Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II

Sultan Mahmud Badaruddin II
International Airport
PesawatdiSMB2IA.jpg
Informasi
JenisPublik
PemilikPemerintah Indonesia
PengelolaPT Angkasa Pura II
MelayaniPalembang
LokasiPalembang, Sumatra Selatan. Indonesia
Maskapai penghubung
Ketinggian dpl121 kaki / 37 m
Koordinat02°54′01″S 104°42′00″E / 2.90028°S 104.70000°E / -2.90028; 104.70000Koordinat: 02°54′01″S 104°42′00″E / 2.90028°S 104.70000°E / -2.90028; 104.70000
Situs websmbadaruddin2-airport.co.id
Peta
Sumatra dareah di Indonesia
Sumatra dareah di Indonesia
PLM berlokasi di Sumatra
PLM
PLM
Lokasi bandara di Sumatra Selatan / Indonesia
PLM berlokasi di Indonesia
PLM
PLM
PLM (Indonesia)
PLM berlokasi di Asia Tenggara
PLM
PLM
PLM (Asia Tenggara)
Landasan pacu
Arah Panjang Permukaan
kaki m
11/29 9.843 3.000x45meter Aspal
Statistik (2018)
Penumpang5.126.298

Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (bahasa Inggris: Sultan Mahmud Badarudin II International Airport) (IATA: PLMICAO: WIPP) adalah bandar udara internasional yang melayani kota Palembang, dan sekitarnya. Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dioperasikan oleh PT Angkasa Pura 2. Nama bandara ini diambil dari nama Sultan Mahmud Badaruddin II (1767-1862), seorang pahlawan nasional Indonesia melawan VOC-Belanda yang pernah memimpin Kesultanan Palembang Darussalam (1803-1819). Panjang landasan pacu (runway) Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II berukuran 3000 x 45 meter (9843 ft × 148 ft) dengan permukaan aspal.

Sejarah Singkat[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 1 Januari 1920, karena suatu hal konsesi atas tanah perkebunan itu berpindah tangan kepada Palembang Maatschappij (Palembang MIJ) atau NV Palembang Maskapai. Tahun itu terdapat kabar pionir penerbang bangsa Belanda dikepalai oleh Jan Pieterszoon Coen akan menerbangkan pesawat kecilnya Fokker dari Eropa ke wilayah Hindia Belanda dalam waktu 20 jam terbang. Maka Palembang MIJ yang memegang konsesi atas tanah itu, menyediakan sebidang lahan untuk diserahkan sebagai lapangan terbang pertama di Kota Palembang.

Pada tanggal 1 Januari 1950, bandara ini menjadi lapangan udara bersama baik untuk kegunaan sipil status bandara ini menjadi Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.

Pada saat Provinsi Sumatra Selatan resmi terpilih sebagai tuan rumah PON XVI tahun 2004, pemerintah berupaya untuk memperbesar kapasitas bandara sekaligus mengubah status bandara ini menjadi bandara internasional. Gedung terminal baru Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II akhirnya berhasil rampung dan diresmikan pada 1 Januari 1990.

Peristiwa Woyla[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 28 Maret 1981, lima orang teroris yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein, dan mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok ekstremis Islam "Komando Jihad", membajak pesawat Penerbangan 206 Garuda Indonesia setelah lepas landas dari Pelabuhan Udara Sipil Talangbetutu ke Bandara Polonia, Medan. Pembajakan yang terjadi di Pelud Talang Betutu ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Woyla. Penerbangan dengan pesawat DC-9 Woyla tersebut berangkat dari Jakarta pada pukul 08.00 pagi, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55. Dalam penerbangan, pesawat tersebut tiba-tiba dibajak oleh lima orang teroris Komando Jihad yang menyamar sebagai penumpang. Setelah mendarat sementara untuk mengisi bahan bakar di Bandara Penang, Malaysia, akhirnya pesawat tersebut terbang dan mengalami drama puncaknya di Bandara Don Mueang di Bangkok, Muang Thai tanggal 31 Maret.[1]

Peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla yang berangkat dari Pelabuhan Udara Sipil Talangbetutu ini menjadi peristiwa terorisme bermotif "jihad" pertama yang menimpa Indonesia dan satu-satunya dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.[1]

Pengembangan[sunting | sunting sumber]

Suasana lobi check-in.

