Lompat ke isi

Krakatau

(Dialihkan dari Gunung Krakatau)
Krakatau
Krakatoa
Sebuah litografi letusan Krakatau tahun 1883.
Titik tertinggi
Ketinggian813 m (2.667 ft)
Puncak814 m (2.671 ft)
Isolasi2.171 km (1.349 mi)
ke Pulau Sebesi
Masuk dalam daftarSpesial Ribu
Koordinat6°06′07″S 105°25′23″E / 6.102°S 105.423°E / -6.102; 105.423
Penamaan
Nama lokalKrakatau  (Indonesia)
Geografi
Peta
LetakIndonesia
Geologi
Jenis gunungKaldera
Letusan terakhirJuli 2026[1]

Krakatau adalah sebuah kaldera di Selat Sunda yang terletak di antara pulau Jawa dan Sumatra di provinsi Lampung, Indonesia.[2] Kaldera ini merupakan bagian dari kelompok pulau vulkanik (Kepulauan Krakatau) yang terdiri atas empat pulau. Dua di antaranya dikenal sebagai Panjang dan Sertung; pulau lainnya, Rakata, merupakan satu-satunya sisa dari sebuah pulau yang juga bernama Krakatau, yang sebagian besar hancur akibat letusan pada tahun 1883 yang membentuk Kaldera tersebut.

Pada tahun 1927, pulau keempat, Anak Krakatau, muncul dari kaldera yang terbentuk pada tahun 1883. Aktivitas erupsi baru terjadi sejak akhir abad ke-20, dengan keruntuhan besar yang menyebabkan tsunami Selat Sunda 2018. Sebuah kerucut bara baru kemudian tumbuh dari cekungan bekas runtuhan akibat erupsi pada dasawarsa 2020-an.

Signifikansi historis

Pada tahun 2004, seorang astronom mengemukakan bahwa langit merah darah yang digambarkan dalam lukisan terkenal Edvard Munch tahun 1893, Jeritan, merupakan gambaran langit di atas Norwegia setelah letusan tersebut.[3]
Krakatau ditampilkan pada uang kertas 100 rupiah

Letusan Krakatau yang paling terkenal memuncak dalam serangkaian ledakan dahsyat pada 26–27 Agustus 1883, yang termasuk salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah yang tercatat.

Dengan indeks eksplosivitas vulkanik yang diperkirakan mencapai 6,[4] letusan tersebut setara dengan 200 megaton TNT (840 PJ)—sekitar 13.000 kali daya ledak nuklir bom Little Boy (13 hingga 16 kt) yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, selama Perang Dunia II, serta empat kali daya ledak Tsar Bomba, senjata nuklir dengan daya ledak terbesar yang pernah diledakkan, yaitu 50 Mt.

Letusan tahun 1883 memuntahkan sekitar 25 km3 (6 mil kubik) batuan.[5] Ledakan dahsyat tersebut terdengar hingga 3.600 km (2.200 mi) jauhnya di Alice Springs, Australia, dan di pulau Rodrigues dekat Mauritius, 4.780 km (2.970 mi) di sebelah barat.[6]

Menurut catatan resmi koloni Hindia Belanda, 165 desa dan kota di dekat Krakatau hancur dan 132 lainnya mengalami kerusakan parah. Sedikitnya 36.417 orang tewas dan ribuan lainnya terluka, sebagian besar akibat tsunami yang menyusul ledakan tersebut. Letusan itu menghancurkan dua pertiga pulau Krakatau.

Letusan di kawasan tersebut sejak 1927 membentuk sebuah pulau baru di lokasi yang sama, yang dinamai Anak Krakatau. Letusan berkala terus berlangsung, dengan letusan yang terjadi pada 2009, 2010, 2011, dan 2012, serta keruntuhan besar pada 2018. Pada akhir 2011, pulau ini memiliki radius sekitar 2 kilometer (1,2 mi), dengan titik tertinggi sekitar 324 meter (1.063 ft) di atas permukaan laut,[7] dan bertambah tinggi lima meter (16 ft) setiap tahun.[2] Pada 2017, ketinggian Anak Krakatau dilaporkan lebih dari 400 m (1.300 ft) di atas permukaan laut;[8] setelah keruntuhan pada Desember 2018, ketinggiannya berkurang menjadi 110 meter (361 ft).[9][7] Letusan terakhir Anak Krakatau terjadi pada Juli 2026, dimulai pada 2 Juli 2026.[1]

Etimologi

Salah satu penyebutan paling awal nama Krakatau terdapat dalam teks bahasa Sunda Kuno Bujangga Manik, yang kemungkinan ditulis di Jawa bagian barat pada akhir abad ke-15. Dalam teks tersebut, Krakatau disebut sebagai "pulau Rakata, sebuah gunung di tengah laut" (pulo Rakata gunung ti tengah sagara, f. 27v).[10] Meskipun sumber-sumber Eropa sebelumnya telah memuat gambaran tentang sebuah pulau di Selat Sunda dengan "gunung yang menjulang runcing", penyebutan Krakatau dengan namanya di dunia Barat pertama kali muncul pada sebuah peta karya Lucas Janszoon Waghenaer pada tahun 1611, yang menamai pulau tersebut "Pulo Carcata" (pulo adalah kata dalam bahasa Sunda yang berarti "pulau"). Sekitar dua lusin variasi nama tersebut telah ditemukan, termasuk Crackatouw, Cracatoa, dan Krakatao (dalam ejaan lama yang berbasis bahasa Portugis). Kemunculan pertama yang diketahui dari ejaan Krakatau dibuat oleh Wouter Schouten, yang pada Oktober 1658 melewati "pulau tinggi Krakatau yang ditutupi pepohonan".[11]

