Kardinal keponakan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pietro Ottoboni, pemegang terakhir jabatan Kardinal Keponakan, dilukis oleh Francesco Trevisani.

Kardinal keponakan (bahasa Latin: cardinalis nepos;[1] bahasa Italia: cardinale nipote;[2] bahasa Spanyol: valido de su tío; bahasa Perancis: prince de fortune)[3] adalah seorang kardinal yang ditunjuk oleh Paus yang merupakan paman dari seorang kardinal, atau, lebih umumnya, memiliki suatu hubungan. Praktik pelantikan kardinal keponakan tersebut berasal dari Abad Pertengahan, dan mencapai puncaknya pada abad ke-16 dan ke-17.[4] Kata nepotisme awalnya secara khusus merujuk pada praktik tersebut, yang tampil dalam bahasa Inggris sekitar 1669.[5] Dari pertengahan masa Kepausan Avignon (1309–1377) sampai bulla (sebuah piagam kepausan) anti-nepotisme buatan Paus Innosensius XII, Romanum decet pontificem (1692), seorang paus tanpa kardinal keponakan merupakan pengecualian pada aturan tersebut.[6] Setiap paus Renaisans yang melantik kardinal yang dipilih dari seorang kerabat pada Dewan Kardinal, dan keponakan merupakan pilihan paling umum,[7] meskipun salah satu kardinal yang dilantik Aleksander VI merupakan putranya sendiri.

Lembaga kardinal keponakan berjalan selama lebih dari tujuh abad, berkembang dalam sejarah kepausan dan gaya-gaya para Paus individual. Dari 1566 sampai 1692, seorang kardinal keponakan menjadi kuria resmi Petinggi Negara Gerejani, dikenal sebagai Kardinal Keponakan, dan kemudian istilah tersebut terkadang digunakan secara bergantian. Jabatan kuria Kardinal Keponakan serta lembaga kardinal keponakan dibubarkan ketika kekuasaan Kardinal Sekretaris Negara meningkat dan kekuasaan temporal para paus dicabut pada abad ke-17 dan ke-18.

Daftar kardinal keponakan meliputi sekitar lima belas orang, dan diyakini sekitar sembilan belas Paus[8] (Gregorius IX, Aleksander IV, Adrianus V, Gregorius XI, Bonifasius IX, Innosensius VII, Eugenius IV, Paulus II, Aleksander VI, Pius III, Yulius II, Leo X, Klemens VII, Benediktus XIII, dan Pius VII; diyakini juga Yohanes XIX dan Benediktus IX, bila mereka benar-benar diangkat menjadi kardinal; serta Innosensius III dan Benediktus XII, jika mereka benar-benar memiliki hubungan dengan pelantik mereka); satu antipaus (Yohanes XXIII); dan dua atau tiga santo (Charles Borromeo, Guarinus dari Palestrina, dan diyakini Anselm dari Lucca, jika ia benar-benar menjadi seorang kardinal).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebelum 1566[sunting | sunting sumber]

Pelantikan kardinal keponakan bermula pada masa pra-eminensi hierarki kardinal dalam Gereja Katolik Roma, yang berkembang pada 1059 di bawah dekret Paus Nikolas II, In nomine Domini, yang mengangkat uskup kardinal sebagai pemilih tunggal Paus, di bawah pantauan deakon kardinal dan pendeta kardinal.[9] Kardinal keponakan pertama yang diketahui adalah Lottario (bahasa Latin: Loctarius), seorang anggota senior, sepupu dari Paus Benediktus VIII (1012–1024), yang diangkat sekitar tahun 1015.[10] Benediktus VIII juga mengangkat saudaranya Giovanni (kelak Paus Yohanes XIX) dan sepupunya Teofilatto (kelak Paus Benediktus IX) sebagai kardinal-deakon.[10] Kardinal keponakan pertama yang diketahui setelah 1059 adalah Anselm dari Lucca, sepupu atau saudara dari Paus Aleksander II (1061–1073),[10] meskipun sampai akhir abad k-12, mayoritas kasus yang dituduh melakukan pelantikan semacam itu diragukan, karena hubungan antara Paus dan kardinal diragukan, atau karena hubungan darah paus dan kardinal tidak jelas.[11] Namun, keraguan bahwa kerabat paus diangkat pada Dewan Kardinal merupakan hal umum pada abad ke-13.

Paus Paulus III dengan kardinal keponakannya Alessandro Farnese (kiri) dan cucu lainnya, Ottavio Farnese, Adipati Parma (kanan)

Menurut sejarawan John Bargrave, "berdasarkan Konsili Bazill, Bab 21, jumlah kardinal tidak boleh lebih dari 24 orang, dan tidak ada keponakan manapun dari Paus atau kardinal manapun yang dimasukkan dalam jumlah tersebut. (Bab 23.)"[12]

Ranuccio Farnese dijadikan kardinal oleh Paulus III pada usia 15 tahun.

