Gunung Sunda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gunung Sunda merupakan gunung berapi purba yang terletak di wilayah Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Gunung Sunda yang ada saat ini, bersama dengan Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang serta Gunung Bukit Tunggul, merupakan sisa dari Gunung Sunda purba yang pernah meletus besar pada zaman prasejarah. Meletusnya gunung Sunda (purba) juga sudah mengakibatkan terbentuknya Kaldera Sunda.[butuh rujukan]

Penamaan[sunting | sunting sumber]

Menurut salah seorang sepuh/orang tua yang berusia kurang lebih 85 tahun, berdomisili di Arjasari Banjaran Kab. Bandung. Gunung Sunda purba ini dulu dikenal dengan nama Gunung Chuda (bahasa sansekerta = putih), yang mana dinamai dengan Gunung Chuda karena konon katanya gunung chuda ini puncaknya selalu tertutup es/salju, sehingga ada beberapa pengembara yang berasal dari negeri seberang (India) yang melihat dari kejauhan ( kemungkinan di Sumatra) dapat melihat gunung Chuda tersebut dengan jelas. Karena rasa penasaran yang tinggi, para pengembara tersebut mendatangi gunung tersebut, hingga akhirnya sampai di kawasan Gunung Chuda. Akibat pelafalan penduduk lokal, kata chuda pun bergeser menjadi Sunda. Berhubungan dengan chuda memiliki arti putih, maka orang sunda identik dengan warganya/masyarakatnya yang memiliki kulit yang cenderung putih.

Sejarah letusan[sunting | sunting sumber]

Gunung Sunda adalah gunung berapi yang terbentuk sebagai hasil dari penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Berdasarkan analisis tefrakronologi, vulkanisme gunung gunung api Sunda-Tangkuban Parahu dikelompokan 4 vulkanisme, dari tua ke muda, yaitu dari Gunung Pra-Sunda, Sunda, Tangkuban Parahu Tua, Tangkuban Parahu Muda.[1] Gunung Sunda menjadi induk dari sejumlah gunung berapi di Jawa Barat. Gunung ini lahir dari letusan gunung berapi sebelumnya, Gunung Jayagiri atau Pra-Sunda sekitar 500.000 hingga 560.000 tahun yang lalu setelah mengalami masa dormansi selama 290.000 tahun yang membentuk kaldera Pra-Sunda.[2][1] Dari kaldera tersebut, 300.000 tahun kemudian gunung Sunda lahir.[3]

Fase vulkanisme aktif 210.000 - 128.000 tahun yang lalu menghasilkan episode letusan yang mengeluarkan lava, disusul dengan episode 13 unit letusan yang dalam satu unit letusan bisa terjadi lebih dari satu kali letusan besar.

Kurang lebih 105.000 tahun yang lalu fase letusan-letusan yang meruntuhkan badan Gunung Sunda, hingga membentuk kaldera dimulai. Meliputi fase Plinian, Freatomagmatik, dan fase Ignimbrit.

Pada fase Ignimbrit tercatat lontaran volume materi yang dikeluarkan mencapai 66 km3 hingga menutupi kawasan hingga radius 200 km2. Sebagian material diterbangkan oleh angin ke seluruh dunia, sehingga total material yang dikeluarkan mencapai 110 km3. Material gununung berapi disemburkan hingga sejauh Citarum di selatan Rajamandala. Di beberapa tempat rata-rata ketebalan mencapai 40 meter, endapan aliran piroklastik Sunda memiliki ketebalan 4 meter - 180 meter. Banyak material yang dikeluarkan telah mengosongkan dapur magma, mengakibatkan sebagian besar dari tubuh Gunung Sunda runtuh, hingga membentuk kaldera seluas 6,5 x 7,5 km dan endapan ignimbrit Manglayang. Pada fase freatomagmatik yang melontarkan volume sebanyak 1,71 km3, dan ketiga adalah fase plinian yang melontarkan material gunung api sebanyak 1,96 km3.[3]

T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia, lebih jauh menyimpulkan bahwa letusan Gunung Sunda fase ketiga itulah yang telah menguruk Citarum Purba di utara Padalarang, hingga membentuk danau raksasa, Danau Bandung Purba.

Dari Kaldera Gunung Sunda itu kemudian lahir Gunung Tangkuban Parahu Tua yang diperkirakkan meletus antara 90.000 - 10.000 tahun yang lalu sebanyak 30 unit letusan. 12 unit letusan terjadi antara 10.000 - 50 tahun yang lalu pada Gunung Tangkuban Parahu Muda.

Erupsi dari Tangkuban Parahu, bersamaan dengan terjadinya patahan Lembang sampai Gunung Manglayang yang memisahkan dataran tinggi Lembang dari dataran tinggi Bandung. Kejadian yang diperkirakan van Bemmelen berlangsung pada kisaran 11.000 tahun yang lalu.

Sisa-sisa[sunting | sunting sumber]

Sisa gunung purba raksasa yang terbentuk 2 juta tahun yang lalu ini sekarang adalah punggungan bukit. Di sekitar Situ Lembang dan Gunung Burangrang diyakini sebagai salah satu kerucut sampingan dari Gunung Sunda Purba.

Sisa lain dari lereng Gunung Sunda Purba ini terdapat di sebelah utara gunung, khususnya sebelah timur Sungai Cikapundung sampai gunung Manglayang, yang oleh van Bemmelen disebut sebagai blok Pulasari.

Sisa lain dari Gunung Sunda Purba ini menurut Koesoemadinata dalam makalahnya “Asal-Usul dan Prasejarah Ki Sunda” adalah Bukit Putri yang berada di sebelah timur laut Lembang.[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Mamay Surmayadi; Prihadi Soemintadiredja; Diky Irawan; Arisbaya, Ilham (2011). "DINAMIKA VULKANISME GUNUNGAPI TANGKUBAN PARAHU". doi:10.13140/RG.2.1.3527.4088. 
  2. ^ Kartikasari, Winda (2021-09-06). "Berita Acara Geopark Sunda "Sejarah Evolusi Gunung Sunda" – MAGI". magi.iagi.or.id. Diakses tanggal 2022-07-30. 
  3. ^ a b "Danau Bandung bukan karena Tangkuban Parahu". www.ubb.ac.id. 2008-05-06. Diakses tanggal 2022-07-30. 
  4. ^ Samantho, Ahmad Yanuana (2016-08-02). "Menelusuri Jejak Gunung Sunda, Gunung Purba di Tanah Pasundan". Bayt al-Hikmah Institute. Diakses tanggal 2019-11-02.