Djatikoesoemo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Djatikusumo)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
G.P.H. Djatikoesoemo
Djatikusumo.jpg
Djatikusumo saat berpangkat Letnan Jenderal
Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata ke-1
Masa jabatan
10 Juli 1959 – 13 November 1963
PresidenSoekarno
PendahuluTidak Ada
PenggantiHidajat Martaatmadja
Menteri Perhubungan Indonesia ke-12
Masa jabatan
10 Juli 1959 – 13 November 1963
PresidenSoekarno
PendahuluSukardan
PenggantiHidajat Martaatmadja
Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-1
Masa jabatan
15 Mei 1948 – 27 Desember 1949
PresidenSoekarno
PendahuluJabatan baru
PenggantiAbdul Harris Nasution
Informasi pribadi
Lahir(1917-07-01)1 Juli 1917
Bendera Belanda Surakarta, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal dunia4 Juli 1992(1992-07-04) (umur 75)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Orang tuaPakubuwana X (ayah)
Dinas militer
Pihak
Dinas/cabangInsignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat
Masa dinas1941—1973
PangkatPdu jendtni staf.png Jenderal TNI
SatuanZeni

Jenderal TNI (Purn.) Goesti Pangeran Harjo Djatikoesoemo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Juli 1917 – meninggal di Jakarta, 4 Juli 1992 pada umur 75 tahun)[1] adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949) dan mantan Duta Besar RI untuk Singapura (1958—1960).

Djatikoesoemo adalah putra bangsa yang berdarah keraton, terlahir sebagai putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Makam Imogiri, Bantul, Yogyakarta.[2]

Karier[sunting | sunting sumber]

GPH Jatikusumo memulai karier militernya saat ia mengikuti pendidikan militer di jaman belanda yaitu di Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) akan tetapi di Tanggal 3 Maret 1942, Jatikusumo yang saat itu masih taruna CORO ditugaskan ikut bertempur melawan tentara Jepang di Ciater, Subang, Jawa Barat sampai dengan Tanggal 8 Maret 1942 karena ditanggal tersebut Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Tentara Jepang di Pangkalan Udara Kalijati.[3]

Setelah Belanda menyerah maka Jatikusumo pun mengikuti pendidikan militer yang bernama Jawa Boei Kanbu Giyugun Resentai dimana pendidikan tersebut diselenggarakan oleh Jepang di Bogor, Jawa Barat dengan tujuan melatih calon perwira Tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang bertugas memimpin Pasukan Sukarela untuk mempertahankan pulau jawa dari ancaman invasi Sekutu setelah lulus dari pendidikan tersebut, Jatikusumo pun menyandang pangkat Chudancho (Komandan Kompi) dan ditugaskan di Daidan (Batalyon) I Tentara PETA Surakarta.

Pasca proklamasi kemerdekaan, Chudancho GPH Jatikusumo bergabung kedalam Badan Keamanan Rakyat dan menjabat sebagai Ketua BKR Surakarta hingga pada puncaknya menjadi Perwira Tinggi diperbantukan Markas Besar Angkatan Darat di Tahun 1972.

Perjalanan karier.

  1. Ketua BKR Surakarta (1945).
  2. Komandan Batalyon I TKR Divisi X Surakarta (1945).
  3. Perwira Menengah dpb Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta (1945-1946).
  4. Panglima TRI Divisi IV / Panembahan Senopati (1946).
  5. Panglima TRI kemudian menjadi TNI Divisi V / Ronggolawe (1946-1948).
  6. Kepala Staf Angkatan Darat (1948-1949).
  7. Gubernur Militer Akademi (MA) Yogyakarta (1948-1950).
  8. Ketua Panitia Gencatan Senjata Pusat, Jakarta (1949-1950).
  9. Kepala Biro Perancang Operasi Militer, Kementerian Pertahanan (1950).
  10. Kepala Biro Pendidikan Pusat, Kementerian Pertahanan (1950-1952).
  11. Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung, Jawa Barat (1952-1955).
  12. Direktur Corps Zeni Angkatan Darat merangkap sebagai Koordinator Operasi Militer di Sumateta (1955-1958).
  13. Ketua Tim Pengatur Penempatan Kontingen Pasukan Indonesia pada United Nations Emergency Forces (UNEF) (1958).
  14. Kepala KJRI di Singapura juga merangkap sebagai Kepala KJRI di Serawak, Sabah dan Brunei (1958-1959).
  15. Menteri Muda Perhubungan Darat, Pos, Telegraf dan Telepon pada Kabinet Kerja I (1959-1960).
  16. Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telegraf dan Telepon pada Kabinet Kerja II (1960-1962).
  17. Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata pada Kabinet Kerja III (1962-1963).
  18. Duta Besar RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh pada Kerajaan Malaya (1963).
  19. Deputi I Menko Hankam / KSAB (1963-1965).
  20. Duta Besar RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh pada Kerajaan Maroko (1965-1966).
  21. Duta Besar RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh pada Republik Perancis dan Kerajaan Spanyol merangkap Kepala Perwakilan Tetap pada UNESCO (1966-1969).
  22. Perwira Tinggi diperbantukan Markas Besar Angkatan Darat (1969-1972).
  23. Pensiun (1972).
  24. Anggota Dewan Pengurus Pusat PEPABRI (1973-1992).
  25. Anggota Dewan Pertimbangan Agung R.I (1978-1992).
  26. Wakil Ketua DPA RI (1979-1983).
  27. Anggota Tim P-7 (1978-1992).

Kepangkatan :

  1. Mayor (1945).
  2. Letnan Kolonel (1945-1946).
  3. Kolonel (1946).
  4. Mayor Jenderal (1946-1948).
  5. Kolonel (1948-1957), pangkat diturunkan karena adanya kebijakan Re-Ra dalam TNI.
  6. Brigadir Jenderal TNI (1957-1959).
  7. Mayor Jenderal TNI (1959-1963).
  8. Letnan Jenderal TNI (1963-1972).
  9. Pensiun (1972).
  10. Jenderal TNI Kehormatan (1997), diberikan kenaikan pangkat tersebut karena jasanya atas nusa dan bangsa.

Pahlawan Nasional[sunting | sunting sumber]

Atas jasa dan perjuangannya GPH. Djatikusumo dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh presiden RI Megawati Soekarno Putri] dengan No. SK 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002 .[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ G.P.H Djatikusumo, Sosok Prajurit Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe. Bandung: Dinas Sejarah Angkatan Darat. 2009. 
  2. ^ Profil Kepala Staf Angkatan Darat. Bandung: Dinas Sejarah Angkatan Darat. 2011. 
  3. ^ Salam, Solichin (1993). GPH Djatikusumo Prajurit - Pejuang dari Kraton Surakarta. Jakarta: Gema Salam. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan militer
Jabatan baru Kepala Staf TNI Angkatan Darat
1948—1949
Diteruskan oleh:
Abdul Harris Nasution
Jabatan politik
Didahului oleh:
Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata
10 Juli 1959—13 November 1963
Diteruskan oleh:
Hidajat Martaatmadja
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Mohamad Razif
Duta Besar Indonesia untuk Malaysia
Januari 1963—September 1963
Diteruskan oleh:
Tan Sri HA Thalib Depati Santio Bowo
Jabatan baru Duta Besar Indonesia untuk Maroko
1965—1966
Diteruskan oleh:
Taufik Rachman Sudarbo
Didahului oleh:
Tamzil Gelar Sutan Narajau
Duta Besar Indonesia untuk Prancis
1966—1968
Diteruskan oleh:
Harry Askari