Bandar Udara Radin Inten II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Bandar Udara
Radin Inten II (RI II)

Radin Inten II Airport (RI II)
Radin Inten II Airport Logo.jpeg
Radin Inten II new airport.jpg

IATA: TKG · ICAO: WILL

TKG berlokasi di Topografi Sumatera
TKG
TKG
Lokasi bandar udara di Sumatra
Informasi
Jenis bandara Publik
Pemilik Kementerian Perhubungan
Pengelola Kementerian Perhubungan
Melayani Kota Bandar Lampung, Lampung
Lokasi Jl. Alamsyah Ratu Prawiranegara Branti Raya, Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung
Ketinggian MDPL 282 kaki (86 m)
Koordinat 05°14′33″LU 105°10′44″BT / 5,2425°LS 105,17889°BT / -5.24250; 105.17889
Situs web http://www.tkg.informasibandara.org
Landas pacu
Arah Panjang Permukaan
m ft
14/32 3,000 9.842 aspal
Statistik (2015)
Penumpang 1.419.342
Pergerakan pesawat 13.259
Bagasi 8.859.067
Kargo 4.437.830
Citra Satelit Bandar Udara Radin Inten II.
Koridor Kedatangan Domestik Bandar Udara Radin Inten II.
Sky Bridge antara Gedung Terminal dan Gedung Parkir dan area Komersil Bandar Udara Radin Inten II.

Bandar Udara Radin Inten II (bahasa Inggris: Radin Inten II Airport) (IATA: TKGICAO: WILL) adalah bandar udara yang melayani kota Bandar Lampung di Lampung, Indonesia

Nama bandar udara ini diambil dari nama Radin Inten II, Kesultanan Lampung terakhir yang juga salah seorang Pahlawan Nasional asal Lampung.

Bandar udara ini berlokasi di Jalan Alamsyah Ratu Prawiranegara di Branti Raya, Natar, Kabupaten Lampung Selatan berada di barat laut Kota Bandar Lampung.

Bandara ini nantinya mengadopsi gaya futuristik dan merupakan satu-satunya bandara di Indonesia yang memiliki gedung parkir berlantai empat di bawah pengelolaan Kementerian Perhubungan. Pembangunan gedung parkir berkapasitas 700 hingga 800 kendaraan ini bertujuan untuk mengantisipasi peningakatan arus wisatawan menuju destinasi utama Lampung. Di antaranya arena berselancar Tanjung Setia, Taman Nasional Way Kambas (ASEAN Heritage Park Way Kambas), habitat alam lumba-lumba Teluk Kiluan, dan pesona bawah laut di Pulau Pahawang.

Bandar Udara Radin Inten II di Provinsi Lampung merupakan bandar udara umum yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Sejarah Bandar Udara[sunting | sunting sumber]

Bandar Udara Radin Inten II Lampung sebelumnya bernama Pelabuhan Udara Branti adalah peninggalan Pemerintahan Jepang yang dibangun pada tahun 1943. Pada Tahun 1946 diserahkan kepada Pemerintahan Republik Indonesia Cq. Detasemen Angkatan Udara / AURI. Dari tahun 1946 s.d 1955 Pelabuhan Udara Branti dikelola oleh Detasemen Angkatan Udara / AURI dan pada saat itu belum ada penerbangan komersial/ reguler.

Pada tahun 1955, pengelolaan Pelabuhan Udara Branti dikelola oleh Djawatan Penerbangan Sipil (DPS) karena pada tahun tersebut Detasemen Angkatan Udara / AURI memiliki pangkalan udara di Menggala Kabupaten Lampung Utara. Pada tahun 1956 Garuda Indonesian Airways merintis membuka jalur penerbangan yang pertama kali dengan rute JakartaTanjung Karang PP, dengan menggunakan pesawat jenis Barron dan pada tahun itu juga penerbangan komersil dimulai dengan frekuensi penerbangan tiga kali/minggu (jenis pesawat Barron diganti Dakota) dengan panjang landasan pacu ± 900 M. Pada tahun 1963 secara resmi Bandar Udara Branti dari AURI diserahterimakan kepada Residen Lampung dan pada tahun 1964 diserahkan pengelolaannya kepada Djawatan Penerbangan Sipil (DPS).

