Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II)
Lompat ke: navigasi, cari
Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II
IATA: PLM · ICAO: WIPP
Informasi
Jenis bandara Publik
Pemilik Pemerintah Indonesia
Pengelola PT Angkasa Pura II
Lokasi Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
Zona waktu UTC+7
Situs web http://www.smbadaruddin2-airport.co.id
Landas pacu
Arah Panjang Permukaan
ft m
11/29 9.843 3.000 Aspal
Ketinggian MDPL 15 m (49 f)

Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (kode IATA: PLM) adalah Landas Pacu aspal ukuran landas pacu 9.843ft dan 3.000m Dari bandar udara internasional yang melayani kota Palembang, Sumatera Selatan dan sekitarnya. Bandara ini terletak di wilayah KM.10 Kecamatan Sukarame. Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dioperasikan oleh PT Angkasa Pura 2. Nama bandara ini diambil dari nama Sultan Mahmud Badaruddin II (1767-1862), seorang Pahlawan Nasional Indonesia melawan VOC-Belanda yang pernah memimpin Kesultanan Palembang Darussalam (1803-1819). Panjang landasan pacu (runway) Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sehingga menjadi 11/29 berukuran 3.571 by 45 meter (11.716 × 148 ft), lebar 45 meter di atas permukaan Aspal sejak September 2014

Sejarah Singkat[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 1 Januari 1920, karena suatu hal konsesi atas tanah perkebunan itu berpindah tangan kepada Palembang Maatschappij (Palembang MIJ) atau NV Palembang Maskapai. Tahun itu terdapat kabar pionir penerbang bangsa Belanda dikepalai oleh Jan Pieterszoon Coen akan menerbangkan pesawat kecilnya Fokker dari Eropa ke wilayah Hindia Belanda dalam waktu 20 jam terbang. Maka Palembang MIJ yang memegang konsesi atas tanah itu, menyediakan sebidang lahan untuk diserahkan sebagai lapangan terbang pertama di Kota Palembang.

Pada tanggal 1 Januari 1950, bandara ini menjadi lapangan udara bersama baik untuk kegunaan sipil status bandara ini menjadi Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.

Pada tanggal 1 Januari , bandara ini resmi dikelola oleh Manajemen PT (Persero) Angkasa Pura II.

Pada saat Provinsi Sumatera Selatan resmi terpilih sebagai tuan rumah PON XVI tahun 2004, pemerintah berupaya untuk memperbesar kapasitas bandara sekaligus mengubah status bandara ini menjadi bandara internasional. Gedung terminal baru Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II akhirnya berhasil rampung dan diresmikan pada 1 Januari 1990.

Peristiwa Woyla[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 28 Maret 1981, lima orang teroris yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein, dan mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok ekstremis Islam "Komando Jihad", membajak pesawat Penerbangan 206 Garuda Indonesia setelah lepas landas dari Pelabuhan Udara Sipil Talangbetutu ke Bandara Polonia, Medan. Pembajakan yang terjadi di Pelud Talang Betutu ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Woyla. Penerbangan dengan pesawat DC-9 Woyla tersebut berangkat dari Jakarta pada pukul 08.00 pagi, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55. Dalam penerbangan, pesawat tersebut tiba-tiba dibajak oleh lima orang teroris Komando Jihad yang menyamar sebagai penumpang. Setelah mendarat sementara untuk mengisi bahan bakar di Bandara Penang, Malaysia, akhirnya pesawat tersebut terbang dan mengalami drama puncaknya di Bandara Don Mueang di Bangkok, Muang Thai tanggal 31 Maret.[1]

Peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla yang berangkat dari Pelabuhan Udara Sipil Talangbetutu ini menjadi peristiwa terorisme bermotif "jihad" pertama yang menimpa Indonesia dan satu-satunya dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.[1]

Pengembangan[sunting | sunting sumber]

Suasana lobi check-in.

Bandara ini telah resmi menjadi bandara bertaraf internasional dan bisa didarati oleh pesawat yang berbadan besar pada 1 Januari 1970. Pengembangan bandara tersebut mulai dilakukan pada 1 Januari 1990 dengan total biaya Rp366,7 miliar yang berasal dari ';'Japan International Bank Corporation';' Rp251,9 miliar dan dana pendamping dari APBN sebesar Rp114,8 miliar Dengan 12 Kota Dengan Penerbangan Domestik Langsung Dan 3 Kota Dengan Penerbangan Internasional Langsung.

Antara perkembangan yang dilaksanakan adalah perpanjangan landas pacu sepanjang 300 meter x 60 meter menjadi 3.000 meter x 60 meter, pembangunan tempat parkir kendaraan seluas 20.000 meter yang dapat menampung 1.000 kendaraan serta pembangunan gedung terminal penumpang tiga lantai seluas 13.000 meter persegi yang dapat menampung 1250 penumpang, dilengkapi garbarata (aerobridge) dan terminal kargo dan bangunan penunjang lainnya seluas 1.900 meter persegi.

Hasil pengembangan ini membuat Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dapat didarati pesawat Airbus A330 dan sejenisnya serta Boeing 747 . Selain itu, arus penumpang diproyeksikan akan naik dari 7.720 penumpang menjadi 16.560 penumpang. Setelah itu akan ada pembangunan jalan tol Indralaya-Palembang-Bandara Sultan Mahmud Badarudin II untuk mempermudah akses ke Bandara.

Maskapai penerbangan dan tujuan[sunting | sunting sumber]

Suasana apron di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Maskapai yang saat ini beroperasi di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang :

Maskapai Tujuan
AirAsia Kuala Lumpur—Internasional
Batik Air Bandung, Jakarta—Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno—Hatta
Citilink Bandung, Batam, Jakarta—Halim Perdanakusuma, Surabaya
Express Air Bandar Lampung, Bandung, Pekanbaru, Yogyakarta
Garuda Indonesia Denpasar/Bali, Jakarta—Soekarno—Hatta, Medan
Haji: Jeddah
Garuda Indonesia
dioperasikan oleh Explore Garuda
Bandar Lampung, Bengkulu, Jambi, Pangkal Pinang
Indonesia AirAsia Medan
Jetstar Asia Airways Singapura
Lion Air Batam, Jakarta—Soekarno—Hatta, Pangkal Pinang
Nam Air Jakarta—Soekarno—Hatta, Pangkal Pinang, Yogyakarta
Silk Air Singapura
Sriwijaya Air Jakarta—Soekarno—Hatta
Wings Air Bandar Lampung, Jambi

Transportasi Antarmoda[sunting | sunting sumber]

Saat ini tengah dibangun Palembang LRT (kereta api ringan) yang akan menghubungkan bandar udara ini dengan Jakabaring Sport City. Pembangunan ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2018, di mana pada tahun tersebut akan diselenggarakan pesta olahraga antarnegara Asia Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Woyla, Terorisme Pertama di Indonesia" - Okezone.com , diakses 4 Mei 2010.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]