Maluku Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Provinsi Maluku Utara)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Maluku Utara

Moloku Kie Raha
Provinsi di Indonesia
Malut
Pulau Maitara
Pulau Maitara
Bendera Maluku Utara
Bendera
Lambang resmi Maluku Utara
Julukan: 
Spice Island ("Negeri rempah-rempah")[1]
Motto: 
Marimoi Ngone Futuru
(Ternate: Bersatu Kita Teguh)
Peta
Peta
Negara Indonesia
Hari jadi4 Oktober 1999
Ibu kotaSofifi
Jumlah satuan pemerintahan
Pemerintahan
 • GubernurAbdul Ghani Kasuba
 • Wakil GubernurAl Yasin Ali
 • Sekretaris DaerahSamsuddin A Kadir
 • Ketua DPRDKuntu Daud
Luas
 • Total31.982,50 km2 (1,234,850 sq mi)
Populasi
 • Total1.255.771
 • Kepadatan39,26/km2 (10,170/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam (74,95%)
Kristen (25,02%)
Protestan (24,53%)
Katolik (0,49%)
Hindu (0,01%)
Buddha (0,01%)
Konghucu (0,01%)[3]
 • Suku bangsa
 • BahasaIndonesia (resmi), Melayu Ternate (lingua franca), Galela, Tobelo, Loloda, Ternate, Tidore, Sula
 • IPM67,76 (sedang)[5]
Zona waktuUTC+09:00 (WIT)
Kode pos
977xx-978xx
Kode area telepon
ISO 3166 codeID-MU
Nomor TNKBDG
Dasar hukum pendirianUU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003
DAURp772.591.162.000,00 (2013)[6]
FloraCengkih
FaunaBidadari Halmahera
Situs webmalutprov.go.id

Maluku Utara (disingkat Malut) adalah salah satu provinsi di Indonesia. Maluku Utara resmi terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999, melalui UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003. Sebelum resmi menjadi sebuah provinsi, Maluku Utara merupakan bagian dari Provinsi Maluku, yaitu Kabupaten Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Tengah. Hingga akhir tahun 2019, penduduk provinsi kepulauam ini berjumlah 2.255.771 jiwa dengan kepadatan 39,26 jiwa/km².[2]

Pada awal pendiriannya, Provinsi Maluku Utara beribu kota di Ternate yang berlokasi di kaki Gunung Gamalama, selama 11 tahun. Tepatnya sampai dengan 4 Agustus 2010, setelah 11 tahun masa transisi dan persiapan infrastruktur, ibu kota Provinsi Maluku Utara dipindahkan ke kelurahan Sofifi, Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan yang terletak di Pulau Halmahera yang merupakan pulau terbesarnya.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Istilah Maluku pada awalanya merujuk pada keempat pusat kesultanan di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Suatu bentuk konfederasi tertentu dari keempat kerajaan tersebut yang kemungkinan besar muncul pada abad ke-14, disebut Moloku Kie Raha atau "Empat Gunung Maluku". Walaupun kemudian keempat kerajaan itu berekspansi dan mencakup seluruh wilayah Maluku Utara (sekarang) dan sebagian wilayah Sulawesi dan Papua, namun wilayah ekspansi itu tidak termasuk dalam istilah Maluku yang hanya merujuk pada keempat pusat kesultanan di Maluku Utara.

Dari segi Etimologi arti kata Maluku memang tidak terlalu jelas, sehingga menjadi bahan perdebatan dari berbagai pakar dan ahli. Pendapat yang umum dipakai mengatakan bahwa istilah Maluku berasal dari bahasa Arab dengan bentuk aslinya diperkirakan sebagai Jaziratul Muluk, yang berarti "Negeri para Raja" (muluk adalah bentuk jamak dari malik yang berarti raja). Dengan demikian wilayah kepulauan Ambon dan sebagian wilayah kepulauan Banda pada masa itu tidak termasuk dalam pengertian asli dari istilah Maluku.[7]

Geografis[sunting | sunting sumber]

Provinsi Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89 dan sisanya sebanyak 1.385 tidak berpenghuni.

