. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t Dickey 2007, hlm. 5.
  36. ^ a b c d e f g Casson 2001, hlm. 37.
  37. ^ a b c Casson 2001, hlm. 39–40.
  38. ^ a b c Casson 2001, hlm. 40.
  39. ^ a b c Montana 2015, hlm. 109.
  40. ^ a b c d e f g h MacLeod 2000, hlm. 6.
  41. ^ a b c Montana 2015, hlm. 110.
  42. ^ Montana 2015, hlm. 109–110.
  43. ^ Montana 2015, hlm. 114.
  44. ^ a b c Montana 2015, hlm. 115.
  45. ^ a b Montana 2015, hlm. 116.
  46. ^ a b Casson 2001, hlm. 41.
  47. ^ Montana 2015, hlm. 116–117.
  48. ^ a b c d e f Montana 2015, hlm. 117.
  49. ^ MacLeod 2000, hlm. 6–7.
  50. ^ a b c d e f MacLeod 2000, hlm. 7.
  51. ^ a b McKeown 2013, hlm. 147–148.
  52. ^ Trumble & MacIntyre Marshall 2003.
  53. ^ a b c d e Casson 2001, hlm. 38.
  54. ^ McKeown 2013, hlm. 148–149.
  55. ^ a b c d McKeown 2013, hlm. 149.
  56. ^ a b Montana 2015, hlm. 118.
  57. ^ MacLeod 2000, hlm. 7–8.
  58. ^ Dickey 2007, hlm. 5, 93.
  59. ^ Dickey 2007, hlm. 5, 92–93.
  60. ^ Dickey 2007, hlm. 93.
  61. ^ a b Montana 2015, hlm. 129.
  62. ^ a b c d e f Meyboom 1995, hlm. 173.
  63. ^ a b Casson 2001, hlm. 43.
  64. ^ a b Montana 2015, hlm. 130.
  65. ^ a b Dickey 2007, hlm. 5–6.
  66. ^ a b c d e f g h Dickey 2007, hlm. 6.
  67. ^ a b c d Casson 2001, hlm. 45.
  68. ^ Meyboom 1995, hlm. 373.
  69. ^ a b c d e f g h i j k l Casson 2001, hlm. 47.
  70. ^ a b c d e f g h i j k l m Watts 2008, hlm. 149.
  71. ^ a b c d Fox 1986, hlm. 351.
  72. ^ McKeown 2013, hlm. 150.
  73. ^ a b c d e f g h i Casson 2001, hlm. 46.
  74. ^ Cherf, William J. (2008). "Earth Wind and Fire: The Alexandrian Fire-storm of 48 B.C.". Dalam El-Abbadi, Mostafa; Fathallah, Omnia Mounir. What Happened to the Ancient Library of Alexandria?. Leiden: BRILL. hlm. 70. ISBN 978-90-474-3302-6. 
  75. ^ a b Tocatlian 1991, hlm. 256.
  76. ^ a b c d Dickey 2007, hlm. 7.
  77. ^ McKeown 2013, hlm. 149–150.
  78. ^ Casson 2001, hlm. 46–47.
  79. ^ a b c d e f g MacLeod 2000, hlm. 9.
  80. ^ a b Watts 2008, hlm. 148.
  81. ^ Watts 2008, hlm. 149–150.
  82. ^ a b c d e f g h i j Watts 2008, hlm. 150.
  83. ^ Watts 2017, hlm. 60.
  84. ^ Watts 2008, hlm. 150–151.
  85. ^ Watts 2008, hlm. 150, 189.
  86. ^ a b c d Watts 2008, hlm. 189.
  87. ^ Watts 2008, hlm. 189–190.
  88. ^ a b c d e f Watts 2008, hlm. 190.
  89. ^ a b c Watts 2008, hlm. 191.
  90. ^ a b Theodore 2016, hlm. 182–183.
  91. ^ El-Abbadi, Mostafa (1990), The Life and Fate of the Ancient Library of Alexandria (edisi ke-2nd, illustrated), Unesco/UNDP, hlm. 159, 160, ISBN 978-92-3-102632-4 
  92. ^ a b Watts 2008, hlm. 191–192.
  93. ^ a b c d Watts 2008, hlm. 192.
  94. ^ Oakes 2007, hlm. 364.
  95. ^ a b Watts 2008, hlm. 196.
  96. ^ a b Watts 2008, hlm. 195–196.
  97. ^ a b c Novak 2010, hlm. 240.
  98. ^ Cameron, Long & Sherry 1993, hlm. 58–61.
  99. ^ Cameron, Long & Sherry 1993, hlm. 59.
  100. ^ Cameron, Long & Sherry 1993, hlm. 59–61.
  101. ^ Watts 2017, hlm. 117.
  102. ^ a b Booth 2017, hlm. 151–152.
  103. ^ a b Watts 2017, hlm. 154–155.
  104. ^ Booth 2017, hlm. 151.
