Ar-Ra’d

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ar-Ra'd)
Lompat ke: navigasi, cari

Ar-Ra'd (Arab:الرعد; Ar-Ra`d) adalah salah satu malaikat yang di berikan tugas untuk mengatur awan dan hujan,[1][2] ia mengaturnya dengan menggunakan petir sebagai cambuk.[3][4]

Dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dalam sebuah hadits yang dikisahkan dari salah seorang sahabat yang bernama 'Ata' bin Abi Rabah dari ’Aisyah, Nabi Muhammad dikisahkan selalu khawatir akan datangnya awan tebal atau badai. Nabi mencemaskan apakah datangnya hal tersebut, merupakan rahmat ataukah azab dari Allah. Ketika hujan telah turun maka ia pun merasa tenang.[5][6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Malaikat ini bertugas mengatur awan. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Orang-orang Yahudi datang menemui nabi, lalu mereka bertanya, "Wahai Abul Qasim, kami akan bertanya kepadamu tentang beberapa hal. Jika engkau menjawabnya maka kami akan mengikuti, mempercayai dan beriman kepadamu." Mereka bertanya, "Beritahukan kepada kami tentang ar Ra'd (guntur), apakah itu?" Dia menjawab, "Salah satu malaikat yang diserahi tugas untuk mengatur awan." (Hadits riwayat an-Nasai, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 1872)
  2. ^ Abbas berkata: Orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam dan berkata: Wahai Abu Al Qasim, ceritakan kepada kami apakah guntur itu? dia menjawab: "Itu adalah seorang malaikat yang ditugaskan (mengatur) awan, bersamanya ada cemeti dari api untuk menggiring awan sesuai kehendak Allah." Mereka bertanya: Lalu dari mana asal suara (guntur) yang kita dengar itu? Dia menjawab: "Itu adalah benturan dengan awan dan akan berhenti sesuai dengan perintah Allah." mereka berkata: Engkau benar, lalu ceritakan kepada kami tentang yang diharamkan Isra`il terhadap dirinya sendiri. Dia menjawab: "Ia (Ya'qub) menderita penyakit sendi tetapi ia tidak mendapati sesuatu yang sesuai baginya, yang ada hanyalah daging unta dan susunya, kerana itulah dia mengharamkannya." mereka berkata: Engkau benar. Abu Isa mengatakan bahawa hadits ini hasan gharib (Hadis riwayat Tirmidzi, turut diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasai, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 1872)
  3. ^ Ketika ditanya tentang petir, Ibnu Taimiyyah mengatakan, Dalam hadits marfu’ (sampai kepada Nabi Muhammad saw) pada riwayat At-Tirmidzi dan selainnya, nabi ditanya tentang petir, lalu dia menjawab: “Petir adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.’”
  4. ^ Ketika menafsirkan surat al-Baqarah, ayat 19, As-Suyuthi mengatakan bahwa petir adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang berpendapat bahwa petir adalah suara malaikat. Sedangkan kilat (barq) adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat tersebut untuk menggiring mendung. (Lihat dalam Tafsir Jalalain)
  5. ^ Nabi Muhammad gelisah dan berjalan ke sana kemari ketika ia melihat awan gelap di langit. Dikisahkan oleh 'Ata' bin Abi Rabah: Aisyah mengatakan, jika nabi melihat awan di langit, dia akan berjalan ke sana kemari dalam keadaan gelisah, pergi keluar dan masuk, dan rona wajahnya akan berubah, jika telah turun hujan, dia akan merasa tenang. "Jadi 'Aisyah tahu bahwa keadaannya. Maka nabi berkata, saya tidak tahu (takut), mungkin mirip dengan apa yang terjadi kepada orang-orang yang disebut di dalam al-Qur'an dalam ayat berikut: "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih." - Al-Ahqaf 46:24, (Sahih al-Bukhari Volume 4, Kitab 54, no. 428).
  6. ^ 'Ata' bin Abi Rabah meriwayatkan bahwa ia mendengar dari 'Aisyah, mengatakan: Ketika pada saat ada badai atau awan gelap, terlihat jelas rasa cemas pada wajah rasulullah, dia selalu bergerak maju dan mundur; dan ketika hujan, dia merasa senang dan hilang gelisahnya. Aisyah berkata: "Saya bertanya alasannya mengapa dia sangat cemas, dan dia menjawab: "Aku takut bahwa mungkin ada bencana yang akan menimpa umatku," dan ketika melihat hujan dia berkata: "Ini adalah rahmat" (dari Allah). (Kitab Sahih Muslim 004, no. 1961).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]