Soesilo Soedarman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Soesilo Soedarman
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia ke-4
Masa jabatan
17 Maret 1993 – 14 Maret 1998
Presiden Soeharto
Didahului oleh Sudomo
Digantikan oleh Feisal Tanjung
Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Indonesia ke-6
Masa jabatan
21 Maret 1988 – 17 Maret 1993
Presiden Soeharto
Didahului oleh Achmad Tahir
Digantikan oleh Joop Ave
Informasi pribadi
Lahir 12 November 1928
Bendera Belanda Cilacap, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal 18 Desember 1997 (umur 69)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Suami/istri Widaningsri
Alma mater AMN
Profesi Militer
Agama Islam

Jenderal TNI (HOR) Soesilo Soedarman, (lahir di Cilacap, Jawa Tengah, 10 November 1928 – meninggal di Jakarta, 18 Desember 1997 pada umur 69 tahun) adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998) dan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Soesilo Soedarman juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat yang berkedudukan di Washington DC dari 18 Februari 1986 hingga 11 April 1988.

Kehidupan Awal[sunting | sunting sumber]

Soesilo lahir sebagai anak pertama dari sebelas bersaudara pada 10 November 1928 di Maos, Cilacap dengan nama Soemarlan. Pada saat ia disapih, ia lalu dirawat oleh sang kakek yang lalu mengganti namanya dengan Soesilo. Kakek Soesilo adalah seorang juragan tanah (landlord) yang kaya. Maka dari itu saat kelahirannya, ia lalu mendapatkan beberapa hadiah dari sang kakek berupa tanah seluas 100 bau dan uang sejumlah 10 ribu gulden. Hadiah ini diberikan tak lain dan tak bukan bertujuan agar Soesilo kelak akhirnya dapat bersekolah menjadi seorang dokter. Kakek Soesilo sendiri memiliki dokter pribadi bernama Dokter Katung, dimana sang kakek kagum pada sosok dokter ini dan menginginkan sang cucu kelak juga bisa menjadi dokter. Namun, pada saat masa pendudukan Jepang, kakeknya ini terkena peraturan reformasi tanah (landreform), dimana akhirnya kakek Soesilo jatuh miskin.

Masa kecil Soesilo Soedarman diwarnai dengan kegemarannya menggembalakan kerbau milik kakeknya bersama beberapa teman sebayanya. Ia juga suka menangkapi belut di sawah dan membakarnya. Selain itu, Soesilo kecil sangat gemar akan wayang, dimana ia sering menonton pertunjukan wayang semalam suntuk dan mengagumi tokoh Bima dan Hanoman. Dia juga sering bermain dalang sendiri dengan wayang-wayang, suara gamelan dari mulut dan diterangi lampu petromaks. Kegemaran akan wayang ini melekat sepanjang hidupnya. Pada masa kecilnya ini pula, karena lebih sering diasuh oleh kakeknya maka Soesilo memanggil kakeknya dengan sebutan Bapak sedangkan ayahnya sendiri dipanggil dengan sebutan kangmas (kakak). Hal ini lalu disadarinya saat Soesilo akan dikhitan, ia baru menyadari saat itu bahwa yang ia panggil kangmas adalah ayahnya sendiri.[1]

Nama Soesilo Soedarman[sunting | sunting sumber]

Dari saat pengasuhan kakeknya tersebut, namanya hanya Soesilo saja. Hingga saat Soesilo menjadi duta besar di Amerika Serikat ada yang menanyakan nama keluarga Soesilo. Soesilo menjawab bahwa namanya hanyalah satu kata tersebut. Namun si penanya berkata "Kamu harusnya mempunyai nama lain" dan Soesilo lalu memberikan nama Soedarman yang merupakan nama ayahnya (Soedarman Wiryosoedarmo). Pada kesempatan berikutnya, Soesilo lalu dipanggil dengan nama Mr. Soedarman.[1]

Karier Militer[sunting | sunting sumber]

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Tinggi di Yogyakarta, ia lalu melanjutkan pendidikannya ke Akademi Militer, melenceng dari keinginan kakeknya yang menginginkannya menjadi dokter. Di Akademi Militer ia adalah rekan satu angkatan dari Subroto (mantan Menteri Pertambangan dan Energi) dan Sayidiman Suryohadiprojo (mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang). Lulus dari akademi, sebagai salah satu lulusan terbaik, ia diwajibkan menjadi pelatih. Beberapa tokoh pernah berada dalam pelatihannya adalah Mudjono, SH dan Soedharmono (mantan Wakil Presiden). Dalam mobilisasi pelajar di era perang kemerdekaan (1947), ia bertugas untuk melatih para siswa tingkat SMP dan SMA saat pasukan Belanda telah mencapai Gombong. Sebagai tentara pula, ia pernah menjabat sebagai Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) Sumatera dan Kalimantan Barat pada periode 1980-1985.[1]

Pernikahan dan anak[sunting | sunting sumber]

Ia menikah dengan Widaningsri, seorang gadis yang dikenalnya saat masih menjadi taruna Akademi Militer. Pernikahan tersebut berlangsung di Ponorogo, 15 April 1951. Pernikahan ini dikaruniai 5 anak, 1 wanita dan 4 laki-laki.[1]

Meninggal Dunia[sunting | sunting sumber]

Soesilo Soedarman meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 1997 dalam usia 69 tahun di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Jenazah Soesilo Soedarman dimakamkan di TMP Kalibata, Bertindak inspektur upacara Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Wiranto

Museum Soesilo Soedarman[sunting | sunting sumber]

Museum Soesilo Soedarman terletak di desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.[2]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Majalah Kartini, 17 April 1988. "Orang-orang baru di kabinet bercerita tentang masa kecil mereka : Dari yang menjadi komandan gembala sampai mata-mata kecil"
  2. ^ "Museum Jenderal TNI (Purn) Soesilo Soedarman" Website tnial.mil.id
Jabatan politik
Didahului oleh:
Sudomo
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia
1993 – 1998
Diteruskan oleh:
Feisal Tanjung
Didahului oleh:
Achmad Tahir
Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Indonesia
1988 – 1993
Diteruskan oleh:
Joop Ave