Teknologi siluman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
F-117, pesawat siluman penyerang
K32 HMS Helsingborg, kapal siluman

Teknologi siluman (disebut juga teknologi rendah pengamatan (low observable technology)) adalah sub-disiplin di bidang tektik militer perlawanan elektronik pasif (passive electronic countermeasures),[1] yang mencakup teknologi yang digunakan di personil, pesawat, kapal, kapal selam, dan peluru kendali untuk menjadikan mereka lebih tidak terlihat (atau benar-benar tidak terlihat) oleh radar, inframerah, sonar, dan metode deteksi lainnya.[2] Teknologi ini berhubungan dengan kamuflase terhadap spektrum elektromagnetik terkait.

Pengembangan di Amerika Serikat telah dimulai pada tahun 1958,[3][4] di mana percobaan awal untuk membuat pesawat mata-mata Lockheed U-2 tidak mampu dilacak radar Uni Soviet, menemui kegagalan.[5] Desainer mulai beralih untuk mengembangkan sebuah bentuk yang mampu mengurangi deteksi radar, dengan mengarahkan gelombang elektromagnetik dari radar.[6] Bahan penyerap radar juga telah diuji dan dibuat untuk mengurangi atau menghalangi sinyal radar yang dipantulkan dari permukaan pesawat. Perubahan bentuk dan komposisi permukaan pesawat tersebut membentuk teknologi siluman yang saat ini digunakan pada pesawat pengebom Northrop Grumman B-2 Spirit.[4] Konsep siluman ini untuk mengoperasikan atau menyembunyikan pesawat tanpa memberikan kesempatan bagi musuh untuk menyadari adanya benda yang terdeteksi oleh radar, atau membuat mereka menyangka bahwa itu adalah pasukan teman. Konsep ini dieksplorasi melalui kamuflase dengan menyatu dengan latar belakang. Dengan kemampuan dan pendeteksian radar dan teknologi pencegat telah meningkat seiring dengan berkembangnya waktu, begitu pula dengan kemampuan teknologi siluman yang berkembang menanggapi perkembangan tersebut.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kamuflase untuk membantu atau menghindari pemangsaan sudah ada sebelum munculnya manusia, dan para kelompok pemburu telah menggunakan tumbuhan untuk menyembunyikan diri mereka mungkin sejak manusia pertama kali berburu. Aplikasi awal kamuflase dalam peperangan tidak mungkin dipastikan. Metode penyembunyian visual dalam perang didokumentasikan oleh Sun Tzu dalam bukunya The Art of War pada abad ke-5 SM dan oleh Frontinus dalam karyanya Strategemata pada abad ke-1 Masehi.[7]

Di Inggris, unit gamekeeper yang tidak teratur pada abad ke-17 adalah yang pertama mengadopsi warna-warna menjemukan (umum dalam unit Irlandia abad ke-16) sebagai bentuk kamuflase.

Selama Perang Dunia I, Jerman bereksperimen dengan penggunaan Cellon (Selulosa asetat), bahan penutup transparan, dalam upaya untuk mengurangi visibilitas pesawat militer. Contohnya pesawat tempur Fokker E.III Eindecker, biplan pengamatan dua kursi Albatros C.I, dan pengebom berat purwarupa Linke-Hofmann RI ditutupi dengan Cellon. Namun, sinar matahari yang berkilauan dari material itu membuat pesawat semakin terlihat. Cellon juga terdegradasi dengan cepat baik oleh sinar matahari dan perubahan suhu dalam penerbangan, sehingga upaya untuk membuat pesawat transparan berhenti.[8]

Pada tahun 1916, Inggris memodifikasi pesawat kelas SS kecil untuk tujuan pengintaian malam hari atas garis Jerman di Front Barat. Dilengkapi dengan mesin yang dibungkam dan kantong gas hitam, pesawat itu tidak terlihat dan tidak terdengar dari tanah, tetapi beberapa penerbangan malam hari di wilayah yang dikuasai Jerman menghasilkan sedikit intel yang berguna dan ide itu dibatalkan.[9]

U-boat U-480 mungkin adalah kapal selam siluman pertama. Kapal selam ini memiliki lapisan karet ubin nirgema, satu lapisan yang berisi kantong udara melingkar untuk mengalahkan sonar ASDIC.[10] Cat penyerap radar dan bahan dari karet dan komposit semikonduktor (nama kode: Sumpf, Schornsteinfeger) digunakan oleh Kriegsmarine pada kapal selam di Perang Dunia II. Tes menunjukkan ubin ini efektif dalam mengurangi tanda radar pada panjang gelombang pendek (sentimeter) dan panjang (1,5 meter).[11]

Pada tahun 1956 CIA memulai upaya untuk mengurangi penampang radar (RCS) dari pesawat U-2. Tiga sistem dikembangkan, Trapeze, serangkaian kabel dan manik-manik ferit di sekitar bentuk pesawat, bahan penutup dengan sirkuit PCB yang tertanam di dalamnya, dan cat penyerap radar. Sistem-sistem ini dikerahkan pada apa yang disebut dirty bird tetapi hasilnya mengecewakan,peningkatan berat dan hambatan tidak sebanding dengan pengurangan tingkat deteksi. Yang lebih sukses adalah menerapkan kamuflase ke pesawat logam yang semula telanjang, biru tua adalah yang paling efektif. Berat dari penambahan ini dibayar dengan pengurangan ketinggian maksimum 250 kaki, tetapi membuat pesawat lebih sulit dilihat bagi pencegat.[12]