Paus Klemens VI (1342–1352) melantik kardinal keponakan terbanyak ketimbang paus lainnya, yang meliputi enam orang pada 20 September 1342, jumlah kardinal keponakan terbanyak yang diangkat pada satu kali. Kapitulasi Konklaf Kepausan 1464 membatasi Paus terpilih (Paus Paulus II) untuk melantik satu kardinal keponakan, bersama dengan kondisi lainnya untuk merancang peningkatan kekausaan Dewan Kardinal dan mencegah kekuasaan Paus untuk ikut campur terhadap kekuasaan tersebut.[13]

Konsili Lateran Kelima yang dideklarasikan pada 1514 menyinggung soal pelantikan kerabat, dan pengangkatan kardinal keponakan sering direkomendasikan atau dijustifikasikan berdasarkan pada kebutuhan untuk kepentingan para anggota keluarga terkait.[14] Seorang kardinal keponakan biasanya merupakan dilantik atas dasar kepentingan; contohnya, Alessandro Farnese, kardinal keponakan Paus Paulus III (1534–1549) mengurus 64 benefice selain menjadi wakil kanselir.[15]

Paus Paulus IV (1555–1559), pada masa tuanya, berkata bahwa "kejatuhan hampir secara bulat berada di bawah pengaruh kardinal keponakan";[16] Kardinal keponakan Paulus IV, Carlo Carafa, didakwa pada Agustus 1558 oleh seorang Teatin karena melindungi seorang wanita bangsawan Roma, Plautila de' Massimi, yang menyelewengkan uang dan perhiasan, namun tuduhan tersebut disangkal oleh paus.[17] Santo Charles Borromeo, kardinal keponakan Paus Pius IV (1559–1565), menjajal subordinasi secretarius intimus kepada Kardinal Keponakan, yang terkadang dikenal sebagai secretarius maior.[18] Pius IV dikenal karena bersikap nepotisme: antara 1561 dan 1565, ia menyebarkan lebih dari 350,000 scudi kepada para kerabatnya.[19]

1566–1692[sunting | sunting sumber]

Paus Pius V membuat jabatan kuria Kardinal Keponakan pada 14 Maret 1566.

Setelah Konsili Trente (1563), Paus Pius V (1566–1572) mengeluarkan istilah tersebut untuk jabatan Petinggi Negara Gerejani, yang menangani urusan temporal Negara-Negara Kepausan dan urusan luar negeri Tahta Suci. Setelah berupaya untuk membagi tugas-tugas Petinggi antara empat kardinal non-keluarga, Pius V memutuskan untuk mendesak Dewan Kardinal dan duta besar Spanyol-nya, dan melantik anak dari keponakannya, Michele Bonelli, sebagai Petinggi, memberikan batas tugas-tugasnya dengan sebuah bulla kepausan pada 14 Maret 1566.[20] Namun, Pius V memutuskan untuk tidak memberikan kekuasaan otonomi yang nyata apapun kepada Bonelli.[21]

Kardinal Keponakan (juga disebut cardinale padrone[20] atau Secretarius Papae et superintendens status ecclesiasticæ:[22] "Petinggi Negara Gerejani",[20] bahasa Italia: Sopraintendente dello Stato Ecclesiastico[14]) adalah sebuah jabatan legatus Kuria Roma, yang kira-kira setara dengan Kardinal Sekretaris Negara, yang jabatannya ditiadakan setelah jabatan Kardinal Keponakan ditiadakan pada 1692.[22][23] Menurut para sejarawan, jabatan tersebut mirip dengan "perdana menteri", "alter ego",[20] atau "wakil paus".[24] Kardinal Keponakan umumnya merupakan salah satu pelantik kardinal pertama dari seorang Paus, dan makhluk-nya yang biasanya disambut oleh pemberian hormat menggunakan senapan di Castel Sant'Angelo.[25]

Setelah Kepausan Avignon, Kardinal Keponakan bertanggungjawab untuk kegubernuran temporal dan spiritual dari Comtat Venaissin, dimana Paus-Paus Avignon bermukim; pada 1475, Paus Sixtus IV meningkatkan status Keuskupan Avignon menjadi Keuskupan Agung, atas saran dari keponakannya Giuliano della Rovere.[23]

Paus Innosensius X mengangkat putranya, keponakannya, dan sepupu dari saudari iparnya Olimpia Maidalchini menjadi Kardinal Keponakan

Masa jabatan Kardinal Keponakan ditentukan oleh keputusan kepausan yang dikembangkan dan dikeluarkan oleh penerus Pius V Paulus V (1605–1621).[20] Kardinal Keponakan juga melayani seluruh nuncio kepausan dan legatus kegubernuran, dan mengatur dua kongregasi: Consulta dan Congregazione del Buon Governo.[14] Kardinal Keponakan juga menjadi kapten-jenderal angkatan darat kepausan dan "penghubung antara keuntungan berbunga pada satu jalur dan harta lainnya".[25]

Namun, fungsi-fungsi formal tersebut hanya berlaku pada saat-saat yang tidak biasa; sebagian besar Kardinal Keponakan merupakan tukang stempel de facto dari Paus-nya sendiri.[14]

Meskipun Paus Leo XI (1605) meninggal sebelum ia mengangkat keponakannya, Roberto Ubaldini, Ubaldini diangkat oleh penerus Leo XI, Paus Paulus V pada 1615.[26]

