Bandar Udara Iskandar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Bandar Udara Internasional Iskandar
Runway BandaraIskandar1.jpeg
IATA: PKN · ICAO: WAOI
Informasi
Jenis bandara Sipil dan Militer
Lokasi Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, Indonesia
Zona waktu UTC+7
Sumber: Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia,[1]
Ketinggian MDPL 23 m (75 f)

Bandar Udara Iskandar terletak di Pangkalan Bun, Ibu Kota Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan merupakan satu satunya bandara di Kalimantan Tengah yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) avtur. Panjang landasan pacu (run way) Bandara Iskandar sehingga menjadi 13/31 berukuran panjang 2.120 meter, lebar 30 meter.[1] Untuk ukuran kota kabupaten di luar Pulau Jawa, keberadaan Bandar Udara Iskandar cukup memadai.selain untuk keperluan militer angkatan udara, Bandara ini melayani beberapa penerbangan dan cargo antar kota di Kalimantan, Sulawesi dan Pulau Jawa.

Pengembangan Bandar Udara Iskandar[sunting | sunting sumber]

Tahun 2017, Bandar Udara Iskandar kembali mengajukan dana pengembangan bandara dari pemerintah pusat. Dana ini akan dipergunakan untuk menambah panjang run way dari panjang 2.120 m menjadi 3.570 m pembangunan Terminal Baru yang memiliki Desain Seperti Terminal Khas Kalimantan Tengah dan fasilitas lainnya.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Potensi berkembangnya Bandar Udara Iskandar, selain didukung oleh daya tarik Taman Nasional Tanjung Puting,Habitat alami orang utan, sebagai tujuan wisata konservasi yang telah go Internasional, juga didukung oleh perkembangan pesat investor dan industri di sektor agronomi dan agrobisnis lainnya di daerah Kotawaringin Barat dan sekitarnya. Selain dari Kabupaten Kotawaringin Barat, masyarakat Kabupaten Sukamara, Lamandau dan sebagian besar dari Kabupaten Seruyan, mengandalkan Bandara Iskandar Pangkalan Bun untuk bepergian keluar pulau.

Pembangunanan Bandar Udara Internasional[sunting | sunting sumber]

Untuk memenuhi kapasitas penumpuang penerbangan Domestik dan Internasional yang semakin meningkat, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat berencana mengembangkan dan membangun Bandar Udara Baru yang memenuhi syarat Bandar Udara Internasional. Untuk Bandar Udara Baru Akan Terhubung Pangakalan Bun, Pusat Perbelanjaan, Monorel Dan Taman Nasional Tanjung Puting. Bandar Udara Baru di bangun di Sebuai Kecamatan Kumai dan dijangka selesai tahun 2025 landasan pacu 4,900 by 49 metre (16,076 × 161 ft).

Maskapai dan Tujuan Penerbangan[sunting | sunting sumber]

Maskapai Tujuan
Garuda Indonesia Explore Ketapang, Semarang
Kal Star Aviation Jakarta–Soekarno–Hatta, Ketapang, Palangkaraya, Sampit, Semarang, Surabaya
Susi Air Palangkaraya
Trigana Air Service Banjarmasin, Jakarta–Soekarno–Hatta, Semarang, Ketapang, Semarang, Solo, Surabaya

Sejarah Landasan Udara[sunting | sunting sumber]

Bandara Iskandar dahulunya bernama Subah Uyah, bandara tersebut merupakan warisan/peninggalan pemerintah kolonial Jepang yang masih berupa tanah di padatkan.pada tahun 1947Pangeran Muhammad Noor, yang saat itu menjabat gubernur kalimantan, mengajukan permintaan kepada AURI unuk membangun sebuah stasiun radio guna menyebarkan beita bahwa indonesia telah medeka sejak tahun 1945. Soerjadi Soerjadarma mengambil inisiatif mengirimkan ke 13 orang ke kalimantan, dua di antaranya adalah teknisi radio dari AURI, sedangkan 11 orang lainnya adalah putra kalimanta. Kesebelas putra kalimantan itu adalah Iskandar sebagai komandan pasukan, Ahmad kosasih,Bachri,J Biak,C Williem,Imanuel,Amirudin,Ali Akbar,M Dahlan,JH Darius, dan Marawi. Pada tanggal 17 oktober 1947(yang kemudian menjadi hari kopaskhas)dini hari. Pesawat lepas landas dari Maguwo, Djogjakarta menyebrangi laut Jawa dan belantara hutan rimba kalimantan menuju Kotawaringin Barat,Tepatnya Di desa Sambi, Kalimantan Tengah sebagai daerah saaran penerjunan. menggunakan pesawat C-47 Dakota RI-002(yg sampai saat ini masih tetap Utuh berdiri di sebelah bundaran pancasila) yg di awaki kapten pilot Bob Freeberg dengan kopilot Makmur Suhodo sera dibantu jump master Amir Hamzah dan pemadu jalan mayor Tjilik Riwoet bersama 13 pejuang prajurit penejun. Selepas mendarat dengan selamat,mereka menghadapi pasukan Belanda yang sedang melangsungkan agresi militer 1 yang pada saat itu Berupaya merebut landasan udara Jepang yg telah berhasil di ambil alih oleh pemerintah Indonesia. Ke 13 orang tersebut tewas dan yg tersisa menjadi tawanan pihak Belanda. Untuk mengenang jasa para penerjun tersebut, maka nama komandan penerjun Iskandar di abadikan mejadi nama landasa tersebut.

Pangkalan TNI AU Iskandar[sunting | sunting sumber]

Lanud Iskandar sebenarnya merupakan lanud terluas di Indonesia. Luasnya yang mencapai 3000,6 hektar melebihi luas Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta dan Lanudal Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur. Hanya saja, dari luas tersebut, baru sekitar 200 hektar saja yang dimanfaatkan sebagai kantor dan landasan pacu pesawat. luasnya area yang dimiliki lanud ini, akhirnya menjadikannya sebagai hutan kota. Pasalnya, wilayah di sekitar lanud ini masih dikelilingi oleh hutan yang cukup asri.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "BAndar Udara Iskandar, Pangkalan Bun". Direktorat Pehubungan Udara, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Diakses tanggal 31 Dec 2014. 
  2. ^ "Lanud Iskandar, Landasan TNI AU Terluas nan Bersejarah yang Tak Banyak Dikenal" website nasional.kompas.com