Asal-usul nama Krakatau tidak diketahui secara pasti. Teori-teori utama adalah:

  • Berasal dari bahasa Sanskerta karka atau karkaṭa atau karkaṭaka, yang berarti "lobster" atau "kepiting". Bentuk singkat rakaṭa juga berarti "kepiting" dalam bahasa Jawa Kuno. Fakta bahwa penyebutan kata tersebut yang paling awal tercatat sangat mirip dengan pelafalan kata-kata untuk kepiting tersebut (rakata dalam Bujangga Manik dan carcata pada peta Waghenaer) menjadikan etimologi Sanskerta ini sebagai asal-usul kata yang paling mungkin.[11]
  • Onomatope, yang menirukan suara yang dihasilkan oleh burung kakatua (Kakatoes) yang dahulu menghuni pulau tersebut. Namun, Van den Berg menunjukkan bahwa burung-burung tersebut hanya ditemukan di "bagian timur kepulauan" (yang berarti Kepulauan Nusa Tenggara, di sebelah timur Jawa, di sisi lain Garis Wallace).[butuh rujukan]
  • Kata bahasa Melayu yang paling mirip adalah kelakatu, yang berarti "semut bersayap putih". Furneaux menunjukkan bahwa pada peta-peta sebelum 1883, Krakatau memang agak menyerupai seekor semut jika dilihat dari atas, dengan Lang dan Verlaten berada di kedua sisinya seperti sayap.[butuh rujukan]
  • Van den Berg (1884) mengisahkan bahwa Krakatau merupakan hasil kesalahan linguistik. Menurut legenda, kapten sebuah kapal yang berkunjung menanyakan nama pulau tersebut kepada seorang penduduk setempat, dan orang itu menjawab, "Kaga tau" (Aku enggak tahu)—sebuah ungkapan slang Jakarta/Betawi yang berarti "Saya tidak tahu". Kisah ini pada umumnya tidak dianggap dapat dipercaya; kisah tersebut sangat mirip dengan mitos linguistik lain mengenai asal-usul kata kanguru dan nama Semenanjung Yucatán.

Institusi Smithsonian melalui Global Volcanism Program-nya menyebut nama Indonesia, Krakatau, sebagai nama yang benar, tetapi mengatakan bahwa Krakatoa juga sering digunakan dalam bahasa Inggris.[2][12][13]

Letak geografis

Selat Sunda

Indonesia memiliki lebih dari 130 gunung berapi aktif,[14] jumlah terbanyak di antara negara mana pun. Gunung-gunung berapi tersebut membentuk poros sistem busur kepulauan Indonesia yang terbentuk akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke arah timur laut. Sebagian besar gunung berapi ini berada di sepanjang dua pulau terbesar di Indonesia, yaitu Jawa dan Sumatra. Kedua pulau tersebut dipisahkan oleh Selat Sunda, yang terletak pada suatu kelokan poros busur kepulauan. Krakatau berada tepat di atas zona penunjaman antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia, tempat batas kedua lempeng berubah arah secara tajam, yang kemungkinan menyebabkan kerak bumi di kawasan ini menjadi luar biasa lemah.[15]

Sejarah sebelum 1883

Pada suatu masa dalam prasejarah, pernah terjadi letusan sebelumnya yang membentuk kaldera, menyisakan pulau-pulau Verlaten (atau Sertung); Lang (juga dikenal sebagai Rakata Kecil atau Panjang); Poolsche Hoed ("Topi Polandia");[16] serta bagian dasar Rakata. Kemudian, setidaknya dua kerucut lainnya (Perboewatan dan Danan) terbentuk dan pada akhirnya menyatu dengan Rakata, membentuk pulau utama Krakatau.[17] Pada saat letusan 1883, gugusan Krakatau terdiri atas Lang, Verlaten, dan Krakatau sendiri, sebuah pulau dengan panjang 9 km (5,6 mi) dan lebar 5 km (3,1 mi). Terdapat pula pulau kecil yang ditumbuhi pepohonan di dekat Lang (Poolsche Hoed) serta beberapa pulau kecil berbatu atau gosong di antara Krakatau dan Verlaten.

Terdapat tiga kerucut vulkanik di Pulau Krakatau: Rakata, (820 m or 2.690 ft) di bagian selatan; Danan, (450 m or 1.480 ft) di dekat bagian tengah; dan Perboewatan, (120 m or 390 ft) di bagian utara.

