Gunung Agung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Untuk toko buku, lihat Toko Gunung Agung.
Gunung Agung
Agung usgs.jpg
Gunung Agung pada 1989
Titik tertinggi
Ketinggian 3.031 m (9.944 ft)[1][2]
Puncak 3.031 m (9.944 ft)[1]
Masuk dalam daftar Ribu
Geografi
Gunung Agung berlokasi di Bali
Gunung Agung
Gunung Agung
Geologi
Jenis gunung Stratovolcano
Letusan terakhir 26 November 2017[3]
Pendakian
Rute termudah Pendakian

Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.031 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Pura Besakih, yang merupakan salah satu Pura terpenting di Bali, terletak di lereng gunung ini.

Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.

Dari puncak gunung Agung kita dapat melihat puncak Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok di sebelah timur, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan, kepulauan Nusa Penida di sebelah selatan beserta pantai-pantainya, termasuk pantai Sanur serta gunung dan danau Batur di sebelah barat laut.

Letusan[sunting | sunting sumber]

1808[sunting | sunting sumber]

Pada tahun itu Gunung Agung melontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa.

1821[sunting | sunting sumber]

Gunung Agung meletus lagi. Letusannya disebut normal tetapi tak ada keterangan terperinci. Letusannya juga dinilai tak sedahsyat letusan di tahun 1808.[2]

1843[sunting | sunting sumber]

Gunung Agung meletus lagi pada tahun 1843, didahului sejumlah gempa bumi, kemudian memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.

1963[sunting | sunting sumber]

Gunung Agung terakhir meletus pada Februari 1963 hingga Januari 1964.[4] Pada tanggal 18 Februari 1963, penduduk lokal mendengar suara letusan keras dan melihat asap tebal keluar secara vertikal dari puncak Gunung Agung. Letusan ini mengeluarkan abu panas dan gas setinggi hampir 20.000 meter. Material ini sampai mengurangi sinar matahari dan membuat suhu udara di lapisan stratosfer turun 6 °C (10.8 °F). Pada tahun 1963-1966, rata-rata suhu di bumi bagian utara sampai turun 0.4 °C. Abu Belerang dari erupsi gunung ini beterbangan keseluruh dunia dan jejaknya sampai terlihat sebagai sulfur acid di dalam lapisan es di Greenland.[5]

Pada 24 Februari 1963, lahar mulai mengalir turun dari bagian utara gunung. Lahar terus mengalir selama 20 hari dan mencapai kejauhan hingga 7 km. Pada 17 Maret 1963, Gunung Agung meletus dengan Indeks Letusan sebesar VEI 5 (setara letusan Gunung Vesuvius) dan kembali meletus pada tanggal 17 Mei 1963. Jumlah kematian yang disebabkan seluruh proses letusan Gunung Agung mencapai 1.148 orang dengan 296 orang luka-luka.[6]

2017[sunting | sunting sumber]

Gunung Agung pada 27 November 2017

Pada bulan September 2017, peningkatan aktivitas gemuruh dan seismik di sekitar gunung berapi menaikkan status normal menjadi waspada dan sekitar 122.500 orang dievakuasi dari rumah mereka di sekitar gunung berapi.[7] Badan Nasional Penanggulangan Bencana mendeklarasikan zona eksklusi sepanjang 12 kilometer di sekitar gunung berapi tersebut pada tanggal 24 September.[8]

Pada tanggal 18 September 2017, status Gunung Agung dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga. Evakuasi berkumpul di balai olahraga dan bangunan masyarakat lainnya di sekitar Klungkung, Karangasem, Buleleng dan daerah lainnya.[9] Stasiun pemantau tersebut berlokasi di Tembuku, Rendang, Kabupaten Karangasem, dimana intensitas dan frekuensi tremor dipantau untuk tanda-tanda letusan yang akan terjadi.[10]

Pada tanggal 22 September 2017, status Gunung Agung dinaikkan dari Siaga menjadi Awas. Daerah tersebut mengalami 844 gempa vulkanik pada tanggal 25 September, dan 300 sampai 400 gempa bumi pada tengah hari pada tanggal 26 September. Ahli seismologi telah khawatir dengan kekuatan dan frekuensi insiden karena telah mengambil lebih sedikit gunung berapi serupa untuk meletus.[11][12]

Pada akhir Oktober 2017, status diturunkan dari Awas menjadi Siaga. Aktivitas gunung berapi tersebut menurun secara signifikan, yang menyebabkan turunnya status darurat tertinggi pada tanggal 29 Oktober.

Ada letusan freatik kecil yang dilaporkan pada tanggal 21 November 2017, pukul 17.05 WITA dengan kolom abu vulkanik mencapai 3.842 meter (12.605 ft) di atas permukaan laut.[13] Ribuan orang segera melarikan diri dari wilayah tersebut,[14] dan lebih dari 29.000 pengungsi sementara dilaporkan tinggal di lebih dari 270 lokasi di dekatnya.[15]

Sebuah erupsi magmatik dimulai pada hari Sabtu, 25 November 2017.[16] Letusan dahsyat yang dihasilkan dilaporkan meningkat sekitar 1,5-4 km di atas kawah puncak, melayang ke arah selatan dan membersihkan daerah sekitar dengan lapisan gelap abu tipis, yang menyebabkan beberapa maskapai penerbangan membatalkan penerbangan menuju Australia dan Selandia Baru. Tingkat bahaya resmi tetap di 3, dengan penduduk disarankan untuk tinggal 7,5 km jauhnya dari kawah. Sejauh ini letusannya tampak moderat, dengan kemungkinan letusan lebih intensif dalam waktu dekat. Cahaya jingga kemudian diamati di sekitar kawah di malam hari, menunjukkan bahwa magma segar memang telah sampai ke permukaan. Pada tanggal 26 November 2017, pukul 23:37 WITA, sebuah letusan kedua terjadi. Ini adalah letusan kedua yang meletus dalam waktu kurang dari seminggu. [16]