Daftar pesawat siluman[sunting | sunting sumber]

Berawak[sunting | sunting sumber]

Desain RCS (reduced cross section)[sunting | sunting sumber]

Sedang bertugas
Pensiun
Dalam pengembangan
Konsep
Dibatalkan
Demonstrasi teknologi

Desain RCS secara tidak sengaja, tidak direncanakan, atau bukan tujuan utama[sunting | sunting sumber]

Desain RCS tak berawak[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Rao G.A., Mahulikar S.P. (2002). "Integrated review of stealth technology and its role in airpower". Aeronautical Journal. 106 (1066): 629–641. 
  2. ^ Mahulikar S.P., Sonawane H.R., Rao G.A. (2007). "Infrared signature studies of aerospace vehicles". Progress in Aerospace Sciences. 43 (7-8): 218–245. Bibcode:2007PrAeS..43..218M. doi:10.1016/j.paerosci.2007.06.002. 
  3. ^ Richelson, J.T. (10 September 2001). "Science, Technology and the CIA". The National Security Archive. The George Washington University. Diakses tanggal 6 October 2009. 
  4. ^ a b Merlin, P.W. "Design and Development of the Blackbird: Challenges and Lessons Learned" American Institute of Aeronautics and Astronautics 47th AIAA Aerospace Sciences Meeting Including The New Horizons Forum and Aerospace Exposition 5–8 January 2009, Orlando, Florida. Accessed 2009-10-06.
  5. ^ Cadirci, S. "RF Stealth (or Low Observable) and Counter- RF Stealth Technologies: Implications of Counter- RF Stealth Solutions for Turkish Air Force." Naval Postgraduate School, Monterey California, Ph.D. Thesis. March 2009. Accessed 6 October 2009.
  6. ^ Yue, T. (30 November 2001). "Detection of the B-2 Stealth Bomber and a Brief History on "Stealth"". The Tech - Online Edition. Massachusetts Institute of Technology. Diakses tanggal 5 October 2009. 
  7. ^ Wey, Adam Leong Kok (2014-03-15). "Principles of Special Operations: Learning from Sun Tzu and Frontinus". Comparative Strategy. 33 (2): 131–144. doi:10.1080/01495933.2014.897119. ISSN 0149-5933. 
  8. ^ Haddow, G.W.; Grosz, Peter M. (1988). The German Giants – The German R-Planes 1914–1918 (edisi ke-3rd). London: Putnam. ISBN 0-85177-812-7. 
  9. ^ Abbott, Patrick (1989). The British Airship at War, 1914–1918. Terence Dalton. hlm. 31–33. ISBN 0861380738. 
  10. ^ "U-Boat Anti Sonar Coating". Uboataces. Diakses tanggal 18 September 2012. 
  11. ^ Hepcke, Gerhard (2007). "The Radar War, 1930–1945" (PDF). English translation by Hannah Liebmann. Radar World: 45. Diakses tanggal 19 September 2012. 
  12. ^ Pedlow, Gregory W.; Welzenbach, Donald E. (1992). The Central Intelligence Agency and Overhead Reconnaissance: The U-2 and OXCART Programs, 1954-1974 (Laporan). Central Intelligence Agency. 

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

  • Doucet, Arnaud; Freitas, Nando de; Gordon, Neil (2001) [2001]. Sequential Monte Carlo Methods in Practice. Statistics for Engineering and Information Science (edisi ke-1st). Berlin: Springer-Verlag. ISBN 978-0-387-95146-1. Diakses tanggal 2009-03-11. 
  • Ufimtsev, Pyotr Ya., "Method of edge waves in the physical theory of diffraction," Moscow, Russia: Izd-vo. Sov. Radio [Soviet Radio Publishing], 1962, pages 1–243.
  • Analogues of Stealth - Northrop Grumman
  • Countering stealth
  • How "stealth" is achieved on F-117A
  • United States Patent No.6,297,762. October 2, 2001. Electronic countermeasures system (Apparatus for detecting the difference in phase between received signals at two spaced antennas and for then retransmitting equal amplitude antiphase signals from the two spaced antennas is disclosed.)
  • “Multiaxis Thrust Vectoring Flight Control Vs Catastrophic Failure Prevention”, Reports to U.S. Dept. of Transportation/FAA, Technical Center, ACD-210, FAA X88/0/6FA/921000/4104/T1706D, FAA Res. Benjamin Gal-Or, Grant-Award No: 94-G-24, CFDA, No. 20.108, Dec. 26, 1994; "Vectored Propulsion, Supermanoeuvreability, and Robot Aircraft", by Benjamin Gal-Or, Springer Verlag, 1990, ISBN 0-387-97161-0, 3-540-97161-0.
  • Suhler, Paul A. From Rainbow to Gusto: Stealth and the Design of the Lockheed Blackbird, American Institute of Aeronautics and Astronautics, 2009. ISBN 1-60086-712-X.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]