Peristiwa tahun 416 M

Kitab Raja-Raja [id] berbahasa Jawa (Pustaka Raja), sebuah kompilasi tradisi sejarah dari Jawa Tengah yang disusun pada abad ke-19, mencatat bahwa pada tahun 338 Śaka (416 M)[butuh rujukan]:

Terdengar suara gemuruh dari gunung Batuwara [sekarang disebut Pulosari, sebuah gunung berapi yang telah punah di Bantam, yang paling dekat dengan Selat Sunda], yang dijawab dengan suara serupa dari Kapi, yang terletak di sebelah barat Bantam masa kini [(Banten) merupakan provinsi paling barat di Jawa, sehingga tampaknya yang dimaksud adalah Krakatau]. Api besar yang menyala-nyala dan menjangkau langit keluar dari gunung yang disebut terakhir; seluruh dunia terguncang hebat dan terjadi suara gemuruh keras yang disertai hujan lebat dan badai. Namun, hujan deras ini bukan hanya tidak memadamkan letusan api dari gunung Kapi, melainkan justru memperbesar kobaran api; suaranya mengerikan, hingga akhirnya gunung Kapi, dengan raungan dahsyat, pecah berkeping-keping dan tenggelam ke bagian bumi yang paling dalam. Air laut naik dan menggenangi daratan, wilayah di sebelah timur gunung Batuwara hingga gunung Rajabasa [gunung berapi paling selatan di Sumatra] tergenang oleh laut; penduduk bagian utara negeri Sunda hingga gunung Rajabasa tenggelam dan hanyut bersama seluruh harta benda mereka[18] ... Air kemudian surut, tetapi daratan tempat Kapi berdiri berubah menjadi laut, dan Jawa serta Sumatra terpisah menjadi dua bagian.

Pustaka Raja tidak menggunakan sumber primer untuk uraian mengenai peristiwa ini, dan keandalannya sebagai sumber sejarah sangat diragukan.[19] Oleh karena itu, uraian tentang letusan ini tidak mungkin diverifikasi. Tidak terdapat bukti geologis yang dikemukakan untuk memperkuat terjadinya letusan tersebut.[20][Verifikasi gagal] David Keys, Ken Wohletz, dan peneliti lainnya mengemukakan bahwa letusan gunung berapi dahsyat, yang kemungkinan berasal dari Krakatau, pada tahun 535 bertanggung jawab atas perubahan iklim global pada tahun 535–536.[21] Proyek pengeboran di Selat Sunda menyingkirkan kemungkinan bahwa pernah terjadi letusan pada tahun 535 M.[22][23]

Abad Pertengahan

Ian Thornton menyebut bahwa Krakatau dikenal sebagai "Gunung Api" pada masa dinasti Sailendra di Jawa, dengan catatan mengenai tujuh peristiwa erupsi antara abad ke-9 dan ke-16.[24] Peristiwa-peristiwa tersebut secara tentatif diperkirakan terjadi pada tahun 850, 950, 1050, 1150, 1320, dan 1530.

1680

Simon Winchester berpendapat bahwa letusan tahun 1680 digambarkan dalam cukilan Belanda abad ke-18 ini.[25]

Pada Februari 1681, Johann Wilhelm Vogel, seorang insinyur pertambangan Belanda di Salida, Sumatra (dekat Padang), dalam perjalanan menuju Batavia (sekarang Jakarta) melewati Selat Sunda. Dalam buku hariannya ia menulis:

...dengan penuh keheranan saya melihat bahwa pulau Krakatau, yang pada perjalanan pertama saya ke Sumatra [Juni 1679] sepenuhnya hijau dan subur dengan pepohonan, kini tampak terbakar dan tandus di hadapan mata kami, dan pada empat tempat memuntahkan bongkahan-bongkahan api besar. Ketika saya bertanya kepada kapten kapal kapan pulau tersebut meletus, ia menjawab bahwa peristiwa itu terjadi pada Mei 1680 ... Ia menunjukkan kepada saya sepotong batu apung sebesar kepalan tangan.

Vogel menghabiskan beberapa bulan di Batavia, lalu kembali ke Sumatra pada November 1681. Di kapal yang sama terdapat beberapa pelancong Belanda lainnya, termasuk Elias Hesse, seorang penulis. Catatan perjalanan Hesse melaporkan:

...pada tanggal 19 [November 1681] kami kembali mengangkat jangkar dan mula-mula berlayar ke arah utara menuju pulau Sleepzie (Sebesi), yang tidak berpenghuni, ... lalu terus ke utara menuju pulau Krakatou, yang meletus sekitar setahun yang lalu dan juga tidak berpenghuni. Kepulan asap yang membubung dari pulau ini dapat terlihat dari jarak bermil-mil; kapal kami berada sangat dekat dengan pantainya dan kami dapat melihat pepohonan menjulang tinggi di lereng gunung, yang tampak benar-benar hangus, tetapi kami tidak dapat melihat apinya sendiri.[26]

Letusan tersebut juga dilaporkan oleh seorang kapten kapal asal Bengali, yang kemudian menuliskan tentang peristiwa itu, tetapi tidak mencatatnya pada saat kejadian dalam buku log kapal.[27] Baik Vogel maupun Hesse tidak memberikan keterangan rinci mengenai Krakatau dalam bagian lain tulisan mereka, dan tidak ada pelancong lain pada masa itu yang menyebut adanya letusan atau bukti terjadinya letusan. (Pada November 1681, hasil panen lada ditawarkan untuk dijual oleh penduduk setempat.)[28]