Bandara ini telah resmi menjadi bandara bertaraf internasional dan bisa didarati oleh pesawat yang berbadan besar pada 1 Januari 1970. Pengembangan bandara tersebut mulai dilakukan pada 1 Januari 1990 dengan total biaya Rp366,7 miliar yang berasal dari ';'Japan International Bank Corporation';' Rp251,9 miliar dan dana pendamping dari APBN sebesar Rp114,8 miliar.

Antara perkembangan yang dilaksanakan adalah perpanjangan landas pacu sepanjang 300 meter x 60 meter menjadi 3.000 meter x 60 meter, pembangunan tempat parkir kendaraan seluas 20.000 meter yang dapat menampung 1.000 kendaraan serta pembangunan gedung terminal penumpang tiga lantai seluas 13.000 meter persegi yang dapat menampung 1250 penumpang, dilengkapi garbarata (aerobridge) dan terminal kargo dan bangunan penunjang lainnya seluas 1.900 meter persegi.

Hasil pengembangan ini membuat Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dapat didarati pesawat Airbus A330, Boeing 747, Boeing 777, dan sejenisnya. Selain itu, arus penumpang diproyeksikan akan naik dari 7.720 penumpang menjadi 16.560 penumpang. Setelah itu akan ada pembangunan jalan tol Indralaya-Palembang-Bandara Sultan Mahmud Badarudin II untuk mempermudah akses ke Bandara.

Maskapai penerbangan dan tujuan[sunting | sunting sumber]

Maskapai yang saat ini beroperasi di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang:

MaskapaiTujuan
AirAsiaKuala Lumpur—Internasional
Batik AirJakarta—Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno—Hatta
CitilinkBandar Lampung, Batam, Jakarta—Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno—Hatta, Lubuklinggau, Muara Bungo, Padang, Pekanbaru, Semarang, Surabaya, Way Kanan, Yogyakarta–Internasional
Garuda IndonesiaBandar Lampung, Batam, Bengkulu, Denpasar/Bali, Jakarta–Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno—Hatta, Jambi, Medan, Padang, Pangkal Pinang
Musiman: Jeddah
Lion AirBatam, Jakarta—Soekarno—Hatta, Medan, Pangkal Pinang, Semarang, Surabaya, Yogyakarta–Internasional
Musiman: Jeddah[Catatan 1]
Nam AirBandar Lampung, Jakarta—Soekarno—Hatta, Lubuklinggau, Pangkal Pinang, Yogyakarta–Adisutjipto
ScootSingapura
Sriwijaya AirJakarta—Soekarno—Hatta
Wings AirBandar Lampung, Bandung, Bengkulu, Jakarta–Halim Perdanakusuma, Jambi, Lubuklinggau, Muara Bungo, Padang, Pagar Alam, Pangkal Pinang, Pekanbaru
Xpress AirSemarang, Surakarta/Solo, Yogyakarta–Adisutjipto
  1. ^ Transit ke Thiruvananthapuram

Transportasi Darat[sunting | sunting sumber]

Kereta Api[sunting | sunting sumber]

Palembang LRT (kereta api ringan) yang menghubungkan bandar udara ini dengan Jakabaring Sport City.

Jalan Tol[sunting | sunting sumber]

jalan tol Indralaya-Palembang-Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II untuk mempermudah akses ke Bandara.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Woyla, Terorisme Pertama di Indonesia" - Okezone.com, diakses 4 Mei 2010.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


[1][sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www.harnas.co/2017/08/17/wings-air-buka-enam-rute-baru