Beberapa sejarawan menganggap Scipione Borghese, kardinal keponakan dari Paus Paulus V, sebagai "perwakilan prototipe" dari seorang kardinal keponakan, tak seperti para pendahulunya, yang dilantik untuk "menyediakan dan menampilkan kebiasaan sosial dan ekonomi keluarga kepausan yang memerintah dalam pangkat-pangkat aristokrasi Roma yang tinggi".[27] Contohnya, pada 1616, 24 dari 30 pertapaan yang dipegang Borghese disewa, sebuah raktik Konsili Trente yang berusaha untuk dihilangkan.[19] Analisis keuangan pada masa Borghese menjadi kardinal yang dibuat oleh Reinhard Volcker (berdasarkan pada serangkaian buku catatan yang masih ada) menemukan strategi-strategi yang dibuat Borghese untuk menghimpun kekayaan masa masa pamannya menjadi Paus dan aset-aset non-gerejani sebelum pamannya meninggal, yang Volcker anggap menjadi panutan keluarga-keluarga kepausan Barok.[28] Diyakini, Paulus V Borghese telah memberikan sekitar 4% total pemasukan Tahta Suci kepada keluarganya pada masa kepausannya.[29] Simpanan pribadi Borghese pada 1610 berjumlah 153,000 scudi, sebuah jumlah yang timpang dengan jumlah pemasukan keluarganya secara keseluruhan pada 1592 yang sejumlah 4,900 scudi.[30]

Paus Gregorius XIV (1590–1591) memulai praktik pelantikan kardinal keponakan dengan pengangkatan formal secara de facto terhadap nominasi mereka, dan kemudian memisahkan proses biasa untuk pelantikan kardinal,[26] dan, saat ia jatuh sakit, ia menyuruh kardinal keponakannya, Paolo Emilio Sfondrato, untuk menggunakan Fiat ut petitur, sebuah kekuasaan yang digunakan untuk mengatur Dewan.[31] Paulus V mengeluarkan motu proprio pada 30 April 1618, yang secara resmi diterapkan ketika Paus Klemens VIII memberikan jabatan kardinal keponakan kepada Pietro Aldobrandini, permulaan yang sejarawan Laurain-Portemer sebut "zaman klasik" nepotisme.[32]

Paus Gregorius XV dengan Kardinal Keponakannya yang memiliki pemasukan dan otoritas yang belum ada pada masa sebelumnya, Ludovico Ludovisi, yang dikenal sebagai il cardinale padrone.

Kardinal keponakan Paus Gregorius XV (1621–1623), Ludovico Ludovisi, kardinal keponakan yang dikenal sebagai il cardinale padrone ("bos kardinal")[33] memegang berbagai benefice: keuskupan Bologna, 23 pertapaan, kepemimpinan Signatura Apostolik, serta jabatan wakil kanselir dan pemimpin tinggi, dan memperbolehkan sebagian besar jabatan tersebut dipegang oleh 17 kerabatnya sampai kematiannya.[24] Benefice dan jabatan-jabatan tersebut membuat Ludovisi meraih keuntungan lebih dari 200,000 scudi pada setiap tahunnya, dan ia dianggap memegang "otoritas yang sangat tak terbatas" ketimbang kardinal keponakan sebelumnya.[34] Selain itu, kardinal-kardinal keponakan diperbolehkan untuk membuat facultas testandi untuk memberikan benefice-benefice mereka kepada para anggota keluarga sekuler.[24] Penerus Gregorius XV, Urbanus VIII (1623–1644) membentuk dua komite teolog khusus, keduanya mendukung praktik tersebut.[35]

Sebagai Fabio Chigi, Aku memiliki sebuah keluarga. Sebagai Aleksander VII, Aku tidak memilikinya. Kamu tidak dapat menemukan namaku dimana pun dalam surat-surat pendaftaran pembaptisan Siena.

Paus Aleksander VII, 1655, yang melantik dua kardinal keponakan pada 1657[36]

Tak semua Kardinal Keponakan memiliki pengaruh yang kuat. Pada kenyataannya, sejarawan kepausan Valérie Pirie menyatakan bahwa seorang keponakan tidak mendapatkan "aset luar biasa bagi seorang calon Paus" ketika ia meninggalkan jabatan tersebut untuk menjadi seorang kardinal sekutu.[25] Contohnya, Paus Klemens X memberikan jabatan tersebut kepada Kardinal Paoluzzi-Altieri, seorang keponakan yang kemudian menikahi Laura Caterina Altieri, pewaris tunggal keluarga Klemens X.[37] Beberapa sejarawan menganggap Olimpia Maidalchini, saudari ipar Paus Innosensius X (1644–1655), telah menjadi Kardinal Keponakan de facto; sebuah jabatan yang secara resmi dipegang putranya, Camillo Pamphili, keponakannya, Francesco Maidalchini (setelah Pamphili mengumumkan jabatan kardinalnya dalam rangka untuk menikah), dan (setelah Francesco dianggap tak kompeten) Camillo Astalli, sepupunya.[38][39]