Dalam bukunya tahun 2003, Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883, Simon Winchester berpendapat bahwa letusan tahun 1680 digambarkan dalam sebuah cukilan abad ke-18 karya kartografer Belanda Jan van Schley yang berjudul Het Brandende Eiland, "Pulau yang Terbakar", dan menulis bahwa "tanpa diragukan lagi, gambar tersebut merupakan gambaran dari letusan yang jika tidak demikian hanya sedikit tercatat, yang konon terjadi pada tahun 1680."[25]

Pada tahun 1880, Verbeek meneliti aliran lava baru yang belum mengalami pelapukan di pantai utara Perboewatan, yang menurutnya tidak mungkin berusia lebih dari dua abad.[29]

Kunjungan HMS Discovery

Pada Februari 1780, awak kapal HMS Resolution (1771) dan HMS Discovery (1774), dalam perjalanan pulang setelah kematian Kapten James Cook di Hawaiʻi, berhenti selama beberapa hari di Krakatau. Mereka menemukan sumber air tawar dan mata air panas di pulau tersebut. Mereka menggambarkan penduduk asli yang saat itu tinggal di pulau itu sebagai "ramah" dan membuat beberapa sketsa (dalam jurnalnya, John Ledyard menyebut pulau tersebut "Cocoterra").

Ilustrasi berwarna yang menampilkan penduduk asli dan rumah mereka yang dikelilingi tumbuhan hijau lebat
Pada 1780, awak HMS Discovery menemukan pulau ini sebagai tempat yang ramah dengan vegetasi yang lebat dan subur; ilustrasi karya John Webber (1751–1793)
Ilustrasi berwarna
Palem kipas berukuran besar di pulau tersebut; ilustrasi karya John Webber (1751–1793)

Kunjungan USS Peacock

Edmund Roberts menyebut pulau tersebut sebagai Crokatoa dalam jurnalnya. Berikut adalah uraian yang diparafrasekan:

Pada 8 September 1832, kapal perang kecil AS Peacock berlabuh di lepas ujung utara pulau tersebut dan juga mengunjungi Lang, untuk mencari penduduk, air tawar, dan ubi. Pendaratan di mana pun ternyata sulit dilakukan karena ombak besar dan terumbu karang yang memanjang cukup jauh dari pantai. Mata air panas yang mendidih dengan kuat melalui banyak depa air ditemukan di sisi timur Krakatau, 150 kaki (46 m) dari pantai. Roberts, Kapten Geisinger, dan letnan marinir Fowler mengunjungi Pulau Forsaken setelah mengira suara belalang sebagai bunyi air mengalir. Perahu mereka meluncur di atas air yang sangat jernih, melewati taman bawah laut yang luas dan sangat indah. Di sana terdapat karang dengan berbagai bentuk dan warna; beberapa menyerupai bunga matahari dan jamur, sementara yang lain menyerupai kubis berdiameter 1 hingga 36 inci (3 hingga 91 cm), dan jenis ketiga sangat mirip dengan bunga mawar. Lereng bukit menunjukkan ciri khas iklim tropis; terdapat kawanan besar burung beo, berbagai jenis monyet, serta kebun mangga liar dan jeruk—pemandangan luar biasa yang dipenuhi tumbuhan dan bunga dari berbagai jenis, dengan warna-warna cerah ungu, merah, biru, cokelat, dan hijau—tetapi tidak terdapat air maupun persediaan makanan.[30]

Aktivitas Belanda

Pada 1620, Belanda mendirikan sebuah pangkalan angkatan laut di kepulauan tersebut dan tidak lama kemudian membangun galangan kapal. Pada suatu waktu pada akhir abad ke-17, dilakukan upaya untuk mendirikan perkebunan lada di Krakatau, tetapi secara umum pulau-pulau tersebut diabaikan oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda. Pada 1809, sebuah koloni hukuman didirikan di lokasi yang tidak diketahui secara pasti dan beroperasi selama sekitar satu dekade. Pada 1880-an, pulau-pulau tersebut tidak lagi memiliki penduduk tetap; permukiman terdekat berada di pulau Sebesi di dekatnya (sekitar 12 km or 7,5 mi jauhnya), dengan populasi 3.000 jiwa.

Sejumlah survei dan peta pelayaran telah dibuat, dan pulau-pulau tersebut hanya sedikit dieksplorasi atau diteliti. Sebuah peta kepulauan tersebut yang dibuat pada 1854 digunakan dalam sebuah peta laut Inggris, yang menunjukkan beberapa perbedaan dibandingkan peta Belanda yang dibuat pada 1874. Pada Juli 1880, Rogier Verbeek melakukan survei resmi terhadap kepulauan tersebut, tetapi hanya diizinkan menghabiskan beberapa jam di sana. Ia berhasil mengumpulkan sampel dari beberapa lokasi, dan penelitiannya kemudian terbukti penting dalam menilai dampak geologis dari letusan 1883.[31]:9

Letusan 1883

Dua pertiga bagian Pulau Krakatau asli musnah akibat letusan 1883.

