Gedong Kirtya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 8°07′29″S 115°05′46″E / 8.124843°S 115.096201°E / -8.124843; 115.096201

Gouverneur-General B.C. de Jonge mengunjungi Gedong Kirtya

Gedong Kirtya disebut juga Museum Gedong Kirtya atau Perpustakaan Gedong Kirtya adalah perpustakaan lontar yang beralamat di Jalan Veteran, No. 20, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Didirikan pada tanggal 2 Juni 1928 dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 14 September 1928 oleh bangsa Belanda di Singaraja, Bali, yang pada waktu itu berfungsi sebagai ibu kota Sunda kecil. Kata “kirtya” diusulkan oleh I Gusti Putu Djelantik, Raja Buleleng ketika itu; kirtya berakar kata "kr", menjadi "krtya", sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang mengandung arti "usaha" atau "jerih payah". Gedung ini terletak di kompleks Sasana Budaya, yang merupakan istana tua kerajaan Buleleng. Museum ini memiliki luas lahan 300 meter persegi.[1]

Di perpustakaan ini, terdapat ribuan koleksi manuskrip daun lontar, prasasti, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953) yang tersimpan rapi dalam kotak yang disebut keropak yang panjangnya sekitar 60 centimeter. Semua tersusun rapi berdasarkan kelompok atau klasifikasi. Barisan paling atas Lontar Sasak, isinya tentang budaya Sasak. Kemudian Matrastawa (mantra/puja/weda), Niticastra (etik), Wariga (astronomi dan astrologi), Tutur (petuah), Usadha (pengobatan tradisional), Geguritan (kidung), Babad Pamancangah (sejarah), Satua (cerita rakyat). Semua lontar berbahasa Jawa kuno dan Sansekerta. Hanya dalam Lontar Satua menggunakan bahasa Bali.

Museum ini sebelumnya dikenal dengan nama "Kirtya Liefrinck Van der Tuuk" mengacu pada Liefrinck Van der Tuuk, seorang asistan resident pemerintah Belanda di Bali yang juga sangat tertarik dengan kebudayaan Bali dan Lombok.

Bangunan[sunting | sunting sumber]

Areal museum ini terbagi menjadi empat ruangan. Ruang 1 menyimpan lontar atau buku tua; Ruang 2 tempat salinan lontar; Ruang 3 tempat administrasi; dan Ruang 4 sebagai tempat pameran.

Ruang Penyimpanan Koleksi I[sunting | sunting sumber]

Ruangan dengan luas 72 m² berada pada bagian sebelah selatan dari bangunan Gedong Kirtya untuk menuju ruangan ini terdapat dua akses pintu masuk dimana satu buah pintu masuk dari sebelas selatan dan satunya melalui ruang koleksi II. Tetapi pada saat ini pintu masuk dari sebelah selatan tidak dipergunakan lagi sebagai pintu masuk tetapi sewaktu-waktu pintu ini di buka hanya di fungsikan sebagai fentilasi sirkulasi udara bertujuan untuk demi keamanan terhadap seluruh koleksi-koleksi yang ada didalamnya sehingga untuk menuju ruangan ini kita harus melewati ruang koleksi II. Di mana ruangan ini di tata sedemikian rupa hanya di fungsika sebagai tempat khusus penyimpanan semua koleksi-kolesi lontar yang asli yang terdapat di Gedong Kirtya.

Ruang Penyimpanan Koleksi II[sunting | sunting sumber]

Ruangan ini besaranya tidak jauh berbeda dengan rungan penyimpanan koleksi I yaitu 72 m², ruangan ini berda di tengah dengan akses pintu masuk utama berada di sebelah timur selain sebagai ruangan penyimpanan koleksi ruangan ini juga difungsikan sebagai ruang baca bagi para tamu atau pengunjung yang datang.

Ruang Pengelola[sunting | sunting sumber]

Ruangan ini luasanya lebih kecil dari kedua ruangan yang lainya dengan luas 27 m²,  karena ruangan ini hanya fungsikan menjadi ruang kantor, kamar mandi, dan dapur.

Ruang Pameran[sunting | sunting sumber]

Ruangan ini digunakan sebagai tempat pameran.

Gapura[sunting | sunting sumber]

Gedung kirtya memiliki 2 buah gapura yang masih utuh dan kuno. Di setiap gapura terdapat angka tahun pembuatannya. Gapura luar dibuat pada 3 Juni 1939, dan gapura dalam dibuat pada 31 Mei 1933. Karakter gapura masih kuno, bahan yang digunakan adalah bata, semen, pasir dan cat putih. Pada bagian badannya terdapat panil relief pewayangan.[2]

Koleksi Lontar[sunting | sunting sumber]

Daftar lontar di Museum Gedung Kirtya antara lain:

Weda[sunting | sunting sumber]

  1. Weda: Weda Indik Maligia, Weda Pangentas, Weda Panglukatan, Weda Sawawedana.
  2. Mantra: Atmaraksa, Pabersihan, Pangastawa, Pujastawa, Tirta Gamana.
  3. Kalpasastra: Banten Pangentas, Bebantenan, Caru Suci, Indik Galungan, Manca Balikrama, Pacecaron, Pangabenan, Pawintenan, Plutuk, Sangkul Putih.