Paus-Paus seringkali hanya memiliki beberapa pilihan untuk melantik seorang Kardinal Keponakan. Menurut sejarawan kepausan Frederic Baumgartner, masa jabatan Paus Siktus V (1585–1590) "mulai memburuk" karena Alessandro Peretti di Montalto menjadi "satu-satunya keponakannya yang layak untuk jabatan tersebut, namun ia sulit melayani Paus sebagai orang kepercayaan yang dapat dipercaya", menyebabkan beberapa kardinal menolak untuk hadir pada acara penobatannya.[40] Sejarawan kepausan lainnya Ludwig von Pastor menyatakan bahwa "ketidakberuntungan Paus Pamphilj merupakan satu-satunya orang dalam keluarganya yang memiliki seorang wanita yang memenuhi kelayakan pada jabatan semacam itu".[39]

Paus Innosensius XI (1676–1689) menentang praktik tersebut dan hanya menerima pemilihannya sebagai Paus setelah Dewan Kardinal menyetujui rencananya untuk melakukan reformasi, yang meliputi sebuah pelarangan terhadap nepotisme.[4] Namun, Innosensius XI dilengserkan setelah tiga kali gagal untuk menggalang dukungan mayoritas dari para kardinalnya untuk sebuah bulla yang melarang nepotisme,[41] yang dikomposisikan antara tahun 1677 dan 1686.[42] Innosensius XI menolak bersepakat dengan dewan kepausan untuk mengirim keponakan tunggalnya, Livio Odescalchi, pangeran Sirmio, ke Roma,[43] meskipun ia mengangkat Carlo Stefano Anastasio Ciceri, seorang kerabat jauh, menjadi seorang kardinal pada 2 September 1686.[44] Penerus Innosensius XI, Paus Aleksander VIII (1689–1691), merupakan Paus terakhir yang melantik seorang Kardinal Keponakan.[4] Aleksander VIII juga tidak melaksanakan reformasi lainnya dari Innosensius XI dengan mengembalikan Kantor Kanselir kepada Wakil Kanselir, yang pada waktu itu merupakan kardinal keponakannya, Pietro Ottoboni.[22] Edith Standen, seorang konsultan untuk Museum Seni Rupa Metropolitan, menyebut Ottoboni "yang terakhir dan tentunya tidak sedikit contoh yang menakjubkan" dari "kemegahan dari sebuah spesies yang punah, Kardinal Keponakan".[45]

Sampai 1692 (dan terkadang setelahnya), kardinal keponakan (atau keponakan awam) akan menjadi kepala pengarsip Paus, biasanya menghilangkap arsip-arsip untuk sebuah arsip keluarga setelah kematian Paus.[46] Pada sebagian besar, kumpulan-kumpulan arsip keluarga Barberini, Farnese, Chigi, dan Borghese berisi dokumen-dokumen kepausan yang penting.[47]

Sejak 1692[sunting | sunting sumber]

Paus Innosensius XII meniadakan jabatan kuria Kardinal Keponakan pada 22 Juni 1692 dan memperkuat jabatan Kardinal Sekretaris Negara

Paus Innosensius XII (1691–1700) mengeluarkan sebuah bulla kepausan pada 22 Juni 1692, Romanum decet pontificem, mencekal jabatan Kardinal Keponakan, membatasi para penerusnya agar hanya mengangkat satu kardinal kerabat, menyingkirkan berbagai sinecure yang biasanya diberikan kepada kardinal keponakan, dan membekukan stipendium atau dukungan keuangan yang seorang Paus berikan kepada keponakan tersebut dengan jumlah 12,000 scudi.[14][36][45] Romanum decet pontificem kemudian dimasukkan dalam Kode Hukum Kanon 1917 dalam kanon 240, 2; 1414, 4; dan 1432, 1.[48] Pada 1694, serangkaian reformasi Innosensius XII dilakukan dengan kampanye khusus untuk menyingkirkan "venalitas" jabatan serta menggantikan para pemegang jabatan pada masa itu.[42] Reformasi tersebut dipandang oleh beberapa cendekiawan sebagai reaksi tertunda terhadap krisis keuangan yang diakibatkan oleh nepotisme Paus Urbanus VIII (1623–1644).[14]

Romualdo Braschi-Onesti, salah satu kardinal keponakan terakhir

Namun, setelah Romanum decet pontificem, hanya tiga dari delapan Paus pada abad ke-18 yang gagal mengangkat seorang keponakan atau saudara menjadi kardinal.[41] Dewan Kardinal lebih sering dipimpin oleh keponakan ketimbang orang terpilih, yang mereka anggap sebagai pilihan alternatif; contohnya, Dewan meminta Paus Benediktus XIII (1724–1730) untuk melantik seorang kardinal keponakan, yang mereka harap menggantikan letnan kepercayaan Benediktus XIII Niccolò Coscia.[36] Paus Gregorius XIII (1572–1585) juga diminta oleh figur-figur penting dalam Dewan untuk melantik kardinal keponakannya: Filippo Boncompagni.[49]