Meskipun aktivitas seismik di sekitar gunung berapi tersebut telah intens pada tahun-tahun sebelum letusan dahsyat 1883, serangkaian letusan yang lebih kecil mulai terjadi pada 20 Mei 1883. Gunung berapi ini memuntahkan kepulan uap dan abu dalam jumlah besar yang berlangsung hingga akhir Agustus.[32]

Pada 27 Agustus, serangkaian empat ledakan dahsyat hampir menghancurkan pulau tersebut. Ledakannya begitu kuat hingga terdengar hingga 3.110 km (1.930 mi) jauhnya di Perth, Australia Barat, dan Pulau Rodrigues dekat Mauritius, yang berjarak 4.800 km (3.000 mi).[6] Gelombang tekanan dari ledakan ketiga dan paling dahsyat tercatat oleh barograf di seluruh dunia.[33] Sejumlah barograf merekam gelombang tersebut sebanyak tujuh kali selama lima hari: empat kali saat gelombang bergerak menjauhi gunung berapi menuju titik antipodal-nya, dan tiga kali saat bergerak kembali menuju gunung berapi;[31]:63 gelombang tersebut mengelilingi bumi tiga setengah kali. Abu terlontar hingga ketinggian 80 km (260.000 ft). Orang-orang dalam radius 160 kilometer (100 mi) dari lokasi letusan dilaporkan menjadi tuli akibat letusan, mengalami nyeri telinga yang hebat dan kehilangan pendengaran permanen.[34] Pada jarak tersebut, intensitas suara diukur mencapai 172 dB,[35] kira-kira setara dengan suara yang dihasilkan Space Shuttle oleh roketnya saat lepas landas.[34][36] Sebuah kapal yang berjarak sekitar 64 kilometer (40 mi) dari pulau tersebut mengalami gelombang tekanan yang kira-kira setara dengan 190 dB, sehingga menyebabkan gendang telinga lebih dari separuh awak kapal pecah.[35]

Dampak gabungan aliran piroklastik, abu vulkanik, dan tsunami menimbulkan bencana di kawasan tersebut dan di berbagai belahan dunia. Jumlah korban tewas yang tercatat oleh pemerintah Belanda adalah 36.417 orang, meskipun sejumlah sumber memperkirakan jumlahnya lebih dari 120.000. Terdapat banyak laporan terdokumentasi mengenai kelompok kerangka manusia yang mengapung melintasi Samudra Hindia di atas rakit batu apung vulkanik dan terdampar di pantai timur Afrika hingga setahun setelah letusan.[37] Suhu musim panas di belahan bumi utara turun rata-rata 04 °C (7,2 °F) pada tahun setelah letusan.[38]

Pasca-letusan

Perkembangan kepulauan Krakatau dari 1880 hingga 2018. Anak Krakatau tumbuh terus sejak 1927.

Anak Krakatau

Dalam laporannya mengenai letusan tersebut, Verbeek memperkirakan bahwa aktivitas baru akan muncul di kawasan yang sebelumnya terletak di antara Perboewatan dan Danan. Perkiraan ini terbukti benar pada 29 Desember 1927, ketika kubah lava bawah laut di kawasan Perboewatan menunjukkan tanda-tanda letusan (peristiwa sebelumnya di kawasan yang sama telah dilaporkan pada Juni 1927). Beberapa hari kemudian, sebuah gunung berapi pulau baru muncul di atas permukaan laut. Pada awalnya, letusan berupa batu apung dan abu, dan pulau tersebut beserta dua pulau yang kemudian terbentuk dengan cepat terkikis oleh laut. Akhirnya, pulau keempat yang dinamai Anak Krakatau muncul di atas permukaan laut pada Agustus 1930 dan menghasilkan aliran lava lebih cepat daripada kemampuannya untuk terkikis oleh gelombang laut. Anak Krakatau mengalami banyak letusan sepanjang abad berikutnya.

Pada 22 Desember 2018, letusan Anak Krakatau menyebabkan kerucut utama dan lereng barat daya gunung berapi runtuh, memicu tsunami mematikan, dengan gelombang setinggi hingga lima meter yang mencapai daratan.[39][40][41] Pada 10 Januari 2019, aktivitas erupsi kembali berlangsung,[42] dengan letusan freatomagmatik yang teramati pada Mei 2019 di sekitar kawah yang baru terbentuk kembali.[43] Letusan berkala berlanjut hingga 2023.[44][45][46]

Politik

Pada 2 Oktober 1883, lima minggu setelah letusan, seorang serdadu Belanda ditikam berkali-kali oleh seorang pria berjanggut dan berjubah putih ketika membayar tembakau di kota kecil Serang. Pelaku yang hendak melakukan pembunuhan tersebut tidak pernah tertangkap, tetapi enam minggu kemudian seorang pria dengan pakaian serupa menyerang seorang penjaga di garnisun dan menyalahkan Belanda karena mendatangkan pembalasan ilahi atas kawasan tersebut. "Semangat keagamaan ekstrem" yang dicatat oleh para penyidik ketika menginterogasi pria itu dianggap tersebar luas, dan para sejarawan berpendapat bahwa kondisi tersebut dimanfaatkan oleh kaum Muslim konservatif yang sedang berkembang dan para pemimpin antikolonial (seperti Abdul Karim Amrullah) untuk mengobarkan Perlawanan Petani Banten pada 1888, serta memanfaatkan kegelisahan moral Belanda yang terusik oleh Max Havelaar dan berbagai pengungkapan penyalahgunaan kekuasaan setelahnya.[47][25][48]