Pulau Area (km2) Populasi
2010
Kepadatan Titik Tertinggi Ketinggian Geolokasi
Morotai 2.266,4 52.697 23,25/km2 Gunung Sabatai 1.250 m (4.101 ft) 2°19′N 128°46′E / 2.32°N 128.77°E / 2.32; 128.77
Halmahera 18.039,6 449.938 24,94/km2 Gunung Gamkonora 1.635 m (5.364 ft) 0°36′N 127°52′E / 0.60°N 127.87°E / 0.60; 127.87
Ternate 106,2 185.705 1.748,63/km2 Gunung Gamalama 1.715 m (5.625 ft) 0°49′N 127°20′E / 0.81°N 127.33°E / 0.81; 127.33
Tidore 116,1 111.000 455,09/km2 Kie Matubu 1.730 m (5.680 ft) 0°40′N 127°24′E / 0.66°N 127.40°E / 0.66; 127.40
Makian 113,1 12.394 109,58/km2 Kie Besi 1.357 m (4.452 ft) 0°19′N 127°24′E / 0.32°N 127.40°E / 0.32; 127.40
Kayoa 72,71 16.707 229,78/km2 Gunung Tigalalu 422 m (1.385 ft) 0°03′N 127°26′E / 0.05°N 127.44°E / 0.05; 127.44
Gebe 143,22 4.463 31,16/km2 Bukit Elfanoen 396 m (1.299 ft) 0°05′S 129°27′E / 0.08°S 129.45°E / -0.08; 129.45
Kasiruta 472,6 8.368 17,71/km2 Buku Kabau 824 m (2.703 m) 0°22′S 127°12′E / 0.37°S 127.20°E / -0.37; 127.20
Bacan 1.899,8 60.742 31,97/km2 Buku Sibela 2.111 m (6.926 ft) 0°37′S 127°32′E / 0.62°S 127.53°E / -0.62; 127.53
Mandioli 229,8 8.788 38,24/km2 Buku Gaku 331 m (1.086 ft) 0°42′S 127°11′E / 0.70°S 127.18°E / -0.70; 127.18
Obi 2.542,3 29.642 12,66/km2 - 1.611 m (5.285 ft) 1°32′S 127°46′E / 1.53°S 127.77°E / -1.53; 127.77
Taliabu 2.913,2 47.309 16,24/km2 Gunung Lida Godo 1.380 m (4.528 ft) 1°47′S 124°52′E / 1.78°S 124.87°E / -1.78; 124.87
Mangoli 1.228,5 36.323 29,57/km2 - 1.147 m (3.763 ft) 1°51′S 125°50′E / 1.85°S 125.83°E / -1.85; 125.83
Sulabesi 557,8 48.892 87,65/km2 - 678 m (2.224 ft) 2°14′S 125°56′E / 2.23°S 125.93°E / -2.23; 125.93

Geologi[sunting | sunting sumber]

Kepulauan Maluku Utara terbentuk dari pergerakan tiga lempeng tektonik, yaitu Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia yang terjadi sejak zaman kapur. pergerakan ini membentuk busur kepulauan gunung api kuarter yang membentang dari utara ke selatan di Halmahera bagian barat, diantaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare dan Pulau Makian. Pulau Halmahera sendiri merupakan pulau vulkanik meskipun aktivitas vulkanik yang terjadi hanya pada sebagian wilayahnya.

Nama Bentuk Ketinggian Pulau Geolokasi
Gunung Tarakan kerucut piroklastik 318 m (1.043 ft) Halmahera 1°50′N 127°50′E / 1.83°N 127.83°E / 1.83; 127.83
Gunung Dukono kompleks 1.229 m (4.031 ft) Halmahera 1°41′N 127°53′E / 1.68°N 127.88°E / 1.68; 127.88
Gunung Tobaru stratovulkan 1.035 m (3.396 ft) Halmahera 1°38′N 127°40′E / 1.63°N 127.67°E / 1.63; 127.67
Gunung Ibu stratovulkan 1.325 m (4.347 ft) Halmahera 1°29′N 127°38′E / 1.49°N 127.63°E / 1.49; 127.63
Gunung Gamkonora stratovulkan 1.635 m (5.364 ft) Halmahera 1°23′N 127°32′E / 1.38°N 127.53°E / 1.38; 127.53
Gunung Todoko-Ranu kaldera 979 m (3.212 ft) Halmahera 1°15′N 127°28′E / 1.25°N 127.47°E / 1.25; 127.47
Gunung Jailolo stratovulkan 1.130 m (3.710 ft) Halmahera 1°05′N 127°25′E / 1.08°N 127.42°E / 1.08; 127.42
Gunung Hiri stratovulkan 630 m (2.070 ft) Hiri 0°54′N 127°19′E / 0.90°N 127.32°E / 0.90; 127.32
Gunung Gamalama stratovulkan 1.715 m (5.627 ft) Ternate 0°49′N 127°20′E / 0.81°N 127.33°E / 0.81; 127.33
Kie Matubu stratovulkan 1.730 m (5.680 ft) Tidore 0°40′N 127°24′E / 0.66°N 127.40°E / 0.66; 127.40
Gunung Mare stratovulkan 308 m (1.010 ft) Mare 0°34′N 127°24′E / 0.57°N 127.40°E / 0.57; 127.40
Gunung Moti stratovulkan 950 m (3,120 ft) Moti 0°27′N 127°24′E / 0.45°N 127.40°E / 0.45; 127.40
Kie Besi stratovulkan 1.357 m (4.452 ft) Makian 0°19′N 127°24′E / 0.32°N 127.40°E / 0.32; 127.40
Gunung Tigalalu stratovulkan 422 m (1.385 ft) Kayoa 0°04′N 127°25′E / 0.07°N 127.42°E / 0.07; 127.42
Bukit Amasing stratovulkan 1.030 m (3.380 ft) Bacan 0°32′S 127°29′E / 0.53°S 127.48°E / -0.53; 127.48
Bukit Bibinoi stratovulkan 900 m (3.000 ft) Bacan 0°46′S 127°43′E / 0.77°S 127.72°E / -0.77; 127.72
Sumber: Global Volcanism Program.[8]