Kardinal-kardinal keponakan pada abad ke-18 mengalami penurunan pengaruh karena kekuasaan Kardinal Sekretaris Negara meningkat .[36] Gereja pada masa jabatan Paus Benediktus XIII (1724–1730) dideskripsikan oleh sejarawan Eamon Duffy sebagai "seluruh penjahat nepotisme tanpa keponakan".[50][51] Neri Maria Corsini, kardinal keponakan Paus Klemens XII (1730–1740) merupakan kardinal keponakan paling berpengaruh pada abad ke-18, karena pamannya telah berusia lanjut dan mengalami kebutaan.[36] Namun, penerus Klemens XII, Paus Benediktus XIV (1740–1758) dideskripsikan oleh Hugh Walpole sebagai "seorang pendeta tanpa kemalasan atau kepentingan, seorang pangeran tanpa orang kesayanan, seorang Paus tanpa keponakan".[50]

Giuseppe Pecci, kerabat Paus terakhir yang diangkat menjadi kardinal

Romualdo Braschi-Onesti, kardinal keponakan Pius VI (1775–1799), adalah salah satu kardinal keponakan terakhir, Meskipun Pius VI berasal dari keluarga bangsawan Cesena, saudari tunggalnya menikah dengan seorang pria dari keluarga miskin Onesti. Kemudian, ia memerintahkan seorang genealog untuk menemukan beberapa trak kebangsawanan dalam silsilah Onesti, sebuah upaya yang hanya menemukan bahwa keluarga tersebut memiliki hubungan dengan Santo Romualdo.[52]

Setelah ketegangan Konklaf kepausan 1800, Paus Pius VII (1800–1823) menghindari pengangkatan kardinal keponakan dan menggantikannya dengan Kardinal Sekretaris Negara-nya, Ercole Consalvi.[53] Pada abad ke-19, satu-satunya keponakan dari seorang Paus yang diangkat menjadi kardinal adalah Gabriele della Genga Sermattei, keponakan Paus Leo XII, yang dijadikan kardinal oleh Paus Gregorius XVI pada 1 Februari 1836.[54] Meskipun institusionalisasi nepotisme dihilangkan pada abad ke-18, "pietas" (tugas untuk keluarga) masih menjadi bahan pembicaraan administrasi kepausan sampai abad ke-20, meskipun harus melewati persetujuan pamannya yang menjadi Paus.[14] Mengikuti contoh Pius VI, Paus Leo XIII (yang mengangkat saudaranya, Giuseppe Pecci, menjadi kardinal pada 12 Mei 1879) dan Pius XII (1939–1958) membangun birokrasi kuria resmi yang sepadan dengan pemerintahan paralel, dimana para anggota keluarga diberi pengaruh.[14] Hilangnya kekuasaan temporal atas Negara-negara Kepausan (de facto pada 1870 dengan "Pertanyaan Roma" dan de jure pada 1929 dengan Traktat Lateran) juga menghapuskan kondisi-kondisi struktural yang memberikan pengaruh dalam politik keluarga para Paus dari masa sebelumnya.[14]

Peran dalam konklaf[sunting | sunting sumber]

Seorang keponakan Paus mati dua kali; kali kedua seperti seluruh manusia, kali pertama saat pamannya meninggal.

—Kardinal Albani, [36]

Sampai abad ke-18, kardinal keponakan menjadi pialang kekuasaan alami di konklaf setelah pamannya meninggal, sebagai figur yang meminta para kardinal agar tetap menjalankan status quo.[36] Pada beberapa kejadian, kardinal keponakan sering mengkomandani loyalitas makhluk-makhluk pamannya, pada umumnya ia memiliki sebuah peran dalam pengangkatannya.[55] Contohnya, Alessandro Peretti di Montalto memimpin makhluk-makhluk pamannya dalam konklaf kepausan 1590 meskipun hanya 21 orang.[56] Menurut sejarawan konklaf Frederic Baumgartner, "keperluan pelantikan semacam itu membuktikan bahwa keluarga Paus memiliki kekuasaan dan pengaruh pada waktu yang lebih lama ketimbang masa seorang Paus memerintah".[40] Sebuah contoh terkenalnya adalah Paus Gregorius XV (1621–1623) yang menjelang kematiannya di atas kasur meminta Ludovico Ludovisi untuk mengangkat para kerabat di Dewan, ia berkata "meskipun Allah tak merestui satupun orang yang aku lantik".[57]

Paus Leo X dengan sepupunya Giulio de' Medici (kiri, kelak Paus Klemens VII) dan Luigi de' Rossi (kanan), yang ia lantik sebagai kardinal