Ledakan tersebut merupakan bencana alam pertama dalam sejarah yang dampaknya dapat dipastikan dirasakan di seluruh dunia dan penyebabnya diketahui, menyusul berkembangnya kabel komunikasi lintas samudra. Winchester berpendapat bahwa bencana tersebut menandai lahirnya era kesadaran global.[49]

Penelitian biologi

Kepulauan ini telah menjadi objek kajian penting dalam biogeografi pulau dan populasi pendiri yang membentuk suatu ekosistem dari awal pada lingkungan yang secara praktis telah disterilkan.[50]

Sebelum bencana tahun 1883, kepulauan ini hanya sedikit diteliti atau disurvei secara biologis—hanya dua koleksi biologis dari masa sebelum 1883 yang diketahui, yakni satu koleksi spesimen tumbuhan dan satu bagian dari koleksi cangkang. Berdasarkan uraian dan gambar yang dibuat oleh HMS Discovery, flora di kepulauan tersebut tampaknya merupakan perwakilan hutan klimaks tropis Jawa yang khas. Fauna sebelum 1883 hampir tidak diketahui, tetapi kemungkinan serupa dengan fauna pulau-pulau kecil lain di kawasan tersebut.

Kajian botani

Dari sudut pandang biologi, masalah Krakatau[51] mengacu pada pertanyaan apakah kepulauan tersebut benar-benar menjadi steril sepenuhnya akibat letusan 1883 atau apakah sebagian kehidupan asli berhasil bertahan. Ketika para peneliti pertama mencapai kepulauan ini pada Mei 1884, satu-satunya makhluk hidup yang mereka temukan adalah seekor laba-laba di celah batu di sisi selatan Rakata. Namun, kehidupan dengan cepat kembali menghuni kepulauan tersebut; kunjungan Verbeek pada Oktober 1884 mendapati tunas-tunas rumput sudah mulai tumbuh. Sisi timur pulau telah ditumbuhi pepohonan dan semak secara luas, kemungkinan berasal dari biji yang terdampar akibat arus laut atau terbawa dalam kotoran burung (atau dibawa oleh penduduk dan para peneliti). Namun, ekosistem tumbuhan di Rakata cukup rentan terhadap faktor lingkungan dan telah mengalami kerusakan akibat letusan-letusan yang terjadi belakangan di Anak Krakatau.

Pendudukan Handl

Pada 1914, direncanakan agar Rakata ditetapkan sebagai cagar alam. Pada 1916, Johann Handl, seorang warga Jerman yang bekerja sebagai "kolektor batu apung", memperoleh izin untuk menambang batu apung, meskipun mendapat "penolakan kuat dari masyarakat",[24] tampaknya sebagai cara untuk menjauh dari Perang Dunia I.[52] Hak sewanya atas wilayah seluas 87 kilometer persegi (34 sq mi) (pada dasarnya separuh bagian timur pulau) berlaku selama 30 tahun. Handl kemudian menetap di pantai selatan Rakata, tempat ia membangun rumah dan menanami kebun bersama "empat keluarga Eropa dan sekitar 30 kuli". Saat menggali, Handl menemukan kayu yang tidak terbakar di bawah endapan abu tahun 1883, dan menemukan air tawar di bawah kedalaman 5,5 meter (18 ft). Ia dan rombongannya tinggal di sana selama empat tahun, tetapi kemudian pergi karena "melanggar ketentuan sewa."[24] Kelompoknya diyakini secara tidak sengaja memperkenalkan tikus hitam ke pulau tersebut, yang kemudian berkembang biak dengan cepat.[52]

Konservasi

Krakatau ditetapkan sebagai cagar alam pada 1921, sesuai dengan kategori pengelolaan IUCN Ia (cagar alam ketat). Bersama beberapa cagar alam lainnya, kawasan ini diusulkan menjadi taman nasional pada 1980. Pada 1991, "Taman Nasional Ujung Kulon dan Cagar Alam Krakatau" ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, yang memenuhi kriteria alam (vii) dan (x). Taman Nasional Ujung Kulon secara resmi didirikan pada 1992 dan mencakup Krakatau.[53][54][55]

