Commuter Line Dhoho, Penataran, dan Tumapel

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Commuter Line Dhoho, Penataran & Tumapel


Commuter Line Dhoho saat melintasi persawahan di dekat Stasiun Purwoasri.
Informasi umum
Jenis layananKereta api lokal
StatusBeroperasi
Daerah operasiKAI Commuter
Wilayah VIII Surabaya
Operator saat iniKAI Commuter
Operator sebelumnyaKereta Api Indonesia
Lintas pelayanan
Stasiun awalSurabaya Kota
Stasiun akhir
Jarak tempuh
  • Dhoho: 179,5 km
    Lintas Blitar–Surabaya Kota melalui Kertosono
  • Penataran: 169,6 km
    Lintas Blitar–Surabaya Kota melalui Malang
  • Tumapel: 96,2 km
    Lintas Malang–Surabaya Kota
Waktu tempuh rerata
  • Dhoho (Via Kertosono): 5 jam 24 menit
  • Penataran (Via Malang): 4 jam 59 menit
  • Tumapel: 2 Jam 57 menit
Jenis relRel berat
Pelayanan penumpang
KelasEkonomi
Pengaturan tempat duduk106 tempat duduk disusun 3–2
kursi saling berhadapan dan tidak bisa direbahkan
Fasilitas restorasiHanya pada perjalanan Sore-Malam
Teknis sarana dan prasarana
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasional60–90 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal401-424 (CL Dhoho)
431-438 (CL Penataran)
430, 439 (CL Tumapel)

Commuter Line Dhoho, Penataran, dan Tumapel merupakan layanan kereta api lokal kelas ekonomi yang dioperasikan oleh KAI Commuter untuk melayani Surabaya Kota–Blitar via Kertosono (Dhoho), via Malang (Penataran), dan Surabaya Kota–Malang (Tumapel).

Layanan ini dahulu dikenal sebagai Rapih Dhoho, Penataran, dan Tumapel. Nama Dhoho diambil dari sebuah nama pusat pemerintahan Kerajaan Kadiri, Daha, yang diperkirakan terletak di Kabupaten Kediri, sedangkan nama Penataran diambil dari sebuah candi peninggalan Kerajaan Kadiri bernama Candi Penataran yang terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Nama Tumapel diambil dari sebuah wilayah dengan nama sama yang pernah diperintah oleh Tunggul Ametung berdasarkan naskah Pararaton, yang diperkirakan berlokasi di wilayah Malang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dhoho[sunting | sunting sumber]

Kereta api Rapih Dhoho berhenti di Stasiun Jombang, 2013

Kereta api Dhoho—pada awalnya bernama Rapih Dhoho[catatan 1]—pertama kali beroperasi pada 21 Agustus 1971, melayani dari Surabaya untuk menuju ke dua stasiun akhir, yakni Blitar dan Madiun. Sesampai di Stasiun Kertosono, rangkaian kereta dibagi menjadi dua: satu bagian melanjutkan perjalanan ke Madiun dan bagian lainnya melanjutkan perjalanan ke Blitar.

Saat itu, perjalanan kereta api Rapih Dhoho dari Blitar membawa tiga kereta CL (layanan kelas III) yang ditarik oleh lokomotif C27/C28 sedangkan perjalanan dari Madiun membawa tiga kereta CL yang ditarik lokomotif D52. Kemudian kedua rangkaian digabung di Stasiun Kertosono dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan lokomotif D52.

Namun, perjalanan kereta api Rapih Dhoho dari Kertosono menuju Madiun dihentikan pada tahun 1972 diduga karena tingkat keterisian penumpang yang rendah sehingga kereta api Rapih Dhoho hanya melayani lintas Surabaya–Blitar hingga saat ini.[1]

Penataran[sunting | sunting sumber]

KA Penataran tiba di Stasiun Kepanjen, 2011

Kereta api Penataran pertama kali beroperasi pada 1985 yang melayani lintas Surabaya–Blitar melalui Malang—merupakan layanan penerus kereta api Tumapel Blitar. Pada tahun 1985 hingga 2002, terdapat tiga layanan kereta api yang beroperasi di lintas Blitar–Malang–Surabaya, yaitu Penataran, Tumapel Utama, dan Tumapel Malang.[1]

