Surah Al-Qiyamah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
al-Qiyamah
القيمة
Al-Qiyamat.png
Informasi
Arti Hari Kiamat
Nama lain La uqsimu bi yaumil qiyamah[1]
Klasifikasi Makkiyah
Al-Mufassal[1]
Surah ke 75
Juz Juz 29
Statistik
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 40 ayat

Surah Al-Qiyamah (Arab: القيمة , "Hari Kiamat") adalah surah ke-75 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Qari'ah. Kata Al-Qiyamah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al-Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Pokok-pokok terjemahan[sunting | sunting sumber]

  1. Apakah umat manusia mengira bahwa Kami tak bisa merekatkan tulang-belulang mereka? Bahkan, Kami sanggup menyamakan (hingga) ujung jari-jemari mereka. (Ayat:3-4)
  2. Bahkan manusia ingin bertindak sembarangan setiap saat. ia mempertanyakan: "Kapan Hari Kebangkitan ?"
    Bahwasanya ketika penglihatan takjub dan ketika bulan meredup, juga ketika matahari beserta bulan dipadukan, pada hari itu manusia berkata: "Kemana tempat berlindung?" Mustahil! Tiada tempat yang aman! pada hari itu menghadap kepada Tuhanmu adalah ujung perjalanan.
    Pada hari itu dijelaskan kepada manusia tentang yang telah dicapai dan yang telah ditinggalkan. Bahkan manusia menjadi juri (penilai) tentang dirinya sendiri, sekalipun dia berdalih. (Ayat:5-15)
  3. Janganlah kamu tergesa-gesa mempergunakan lidahmu dalam menangkap (membaca) yang demikian. Sesungguhnya Kamilah yang menyusun dan menyelesaikan yang demikian ini. Apabila Kami telah menyelesaikannya maka ikutilah bacaan itu, kemudian adalah tanggung jawab Kami tentang penjelasannya. (Ayat:16-19)
  4. Maka jangan demikian, Sebenarnya kalian mencintai (kehidupan) yang fana (duniawi) dan melalaikan Akhirat (Penghabisan).
    Wajah-wajah pada hari itu (ada yang) penuh suka cita, mereka memandang ke arah Tuhan mereka sedangkan wajah-wajah (yang lain) pada hari itu murung, mereka yakin dihadapkan dengan berbagai kepedihan. (Ayat:20-25)
  5. Jangan demikian, Apabila (nyawa) menyesak hingga ke ujung kepala, dan diserukan: "Siapakah yang menyembuhkan?", dan orang itu meyakini bahwa itulah saat perpisahan (meninggal), dan satu kaki merekatkan kaki yang lain, pada hari itu berdatangan menghadap Tuhanmu. Dan (ketika dahulu) orang itu tidak membenarkan dan ia tidak mendirikan shalat, justru ia memberontak dan menjauh, kemudian ia menemui kalangannya (keluarga) disertai rasa arogan. Celakalah kamu dan celaka, maka celakalah kamu dan celaka. (Ayat:26-35)
  6. Apakah umat manusia beranggapan bahwa ia akan dibiarkan (hidup) sesuka hatinya ? Bukankah dahulu ia setetes mani yang tertumpah, yang membentuk gumpalan, sementara Dialah yang menciptakannya dan yang merancangnya,
    setelah itu Dialah yang menetapkan pasangan daripadanya, seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Bukankah yang memperbuat (semacam ini) berkuasa (pula) untuk menghidupkan yang mati? (Ayat:36-40)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Muhammad Nashruddin Al-Albani. Sifat Salat Nabi. 2000. Yogyakarta: Media Hidayah


Surah Sebelumnya:
Surah Al-Muddassir
Al-Qur'an Surah Berikutnya:
Surah Al-Insan
Surah 75

ﺮا

ﻟﺘﻔﺘﺤ ﺍﻞ ﺒﻠﺤﻒ