Lihat juga

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 Smithsonian Global Volcanism Program, Volcanic Activity Report on Krakatau (Indonesia), 2 July 2026-8 July 2026, Retrieved Jul. 15, 2026.
  2. 1 2 3 "Krakatau". Global Volcanism Program. Institusi Smithsonian.
  3. "Krakatoa provided backdrop to Munch's scream". The Age. Melbourne. Reuters. 11 Desember 2003. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Juni 2011. Diakses tanggal 15 November 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link); "Why the sky was red in Munch's 'The Scream'". CNN. Reuters. 10 Desember 2003. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2010. Diakses tanggal 15 November 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link); Panek, Richard (8 Februari 2004). "'The Scream', East of Krakatoa". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juni 2020. Diakses tanggal 15 November 2010.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. Breining, Greg (2007). "The Deadliest Volcanoes". Super Volcano: The Ticking Time Bomb Beneath Yellowstone National Park. Voyageur Press. hlm. 256. ISBN 978-0-7603-2925-2.
  5. Hopkinson, Deborah (Januari 2004). "The Volcano That Shook the World: Krakatoa 1883". Storyworks. 11 (4). New York: Scholastic: 8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Mei 2018. Diakses tanggal 1 Maret 2008.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 "How Krakatoa made the biggest bang". The Independent. London. 3 Mei 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juli 2018. Diakses tanggal 22 Agustus 2018.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 "Anak Krakatau". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Agustus 2011. Diakses tanggal 10 November 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. Donahue, Terry (2017-12-05). "The Resurrection Of Krakatau". The Indonesia Expat. Indonesiaexpat.biz. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2018. Diakses tanggal 2018-12-29.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. Amos, Jonathan (2018-12-29). "Indonesian volcano's lost stature". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Februari 2020. Diakses tanggal 2018-12-29.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. Noorduyn, J.; Teeuw, A. (2006). Three Old Sundanese Poems. Leiden: KITLV Press.
  11. 1 2 Winchester 2003, hlm. 27.
  12. Note: This spelling has been attributed to a sub-editor at The Times (who may have typographically swapped the 'a' and 'o' of the Portuguese spelling) interpreting telegraphic reporting on the massive eruption of 1883.
  13. Winchester 2003, hlm. 183.
  14. "Volcanoes of Indonesia". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Agustus 2011. Diakses tanggal 25 Maret 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. Sullivan, Ryan; Jonasdottir, Hrafnihildur; Santiago, Jessica; Nelson, Emily. "Oceanic Mapping". ASU. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Februari 2021. Diakses tanggal 30 Januari 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. Note: apparently because it looked like a hat from the sea
  17. Note: The dating of these events is currently unknown. The Sunda Strait was first mentioned by Arab sailors circa 1100.
  18. "Krakatau version 1.0, Part 2". The Anthropogene. 2003-11-11. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-05-28. Diakses tanggal 2010-01-23.
  19. Ricklefs, M.C. (2018). "The perils of hybridity in 19th-century Java: Ronggawarsita's reputation, animated debates in Bramartani, and the probable origins of Javanese acrostics; with a postscript on Purwalĕlana". Archipel. 96 (96): 103–127. doi:10.4000/archipel.802. S2CID 165348828.
  20. Madden-Nadeau, A.L.; Cassidy, M.; Pyle, D.M.; Mather, T.A.; Watt, S.F.L.; Engwell, S.L.; Abdurrachman, M.; Nurshal, M.E.M.; Tappin, D.R.; Ismail, T. (2021-03-01). "The magmatic and eruptive evolution of the 1883 caldera-forming eruption of Krakatau: Integrating field- to crystal-scale observations". Journal of Volcanology and Geothermal Research (dalam bahasa Inggris). 411 107176. Bibcode:2021JVGR..41107176M. doi:10.1016/j.jvolgeores.2021.107176. S2CID 233789963.
  21. Wohletz, K. H. (2000). "Were the dark ages triggered by volcano-related climate changes in the 6th century". Eos, Transactions American Geophysical Union. 48 (81): F1305. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Juni 2020. Diakses tanggal 21 Juni 2018.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. Southon, John; Mohtadi, Mahyar; Pol-Holz, Ricardo De (2013). "Planktonic Foram Dates from the Indonesian Arc: Marine 14C Reservoir Ages and a Mythical AD 535 Eruption of Krakatau". Radiocarbon (dalam bahasa Inggris). 55 (3): 1164–1172. Bibcode:2013Radcb..55.1164S. doi:10.1017/S0033822200048074. ISSN 0033-8222. S2CID 54647517.
  23. "Abstract: NO EVIDENCE FOR EXPLOSIVITY OF A CIRCA 535AD ERUPTION OF KRAKATAU VOLCANO (2004 Denver Annual Meeting (November 7–10, 2004))". gsa.confex.com. Diakses tanggal 2023-04-16.
  24. 1 2 3 Thornton, Ian (1997). Krakatau: the destruction and reassembly of an island ecosystem (Edisi 1st). Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 978-0674505728.
  25. 1 2 3 Winchester 2003, hlm. 136.
  26. Note: Vogel returned to Amsterdam in 1688 and published the first edition of his journal in 1690.
  27. Winchester 2003, hlm. 132–133.
  28. Note: Historians Van den Berg and Verbeek both conclude that Vogel must have exaggerated the extent of the eruption he saw. Even so, there must have been an eruption around this time.
  29. Verbeek, R.D.M. (1884). Krakatau (dalam bahasa Dutch). Batavia, Dutch East Indies (Jakarta, Indonesia): Landsdrukkerij (Government Press). hlm. 164.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) From p. 164: "Over de gesteenten, waaruit de kegels Danan en Perboewatan bestonden, […] dat zij van de eruptie van 1680 afkomstig is."