Penataran Ekspres[sunting | sunting sumber]

Kereta api Penataran Ekspres setelah meninggalkan Stasiun Malang, 2013

Kereta Api Indonesia pernah meluncurkan layanan kereta api komersial, kereta api Penataran Ekspres, yang mulai beroperasi pada 1 November 2013 untuk melayani lintas Surabaya–Malang dengan jumlah perjalanan tiga kali dalam sehari.[2] Kereta api ini beroperasi menggunakan kereta kelas ekonomi dengan jumlah tempat duduk sebanyak 106 kursi per kereta. Berbeda dengan ketentuan batas angkut kereta api Penataran yang mencapai 150%, batas angkut kereta api Penataran Ekspres disesuaikan dengan jumlah kursi yang tersedia sehingga setiap penumpang dipastikan mendapatkan tempat duduk. Selain itu, kereta api ini hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu sehingga perjalanan dari Surabaya menuju Malang hanya ditempuh sekitar 2 jam.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, rute kereta api ini diperpanjang hingga Stasiun Blitar dengan perjalanan sekali pulang pergi sehari mulai 6 Februari 2014.[3] Pada akhir pengoperasiannya, kereta api Penataran Ekspres hanya berhenti di Stasiun Blitar, Wlingi, Ngebruk, Kepanjen, Pakisaji, Malang Kotalama, Malang, Lawang, Porong, Sidoarjo, Waru, Wonokromo, dan Surabaya Gubeng. Karena tingkat okupansi penumpang yang rendah, pengoperasian kereta api ini dihentikan per 6 Januari 2015.[4]

Tumapel[sunting | sunting sumber]

Kereta api Tumapel pertama kali beroperasi pada 14 Januari 1971 untuk melayani lintas Surabaya–Malang. Pada awal peluncurannya, kereta api ini membawa tiga kereta kelas III (CW) [plus]. Walaupun hanya layanan kelas III, penumpang diberi fasilitas berupa kudapan dan air minum, serta dilengkapi dengan pramugari. Waktu perjalanan tercepat yang ditempuh saat itu selama 80 menit dengan tiga kali perjalanan pulang-pergi.[5]

Pada April 1973, rute pada kereta api tersebut sempat diperpanjang hingga Stasiun Blitar. Namun, layanan kereta api tersebut baik dari Malang maupun Blitar diubah menjadi kereta api lokal pada tahun 1976 karena ia berhenti di setiap stasiun yang dilaluinya.[5]

Pada tahun 1980-an awal, PJKA meluncurkan kereta api patas Tumapel Utama melayani lintas Surabaya–Malang hingga rutenya diperpanjang hingga Stasiun Blitar pada tahun 1985. Namun, pengoperasian kereta api tersebut dihentikan pada tahun 2002.[5]

Sejak 1 Juni 2014, Kereta Api Indonesia kembali mengoperasikan kereta api Tumapel sebagai kereta api lokal. Sebelumnya, nama "Tumapel" sempat hilang dan hanya disebut sebagai Penataran. kereta api ini berhenti melayani penumpang di semua stasiun di lintas Malang–Surabaya, kecuali Sengon, Sukorejo, dan Wonokerto.

Pengoperasian[sunting | sunting sumber]

Kereta api ini beroperasi dengan dua nama dalam sekali perjalanan dan memiliki rute yang memutar dari Surabaya hingga kembali ke Surabaya (disebut "jalur kantong"). Kereta api Penataran yang tiba di Stasiun Blitar akan berganti nama menjadi kereta api Dhoho sebelum kembali ke Surabaya Kota melalui Kertosono. Sebaliknya, kereta api Dhoho dari Kertosono berganti nama menjadi Penataran di Stasiun Blitar sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya Kota melalui Malang. Sebagai kereta api lokal, kereta api ini berhenti melayani penumpang di semua stasiun di lintas Surabaya–Blitar, kecuali Boharan, Kedinding, Purwoasri, Minggiran, Susuhan, Sengon, Sukorejo, dan Wonokerto.[6]

