Pangkalan Udara Suryadarma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pangkalan Udara TNI AU Suryadarma
Lanud.png
Lambang Lanud
Negara Bendera Indonesia Indonesia
Cabang Lambang TNI AU.png TNI Angkatan Udara
Tipe unit Pangkalan Udara Militer
Bagian dari Komando Operasi Angkatan Udara I
Moto "Prayatna Kerta Gegana"
Situs web www.tni-au.mil.id
Lanud Suryadarma tempo dulu (1922)

Pangkalan Udara Suryadarma atau (Lanud Suryadarma) adalah Pangkalan tipe A[1][2] yang berlokasi di Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pangkalan ini merupakan satuan pelaksana langsung di bawah Komando Operasi Angkatan Udara I.[3] Pangkalan TNI AU Suryadarma yang sebelumnya bernama Pangkalan TNI AU Kalijati. Keberadaan Lanud Suryadarma tidak terlepas dari peristiwa perlawanan terhadap kedudukan kekuatan Belanda dan Jepang. Lanud ini merupakan produk militer pemerintah kolonial Belanda, lahir bersamaan dengan dibentuknya Proef Vliiegh Afdeling (PVA) atau bagian penerbangan percobaan pada tanggal 30 Mei 1914.[4]

Sejak tahun 1991 sampai sekarang Lanud Suryadarma dikenal sebagai pangkalan induk bagi para penerbang helikopter (chopper) TNI dengan julukan “All Choppers were born in here”.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pangkalan TNI AU Suryadarma yang sebelumnya bernama Pangkalan TNI AU Kalijati sebagai Pangkalan Udara militer pertama di Indonesia, memiliki latar belakang sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda dan pendudukan Tentara Jepang. Sejarah Pangkalan Udara Kalijati diawali tanggal 30 Mei 1914 ketika Belanda membangun satuan udara bernama PVA (Proef Vlieg Afdeling) yaitu Bagian Penerbangan Percobaan sebagai bagian dari Pasukan Belanda di Hindia Belanda bernama KNIL. Sejak itulah lapangan terbang di Kalijati beroperasi, walaupun masih sangat sederhana yaitu berupa rumput dan bangsal-bangsal dari bambu. Fasilitas dan bangunan selesai dinamgun pada tahun 1917 termasuk gedung markas Pangkalan, namun untuk gedung markas Lanud yang ditempati sekarang ini di bangun tahun 1962. Setelah digunakan selama 42 tahun sebagai Markas Komando Lanud Kalijati yang berubah nama sejak tanggal 7 September 2001 menjadi Lanud Suryadarma. Sebelumnya, pada tanggal 20 Juni 2000, Marsekal TNI Raden Soerjadi Soerjadarma dikukuhkan menjadi Bapak AURI. Ia merupakan tokoh yang pertama kali menata TNI Angkatan Udara pada awal kemerdekaan. Perkembangan selanjutnya sejalan dengan perencanaan Lanud Suryadarma akan ditingkatkan menjadi Lanud Type A.[5]

Lanud Kalijati (1947)

Pangkalan TNI AU Kalijati kali pertama digunakan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 bersamaan dengan pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda dan digunakan oleh TKR Jawatan Penerbangan sebagai pusat pendididkan untuk melatih tenaga-tenaga penerbang dan teknik. Dalam perkembangannya kemudian, pada tahun 1989 telah dilaksanakan “Operasi Boyong“ atau pemindahan secara bertahap Skadron Udara 7 yang saat itu mengoperasikan pesawat Helikopter Tipe Bell 47 G Soloy, Hughes 500 dan Bell 204 Iroquois dari Pangkalan TNI AU Atang Sandjaja ke Pangkalan TNI AU Kalijati, karena wilayah atau area latihan di Bogor dirasakan terlalu padat untuk mendukung kegaiatan latihan berbagai jenis pesawat Helikopter, disamping itu kepindahan ini juga dimaksudkan untuk mengaktifkan kembali kegiatan penerbangan di Lanud Kalijati yang memiliki nilai historis bagi perkembangan kedirgantaraan di Nusantara, yang selama ini sepi dan vakum oleh kegiatan penerbangan. Dengan telah dijadikan Kalijati sebagai Home Base Skadron Udara 7, selanjutnya diputuskan Skadron Udara 7 menjadi satuan pelaksana tugas Pangkalan TNI AU Kalijati atas dasar Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor : Kep/19/XI/1990.[6]