Keanekaragaman Hayati[sunting | sunting sumber]

Semioptera wallacii merupakan burung endemik Maluku Utara, George Robert Gray dari British Museum menamai jenis ini untuk menghormati Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris dan pengarang buku The Malay Archipelago, orang Eropa pertama yang meneliti burung ini pada tahun 1858.

Kepulauan Maluku merupakan bagian dari kawasan Malesia yang dikenal memiliki keanekaragaman flora dan tipe vegetasi yang tertinggi di dunia. Secara geografis posisi kepulauan ini terletak diantara Asia-Malesia Barat dan Australia-Pasifik, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran flora dan fauna dari 2 wilayah tersebut dan memperkaya keanekaragaman hayati kepulauan tersebut. Ekoregion ini mewakili hutan hujan di Halmahera, Morotai, Obi, Bacan, dan Kepulauan Maluku terdekat lainnya. Kawasan hutan tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi antara lain berbagai jenis flora seperti Damar (Agathis  dammara), Bintangur (Calophyllum inophyllum), Benuang (Octomeles sumatrana), Kayu Bugis (Koordersiodendron pinnatum), Matoa (Pometia pinnata), Merbau (Intsia bijuga), Kenari (Canarium mehenbethene gaerta) dan Nyatoh (Palaquium obtusifolium).

Maluku Utara menduduki peringkat 10 Daerah EBA (Endemic Bird Area) terpenting dunia berdasarkan jumlah jenis burung endemik. Daerah Maluku Utara dalam EBA ini mencakup kelompok Halmahera yang terdiri dari pulau-pulau utama yaitu Halmahera, Morotai, Bacan dan Obi, serta jajaran pulau-pulau gunung api kecil yang memanjang dari utara ke selatan di sebelah barat Halmahera. Sekitar 223 spesies burung ditemukan di daerah ini, 43 spesies termasuk endemik kawasan EBA Maluku Utara. Empat spesies diantaranya bergenus tunggal, yaitu Habroptila, Melitorgrais, Lycocorax, dan Semioptera. Spesies ini adalah Mandar Gendang (Habroptila wallacii), Cikukua Halmahera (Melitograis gilolensis), Cenderawasih Gagak (Lycocorax pyrrhopterus) dan Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii).[9]

Beberapa Mamalia endemik juga ditemukan di kepulauan ini seperti Tikus Ekor Mosaik Obi (Melomys obiensis), Kelelawar Bertopeng (Pteropus personatus), dan tiga marsupial arboreal, Kuskus Maluku (Phalanger ornatus), Kuskus Rothschild (Phalanger rothschildi), Kuskus Bermata Biru (Phalenger matabiru) dan Kuskus Gebe (Phalanger alexandrae). Kepulauan ini juga merupakan habitat lebah terbesar di dunia Lebah Raksasa Wallace (Megachile pluto) masyarakat setempat menamakan lebah ini O Ofungu Ma Koana yang artinya Lebah Raja[10]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Peta Kepulauan Maluku Utara karya seorang kartografer Belanda, Willem Janszoon Blaeu, pada tahun 1630. Arah utara berada di sebelah kanan, dengan Pulau Ternate terletak di ujung kanan, diikuti oleh Pulau Tidore, Mare, Moti dan Kepulauan Makian. Pada bagian bawah adalah Gilolo (Jailolo atau Halmahera). Inset yang berada di atas menunjukkan Pulau Bacan.

Kerajaan Moloku Kie Raha[sunting | sunting sumber]

Daerah ini pada mulanya adalah bekas wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara yang dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku), sultan Ternate ke-7 Kolano Cili Aiya atau disebut juga Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja–raja Maluku yang lain untuk berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan. Persekutuan ini kemudian dikenal sebagai Persekutan Moti atau Motir Verbond. Butir penting dari pertemuan ini selain terjalinnya persekutuan adalah penyeragaman bentuk kelembagaan kerajaan di Maluku. Oleh karena pertemuan ini dihadiri 4 raja Maluku yang terkuat maka disebut juga sebagai persekutuan Moloku Kie Raha. Keempat kerajaan tersebut adalah:

Kolonialisme[sunting | sunting sumber]

Portugis[sunting | sunting sumber]

Francisco Serrão, penjelajah eropa pertama yang menginjakkan kaki di Kepulauan Maluku pada tahun 1511.

