Sains dan teknologi di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pesawat CN-235 milik Badan SAR Spanyol, hasil kerjasama IPTN dan CASA.
Vial-vial berisi vaksin di Bio Farma, Bandung.

Seperti banyak negara berkembang lainnya, Indonesia belum dianggap sebagai negara yang terkemuka di dunia dalam perkembangan sains dan teknologi. Namun, sepanjang sejarahnya, ada prestasi penting, dan kontribusi yang dibuat oleh Indonesia untuk sains, dan teknologi. Saat ini, Kementerian Penelitian dan Teknologi adalah badan resmi yang bertanggung jawab atas sains, dan pengembangan teknologi di negara ini. Pada tahun 2010, pemerintah Indonesia telah mengalokasikan dana Rp. 1,9 triliun (sekitar $205 juta) atau kurang dari 1 persen dari total anggaran belanja negara untuk penelitian, dan pengembangan.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gambaran sebuah kapal berlayar pinisi dan berlambung lamba.

Hidup dalam budaya agraris dan maritim, orang-orang di kepulauan Indonesia telah terkenal di beberapa teknologi tradisional, khususnya di bidang pertanian dan kelautan. Di bidang pertanian, misalnya, orang-orang di Indonesia, dan juga di banyak negara Asia Tenggara lainnya, terkenal dalam teknik budidaya padi yaitu terasering.

Orang-orang rumpun Melayu (yang termasuk orang Jawa, Sulawesi, Filipina, dan sub-kelompok lainnya dari Indonesia Timur, tidak termasuk orang-orang dari wilayah Irian) dari Nusantara sudah mencapai pelaut sejak setidaknya 1500 tahun SM. Selama era itu distribusi kapur Barus sudah mencapai Mesir kuno.[2] Orang Melayu mengembangkan layar tanja beberapa ratus tahun sebelum Masehi, yang memengaruhi orang Arab untuk membuat layar lateen mereka dan orang Polinesia membuat layar cakar kepiting mereka. Ini adalah penemuan dunia yang penting, karena kemampuannya untuk berlayar melawan angin.[3] Mereka juga membuat layar jong (sistem layar jung), dan pada abad ke-2, layar jung telah diadopsi oleh bangsa Cina sebagai jenis layar pilihan mereka.[4][5]

Orang-orang Melayu juga mencapai Madagaskar pada awal milenium 1 M dan bermukim disana.[6] Menjelang abad ke-8 M., mereka sudah mencapai Ghana, kemungkinan menggunakan kapal Borobudur dan kapal jong.[7] Sebuah catatan Tiongkok pada tahun 200 M, menggambarkan K'un-lun Po (yang berarti "kapal / perahu dari K'un-lun" - yang merujuk pada Jawa atau Sumatra) mampu membawa 600-700 orang dan 260-1000 ton kargo.[8][9]

Orang Konjo, Ara, dan Lemo-Lemo dari pulau Sulawesi di Indonesia timur juga terkenal dengan teknologi pembuatan kapal mereka. Mereka terkenal karena membuat kapal layar kayu yang disebut palari, menggunakan sistem layar (rigging) yang dikenal sebagai pinisi.[10] Adalah kesalahpahaman yang umum bahwa orang Bugis, Makassar, dan Bira membangun kapal-kapal ini, pada kenyataannya mereka hanya berlayar dengannya, bukan pembangunnya.[11]

Orang Jawa dan Melayu, seperti suku-suku Austronesia lainnya, menggunakan sistem navigasi yang mantap: Orientasi di laut dilakukan menggunakan berbagai tanda alam yang berbeda-beda, dan dengan memakai suatu teknik perbintangan sangat khas yang dinamakan star path navigation. Pada dasarnya, para navigator menentukan haluan kapal ke pulau-pulau yang dikenali dengan menggunakan posisi terbitnya dan terbenamnya bintang-bintang tertentu di atas cakrawala.[12]:10 Pada zaman Majapahit, kompas dan magnet telah digunakan, selain itu kartografi (ilmu pemetaan) telah berkembang: Penggunaan peta yang penuh garis-garis memanjang dan melintang, garis rhumb, dan garis rute langsung yang dilalui kapal dicatat oleh orang Eropa, sampai-sampai orang Portugis menilai peta Jawa merupakan peta terbaik pada awal tahun 1500-an.[13][14]

Candi Borobudur dan candi lainnya juga mencatat penguasaan orang Indonesia dalam teknologi arsitektur, dan teknologi konstruksi.

Teknologi konstruksi[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa perkembangan teknologi penting yang dibuat oleh Indonesia di era Indonesia modern (pasca kemerdekaan). Pada tahun 80-an seorang insinyur Indonesia asal Bali, Tjokorda Raka Sukawati menemukan teknik konstruksi jalan yang dinamai Teknik Sosrobahu, yang menjadi terkenal setelah itu, dan banyak digunakan oleh banyak negara. Teknologi ini telah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura dan pada tahun 1995, hak paten diberikan kepada Indonesia.[15]

Teknologi kedirgantaraan[sunting | sunting sumber]

