Surah Ar-Ra’d

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Surah ke-13
الرّعد
ar-Raʻd
Guruh
KlasifikasiMakkiyah
Juz13
Jumlah ruku6
Jumlah ayat43
Jumlah ayat sajdah1 (ayat 15)
Jumlah kata854
Jumlah huruf3.450
MuqaṭṭaʻātAlif, Lam, Mim, Ra
← Yusuf
Ibrahim →

Surah Ar-Ra'd (bahasa Arab: الرّعد, translit. ar-Raʻd,, har. 'guruh') adalah surah ke-13 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah. Surah ini dinamakan Ar-Ra'd karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya, "...dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya".

Surah ini menceritakan tentang keesaan Allah, pesan-pesan dakwah, Hari Pengadilan Terakhir, serta azab-azab Allah. Surah ini menegaskan bahwa apa yang benar adalah benar; sedangkan apa yang salah menjadi salah. Ayat-ayat dalam surah ini mengajak manusia untuk tidak tertipu oleh kepalsuan dunia karena kepalsuan pasti akan sirna.

Surah ini dibuka dengan huruf muqatta'at Alif, Lam, Mim, Ra (A-L-M-R).

Isi[sunting | sunting sumber]

Surah ini membahas orang-orang yang saling bermusuhan, dan orang-orang beriman yang terus-menerus diberikan ujian. Orang-orang beriman diingatkan untuk tetap memohon pertolongan kepada Allah, sehingga urusan mereka diperbaiki.[1]

  • Kebenaran Al-Qur'an
    • Bukti-bukti kekuasaan Allah dan kesempurnaan ilmu-Nya (1–10)
    • Kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tindakan mereka sendiri (11)
    • Tanda-tanda keesaan Allah (12–17)
  • Tiap-tiap manusia memperoleh balasan amal perbuatannya masing-masing
    • Beberapa sifat dan perbuatan mulia dalam Islam (18–24)
    • Di antara sifat dan perbuatan orang-orang yang ingkar kepada Allah (25–27)
    • Ketenteraman bagi orang-orang beriman serta balasan bagi mereka (28–29)
  • Pengutusan rasul-rasul kepada manusia merupakan Sunnatullah
    • Allah mengutus Muhammad kepada umatnya sebagaimana Dia mengutus rasul kepada umat mereka (30)
    • Al-Qur'an adalah kitab pengguncang dunia (31)
    • Penentang Rasul pasti hancur (32–34)
    • Gambaran Surga (35)
    • Orang mukmin menerima Al-Qur'an dan keseluruhannya (36–37)
    • Hidup berkeluarga tidak berlawanan dengan kerasulan (38)
    • Setiap masa memiliki tantangan dan jawabannya sendiri-sendiri (39–43)

Ayat-ayat penting[sunting | sunting sumber]

13–14 Petir[sunting | sunting sumber]

Dalam tradisi Islam, petir dianggap sebagai tanda para malaikat yang tidak henti-hentinya mengatur awan dan hujan dalam tugasnya yang diberikan oleh Allah.[2] Dalam kitabnya Majmu' al-Fatawa al-Kubra, Ibnu Taimiyyah mengutip sebuah hadis marfu' yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Ra'd adalah kelompok malaikat yang bertugas mengatur awan ibarat penggembala.[2][3] Ali bercerita bahwa guruh (bahasa Arab: رعدان, translit. ra'dān) adalah suara geraman para malaikat itu saat menggiring awan, sedangkan kilat (bahasa Arab: صوائق, translit. sawā'iq) adalah alat yang digunakan oleh para malaikat itu dalam mengumpulkan dan menggiring awan hujan.[2] Jalaluddin as-Suyuthi meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas tentang malaikat petir, sambil memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa cahaya panas dihasilkan oleh petir (bahasa Arab: برق, translit. barq) merupakan sebuah cahaya yang muncul dari cambuk para malaikat.[2][3] Mufti Agung Arab Saudi, 'Abdul-'Aziz bin 'Abdullah Bin Baz juga memfatwakan bahwa ayat 13 surah ini sunnah dibaca jika seorang Muslim mendengar petir, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Zubair bin Awwam.[4]

۩ 15 Ayat sajdah[sunting | sunting sumber]

Ayat 15 merupakan ayat sajdah, disunnahkan untuk melakukan sujud tilawah.[5]

۝[6] Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari. ۩

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Muhammad Farooq-i-Azam Malik (penerjemah), Al-Qur'an, Petunjuk Bagi Umat Manusia - Inggris dengan Bahasa Arab Teks (Hardcover) ISBN 0-911119-80-9
  2. ^ a b c d Abduh Tuasikal, Muhammad (2009). "Ada Apa di Balik Petir?". Rumaysho. Diakses tanggal 26 February 2022. Al Khoroithi, Makarimil Akhlaq, Hadith Ali ibn Abi Talib; Ibn Taymiyyah, Majm al-Fatawa; al-Suyuti; Tafsir Jalalayn, Hasyiyah ash Shawi 1/31 
  3. ^ a b Stephen Burge (2012). Angels in Islam Jalal Al-Din Al-Suyuti's Al-Haba'ik Fi Akhbar Al-mala'ik (ebook) (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 186. ISBN 9781136504747. Diakses tanggal 26 February 2022. 257 Armad, al-Tirmidhc, al-Nasa'c, Ibn al-Mundhir, Ibn Abc latim, Abe 'l-Shaykh in al-“AVama, Ibn Mardawayh, Abe Nu'aym, in al-DalA”il, and al-kiya'in al-MukhtAra (Ibn 'Abbas) 
  4. ^ Ibn Baz, Abd al Aziz. "ما يحسن بالمسلم قوله عند نزول المطر أو سماع الرعد؟" [What is good for a Muslim to say when it rains or when he hears thunder?; Fatwa number 13/85]. BinBaz.org (dalam bahasa Arab). BinBaz.org. Diakses tanggal 11 December 2021. 
  5. ^ "Surah Ar-Ra'd - 15-25". Quran.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-01-25. 
  6. ^ Arabic script in Unicode symbol for a Quran verse, U+06DD, page 3, Proposal for additional Unicode characters

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


Surah Sebelumnya:
Surah Yusuf
Al-Qur'an Surah Berikutnya:
Surah Ibrahim
Surah 13