    • French translation: Verbeek, R.D.M. (1886). Krakatau (dalam bahasa French). Batavia, Dutch East Indies (Jakarta, Indonesia): Imprimerie de l'état (Government Press). hlm. 171.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) From p. 171: "Au suject des roches qui composaient les cônes Danan et Perboewatan, […] et permet de supposer qu'elle date de l'eruption de 1680." (On the subject of the rocks which composed the cones of Danan and Perboewatan, we possess only very little data. In the month of July 1880, I collected only samples of the flow of lava which, at the northern extremity of Perboewatan, were thrown into the sea. This flow still did not present any trace of degradation by atmospheric agents and was therefore entirely bare, thus contrasting with all of the rest of the island of Krakatau, which was covered by a thin layer of vegetation; this fact denotes the relatively young age of the lava in question and permits one to suppose that it dates from the eruption of 1680.)
  30. Roberts, Edmund (12 Oktober 2007) [1837]. "Chapter III; Arrival at Crokatoa and Forsaken Islands". Embassy to the Eastern courts of Cochin-China, Siam, and Muscat : in the U. S. sloop-of-war Peacock ... during the years 1832–3–4. Harper & brothers. Digital images 46–48. ISBN 9780608404066. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Januari 2023. Diakses tanggal 12 November 2020.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  31. 1 2 Symons, G. J., ed. (1888). The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena (Laporan). London: Krakatoa Committee of the Royal Society. Diakses tanggal 5 Mei 2015.{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  32. Winchester 2003, hlm. 154–166.
  33. Monique R. Morgan (Januari 2013). "The Eruption of Krakatoa (also known as Krakatau) in 1883". BRANCH: Britain, Representation and Nineteenth-Century History. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2019. Diakses tanggal 5 Februari 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  34. 1 2 "Historical Eruption Sounds - Krakatoa". Volcano Word. Oregon State University College of Earth, Ocean, and Atmospheric Sciences. Diakses tanggal 8 Februari 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. 1 2 Funnel, Rachel (2 Maret 2023). "The Loudest Sound Ever Blew Out People's Eardrums From 40 Miles Away". IFLS. No. Nature, Environment. © IFLScience. Diakses tanggal 8 Februari 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  36. "10 Noisiest Sounds Ever Recorded on Planet Earth". Electronic Sirens. Telegrafia. 14 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  37. Winchester, Simon (2005). Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883 (Paperback) (dalam bahasa English). Harper Perennial. hlm. 297–298. ISBN 9780060838591. Diakses tanggal 8 Februari 2026.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  38. Bradley, Raymond S. (Juni 1988). "The explosive volcanic eruption signal in northern hemisphere continental temperature records" (PDF). Climatic Change (dalam bahasa Inggris). 12 (3): 221–243. Bibcode:1988ClCh...12..221B. doi:10.1007/bf00139431. ISSN 0165-0009. S2CID 153757349. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 November 2020. Diakses tanggal 29 November 2019 via Springer.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. "Indonesia tsunami: At least 222 Dead and 843 injured after Anak Krakatau volcano erupts". telegraph.co.uk. 23 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Agustus 2019. Diakses tanggal 23 Desember 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  40. Amos, Jonathan (29 Desember 2018). "Anak Krakatau: Indonesian Volcano's Dramatic Collapse". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari asli tanggal 2 Februari 2020. Diakses tanggal 4 Mei 2022.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  41. "22-23 Dec 2018 Eruption & Tsunami of Krakatoa - Updates". Volcano Discovery. 25 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Juni 2019. Diakses tanggal 26 Desember 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  42. Amos, Jonathan (10 Januari 2019). "Anak Krakatau: Finnish radar satellite eyes tsunami volcano". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Mei 2019. Diakses tanggal 10 Januari 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. "Krakatau volcano (Indonesia) activity update and field report: increasing unrest". www.volcanodiscovery.com. Volcano Discovery. 25 Mei 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Mei 2019. Diakses tanggal 12 Juni 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  44. "Indonesia's Anak Krakatau Spews Ash 1,500 Metres High". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). 5 Februari 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Februari 2022. Diakses tanggal 5 Februari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  45. "Anak Krakatau volcano erupts, spews huge ash tower". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 April 2022. Diakses tanggal 27 April 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  46. "Overall Green alert Volcanic eruption for Krakatau". Global Disaster Alert and Coordination System (dalam bahasa Inggris). 27 November 2023. Diakses tanggal 28 November 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  47. Kartodirjo, Sartono (1966). The peasants' revolt of Banten in 1888 : its conditions, course and sequel. A case study of social movements in Indonesia. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
  48. Sandick, R. A. van (1893). Leed en lief uit Bantam (dalam bahasa Dutch). Zutphen: W.J. Thieme. OCLC 28538295.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  49. Winchester, 2003. Chap 6.
  50. Wilson, Edward. O. (1999). The Diversity of Life. New York: W.W. Norton & Company. hlm. 425. ISBN 978-0-393-31940-8.
  51. Backer, Cornell's Andries (1929). The Problem of Krakatau, as Seen by a Botanist. author, at Weltevreden, Java.
  52. 1 2 Winchester 2003.
  53. "Krakatau Nature Reserve and Ujung Kulon National Park". Environment & Society Portal (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2021. Diakses tanggal 2021-04-28.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  54. "Ujung Kulon National Park & Krakatau Nature Reserve" (PDF). United Nations Environment Programme/World Conservation Monitoring Centre. Desember 1991. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2009-01-14. Diakses tanggal 2021-04-28.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  55. "Ujung Kulon National Park". UNESCO World Heritage Centre (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 April 2021. Diakses tanggal 2021-04-28.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bibliografi

Bibliografi

Lihat Dokumenter dan materi sejarah Krakatau

Pranala luar