Lokomotif BB301 sempat digunakan sebagai lokomotif penarik kereta api Dhoho dan Penataran hingga sekitar 2011, walaupun lokomotif CC201 juga digunakan sebagai lokomotif penarik mulai 2004–2005 hingga sekarang. Saat ini, beberapa perjalanan kereta api ini terkadang ditarik menggunakan lokomotif CC206.[1] Kereta penumpang yang digunakan berupa kereta kelas ekonomi dengan susunan tempat duduk 3–2.[6]

Mulai 1 April 2022, pengoperasian kereta api Dhoho dan penataran yang sebelumnya dikelola oleh Kereta Api Indonesia kini dialih kelola ke KAI Commuter. Pengalihan operasional ini dilakukan bersamaan dengan beberapa kereta api lokal dan komuter di Indonesia.[7]

Pemberlakuan grafik perjalanan kereta api 2023 mulai 1 Juni 2023 mengubah pola perjalanan kedua kereta api ini. Penumpang dari kereta api Dhoho dan Penataran harus turun dari kereta dan bertukar dengan kereta lain apabila ingin melanjutkan perjalanan ke barat atau timur terutama dari Stasiun Blitar. Meskipun demikian, penumpang tetap dapat membeli satu tiket terusan. Stasiun Ngujang, Pakisaji, dan Purwoasri kembali melayani penumpang kereta api lokal. Penamaan kedua kereta api juga mengalami perubahan, dengan tambahan jenama Commuter Line sebelum nama kereta.[8][9][10] Akan tetapi, setelah mendapat banyaknya keluhan dari penumpang terutama dari proses pertukaran di Stasiun Blitar yang sulit, KAI Commuter Wilayah 8 Surabaya memutuskan untuk merevisi pola operasi Commuter Line Dhoho dan Penataran kembali menjadi rute lingkar tanpa mengubah jadwal sejak 15 Juli 2023.[11]

Perjalanan Tumapel dari Malang menuju Surabaya sepanjang 96 kilometer ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Kereta api ini sering dimanfaatkan oleh kaum penglaju dari Malang dan Sidoarjo sebagai alternatif dari KA Penataran. Tumapel hanya melayani dua kali perjalanan dalam sehari, yaitu keberangkatan paling pagi menuju Surabaya dan keberangkatan paling malam menuju Malang.

Tarif[sunting | sunting sumber]

Tarif kereta api Dhoho–Penataran berkisar antara Rp15.000,00–Rp30.000,00 bergantung pada jarak yang ditempuh penumpang.[6] Sementara itu, tarif kereta api Tumapel ditetapkan sebesar Rp10.000,00 untuk sekali perjalanan.

Insiden[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 27 Februari 2022 pukul 05.16 WIB, Terjadi kecelakaan kereta api Dhoho (351) relasi Blitar-Kertosono dengan bus Harapan Jaya Di KM 159+5 Di JPL No 252 tanpa palang antara Stasiun Tulungagung dengan Stasiun Ngujang. Dalam insiden ini, masinis dan penumpang bus menjadi Korban. 6 orang meninggal dan 14 orang luka-luka.[12][13]

Seorang wanita tewas setelah menabrak kereta ketiga Kereta Api Dhoho yang sedang melintas di perlintasan tanpa palang pintu Kecamatan Garum, Blitar. Penyebab kecelakaan tersebut disebabkan korban menggunakan ponsel sambil mengendarai motor.[14]

Pada tanggal 13 Agustus 2022 Kereta api Dhoho dan Penataran menabrak seorang pria yang sedang melewati rel di Stasiun Kepanjen kejadian ini terjadi karna Korban menyeberangi rel tanpa melihat kanan kiri tak menyadari adanya Kereta api Dhoho dan Penataran dengan nomor 367 relasi Stasiun Surabaya Kota- Stasiun Blitar, melaju dari utara menuju ke selatan," kecelakaan terjadi di rel kereta api KM 70+0/1 petak jalan Stasiun Stasiun Kepanjen- Stasiun Ngebruk, Kabupaten Malang. Dari informasi yang dihimpun, korban bernama Sumarlin (84) warga Jalan Anggrek RT 14 RW 02, Kelurahan Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Dari keterangan warga sekitar, korban baru saja kembali dari buang air besar di sungai yang ada di bawah jembatan rel kereta api. Dikarenakan jarak yang terlalu dekat dengan rel, kereta langsung menabrak tubuh korban hingga terpental dan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Pada tanggal 12 Desember 2022 pukul 11.15 WIB, Kereta api Dhoho dan Penataran menabrak seorang pria yang dengan sengaja menabrakkan dirinya ke kereta api. Dugaan sementara korban bunuh diri dengan menabrakkan tubuh ke kereta api. Lokasinya berada di petak jalan Stasiun Kepanjen-Stasiun Ngebruk.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Kereta api Dhoho[sunting | sunting sumber]