Pada tahun 1975 (Pelita II Tahun I) dimulai pembangunan landasan baru yang terletak disamping/sejajar dengan landasan lama. Pembangunan landasan baru dengan maksud untuk dapat didarati pesawat jenis F -28 dan sejenisnya. Secara bertahap landasan dibangun dan pada saat itu panjangnya mencapai ± 1.850 M. Pada tahun 1976 pembangunan landasan beserta Apron yang baru telah selesai dan diresmikan penggunaannya pada bulan Juni 1976 oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Bapak Marsma Kardono dengan menggunakan pesawat F - 28 MK 3.000.

Pada tanggal 1 September 1985 istilah Pelabuhan Udara Branti dirubah menjadi Bandar Udara Branti dengan singkatan Bandara Branti, sesuai dengan Telex Sekretaris Jenderal Departemen PerhubunganNo. 378/TLX/DEPHUB/VIII/85 Tanggal 22 Agustus 1985.

Sejak tanggal 11 Agustus 1989 PT. GIA tidak melayani jalur penerbangan Jakarta – Tanjung Karang PP dialihkan kepada PT. MNA diterbangi 7 Flight/hari dengan pesawat CN– 235, disamping itu juga ada insidentil Flight / Penerbangan Carter. Selain untuk Jakarta – Bandar Lampung PP, dilayani juga rute PalembangBandar Lampung PP.

Terminal baru yang selesai dibangun tahun 1995 diresmikan dalam pengoperasian oleh Menteri Perhubungan pada tanggal 22 Mei 1995. Bandara Branti dirubah menjadi Bandar Udara Radin Inten II berdasarkan SK. Menteri Perhubungan No. KM. 10 Tahun 1997, tanggal 10 April 1997 diresmikan oleh Menteri Perhubungan pada tanggal 21 April 1997. Terhitung mulai tanggal 29 April 2004 PT. MNA yang tadinya mengoperasikan pesawat jenis Fokker F-28 diganti dengan pesawat berbadan lebar jenis Boeing 737 Series 200 (MZ – 202 / Flight II).

Pada Tahun Anggaran 2004 landasan pacu diperpanjang dari 1.850 M’ x 30 M’ menjadi 2.000 M’ x 30 M’. Maskapai penerbangan Sriwijaya Air mulai membuka jalur penerbangan pada tanggal 3 Mei 2005 dan Adam Air pada tanggal 5 September 2005 dengan jenis pesawat yang sama yaitu Boeing 737 Series 200, sedangkan Riau Airlines pada tanggal 06 Nopember 2006 dengan jenis pesawat Fokker – 50.

Pada Tahun Anggaran 2007 landasan pacu diperpanjang dari 2.000 M’ x 30 M’ menjadi 2.250 M’ x 30 M’. Pada Tahun 2008 Maskapai penerbangan Adam Air (1 Maret 2008) dan Riau Airlines (2 Juni 2008) tidak melayani lagi jalur penerbangan ke Bandar Udara Radin Inten II. Maskapai penerbangan Batavia Air mulai membuka jalur penerbangan ke Bandar Udara Radin Inten II pada tanggal 8 Agustus 2008.

Pada awal tahun 2009 Garuda Indonesia kembali membuka jalur penerbangan ke bandara ini dengan pesawat Boeing 737-500. Selanjutnya landasan pacu kembali diperpanjang dan diperlebar dari 2.250 M’ x 30 M’ menjadi 2.500 M’ x 45 M’ sehingga pada tahun yang sama bandara ini bisa dimasuki pesawat Boeing 737-300 dan Boeing 737-400 secara penuh.

Selanjutnya pada 2010-2011 dimulai perluasan apron agar bandara ini dapat dimasuki pesawat Boeing 737-800 dan Boeing 737-900ER secara penuh.Apron bandara Radin Inten II yang pada saat itu hanya bisa menampung 3 pesawat Boeing 737 klasik,diperluas kapasitasnya untuk menampung 5 pesawat secara bersamaan.Pada saat bersamaan dimulai juga konstruksi taxiway B untuk mempercepat arus keluar-masuk pesawat dari apron nomor 4 dan 5.Di tahun yang sama pula,Lion Air pun membuka rute penerbangan ke Lampung.