  105. ^ De Sacy, Relation de l’Egypte par Abd al-Latif, Paris, 1810: "Above the column of the pillars is a dome supported by this column. I think this building was the portico where Aristotle taught, and after him his disciples; and that this was the academy that Alexander built when he built this city, and where was placed the library which Amr ibn-Alas burned, with the permission of Omar." Google books here [1]. Terjemahan De Sacy dari sini [2] Archived 11 May 2011[Date mismatch] di Wayback Machine.. Versi lain bisa dilihat di sini [3] Archived 15 September 2010 di Wayback Machine..
  106. ^ Samir Khalil, «L’utilisation d’al-Qifṭī par la Chronique arabe d’Ibn al-‘Ibrī († 1286)», dalam Samir Khalil Samir (Éd.), Actes du IIe symposium syro-arabicum (Sayyidat al-Bīr, septembre 1998). Études arabes chrétiennes, = Parole de l'Orient 28 (2003) 551–598. An English translation of the passage in Al-Qifti by Emily Cottrell of Leiden University is at the Roger Pearse blog here [4] Archived 11 May 2011[Date mismatch] di Wayback Machine.
  107. ^ Ed. Pococke, hlm.181, terjemahan hlm.114. Naskah daring dapat dilihat di sini: [5] Archived 15 September 2010 di Wayback Machine.. Latin: “Quod ad libros quorum mentionem fecisti: si in illis contineatur, quod cum libro Dei conveniat, in libro Dei [est] quod sufficiat absque illo; quod si in illis fuerit quod libro Dei repugnet, neutiquam est eo [nobis] opus, jube igitur e medio tolli.” Jussit ergo Amrus Ebno’lAs dispergi eos per balnea Alexandriae, atque illis calefaciendis comburi; ita spatio semestri consumpti sunt. Audi quid factum fuerit et mirare."
  108. ^ E. Gibbon, Decline and Fall, chapter 51: "It would be endless to enumerate the moderns who have wondered and believed, but I may distinguish with honour the rational scepticism of Renaudot, (Hist. Alex. Patriarch, p. 170: ) historia ... habet aliquid ut απιστον ut Arabibus familiare est." However Butler says: "Renaudot thinks the story has an element of untrustworthiness: Gibbon discusses it rather briefly and disbelieves it." (ch.25, p.401)
  109. ^ The civilisation of Arabs, Book no III, 1884, reedition of 1980, hlm. 468
  110. ^ "The Vanished Library by Bernard Lewis". nybooks.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 November 2006. Diakses tanggal 26 November 2006. 
  111. ^ Trumble & MacIntyre Marshall 2003, hlm. 51. "Today most scholars have discredited the story of the destruction of the Library by the Muslims."
  112. ^ MacLeod 2000, hlm. 71. "The story first appears 500 years after the Arab conquest of Alexandria. John the Grammarian appears to be John Philoponus, who must have been dead by the time of the conquest. It seems, as shown above, that both of the Alexandrian libraries were destroyed by the end of the fourth century, and there is no mention of any library surviving at Alexandria in the Christian literature of the centuries following that date. It is also suspicious that Omar is recorded to have made the same remark about books found by the Arab during their conquest of Iran."
  113. ^ Murray, S. A., (2009). The library: An illustrated history. New York: Skyhorse Publishing, hlm. 14
  114. ^ Kennedy, George. The Cambridge History of Literary Criticism: Classical Criticism, New York: University of Cambridge Press, 1999.
  115. ^ MacLeod 2000, hlm. 3, 10–11.
  116. ^ Casson 2001, hlm. 48.
  117. ^ a b c d e f g Nelles 2010, hlm. 533.
  118. ^ Nelles 2010, hlm. 533–534.
  119. ^ a b c d Tocatlian 1991, hlm. 265.
  120. ^ Tocatlian 1991, hlm. 265–266.
  121. ^ Tocatlian 1991, hlm. 266.
  122. ^ Tocatlian 1991, hlm. 259.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Berti, Monica; Costa, Virgilio (2010). La Biblioteca di Alessandria: storia di un paradiso perduto. Tivoli (Roma): Edizioni TORED. ISBN 978-88-88617-34-3. 
  • Canfora, Luciano (1990). The Vanished Library. University of California Press. ISBN 978-0-520-07255-8. 
  • El-Abbadi, Mostafa (1992). Life and Fate of the Ancient Library of Alexandria (edisi ke-2nd). Paris: UNESCO. ISBN 978-92-3-102632-4. 
  • Jochum, Uwe. "The Alexandrian Library and Its Aftermath" from Library History vol, pp. 5–12.
  • Orosius, Paulus (trans. Roy J. Deferrari) (1964). The Seven Books of History Against the Pagans. Washington, D.C.: Catholic University of America. (No ISBN). 
  • Olesen-Bagneux, O. B. (2014). The Memory Library: How the library in Hellenistic Alexandria worked. Knowledge Organization, 41(1), 3-13.
  • Parsons, Edward. The Alexandrian Library. London, 1952. Relevant online excerpt.
  • Stille, Alexander: The Future of the Past (chapter: "The Return of the Vanished Library"). New York: Farrar, Straus and Giroux, 2002. pp. 246–273.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]