Sosialisme abad ke-21

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Fernando Lugo (Presiden Paraguay), Evo Morales (Presiden Bolivia), Lula da Silva (Presiden Brasil), Rafaei Correa (Presiden Ekuador) dan Hugo Chávez (Presiden Venezuela) pada 29 Januari 2009.

Templat:Populisme sidebar


Sosialisme abad ke-21 (bahasa Inggris: Socialism of the 21st century, bahasa Spanyol: Socialismo del siglo XXI) adalah istilah politik yang digunakan untuk menjelaskan interpretasi prinsip-prinsip sosialis yang pertama kali dianjurkan oleh Heinz Dieterich pada 1996 dan kemudian oleh pemimpin Amerika Latin seperti Hugo Chávez dari Venezuela, Rafaei Correa dari Ekuador, Evo Morales dari Bolivia, dan Luiz Inácio Lula da Silva dari Brasil.[1] Sosialisme abad ke-21 berpendapat bahwa kapitalisme industrial pasar bebas dan sosialisme abad ke-20 telah gagal memecahkan masalah mendesak kemanusiaan, seperti kemiskinan, kelaparan, eksploitasi, penindasan ekonomi, seksisme, rasisme, penghancuran sumber daya alam, dan ketidakhadiran demokrasi partisipatoris.[2] Oleh karena kondisi lokal yang unik, sosialisme abad ke-21 sering dikontraskan dengan aplikasi sosialisme sebelumnya di negara lain, dan bertujuan untuk lebih terdesentralisasi dan partisipatoris dalam proses perencanaan.[3] Sosialisme abad ke-21 memiliki elemen sosialisme demokratik, tapi terutama sekali menyerupai Marxis Revisionis.[3]

Landasan Sejarah[sunting | sunting sumber]

Setelah serangkaian pinjaman penyesuaian struktural dan utang restrukturisasi yang dipimpin oleh Dana Moneter Internasional pada akhir abad ke-20, Amerika Latin mengalami peningkatan signifikan dalam ketidaksetaraan. Antara tahun 1990 dan 1999, koefisien Gini meningkat di hampir setiap negara Amerika Latin.[4] Ketidakstabilan harga dan inflasi menyebabkan ketidakpuasan. Tahun 2000 hanya 37% penduduk Amerika Latin yang merasa puas dengan sistem demokrasinya (kurang 20 poin dari Eropa dan kurang 10 poin dari Afrika sub-Sahara).[5] Dalam konteks ini, gelombang gerakan sosial-politik berhaluan kiri bangkit atas nama hak-hak pribumi, cocaleros, hak buruh, hak perempuan, hak atas tanah, dan reformasi pendidikan dan akhirnya memberikan momentum untuk pemilihan pemimpin sosialis.[3]

Sosialisme dari abad 21 menekankan pada tradisi adat komunal dalam pemerintahan serta gerakan sosialis dan komunis Amerika Latin terdahulu, termasuk Salvador Allende, Fidel Castro, Che Guevara, Tentara Pembebasan Nasional Zapatistadan Front Pembebasan Nasional Sandinista.[3]

Prinsip Teoretis[sunting | sunting sumber]

Menurut Dieterich, "program Sosialisme abad ke-21 selalu bersifat revolusioner" dalam hal masyarakat yang ada digantikan dengan "sistem lain secara kualitatif."[2] Revolusi Ini, bagaimanapun, harus dalam proses bertahap yang tidak memakai kekerasan, tetapi sebaliknya memanfaatkan demokrasi partisipatoris untuk mendapatkan kekuasaan, pendidikan, ilmu pengetahuan tentang masyarakat dan kerjasama internasional. Dieterich menganjurkan pembentukan empat institusi dasar dalam realitas masyarakat pasca-kapitalis:

  1. Kesetaraan ekonomi, yang harus didasarkan pada teori Marxian, yaitu teori nilai buruh dan ditentukan secara demokratis oleh orang-orang yang secara langsung menciptakan nilai tersebut, bukannya prinsip-prinsip ekonomi pasar;
  2. Demokrasi mayoritas, yang memakai referendum untuk menentukan permasalahan penting yang melibatkan keseluruhan masyarakat;
  3. Demokrasi dasar, berdasarkan pada lembaga negara yang demokratis sebagai perwakilan sah kepentingan mayoritas warga negara, dengan perlindungan yang sesuai untuk hak-hak minoritas; dan
  4. Warga negara yang kritis, bertanggung jawab, rasional, etis, estetis, dan merdeka."[2]

Penggunaan di Amerika Latin[sunting | sunting sumber]

Integrasi Regional[sunting | sunting sumber]

Model sosialisme abad ke-21 mendorong integrasi ekonomi dan politik antarnegara di Amerika Latin dan Karibia. Hal ini sering disertai dengan oposisi dari pengaruh Amerika Utara. Organisasi regional seperti CELAC, Mercosur, UNASUR, dan ALBA mempromosikan kerjasama di Amerika Latin dan mengecualikan negara Amerika Utara.