Sejak tahun 2013 dimulailah renovasi tahap pertama dari Bandar Udara Radin Inten II.Renovasi ini dianggap kurang sempurna karena hanya mengubah sedikit saja dari bentuk asli bandara ini.Pada tahun 2014 kembali diadakan perluasan apron sehingga Bandara Radin Inten II dapat menampung 6 pesawat secara bersamaan.

Lalu pada 2015 dilanjutkan lagi dengan konstruksi taxiway C dan perluasan apron,sehingga apron dapat menampung 7 pesawat secara bersamaan. Disaat Menteri Perhubungan Ignasius Jonan melakukan kunjungan kerja ke Lampung,Jonan mengatakan bahwa Bandara Radin Inten II harus dibenahi dan dibongkar total.Pada akhir 2015,maskapai Wings Air kembali membuka rute penerbangan ke Lampung.

Pada tahun 2016,akhirnya dilakukan renovasi besar-besaran di bandara ini (Selengkapnya lihat : Perluasan bandara).Salah satu bagian dari perluasan di tahun 2016 ini adalah kembali diadakannya perluasan apron dan konstruksi taxiway D,sehingga kapasitas apron meningkat dari 7 pesawat menjadi 8 pesawat,bahkan bisa menampung 10 pesawat dalam kondisi darurat.Selain itu landasan pacu kembali diperpanjan dari 2.500 M’ x 45 M’ menjadi 3.000 M’ x 45 M’ agar dapat dimasuki pesawat berbadan lebar. Ketika perluasan sudah selesai,beberapa maskapai seperti Garuda Indonesia dan Lion Air mulai menambah frekuensi penerbangan ke Lampung.

Pada tahun 2017,maskapai penerbangan Batik Air mulai membuka penerbengan ke Lampung dengan pesawat Airbus A320,dimana ini merupakan debut perdana A320 di bandara ini sejak perluasan pertama di tahun 2004. [1]

Maskapai penerbangan dan tujuan[sunting | sunting sumber]

Boarding Lounge 3 untuk penerbangan domestik.
Pesawat A320 milik Batik Air disambut dengan water salute ketika baru mendarat untuk pertama kali di Bandara Radin Inten II
Maskapai Tujuan
Batik Air Jakarta—Halim Perdanakusuma, Medan
Express Air Bandung, Palembang
Garuda Indonesia Batam, Jakarta—Soekarno—Hatta
Garuda Indonesia
dioperasikan oleh Explore Garuda
Palembang
Lion Air Jakarta—Soekarno—Hatta
Nam Air Jakarta—Soekarno—Hatta
Sriwijaya Air Batam, Jakarta—Soekarno—Hatta, Surabaya, Yogyakarta
Susi Air Krui
Wings Air Bandung, Palembang

Pajak Pelayanan Bandara[sunting | sunting sumber]

Maskapai Tujuan
Pajak Domestik Rp 25.000

Haji & Umrah[sunting | sunting sumber]

Area Drop Off Bandara yang sedang dalam tahap penyelesaian.

Bandara Radin Inten II Lampung juga telah 6 tahun berturut-turut melayani embarkasi haji antara sejak 2010 hingga sekarang dengan kuota jumlah jamaah yang diberangkatkan sebanyak 6.282 orang per tahun, sedangkan untuk calon jamaah haji Lampung yang masuk dalam daftar tunggu saat ini lebih dari 80 ribu orang. Sehingga diperlukan waktu 16 tahun lagi untuk memberangkatkan haji yang saat ini masuk di dalam daftar tunggu (waiting list). Dapat di jelaskan juga bahwa Lampung memiliki potensi umrah yang cukup besar dengan jumlah jamaah yang diberangkatkan setiap tahunnya sekitar enam ribu orang.

Perluasan Bandara[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Provinsi Lampung dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sejak Juni 2012 telah menandatangani MoU tentang pengembangan dan pembangunan Bandara Udara Radin Inten II Lampung Selatan.

