Sayidiman Suryohadiprojo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sayidiman Suryohadiprojo
Sayidiman Suryohadiprojo, Buku Pelengkap IV Pemilihan Umum 1977 (1978), p246.jpg
Sayidiman Suryohadiprojo
Informasi pribadi
Lahir(1927-09-21)21 September 1927
Bendera Hindia Belanda Bojonegoro, Jawa Timur, Hindia Belanda
Meninggal dunia16 Januari 2021(2021-01-16) (umur 93)
Bendera Indonesia RSPAD, Jakarta Pusat
Alma materAMN (1948)
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangInsignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat
Masa dinas1945—1982
PangkatPdu letjendtni staf.png Letnan Jenderal TNI
SatuanInfanteri

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo [1] (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 21 September 1927 – meninggal di Jakarta, 16 Januari 2021 pada umur 93 tahun) anak keenam—dari tujuh bersaudara—R.T. Bawadiman Kartohadiprodjo (Bupati Pasuruan), merupakan seorang purnawirawan perwira tinggi (PATI) TNI-AD. Jabatan terakhirnya di lingkungan TNI-AD adalah sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat berpangkat Letnan Jenderal TNI. Sedangkan di luar lingkungan TNI sebagai Gubernur Lemhanas [2].

Salah satu lulusan terbaik Akademi Militer Yogyakarta tahun 1948 ini dikenal memiliki pengalaman, pengetahuan, dan perhatian yang luas atas berbagai bidang, khususnya dalam bidang militer, politik, dan diplomasi. Semua ini berkat kiprah dan penugasan yang pernah diembannya sejak berusia muda, mulai dari ikut berjuang dalam Perang Kemerdekaan, mengikuti berbagai operasi mengatasi masalah-masalah keamanan dalam negeri, seperti Darul Islam, PRRI/Permesta, dan G30S/PKI, hingga penugasan di luar bidang militer. Saat ini ia menjabat Ketua Ikatan Keluarga Akademi Militer Jogjakarta.

Karier[sunting | sunting sumber]

Letnan Jenderal TNI Sayidiman Suryohadiprojo

Pada masa itu Karier dan Dinas kemiliterannya sendiri sudah diawali sejak masa Taruna 1945 dalam rangka Perjuangan Kemerdekaaan, Selepas Kelulusan Taruna kemudian dilanjutkan dengan bertugas di Divisi Siliwangi di Jawa Barat, mulai dari sebagai Komandan Peleton hingga menjadi Komandan Batalyon Infantri, sebelum akhirnya ditempatkan di lingkungan pendidikan sebagai Komandan Resimen Taruna Jurusan Teknik Akademi Militer Nasional (AMN)(1960). Perjalanan kariernya kemudian terus meningkat dengan menjadi Perwira Staf Umum di Markas Besar Angkatan Darat (1963), Pangdam XIV/Hasanuddin di Makassar (1968), Ketua Gabungan III/Personel Hankam (1970), dan akhirnya Wakil KSAD (1973). Hanya sebentar menjadi orang kedua di AD, setahun kemudian kembali beralih tugas dengan menjabat sebagai Gubernur Lemhanas (1974-1978). Pada masa itu, perhatiannya terhadap perkembangan dunia olahraga nasional ternyata membuatnya terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) (1976) dan merangkap sebagai Ketua KONI Pusat Bidang Daerah (1977), sebelum akhirnya bertugas menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang (1979). Dan pada tanggal 21 September 1982 mendapatkan Surat Keputusan Pensiun dari anggota TNI yang kemudian dalam menjalankan tugas sebagai Purnawirawan dalam fungsi Kekaryaan.