ALBA yang paling eksplisit terkait dengan sosialisme abad ke-21. Sementara organisasi lainnya fokus pada integrasi ekonomi, ALBA mempromosikan integrasi sosial, politik, dan ekonomi antarnegara yang mendukung sosialisme-demokratik. Pembentukannya diumumkan sebagai oposisi langsung upaya George W. Bush untuk membangun Kawasan Perdagangan Bebas Amerika termasuk didalamnya Amerika Serikat. Pada 2008 ALBA memperkenalkan penyatuan moneter menggunakan SUCRE sebagai mata uang regionalnya.

Proses Bolivarian[sunting | sunting sumber]

Sosialisme abad ke-21 dipromosikan oleh Presiden Venezuela Hugo Chávez, yang membedakannya dari gerakan-gerakan sebelumnya.

Mantan presiden Venezuela Hugo Chávez menyebut proses reformasi sosialis di Venezuela sebagai "proses Bolivarian." Hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh teori dari Mészáros, Lebowitz dan Harnecker (penasihat Chávez pada 2004-2011) daripada orang-orang seperti Dieterich. Proses ini mendapat namanya dari pembebas Amerika Latin Simón Bolívar dan merupakan contoh kontemporer dari Bolivarianisme.

Buen vivir[sunting | sunting sumber]

Sering diterjemahkan sebagai "hidup yang baik" atau "hidup dengan baik". Konsep buen vivir ini terkait dengan gerakan hak-hak pribumi dan hak-hak alam. Berfokus pada hidup berkelanjutan sebagai anggota masyarakat yang meliputi manusia dan Alam. Buen vivir diabadikan dalam konstitusi baru Ekuador sebagai alternatif perkembangan neoliberal. Konstitusi ini menekankan pengaturan hak-hak, salah satunya hak-hak alam.[6] Sejalan dengan tuntutan hak-hak ini, buen vivir berusaha mengubah hubungan antara alam dan manusia agar lebih berpandangan bio-pluralistik, menghilangkan pemisahan antara alam dan masyarakat.[6][7] Pendekatan ini telah diterapkan pada Yasuní-ITT Initiative.

Buen Vivir kadang-kadang dikonseptualisasikan sebagai konsumsi kolaboratif dalam ekonomi berbagi. Istilah ini digunakan untuk melihat dunia dalam cara yang dibedakan secara tajam dari alam, sosial atau kapital manusia.[8]

Kritik[sunting | sunting sumber]

Otoritarianisme[sunting | sunting sumber]

Kritikus mengklaim bahwa sosialisme-demokratik di Amerika Latin adalah kedok otoritarianisme. Karisma tokoh seperti Hugo Chávez dan slogan seperti "Negara, Sosialisme, atau Mati!" menarik perbandingan ke diktator dan caudillos Amerika Latin terdahulu.[9] Menurut Steven Levitsky dari Universitas Harvard, "Hanya di bawah pemerintahan diktator terdahulu ... presiden terpilih untuk seumur hidup", lebih lanjut Levitsky menyatakan bahwa sementara Amerika Latin mengalami demokrasi, warga menentang "pemilihan kembali tak terbatas, karena kediktatoran terdahulu".[10] Levitsky kemudian mencatat bahwa "Di Nikaragua, Venezuela dan Ekuador, pemilihan kembali dikaitkan dengan permasalahan yang sama dari 100 tahun yang lalu".[10] The Washington Post juga menyatakan pada 2014 "Evo Morales dari Bolivia, Daniel Ortega dari Nikaragua dan presiden Venezuela Hugo Chávez ... menggunakan pemilu untuk melemahkan atau menghilangkan istilah batasan".[11] Tahun 2015, The Economist menyatakan bahwa "revolusi bolivarian" di Venezuela adalah mengubah otoritarianisme ke kediktatoran; politisi oposisi yang dipenjara karena merencanakan melemahkan pemerintah, kekerasan yang meluas, dan penutupan media oposisi.[12]