Namun, kardinal keponakan tidak memegang kepemimpinan makhluk-makhluk paman mereka; contohnya, dalam konklaf kepausan 1621, Scipione Borghese hanya memajukan dua puluh sembilan pemilih (sebuah fraksi dari lima puluh enam kardinal yang dilantik pamannya), Pietro Aldobrandini hanya memajukan sembilan orang (dari tiga belas kardinal tersisa yang dilantik pamannya), Montalto hanya memajukan lima kardinal tersisa yang dilantik pamannya.[58] Pada kenyataannya, persaingan internasional terkadang menggelembungkan loyalitas-loyalitas keluarga ketika kardinal keponakan relatif "kurang mengorganisir".[58] Saat Paus Innosensius X (1644–1655) meninggal sementara jabatan Kardinal Keponakan lowong, faksinya terpecah dan menjadi tidak memiliki pemimpin dalam konklaf, meskipun saudari iparnya Olimpia Maidalchini diundang untuk mengalamatkan para kardinal untuk melakukan pendekatan, satu-satunya wanita yang pernah diberi kehormatan semacam itu.[59]

Instruzione al cardinal Padrone circa il modo come si deve procurare una fazione di cardinali con tutti i requisiti che deve avere per lo stabilimento della sua grandezza ("Instruksi kepada kepala kardinal tentang bagaimana membuat sebuah faksi kardinal dengan seluruh permintaan untuk pendirian kebesarannya"), yang ditemukan dalam arsip Santa Maria de Monserrato menawakran nasihat kepada para kardinal keponakan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan pada Dewan Kardinal.[3] Teks lainnya, Ricordi dati da Gregorio XV al cardinale Lodovisio suo nipote ("Memoir yang dilayangkan oleh Gregorius XV kepada Kardinal Keponakannya Lodovisio") menawarkan nasihat untuk bagaimana naik pangkat di Kuria.[60]

Sebuah analisis dari lima konklaf kepausan antara 1605 dan 1644 menunjukan bahwa para kardinal keponakan umumnya gagal dalam memilih kandidat yang mereka pilih, meskipun orang tersebut biasanya merupakan seorang kardinal yang dilantik oleh almarhum Paus.[61] Biasanya, kardinal mahkota menentang pemilihan kardinal keponakan saat mereka diperintahkan pergi ke Roma untuk mengikuti konklaf, meskipun mereka sama-sama menentang pemilihan kardinal mahkota dari para penguasa monarki lainnya.[62] Pada umumnya, seorang kardinal mahkota memajukan satu suksesor atau lebih dari pamannya untuk diangkat menjadi papabile, baik karena usia mereka yang masih muda dan ketidaksukaan mereka terhadap berbagai kebijakan kepausan yangtak populer dari paman mereka.[55]

Sebuah pemilihan kepausan akan mengirimkan sebuah perubahan nasib yang dramatis bagi seorang kardinal keponakan, yang seringkali mengirimkan orang-orang yang dulunya disayangi ke dalam konflik dengan Paus baru. Contohnya, Prospero Colonna dan Francisco de Borja diekskomunikasi,[63][64] dan Carlo Carafa dihukum mati.[65] Konklaf kepausan Mei 1605 adalah salah satu contoh dari sebuah konklaf dimana seorang kandidat (Antonmaria Sauli) dikalahkan karena kardinal lainnya mengaku membutuhkan "seorang Paus yang akan menindak kardinal keponakan karena merampas kepausan".[66] Sebuah kardinal keponakan juga merupakan sebuah ancaman yang menonjol bagi Paus pada masa kedepannya; contohnya, Ludovisi memimpin penentangan melawan Paus Urbanus VIII (1623–1644), menyerukan sebuah dewan perlawanan terhadap Paus (yang tak pernah terbentuk karena Ludovisi meninggal pada 1632) karena "tak ada satupun orang yang memiliki pendirian untuk menentang kekuasaan tirani Urbanus".[67]

Warisan[sunting | sunting sumber]

Ippolito de' Medici, kardinal keponakan Paus Klemens VII dan putra kandung dari Giuliano di Lorenzo de' Medici

Nepotisme umumnya muncul dalam sejarah kegubernuran, sebagian besar dalam budaya dimana identitas dan loyalitas ditentukan lebih kepada tingkat keluarga ketimbang negara kebangsaan.[68] Penggunaan keponakan, selain keturunan langsung, merupakan sebuah produk tradisi selibasi rohaniwan dalam Gereja Katolik, meskipun pewarisan keturunan dari paman ke keponakan juga terjadi dalam kepatriarkhan Gereja Asiria Timur.[69]

Pelantikan kerabat dan sekutu sebagai kardinal merupakan satu-satunya cara para Paus abad pertengahan dan Renaisans agar menghindari kemungkinan Dewan Kardinal menjadi "saingan gerejawi" dan meneguhkan pengaruh mereka di gereja setelah kematiannya.[70] Institusi kardinal keponakan memiliki dampak memperkaya keluarga Paus dengan memberikan benefice dan memodernisasikan administrasi kepausan, dengan memperbolehkan Paus untuk memerintah melalui seorang wali yang dengan mudah menghindari kekeliruan pada saat yang diperlukan dan memberikan jarak resmi antara orang-orang kepausan dan urusan kepausan pada kehidupan sehari-hari.[14]

