M. Al Jupri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Muhammad Al Jufri
Jupri 2016.jpg
Nama lahir Muhammad Al Jufri
Nama lain Jupri
Lahir 18 Maret 1994 (umur 25)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Pekerjaan Pelawak tunggal, mahasiswa
Tahun aktif 2014–sekarang

Muhammad Al Jufri atau yang dikenal cukup dengan nama panggilannya, Jupri (lahir di Jakarta, Indonesia, 18 Maret 1994; umur 25 tahun) adalah seorang pelawak tunggal berkebangsaan Indonesia. Jupri merupakan salah seorang pelawak tunggal atau komika jebolan komunitas Stand Up Indo Pamulang sejak 2014, di mana Pamulang adalah tempat tinggalnya. Bungsu dari tiga bersaudara ini berdarah campuran, di mana ayahnya berasal dari Tidore, Maluku dan ibunya berasal dari Padang, Sumatra Barat. Selain itu, saat ini Jupri tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris UIN Jakarta. Nama Jupri mulai dikenal sejak sering mengisi acara SUPER yang diadakan Kompas TV pada tahun 2016. Setahun kemudian, Jupri menjadi satu dari 16 finalis Stand Up Comedy Indonesia season 7 (SUCI 7) yang juga diadakan oleh Kompas TV[1].

Karier[sunting | sunting sumber]

Jupri dibesarkan di daerah Pamulang, Tangerang Selatan. Kehidupan Jupri bisa dibilang cukup keras, karena sebagai anak bungsu ia bisa dibilang berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia dididik keras oleh sang ayah agar bisa menjalani hidup. Karena itu setelah menamatkan pendidikan MAN pada tahun 2012, Jupri yang hobi menggambar dan fotografi ini sempat bekerja sebagai karyawan di salah satu minimarket selama setahun. Setelah itu akhirnya Jupri berhasil lulus untuk kuliah di UIN Jakarta, jurusan Sastra Inggris. Jupri memulai ber stand up comedy di akhir 2014, di mana ia bergabung dengan komunitas di kampusnya, Stand Up UIN yang juga pernah melahirkan beberapa komika nasional seperti Iyam Renzia, Kemal Giffari, Dzawin Nur Ikram, hingga Arafah Rianti. Jupri juga bergabung dengan komunitas Stand Up Indo Pamulang yang dekat dengan rumahnya. Di komunitas kampusnya, Jupri pernah menjabat sebagai ketua pada tahun 2016 dan telah menggagas beberapa event stand up comedy[2][3]. Suka duka pun sering ia alami dalam ber stand up comedy, tetapi ia tidak menyerah. Hingga namanya mulai dikenal di akhir 2015 ketika mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia season 6 (SUCI 6) di Jakarta. Jupri berhasil meraih golden ticket bersama teman satu komunitasnya di Pamulang, yaitu Beno. Namun ia belum beruntung untuk lolos sebagai finalis sementara Beno berhasil lolos sebagai finalis.

Karena keunikannya saat audisi tersebut, pihak Kompas TV sering mengundang Jupri untuk mengisi acara SUPER di beberapa tempat, mulai dari kafe hingga kampus. Cara Jupri membawakan materi komedi mirip seperti gaya Muhadkly Acho ketika ber stand up comedy, di mana terdapat beberapa diksi unik dalam penyampaian materinya. Bedanya Jupri lebih sering menceritakan pengalaman absurd yang ia alami di kehidupannya sehari-hari, khususnya sebagai anak bungsu dalam keluarga. Selama rentang itu pula, Jupri sering tampil mengisi acara stand up comedy baik on air maupun off air, dan berkesempatan bertemu dengan komika-komika lainnya dari seluruh nusantara. Hasilnya berbuah manis ketika di akhir tahun 2016, Jupri rela harus jauh-jauh ke Surabaya untuk mengikuti audisi SUCI 7 dan ia kembali meraih golden ticket, bahkan akhirnya ia menjadi satu dari 16 finalis SUCI 7. Jupri kali ini lolos bersama teman sekomunitasnya di Pamulang, yaitu Nury Zhafira. Sepanjang penampilannya di SUCI 7, Jupri menjadi salah satu unggulan berkat materinya yang cukup berani dan nyaris absurd total sehingga dari awal penampilannya, predikat "Kompor Gas" dari Indro Warkop selalu ia dapatkan. Meskipun sempat tidak mendapatkannya sekali karena performanya sedikit menurun di tengah kompetisi, ia kembali segera dengan memberikan performa terbaiknya. Namun langkah Jupri akhirnya terhenti di 7 besar setelah performanya dinilai oleh juri kembali turun dibandingkan kontestan lain yang masih bertahan, di mana ia harus close mic pada Show ke 12 di babak roasting terhadap komedian Bedu. Jupri kemudian memperoleh kesempatan kedua melalui babak callback, meskipun akhirnya belum beruntung kembali ke kompetisi, penampilannya dinilai sangat baik dan berhasil membayar kekurangannya di saat dirinya close mic sebelumnya.

Acara TV[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]