Gunung Cakrabuana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Gunung Cakrabuana
Titik tertinggi
Ketinggian 1.721 mdpl
Koordinat 7°2'7"S 108°7'51"E 
Geografi
Letak Kabupaten Garut (Malangbong), Kabupaten Tasikmalaya (Pagerageung), dan Kabupaten Majalengka (Lemah Sugih), Jawa Barat, Indonesia

Gunung Cakrabuana adalah gunung di Jawa Barat dengan ketinggian 1721 mdpl dan koordinat 7°2'7"S 108°7'51"E, dan berada di tapal batas antara 3 kabupaten yaitu Kabupaten Garut (Malangbong), Kabupaten Tasikmalaya (Pagerageung) dan Kabupaten Majalengka (Lemah Sugih). [1]

Usulan jadi Taman Hutan Raya[sunting | sunting sumber]

Gunung Cakrabuana yang berada di utara Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat diusulkan menjadi taman hutan raya (Tahura). Usulan ini, muncul dari warga lima kabupaten yang daerahnya berbatasan langsung dengan gunung itu, yakni Kabupaten Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Majalengka dan Ciamis.

Menyamakan persepsi, perwakilan warga lima kabupaten tersebut mengadakan Lokakarya Taman Hutan Raya Cakrabuana di Kampus STIE Latifah Mubarokiyah, Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Selasa 18 Juni 2013. Acara ini dihadiri, peneliti dari LIPI, Perhutani, dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat.

"Pembicaraan sudah lama tentang hal ini (usulan tahura). Kami melihat ada keinginan yang kuat dari masyarakat, untuk meningkatkan status Cakrabuana yang sekarang statusnya hutan produksi terbatas yang dikelola Perhutani, menjadi Tahura Cakrabuana," kata Eet Riswana, ketua penyelenggara lokakarya. Menurut dia, ada sejumlah tanaman endemik di Gunung Cakrabuana, salah satunya aren. Bahkan ada satu desa di kaki gunung yang bisa menghasilkan 1,5 ton gula merah per hari.

Gunung Cakrabuana juga merupakan hulu Sungai Ci Tanduy dan Ci Manuk. Dua daerah aliran sungai (DAS) tersebut, telah menghidupi ribuan warga. Usulan Cakrabuana menjadi tahura, karena di DAS Cimanuk sedang dibangun bendungan Jatigede. Serta di Majalengka ada pembangunan Bandara Kertajati.

Itu semua infrastruktur multinasional, strategis dan nasional sehingga kita perlu jaga keseimbangan ekologi. Kemudian aspek hidrologisnya mesti terjamin. Cakrabuana merupakan bagian dari aspek hidrologis dan ekologis. Ini perlu ada dukungan semua pihak," tegas dia. Konsekuensi gunung menjadi tahura atas keinginan masyarakat dan didukung pemerintah, maka tempat itu akan jadi tempat riset (penelitian), tempat rekreasi, konservasi, dan pengembangan budaya.

Eet berharap, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kehutanan bisa cepat merespon usulan dari warga. "Seberapa cepat respek Kemenhut mengapresiasi kegiatan yang kita lakukan hari ini, itu akan mempercepat tahura terwujud. Jika gubernur, kemenhut terlambat mendengar berimplikasi terhadap lama terbentuknya tahura ini karena kewenangan ada di (Kementerian) Kehutanan," katanya.

Sementara Kepala Dinas Kehutanan Pemprov Jawa Barat, Budi Susatijo mengatakan, konsep atau usulan ini perlu dikaji lebih dulu. Sebab wilayah Cakrabuana sudah ditetapkan sesuai SK Menteri Kehutanan, sebagai hutan produksi terbatas yang dikelola Perhutani. Selain itu, menurut Budi, perlu ada pemahaman yang sama antara lima kepala daerah yang warganya mengusulkan Cakrabuana jadi tahura. Setelah ada kesepahaman, pemerintah daerah itu baru membuat pengajuan kepada pemerintah pusat. "Untuk ekologi, pendidikan, penelitian, saya mendukung. Namun tentunya harus ada kesepahaman semua pihak," sebutnya. [2]

Jalur pendakian[sunting | sunting sumber]

Pendakian Gunung Cakrabuana yang berdiri kokoh membelah 4 kabupaten di Jawa Barat, yakni jalur Bunar Kecamatan Pageurageung Tasikmalaya.[3] Jalur Sukanyiru Kecamatan Wado, Sumedang. Jalur Cakrawati Lemah Putih, Kecamatan Lemahsugih, Majalengka, dan melalui barat Kecamatan Malangbong, Garut. [4]

Sejarah Gunung Cakrabuana[sunting | sunting sumber]

Gunung cakrabuana yang berada di ketinggian sekitar 1720 meter dari permukaan air laut ini selain memiliki keindahan alam juga banyak menyimpan sejarah. Pada masa perang kemerdekaan sekitar daerah dataran tinggi ini juga menjadi jalur utama Long March Divisi Siliwangi menuju Yogyakarta. Sepulangnya dari Jogja divisi tersebut di hadang oleh gerombolan pemberontak DI/TII yang menewaskan beberapa prajurit TNI Siliwangi yang baru pulang dari tugasnya di Yogja. Dan dalam upaya menumpas gerombolan pengacau ini TNI membuat pagar betis yang dikenal dengan nama Cakrabuana yang mana zona tersebut berada di daerah perbatasan seperti di Lemah Sugih Kabupaten Majalengka, Malangbong Kabupaten Garut, dan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya, semua daerah tersebut masuk dalam otoritas wilayah Provinsi jawa Barat, Indonesia. [5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala[sunting | sunting sumber]