Portugis merupakan bangsa eropa pertama yang datang ke Kepulauan Maluku yaitu di banda pada tahun 1511, dan sampai di Ternate pada masa pemerintahan Sultan Bayanullah tahun 1512 dibawah pimpinan Francisco Serrão, mereka membangun sebuah benteng di Ternate pada tahun 1522 dan selesai pada tahun 1523. Benteng ini merupakan benteng kolonial pertama di Kepulauan Maluku yang diberi nama São João Batista (Benteng Kastela). Portugis juga diberi kedudukan dan hak istimewa sebagai mitra dan penasihat kesultanan. Pada 25 Februari 1570 Gubernur Portugis Lopez de Mezquita menjebak dan membunuh Sultan Khairun pada saat jamuan makan di Benteng Kastella. Pasca kematian Sultan Khairun, Sultan Baabullah dinobatkan menjadi sultan menggantikan ayahnya dan berjuang melawan Portugis. Sultan Baabullah mengepung Benteng Kastela selama lima tahun, dan pada tanggal 15 Juli 1575 Portugis akhirnya menyerahkan benteng tersebut dan mundur ke Ambon.

Spanyol[sunting | sunting sumber]

Juan Sebastián Elcano, penjelajah Spanyol yang berhasil sampai di Tidore pada tahun 1521.

Spanyol tiba di Tidore pada tanggal 6 November 1521 dipimpin oleh Juan Sebastián Elcano dengan kapal Trinidad dan Victoria. Kedatangan Spanyol disambut oleh Sultan Tidore pada saat itu Sultan Al-Mansur. Hal ini dicatat oleh Antonio Pigafetta, seorang sejarawan dan penjelajah dari Venesia yang ikut dalam pelayaran tersebut. Kesultanan Tidore menjadikan Spanyol sebagai sekutu untuk melawan dominasi Kesultanan Ternate yang pada masa itu bekerjasama dengan Portugis. Pada tahun 1610 Gubernur Spanyol Cristobal de Azcqueta Menchacha memerintahkan untuk membangun sebuah benteng di Tidore yang diberi nama Santiago de los Caballeros de Tidore. Pembangunan benteng ini selesai pada tahun 1615 saat Gubernur Spanyol Don Jeronimo de Silva menjabat dan mengganti nama benteng ini menjadi Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore (Benteng Tahula). Kedatangan Spanyol menjadi ancaman bagi Portugis. Sebab saat itu Portugis memonopoli perdagangan di Kepulauan Maluku. Portugis melayangkan protes kepada pihak Spanyol karena telah melanggar Perjanjian Tordesillas yang dibuat pada tahun 1494. Karena perselisihan tersebut, pada tanggal 22 April 1529 Paus Aleksander VI memprakarsai Perjanjian Zaragoza antara Raja John III dan Raja Charles V di Zaragoza, Aragon. Dimana Spanyol harus meninggalkan Maluku. Sementara Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku. Sebagai gantinya Raja John III diharuskan membayar 350.000 Dukat kepada Raja Charles V. Spanyol akhirnya meninggalkan Maluku dan memusatkan kegiatan mereka di Filipina.

Pendudukan Jepang[sunting | sunting sumber]

Kekaisaran Jepang menginvasi Maluku pada awal tahun 1942 sebagai bagian dari Kampanye Perang Dunia II Hindia-Belanda, mengusir Belanda dari wilayah tersebut. Halmahera menjadi situs pangkalan angkatan laut Jepang di Teluk Kao. 2 tahun kemudian, pasukan AS dan sekutu mereka melancarkan Pertempuran Morotai pada tahun 1944; membom pulau itu pada bulan Agustus dan menyerang pada bulan September. Pasukan Kekaisaran Jepang di Morotai bertahan sampai 1945 tetapi gagal mengusir Sekutu. Pada akhir tahun 1944, 61.000 personel AS mendarat di Morotai.[11] Dua pertiga dari mereka adalah insinyur, yang dengan cepat membangun fasilitas termasuk pelabuhan dan dua lapangan terbang[11] ditambah tempat pengisian bahan bakar. Penyerahan resmi Tentara Jepang Kedua terjadi di Morotai pada 9 September 1945. Serdadu Jepang terakhir yang menolak menyerah, Prajurit Teruo Nakamura (Amis: Attun Palalin), ditemukan oleh Angkatan Udara Indonesia di Morotai, dan menyerah ke patroli pencarian pada 18 Desember 1974.[12]

Zaman Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Orde Lama[sunting | sunting sumber]

Pada era ini, posisi dan peran Maluku Utara terus mengalami kemorosotan, kedudukannya sebagai karesidenan sempat dinikmati Ternate antara tahun 1945-1957. Setelah itu kedudukannya dibagi ke dalam beberapa Daerah Tingkat II (kabupaten).