Media barat memberitakan Chávez dan pemimpin Amerika Latin lainnya dari gerakan sosialis abad ke-21 telah dikritik atas ketidakadilan oleh pendukungnya dan kritik media kiri.[13][14][15]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Kaitan antara reformasi ekonomi yang keberlanjutan dan stabil dengan sosialisme abad ke-21 dipertanyakan. Negara Amerika Latin sebagian besar mendanai program sosialis mereka dengan ekspor ekstraktif seperti minyak mentah, gas alam, mineral, kopi, dan kedelai, sehingga menciptakan ketergantungan, yang oleh beberapa ekonom klaim telah menyebabkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.[16] Bagi pemerintah Bolivarian Venezuela, kebijakan ekonominya menyebabkan kekurangan stok di Venezuela, tingginya inflasi dan ekonomi yang tidak berjalan.[17]

Pada tahun 2015, Venezuela memiliki ekonomi terburuk di dunia; mata uang yang runtuh, tingkat inflasi tertinggi di dunia, dan PDB-nya jatuh dalam resesi ekonomi.[18] Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi meningkat di Bolivia bawah Evo Morales.[19]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Partido dos Trabalhadores. Resoluções do 3º Congresso do PT (PDF). 3º Congresso do PT. 
  2. ^ a b c Heinz Dieterich: „Der Sozialismus des 21. Jahrhunderts – Wirtschaft, Gesellschaft und Demokratie nach dem globalen Kapitalismus“, Einleitung Socialism of the 21st Century – Economy, Society, and Democracy in the era of global Capitalism, Introduction Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Dieterich" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Dieterich" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ a b c d Burbach, Roger; Fox, Michael; Fuentes, Federico (2013). Latin America's Turbulent Transitions. London: Zed Books. ISBN 9781848135697. 
  4. ^ ECLAC (2002). "Economic Commission for Latin America and the Caribbean". Social Panorama of Latin America 2000-2001: 71. 
  5. ^ "Encuesta Latinobarómetro 1999-2000". Diakses tanggal 3 May 2013. 
  6. ^ a b Gudynas, Eduardo. 2011. Buen Vivir: Today's Tomorrow Development 54(4):441-447. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Gudynas" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  7. ^ SENPLADES. 2009 National Plan for Good Living.
  8. ^ Balch, Oliver (2013). "Buen vivir: the social philosophy inspiring movements in South America". Guardian. Diakses tanggal 18 May 2015. 
  9. ^ "Venezuela after Chávez: Now for the Reckoning". The Economist. March 9, 2013. Diakses tanggal 4 May 2013. 
  10. ^ a b "Does Ecuador's leader aspire to a perpetual presidency?". The Christian Science Monitor. 11 April 2014. Diakses tanggal 10 July 2015. 
  11. ^ Miroff, Nick (15 March 2014). "Ecuador's popular, powerful president Rafael Correa is a study in contradictions". The Washington Post. Diakses tanggal 10 July 2015. 
  12. ^ "A slow-motion coup. The authoritarian regime is becoming a naked dictatorship. The region must react". The Economist. 28 February 2015. Diakses tanggal 12 June 2015. 
  13. ^ Oliver Stone Interview: There's a Specter Haunting Latin America, the Specter of 21st Century Socialism
  14. ^ Hart, Peter. "NYT Debates Hugo Chavez- Minus the Debate". Fairness and Accuracy In Reporting (FAIR). Diakses tanggal 4 May 2013. 
  15. ^ You can crush the flowers, but you can't stop the spring
  16. ^ Roth, Charles (March 6, 2013). "Venezuela's Economy Under Chávez, by the Numbers". Wall Street Journal. Diakses tanggal 4 May 2013. 
  17. ^ "Venezuela toilet paper shortage an anti-Bolivarian conspiracy, gov't claims". CBS News. 16 May 2013. Diakses tanggal 18 March 2015. 
  18. ^ "Why Venezuela is the world's worst performing economy, in three charts". Quartz. 16 March 2015. Diakses tanggal 22 March 2015. 
  19. ^ http://www.cepr.net/blogs/the-americas-blog/bolivias-economy-under-evo-in-10-graphs

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]