Solihin G. P.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Solihin Gautama Purwanegara)
Lompat ke: navigasi, cari
Letnan Jenderal TNI Purn. H.
Solihin Gautama Purwanegara
Gubernur Jawa Barat ke-10
Masa jabatan
1970 – 1974
Presiden Soeharto
Didahului oleh Mashudi
Digantikan oleh Aang Kunaefi
Gubernur Akademi Militer ke-7
Masa jabatan
1968–1970
Informasi pribadi
Lahir Solihin Gautama Purwanegara
21 Juli 1926 (umur 91)
Bendera Belanda Tasikmalaya, Jawa Barat, Hindia Belanda
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Suami/istri Maryam Harmain
Orangtua Abdul Gani Poerwanegara (Ayah)
Siti Ningrum (Ibu)
Profesi Militer
Agama Islam

Solihin Gautama Purwanegara atau Mang Ihin (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 21 Juli 1926; umur 91 tahun) adalah Gubernur Jawa Barat periode 1970 - 1974. Ia memiliki perhatian yang besar untuk mengatasi rawan pangan di wilayah Indramayu, dengan cara memasyarakatkan padi gogo rancah. Upayanya memperlihatkan hasil sehingga terus dikembangkan. Lahir dalam keluarga bangsawan, dikenal sebagai tokoh yang merakyat. Karier militernya dimulai ketika pecah revolusi, sebagai komandan TKR Bogor, kemudian bergabung ke Kodam Siliwangi.[1]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • Europeesche Lagere School (ELS).
  • Meer Uitgebreid Lager Oderwijs (MULO).
  • Sekolah Menengah Pertama.
  • Sekolah Menengah Tinggi.
  • Sekolah Staf Komandan Angkatan Darat, 1954.
  • US Army Infantry School, 1957.
  • Sekolah Staf dan Komando TNI AD, 1969.[2]

Jabatan[sunting | sunting sumber]

  • Guru SSKAD, 1954-1956, Bandung
  • Panglima Kodam XIV Hasanuddin, 1965-1968, Makassar
  • Gubernur Akabri Umum dan Darat, 1968-1970, Magelang.[3]
  • Gubernur Jabar, 1970-1975
  • Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan, 1977-1992
  • Anggota DPA, 1992-1997.
  • Anggota MPR, 1998.
  • Pangkat terakhir: Letnan Jenderal, 1978.[4]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Bintang Jasa Pratama
  • Bintang Dharma
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Ekapaksi Kelas IV
  • Medali Sewindu Angkatan Perang
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
  • Bintang Kongo
  • Heung In (Korea Selatan)
  • Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun.

Cerita Unik Solihin G. P. dengan Ali Sadikin[sunting | sunting sumber]

Menjadi kepala daerah di dua wilayah yang berbatasan memang memerlukan kerjasama untuk membangun kawasan. Namun, tak jarang karenanya justru perselisihan terjadi. Misalnya saja, Gubernur Jawa Barat periode 1970 - 1974, Solihin GP, yang pernah merasa dilecehkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Bagaimana ini bisa terjadi?

Kisah ini berawal saat Mang Ihin, sapaan akrab Solihin, hendak sowan ke Ali Sadikin di Jakarta. Sebagai Gubernur Jawa Barat yang baru, Mang Ihin merasa perlu berkonsultasi dengan Bang Ali, sapaan Ali, tentang bagaimana membangun wilayah. Saat Mang Ihin menjadi Gubernur Jawa Barat pada 1970, Bang Ali sudah empat periode memimpin Jakarta. Prestasi-prestasi Bang Ali membangun Jakarta itulah yang membuat Mang Ihin merasa perlu berkonsultasi dengan gubernur ibu kota negara itu.

Nah, pada saat berbincang-bincang itu Mang Ihin merasa dilecehkan. Dalam 'Cendramata 80 Tahun Solihin GP' diceritakan, Mang Ihin tersinggung karena Bang Ali ingin 'mengambil' wilayah perbatasan yang menurutnya tidak bisa diurus oleh Jawa Barat. "Jawa Barat tidak bisa melakukan pembangunan, sedangkan saya didesak oleh masyarakat agar memperluas daerah perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat. Untuk itu, agar diikhlaskan saja saya membangun daerah perbatasan itu. Apalagi kan kita sama-sama dilahirkan di Jawa Barat," kata Bang Ali sambil menunjuk peta Kabupaten Bekasi, Tangerang dan sebagian wilayah Kabupaten Bogor.

"Wah ini kurang ajar banget," kata Mang Ihin dalam hati. Meski merasa dilecehkan oleh Bang Ali, Mang Ihin tetap tersenyum. Alih-alih naik pitam, dia justru menyindir balik Bang Ali kenapa dia tidak sekalian saja menyatukan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.