Dalam teknologi kedirgantaraan, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan pesawat komuter militer, dan kecil; sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara untuk memproduksi, dan mengembangkan pesawat sendiri, juga memproduksi komponen pesawat untuk Boeing dan Airbus, dengan perusahaan pesawat milik negara bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio atau IPTN (didirikan pada 1976) yang sekarang bernama PT. Dirgantara Indonesia, yang, dengan perusahaan EADS CASA dari Spanyol mengembangkan pesawat CN-235, yang telah diekspor ke berbagai negara. Bacharuddin Jusuf Habibie yang juga mantan presiden Indonesia, memainkan peran penting dalam pencapaian ini. Saat aktif sebagai profesor di Jerman, Habibie melakukan banyak tugas penelitian, menghasilkan teori tentang termodinamika, konstruksi, dan aerodinamika, yang masing-masing dikenal sebagai Faktor Habibie, Teorema Habibie, dan Metode Habibie.[16] Indonesia juga berharap untuk memproduksi pesawat tempur Korea Selatan KAI KF-X.[17]

Wiweko Soepono, mantan direktur Garuda Indonesia, juga dikenal sebagai penemu desain kokpit modern dua-manusia ("Forward Facing Crew Cockpit" atau "FFCC") untuk pesawat Airbus A300 Garuda Indonesia.[18]

Teknologi transportasi[sunting | sunting sumber]

Indonesia memiliki industri kereta api dan transportasi rel yang mapan, dengan perusahaan produsen kereta milik negara, PT. Industri Kereta Api, yang terletak di Madiun, Jawa Timur. Sejak 1982, perusahaan ini telah memproduksi gerbong kereta penumpang, gerbong barang, dan teknologi kereta api lainnya, dan mengekspornya ke berbagai negara, seperti Malaysia dan Bangladesh.[19]

Teknologi informasi dan komunikasi[sunting | sunting sumber]

Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang saat era 1970-an memiliki satelit komunikasi mereka sendiri. Sejak tahun 1976, serangkaian satelit bernama "Palapa" dibangun, dan diluncurkan di Amerika Serikat untuk perusahaan telekomunikasi milik negara di Indonesia, Indosat.

Dalam teknologi internet, seorang ilmuwan teknologi informasi Indonesia, Onno Widodo Purbo telah mengembangkan RT/RW-net, infrastruktur internet berbasis masyarakat yang memungkinkan tersedianya akses internet yang terjangkau bagi masyarakat di daerah pedesaan.[20]

Teknologi robotika[sunting | sunting sumber]

Para pelajar Indonesia juga memiliki catatan yang baik dalam memenangkan banyak kompetisi internasional di bidang sains, dan teknologi. Pada tahun 2010, tim robot dari Universitas Komputer Indonesia berhasil mempertahankan gelar mereka dengan memenangkan medali emas di ajang Robogames di San Francisco, Amerika Serikat setelah mereka meraih penghargaan yang sama pada tahun 2009.[21] Dua tahun sebelumnya, pada tahun 2008, tim robotika lain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember memenangkan tempat ketiga dalam kontes robot Asia Pacific Broadcast Union (ABU) Robocon 2008 di Pune, India.[22]

Tokoh sains dan teknologi[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Indonesia to increase R&D budget
  2. ^ Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008. 
  3. ^ Hourani, George Fadlo (1951). Arab Seafaring in the Indian Ocean in Ancient and Early Medieval Times. New Jersey: Princeton University Press. 
  4. ^ Shaffer, Lynda Norene (1996). Maritime Southeast Asia to 1500. M.E. Sharpe.
  5. ^ Johnstone, Paul (1980). The Seacraft of Prehistory. Cambridge: Harvard University Press. ISBN 978-0674795952. 
  6. ^ Dewar, Robert E.; Wright, Henry T. (1993). "The culture history of Madagascar". Journal of World Prehistory. 7 (4): 417–466. doi:10.1007/bf00997802. hdl:2027.42/45256alt=Dapat diakses gratis. 
  7. ^ Dick-Read, Robert (2005). The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times. Thurlton. 
  8. ^ Christie, Anthony (1957). "An Obscure Passage from the "Periplus: ΚΟΛΑΝΔΙΟϕΩΝΤΑ ΤΑ ΜΕΓΙΣΤΑ"". Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London. 19: 345–353. doi:10.1017/S0041977X00133105 – via JSTOR. 
  9. ^ Reid, Anthony (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce. New Haven: Yale University Press. 
  10. ^ Pinisi Indonesia.
  11. ^ Sailing - Bira - South Sulawesi, oleh Horst Liebner
  12. ^ Liebner, Horst H. (2002). Perahu-Perahu Tradisional Nusantara. Jakarta. 
  13. ^ Jones, John Winter (1863). The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society. 
  14. ^ "Teknologi Era Majapahit". Nusantara Review (dalam bahasa Inggris). 2018-10-02. Diakses tanggal 2020-06-11. 
  15. ^ Sosrobahu Bertumpu di Atas Piring
  16. ^ (Inggris) Habibie Receives Honorary Doctorate (Habibie Menerima Gelar Doktorat.
  17. ^ (Inggris) "Indonesia Angling to Help Build S. Korean Jet Fighter", The Jakarta Globe, Jakarta, 16 Juli 2010, diakses tanggal 2010-11-18 
  18. ^ Wiweko Perancang Pesawat Indonesia Pertama
  19. ^ Produk PT. INKA
  20. ^ (Inggris) Onno W. Purbo: Opening windows for knowledge
  21. ^ (Inggris) A Man and His Robot Make the Most of a Golden Opportunity
  22. ^ THE ROBOT TEAM OF ITS WON THE THIRD PLACE IN AN ASIA PACIFIC COMPETITION

Pranala luar[sunting | sunting sumber]