Sekembalinya dari tugas di Negeri Matahari Terbit tersebut, ia kemudian diangkat menjadi Penasihat Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam bidang Hankam (1983) serta Komisaris Utama PT Perkebunan (PTP) XXIV/XXV di Jawa Timur (1984-1994). Ketika berdiri Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990, ia dipercaya menjadi Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat (1990-1995) dan Wakil Ketua Dewan Penasihat ICMI Pusat (1995-2000). Begitupun ketika Indonesia menjadi Ketua Gerakan Non Blok (GNB) (1992-1995), ia juga ditunjuk sebagai Dutabesar Keliling RI untuk Wilayah Afrika. Selain itu, menjadi Penasihat Presiden RI Urusan Ketahanan Nasional, Anggota MPR-RI (1993-1998), Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (1993). Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (WANTIMPUS) Legiun Veteran Republik Indonesia masa jabatan 2012-2017 dan Ketua Dewan Pengawas IKAM.

Selama berkarier sebagai seorang prajurit TNI, aneka pendidikan militer pernah diikutinya, baik di dalam maupun luar negeri. Antara lain, Kursus Persiapan Hogere Krijgsschool, Company Officers Course, Infantry School di AS, Kursus Pendidikan Guru Militer, Bandung, Kursus Perwira Lanjutan Dua Infanteri, Bandung, Sprachenschule der Bundeswehr, Jerman, Fuehrungs Akademie der Bundeswehr, Jerman, dan International Defense Management, Naval Postgraduate School, AS.

Pengalaman lainnya, ia pun pernah bertugas menjadi dosen di berbagai lembaga pendidikan seperti SESKO AD, SESKO AL, SESKO ABRI, Lemhanas, Institut Bankir Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu, Akademi Militer Nasional Jurusan Teknik, Kursus Perwira Lanjutan AD, Sekolah Deplu (Sesparlu, Sesdilu), serta Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia untuk Program Ketahanan Nasional dan Program Studi Jepang.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Sayidiman Suryohadiprojo merupakan anak ke 11 dari 12 bersaudara, 7 diantaranya mencapai usia dewasa: Soediman Kartohadiprodjo, Soelasikin (meninggal usia 16 tahun), Drs Soekarmen Koesoemohadiprodjo, Soelasbawiati (Ny. Djundjunan Kusumahardja), Soelasbawiatini (Ny Oetarman), Sayidiman Suryohadiprodjo, Soelasmiarti (Ny. Tobing).

Sayidiman Suryohadiprojo menikah pada tanggal 6 Juli 1958 dengan Sri Suharyati Djatioetomo, Puteri Brigjen (Pol.) R. Djatioetomo. Dari pernikahan tersebut lahir 5 orang anak, yaitu berturut-turut Adwin Haryanto pada Mei 1959 di Surabaya (wafat karena sakit pada tahun 2014), Laksmi Adriyani pada Oktober 1960 di Bandung, Umi Riyanti pada Mei 1962 di Bandung (wafat karena sakit pada tahun 2006), Adri Sarosa pada Oktober 1963 di Bandung dan Diana Lestari pada Juli 1972 di Jakarta. Semua anak menikah, Adwin Haryanto dengan R.R Daisy Soedianto, Laksmi Adriyani dengan Ari Utomo, Umi Riyanti dengan Bob Hernoto, Adri Sarosa dengan Lily Camelia Anwar, dan Diana Lestari dengan Sutan Simandjuntak. Pernikahan anak-anak telah melahirkan 8 orang cucu (4 orang laki-laki dan 4 orang perempuan) dan 2 orang cicit (1 orang Perempuan dan 1 laki-laki). Akan tetapi pada sejak tahun 1976 Sri Suharyati sakit berkepanjangan dan wafat pada 1 Juni 1994. Setelah itu Sayidiman pada 6 Januari 1996 menikah lagi dengan Harpini Winastuti Kadarisman, SH.