"Kalau Bang Ali ahli strategi yang ulung dan hebat, jadikan saja Jawa Barat dan DKI Jakarta satu provinsi," sindir Mang Ihin kepada Bang Ali. Tidak jelas, bagaimana selanjutnya kisah saling sindir itu. Namun, yang jelas perbincangan itu membawa kebaikan bagi dua provinsi. Baik Mang Ihin, maupun Bang Ali kemudian saling berlomba-lomba untuk membangun wilayahnya. Saat itulah, terjadi istilahnya 'perang daerah' atau 'perang wilayah' di perbatasan Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Setelah itu, wilayah Jawa Barat tak kalah maju. Industri semen Kaisar dan Tiga Roda dibangun di Bekasi. Kemudian pabrik tekstil di Tangerang. Menyadari cuaca Puncak yang sejuk, Mang Ihin juga membangun tempat rekreasi Taman Safari. Setelah berhasil membangun wilayah perbatasan, Mang Ihin pun mengajak Bang Ali ke Puncak. Dia memperlihatkan bagaimana arus lalu lintas dari Jakarta ke Jawa Barat juga tidak kalah dari arah sebaliknya. Artinya, tiap provinsi sudah punya magnet masing-masing sebagai hasil dari pembangunan. Sungguh persaingan yang positif bagi kemajuan rakyat.[5]

Penyerahan Mesin Huller Kepada Bekas Pejuang Pembantu Logistik[sunting | sunting sumber]

Presiden Soeharto menyerahkan mesin Huller (penggiling padi) kepada Hudori dari desa Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Hudori adalah bekas pejuang yang memberikan makanan kepada pasukan yang dipimpin oleh Gubernur Solihin dan Pangdam Siliwangi, Mayjen. A.J. Witono, dalam perang kemerdekaan.

Hudori kini menjadi petani, dan ketika ditemui Presiden dalam kunjungan incognito-nya beberapa waktu lalu, keadaannya sangat menyedihkan. Penyerahan dilakukan melalui Gubernur Jawa Barat, Solichin GP, di Bina Graha hari Rabu, 06 Mei 1970, Sementara itu sebuah “padi traktor” akan diserahkan kepada desa Karang Luas Lor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah melalui Residen Banyumas. [6]

Kisah Petani Jawa Barat tidak Mengenal Presiden Soeharto[sunting | sunting sumber]

Presiden Soeharto memulai kunjungan incognito[7] ke Jawa Barat dan Jawa Tengah tanggal 06 April 1970. Kunjungan yang diadakan bertepatan dengan awal pelaksanaan tahun kedua Pelita I ini, merupakan inspeksi langsung Presiden Soeharto di daerah pedesaan.

Tempat-tempat yang ditinjau adalah desa-desa Binong, Subang, Sindang, dan Kertasmaya, semuanya di Provinsi Jawa Barat. Di tempat-tempat tersebut Jenderal Soeharto berdialog dengan para petani, disamping melihat secara langsung pembangunan jalan, pengairan dan irigasi di pedesaan Jawa Barat itu. Satu hal yang perlu dicatat, tak satu pejabat pun di setiap tempat yang ia kunjungi, yang mengetahui kehadiran Pak Harto.

Entah dari mana informasinya, keesokan paginya ketika Pak Harto sedang berdialog dengan salah seorang petani, muncul Gubernur Jawa Barat Solihin G. P. Sesaat setelah berdialog, petani mempersilahkan rombongan Pak Harto untuk singgah di rumahnya. Setiba di rumah petani, Pak Solihin menanyakan, siapa yang sedang berbicara dengan dirinya itu? Petani menjawab, petugas pertanian. Pak Solihin kemudian menunjukkan gambar Presiden Soeharto yang kebetulan dipasang di dinding rumah petani. Dengan perasaan malu, kikuk dan salah tingkah, petani memohon maaf, karena tidak mengenali wajah Presiden Soeharto. [8]

Tim Pemberantasan Korupsi dan Laporan BIMAS[sunting | sunting sumber]

Presiden Soeharto memanggil Gubernur Jawa Barat, Solihin G.P., untuk menghadap dan melaporkan masalah Bimas di daerahnya tanggal 18 Februari 1970. Solihin telah melaporkan kepada Presiden bahwa dari jumlah Rp. 5,8 miliar untuk kredit Bimas di Jawa Barat, telah dapat dikembalikan sebanyak Rp. 4,5 miliar. Sedangkan sisanya yang Rp. 1 miliar lebih itu masih diusut oleh pemerintah daerah Jawa Barat.

Dalam hubungan ini Presiden menginstruksikan agar para pejabat yang terlibat dalam penyalahgunaan uang bimas diajukan ke pengadilan. Keesokan harinya, tanggal 18 Februari 1970 Presiden Soeharto telah memutuskan untuk mempertemukan Team Pemberantasan Korupsi dengan Komisi Empat. [9]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Mayor Jenderal (Purn) Mashudi
Gubernur Jawa Barat
1970 - 1974
Diteruskan oleh:
Mayor Jenderal (Purn) Aang Kunaefi
Jabatan militer
Didahului oleh:
Mayor Jenderal Achmad Tahir
Gubernur Akademi Militer
1968 - 1970
Diteruskan oleh:
Mayor Jenderal Sarwo Edhie Wibowo
Didahului oleh:
Brigadir Jenderal M. Jusuf
Panglima Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin
1960 - 1965
Diteruskan oleh:
Brigadir Jenderal Sayidiman Suryohadiprojo