Agama[sunting | sunting sumber]

  1. Palakerta: Agama, Purwadigama, Awig-awig, Kerta ring Sawah, Stri Sanggraha, Pamastuning, Cor, Widi Pamincatan, Adigama, Paswara, Kutaragama.
  2. Sesana: Dasa Sila, Dewa Sesana, Kerta Bujangga, Mantra Sesana, Putra Sesana, Raja Sesana, Resi Sesana, Sarasamuscaya, Sila Krama, Sila Sesana Sang Prabu.
  3. Niti: Niti Praja, Niti Sastra, Raja Niti.

Wariga[sunting | sunting sumber]

  1. Wewaran: Ala Ayuning Dewasa, Ala Ayuning Wuku, Palelintangan, Pangalihan Dina, Pawacakan, Sadreta, Suryamandala, Tenung Astawara, Tenung Pawetuan anut Wuku, Tetenger Sasih
  2. Tutur Upadesa: Aji Kalepasan, Atma Tattwa, Badawang Nala, Singaraja Swarga, Brahmandapurana, Buanakosa, Catur Janma, Darma Bayu, Darma Putus, Kamoksan, Purwa Bumi, Rwabineda, Siwatiga, Tantu Pagelaran, Tutur Pralina.
  3. Kanda: Asta Kosali, Cacakan ayam, Canda (warga aksara), Dasa Nama, Guru Lagu, Kanda Sastra, Kertabasa, Kruna Lingga, Panerangan, Pangayam-ayam, Pangeger, Pangiwa, Pangujanan, Paramasastra, Paribasa, Pemanes Karang, Pengasih-asih, Piodalan, Siksan Kedis, Smara Kanda, Swara Wianjana, Wrettasancaya.
  4. Anusada: Bebayon, Buda Kecapi, Pakakas, Panawar, Tumbal Leak, Usada Buduh, Usada Rare, Usada Tuju.

Itihasa (Wiracarita)[sunting | sunting sumber]

  1. Parwa: Astadasaparwa, Calon Arang, Pamuteran Ksirarnawa, Uttara Kanda
  2. Kekawin: Arjuna Wijaya, Arjuna Wiwaha, Baratayuda, Boma Kawia, Gatotkaca Sraya, Hariwangsa, Ramayana, Smaradahana, Sumaasantaka.
  3. Kidung: Alis Alis Ijo, Jagat Karana, Panji Malat Lasmi, Sri Tanjung, Sudamala.
  4. Geguritan/Paparikan: Basur, Brayut, Bungkling, Cupak, Durma, Jayaprana, Megantaka, Pakangraras, Sampik, Salya 5.

Babad[sunting | sunting sumber]

  1. Pamancangah: Pamancangah Dalem, Prasasti- prasasti (Brahmana, Sengguhu, Dukuh,dll).
  2. Babad: Babad Arya Kenceng, Babad Buleleng, Babad Gianyar, Babad Mengwi, Babad Panji, Sakti Wijaya, Babad Pasek, Babad Pasek Gelgel, Babad Rangga Lawe, Babad Usana Bali, Babad Usana Jawa.

Tantri[sunting | sunting sumber]

  1. Tantri Hindu: Kidung Tantri (Bahasa Tengahan), Ni Diah Tantri (Bahasa Bali Kepara), Tantri Kamandaka (Bahasa Kawi).
  2. Tantri Bali: Gunawati, Lutung Mungil.

Jadwal buka[sunting | sunting sumber]

Museum ini buka setiap hari Senin sampai Jumat dari pukul 08.00 hingga 16.00 WITA. Kecuali hari Jumat hanya buka sampai pukul 13.00. Pengunjung tidak dipungut biaya. Mantan Bupati Buleleng Dr. Ketut Wirata Sindhu mengembangkan perpustakaan ini menjadi sebuah museum yang meliputi seluruh wilayah kompleks Sasana Budaya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Media, Kompas Cyber. "Memahami Lontar, Datanglah ke Museum Gedong Kirtya". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-06-08. 
  2. ^ artanegara (2015-09-25). "Gedung/Gedong Kirtya Singaraja Sebagai Situs Cagar Budaya". Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali. Diakses tanggal 2019-06-08. 

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Bali, Lonely Planet (2003)

Lihat juga[sunting | sunting sumber]