Adityanta Dani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Adityanta Dani
Daniaditya.jpg
Nama lahir Adityanta Dani Darmawan
Lahir 17 November 1991 (umur 27)
Bendera Indonesia Malang, Jawa Timur, Indonesia
Pekerjaan Pelawak tunggal, Mahasiswa
Tahun aktif 2013—sekarang
Pasangan Dian Desty Wijaya (k. 2017)

Adityanta Dani Darmawan (lahir di Malang, Jawa Timur, Indonesia, 17 November 1991; umur 27 tahun) adalah seorang pelawak tunggal berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) yang ditayangkan Kompas TV. Dani awalnya tampil mengisi grand final SUCI 4 pada tahun 2014, dan pada tahun berikutnya Dani menjadi salah satu finalis SUCI musim ke-5 (SUCI 5), yang mampu mencapai 4 besar[1]. Dani merupakan seorang penderita difabel, sehingga sepanjang penampilannya selalu dilakukan dengan duduk di atas kursi roda. Ini menjadikannya sebagai pelawak tunggal difabel pertama di Indonesia yang mampu mengundang decak kagum serta membuka mata masyarakat banyak atas kondisinya, serta difabel pertama yang tampil di kompetisi SUCI Kompas TV.

Kehidupan Pribadi[sunting | sunting sumber]

Kondisi yang dialami Dani hingga saat ini diperoleh saat ia berumur 5 tahun. Dani bersama keluarganya mengalami kecelakaan mobil di Pagaralam, Sumatra Selatan. Beruntung semua selamat dari kecelakaan tersebut. Namun akibat kecelakaan itu, Dani tak bisa tumbuh layaknya orang normal. Kedua kakinya tak bisa menopang seluruh tubuhnya. Sehingga saat berjalan, dirinya masih membutuhkan alat bantu penyangga. Bahkan tutur bicaranya juga tak bisa dilakukannya secara lancar seperti orang normal. Itu semua dia derita, karena saat mengalami kecelakaan, dia berada di bagian depan mobil. Dani terluka paling parah dibandingkan sopir dan ayahnya. Hari-harinya setelah mengalami kecelakaan tersebut dilaluinya lebih tertutup. Ia lebih sering menghabiskan waktu-waktu sepulang sekolah dengan membaca buku di dalam kamarnya. Bertahun-tahun menjalani rutinitas tersebut, ia kemudian berinisiatif untuk keluar dari kebiasaan itu. Dani mulai aktif keluar untuk mencari pergaulan baru. Salah satunya bergabung dengan beberapa komunitas yang ada di Malang Raya, meskipun ada beberapa yang menolak karena kondisi dirinya[2].

Karier[sunting | sunting sumber]

Dani yang merupakan mahasiswa STIKI Malang jurusan teknik informatika ini mengenal stand up comedy pada tahun 2013. Di mana ia menyaksikan penampilan stand up comedy bersama rekan-rekan kuliahnya saat sedang kumpul bersama. Dari sanalah kemudian muncul keinginannya untuk ikut dalam komunitas stand up comedy yang ada di Malang. Dani merasa bersyukur, karena komunitas Stand Up Indo Malang dengan tangan terbuka mau menerimanya. Hingga dia resmi bergabung dengan komunitas tersebut pada Agustus 2013.

Pembelajaran yang dikemas dalam forum diskusi sering dilakukan di komunitas yang melahirkan komika top macam Reggy Hasibuan, Arie Kriting dan Abdurrahim Arsyad ini. Nyatanya, membuat Dani lebih memahami dunia stand up comedy. Hingga akhirnya kesempatan untuk tampil di beberapa kampus di Malang dia dapatkan. Dari sana, dia pun kerap memperoleh honor untuk menambah uang jajannya. Dani pun sampai ikut mengisi acara stand up comedy yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV swasta. Hampir setahun menggeluti dunia stand up comedy, orang tuanya tak mengerti sama sekali kegiatan yang dilakukan putra kedua dari lima bersaudara itu. Hingga pada awal Januari 2015, kedua orang tuanya mulai mengetahui bahwa Dani terjun dalam dunia stand up comedy, di mana saat itu Dani meraih golden ticket untuk tampil di Stand Up Comedy Indonesia musim ke-5 (SUCI 5) yang diadakan Kompas TV di Jakarta.

Sebelum mengikuti SUCI 5, Dani pernah diundang Kompas TV untuk mengisi grand final SUCI 4, yang mempertemukan David Nurbianto dan Abdurrahim Arsyad, mengingat Dani yang pernah mengikuti audisi belum berhasil lolos. Dari sanalah publik melihat, bahwa Dani dengan keterbatasan fisik yang ia miliki, mampu menghibur penonton dengan sangat baik dan mulai membuka mata masyarakat bahwa seorang difabel mampu tampil ber stand up comedy. Selang beberapa bulan, Dani kembali tampil di Kompas TV bersama tujuh rekan komunitasnya, Wawan Saktiawan, Ryan Cimenk, Rahadyan Kukuh, Indra Cahya, Firman Singa, Widi Ciwid, dan Ulwan Fakhri dalam Liga Komunitas Stand Up (LKS) (Kompas TV) mewakili komunitas Stand Up Indo Malang. Mengingat satu tim komunitas beranggotakan 4 orang, Dani menjadi anggota tim SUI Malang 1 bersama Wawan, Ryan, dan Widi. Sayang langkah mereka hanya mampu sampai 8 besar setelah disingkirkan oleh tim Stand Up Indo Bintaro, Tangerang, Serpong (BTS). Lepas kompetisi LKS, Dani kembali mengikuti audisi SUCI. Kali ini audisi SUCI 5 yang ia ikuti bersama rekan-rekannya di Surabaya membuatnya berhasil lolos[3].

Tidak hanya sampai di situ, Dani terus melaju hingga menjadi salah satu 16 finalis SUCI 5. Selama kompetisi, Dani sehari-hari ditemani asistennya yang bernama Zainul, yang merupakan sahabat baiknya sejak kecil untuk membantu aktivitasnya, khususnya saat kompetisi stand up comedy termasuk SUCI 5. Dani konsisten membawakan materi komedi mengenai keresahan akan keadaan dirinya sebagai seorang penderita difabel. Bahwa penderita difabel tidak selamanya ditertawakan hanya karena kekurangan mereka, tetapi melalui kelebihan yang mereka miliki, salah satunya dengan menghibur penonton dengan stand up comedy. Hal yang selalu disiratkan oleh Dani setiap kali tampil. Selain itu Dani juga menjadi kontestan favorit juri, salah satunya Feni Rose. Dani berhasil mencapai 4 besar berkat konsistensi materi yang ia bawakan sebelum akhirnya tereliminasi. Perjuangan Dani ini diharapkan mampu memotivasi penderita difabel di Indonesia untuk berani menampilkan bakat yang mereka miliki, khususnya di bidang stand up comedy.

Acara TV[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]