Karya Tulis[sunting | sunting sumber]

Buku-buku karyanya antara lain:

  • Taktik dan Tehnik Infantri (karya terjemahan, 1954) [3]
  • Masalah-Masalah Pertahanan Negara (1964) [4]
  • Langkah-Langkah Perjuangan Kita (1970) [5]
  • Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjuangan Hidup (1982) [6]
  • Menghadapi Tantangan Masa Depan (1987) [7]
  • Pancasila, Islam, dan ABRI (1992) [8]
  • Membangun Peradaban Indonesia (1995) [9]
  • Kepemimpinan ABRI (1996) [10]
  • Mengabdi Negara Sebagai Prajurit (otobiografi, 1997) [11]
  • Si vis pacem, para bellum, Membangun Pertahanan Negara Yang Modern dan Efektif (2005) [12]
  • Rakyat Sejahtera Negara Kuat - Mewujudkan Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 (2007) [13]
  • Pengantar Ilmu Perang (2009) [14]
  • Mengobarkan Kembali Api Pancasila (2014) [15]
  • Sayidiman's Collected Writings - in English, Dutch & Deutsch (2014)
  • Budaya Gotong Royong Dan Masa Depan Bangsa (2016)
  • Masyarakat Pancasila (2019)

Tanda Kehormatan[sunting | sunting sumber]

Berbagai penghargaan yang diterimanya dari Pemerintah Republik Indonesia, yaitu:

Meninggal Dunia[sunting | sunting sumber]

Mantan Gubernur Lemhannas Letjen TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo meninggal dunia pada Sabtu 16 Januari 2021, pada usia 93 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebaroto, Jakarta Pusat. Kabar ini dibenarkan Mantan Wakil Kepala Staf TNI AD Letjen (Purn.) Kiki Syahnakri.[18]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Perjuangan, Pengabdian dan Kesetiaan Seorang Prajurit: http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?page_id=2
  2. ^ Website Resmi Lemhannas RI - Gubernur Lemhannas 1965 - sekarang: http://www.lemhannas.go.id/id/content/view/20/32/
  3. ^ Diterbitkan oleh Pembimbing
  4. ^ Diterbitkan oleh Intermasa, 261 halaman
  5. ^ Diterbitkan oleh Balai Pustaka
  6. ^ Diterbitkan oleh Universitas Indonesia, 309 halaman
  7. ^ Diterbitkan oleh Gramedia, ISBN 979-403-208-5, 88940150, 295 halaman
  8. ^ Diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, 1992, ISBN 979-416-154-3, 9789794161548, 240 halaman
  9. ^ Diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, 1995, 235 halaman
  10. ^ Diterbitkan oleh Intermasa, ISBN 979-8960-00-9, 96942262, 456 halaman
  11. ^ Diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, 1997, ISBN 979-416-440-2, 9789794164402, 723 halaman
  12. ^ Diterbitkan oleh Gramedia, 2005 ISBN 979-22-1501-8, 20705007, 342 halaman
  13. ^ Diterbitkan oleh Intermasa, 2007, ISBN 978-979-3791-28-9, 2007448615, 413 halaman
  14. ^ Diterbitkan oleh Intermasa, 2009, ISBN 978-979-3791-33-3, 2009326262, 176 halaman
  15. ^ Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, 2014, ISBN 979-709-870-2, 9789797098704, 280 halaman
  16. ^ Sekretariat Negara Republik Indonesia - Tanda Kehormatan: http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_tandajasa&cat=2&id=8&Itemid=43&limit=1&limitstart=9
  17. ^ Kedutaan Besar Jepang di Indonesia < 在インドネシア日本国大使館 >: http://www.id.emb-japan.go.jp/news12_08.html#1
  18. ^ "Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo Tutup Usia"

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan militer
Didahului oleh:
Brigjen TNI S.G. Purwanegara
Pangdam Hasanuddin
1968–1970
Diteruskan oleh:
Brigjen TNI Abdul Aziz
Didahului oleh:
Letjen TNI M. Jasin
Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat
1973–1974
Diteruskan oleh:
Letjen TNI Wahono
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Letjen TNI A. Kosasih
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional
1974–1978
Diteruskan oleh:
Letjen TNI Sutopo Yuwono
Jabatan lain
Didahului oleh:
Soegih Arto
Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
1974–1978
Diteruskan oleh:
Bob Hasan
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
A.J. Witono
Duta Besar RI untuk Jepang
1979–1983
Diteruskan oleh:
Wiyogo Atmodarminto