Kepercayaan masyarakat[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa Gunung Agung adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa, dan juga masyarakat mempercayai bahwa di gunung ini terdapat istana dewata. Oleh karena itu, masyarakat Bali menjadikan tempat ini sebagai tempat kramat yang disucikan. Pura Besakih yang berada di puncak Gunung Agung juga luput dari aliran lahar letusan Gunung Agung yang terjadi pada tahun 1963. Masyarakat percaya bahwa letusan Gunung Agung pada tahun 1963 merupakan peringatan dari Dewata. Dalam catatan sejarah, Pura Besakih dan Gunung Agung menjadi pondasi awal terciptanya masyarakat Bali. Mengutip buku Custodian of the Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pulau Bali karya Thomas A Reuter, menuturkan bahwa Maharishi Markandeya, orang pertama yang memimpin pelarian Majapahit ke Bali, baru berhasil menetap di Bali datang ke kaki Gunung Agung. Sebelumnya, gelombang eksodus yang dipimpin Markandeya berjumlah 800 orang seluruhnya tewas akibat wabah penyakit.[17]

Jalur pendakian[sunting | sunting sumber]

Gunung Api (kiri) adalah titik tertinggi di Bali

Pendakian menuju puncak gunung ini dapat dimulai dari tiga jalur pendakian yaitu :

  • Selatan: dari kecamatan Selat kabupaten Karangasem dengan basecamp di Pura Pasar Agung lewat pasar Selat.
  • Tenggara: dari Budakeling lewat Nangka
  • Barat Daya: jalur pendakian yang umum digunakan, dari Pura Besakih kecamatan Rendang, kabupaten Karangasem. Karena banyak peristiwa kecelakaan dan hilangnya beberapa pendaki, maka sejak Mei 2009 setiap pendakian Gunung Agung lewat Sebudi maupun Besakih, karangasem diharuskan memakai jasa pemandu dengan tarif yang telah ditentukan.
    • Dari Pura Pasar Agung, Selat: perjalanan + 4 jam hingga puncak (2.850 m)
    • Dari Pura Besakih, Rendang : perjalanan + 6 jam hingga puncak (3.031 m)

Bagi Setiap Pendaki disarankan tidak membawa makanan berbahan sapi karena area gunung ini sangat disucikan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Mountains of the Indonesian Archipelago" Peaklist.org. Catatan: Beberapa sumber menyebutkan ketinggian yang berbeda mengenai gunung ini. GVP berpendapat bahwa ketinggian Gunung Agung adalah 3.142 meter. Peaklist.org memberikan penjelasan di catatan kakinya: Ketinggian Gunung Agung di beberapa situs web adalah 3.142 meter. Analisis dari data IFSAR dan data dari para pendaki menunjukkan bahwa ketinggian Gunung Agung adalah 3.031 meter. Diakses 2012-04-06.
  2. ^ "Gunung Agung, Indonesia" Peakbagger.com. Diakses 2012-04-06.
  3. ^ "Agung". Global Volcanism Program. Smithsonian Institution. Diakses tanggal 2007-05-04. 
  4. ^ "Tahun 1963 Gunung Agung Meletus selama 1 Tahun, Ini Kronologinya". Wartakota. Diakses tanggal 2017-09-24. 
  5. ^ The Earth Machine: The Science of a Dynamic Planet, Edmond A. Mathez,James D. Webster, p.117
  6. ^ Zen, M. T.; Hadikusumo, Djajadi (1964-12-01). "Preliminary report on the 1963 eruption of Mt.Agung in Bali (Indonesia)". Bulletin of Volcanology 27: 269–299. ISSN 0258-8900. doi:10.1007/BF02597526. 
  7. ^ "Indonesian official: More than 120,000 flee Bali volcano". Fox News. 28 September 2017. Diakses tanggal 28 September 2017. 
  8. ^ "Thousands evacuated as Bali volcano sparks fear". The Australian. 24 September 2017. 
  9. ^ "Mount Agung: facts about Bali's imminent volcano eruption". UbudHood (dalam bahasa American English). September 23, 2017. Diakses tanggal November 1, 2017. 
  10. ^ "How do experts know Mount Agung is about to erupt?". ABC News Australia. September 25, 2017. Diakses tanggal November 1, 2017. 
  11. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama cna-Agung
  12. ^ Lamb, Kate (2017-09-26). "Bali volcano eruption could be hours away after unprecedented seismic activity". The Guardian (dalam bahasa British English). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2017-09-26. 
  13. ^ "VONA". 
  14. ^ "Bali's Mount Agung volcano erupts". BBC News (dalam bahasa British English). 2017-11-21. Diakses tanggal 2017-11-21. 
  15. ^ Buletin berkala diposkan di situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
  16. ^ a b "Gunung Agung volcano (Bali, Indonesia): eruption has begun". Volcano Discovery (dalam bahasa British English). 2017-11-25. Diakses tanggal 2017-11-26. 
  17. ^ [1]

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]