Upaya merintis pembentukan Provinsi Maluku Utara telah dimulai sejak 19 September 1957. Ketika itu DPRD peralihan mengeluarkan keputusan untuk membentuk Provinsi Maluku Utara untuk mendukung perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat melalui Undang-undang Nomor 15 Tahun 1956, namun upaya ini terhenti setelah munculnya peristiwa pemberontakan Permesta.

Pada tahun 1963, sejumlah tokoh partai politik seperti Partindo, PSII, NU, Partai Katolik dan Parkindo melanjutkan upaya yang pernah dilakukan dengan mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-Gotong Royong (DPRD-GR) untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi Maluku Utara. DPRD-GR merespons upaya ini dengan mengeluarkan resolusi Nomor 4/DPRD-GR/1964 yang intinya memberikan dukungan atas upaya pembentukan Provinsi Maluku Utara. Namun pergantian pemerintahan dari orde lama ke orde baru mengakibatkan upaya-upaya rintisan yang telah dilakukan tersebut tidak mendapat tindak lanjut yang konkret.

Orde Baru[sunting | sunting sumber]

Pada masa Orde Baru, daerah Moloku Kie Raha ini terbagi menjadi dua kabupaten dan satu kota administratif. Kabupaten Maluku Utara beribu kota di Ternate, Kabupaten Halmahera Tengah beribu kota di Soa Sio, Tidore dan Kota Administratif Ternate beribu kota di Kota Ternate. Ketiga daerah kabupaten/kota ini masih termasuk wilayah Provinsi Maluku.

Orde Reformasi[sunting | sunting sumber]

Pada masa pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, muncul pemikiran untuk melakukan percepatan pembangunan di beberapa wilayah potensial dengan membentuk provinsi-provinsi baru. Provinsi Maluku termasuk salah satu wilayah potensial yang perlu dilakukan percepatan pembangunan melalui pemekaran wilayah provinsi, terutama karena laju pembangunan antara wilayah utara dan selatan dan atau antara wilayah tengah dan tenggara yang tidak serasi.

Atas dasar itu, pemerintah membentuk Provinsi Maluku Utara (dengan ibu kota sementara di Ternate) yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 tentang Pemekaran Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat.[13]

Dengan demikian provinsi ini secara resmi berdiri pada tanggal 12 Oktober 1999 sebagai pemekaran dari Provinsi Maluku dengan wilayah administrasi terdiri atas Kabupaten Maluku Utara, Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Tengah.

Selanjutnya dibentuk lagi beberapa daerah otonom baru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula dan Kota Tidore.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Gubernur[sunting | sunting sumber]

No Foto Gubernur Mulai Jabatan Akhir Jabatan Prd. Ket. Wakil
Surasmin
(Penjabat)
Oktober 1999
2000
Muhyi Effendie
(Penjabat)
2000
18 April 2002
Sinyo Harry Sarundajang.jpg Sinyo Harry Sarundajang
(Penjabat)
18 April 2002
25 November 2002
[ket. 1]
1 Foto Gubernur MALUT Thaib Armayn.jpg Thaib Armaiyn
25 November 2002
25 November 2007
1
[ket. 2]
Madjid Abdullah
Timbul Pudjianto.jpg Timbul Pudjianto
(Penjabat)
25 November 2007
29 September 2008
[ket. 3]
(1) Foto Gubernur MALUT Thaib Armayn.jpg Thaib Armaiyn
29 September 2008
29 September 2013
2
Abdul Ghani Kasuba
Madjid Husen
(Pelaksana Tugas)
30 September 2013
23 Oktober 2013
[14]
Tanribali.jpg Tanribali Lamo
(Penjabat)
23 Oktober 2013
2 Mei 2014
[ket. 4]
2 Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba.jpg Abdul Ghani Kasuba
5 Mei 2014
5 Mei 2019
3
[ket. 5]
Muhammad Natsir Thaib
Bambang Hermawan
(Pelaksana harian)
5 Mei 2019
10 Mei 2019
(2) Abdul Ghani Kasuba Gubernur.jpg Abdul Ghani Kasuba
10 Mei 2019
Petahana
4
[15]
Al Yasin Ali


Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Maluku Utara beranggotakan 45 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Maluku Utara terdiri dari 1 Ketua dan 3 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Maluku Utara yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 23 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Maluku Utara di Ruang Rapat Paripurna DPRD Provinsi Maluku Utara.[16][17][18] Komposisi anggota DPRD Maluku Utara periode 2019-2024 terdiri dari 13 partai politik dimana PDI Perjuangan adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 8 kursi, kemudian disusul oleh Partai Golkar yang juga meraih 8 kursi dan Partai Gerindra yang meraih 5 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Maluku Utara dalam dua periode terakhir.[19][20][21][22][23][24][25]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
Logo PKB.svg PKB 1 Steady 1
Logo Gerindra.svg Gerindra 3 5
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 7 8
GolkarLogo.png Golkar 8 Steady 8
Partai NasDem.svg NasDem 5 4
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS 5 2
Logo PPP.svg PPP 1 0
Logo PAN.svg PAN 3 4
Logo Hanura.svg Hanura 4 2
Logo of the Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 3 4
Bulan Bintang.jpg PBB 3 2
Logo Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.svg PKPI 2 0
Logo Partai Garuda.svg Garuda (baru) 1
Logo Partai Berkarya.svg Berkarya (baru) 2
PartaiPerindo.png Perindo (baru) 2
Jumlah Anggota 45 Steady 45
Jumlah Partai 12 13

Kabupaten dan Kota[sunting | sunting sumber]

No. Kabupaten/kota Pusat pemerintahan Bupati/wali kota Luas wilayah (km2)[26] Jumlah penduduk (2017)[26] Kecamatan Kelurahan/desa Logo
Peta lokasi
1 Kabupaten Halmahera Barat Jailolo Danny Missy 1.704,20 132.427 8 -/169
Lambang Kabupaten Halmahera Barat.png
82.01.00 MalukuUtara Halmahera Barat.svg
2 Kabupaten Halmahera Tengah Weda Edi Langkara 2.653,76 50.164 10 -/61
Lambang Kabupaten Halmahera Tengah.png
82.02.00 MalukuUtara Halmahera Tengah.svg
3 Kabupaten Halmahera Timur Maba Ricky Richfat (Plh.) 6.571,37 90.924 10 -/102
Lambang Kabupaten Halmahera Timur.png
82.06.00 MalukuUtara Halmahera Timur.svg
4 Kabupaten Halmahera Selatan Labuha Bahrain Kasuba 8.148,90 247.378 30 -/249
Lambang Kabupaten Halmahera Selatan.jpeg
82.04.00 MalukuUtara Halmahera Selatan.svg
5 Kabupaten Halmahera Utara Tobelo Frans Maneri 3.896,90 194.291 17 -/196
Lambang Kabupaten Halmahera Utara.png
82.03.00 MalukuUtara Halmahera Utara.svg
6 Kabupaten Kepulauan Sula Sanana Hendrata Thes 3.304,32 110.507 12 -/78
Lambang Kabupaten Kepulauan Sula.jpg
82.05.00 MalukuUtara Kepulauan Sula.svg
7 Kabupaten Pulau Morotai Daruba Benny Laos 2.476,00 66.983 5 -/88
Lambang Kabupaten Pulau Morotai.png
82.07.00 MalukuUtara Morotai.svg
8 Kabupaten Pulau Taliabu Bobong Aliong Mus 1.469,93 56.202 8 -/71
LOGO KABUPATEN PULAU TALIABU.png
82.08.00 MalukuUtara Taliabu.svg
9 Kota Ternate - Burhan Abdurahman 111,39 215.524 7 77/-
Lambang Kota Ternate.png
82.71.00 MalukuUtara Ternate.svg
10 Kota Tidore Kepulauan - Ali Ibrahim 1.645,73 111.431 8 40/49
Lambang Kota Tidore Kepulauan.png
82.72.00 MalukuUtara Tidore Kepulauan.svg

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Buah Pala merupakan komoditi utama di Maluku Utara

Demografi[sunting | sunting sumber]

Populasi[sunting | sunting sumber]

Penduduk Provinsi Maluku Utara pada tahun 2017 adalah 1.209.342 jiwa yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Kabupaten Halmahera Selatan merupakan daerah yang memiliki jumlah penduduk terbesar yaitu 227.280 jiwa atau 18,79%, menyusul Kota Ternate dengan jumlah 223.111 jiwa atau 18,45%, dan daerah yang memiliki jumlah penduduk terkecil yaitu Kabupaten Pulau Taliabu 51.928 jiwa atau hanya 4,29%. Laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Maluku Utara adalah 1,98% per tahun. Kabupaten Halmahera Tengah merupakan daerah dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi yaitu sebesar 2,92% per tahun, sedangkan daerah dengan laju pertumbuhan penduduk terendah adalah yaitu Kota Tidore Kepulaun sebesar 1,15% per tahun. Dengan luas 31.982 km² dan jumlah penduduk mencapai 1,2 juta pada tahun 2017, tingkat kepadatan penduduk di Provinsi Maluku Utara adalah 38/km². Daerah dengan tingkat kepadatan tertinggi adalah Kota Ternate dengan tingkat kepadatan mencapai 2.003/km², sedangkan wilayah dengan tingkat kepadatan terendah adalah Kabupaten Halmahera Timur dengan tingkat kepadatan hanya 14/km².