Papal Nepotism, or the True Relation of the Reasons Which Impel the Popes to make their Nephews Powerful (1667) karya Gregorio Leti merupakan salah satu contoh kritikan kontemporer tergadap institusi kardinal keponakan; Leti memiliki perbedaan langka dalam seluruh publikasinya pada Index Librorum Prohibitorum ("Daftar Buku Terlarang").[71] Catholic Encyclopedia dari tahun 1913 mempertahankan institusi kardinal keponakan sebagai ukuran perlawanan yang diperlukan untuk intrik gereja lama.[22] Menurut Francis A. Burkle-Young, sebagian besar Paus abad ke-15 menyadari perlunya mengangkat kerabat-kerabat mereka pada Dewan Kardinal karena perpecahan mereka dengan para kardinal mahkota, keluarga-keluarga baron Roma, dan keluarga-keluarga kepangeranan Italia yang juga luput dalam Dewan tersebut.[72]

Sekretaris Kardinal Negara[sunting | sunting sumber]

Jabatan kuria Kardinal Sekretaris Negara dalam beberapa hal menggantikan berbagai peran yang awalnya dipegang oleh kardinal keponakan. Dari 1644 sampai 1692, kekuasaan Kardinal Sekretaris Negara pada dasarnya berbanding terbalik dengan Kardinal Keponakan, dimana Sekretariat menjadi bawahannya.[47] Pada masa jabatan beberapa Paus, contohnya Paus Pius V (1566–1572) dan keponakannya Michele Bonelli, jabatan kardinal keponakan dan sekretaris negara dipegang oleh satu orang yang sama.[73]