Kereta api Penataran[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Kereta api lokal di Jawa Timur

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Istilah Rapih merupakan kependekan dari "Rangkaian Terpisah". Saat itu, rangkaian kereta terbagi menjadi dua sesampai di Stasiun Kertosono: melanjutkan perjalanan ke Madiun dan melanjutkan perjalanan ke Blitar. Hingga kini, beberapa stasiun masih menyebut "Rapih Dhoho" untuk menyebut kereta api ini

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Sejarah KA Lokal Jalur Kantong". Roda Sayap. Diakses tanggal 2020-02-10. 
  2. ^ Rafie, Barratut Taqiyyah, ed. (2013-10-29). "KAI luncurkan Penataran Ekspres Malang-Surabaya". Kontan. Surabaya: KG Media. Diakses tanggal 2020-03-23. 
  3. ^ Kusbiantoro, Didik. "Jarak Tempuh KA Penataran Ekspres Diperpanjang Hingga Blitar". Surabaya. LKBN Antara. Diakses tanggal 2020-03-23. 
  4. ^ Iskandar, Yoni (2015-01-06). Iskandar, Yoni, ed. "Sepi Penumpang, KA Penataran Ekspres Dipensiunkan". Harian Surya. Surabaya: KG Media. Diakses tanggal 2020-03-23 – via Tribunnews. 
  5. ^ a b c "Sejarah KA Lokal Jalur Kantong". Roda Sayap. Diakses tanggal 2020-02-10. [pranala nonaktif permanen]
  6. ^ a b c KAI Access, aplikasi resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero)
  7. ^ Farozy, Ikko Haidar (2022-03-28). "KAI Commuter Ambil Alih Lokal Bandung dan Surabaya?". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2022-04-07. 
  8. ^ Wijayanto, Jay (16 Mei 2023). "Sesuaikan GAPEKA 2023, KAI Commuter Daop 8 Layani 66 Perjalanan Setiap Hari". Radar Surabaya. Surabaya: Jawa Pos. Diakses tanggal 19 Mei 2023. 
  9. ^ Kurniawan, Kukuh (24 Mei 2023). "Gapeka 2023 Berpengaruh ke KA Dhoho dan KA Penataran". Harian Surya. Malang: KG Media. Diakses tanggal 27 Mei 2023. 
  10. ^ Puspitasari, Intan (17 Mei 2023). "Stasiun Ngujang Reaktivasi Layanan, Apa yang Berubah? Berikut Penjelasan KAI". Radar Tulungagung. Tulungagung: Jawa Pos. Diakses tanggal 27 Mei 2023. 
  11. ^ Hadi, Samsul (13 Juli 2023). "Operasi Commuter Line Dhoho-Penataran Kembali ke Pola Awal, Stasiun Blitar Tak Lagi Jadi Transit". Harian Surya. Kediri: KG Media. 
  12. ^ Muttaqien, Adhar (2022-02-28). "Tambah Satu, Korban Tewas Kecelakaan Maut Bus Tertabrak KA Jadi 6 Orang". Detik. Surabaya: Trans Media. Diakses tanggal 2022-03-03. 
  13. ^ Nita, Dian (2022-02-27). Persada, Gading, ed. "Kronologi Kecelakaan Bus Harapan Jaya Tertabrak Kereta Api di Tulungagung, 5 Penumpang Meninggal". Kompas TV. Surabaya: KG Media. Diakses tanggal 2022-03-03. 
  14. ^ Hasani, Asip Agus (2022-03-01). Agriesta, Dheri, ed. "Berkendara Sambil Menelepon, Remaja di Blitar Tewas Tertabrak Kereta Api". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-03-03. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]