Suku[sunting | sunting sumber]

Masyarakat di Maluku Utara sangat beragam. Total ada sekitar 28 suku dan bahasa di Maluku Utara. Mereka dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan bahasa yang digunakan, yaitu Austronesia and non-Austronesia. Kelompok Austronesia tinggal di bagian tengah dan timur Halmahera. Mereka diantaranya adalah Suku Buli, Suku Maba, Suku Patani, Suku Sawai dan Suku Weda. Di Bagian Utara dan Barat Halmahera adalah kelompok bahasa non-Austronesia terdiri dari Suku Galela, Suku Tobelo, Suku Loloda, Suku Tobaru, Suku Modole, Suku Togutil, Suku Pagu, Suku Waioli, Suku Ibu, Suku Sahu, Suku Ternate dan Suku Tidore. Di Kepulauan Sula ada beberapa kelompok etnis seperti Suku Sula, Suku Kadai, Suku Mange dan Suku Siboyo. Sebagian besar masyarakat di daerah ini mengerti Bahasa Melayu Ternate, bahasa yang umum digunakan untuk berkomunikasi antar suku.[27]

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama di Maluku Utara 2018[3]
Agama Persen(%)
Islam
  
74.95%
Protestan
  
24.53%
Katolik
  
0.49%
Hindu
  
0.01%
Budha
  
0.01%
Konghucu
  
0.01%

Sebagian besar penduduk di Maluku Utara beragama Islam, dengan orang-orang Kristen (kebanyakan Protestan) merupakan minoritas dengan jumlah yang signifikan. Hindu, Buddha, dan berbagai agama lokal lainnya dipraktikkan oleh sebagian kecil dari populasi. Menurut data Kementerian Agama pada tahun 2018, komposisi agama di provinsi ini adalah Islam 74,95% (985.460 jiwa), kemudian Protestan 24,53% (322.498 jiwa), Katolik 0,49% (6.470 jiwa), Hindu 0,01% (121 jiwa), Budha 0,01% (150 jiwa) dan Konghucu sebanyak 0,01% (138 jiwa), serta penganut kepercayaan 12 jiwa.[3]

Agama Islam mencakup seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara. Sedangkan penganut agama Kristen menjadi mayoritas di Kabupaten Halmahera Utara dan Kabupaten Halmahera Barat, sekitar 60%, dan juga memiliki jumlah yang cukup signifikan di Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Pulau Morotai. Sementara pemeluk Hindu, Budha dan Konghucu umumnya berada di Kota Ternate.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Maluku Utara memiliki objek wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias beragam jenis. Ada juga hutan wisata sekaligus taman nasional dengan spesies endemik ranking ke 10 di dunia. Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun di perairan laut seperti Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan, Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu dan Cagar Alam di Pulau Seho. Kawasan Cagar Alam Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalaan tersebar di wilayah Provinsi Maluku Utara meliputi cagar alam budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Halmaerah Utara.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Jalan Darat[sunting | sunting sumber]

Panjang Jalan[sunting | sunting sumber]

  • Jalan negara sepanjang 58,50 km
  • Jalan provinsi sepanjang 404 km
  • Jalan kabupaten sepanjang 501,20 km

Fisik jalan[sunting | sunting sumber]

  • Jalan aspal sepanjang 106 km
  • Jalan sirtu sepanjang 6 km
  • Jalan tanah sepanjang 851,7 Km

Kondisi jalan[sunting | sunting sumber]

  • Baik sepanjang 4 km,
  • Sedang sepanjang 56,3 km
  • Rusak ringan sepanjang 112,7 km
  • Rusak berat sepanjang 474 km
  • Belum ditembus sepanjang 310,4 km

Kendaraan angkutan (per April 2010)[sunting | sunting sumber]

  • Roda dua (ojek); sejumlah > 5000 unit
  • Roda empat; sejumlah > 500 unit
    • Mobil Penumpang (Mikrolet dan Carry); sejumlah > 300 unit
    • Mobil (Pick Up) Led Bak R6; sejumlah > 300 unit
  • Roda enam; sejumlah 50 unit
    • Mobil Barang (Truck Bak Kayu); sejumlah 100 unit
    • Mobil Barang (Dump Truck); sejumlah 100 unit