Menurut Baumgartner, "kebangkitan administrasi tersentralisasi dengan birokrat-birokrat profesional dengan karier dalam pelayanan kepausan" lebih efektif ketimbang para Paus melakukan nepotisme dan "sangat mengurangi kebutuhan untuk keponakan kepausan".[74] Kebangkitan Kardinal Sekretaris Negara merupakan "unsur paling menonjol dari pengesahan baru tersebut".[74]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Cardinale, Hyginus Eugene. 1976. The Holy See and the International Order. Maclean-Hunter Press. p. 133.
  2. ^ Burckhardt, Jacob, and Middlemore, Samuel George Chetwynd. 1892. The Civilisation of the Renaissance in Italy. Sonnenschein. p. 107.
  3. ^ a b Signorotto and Visceglia, 2002, p. 114. Modern French scholarly literature uses the term "cardinal-neveu".
  4. ^ a b c Bunson, Matthew. 1995. "Cardinal Nephew". The Pope Encyclopedia. Crown Trade Paperbacks. ISBN 0-517-88256-6.
  5. ^ Oxford English Dictionary has, as its first citation, Pepys' writing about a family reading of Gregorio Leti's Il Nipotismo di Roma, or, The History of the Popes Nephews: from the time of Sixtus IV, anno 1471, to the death of the late Pope Alexander VII, anno 1667. September 2003. "Nepotism"
  6. ^ Sampai Innosensius XII, satu-satunya pengecualian lainnya merupakan paus yang tidak melantik kardinal: Pius III, Marsellus II, Urbanus VII, Leo XI) dan Adrianus VI (yang melantik satu kardinal).
  7. ^ Vidmar, John. 2005. The Catholic Church Through The Ages: A History. Paulist Press. ISBN 0-8091-4234-1. p. 170. Vidmar memberikan contoh Nikolas V, yang mengangkat saudara tirinya Filippo Calandrini pada 20 Desember 1448 (see: Salvator, 1998, "15th Century (1404–1503)").
  8. ^ S. Miranda: Consistory of 1127, pernyataan beberapa pengarang lama seperti Alphonsus Ciacconius, berkata bahwa Paus Anastasius IV (Corrado della Suburra) diyakini merupakan keponakan dari pelantiknya Honorius II; namun, para cendekiawan modern (Brixius, p. 36 and 78; Klewitz, p. 128; Hüls, p. 128 dan 201; Zenker, pp. 46–48) bersepakat bahwa Corrado diangkat menjadi kardinal oleh Paskalis II, dan memnyangkal atau tidak menyebutkan hubungannya dengan Honorius II.
  9. ^ Miranda, Salvator. 1998. "Essay of a General List of Cardinals (112-2006)".
  10. ^ a b c Miranda, Salvator. 1998. "General list of Cardinals: 11th Century (999–1099)".
  11. ^ Untuk diskusi tentang kasus yang diragukan lihat daftar kardinal keponakan.
  12. ^ Bargrave, John, disunting oleh James Craigie Robertson, 1867. Pope Alexander the Seventh and the College of Cardinals. Camden Society. p. 3.
  13. ^ Burke-Young, Francis A. 1998. "The election of Pope Paul II (1464)".
  14. ^ a b c d e f g h i j Reinhard, Wolfgang, Levillain, ed., 2002. "Nepotism", p. 1031–1033.
  15. ^ Ekelund et al., 2004, p. 703.
  16. ^ Setton, 1984, p. 639.
  17. ^ Setton, 1984, p. 711.
  18. ^ Chadwick, 1981, p. 289.
  19. ^ a b Ekelund et al., 2004, p. 702.
  20. ^ a b c d e Laurain-Portemer, Madeleine, Levillain, ed., 2002. "Superintendent of the Ecclesiastical State", p. 1467–1469.
  21. ^ Signorotto and Visceglia, 2002, p. 141.
  22. ^ a b c d Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Roman Curia". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  23. ^ a b Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Avignon". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  24. ^ a b c Hsia, 2005, p. 102.
  25. ^ a b c Pirie, Valérie. 1965. "The Triple Crown: An Account of the Papal Conclaves: Preliminary Chapter". Spring Books.
  26. ^ a b Signorotto and Visceglia, 2002, p. 144.
  27. ^ Bireley, Robert. 2004. Book Review of Bürokratie und Nepotismus unter Paul V. (1605–1621): Studien zur frühneuzeitlichen Mikropolitik in Rom by Birgit Emich. The Catholic Historical Review. 90, 1: 127–129.
  28. ^ Osheim, Duane J. "Review of Kardinal Scipione Borghese, 1605–1633: Vermögen, Finanzen und sozialer Aufstieg eines Papstnepoten". The American Historical Review. 90, 4: 971–972.
  29. ^ Thomas Munck. Europa XVII wieku. Warszawa 1999, p. 341
  30. ^ Baumgartner, 2003, p. 142.
  31. ^ Tizon-Germe, Anne-Cécile, Levillain, ed., 2002, "Gregory XIV", p. 666.
  32. ^ Signorotto and Visceglia, 2002, p. 144–145.
  33. ^ Williams, 2004, p. 103.
  34. ^ von Rankle, Leopold. 1848. The History of the Popes. p. 307.
  35. ^ Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Pope Urban VIII". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  36. ^ a b c d e f g Chadwick, 1981, p. 305.
  37. ^ Wikisource-logo.svg Herbermann, Charles, ed. (1913). "Pope Clement X". Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. 
  38. ^ Chadwick, 1981, p. 303.
  39. ^ a b Boutry, Philippe, Levillain, ed., 2002, "Innocent X", p. 801–802.
  40. ^ a b Baumgartner, 2003, p. 130.
  41. ^ a b Chadwick, 1981, p. 304.
  42. ^ a b Rosa, Mario, Levillain, ed., 2002, "Curia", p. 468.
  43. ^ Fr. Jeffrey Keyes. "A YOUNG MAN IN THE ROME OF PIUS VII". p. 34.
  44. ^ Miranda, Salvador. 1998. "Consistory of September 2, 1686."
  45. ^ a b Standen, Edith A. 1981. "Tapestries for a Cardinal-Nephew: A Roman Set Illustrating Tasso's "Gerusalemme Liberata". Metropolitan Museum Journal. 16: 147–164.
  46. ^ Hansman, Silvia. 1999, Spring. "The Vatican Secret Archives". Seminar on Records and Archives in Society.
  47. ^ a b Chadwick, 1981, p. 299.
  48. ^ Miranda, Salvator. 1998. "Guide to documents and events (76–2005)".
  49. ^ Signorotto and Visceglia, 2002, p. 142.
  50. ^ a b Wilcock, John. 2005. "Popes and Anti-Popes".
  51. ^ Duffy, Eamon. 2006. "Saints & sinners: a history of the Popes".
  52. ^ Pirie, Valérie. 1965. "The Triple Crown: An Account of the Papal Conclaves: XVIIIth Century: PIUS VI (BRASCHI)". Spring Books.
  53. ^ Pirie, Valérie. 1965. "The Triple Crown: An Account of the Papal Conclaves: XIXth Century". Spring Books. p. 305.
  54. ^ Miranda, Salvador. 1998. "Consistory of February 1, 1836 (VIII)".
  55. ^ a b Baumgartner, 2003, p. 151.
  56. ^ Baumgartner, 2003, p. 133.
  57. ^ Baumgartner, 2003, p. 145.
  58. ^ a b Baumgartner, 2003, p. 143.
  59. ^ Baumgartner, 2003, p. 155.
  60. ^ Signorotto and Visceglia, 2002, p. 93.
  61. ^ Signorotto and Visceglia, 2002, p. 121.
  62. ^ Baumgartner, 2003, p. 150.
  63. ^ Trollope, 1876, p. 138.
  64. ^ Miranda, S. 1998. "Consistory of September 28, 1500 (IX)". Florida International University.
  65. ^ Miranda, S. 1998. "Consistory of June 7, 1555 (I)". Florida International University.
  66. ^ Baumgartner, 2003, p. 141.
  67. ^ Baumgartner, 2003, p. 152.
  68. ^ Chadwick, 1981, p. 301.
  69. ^ Chadwick, 1981, p. 302.
  70. ^ Hsia, 2005, p. 103.
  71. ^ Ambrosini, Maria Luisa, and Willis, Mary. 1996. The Secret Archives of the Vatican. Barnes & Noble Publishing. ISBN 0-7607-0125-3. p. 138.
  72. ^ Burkle-Young, Francis. 1998. "The Cardinals of the Holy Roman Church: Papal elections in the Fifteenth Century: The election of Pope Eugenius IV (1431)."
  73. ^ Setton, 1984, p. 912.
  74. ^ a b Baumgartner, 2003, p. 166.

Referensi[sunting | sunting sumber]