Peristiwa penting[sunting | sunting sumber]

Berkas:Kalidjati1942.jpg
Peristiwa perundingan Belanda dengan Jepang di rumah dinas kompleks Pangkalan Udara Kalijati

Pada tanggal 8 Maret 1942 terjadi peristiwa sejarah penting di Pangkalan Udara Kalijati. Di sebuah rumah dinas di dalam kompleks Pangkalan Udara Kalijati tejadi perundingan antara pemerintah Hindia Belanda dengan Jepang. Dalam perundingan tersebut Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Hal ini menjadi akhir dari 350 tahun penjajahan Belanda dan awal penjajahan Jepang di Indonesia.[7]

Candradimuka Bagi Para Penerbang Helikopter TNI[sunting | sunting sumber]

Sejak Skadron Udara 7 bergabung dengan Lanud Kalijati pada 1990, tugas Skadron Udara 7 yang mengawaki 2 jenis pesawat Helikopter yaitu Bell 204 B Iroquois sebanyak 12 buah dan Bell 47 G Solooy sebanyak 12 buah selain mendukung kegiatan operasi udara juga mendidik calon penerbang helikopter. Pesawat latih yang digunakan adalah Helikopter Bell 47 G Solooy hasil modifikasi dari Bell 47 G 3 BI Sioux sejak 1984. Modifikasinya berupa mengganti engine piston AVCD lycoming AVCO TVD 43J enam silinder berbahan bakar avigas menjadi engine turbo prop allison 250C-20B berbahan bakar Avtur. Dengan modifikasi itu menjadikan Bell 47 G Solooy tetap mampu terbang, namun dari segi bentuk Bell 47 G Solooy cenderung sederhana yaitu hanya dua seat serta bagian belakangnya terkesan seperti pesawat yang belum jadi karena berwujud kerangka. Namun demikian Bell 47 G Solooy terbukti tangguh melatih calon pilot helikopter. Dasar penyelenggaraan sekolah penerbang dengan Bell 47 G Solooy adalah instruksi KSAU pada Mei 1987 tentang penyelenggaraan pembinaan kesiapan operasi khusus dan pendidikan sekolah penerbang helikopter latih dasar bagi calon pilot helikopter TNI. Terdapat dua macam sumber siswa tiap tahunnya yaitu Sekolah Penerbang TNI AU (Sekbang) Sekolah Penerbang Prajurit Sukarela Dinas Pendek TNI (PSDP TNI) program Markas Besar (Mabes) TNI, siswanya lulusan Sekolah Menengah Atas. Sebelum ke Skadron Udara 7, siswa Sekbang PSDP telah menjalani proses seleksi lalu pendidikan dasar kemiliteran di Solo kemudian pendidikan penerbangan dasar di Yogyakarta.[8]