MoU bernomor G/454/III.06/HK/2012 dan HK.201/1/14/DRJU-2012 itu dijadikan dasar kedua belah pihak untuk mengembangkan bandara terbesar di Provinsi Lampung tersebut menjadi bandara bertaraf internasional. Targetnya, rencana pengembangan ini rampung pada Tahun 2017.[2]

Tahapan Proyek Bandara Radin Inten II
Tahap Tahun Deskripsi Status
I 2016 Pembangunan Terminal kedatangan dan keberangkatan di gedung lama Selesai
2016 Pemindahan areal parkir ke sebelah Terminal lama Selesai
II 2016 Pembangunan Terminal penumpang 3 lantai Selesai
2016 Pembangun areal parkir 4 lantai Selesai
2016 Pembangun Jaringan Rel Kereta Api dari Stasiun Tanjung Karang ke Bandara Tahap Kontruksi
III 2016 Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Dari Bandara Raden Intan II Ke Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar atau Sebaliknya Tahap Kontruksi
2016 Pembuatan Taxi Way Pararel Rencana
2016 Perpanjangan Runway bandara menjadi 3.000 Meter Selesai

Saat ini Bandara Radin Inten II sedang dalam tahap renovasi. Bangunan milik pemda atau selasar yang selama ini mempersempit lahan parkir akhirnya dibongkar. Diperkirakan sebelum akhir Januari 2016, lahan parkir di kawasan tersebut makin luas dan mampu memuat 400 kendaraan.

Tahun 2016, terminal bandara ditingkatkan menjadi tiga lantai yang diproyeksikan dapat memuat lebih dari 3 juta penumpang per tahunnya dengan gedung parkir empat lantai hingga bisa memuat 1000 kendaraan. Selain itu, sesuai rencana Kementerian Perhubungan, landasan pacu diperpanjang menjadi 3.200 meter dari sebelumnya 2.500 meter.[3]

Bandara Radin Inten II mampu melayani 3.350 penumpang setiap hari. Ketika beroperasi penuh pada 2017, jumlah penumpang yang mampu dilayani mencapai 8.000 per hari atau tiga juta penumpang per tahun. Adapun apron mampu menampung 10 pesawat dengan 50 pergerakan pesawat per hari.

Jumlah pergerakan itu hanya berbeda tipis dengan Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang yang mencapai 60 pergerakan per hari.[4]

Karena itu, dibutuhkan lahan seluas 78 hektare dan pembebasannya dilakukan dalam dua tahap.

Penambahan landasan pacu tersebut merupakan prasyarat mutlak, agar dapat didarati pesawat jenis Airbus yang banyak digunakan sebagai armada angkutan internasional.

Saat ini perluasan bandara sudah memasuki tahapan konsultasi publik. Perluasan lahan akan dilakukan di tujuh desa di Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Pembebasan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama akan dibebaskan seluas 36 hektare pada 2015 ini dan 42 hektare pada tahun 2016, dan hingga kini mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Upaya meningkatkan status Bandara Radin Inten II menjadi bandara internasional sudah dilakukan Pemprov Lampung selama sepuluh tahun terakhir, namun baru mendapat sinyal positif dari Kemenhub pada tahun 2015.

Salah satu tujuan peningkatan status bandara tersebut adalah menjadikan Lampung sebagai emberkasi haji.[5]

Transportasi Darat[sunting | sunting sumber]

Taksi[sunting | sunting sumber]

Biasanya taksi ada sampai penerbangan terakhir. dan Perusahaan penyedia Jasa Taksi Yakni :

  • Puspa Jaya Taxy

Bus Rapid Transit (BRT)[sunting | sunting sumber]

Kereta Api[sunting | sunting sumber]

Untuk mendukung pembangunan Bandara Raden Inten II sebagai bandara internasional tahun 2017, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga akan membangun jalur kereta api (KA) Tanjungkarang – Bandara Radin Inten II Branti Lampung Selatan guna mengurai kemacetan dan menata moda transportasi lebih baik.[6]


Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]