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dilantik oleh Mendagri Hari Sabarno
  2. ^ Dilantik oleh Mendagri Hari Sabarno
  3. ^ Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah (BAKD). Hasil pemilihan kepala daerah masih disengketakan antara pasangan Thaib Armaiyn dan Abdul Gani Kasuba dengan pasangan Abdul Gafur dan Aburahim Fabanyo
  4. ^ Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Hasil pemilihan kepala daerah masih disengketakan antara pasangan Abdul Ghani Kasuba dan Muhammad Natsir Thaib dengan pasangan Ahmad Hidayat Mus dan Hasan Doa
  5. ^ Dilantik oleh Mendagri Gamawan Fauzi

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Spice Island. Rosenberg. 2013. ISBN 9781459672758. 
  2. ^ a b "Provinsi Maluku Utara Dalam Angka 2020" (pdf). www.malut.bps.go.id. Diakses tanggal 20 Juni 2020. 
  3. ^ a b c "Data Umat Berdasar Jumlah Pemeluk Agama di Indonesia 2018". www.data.kemenag.go.id. Diakses tanggal 20 Juni 2020. 
  4. ^ Demography of Indonesia's Ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies. 2015. ISBN 9814519871. 
  5. ^ "Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Maluku Utara 2018"
  6. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  7. ^ R.Z. Leirissa; G.A. Ohorella; Djuariah Latuconsina (1999). Sejarah Kebudayaan Maluku. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 1. ISBN 978-979-9335-07-4. 
  8. ^ "Volcanoes of Indonesia - Halmahera". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diakses tanggal 2006-11-17. 
  9. ^ "Halmahera Rain Forests". World Wide Fund for Nature. Diakses tanggal 25 Mei 2016. 
  10. ^ ,"Sembunyi Hampir 40 Tahun, Lebah Terbesar di Dunia Ditemukan di Maluku". Kompas. 
  11. ^ a b Conboy & Morrison 1999, hlm. 102.
  12. ^ "The Last Last Soldier?", Time, January 13, 1975 .
  13. ^ Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negera Nomor 3895
  14. ^ "Mendagri Tunjuk Madjid Husen Sebagai Plt Gubernur Malut". Berita Kemendagri. 30 September 2013. Diakses tanggal 5 November 2017. 
  15. ^ Ismail, EH (10 Mei 2019). "Gubernur Maluku Utara Dilantik, Mendagri Ucapkan Selamat". Republika. Diakses tanggal 22 Mei 2019. 
  16. ^ "KAKANWIL HADIRI PELANTIKAN ANGGOTA DPRD MALUT PERIODE 2019-2024". kemenkumham.go.id. Kanwil Kemenkumham Maluku Utara. 23-09-2019. Diakses tanggal 13-10-2019. 
  17. ^ "Kakanwil Memimpin Pembacaan Doa Pada Pelantikan Anggota DPRD". kemenag.go.id. Kanwil Kemenag Maluku Utara. 23-09-2019. Diakses tanggal 13-10-2019. 
  18. ^ "45 Anggota DPRD Provinsi Dilantik, Kuntu Daud Jabat Ketua Sementara". beritamalut.co. 23-09-2019. Diakses tanggal 13-10-2019. 
  19. ^ "Data Perolehan Kursi DPRD Provinsi Maluku Utara - Pileg 2014". kpu.go.id. KPU Provinsi Maluku Utara. Diakses tanggal 14-10-2019. 
  20. ^ "Ini 45 Anggota DPRD Provinsi Malut Periode 2019-2024". indotimur.com. 12-05-2019. Diakses tanggal 14-10-2019. 
  21. ^ "KPU Maluku Utara Tetapkan Perolehan Kursi 45 Anggota DPRD Provinsi". porostimur.com. Diakses tanggal 14-10-2019. 
  22. ^ "KPU Malut umumkan 45 caleg terpilih 2019". antaranews.com. ANTARA MALUKU. 14-08-2019. Diakses tanggal 14-10-2019. 
  23. ^ "Daftar Caleg dan Partai Peraih Kursi di DPRD Maluku Utara". Kieraha. 2019-05-12. Diakses tanggal 2019-10-14. 
  24. ^ "45 Anggota DPRD Provinsi Ditetapkan". news.malutpost.co.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-10-14. 
  25. ^ "Penetapan Kursi Parpol dan Calon Anggota DPRD Provinsi Malut Terpilih". malut.kpu.go.id. Diakses tanggal 2019-10-14. 
  26. ^ a b "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 Desember 2018. 
  27. ^ Iem Brown (2009). The Territories of Indonesia. Routledge. hlm. 176. ISBN 978-185743-215-2. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


Koordinat: 0°23′S 126°54′E / 0.383°S 126.900°E / -0.383; 126.900