Sekbang PSDP TNI digembleng melalui dua materi pendidikan yaitu bina kelas dan bina terbang. Setelah lulus mereka menyandang pangkat perwira, oleh Mabes TNI disalurkan ke TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut. Sumber kedua adalah Perwira Siswa lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU), sekolahnya dinamakan Kursus Pengenalan Terbang Pesawat Helikopter (KPTPH). Mereka merupakan perwira penerbang yang dijuruskan ke Pesawat Helikopter, sebelumnya juga menjalani pendidikan dasar penerbangan di Yogyakarta. Siswa KPTPH juga menjalani tahapan pendidikan bina kelas dan bina terbang, setelah lulus mereka disalurkan ke satuan helikopter di TNI AU. Apabila ditengok ke belakang peran Skadron Udara 7 dalam pendidikan sekolah penerbang helikopter sebetulnya telah dirintis sejak 1978, di Lanud Atang Senjaya, Bogor dengan nama pendidikan Terbang Transisi. Namun sejak 1989 Skadron Udara 7 pindah ke Kalijati agar kegiatan latih dasar helikopter dapat berjalan lancar. Hal ini disebabkan di Lanud Atang Senjaya, Bogor volume kegiatan penerbangan cukup padat oleh dua skadron helikopter yaitu Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 8. Sejak dirintis 1978 hingga 2008 Skadron Udara 7 telah meluluskan sekitar 570 orang Pilot Helikopter. Selain prajurit TNI, pilot yang dididik sebelum 1999 juga terdapat siswa-siswa dari luar negeri dan Kepolisian Republik Indonesia. Prestasi tersebut patut disyukuri karena dengan helikopter modifikasi jenis Bell 47 G Solooy yang merupakan pesawat tua namun tangguh, para siswa berhasil melewati masa-masa pengemblengan di kawah candradimuka Skadron Udara 7, Lanud Suryadarma untuk menjadi Pilot Helikopter (Chopper) yang profesional.

Komandan Lanud Suryadarma[sunting | sunting sumber]

  1. Supari (1946)
  2. Opsir Udara II Sukarman (1946-1947)
  3. Opsir Udara III I. S. Wirjo Saputro(1947-1950)
  4. Kapten Muharto (1950)
  5. Kapt Udara Tugio Karto Sandjojo (1950-1957)
  6. LUS A. Basuki (195 1-1952)
  7. Kapten Udara Mantriri (1952-1953)
  8. LUS Suharyo (1953-1956)
  9. Nursain Nurya Kusuma (1956-1957)
  10. Mayor Udara Ahmad Sumadi (1956-1957)
  11. Kapten Udara TH. Gott Schalk (1957-1958)
  12. Kapten Udara Andoko (1958-1959)
  13. LUS RAS Atdjakusuma (1959-1962)
  14. Letkol Udara Imam Sukotjo (1962-1965)
  15. Mayor Udara Imam Pramono (1965-1966)
  16. Letkol Udara Amir Asmono (1966-1969)
  17. Letkol TPT Suwardi (1969-1970)
  18. Letkol MetDusmanto (1970-1973)
  19. Letkol Met Moh Arifin (1973-1974)
  20. Letkol PJ M. Dasuki (1974-1978)
  21. Letkol Nav Wahono (1978-1981)
  22. Letkol Pnb Soeyatno (1981-7984)
  23. Letkol Pnb Ali BZE (7984-7987)
  24. Letkol Pnb A. Suroso (1987-7990)
  25. Letkol Pnb A. Hasan Sadjad (1990-1992)
  26. Letkol Pnb Subijarto (1992-1994)
  27. Letkol Pnb Wardjoko (1994-1996)
  28. Kolonel Pnb Bambang Wahyudi (1996-1999)
  29. Kolonel Pnb Ign. Basuki (1999-2001)
  30. Kolonel Pnb M. Barkah (2001-2004)
  31. Kolonel Pnb Djoko Setiono (2004-2006)
  32. Kolonel Pnb Zulhasymi (2006-2007)
  33. Kolonel Pnb Ras Rendro Bowo. S, SE. (2007-2009)
  34. Kolonel Pnb Widiantoro (2009-2010)
  35. Kolonel Pnb Irwan Is Dunggio, S.Sos (2010-2011)
  36. Kolonel Pnb H. Dumex Dharma, S.AP, M.Si (Han) (2011-2012)
  37. Kolonel Pnb Eding Sungkana SAB (2012-2013)
  38. Kolonel Pnb Tahyodi SAP (2013-2015)
  39. Marsma TNI Suparmono (2015-2017)
  40. Marsma TNI Timbang Sembiring Meliala (2017-Sekarang)

Referensi[sunting | sunting sumber]